Pembentukan Perilaku� Manusia dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam

 

Annisa Rahma1, Wantini2

Universitas Ahmad Dahlan, Indonesia

[email protected]1, [email protected]2

 

Abstrak:

Manusia adalah makhluk sosial yang kompleks, dan perilaku mereka dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan sosial mereka. Dalam konteks ini, pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang membentuk perilaku manusia menjadi krusial. Studi ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai, norma, dan tradisi budaya mempengaruhi perilaku manusia dalam konteks sosial tertentu. Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan campuran (mixed-methods) yang melibatkan beragam kelompok manusia dalam interaksi sosial. Teknik pengambilan data dari studi ini meliputi observasi partisipatif, wawancara semi-struktural, dan studi kasus. Observasi partisipatif digunakan untuk memahami perilaku manusia dalam konteks sosial, sementara wawancara semi-struktural memungkinkan untuk mendapatkan wawasan mendalam tentang motivasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku. Studi kasus dapat digunakan untuk mengeksplorasi perilaku manusia dalam konteks situasi yang kompleks. Analisis tematik dan naratif dapat membantu mengidentifikasi pola-pola dan memahami bagaimana cerita atau pengalaman individu mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku manusia dalam konteks sosial sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk budaya, norma, dan interaksi antarindividu. Analisis data menegaskan bahwa budaya memainkan peran krusial dalam membentuk perilaku, dengan nilai-nilai budaya yang mempengaruhi keputusan dan tindakan individu. Selain itu, interaksi sosial, baik secara langsung maupun melalui media sosial, memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan identitas dan perilaku manusia. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas perilaku manusia dalam konteks sosial dan menekankan pentingnya melihat individu sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas dalam memahami perilaku mereka.

 

Kata Kunci: Tingkah Laku Manusia, Interaksi Sosial, Budaya, Norma Sosial.

 

Abstract:

Humans are complex social beings, and their behavior is influenced by interactions with their social environment. In this context, a deep understanding of the factors that shape human behavior becomes crucial. This study aims to analyze how values, norms, and cultural traditions influence human behavior within specific social contexts. The research can employ a mixed-methods approach involving diverse human groups in social interactions. Data collection techniques in this study include participatory observation, semi-structured interviews, and case studies. Participatory observation is used to understand human behavior within social contexts, while semi-structured interviews provide in-depth insights into the motivations and factors influencing behavior. Case studies can be employed to explore human behavior in complex situational contexts. Thematic and narrative analysis can help identify patterns and understand how individual stories or experiences reflect broader social dynamics. The findings indicate that human behavior in social contexts is significantly influenced by various factors, including culture, norms, and interpersonal interactions. Data analysis confirms that culture plays a crucial role in shaping behavior, with cultural values influencing individual decisions and actions. Additionally, social interactions, both direct and through social media, have a significant impact on the formation of identity and human behavior. Overall, these findings offer a deeper understanding of the complexity of human behavior within social contexts and emphasize the importance of viewing individuals as part of a larger society in understanding their behavior.

Keywords: Human Behavior, Social Interaction, Culture, Social Norms.

 


Corresponding: Annisa Rahma

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang memiliki karakteristik yang berbeda daripada makhluk lainnya. Manusia secara khusus memiliki perilaku khusus seperti membaca, menulis, tertawa, berbicara, dan sebagainya (Sajidin, Kambali, Ridwan, Astuti, & Sayudin, 2023). Dapat diartikan bahwa perilaku manusia merupakan segala kegiatan yang dapat diamati dan diperhatikan dari luar. Perilaku juga dianggap sebagai kegiatan psikis yang terpengaruh oleh keadaan yang terjadi disekitarnya. Adapun proses reaksi tersebut memiliki hukum timbal balik yang berbentuk pasif dan aktif (Wantini, 2023).

