Strategi
Pengembangan Daya Tarik Wisata Berbasis Industri Kreatif
di Puro Mangkunegaran, Kota Surakarta Jawa
Tengah
Maria Yosefina Rosari Mon1, Saptono Nugroho2, I
Gusti Agung Oka Mahagangga3
Universitas Udayana, Indonesia
[email protected]2, [email protected]3
Abstrak:
Penelitian ini berfokus pada strategi pengembangan berbasis industri kreatif di Puro Mangkunegaran, Kota Surakarta Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi industri kreatif yang sudah dijalankan sehingga dapat dirumuskan strategi yang tepat untuk perkembangan daya tarik wisata berbasis Industri Kreatif di Puro Mangkunegaran. Hal tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan potensi industri kreatif yang dimiliki oleh Puro Mangkunegaran yang nantinya memberikan dampak pada peningkatan kunjungan wisatawan ke Puro Mangkunegaran serta pertumbuhan perekonomian penduduk lokal di masa yang akan datang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian in adalah observasi, wawancara, kuesioner, studi pustaka, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan SWOT. Berdasarkan hasil perhitungan skor, bobot, dan rating diperoleh hasil bahwa Puro Mangkunegaran dapat dikatakan cukup kuat dan berpeluang untuk terus berkembang sebagai suatu daya tarik wisata berbasis industri kreatif, dibuktikan dengan hasil akhir perhitungan skor IFAS sebesar 2,53 dan skor EFAS sebesar 1,08. Dari hasil identifikasi dan analisis serta�� skoring�� faktor�� internal�� dan eksternal������������� maka diperoleh strategi pengembangan yang���� tepat���� untuk mengembangkan Puro Mangkunegaran sebagai suatu daya Tarik wisata berbasis Industri Kreatif adalah strategi SO (strength-opportunity). Strategi ini meliputi, pengembangan produk digital kreatif seperti e-book tentang sejarah Puro Mangkunegaran, aplikasi virtualtour, menerapkan sistem pemesanan tiket online, berkolaborasi dengan agen perjalanan, dan hotel untuk mempromosikan Puro Mangkunegaran, Merancang dan menyelenggarakan program pendidikan formal dan non-formal yang fokus pada sejarah, seni, dan budaya Jawa, serta kearifan local, dan melibatkan sektor swasta seperti perusahaan lokal, perusahaan multinasional.
Kata Kunci: Strategi, Pengembangan, Industri Kreatif, Puro Mangkunegaran
Abstract:
This research focuses on the development strategy based on the
creative industry in Puro Mangkunegaran, Surakarta City, Central Java. The aim
is to identify the various creative industries already in operation, enabling
the formulation of appropriate strategies for the development of tourism
attractions based on the Creative Industry in Puro Mangkunegaran. This is intended
to optimize the potential of the creative industry held by Puro Mangkunegaran,
which will subsequently impact the increase in tourist visits to Puro
Mangkunegaran and the growth of the local economy in the future. Data
collection methods used in this research include observation, interviews,
questionnaires, and documentation. The data analysis technique employed is
qualitative descriptive with a SWOT approach. Based on the results of score
calculation, weight, and rating, it was found that Puro Mangkunegaran could be
considered sufficiently strong and had the potential to continue developing as
a tourist attraction based on the creative industry, as evidenced by the final
score of IFAS calculation of 2.53 and EFAS score of 1.08. From the
identification, analysis, and scoring of internal and external factors, the
appropriate development strategy for developing Puro Mangkunegaran as a tourist
attraction based on the Creative Industry is the SO strategy (strength-
opportunity). This strategy includes the development of creative digital
products such as e-books on the history of Puro Mangkunegaran, virtual tour
applications, implementing online ticket booking systems, collaborating with
travel agents and hotels to promote Puro Mangkunegaran, designing and organizing
formal and non- formal education programs focusing on Javanese history, art,
culture, and local wisdom, and involving the private sector such as local and
multinational companies.
Keywords: Strategy, Development, Creative Industry, Puro Mangkunegaran
![]()
Corresponding: Saptono Nugroho
E-mail: [email protected]
![]()
PENDAHULUAN
Penelitian
ini berfokus pada strategi pengembangan berbasis industri kreatif pada suatu
situs cultural heritage (Laksmi & Arjawa, 2023). Strategi pengembangan ini sangat penting untuk dilakukan
mengingat pelestarian warisan budaya merupakan permasalahan yang sangat penting
karena apabila tetap dilestarikan nantinya akan menjadi identitas, menjadi
karakter suatu budaya yang dapat memberikan manfaat bahkan bagi generasi
mendatang. Heritage sendiri dianggap
ideal atau normal jika sesuai dengan prinsip, norma, atau teori yang berlaku,
namun pada kenyataannya yang terjadi saat ini adalah munculnya kecenderungan
yang bertolak belakang dengan prinsip ataupun norma tersebut. Menanggapi hal
tersebut, sangat penting untuk melihat peluang yang dimiliki suatu situs cultural heritage untuk terus
dikembangankan menjadi suatu daya tarik yang tetap mempertahankan eksistensi
keaslian budayanya (Mandaka & Ikaputra, 2021).
