Dampak Pemberian Reward And Punishment Terhadap Pengembangan Profil
Pelajar Pancasila Dimensi Kemandirian Siswa Di SD Negeri 1 Susukanlebak
Anisa Agustin1, Bagus Nurul Iman2,
Nur Asyiah3
Universitas Muhammadiyah
Cirebon, Indonesia
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
Kemandirian siswa
di SD Negeri 1 Susukanlebak masih tergolong rendah, terlihat dari banyaknya
siswa yang membutuhkan bantuan guru dalam menyelesaikan tugas. Kondisi ini
menghambat proses pembelajaran dan perkembangan siswa. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan dampak pemberian reward and punishment terhadap
pengembangan profil pelajar Pancasila dimensi kemandirian siswa di SD Negeri 1
Susukanlebak. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik
pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitiannya
adalah kepala sekolah, 5 guru kelas dan siswa kelas 1-5. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa� Pemberian reward
and punishment SD Negeri 1 Susukanlebak diberikan dengan cara yang tepat
untuk membentuk kemandirian siswa. Reward diberikan dalam bentuk reward
verbal berupa pujian, sedangkan reward non verbal yaitu gerak mimik, gestur badan, serta bentuk barang,
uang, penghormatan serta penghargaan. Sedangkan punishment diberikan
dalam bentuk teguran dan hukuman seperti tugas tambahan, menyapu kelas,
menjelaskan pelajaran di depan kelas atau kegiatan mendidik lainnya. Dimensi
kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak terlihat dari rasa percaya diri dan
bertanggung jawab. Dampak pemberian reward and punishment berdampak
positif dan negatif terhadap dimensi kemandirian siswa. Dampak positif reward
adalah meningkatnya motivasi serta kemandirian siswa, sedangkan dampak
negatifnya adalah kesedihan siswa yang tidak mendapat reward dan
potensi ketergantungan siswa pada reward. Dampak positif punishment
sebagai konsekuensi siswa atas kesalahannya, sedangkan dampak negatifnya adalah
kesedihan pada siswa, melemahnya motivasi dan potensi ketergantungan siswa pada
punishment. Dengan pendekatan yang tepat, reward and punishment
menjadi alat pendidikan yang efektif untuk membentuk dimensi kemandirian siswa
dalam rangka mengembangkan profil pelajar Pancasila.
Kata Kunci: Dimensi
Kemandirian, Profil Pelajar Pancasila, Reward and Punishment
Abstract:
Student independence at SD Negeri 1
Susukanlebak is still relatively low, as seen from the number of students who
need teacher assistance in completing tasks. This condition hinders the
learning process and student development. This study aims to describe the
impact of reward and punishment on the development of Pancasila student profile
in the dimension of independence at SD Negeri 1 Susukanlebak. This type of
research uses qualitative methods with data collection techniques of
observation, interviews, and documentation. The research subjects were the
principal, 5 class teachers and students in grades 1-5. The results showed that
1) The provision of reward and punishment at SD Negeri 1 Susukanlebak is given
in an appropriate way to form students' independence. Rewards are given in the
form of verbal rewards in the form of praise, while non-verbal rewards are
gestures, gestures, and forms of goods, money, respect and appreciation.
Meanwhile, punishment is given in the form of reprimands and punishments such
as additional assignments, sweeping the class, explaining lessons in front of
the class or other educational activities. 2) The dimension of independence of
SD Negeri 1 Susukanlebak students can be seen from their self-confidence and
responsibility. 3) The impact of reward and punishment has positive and
negative impacts on the dimensions of student independence. The positive impact
of rewards is the increased motivation and independence of students.
Keywords: Dimensions
of Independence, Pancasila Student Profile, Reward and Punishment
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan
dapat diartikan sebagai proses penyempurnaan diri yang dilakukan manusia secara
terus-menerus. Oleh sebab itu, manusia tidak akan lepas dari adanya Pendidikan.
Pendidikan yang bermutu sesuai dengan tanggungjawab dan tujuan pendidikan
nasional Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 3 Sisdiknas
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, yang berbunyi �Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.�
Sekolah
dasar merupakan pondasi awal pendidikan, sehingga tujuan dan fungsi pendidikan
nasional sangat penting untuk diimplementasikan di sekolah dasar. Pendidikan di
sekolah dasar sangat penting untuk mengembangkan keterampilan serta membentuk
karakter dan peradaban bangsa. Tujuan pembelajaran di sekolah dasar adalah
untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui proses
pembelajaran yang teratur dan terarah.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, guru harus berperan sebagai fasilitator yang membantu
siswa dalam mengembangkan keterampilan dan kualitas moral yang selaras dengan
tujuan pendidikan nasional. Sehingga untuk meningkatkan standar pengajaran di
sekolah dasar, para pendidik harus mampu menciptakan kurikulum yang relevan
serta menggunakan metode pengajaran yang interaktif dan inovatif.
Menurut
Asmara (Cahyaningsih et al., 2022)
kompetensi pedagogik merupakan salah satu jenis kompetensi yang harus dimiliki
oleh guru dan menjadi ciri khas profesi guru, yang membedakannya dari profesi
lain. Tingkat keberhasilan dan hasil pembelajaran peserta didik akan sangat
dipengaruhi oleh penguasaan kompetensi pedagogik yang profesional. Kompetensi
ini tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui proses belajar yang
berkelanjutan dan sistematis, baik selama masa pendidikan calon guru maupun
selama masa bekerja, dengan dukungan dari bakat, minat, dan potensi keguruan
masing-masing individu.
Menurut
Jaya(Rosmana et al., 2024)
pembelajaran di sekolah dasar melibatkan proses menyeluruh yang melibatkan
berbagai situasi dan kondisi yang kemudian ditelaah untuk menentukan apa yang
dibutuhkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga perlu untuk melalui
kegiatan perencanaan yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai
dengan keadaan siswa. Oleh karena itu, persiapan dan perencanaan guru sangat
penting dalam memberikan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna seefisien
mungkin. Kemampuan untuk mengorganisir pelajaran dan mencapai hasil yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran sangat erat kaitannya dalam perencanaan pembelajaran
di sekolah dasar.
Menurut
Mayasari (Kurniasih, 2023)
mengatakan bahwa pendidikan erat kaitannya dengan pembentukan karakter peserta
didik. Saat ini karakter termasuk aspek yang penting di generasi milenial
sebagai generasi muda penerus bangsa, dalam hal ini efektivitas kemajuan bangsa
akan diukur oleh generasi penerusnya. Generasi muda diharapkan dapat
berkontribusi baik sikap maupun perilaku. Untuk melakukan hal tersebut perlu
adanya generasi penerus bangsa yang memiliki kecerdasan moral.