Berikut adalah beberapa faktor penyebab berubahnya perilaku manusia:

1.       Genetika

2.       Sikap

3.       Norma

4.       Kontrol perilaku

Pernyataan diatas sesuai dengan perumusan skinner tentang respon dan reaksi yang terpengaruhi oleh stimulant dari luar (Vembriati, 2017). dalam psikologi sikap atau perilaku dipandang sebagai seperangkat yang saling berhubungan berdasarkan hasil penalaran manusia dan pemahamannya terhadap suatu individu ataupun kelompok sosial (sikap keagamaan madani). Sikap itu terbentuk dari hasil belajar individu dan pengalaman semasa hidup nya, maka dari itu perilaku manusia selalu berkesinambungan dengan lingkungan sosial yang ada di sekitarnya.

Menurut Heider perilaku sosial dan keseimbangannya secara kognitif dapat mempengaruhi sikap orang lain yang terikat dalam lingkaran sosialnya (Aeni & Wiwaha, 2022). Seseorang akan cenderung menginginkan teman, dimana teman yang dibutuhkan merupakan cerminan dari dirinya yang memiliki kepribadian yang sama, kebiasaan yang sama, dan pemikiran yang sama, begitu juga sebaliknya. Sehingga seseorang dalam mencari teman atau lingkunganya akan terpacu untuk menyesuaikan keseimbangan kognisinya (Wantini, 2023).

Dalam kajian pendidikan Islam, menurut imam Al-Ghazali, terdapat dua teknik utama, yaitu teknik pembentukan perilaku dan teknik tazkiyatun nafs. Teknik pembentukan perilaku berfokus pada penerapan dalam pembentukan karakter dan perkembangan mental anak (Zain, 2021). Teknik ini melibatkan pembentukan perilaku terpuji dan penghindaran perilaku tak terpuji lewat panduan, praktek, dan upaya gigih. Norma agama tak akan menyerap jiwa jika seseorang menanamkan rutinitas baik dan menjauhi rutinitas buruk, serta tetap disiplin bertindak sesuai dengan perilaku baik dan menghindari perilaku buruk. Pembiasaan adalah pendekatan pendidikan Islam yang krusial karena dengan cara ini, satu aktivitas akhirnya bisa jadi bagian dari kebiasaan anak di masa depan (Sugiharto, 2017). Kitab suci Al-Qur'an mengadaptasi perilaku sebagai cara atau pendekatan pendidikan, merubah semua perilaku positif menjadi rutinitas, hingga jiwa bisa menyelesaikannya dengan sedikit usaha dan kesulitan.

 

 

Lingkungan memainkan peran penting dalam menentukan arah yang diinginkan oleh seorang anak (Husna, 2020). Lingkup hidup bisa menghasilkan pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan manusia. Oleh karena itu, tanggung jawab lingkungan pendidikan sangat besar dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas. Penelitian oleh Poondej & Lerdpornkulrat (2016) menunjukkan bahwasanya murid bisa menyesuaikan metode pembelajaran para murid berdasarkan persepsi mereka terhadap lingkungan belajar mereka (Poondej & Lerdpornkulrat, 2016).

Menurut Gerungan, sikap dapat diklasifikasikan menjadi sikap individu dan sikap sosial. Sikap sosial ditunjukkan oleh pola kegiatan yang konsisten dan berulang terhadap objek sosial, biasanya dikeluarkan oleh kelompok orang atau masyarakat (Armo, Jazuli, & Tanireja, 2019). Sebaliknya, sikap individu adalah sikap yang dimiliki dan dinyatakan oleh seseorang. Sikap individu pada akhirnya dapat membentuk sikap sosial ketika ada kesamaan sikap terhadap suatu objek. Dalam konteks ini, fokusnya adalah pada sikap individu, mengingat bahwa pendidikan yang dibahas dalam kajian ini melibatkan proses pendidikan secara individual, dengan mempertimbangkan keinginan, kebutuhan, kemampuan, motivasi, dan tujuan yang sangat bervariasi. Kepribadian juga merupakan kumpulan sifat biologis yang meliputi dorongan, kecenderungan, rasa, dan naluri yang diperoleh melalui pengalaman (Suak, 2021).