Strategi merupakan langkah yang harus terus dilakukan dan ditingkatkan. Selain itu, strategi juga merupakan proses perumusan rencana yang bertujuan pada pencapaian tujuan jangka panjang. Dalam pembentukan strategi ini, pengelola harus merancang rencana yang menjelaskan bagaimana konsep wisata akan dikembangkan (Asriandy, 2016). Pentingnya merumuskan strategi pengembangan berbasis industri kreatif di suatu situs cultural heritage disebabkan oleh beberapa alasan yaitu karena dinilai memiliki potensi yang sangat kuat dan ditinjau dari aspek kebudayaan nya yang masih terjaga. Menyadari pentingnya strategi pengembangan pariwisata berbasis industri kreatif ini, maka diperlukan perumusan strategi yang nanti nya dapat digunakan secara optimal untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Pembangunan
Industri Kreatif di Indonesia memegang peran penting sebagai motor penggerak
pertumbuhan ekonomi. Industri kreatif memberikan kontribusi yang signifikan
pada perekonomian negara, termasuk peningkatan nilai ekspor, penciptaan lapangan
kerja dalam jumlah besar, serta berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB). Pernyataan ini didukung oleh Departemen Perdagangan (2008), yang
mencatat bahwa kontribusi industri kreatif terhadap PDB pada periode 2002
hingga 2006 rata-rata mencapai 6,3%, setara dengan 152,5 triliun rupiah.
Industri kreatif juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 5,4 juta orang dengan
tingkat partisipasi sebesar 5,8%. Menurut informasi yang terdapat dalam laporan
OPUS Ekonomi Kreatif 2020, kontribusi subsektor Industri Kreatif terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp1.211 triliun. Angka tersebut
menunjukkan peningkatan dari tahun 2017 dan 2018, yang hanya mencapai Rp1.000
triliun dan Rp1.105 triliun.
Hubungan
antara industri kreatif dengan pariwisata saling berpengaruh dan dapat saling
bersinergi. Dalam pengembangan industri kreatif melalui pariwisata, maka
kreativitas akan merangsang daerah tujuan wisata untuk menciptakan produk-
produk inovatif yang akan memberikan nilai tambah dan daya saing yang lebih
tinggi. Dibanding dengan daerah tujuan wisata lainya. Wisatawan pun akan merasa
lebih tertarik untuk berkunjung ke daerah wisata yang memiliki produk khas
untuk kemudian dapat dibawah pulang sebagai souvenir. Produk-produk kreatif
tersebut secara tidak langsung melibatkan individual dan pengusaha bersentuhan
dengan sektor budaya. Persentuhan tersebut akan membawa dampak positif pada
upaya pelestari budaya sekaligus peningkatan ekonomi serta estetika daerah
tujuan wisata (Agung, 2015).
Pengembangan
industri kreatif sangat bergantung pada keberadaan budaya masyarakat setiap
wilayah. Budaya lokal merupakan warisan yang penting untuk dijaga dan
dilestarikan. Pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal atau budaya
masyarakat dapat menjadi pilihan yang mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif
secara mandiri khususnya di daerah. Setiap daerah mempunyai produk yang
mencerminkan identitas budayanya (Pemayun, 2018). Hal ini merupakan potensi yang dapat dikembangkan
menjadi produk industri kreatif yang memiliki keunikan dan ciri khas suatu daya
tarik wisata.
Adanya
sektor pariwisata, terutama melalui pengembangan wisata budaya, memberikan
dukungan penting bagi ekonomi lokal dan upaya pelestarian warisan budaya.
Pertumbuhan industri kreatif di Kota Surakarta merupakan bagian dari strategi
pembangunan perekonomian nasional, karena kota ini diyakini mempunyai potensi
untuk berdaya saing di era perekonomian pasar bebas (Azizah & Muhfiatun, 2018). Kota Surakarta yang dahulu merupakan pusat Kerajaan
Surakarta Hadiningrat mempunyai potensi budaya dan perekonomian yang cukup
besar, khususnya di bidang pariwisata dan perdagangan yang masih terus
berkembang hingga saat ini.
Berdasarkan PDRB Kota Surakarta, sektor industri (19,19%) menjadi sektor terbesar kedua setelah sektor perdagangan (26,81%) sebagai penyangga perekonomian. Kota Surakarta memiliki branding sebagai Kota Kreatif. Industri kreatif yang dikembangkan di kota Surakarta meliputi seni pertunjukan, fashion, batik, kuliner, dan kriya. Pemilihan subsektor seni pertunjukan dipilih karena dapat memberikan dorongan bagi subsektor industri kreatif lainya. Sementara itu, subsektor batik, fashion, kuliner, dan kriya dipilih karena memiliki potensi pemasaran yang layak baik di tingkat nasional mapupun internasional (Setiawan, 2020).
Salah
satu daya tarik wisata di Kota Surakarta adalah adanya keberadaan Puro
Mangkunegaran (Suprapto, Purnomo, & Pradipta,
2018). Puro Mangkunegaran merupakan salah satu obyek wisata budaya
andalan dan ciri khas bagi Kota Surakarta. Obyek wisata ini sangat berpotensi
untuk digali dan dikembangkan sebagai kawasan wisata seni dan budaya. Dikutip
dari website resmi pemerintahan Kota Surakarta, Puro Mangkunegaran memang
sedang aktif dalam menggelar berbagai event kebudayaan. Beberapa bentuk
kegiatan yang dilaksanakan di Puro Mangkunegaran berupa pertunjukan Wayang
Kulit, upacara adat Jawa, konser musik, festival budaya, festival kuliner,
seminar pendidikan, dan workshop.
Salah satunya adalah event �Satu
dalam Cita� gelaran budaya yang dilaksanakan untuk mendukung program industri
kreatif di Puro Mangkunegaran. Dikutip dari Media Indonesia (2023, Juni 16),
keseluruhan rangkaian acara "Satu dalam Cita" melibatkan pementasan
Epilog Calonarang Sudamala yang diproduksi oleh Happy Salma dan Nicolas Saputra,
Pasar Kangen, dan Royal Heritage Dinner,
serta berbagai kegiatan seni lainya seperti Sudamala Tour, lokakarya, dan
pameran koleksi sejarah tentang hubungan Mangkunegaran dan Bali. Saat ini,
semua acara diadakan di Puro Mangkunegaran menjadi agenda yang dinantikan oleh
warga Solo. Seperti destinasi wisata budaya lainya, Puro Mangkunegaran
merupakan perwakilan dari kekayaan budaya yang memiliki nilai historis penting
dan patut untuk di lestarikan di Kota Solo.