Dalam
penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar ini tercantum pada perwujudan dari
5 (lima) nilai karakter yaitu religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan
gotong royong, namun berubah menjadi 6 nilai karakter yang sesuai dengan Profil
Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah karakter yang
diharapkan dapat diraih oleh peserta didik, dan didasarkan pada nilai-nilai
luhur Pancasila dengan enam ciri, yaitu : beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bernalar kritis, bergotong
royong, mandiri, dan kreatif.
Salah
satunya karakter kemandirian yang ada dalam proses belajar di sekolah dasar
yang perlu dimiliki oleh siswa karena sebagai tanggung jawabnya yang didasari
atas kemauannya sendiri. Kemandirian dalam belajar dapat diartikan sebagai
kegiatan belajar yang mendorong pribadi siswa agar mampu bertanggung jawab pada
dirinya sendiri sebagai seorang pelajar. Sehingga adanya kenyataan di sekolah
bahwa nilai yang diperoleh siswa menunjukkan kurang memenuhi. Melihat kenyataan
ini maka menjadi tugas guru untuk meningkatkan kemandirian siswa.
Dari hasil
observasi awal pada tanggal 12 Desember 2023, peneliti akan menjabarkan
beberapa masalah yang ada pada siswa SD Negeri 1 Susukanlebak yaitu siswa belum
bisa belajar secara mandiri, karena kurangnya motivasi dari guru kepada siswa.
Selain itu guru kurang memahami karakteristik siswanya, contohnya ketika guru
bertanya kepada siswa tentang materi yang telah dijelaskan namun siswa tersebut
diam seolah tidak paham dengan penjelasan tadi. Hal ini menjadikan siswa merasa
ragu dengan jawaban dan takut untuk merespon pertanyaan guru. Dan peneliti
melihat faktor yang muncul adalah siswa belum mendapatkan sesuatu yang menarik
dari rancangan pembelajaran di kelas serta belum memperoleh kesenangan dalam
belajar.
Untuk
mengatasi masalah ini, salah satu cara yang efektif diimplementasikan oleh guru
yaitu melalui pemberian reward and punishment yang optimal. Menurut
Rachmasari (Dimas Sasongko Putro, 2019)
mengatakan bahwa reward and punishment yaitu pemberian akibat yang
menyenangkan bagi seseorang yang melakukan sesuatu dengan benar dan pemberian
akibat yang tidak baik bagi seseorang yang melanggar aturan. Oleh karena itu, punishment
memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan reward dalam
mempengaruhi karakter kemandirian peserta didik. Menurut Anggraini et al., (2019)
mengatakan bahwa reward artinya hadiah, imbalan atau penghargaan.
Sedangkan punishment artinya sebagai hukuman atau sanksi.
Pemberian reward
and punishment yang dilakukan oleh guru memiliki beberapa cara dalam
penerapannya. Cara dalam pemberian reward antara lain dalam bentuk
verbal maupun non verbal, contoh reward verbal yaitu memberikan
kata-kata pujian yang membuat siswa bersemangat dalam berperilaku baik, contoh
kata pujiannya seperti semangat, baik, pintar, hebat, keren. Sedangkan reward
non verbal yaitu gerak mimik dan gestur badan seperti senyuman, anggukan,
ancungan, jempol, dan tepukan tangan. Selain itu bisa dengan memberikan hadiah
materi seperti memberikan alat tulis untuk belajar, stiker bintang atau
bingkisan yang berisi aneka ragam makanan ringan yang ada di sekolah dan uang
serta memberikan penghargaan yang tak penuh dengan guru berkata ya jawabanmu
sudah bagus, namun� perlu diperbaiki.
Sedangkan
untuk punishment dengan memberikan arahan apabila siswa melakukan
kesalahan, lalu dengan mengecam siswa yang bertindak tidak baik seperti menegur
kesalahan siswa dan mengatakan bahwa itu salah serta memberikan perhatian
kepada siswa tersebut dengan cara yang baik agar penerapannya tepat kepada
siswa serta berdampak positif.
Dalam hal
ini dampak dari pemberian punishment lebih mengangkat motivasi belajar
siswa, sedangkan dampak dari pemberian reward lebih berhasil memberikan
peningkatan kemandirian siswa. Lebih lanjut lagi, metode reward tidak
dapat dipisahkan dari pemberian motivasi yang diberikan sebagai sarana untuk
meningkatkan kemandirian siswa. Hal ini hendaknya dilakukan oleh guru dalam
upaya membantu siswa menjadi lebih cerdas dan mandiri.
Sehingga
hal ini sesuai dengan teori pembelajaran behaviorisme sebagai interpretasi dari
hadiah dan hukuman dalam pembelajaran, yang diperlukan untuk mendorong perilaku
siswa yang terbentuk melalui pembiasaan dan pengalaman berdasarkan observasi
yang dilakukan.
Uraian di
atas sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Sehingga penelitian ini
memiliki pertanyaan penelitian berupa bagaimana pemberian reward and
punishment terhadap dimensi kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak dan
juga bagaimana gambaran dimensi kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak
serta bagaimana dampak pemberian reward and punishment terhadap dimensi
kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak.
Tujuan
penelitian ini yaitu untuk mendekripsikan dampak pemberian reward and
punishment terhadap pengembangan profil pelajar Pancasila dimensi
kemandirian siswa di SD Negeri 1 Susukanlebak.
METODE PENELITIAN
Dalam
penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Penelitian ini
dilaksanakan di SD Negeri 1 Susukanlebak Jalan Raya Desa Susukanlebak,
Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini
dilakukan pada tahun pelajaran 2023/2024, penetapan� jadwal penelitian pada bulan April sampai Mei
2024. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Narasumber dari
penelitian ini adalah kepala sekolah, 5 guru kelas dan 10 siswa SD Negeri� 1 Susukanlebak. Dalam penelitian ini
instrumen utamanya yaitu peneliti sendiri, setelah fokus penelitian menjadi
jelas, maka instrumen penelitian langsung akan dibuat sederhana dengan tujuan
untuk melengkapi data dan membandingkannya dengan data yang telah ditemukan
sebelumnya melalui observasi dan wawancara. Teknik analisis data, peneliti
menggunakan model Hanurawan (2016) yang
dalam penelitian ini terdiri dari reduksi data hingga verifikasi kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN �
Profil
Pelajar Pancasila
Menurut Kemendikbud (Santika & Dafit, 2023) mengatakan bahwa Profil Pelajar Pancasila adalah
sebuah pendekatan pendidikan yang bertujuan membentuk siswa dengan karakter dan
kompetensi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila. Profil Pelajar
Pancasila menggambarkan citra ideal seorang pelajar Indonesia yang terus
mengembangkan diri melalui pembelajaran sepanjang hayat, memiliki kompetensi yang
relevan secara global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
sebagai dasar negara. Menurut Abdi et al., (2021) mengatakan bahwa implementasi pendidikan karakter
dalam proses pembelajaran mencakup berbagai strategi yang digunakan untuk
memperkuat karakter siswa. Salah satu pendekatan yang dapat diadopsi oleh guru
adalah dengan menerapkan dimensi-dimensi yang terdapat dalam Profil Pelajar
Pancasila, sebagai langkah konkret untuk mengembangkan pendidikan karakter
siswa selama proses pembelajaran.