Manusia pada dasarnya terdiri dari unsur jasmani dan rohani, serta dilengkapi dengan akal, kalbu, dan nafsu sebagai bekal hidup. Dengan akal, manusia mampu berpikir dan mengembangkan pengetahuan serta kebudayaannya. Akal yang digunakan untuk berpikir dapat membawa manusia pada pemahaman yang lebih dalam tentang alam, sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi dapat tercipta. Kalbu memberikan rasa kemanusiaan, yang membuat manusia merasakan keindahan, haru, cinta, dan lain-lain. Sementara itu, nafsu mendorong manusia untuk bergerak secara bebas dan dinamis, memberikan energi dalam bentuk keinginan yang memotivasi manusia untuk terus maju (Wahyudi, Husaini, Hafidhuddin, & Suryadi, 2017). Fungsi dan tugas-tugas ini dapat dilaksanakan dengan baik jika manusia menjadi individu yang beradab (Wahyudi et al., 2017). Pada titik ini, psikologi Islam muncul sebagai reaksi terhadap perkembangan psikologi Barat kontemporer. Psikologi Islam adalah bentuk psikologi yang mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Islam, sering kali disebut sebagai islamisasi psikologi (Nunzairina, 2018).

Keterampilan sosial adalah kemampuan penting yang harus dimiliki siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial mereka, termasuk kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpartisipasi dalam masyarakat, serta kepekaan sosial. Keterampilan sosial ini dapat membantu menumbuhkan dan mengarahkan sikap serta perilaku sosial siswa menjadi lebih baik (Bali, 2017). Kajian psikologi sosial telah banyak mempelajari perilaku dan sikap individu dalam konteks sosial mereka. Para ahli psikologi sosial telah lama menggunakan pendekatan kognisi untuk memahami aspek-aspek psikologi sosial. Kognisi sosial didefinisikan sebagai cara kita menginterpretasi, menganalisis, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia sosial, atau dengan kata lain, bagaimana cara kerja pikiran kita memahami lingkungan sekitar untuk berfungsi secara adaptif di dalamnya (Nuqul, 2018).

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi dan juga sikap sangat menentukan sosial manusia, karena sosial akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan hal yang sesuai dengan lingkungannya.

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

Artikel ini akan menggunakan analisis multidisiplin untuk menjelaskan bagaimana faktor-faktor sosial seperti budaya, norma, dan hubungan antar individu mempengaruhi perilaku manusia dalam berbagai situasi. Studi kualitatif dapat menjadi pendekatan yang cocok untuk mengeksplorasi tingkah laku manusia dalam konteks sosial. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perilaku manusia. Penelitian ini juga dapat menggunakan pendekatan campuran (mixed-methods), menggabungkan elemen kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Subjek penelitian dapat meliputi beragam kelompok manusia yang terlibat dalam interaksi sosial, seperti individu dari berbagai kelompok usia, budaya, dan latar belakang sosioekonomi. Penelitian ini mungkin juga melibatkan pengamatan langsung dalam situasi sosial yang berbeda, serta wawancara mendalam dengan partisipan untuk memahami persepsi dan pengalaman mereka. Teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian ini termasuk observasi partisipatif, wawancara semi-struktural, dan studi kasus. Observasi partisipatif memungkinkan peneliti untuk memahami perilaku manusia dalam konteks sosial secara langsung, sementara wawancara semi-struktural memungkinkan untuk mendapatkan wawasan mendalam tentang motivasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku. Studi kasus dapat digunakan untuk mengeksplorasi perilaku manusia dalam konteks situasi yang kompleks dan kontekstual. Untuk menganalisis data kualitatif yang dikumpulkan, teknik analisis seperti analisis tematik atau analisis naratif dapat digunakan. Analisis tematik memungkinkan untuk mengidentifikasi pola-pola dalam data yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam konteks sosial, sementara analisis naratif dapat membantu dalam memahami bagaimana cerita atau pengalaman individu mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas. Analisis kuantitatif juga dapat digunakan untuk menguji hubungan statistik antara variabel sosial dan perilaku manusia.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perubahan Perilaku Manusia