Meskipun
demikian, dipandang dari praktik industri kreatif, Puro Mangkunegaran tampak
belum optimal dalam mengembangkan pariwisata berbasis industri kreatif. Fakta
yang terjadi di lapangan yaitu Puro Mangkunegaran masih sulit untuk menarik
wisatawan asing untuk berkunjung. Selain itu masalah terkait sumber daya manusia
di bidang pariwisata juga menjadi hal yang sampai saat ini masih belum maksimal
dikembangkan. Dikutip dari Kompas.com (2022, Desember 30), Puro Mangkunegaran
masih kekurangan tour guide sehingga
pada saat terjadi peningkatan kunjungan wisatawan, pihak pengelola Puro
Mangkunegaran menjadi kewalahan sementara permintaan kunjungan wisatawan
semakin meningkat tiap hari nya (Kompas.com, n.d.). Hal ini menunjukkan Puro Mangkunegaran tampak belum
cukup siap dalam mengahadapi peningkatan kunjungan wisatawan sehingga berdampak
pula terhadap pertumubuhan kawasan sekitarnya yang tidak terkendali dan semakin
mengancam ekistensi istana sebagai suatu cagar budaya.
Permasalahan
utama yang dihadapi oleh Puro Mangkunegaran terkait dengan pengembangan
industri kreatif yaitu pertama, perlu mengidentifikasi variasi industri kreatif
yang sudah dijalankan di Puro Mangkunegaran, agar dapat dirumuskan strategi
yang tepat untuk pengembangan daya tarik wisata berbasis Industri Kreatif.
Kedua, perlu mengoptimalkan potensi industri kreatif yang dimiliki oleh Puro
Mangkunegaran, agar dapat memberikan dampak pada peningkatan kunjungan
wisatawan ke Puro Mangkunegaran serta pertumbuhan perekonomian penduduk lokal
di masa yang akan datang. Ketiga, dibutuhkan strategi pengembangan yang tepat
untuk mengembangkan Puro Mangkunegaran sebagai suatu daya tarik wisata berbasis
Industri Kreatif, agar dapat terus berkembang secara optimal. Fokus penelitian
ini menjadi penting karena Puro Mangkunegaran merupakan situs warisan budaya
yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui industri kreatif.
Pengembangan industri kreatif di Puro Mangkunegaran dapat memberikan manfaat
ganda, yaitu melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan perekonomian
lokal. Oleh karena itu, identifikasi variasi industri kreatif yang sudah ada
serta perumusan strategi pengembangan yang tepat menjadi hal krusial untuk
dilakukan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, keuntungan dari perumusan strategi pengembangan di era industri kreatif ini sangat diperlukan dan penting untuk dikaji lebih dalam lagi, sehingga potensi yang dimiliki oleh Puro Mangkunegaran sebagai aset budaya bangsa tetap eksis, dapat tumbuh dan berkembang. Apabila penelitian ini tidak dilakukan, hilangnya kesempatan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait cultural heritage bagi peneliti, dan tidak dapat diketahui variasi industri kreatif apa saja yang sudah dijalankan di Puro Mangkunegaran sehingga sulit untuk merumuskan strategi yang tepat dalam pengembanganya.
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka peneliti menganggap penting untuk mengidentifikasi
variasi industri kreatif apa saja yang sudah dijalankan sehingga dapat
dirumuskan strategi yang tepat untuk pengembangan daya tarik wisata berbasis
industri kreatif di Puro Mangkunegaran, Kota Surakarta Jawa Tengah. Hal
tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan potensi industri kreatif yang dimiliki
oleh Puro Mangkunegaran, yang nantinya memberikan dampak pada peningkatan
kunjungan wisatawan ke Puro Mangkunegaran serta pertumbuhan perekonomian
penduduk lokal di masa yang akan datang.
Penelitian
ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis inovasi industri kreatif apa saja yang
sudah dikembangkan di daya tarik wisata Puro Mangkunegaran. 2) Merumuskan
strategi pengembangan daya tarik wisata berbasis industri kreatif di Puro
Mangkunegaran. Tujuan-tujuan ini disusun berdasarkan rumusan masalah yang telah
dikemukakan sebelumnya.
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara akademis maupun praktis.
Secara akademis, penelitian ini dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan
mahasiswa mengenai pengembangan daya tarik wisata berbasis industri kreatif.