Menurut Shofia Rohmah et al., (2023) mengatakan bahwa Profil Pelajar Pancasila, terdapat
enam dimensi utama yang menjadi fokus dalam pembentukan karakter siswa, yaitu:
1) Dimensi Beriman,
yang mengacu pada
keimanan dan ketakwaan siswa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Hal ini mencakup pengembangan spiritualitas dan pembentukan sikap moral yang
tinggi. Guru dapat memperkuat dimensi ini dengan mengintegrasikan nilai-nilai
keimanan dan moral ke dalam proses pembelajaran, serta memberikan teladan dan
bimbingan yang sesuai. 2) Dimensi Berkebhinekaan Global, yang menekankan pentingnya
sikap inklusif, penghormatan terhadap keberagaman, dan kemampuan beradaptasi
dalam konteks global. 3) Dimensi Bergotong Royong yang fokus pada nilai-nilai
kerjasama, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama dalam masyarakat. 4)
Dimensi Mandiri, mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi individu yang
mandiri, bertanggung jawab, serta mampu mengelola diri dan membuat keputusan
dengan bijaksana dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan. 5) Dimensi
Bernalar Kritis, melibatkan kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis
informasi secara objektif, serta mengembangkan kemampuan evaluasi dan pemecahan
masalah. 6) Dimensi Kreatif, mendorong siswa untuk mengembangkan imajinasi,
kreativitas, dan kemampuan berinovasi dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga
untuk memperkuat pendidikan karakter siswa melalui dimensi-dimensi dalam Profil
Pelajar Pancasila, diharapkan akan terbentuk generasi muda yang memiliki
kepribadian yang kokoh, nilai-nilai luhur, dan kesiapan untuk menghadapi
berbagai tantangan dalam masyarakat yang semakin kompleks dan global.
Dalam konteks ini, penelitian bertujuan untuk memahami dan mengembangkan
dimensi kemandirian siswa di SD Negeri 1 Susukanlebak melalui penerapan reward
and punishment. Dengan penerapan reward and punishment yang efektif,
diharapkan dapat membentuk siswa menjadi percaya diri, mampu bekerja secara
mandiri, pantang menyerah, menghargai waktu, kreatif, dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, penerapan reward and punishment tidak hanya
berkontribusi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperkuat dimensi siswa
sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila.
SD Negeri 1 Susukanlebak berusaha menciptakan lingkungan belajar yang
mendukung perkembangan menyeluruh siswa, untuk mempersiapkan siswa menjadi
individu yang berintegritas, kompeten, dan memberikan kontribusi positif dalam
masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan reward and punishment
yang efektif dapat memperkuat dimensi kemandirian siswa. Reward
memberikan dorongan positif yang mendorong siswa untuk berusaha lebih keras dan
berkembang, sedangkan punishment membantu mereka memahami dan menerima
konsekuensi dari tindakan mereka. Melalui metode ini, sekolah tidak hanya
mendukung pencapaian akademik siswa tetapi juga membangun karakter yang solid
dan berintegritas, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Penerapan reward and punishment yang efektif diharapkan dapat
memperkuat elemen-elemen kunci dalam Profil Pelajar Pancasila secara seimbang
dan produktif. Reward yang diberikan dengan adil dan konsisten dapat meningkatkan
motivasi siswa, memacu siswa untuk mengoptimalkan potensi mereka, serta
memperkuat sifat mandiri dan kreatif siswa. Sementara itu, punishment
yang diterapkan dengan bijaksana membantu siswa memahami tanggung jawab dan
konsekuensi dari perilaku siswa yang pada gilirannya mengembangkan sikap
pantang menyerah dan disiplin.
Untuk mencapai visi Profil Pelajar Pancasila, SD Negeri 1 Susukanlebak
berkomitmen pada penerapan reward and punishment yang tidak hanya
berfokus pada pencapaian akademik tetapi juga pada pembentukan karakter secara
menyeluruh. Ini mencakup upaya untuk memotivasi siswa secara positif dalam
proses belajar dan meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai akhlak mulia,
kerjasama, dan kebhinekaan. Dengan pendekatan ini, sekolah berusaha mempersiapkan
siswa agar siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap proaktif,
bertanggung jawab, dan berintegritas.
Sebagai hasil dari penerapan strategi ini, diharapkan siswa di SD Negeri
1 Susukanlebak tidak hanya mencapai prestasi akademis yang tinggi tetapi juga
mengembangkan karakter yang solid dan dapat beradaptasi dengan baik dalam
masyarakat yang beragam. Pendekatan reward and punishment yang adil dan
bijaksana bertujuan untuk mendukung pengembangan dimensi kemandirian siswa,
sehingga mereka menjadi pelajar yang beriman, berakhlak mulia, dan memberikan
kontribusi positif di berbagai aspek kehidupan. Melalui komitmen ini, SD Negeri
1 Susukanlebak berperan aktif dalam mewujudkan visi Profil Pelajar Pancasila
dan mempersiapkan siswa untuk meraih sukses di masa depan.
Pemberian Reward and Punishment
Berdasarkan
hasil pengamatan peneliti, penerapan pemberian reward oleh guru di SD
Negeri 1 Susukanlebak berperan penting dalam meningkatkan motivasi dan
kemandirian siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Sadirman (Mursal Aziz, 2020)
mengatakan bahwa penghargaan memiliki dua tujuan utama, yaitu untuk
meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah
kebutuhan belajar yang bersumber dari diri sendiri, sedangkan motivasi
ekstrinsik adalah kebutuhan belajar yang bersumber dari motivasi luar seperti
pujian, penghargaan, dan lain-lain.