Perubahan perilaku manusia terhadap sosialnya dapat kita telaah dari beberapa hal , dikutip dari beberapa ahli psikologi yang telah mengemukakan pendapatnya dan alirannya terhadap perubahan tingkah laku manusia adalah sebagai berikut:

1.       Aliran nativisme

Nativisme merupakan sebuah doktrin filsafat yang memiliki pengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologi. Arthur Schopenhauer (1788-1860) merupakan seorang filsuf asal Jerman yang menjadi tokoh utama dalam aliran ini. Aliran ini memandang sesutau dengan pandangan yang suram, maka Nativisme sering disebut jua sebagai aliran pesimistis. Pengikut aliran ini percaya bahwa perkembangan manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir, sedangkan pengalaman serta pendidikan dianggap tidak memiliki pengaruh sama sekali. Menurut ilmu pendidikan, ini dikenal sebagai "pesimisme pedagogis" (Judrah, 2020).

Misalnya, apabila kedua orang tua adalah musisi, mereka cenderung ingin anak-anak mereka juga menjadi seorang musisi. Demikian pula, seekor harimau tidak dapat melahirkan seekor domba. Dengan kata lain, kepribadian dan kemampuan orang tua dianggap memiliki dampak langsung pada pertumbuhan anak-anak mereka. Dari sudut pandang pendidikan, sudut pandang ini sulit untuk dianut. Jika semuanya ditentukan oleh warisan dan keadaan lingkungan, dan pendidikan dianggap tidak relevan, maka sekolah tidak diperlukan karena dianggap tidak memiliki pengaruh pada pertumbuhan seseorang.

 

 

 

2.       Aliran empirisme

Para pendukung konvergensi tidak setuju dengan Nativisme, yang berpendapat bahwa pertumbuhan manusia semata-mata bergantung pada sebab-sebab intrinsik. Sebaliknya, kaum empiris mengklaim bahwa pertumbuhan manusia sepenuhnya bergantung pada faktor lingkungan, tanpa adanya pengaruh dari faktor bawaan. John Locke adalah tokoh utama aliran empirisme yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat.

Gagasan terkenal dari aliran empiris adalah "tabula rasa," yang diterjemahkan sebagai "batu tulis kosong" atau "lembar kosong." Filosofi ini menekankan peran pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam pertumbuhan manusia, dengan asumsi bahwa karakteristik dan keterampilan intrinsik tidak terlalu penting. Menurut sudut pandang ini, setiap anak dilahirkan tanpa kualitas atau kemampuan yang unik.

Oleh karena itu, perkembangan seorang anak tergantung pada pengalaman dan lingkungan pendidikan yang didapatnya. Sulit untuk membantah bahwa pertumbuhan dan nasib seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Telah dibuktikan bahwa perilaku dan nasib seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan rumah dan masyarakatnya. Karakteristik keluarga, khususnya tipe dan keadaan orang tua kandung, memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan anak di masa depan.

3.       Aliran konvergensi

Aliran Konvergensi menggabungkan empirisme dengan nativisme, dengan menekankan relevansi genetika dan lingkungan sebagai variabel yang memengaruhi perkembangan manusia. Tokoh utama aliran ini adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang filsuf dan psikolog Jerman. Ia mendirikan sebuah filsafat yang dikenal sebagai personalisme, yang telah memberikan dampak signifikan pada banyak subjek yang berkaitan dengan manusia. Stern dan para pengikutnya mempertimbangkan lingkungan dan pengalaman, serta faktor keturunan, saat mengevaluasi unsur-unsur yang memengaruhi pertumbuhan manusia.