Mahasiswa juga berkesempatan untuk menerapkan konsep dan teori yang relevan
dengan situasi di lapangan, serta melatih kemampuan dalam menganalisis fenomena
pariwisata dan mencari solusi akademis. Secara praktis, hasil penelitian ini
dapat memberikan informasi bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan,
terutama pelaku pariwisata dan pengelola daya tarik wisata di Puro
Mangkunegaran, terkait dengan pengembangan daya tarik wisata berbasis industri
kreatif.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puro Mangkunegaran yang berlokasi
di Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta Jawa Tengah. Alasan peneliti
memilih lokasi penelitian di Puro Mangkunegaran karena peneliti sangat tertarik
dengan keunikan yang ditawarkan di Puro Mangkunegaran khususnya aspek budayanya
yang sangat ditonjolkan.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data kualitatif meliputi data: gambaran
umum Puro Mangkunegaran, data mengenai variasi industri kreatif Puro
Mangkunegaran, serta data mengenai klasifikasi industri kreatif Puro
Mangkunegaran. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer dan data sekunder. data primer yang diperoleh yaitu; data gambaran umum
Puro Mangkunegaran, data variasi industri kreatif, dan kriteria industri
kreatif. Dalam penelitian ini data sekunder yang diperoleh peneliti meliputi;
profil Puro Mangkunegaran, kuesioner pendukung.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti mengobservasi untuk mengetahui
atraksi, akses dan fasilitas yang dimilki serta tingkat perkembangan Puro
Mangkunegaran. Selanjutnya, data yang diperoleh melalui wawancara meliputi data
mengenai bentuk pengelolaan untuk pengembangan di Pura Mangkunegaran, atraksi,
akses dan jumlah fasilitas yang dimiliki Puro Mangkunegaran. Peneliti juga akan
membuat beberapa pertanyaan atau pernyataan untuk diberikan kepada responden
untuk mengisi jawabannya melalui kuesioner. Selain itu, data dalam penelitian
ini yang diperoleh melalui studi kepustakaan adalah data jumlah kunjungan
wisatawan, tinjauan pustaka, dan sejarah Puro Mangkunegaran. Dokumentasi juga
digunakan sebagai pelengkap penelitian, di mana peneliti dapat memperoleh
dokumen dari para narasumber dan informan.
Teknik Penentuan Informan
Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Informan yang dimaksud adalah informan yang
terlibat langsung atau informan yang dianggap mempunyai kemampuan dan mengerti
permasalahan terkait. Adapun orang-orang yang dipilih sebagai informan dalam
penelitian ini adalah: Pihak Pengelola Pariwisata, guna memperoleh data terkait
struktur organisasi pengelola Pura Mangkunegaran, visi misi, fasilitas,
atraksi, serta bentuk aktivitas wisata industri kreatif yang ada di Puro
Mangkunegaran. Selanjutnya, Dinas Pariwisata Kota Surakarta, guna memperoleh
data terkait keterlibatan pemerintah dalam pengembangan daya tarik wisata
berbasis Industri kreatif di Puro Mangkunegaran. Badan Riset dan Pengembangan
Daerah Kota Surakarta juga dipilih guna mendapatkan data pendukung terkait
penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan di Puro Mangkunegaran. Selain itu,
Wartawan Solopos dipilih guna mendapatkan data terkait aktivitas industri
kreatif yang sudah dijalankan di Puro Mangkunegaran.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Pengumpulan data, di mana peneliti
mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi,
wawancara, dan dokumentasi di lapangan. 2) Reduksi data, di mana data yang
diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dipilih dan disesuaikan
menurut topik dan tujuan penelitian, seperti gambaran umum Puro Mangkunegaran,
variasi industri kreatif dan klasifikasi industri kreatif, serta strategi
pengembangan yang dilakukan di Puro Mangkunegaran. 3) Penyajian data, di mana
data yang sudah direduksi disajikan dalam bentuk naratif terkait dengan hal-hal
tersebut. 4) Penarikan kesimpulan, di mana data yang sudah diperoleh
dikategorikan sesuai dengan masing-masing poin ruang lingkup agar pembahasan
dapat ditarik menjadi kesimpulan yang dapat disajikan dalam bentuk teks.
Selain itu, teknik analisis data SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threat)
juga digunakan. Matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang
dan ancaman yang dihadapi Pura Mangkunegaran yang dapat disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat
set kemungkinan alternatif strategis. Dalam analisis SWOT, terdapat empat
kuadran yang dapat menggambarkan posisi Puro Mangkunegaran. Pertama, Kuadran 1
(positif, positif) yang menandakan Puro Mangkunegaran memiliki potensi yang
kuat dan berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah strategi
progresif, di mana Puro Mangkunegaran dalam kondisi prima dan mantap sehingga
sangat dimungkinkan untuk terus melakukan ekspansi, memperbesar pertumbuhan,
dan meraih kemajuan secara maksimal. Kedua, Kuadran 11 (positif, negatif) yang
menandakan Puro Mangkunegaran yang kuat namun menghadapi tantangan yang besar.
Rekomendasi strategi yang diberikan adalah diversifikasi strategi, di mana Puro
Mangkunegaran disarankan untuk segera memperbanyak ragam strategi taktisnya.
Ketiga, Kuadran III (negatif, positif) yang menandakan Puro Mangkunegaran yang
lemah namun sangat berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah ubah
strategi, di mana Puro Mangkunegaran disarankan untuk mengubah strategi
sebelumnya. Keempat, Kuadran IV (negatif, negatif) yang menandakan Puro
Mangkunegaran yang lemah dan menghadapi tantangan besar. Rekomendasi strategi
yang diberikan adalah strategi bertahan, di mana Puro Mangkunegaran disarankan
untuk menggunakan strategi bertahan dan mengendalikan kinerja internal agar
tidak semakin terperosok.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi
Faktor Internal dan Eksternal di Puro Mangkunegaran berdasarkan Kriteria
Industri Kreatif
1. Kekuatan (strength)
Adapun kekuatan yang dimiliki Pura
Mangkunegaran sebagai berikut:
a. Memiliki warisan budaya yang hingga saat ini masih terjaga keaslianya.
b. Memiliki aksesibilitas yang sangat mudah dijangkau.
c. Arsitektur seni bangunan bergaya Eropa yang hingga kini masih terjaga.
d. Memiliki tatanan sosial yang di dalamnya berisi segala aturan dan hukum adat yang kuat.
e. Salah satu institusi budaya yang dihormati dengan reputasi yang kuat di kalangan masyarakat setempat dan nasional.
2.