Reward
verbal merupakan pujian atau pengakuan yang diberikan guru kepada siswa.� Bentuk penghargaan ini terbukti efektif dalam
mendorong siswa di SD Negeri 1 Susukanlebak untuk berperilaku baik dan meningkatkan
kemandiriannya. Pujian seperti �kamu hebat�, �bagus sekali� atau �pintar�
diberikan ketika siswa mampu menjawab pertanyaan, berpartisipasi aktif dalam
pembelajaran atau menyelesaikan tugas dengan baik dan benar tanpa bantuan orang
lain. Hasil wawancara kepada siswa kelas 1-5 SD Negeri 1 Susukanlebak
menunjukkan bahwa siswa merasa senang dan termotivasi ketika mendapat pujian
dari guru. Perasaan senang ini memotivasi siswa untuk terus berperilaku baik
dan giat belajar.
Adapun reward
non verbal mencakup berbagai bentuk penghargaan seperti gestur tubuh, hadiah
benda atau tanda penghargaan. Contoh reward non verbal yang digunakan di
SD Negeri 1 Susukanlebak adalah gerak mimik dan gestur badan seperti senyuman,
anggukan, ancungan, jempol, dan tepukan tangan. Selain itu dengan memberikan
benda seperti memberikan alat tulis untuk belajar, stiker bintang atau
bingkisan yang berisi aneka ragam makanan ringan yang ada di sekolah dan uang
serta penghargaan seperti sertifikat atau bentuk penghormatan lainnya. Hasil
wawancara siswa kelas 1-5 menunjukkan bahwa ketika mereka menerima reward
non verbal, siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk terus belajar dan
berprestasi. Sehingga pemberian reward baik verbal maupun non verbal di
SD Negeri 1 Susukanlebak terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi dan
kemandirian siswa. Dengan demikian, pemberian reward yang sesuai di
sekolah ini menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung bagi
perkembangan siswa.
Selain reward,
adapun pemberian punishment di SD Negeri 1 Susukanlebak digunakan dengan
tujuan untuk mendidik siswa agar jera dari kesalahan dan memperbaikinya.
Pendekatan ini tidak ditujukan untuk menyakiti siswa secara fisik atau mental,
melainkan untuk meningkatkan kemandirian, disiplin dan tanggung jawab. Hal ini
sejalan dengan Ela et al., (2017)
mengatakan bahwa tujuan yang akan dicapai dalam pemberian punishment bukan
untuk menyakiti anak. Namun tujuan utama pemberian punishment (hukuman) yaitu
agar anak merasa jera dan tidak akan mengulangi perilaku yang salah. Berikut
adalah beberapa bentuk punishment yang ada di SD Negeri 1 Susukanlebak antara
lain :
Punishment
teguran merupakan bentuk hukuman yang diberikan guru kepada siswa yang
melakukan kesalahan. Teguran ini diberikan ketika siswa mengganggu temannya di
kelas, membuang sampah di kolong meja atau menyontek. Selain teguran, siswa
juga diminta untuk melakukan tugas tambahan, seperti mengulang tugas yang belum
selesai, menyapu kelas, atau dipisahkan tempat duduknya jika ketahuan
menyontek. Hasil wawancara dengan siswa yang ditegur menunjukkan bahwa hukuman
ini efektif untuk mencegah kesalahan berulang. Misalnya, siswa kelas 1 � 5 yang
bernama RK, SA, RKR, RD, VA, MS yang mengaku diberi teguran dan tugas tambahan
karena mengganggu temannya dan menyontek.
Punishment
ini menyoroti pentingnya guru untuk tidak menunjukkan emosi pribadi saat
memberikan hukuman. Guru diharapkan memahami bahwa tujuan hukuman adalah untuk
pembelajaran bagi siswa, bukan untuk mengungkapkan kemarahan pribadi. Dengan
pendekatan ini membantu menciptakan lingkungan belajar di SD Negeri 1
Susukanlebak yang positif dan konstruktif dimana siswa didorong untuk
memperbaiki kesalahan mereka tanpa hukuman emosional. Jenis punishment
ini melibatkan kesepakatan antara guru dan siswa tentang aturan dan konsekuensi
yang akan diterapkan. Misalnya ada siswa yang membuang sampah ke kolong meja
maka hukumannya adalah menyapu kelas. Atau jika ada siswa yang menyontek,
hukumannya adalah mendapat tugas tambahan. Dengan pendekatan ini memastikan
bahwa hukuman bersifat adil dan mendidik serta melibatkan siswa dalam proses
pembelajaran.
Selain itu
terdapat punishment untuk mendidik dan membantu siswa memahami dan
memperbaiki kesalahannya. Misalnya, siswa yang tidak membawa buku sesuai jadwal
pelajaran maka diberikan tugas tambahan atau harus mengerjakan tugas yang
terlewat. Jika siswa yang terlambat diminta untuk menghafal perkalian. Punishment
lainnya adalah penurunan nilai karena menyontek atau menyapu kelas jika
membuang sampah di kolong meja. Dengan pendekatan ini membantu siswa memahami
kesalahannya dan mendorong mereka untuk lebih mandiri dan disiplin.
Pemberian punishment
di SD Negeri 1 Susukanlebak bertujuan untuk mendidik siswa dan memperbaiki
kesalahannya tanpa menyakiti secara fisik dan mental. Pendekatan ini melibatkan
teguran, mengesampingkan emosi, kesepakatan bersama dan bersifat mendidik. Oleh
karena itu, pemberian punishment di SD Negeri 1 Susukanlebak tidak hanya
memberikan efek jera, namun juga memberikan pembelajaran yang berharga bagi
siswa dan membantu siswa menjadi lebih mandiri, disiplin, dan bertanggung
jawab.
Sehingga
hal tersebut sesuai dengan teori belajar behaviorisme yaitu penafsiran mengenai
reward and punishment dalam pembelajaran diperlukan untuk memberikan
sebuah perilaku pribadi siswa yang dibentuk karena pengalaman yang terobservasi
melalui pembiasaan dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan tahap-tahap
yang dilaksanakan dalam pemberian reward and punishment terhadap siswa selama
belajar di sekolah yaitu dengan menyesuaikan tingkat pencapaian siswa, sehingga
siswa mendapat reward jika melakukan hal positif sedangkan punishment
jika melakukan kesalahan.
Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan selama belajar di sekolah, guru kelas 1-5 melihat
hasil belajar siswa dengan karakter kemandiriannya yaitu apabila siswa
mengerjakan tugasnya dengan baik tanpa bantuan orang lain serta menyelesaikan
tugas tepat waktu dengan jawaban yang memuaskan, maka guru memberikan reward
kepada siswa dengan memberikan pujian, tepuk tangan atau dengan berbentuk
hadiah. Selain itu apabila siswa menyontek kepada teman sebangkunya atau
menunjukkan ketidakmandirian, maka guru bisa memberikan punishment berupa
teguran seperti peringatan menulis sebanyak 1 lembar kertas dengan kalimat
�saya tidak akan menyontek� atau diberikannya tugas tambahan. Selain itu
apabila siswa tidak bisa menjaga lingkungan kebersihan sekolah atau membuang
sampah di kolong meja maka siswa tersebut menyapu kelas ketika siswa lain sudah
pulang. Ketika siswa mengganggu temannya saat belajar maka akan diberikan tugas
tambahan. Selain itu ketika siswa tidak membawa buku sesuai jadwal pelajaran
maka hukumannya tidak diberi tugas tambahan. Setelah itu hal ini diperjelas
oleh guru mengapa hal tersebut dilarang, agar siswa paham dengan punishment
yang diberikan oleh guru.
Dari
pemaparan diatas, guru kelas 1-5 SD Negeri 1 Susukanlebak sudah berusaha dengan
semaksimal mungkin dalam menerapkan metode reward and punishment untuk
kemandirian siswa, hal ini agar siswa dapat tumbuh dan berkembang menjadi siswa
yang mandiri serta mampu meraih pendidikan di jenjang yang lebih tinggi� Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran
yang dilakukan oleh guru yaitu diawali dengan berdo�a terlebih dahulu serta
membaca surat-surat pendek, menghapalkan perkalian, lalu memberikan materi
kepada siswa, setelah pemberian materi guru biasanya memberikan tugas kepada
siswa dan dikerjakan secara mandiri. Jika terdapat siswa yang sudah
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru maka hasil tugas siswa diserahkan
kepada guru. Setelah itu siswa akan diberikan rewad and punishment yang
sesuai dengan pencapaian siswa.
Sehingga
dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian reward and punishment
di SD Negeri 1 Susukanlebak mengikuti pendekatan yang bertujuan untuk
meningkatkan motivasi, kemandirian dan kedisiplinan siswa. Reward
diberikan dalam bentuk reward verbal berupa pujian dan reward non
verbal yaitu gerak mimik dan gestur badan seperti senyuman, anggukan, ancungan
jempol, dan tepukan tangan. Selain itu dengan memberikan hadiah seperti
memberikan alat tulis untuk belajar, stiker bintang atau bingkisan yang berisi
aneka ragam makanan ringan yang ada di sekolah dan uang untuk memotivasi siswa,
sedangkan punishment berupa teguran atau peringatan dan hukuman seperti menyapu
kelas, memberi tugas tambahan, menghapal perkalian serta menjelaskan pelajaran
di depan kelas untuk melatih siswa dan memperbaiki kesalahan tanpa emosi
pribadi guru. Pendekatan yang melibatkan siswa dalam menyetujui punishment
juga berkontribusi dalam memastikan hukuman yang adil dan mendidik.
Dimensi
kemandirian Siswa SD Negeri 1 Susukanlebak
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui dimensi kemandirian siswa di SD Negeri 1
Susukanlebak. Kemandirian merupakan keterampilan yang sangat penting dalam
perkembangan siswa, yang mencakup berbagai aspek seperti rasa percaya diri,
kemampuan menyelesaikan tugas secara mandiri, pantang menyerah, menghargai
waktu, kreatif dan tanggung jawab. Hal ini sejalan dengan pendapat Sundayana (Yusri, Dausat, Yukl Adnin, & STAI Sumatera Medan,
2020)
yang mengatakan bahwa kemandirian merupakan tidak mudah terpengaruh oleh
pendapat orang lain, berusaha bekerja dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan
serta bertanggungjawab atas tindakannya sendiri. Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan, berikut adalah gambaran dimensi kemandirian siswa SD
Negeri 1 Susukanlebak:
Pertama,
percaya diri pada siswa SD Negeri 1 Susukanlebak menunjukkan rasa percaya diri
yang kuat yang merupakan landasan penting dalam kemandirian. Beberapa siswa
mengakui bahwa kemandirian di sekolah tersebut mencakup kemampuan siswa dalam
menyelesaikan tugas tanpa bantuan orang lain. Siswa dari kelas yang berbeda
menunjukkan bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas di depan kelas tanpa guru
serta mengetahui apa yang harus dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah
telah berhasil meningkatkan rasa percaya diri siswa melalui berbagai kegiatan
dan tugas.
Kedua,
kemampuan melaksanakan tugas secara mandiri merupakan indikator penting kemandirian.
Guru kelas menemukan bahwa kemandirian siswa dikendalikan dengan memberi mereka
tugas sehari-hari dan pekerjaan rumah serta aktivitas kelas. Namun ada juga
siswa yang masih membutuhkan bantuan guru atau teman untuk menyelesaikan
tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kemandirian telah dikembangkan,
namun dukungan dan dorongan tambahan masih diperlukan untuk mencapai tingkat
kemandirian yang lebih tinggi.
Ketiga,
pantang menyerah adalah bagian penting dari kemandirian. Siswa SD Negeri 1
Susukanlebak diajarkan untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan.
Meskipun sebagian siswa masih belajar kemandirian dan terkadang menyontek,
namun mereka menunjukkan keinginan untuk terus berusaha dan belajar. Hal ini
menunjukkan bahwa pihak sekolah berhasil menanamkan sikap pantang menyerah
kepada siswanya.
Keempat,
menghargai waktu merupakan salah satu aspek kemandirian yang diajarkan di SD
Negeri 1 Susukanlebak. Siswa diajarkan untuk mengatur waktu mereka secara
efektif, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan mematuhi jadwal tertentu.
Beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka mampu menyelesaikan tugas tepat waktu
dan tiba di sekolah tepat waktu, hal ini menunjukkan bahwa sekolah berhasil
dalam mendidik siswa untuk menghargai waktu.
Kelima,
kreatif merupakan bagian penting dari kemandirian yang dikembangkan di SD
Negeri 1 Susukanlebak. Siswa diajarkan untuk berpikir inovatif dan
mengembangkan solusi baru terkait pembelajaran dan aktivitas sekolah. Kelas 4
dan 5 sudah menunjukkan keberanian menjadi petugas upacara pada hari senin dan
belajar mandiri, hal ini menunjukkan kreatif mereka berkembang dengan baik.