Faktor keturunan tidak ada nilainya jika tidak disertai faktor pengalaman (Ekawati & Yarni, 2019). Sebaliknya, unsur pengalaman yang tidak memiliki keterampilan alami tidak akan mampu memaksimalkan potensi manusia. Menurut aliran ini, baik unsur intrinsik maupun lingkungan berperan sama dalam membentuk masa depan seseorang. Keterampilan setiap manusia membutuhkan suasana yang tepat untuk berkembang. Misalnya, setiap anak manusia normal memiliki kemampuan untuk berdiri tegak dengan kedua kaki, tetapi kemampuan ini tidak akan tercapai kecuali bayi tersebut hidup dalam konteks peradaban manusia.

Seorang anak manusia yang dibesarkan oleh serigala sejak usia muda mungkin tidak dapat berdiri di atas kedua kakinya dengan tegak,mungkin saja� saja ia akan berjalan tangan dan kakinya, selayaknya serigala. Ini menunjukkan bahwa keterampilan serta pembawaan tidak berpengaruh jika lingkungan dan pengalaman tidak mendukung perkembangan. Dampak genetika dan lingkungan pada perkembangan masa depan seseorang bervariasi. Beberapa pendapat dikemukakan bahwa lingkungan menjadi faktor yang lebih dominan. Di sisi lain, setiap orang kemungkinan besar memiliki karakteristik fisik yang sama, seperti mata, rambut, dan bentuk tubuh, dengan orang tua mereka. Sebaliknya, dalam aspek rohaniah, sulit untuk memastikan. Banyak bakat yang dimiliki orang tua tidak selalu diwariskan secara langsung kepada anak, bahkan anak mungkin mengembangkan bakat yang berbeda jika mengikuti pembelajaran di bidang lain. Terdapat banyak kasus di mana karakter dan bakat seseorang yang berbeda dari orang tua sebenarnya mirip dengan kakek atau nenek mereka. Jadi, tidak semua kemampuan dan kepribadian diturunkan langsung kepada anak, melainkan kepada cucu mereka (Nasution, 2015).

Konsekuensi dari pertumbuhan siswa tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan genetika dan variabel lingkungan; siswa juga harus bertanggung jawab.� Setiap individu memiliki kapasitas untuk mengarahkan dan mendisiplinkan diri, ini memungkinkan agar individu tersebut dapat memilih apakah akan ikut serta dalam lingkungan tertentu yang ingin mengembangkan diri atau justru menolak.

Faktor yang memengaruhi perubahan perilaku

1.       Faktor Internal

Faktor internal yang mempengaruhi perubahan perilaku manusia melibatkan proses mental, emosi, dan fisik yang terjadi di dalam individu. Berikut adalah beberapa faktor internal yang bisa mempengaruhi perubahan tingkah laku manusia:

a.       Persepsi: Cara individu melihat dan menafsirkan situasi dapat mempengaruhi bagaimana mereka bereaksi terhadapnya. Perubahan dalam persepsi dapat memicu perubahan perilaku.

b.      Pemahaman: Pemahaman seseorang tentang suatu topik atau situasi dapat berkembang seiring waktu, yang dapat mengarah pada perubahan dalam perilaku mereka.

c.       Nilai dan keyakinan: Nilai serta keyakinan yang dimiliki individu dapat berubah seiring dengan pengalaman hidup dan proses belajar. Perubahan ini dapat mempengaruhi pilihan dan tindakan mereka.

d.      Emosi: Emosi memiliki dampak yang kuat pada perilaku manusia. Perubahan dalam kondisi emosional seseorang dapat menyebabkan perubahan dalam tindakan dan respons mereka terhadap situasi tertentu.

e.       Komponen kognitif : Komponen kognitif menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kepercayaan individu. Dalam sikap, komponen kognitif merujuk pada elemen-elemen dalam keyakinan yang memengaruhi apakah kita membenarkan atau menolak sesuatu. Kepercayaan ini juga dapat membentuk pandangan seseorang dalam menentukan sikap terhadap orang-orang di sekelilingnya.