Kelemahan (weakness)
a. Keterbatasan dalam melakukan pemasaran dan promosi yang efektif untuk menarik pengunjung, terutama wisatawan mancanegara.
b. Kurangnya sumber daya manusia yang terlatih dalam bidang industri pariwisata.
c. Fasilitas akomodasi pendukung pariwisata belum dikembangkan secara optimal.
d. Belum ada perencanaan lebih lanjut terkait rancangan pengembangan pariwisata.
e. Distribusi produk kreatif yang masih belum menjangkau pasar yang lebih luas.
3.
Peluang (opportunities)
a. Diversifikasi produk kreatif yang dapat meningkatkan kemampuan produksi dan daya saing Puro Mangkunegaran.
b. Perkembangan teknologi dapat menjadi peluang untuk pemasaran digital yang lebih optimal.
c. Membangun kemitraan dan kolaborasi dengan pihak luar untuk keberlanjutan pengembangan Puro Mangkunegaran.
d. Dapat menjadi pusat pendidikan budaya yang penting dan semakin menjangkau banyak orang.
e. Dukungan dari pihak luar untuk program pemeliharaan dan restorasi.
4.
Ancaman (Threats)
a. Persaingan dengan produk serupa dari daerah lain atau produksi massal dapat mengurangi daya tarik produk kreatif Puro Mangkunegaran.
b. Kerusakan lingkungan ketika terjadi peningkatan wisatawan.
c. Pelanggaran etika yang dapat merusak citra Puro Mangkunegaran sebagai salah satu warisan budaya yang dijaga.
d. Pengelolaan keuangan yang efektif sangat penting untuk menjaga keberlanjutan Puro Mangkunegaran.
e. Menjaga keseimbangan antara nilai-nilai tradisional dan mengadopsi inovasi modern dalam pengembangan Puro Mangkunegaran.
Analisis Dengan
Pendekatan SWOT
Dari identifikasi faktor internal dan eksternal, maka dapat disusun strategi yang disajikan dalam bentuk matriks dan menghasilkan empat (4) set kemungkinan alternatif strategis sebagai berikut:
Tabel 1 Tabel Matriks Swot
Puro Mangkuengaran
|
Faktor Internal Faktor Eksternal |
Strength (S) |
Weakness (W) |
|
1.
Memiliki warisan budaya yang hingga
saat ini masih terjaga keaslianya. 2.
Memiliki aksesibilitas yang sangat
mudah dijangkau. 3.
Arsitektur seni bangunan bergaya Eropa
yang masih terjaga. 4.
Memiliki tatanan sosial yang di
dalamnya berisi segala aturan dan hukum adat yang kuat. 5.
Salah satu institusi budaya yang
dihormati dengan reputasi yang kuat di kalangan masyarakat setempat dan
nasional. |
1. Keterbatasan
dalam melakukan pemasaran dan promosi yang efektif untuk menarik pengunjung,
terutama wisatawan mancanegara. 2. Kurangnya
sumber daya manusia yang terlatih dalam bidang industri pariwisata. 3. Fasilitas
akomodasi pendukung pariwisata belum dikembangkan secara optimal. 4. Belum
ada perencanaan lebih lanjut terkait rancangan pengembangan pariwisata. 5. Distribusi
produk kreatif yang masih belum menjangkau pasar yang lebih luas. |
|
|
Opportunity (O) |
SO |
WO |
|
1. Diversifikasi
produk kreatif yang dapat meningkatkan kemampuan produksi dan daya saing Puro
Mangkunegaran. 2. Perkembangan
teknologi dapat menjadi peluanguntuk pemasaran digitalyang lebih optimal. 3. Membangun
kemitraan dan kolaborasi dengan pihak luar untuk keberlanjutan pengembangan� Puro Mangkunegaran. 4. Dapat
menjadi pusat pendidikan budaya yang penting dan semakin menjangkau banyak
orang. 5. Dukungan
dari pihak luar untuk program pemeliharaan dan restorasi. |
1. Mengembangkan
produk digital kreatif seperti e-book tentang
sejarah Puro Mangkunegaran, dan aplikasi virtual
tour . 2. Menerapkan
sistem pemesanan tiket online yang memungkinkan pengunjung untuk memesan dan
membayar tiket masuk secara mudah melalui internet. Ini tidak hanya
memudahkan pengunjung, tetapi juga membantu dalam manajemen kapasitas dan
pengaturan kunjungan. 3. 3.���� Berkolaborasi dengan agen perjalanan, dan
hotel untuk mempromosikan Puro Mangkunegaran sebagai destinasi wisata utama
dengan menyediakan paket tour khusus, penawaran diskon, atau promosi bersama
di media sosial dan situs web. Selain itu, bermitra dengan desainer, seniman,
musisi, dan produsen konten kreatif untuk mengembangkan produk- produk baru
dan pengalaman-pengalaman inovatif yang terinspirasi oleh sejarah dan budaya
Puro Mangkunegaran. 4. Merancang
dan menyelenggarakan program pendidikan formal dan non-formal yang fokus pada
sejarah, seni, dan budaya Jawa, serta kearifan lokal, seperti seminar,
lokakarya, dan kursus pendidikan informal. 5. Melibatkan
sektor swasta seperti perusahaan lokal, perusahaan multinasional, dan lembaga
keuangan untuk berkontribusi dalam program pemeliharaan dan restorasi. |
1. Melakukan
promosi yang lebih intensif di pasar internasional dengan memanfaatkan media
, pameran pariwisata internasional, dan kerjasama dengan agen perjalanan
internasional untuk meningkatkan eksposure
Puro Mangkunegaran di kalangan wisatawan potensial. 2. Bergabung
dengan asosiasi pariwisata lokal dan nasional untuk mengakses sumber daya dan
jaringan yang dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia dalam industri
pariwisata. Asosiasi ini juga dapat menyediakan pelatihan, seminar, dan
konferensi untuk meningkatkan kompetensi karyawan. 3. Mendirikan
pusat informasi pengunjung yang lengkap dengan peta, brosur, dan informasi
tentang atraksi utama, jam buka, harga tiket, dan kebijakan lainnya untuk
memandu pengunjung selama kunjungan mereka. 4. Menetapkan
prioritas pengembangan berdasarkan analisis situasi dan tujuan jangka panjang
yang telah ditetapkan. Ini dapat meliputi pelestarian bangunan bersejarah,
pengembangan infrastruktur pariwisata, peningkatan layanan pengunjung, dan
program pendidikan budaya. Selain itu, dapat Melibatkan semua stakeholder
terkait, termasuk pemerintah daerah, ahli waris budaya, masyarakat lokal
dalam proses perencanaan untuk memastikan keberhasilan implementasi rancangan
jangka panjang. 5. Menggunakan
konten visual yang menarik, cerita, dan promosi khusus untuk menarik
perhatian audiens yang lebih luas. |
|
Threath (T) |
ST |
WT |
|
1.