Keenam,
tanggung jawab merupakan bagian yang sangat penting dalam kemandirian SD Negeri
1 Susukanlebak. Siswa diajarkan untuk bertanggung jawab atas tugas, keputusan,
dan tindakannya. Mereka menunjukkan tanggung jawab dengan menyelesaikan tugas
tepat waktu, menjaga kerapihan kelas dan melakukan tugas-tugas khusus seperti
petugas upacara. Hal ini mencerminkan komitmen sekolah dalam meningkatkan kemandirian
dan tanggung jawab siswa dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Dalam
wawancara dengan guru, peneliti menemukan bahwa gambaran dimensi kemandirian
siswa dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan agar melatih kemandirian
siswa dalam belajar serta bertanggungjawab, berpikir kritis atas tindakannya,
serta tidak bergantung terhadap orang lain. Dengan demikian, kegiatan yang
dilakukan oleh setiap guru dari kelas 1-5 yaitu dengan memberikan tahapan
kepada siswa ketika mengerjakan soal. Tahapan-tahapan tersebut yaitu memulai
dengan mengerjakan soal yang mudah, namun ketika siswa mulai kesulitan atau
bingung, maka siswa dapat menanyakan kepada guru. Selain itu dengan meminta
siswa untuk menyelesaikan soal di papan tulis agar membantu siswa mengembangkan
keberanian dan pola pikir siswa. Dengan hasilnya, siswa bisa menjadi lebih
mandiri dan dapat menyelesaikan kesulitan sendiri.
Hal
tersebut sejalan dengan pendapat Suid (Tresnaningsih, Santi, & Suminarsih, 2019) yang
mengatakan bahwa tingkat kemandirian dapat dilihat dari indikator kemandirian
siswa berupa percaya diri, mampu bekeja sendiri, pantang menyerah, menghargai
waktu, kreatif serta bertanggungjawab. Dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa
kemandirian siswa dapat dibentuk dengan berbagai kegiatan yang mengajarkan
siswa untuk mandiri dalam belajar, berpikir kritis, bertanggung jawab, serta
tidak bergantung pada orang lain. Guru mempunyai peran penting dalam membantu
siswa untuk mengembangkan kemandirian siswa dengan memberikan pendekatan,
bentuk penugasan dengan menyuruh siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis,
melakukan pembiasaan-pembiasaan yang baik serta bertanggung jawab agar melatih
kemandirian siswa serta guru perlu memberikan nasihat serta motivasi agar siswa
selalu bersemangat.
Secara
keseluruhan dimensi kemandirian siswa di SD Negeri 1 Susukanlebak merupakan
hasil upaya sistematis sekolah dalam melatih siswa menjadi pribadi yang
mandiri, percaya diri serta bertanggung jawab. Meskipun kemampuan siswa dalam
mencapai kemandirian yang diinginkan masih bervariasi, namun pihak sekolah
tetap berkomitmen memberikan dukungan yang diperlukan agar setiap siswa dapat
tumbuh dan berkembang secara mandiri secara optimal. Dengan demikian, SD Negeri
1 Susukanlebak berhasil membentuk sifat mandiri siswanya melalui berbagai
program dan kegiatan mendukung.
Dampak
Pemberian Reward and Punishment Terhadap Dimensi Kemandirian Siswa SD
Negeri 1 Susukanlebak
Berdasarkan
penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti dapat dipaparkan bagaimana dampak
pemberian reward and punishment terhadap dimensi kemandirian siswa SD
Negeri 1 Susukanlebak. Berdasarkan hasil penelitian, dampak pemberian reward
and punishment terdapat dampak positif dan negatifnya.
Berikut
dampak positif reward mempunyai dampak yang sangat besar terhadap
dimensi kemandirian siswa. Reward berupa pujian, hadiah, atau pengakuan
atas prestasi, dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih banyak dan mengembangkan
kemandirian. Berdasarkan pengalaman siswa dan guru SD Negeri 1 Susukanlebak
dapat disimpulkan bahwa reward berdampak positif signifikan terhadap
dimensi kemandirian siswa. Reward tidak hanya meningkatkan motivasi
belajar, tetapi juga meningkatkan dimensi kemandirian, meningkatkan rasa
percaya diri, mendorong perilaku positif dan meningkatkan prestasi akademik.
Dengan demikian, reward merupakan pembelajaran efektif yang memotivasi
siswa SD Negeri 1 Susukanlebak untuk terus belajar, berkembang dan mandiri. Hal
ini sejalan dengan pendapat Rosyid (Millenia Al Fitri, 2023)
mengatakan bahwa reward memiliki kelebihan yaitu membantu siswa dalam
meningkatkan keterampilan serta pengetahuan kognitif, dapat menumbuhkan dimensi
kemandirian siswa, serta memberikan kesenangan siswa.
Pemberian reward
kepada siswa memang mempunyai banyak dampak positif, namun tidak bisa diabaikan
bahwa reward tersebut juga mempunyai dampak negatif. Dalam hal ini siswa
yang tidak diberi reward akan merasa iri dan tidak dihargai, sehingga
dapat menurunkan semangat dan motivasinya, menciptakan kompetisi yang tidak
sehat, membebani siswa dengan ekspektasi yang berlebihan, dan bahkan menghambat
kemandirian mereka. Oleh karena itu, penting bagi guru SD Negeri 1 Susukanlebak
untuk memberikan reward secara bijaksana dan adil, serta memastikan
bahwa semua siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar. Hal ini
sejalan dengan pendapat Rosyid (Millenia Al Fitri, 2023)
mengatakan bahwa reward memiliki kelemahan yaitu dapat menjadi beban
bagi siswa yang memiliki mental lemah dan umumnya bersifat lebih fokus pada
siswa yang aktif dan cerdas dibandingkan dengan siswa yang biasa.
Secara
keseluruhan reward mempunyai dampak positif yang signifikan terhadap
kemandirian siswa di SD Negeri 1 Susukanlebak, namun reward harus
digunakan secara bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti rasa iri,
persaingan tidak sehat dan ekspektasi yang berlebihan. Guru harus memastikan
bahwa semua siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar agar dapat
mengembangkan kemandirian siswa dan keberhasilan akademik secara optimal.
Selain
dampak reward, adapun dampak positif punishment di SD Negeri 1
Susukanlebak yaitu punishment sebagai metode pengajaran yang efektif. Punishment
membantu siswa memahami konsekuensi kesalahan siswa, belajar dari pengalaman
dan mendorong siswa untuk lebih mandiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Jannah (2022)
mengatakan punishment akan menjadikan perbaikan terhadap kesalahan siswa
sehingga siswa tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan merasakan akibat
perilakunya sehingga siswa akan menghargai dirinya.