2.       Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang dapat mengubah perilaku seseorang merupakan rangkaian variabel dari lingkungan luar individu yang mempengaruhi cara individu tersebut bertindak dan merespon situasi tertentu. Berikut adalah beberapa faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang:

a.       Budaya: Budaya merupakan nilai-nilai, norma, dan keyakinan yang dipegang oleh masyarakat. Individu seringkali dipengaruhi oleh budaya tempat mereka tinggal, dan ini bisa mempengaruhi keputusan dan tindakan mereka.

b.      Lingkungan Sosial: Lingkungan sosial, seperti keluarga, teman sebaya, dan komunitas, memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku seseorang. Interaksi dengan orang lain dapat mempengaruhi cara individu berpikir dan bertindak.

c.       Pendidikan: Pendidikan adalah faktor eksternal yang dapat membentuk perilaku seseorang. Pendidikan formal dan informal memainkan peran penting dalam membentuk nilai-nilai, sikap, dan pengetahuan individu.

d.      Media Massa: Media massa memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi dan perilaku seseorang. Informasi dan pesan yang disampaikan melalui media massa dapat mempengaruhi preferensi, sikap, dan tindakan individu.

 

 

 

 

Perilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam islam

Pada lingkungan sosial manusia cenderung membentuk kelompok berdasarkan agama, suku, profesi, atau hobi. Kelompok-kelompok sosial ini dapat memengaruhi perilaku sosial manusia dalam situasi yang lebih spesifik. Di dalam Al-Qur�an, terdapat banyak ayat yang menjelaskan tingkah laku manusia terhadap lingkungan sosialnya (Sejati, 2017), diantaranya:

1.       Menunjukkan kasih sayang dan kebaikan kepada sesama manusia, khususnya kepada orang tua, anak yatim,� janda, dan fakir miskin.

Contoh: Surat Al balad ayat 12-16

 

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ� ۗ فَكُّ رَقَبَةٍۙ. اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ . يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ� .اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍۗ

�Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?� (Itulah upaya) melepaskan perbudakan. atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. atau orang miskin yang sangat membutuhkan.�(Kementerian Agama Republik Indonesia, 2022)

2.       Menjaga hubungan baik dengan tetangga dan tidak mengganggu mereka.

Contoh: Surat An-Nisa ayat 36

 

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

�Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.�

3.       Berusaha memperbaiki hubungan sosial dan membela kaum yang lemah

Contoh: Surat Al Hujurat ayat 9

 

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

�Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil.�

 

CONCLUSIONS

Perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor genetika, sikap, norma, dan kontrol perilaku, disertai dengan pemaparan teori-teori psikologis yang mendukung hal tersebut. Selanjutnya, pembahasan tentang perubahan perilaku manusia dibahas melalui beberapa aliran psikologis, yaitu aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi. Setiap aliran memiliki pandangan yang berbeda terkait faktor yang dapat memengaruhi perilaku manusia, mulai dari faktor bawaan (nativisme), pengaruh lingkungan (empirisme), hingga kombinasi keduanya (konvergensi). Selain itu, terdapat juga pembahasan tentang fakto yang memengaruhi perubahan perilaku, baik dari segi internal maupun eksternal. Faktor internal melibatkan proses mental, emosi, dan fisik individu, sementara faktor eksternal mencakup budaya, lingkungan sosial, pendidikan, dan media massa. Terakhir, perilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam konteks Islam, sehingga dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang menekankan pentingnya kasih sayang, menjaga hubungan baik dengan tetangga, serta memperbaiki hubungan sosial dan membela kaum yang lemah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aeni, Zahratul, & Wiwaha, Weli Arjuna. (2022). Kontribusi ilmu psikologi dan sosiologi dalam perilaku organisasi serta implikasinya terhadap pengelolaan lembaga pendidikan islam. Jurnal Mahasantri, 2(2), 517�536.