Persaingan dengan produk serupa dari
daerah lain atau produksi massal dapat mengurangi daya tarik produk kreatif
Puro Mangkunegaran. 2.
Kerusakan lingkungan ketika terjadi
peningkatan wisatawan. 3.
Pelanggaran etika yang dapat merusak
citra Puro Mangkunegaran sebagai salah satu warisan budaya yang
dijaga.Kondisi alam yang kurang mendukung 4.
Pengelolaan keuangan yang efektif
sangat penting untuk menjaga keberlanjutan Puro Mangkunegaran. 5.
Menjaga keseimbangan antara
nilai-nilai tradisional dalam mengadopsi inovasi modern dalam pengembangan Puro
Mangkunegaran. |
1. Mengutamakan
kualitas tinggi dalam setiap produk kreatif yang dihasilkan, baik darisegi
desain, bahan, maupun proses produksi. Memastikan bahwa setiap produk
mencerminkan standar keunggulan yang tinggi dan memberikan nilai tambah
kepada pelanggan. 2. Melakukan
monitoring dan evaluasi secara teratur terhadap kondisi lingkungan untuk
memantau dampak dari kegiatan pariwisata. 3. Menetapkan
kebijakan yang jelas dan standar etika yang harus dipatuhi oleh semua
karyawan, staf, dan pengunjung Puro Mangkunegaran. Memastikan bahwa semua
orang memahami harapan etika yang ditegakkan. 4. Meningkatkan
sumber pendapatan dengan diversifikasi, seperti penjualan tiket masuk,
penjualan souvenir dan merchandise, penyewaan ruang untuk acara, dan sponsor
dari perusahaan atau individu. 5. Mengembangkan
inovasi berbasis budaya yang menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan
teknologi dan tren modern. Misalnya, mengadopsi teknologi digital untuk
menyebarkan cerita-cerita budaya, pertunjukan seni tradisional, atau mengembangkan
produk kreatif yang terinspirasi dari warisan budaya. |
1. Melakukan
promosi yang intensif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang warisan
budaya dan keunikan Puro Mangkunegaran, sehingga meningkatkan daya tarik
destinasi tersebut di tengah persaingan yang ketat. 2. Meningkatkan
infrastruktur pariwisata seperti fasilitas transportasi, akomodasi, dan
sarana pendukung lainnya untuk meningkatkan�������� kenyamanan������ dan aksesibilitas bagi pengunjung. 3. Melakukan
pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi karyawan dan masyarakat lokal
untuk meningkatkan pelayanan, memahami kebutuhan wisatawan, dan mempromosikan
budaya lokal dengan baik. 4.
Mengintegrasikan prinsip-prinsip
keberlanjutan dalam pengelolaan destinasi pariwisata, termasuk pelestarian
lingkungan, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat lokal. 5. Mengembangkan
sumber pendapatan baru di luar sektor pariwisata, seperti pengembangan
produk-produk kreatif berbasis budaya untuk dijual sebagai souvenir atau
pengembangan program pendidikan dan pelatihan. |
Sumber : Hasil Olahan Data Pribadi, 2024
Setelah menganalisis faktor internal dan eksternal akan dilakukan skoring dengan menggunakan kuadran SWOT dan menentukan strategi yang tepat untuk digunakan dalam pengembangan Puro Mangkunegaran. Berikut skoring faktor internal dan eksternal:
Tabel
2 Internal Factor Analysis Strategi (IFAS) Daya Tarik Wisata Puro Mangkunegaran
|
No |
Faktor Internal |
Bobot |
Rating |
Skor |
|
Kekuatan (Strength) |
||||
|
a. |
Memiliki warisan budaya yang
hingga saat ini masih terjaga keaslianya. |
0,15 |
4,8 |
0,72 |
|
b. |
Memiliki aksesibilitas yang sangat
mudah dijangkau |
0,14 |
4,7 |
0,65 |
|
c. |
Arsitektur seni bangunan
bergaya Eropa yang masih terjaga. |
0,14 |
4,6 |
0,64 |
|
d. |
Memiliki tatanan sosial yang
di dalamnya berisi segala aturan dan hukum adat yang kuat. |
0,12 |
4 |
0,48 |
|
e. |
Salah satu institusi budaya
yang dihormati dengan reputasi yang kuat di kalangan masyarakat setempat dan
nasional. |
0,13 |
4,4 |
0,57 |
|
|
Total Kekuatan |
3,06 |
||
|
|
Kelemahan (Weakness) |
|
|
|
|
a. |
Keterbatasan dalam���������� melakukan pemasaran dan promosi
yang efektif untuk menarik pengunjung, terutama wisatawan mancanegara. |
0,05 |
1,6 |
0,08 |
|
b. |
Kurangnya sumber daya manusia
yang terlatih dalam bidang industri pariwisata. |
0,07 |
2,3 |
0,16 |
|
c. |
Fasilitas akomodasi pendukung
pariwisata belum dikembangkan secara optimal. |
0,06 |
2 |
0,12 |
|
d. |
Belum ada perencanaan lebih
lanjut terkait rancangan pengembangan pariwisata. |
0,04 |
1,4 |
0,05 |
|
e. |
Distribusi produk kreatif
yang masih belum menjangkau pasar yang lebih luas. |
0,06 |
2,1 |
0,12 |
|
|
Total Kelemahan |
0,53 |
||
|
|
Skor IFAS |
|
|
2,53 |
Sumber: Hasil Olahan Data Pribadi, 2024
Dari hasil perhitungan IFAS yang tertera dalam Tabel 2, terlihat bahwa skor akhir untuk komponen kekuatan (strength) lebih tinggi, yaitu mencapai 2,53. Hal ini menunjukkan bahwa Puro Mangkunegaran memiliki keunggulan dalam aspek-aspek tertentu, terutama dalam hal melestarikan keaslian budaya dan penerapan aturan adat yang kuat yang masih berlangsung hingga kini. Sedangkan, untuk kelemahan (weakness), skor totalnya adalah 0,53. Total skor perhitungan IFAS sebesar 2,53 didapatkan dari pengurangan total skor strength dengan total skor weakness.