Adapun
dampak negatif punishment di SD Negeri 1 Susukanlebak yaitu penurunan
motivasi dan perasaan sedih siswa. Pengalaman emosional negatif ini dapat
menghambat perkembangan dimensi kemandirian dan kesejahteraan mental siswa.
Oleh karena itu, metode punishment yang digunakan harus dievaluasi agar
tetap mendukung pembelajaran yang positif dan efektif. Pendekatan yang lebih
seimbang yang berfokus pada penguatan positif dapat membantu siswa lebih
memahami konsekuensi tindakan siswa tanpa merusak motivasi dan kesejahteraan
emosional siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Jannah (2022)
mengatakan punishment mengakibatkan siswa kurang percaya diri dan siswa
akan bermalas-malasan serta menyebabkan siswa suka berbohong (karena takut
dihukum) dan mengurangi keberanian untuk bertindak.
Konsep
dasar pemberian reward and punishment terhadap dimensi kemandirian siswa
yaitu untuk memberikan kesadaran pada siswa tentang pentingnya memiliki dimensi
kemandirian yang baik. Pembinaan dimensi kemandirian dengan adanya reward
and punishment menjadi salah satu strategi guru dalam menyampaikan
dimensi kemandirian kepada siswa. Berkaitan dengan reward and punishment
terdapat dampak yang dapat direalisasikan oleh guru dalam memberikan motivasi
kepada siswa pada saat belajar di sekolah.
Pemberian reward
and punishment terhadap dimensi kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak
merupakan salah satu upaya yang diimplementasikan untuk membentuk dimensi
kemandirian siswa. Sehingga dampak dari penerapan strategi ini memiliki
substansial dalam perkembangan dimensi kemandirian siswa di sekolah. Pemberian reward
ini dilakukan dengan menumbuhkan nilai-nilai baik yang dilaksanakan dengan
pembiasaan serta penghargaan ketika melakukan hal yang bersifat positif namun
ketika anak melakukan hal negatif guru akan memberikan punishment yang
sesuai bagi siswa. Punishment ini bertujuan agar anak merasa jera dan
tidak akan mengulangi perilaku yang salah serta untuk melindungi anak dari
perbuatan yang tidak wajar.
Hasil
wawancara dengan guru, peneliti menemukan bahwa dalam pemberian reward and
punishment terhadap kemandirian siswa, guru itu akan terlebih dahulu
memberikan suatu penguatan (reinforcement) kepada siswa agar siswa tetap
tertib dalam pembelajaran dan tidak melakukan hal yang tidak baik selama
pembelajaran. Sebagai pembentukan sikap kemandirian siswa, reward and
punishment menjadi alat bantuan pendidikan yang efektif untuk membentuk dimensi
kemandirian pada siswa. Sehingga dengan adanya dimensi kemandirian akan
membentuk kepribadian siswa yang disebabkan oleh adanya pembiasaan perilaku
repons sesuai dengan teori Operant Conditioning. Dalam hal ini
kemandirian siswa akan mempermudah dalam kelancaran belajar siswa, sehingga
karakter kemandirian akan melekat pada diri siswa dan menjadikan siswa lebih
mandiri, bertanggungjawab, pecaya diri serta pantang menyerah.
Menelaah
dari hasil observasi dan wawancara mendalam dengan para narasumber yang dilengkapi
dengan studi dokumentasi maka telah dipaparkan deskripsi umum tentang dampak
pemberian reward and punishment terhadap dimensi kemandirian siswa SD
Negeri 1 Susukanlebak. Bahwa dapat diketahui pemberian reward and punishment
berdampak pada perkembangan dimensi kemandirian siswa jika dilakukan dengan
baik dan sesuai. Guru harus sesuai dalam memberikan reward and punishment
kepada siswa agar dapat memberi dampak positif, karena peran guru sangat
berdampak untuk siswa. Dalam pemberian penghargaan dan pembiasaan yang baik
maka siswa akan melaksanakan hal-hal yang positif. Namun ketika siswa melakukan
hal yang negatif, maka guru bertindak untuk memberikan punishment yang
sesuai pula. Punishment ini bertujuan agar siswa tidak mengulangi
kesalahannya dan menjelaskan sebab akibat kenapa hal tersebuut tidak
diperbolehkan.
Penerapan
pemberian reward and punishment tidak hanya memperhatikan efektivitas
dimensi kemandirian saja, akan tetapi memiliki dampak terhadap motivasi dan
kesejahteraan emosional siswa serta evaluasi berkelanjutan. Dalam hal ini guru
perlu memastikan bahwa metode yang dipilih mendorong pembelajaran positif dan
mendukung perkembangan siswa secara optimal. Hal ini� terlihat pada siswa kelas 1,2,3,4 dan 5 menerapkan
karakter kemandiriannya sehingga siswa lain termotivasi untuk mendapat reward,
begitupun sebaliknya yang mendapatkan punishment selalu berusaha untuk
mendapatkan reward. Dengan pendekatan yang tepat, reward and
punishment menjadi alat pendidikan yang efektif untuk membentuk kemandirian
siswa.
Berdasarkan
hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak reward and punishment
terhadap dimensi kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak tedapat pada dua
hal yaitu berdampak positif dan negatif. Dampak positif reward
menunjukkan adanya motivasi dan kemandirian siswa, sedangkan dampak negatif reward
menunjukkan kesedihan dan rasa tidak hormat terhadap siswa yang tidak mendapat reward,
serta potensi ketergantungan siswa pada reward. Sedangkan dampak positif
punishment yaitu membantu siswa memahami konsekuennsi kesalahannya dan
mendorong siswa untuk mandiri, sedangkan dampak negatif punishment yaitu
melemahnya motivasi siswa dan perasaan sedih siswa sehingga menghambat
kemandiriannya serta potensi ketergantungan siswa pada punishment.
CONCLUSION
Dari data-data
yang telah diuraikan dalam penelitian yang telah dilaksanakan, maka penulis
akan memberikan kesimpulan sebagai berikut: Pertama, pemberian reward and
punishment di SD Negeri 1 Susukanlebak diberikan dengan cara yang tepat
sehingga memberikan kontribusi positif dalam membentuk karakter siswa.