Armo, Armo, Jazuli, Akhmad, & Tanireja, Tukiran. (2019). Hubungan Sikap Sosial Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Di Wilayah Kecamatan Gumelar Di Tinjau Dari Gender. Dinamika Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(1), 58�70.

Ekawati, Mona, & Yarni, Nevi. (2019). Teori Belajar Berdasarkan Aliran Psikologi Humanistik Dan Implikasi Pada Proses Belajar Pembelajaran. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 2(2), 266�269. https://doi.org/10.31004/jrpp.v2i2.482

Husna, Nuril. (2020). Pengaruh Lingkungan Terhadap Minat dan Motivasi Belajar Siswa (Studi Kasus di SMA Negeri 2 Banda Aceh). JURNAL PENA EDUKASI, 7(2), 43�48.

Judrah, Muhammad. (2020). Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Hidup Dan Kehidupan Manusia. Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan, 6(1), 98�111. https://doi.org/10.47435/al-qalam.v6i1.121

Nasution, Mariam. (2015). Teori Pembelajaran Matematika Menurut Aliran Psikologi Behavioristik (Tingkah Laku). Logaritma, 3(1), 113.

Nunzairina, Nunzairina. (2018). Sejarah Pemikiran Psikologi Islam Zakiah Daradjat. JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 2(1), 99�112.

Nuqul, Fathul Lubabin. (2018). Penilaian sosial: Integrasi antara proses kognisi & konteks sosial.

Poondej, Chanut, & Lerdpornkulrat, Thanita. (2016). Relationship between motivational goal orientations, perceptions of general education classroom learning environment, and deep approaches to learning. Kasetsart Journal of Social Sciences, 37(2), 100�103.

Sajidin, Zayin Nafsaka, Kambali, Kambali, Ridwan, Wawan Ahmad, Astuti, Aurelia Widya, & Sayudin, Sayudin. (2023). ANALISIS PSIKOLOGI ISLAM TENTANG KETAHANAN MENTAL PADA INDIVIDU YANG MENGHADAPI STIGMA AGAMA. Jurnal Locus Penelitian Dan Pengabdian, 2(9), 911�923.

Sejati, Sugeng. (2017). Tinjauan Al Qur�an terhadap perilaku manusia: dalam perspektif psikologi Islam. Jurnal Syi�ar, 17(1), 61�70.

Suak, Helmi Efrahim. (2021). ANALISIS DIMENSI OPENNESS DAN DIMENSI CONSCIENTIOUSNESS (THE BIG FIVE PERSONALITY TRAITS) TERHADAP GENERASI Y DAN Z DALAM ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOUR. Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora Dan Politik, 1(2), 211�215.

Sugiharto, Rahmat. (2017). Pembentukan Nilai-Nilai Karakter Islami Siswa Melalui Metode Pembiasaan. Educan: Jurnal Pendidikan Islam, 1(1).

Vembriati. (2017). Teori-Teori Psikologi Sosial. Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS UDAYANA, 1(1), 1�40.

Wahyudi, Imam, Husaini, Adian, Hafidhuddin, Didin, & Suryadi, Bambang. (2017). Model Integrasi Ilmu Pada Silabus Mata Kuliah Psikologi Kepribadian. Ta�dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 6(1), 72�95.

Wantini. (2023). Psikologi Pendidikan Agama Islam. UAD PRESS.

Zain, Mukhammad. (2021). Konsep tazkiyatun nafs dalam membentuk karakter ulul albab: Telaah kitab Ihya��Ulumuddin Juz 4. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.