Tabel 3 Eksternal Factor Analysis Strategi (EFAS) Daya Tarik Wisata
Puro Mangkunegaran
|
No |
Faktor
Eksternal |
Bobot |
Rating |
Skor |
|
Peluang (Opportunity) |
||||
|
a. |
Diversifikasi produk kreatif
yang dapat meningkatkan kemampuan produksi dan daya saing Puro Mangkunegaran. |
0,13 |
4,4 |
0,57 |
|
b. |
Perkembangan
teknologi dapat menjadi peluang untuk pemasaran digital yang lebih optimal. |
0,13 |
4,4 |
0,57 |
|
c. |
Membangun kemitraan dan
kolaborasi dengan pihak luar untuk keberlanjutan pengembangan Puro
Mangkunegaran. |
0,13 |
4,4 |
0,57 |
|
d. |
Dapat menjadi pusat
pendidikan budaya yang penting dan semakin menjangkau banyak orang. |
0,13 |
4,3 |
0,07 |
|
e. |
Dukungan dari pihak luar
untuk program pemeliharaan dan restorasi. |
0,12 |
4 |
0,48 |
|
|
Total Peluang |
2,26 |
||
|
|
Ancaman (Threats) |
|
|
|
|
a. |
Persaingan dengan produk
serupa dari daerah lain atau produksi massal dapat mengurangi daya tarik
produk kreatif Puro Mangkunegaran. |
0,08 |
2,8 |
0,22 |
|
b. |
Kerusakan lingkungan ketika
terjadi peningkatan wisatawan. |
0,06 |
2 |
0,12 |
|
c. |
Pelanggaran
etika yang dapat merusak citra Puro Mangkunegaran sebagai salah satu warisan
budaya yang dijaga. |
0,04 |
1,6 |
0,06 |
|
d. |
Pengelolaan
keuangan yang efektif sangat penting untuk menjaga keberlanjutan Puro
Mangkunegaran. |
0,06 |
2,1 |
0,12 |
|
e. |
Menjaga keseimbangan
antara nilai-nilai tradisional dalam mengadopsi inovasi modern dalam
pengembangan Puro Mangkunegaran. |
0,06 |
2,1 |
0,12 |
|
|
Total Ancaman |
1,18 |
||
|
|
Skor EFAS |
|
|
1,08 |
Sumber: Hasil Olahan Data Pribadi, 2024
Berdasarkan Tabel 3 untuk perhitungan EFAS, terlihat bahwa skor akhir untuk peluang (opportunity) lebih tinggi, mencapai total skor 2,26. Hal ini menunjukkan bahwa Puro Mangkunegaran memiliki potensi untuk mengambil keuntungan dari berbagai peluang yang ada, terutama melalui diversifikasi produk kreatif yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dan daya saingnya. Sedangkan, untuk ancaman (threats), skor totalnya adalah 1,18. Oleh karena itu, total skor perhitungan EFAS adalah 1,08, yang diperoleh dengan mengurangkan total skor peluang dengan total skor ancaman.
Berdasarkan hasil skoring yang dilakukan terhadap faktor-faktor internal dan eksternal, maka diperoleh kuadran SWOT sebagai berikut :

Gambar 1 Kuadran
Analisis SWOT Puro Mangkunegaran
Dari Gambar 1 pada diagram SWOT, diperoleh skor nilai kekuatan sebesar 3,06 dan untuk kelemahan sebesar 0,53, dengan selisih nilainya adalah 2,53. Sedangkan untuk faktor peluang, skornya adalah 2,26, dan nilai skor ancaman sebesar 1,18, dengan selisih 1,08. Selanjutnya, nilai-nilai selisih ini membentuk titik koordinat (1,08 : 2,53).
Setelah dilakukan perhitungan SWOT, hasilnya menunjukkan bahwa posisi strategi pengembangan Puro Mangkunegaran yang optimal terletak pada kuadran I, yaitu pada posisi SO (Strengths and Opportunities). Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Agresif/Progresif, artinya Puro Mangkunegaran dalam kondisi prima dan mantap sehingga sangat dimungkinkan untuk terus melakukan ekspansi, memperbesar pertumbuhan dan meraih kemajuan secara maksimal.