Pemberian reward diberikan dalam bentuk reward verbal berupa pujian dan reward
non verbal yaitu gestur badan, seperti senyuman, anggukan, ancungan jempol, dan
tepukan tangan. Selain itu, reward juga diberikan dalam bentuk hadiah seperti
alat tulis untuk belajar, stiker bintang atau bingkisan yang berisi aneka ragam
makanan ringan yang ada di sekolah, dan uang serta penghormatan atau
penghargaan untuk memotivasi siswa. Sementara itu, punishment berupa teguran atau
peringatan dan hukuman seperti menyapu kelas, memberi tugas tambahan, menghapal
perkalian, serta menjelaskan pelajaran di depan kelas diberikan untuk melatih
siswa dan memperbaiki kesalahan tanpa emosi pribadi guru. Pendekatan yang
melibatkan siswa dalam menyetujui punishment juga berkontribusi dalam
memastikan hukuman yang adil dan mendidik.
Kedua,
secara keseluruhan SD Negeri 1 Susukanlebak berhasil menggambarkan dimensi
kemandirian siswa melalui kegiatan dalam melatih siswa menjadi pribadi yang
mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab. Meskipun masih terdapat perbedaan
kemampuan siswa dalam mencapai tingkat kemandirian yang diharapkan, namun pihak
sekolah terus berupaya memberikan dukungan yang dibutuhkan setiap siswa untuk
berkembang secara optimal dalam kemandirian. Ketiga, dampak reward and
punishment terhadap kemandirian siswa SD Negeri 1 Susukanlebak tedapat pada dua
hal, yaitu berdampak positif dan negatif. Dampak positif reward menunjukkan
adanya motivasi dan kemandirian siswa, sedangkan dampak negatif reward
menunjukkan kesedihan dan rasa tidak hormat terhadap siswa yang tidak mendapat
reward serta potensi ketergantungan siswa pada reward, sehingga dapat
mempengaruhi kesejahteraan emosionalnya. Sementara itu, dampak positif
punishment yaitu membantu siswa memahami konsekuennsi kesalahannya dan
mendorong siswa untuk mandiri, sedangkan dampak negatif punishment yaitu
melemahnya motivasi dan perasaan sedih siswa sehingga menghambat kemandiriannya
serta potensi ketergantungan siswa pada punishment.
DAFTAR PUSTAKA
Abdi, Muhammad, Murni, Atma,
& Saragih, Sehatta. (2021). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
dengan Model Discovery Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Peserta Didik SMP Kabupaten Kampar. Jurnal
Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 5(3), 2989�2997.
https://doi.org/10.31004/cendekia.v5i3.407
Anggraini, Silvia, Siswanto,
Joko, & Sukamto. (2019). Analisis Dampak Pemberian Reward And Punishment
Bagi Siswa SD Negeri Kaliwiru Semarang. Jurnal Mimbar PGSD Undiksha, 7(3),
221�229.
Cahyaningsih, Inung, &
Astuti, Kamsih. (2022). Hubungan Persepsi Supervisi Akademik Dengan Kompetensi
Pedagogik Pada Guru Sekolah Dasar Inklusi. Jurnal Impresi Indonesia (JII),
1.
Dimas Sasongko Putro, Ali
Maksum. (2019). Sepakbola dan pembentukan karakter : Penerapan reward dan
punishment. Jurnal Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan, 07(02),
229�233.
Eko Haryono. (2023). Metodologi
Penelitian Kualitatif Diperguruan Tinggi Keagamaan Islam. Https://Ejournal.Iaiamc.Ac.Id/Index.Php/Annuur/Article/View/301.
Ela, Nurhaidah, & Intan.
(2017). Pemberian Punishment yang Dilaksanakan Guru di SD Negeri 4 Banda Aceh. Jurnal
Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Unsyiah, 2(1), 12�21.
Hanurawan. (2016). Pengembangan
Motivasi Belajar Siswa Berprestasi Anak Tenaga Kerja Indonesia (Studi Kasus
Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kabupaten Blitar). Jurnal Pendidikan - Teori,
Penelitian, Dan Pengembangan, 1(9), 1875�1879.
Jannah, Rauzatul. (2022). Implementasi
Reward Dan Punishment Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Ra Fathun Qatib Banda Aceh.
Kurniasih, Een. (2023). Upaya
Menumbuhkan Karakter Disiplin Melalui Reward Dan Punishment Pada Kelas IV A MI
NEGERI 2 Ditegaskan dalam kebijakan Permendikbud Pasal 2 Nomor 20 Tahun 2018
tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal dijelaskan
bahwa Penguata. 1(3).
Millenia Al Fitri, Hessya.
(2023). Penerapan Reward Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD
Negeri 006 Bengkulu Utara. 2(1), 45�57.
Mursal Aziz1, Syarifudin
Syarifudin. (2020). DASAR-DASAR PEMBERIAN PUNISHMENT. 133�145.
Parastuti, Ida, & Binangun,
Sdn. (2021). Increase Student Activity And Motivation In Learning With Ice
Breaking. SHEs: Conference Series, 4(6), 1309�1313.
Rosmana, Primanita Sholihah,
Ruswan, Acep, Putri, Audrey Rosdiana, Hami, Nadya Berchmans, Salsabhila,
Ummyatul, & Laila, Wilda Nur. (2024). Implementasi Perencanaan
Pembelajaran dalam Kacamata Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. 8,
3031�3039.
Santika, Rani, & Dafit,
Febrina. (2023). Implementasi Profil Pelajar Pancasila sebagai Pendidikan
Karakter di Sekolah Dasar. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia
Dini, 7(6), 6641�6653. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i6.5611
Shofia Rohmah, Nafiah Nur,
Markhamah, Sabar Narimo, & Choiriyah Widyasari. (2023). Strategi Penguatan
Profil Pelajar Pancasila Dimensi Berkebhinekaan Global Di Sekolah Dasar. Jurnal
Elementaria Edukasia, 6(3), 1254�1269.
https://doi.org/10.31949/jee.v6i3.6124
Tresnaningsih, Fety, Santi, Dina
Pratiwi Dwi, & Suminarsih, Etty. (2019). Kemandirian Belajar Siswa Kelas
Iii Sdn Karang Jalak I Dalam Pembelajaran Tematik. Pedagogi: Jurnal
Penelitian Pendidikan, 6(2), 51�59.
https://doi.org/10.25134/pedagogi.v6i2.2407
Yusri, Dairina, Dausat, Jangky,
Yukl Adnin, Ali, & STAI Sumatera Medan, Sahrul. (2020). Analisis
Kemandirian Belajar Siswa Selama Pembelajaran Daring: (Studi Tentang Model dan
Penerapannya di MTs Swasta� Zakiyun Najah
Sei Rampah). Jurnal Bilqolam Pendidikan Islam, 1(2), 1�18.