Berdasarkan keterangan pada tabel 4.2 matriks SWOT dapat diketahui bahwa strategi pengembangan yang tepat untuk mengembangkan Puro Mangkunegaran sebagai daya Tarik wisata berbasis Industri Kreatif adalah Strategi strength- opportunity. Strategi strength-opportunity ini menggunakan kekuatan yang dimiliki Puro Mangkunegaran untuk menangkap dan memanfatkan peluang yang ada.
Mengembangkan produk digital kreatif seperti e-book tentang sejarah Puro Mangkunegaran, dan aplikasi virtual tour . Salah satu kriteria industri kreatif adalah penggunaan teknologi. Tekonologi yaitu kumpulan teknik metode atau aktivitas yang meningkatkan nilai budaya (Liritzis, Al-Otaibi, & Volonakis, 2015). Teknologi yang dimaksud dapat dilakukan dalam kegiatan kreasi, produksi, kolaborasi, mencari informasi, distribusi atau pun sarana sosialisai (Tao, Cheng, Zhang, & Nee, 2017). Strategi ini penting dilakukan karena mengingat masalah yang terjadi pada saat ini di Puro Mangkunegaran adalah sulitnya menarik wisatawan asing untuk berkunjung. Dengan pembuatan produk kreatif digital ini, memungkinkan orang dari berbagai belahan dunia untuk mengenal dan mengapresiasi budaya Jawa. Ini tidak hanya mendukung pariwisata budaya, tetapi juga memperluas pemahaman lintas budaya, selain itu mengembangkan produk digital kreatif juga dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi Puro Mangkunegaran (Utama, 2017). Dengan menjual produk digital seperti aplikasi, e-book, atau konten multimedia lainnya, Puro Mangkunegaran dapat mendapatkan pemasukan tambahan untuk memelihara dan memperluas aktivitas budaya mereka.
Menerapkan sistem pemesanan tiket online yang memungkinkan pengunjung untuk memesan dan membayar tiket masuk secara mudah melalui internet. Ini tidak hanya memudahkan pengunjung, tetapi juga membantu dalam manajemen kapasitas dan pengaturan kunjungan di Puro Mangkunegaran (Filep & Pearce, 2014). Menerapkan sistem pemesan tiket secara online merupakan implikasi dari pentingnya penggunaan teknologi dalam pengembangan industri kreatif. Pada saat ini sistem pembelian tiket di Puro Mangkunegaran masih bersifat konvensional, dan setelah mendapat tiket wisatawan masih harus mengantri untuk mendapatkan tour guide , dengan menerapkan sistem pemesanan tiket online memungkinkan pengunjung untuk membeli tiket secara mudah dan cepat dari mana saja, tanpa harus datang langsung ke lokasi. Hal ini dapat meningkatkan aksesibilitas bagi wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga pada saat berkunjung sudah langsung mendapatkan tour guide tanpa harus mengantri.
Berkolaborasi dengan agen perjalanan, dan hotel untuk mempromosikan Puro Mangkunegaran sebagai destinasi wisata utama dengan menyediakan paket tour khusus, penawaran diskon, atau promosi bersama di media sosial dan situs web (Rahayu, 2015). Selain itu, bekerja sama dengan desainer, seniman, musisi, dan produsen konten kreatif untuk mengembangkan produk-produk baru dan pengalaman- pengalaman inovatif yang terinspirasi oleh sejarah dan budaya Puro Mangkunegaran. Berdasarkan konsep industri kreatif dijelaskan bahwa pengembangan industri kreatif dibutuhkan dukungan kerja sama antara cendekiawan (intellectuals), bisnis (business) dan pemerintah (government), yang disebut sebagai sistem Triple Helix, yang merupakan aktor utama penggerak lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan. Puro Mangkunegaran dapat bekerja sama dengan beberapa agen travel yang lokasi nya tidak jauh dari Istana, seperti Mekaya Tour and Travel, Lymar Ais Tour and Travel, dan masih banyak lagi agen travel yang bisa bekerja sama sehingga dapat membantu dalam promosi dan penjualan tiket ke Puro Mangkunegaran, hal ini tentu saja akan membantu meningkatkan kunjungan wisatawan. Selain itu, Puro Mangkunegaran dapat bekerja sama dengan hotel-hotel di sekitar untuk menawarkan paket akomodasi yang lebih lengkap. Beberapa rekomendasihotel terdekat yaitu, The Royal Surakarta Heritage, The Sunan Hotel Solo, danIbis Styles Solo Hotel. Hotel dapat membantu dalam menawarkan fasilitas tambahan seperti makanan, dan transportasi.
Merancang dan menyelenggarakan program pendidikan formal dan non-formal yang fokus pada sejarah, seni, dan budaya Jawa, serta kearifan lokal, seperti seminar, lokakarya, dan kursus pendidikan informal (Hasanah, 2015). Salah satu aktor penggerak industri kreatif adalah cendekiawan (intellectuals). Peran cendekiawan dalam konteks industri kreatif adalah keinginan menerapkan ilmu dan menularkannya. Cendekiawan mencakup budayawan, seniman, para pendidik di lembaga pendidikan, para pelopor di paguyuban, pedepokan, sanggar budaya dan seni, individu atau kelompok studi dan penulis, dan tokoh lainnya di bidang seni, budaya dan ilmu pengetahuan. Puro Mangkunegaran memiliki beberapa kelas seni yang masih bertahan pada saat ini namun masih belum bisa menjangkau banyak orang. Kegiatan ini dikelola oleh Kemantren Langenpraja, sebuah badan yang didirikan di lingkungan Puro Mangkunegaran untuk mengelola dan menjaga kelestarian seni , terutama dalam bidang karawitan dan seni tari. Kemantren Langenpraja membantu wisatawan untuk memperoleh pemahaman langsung tentang budaya lokal melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan budaya tersebut. Selain itu terdapat juga Akademi Seni Mangkunegaran yang berada dibawah naungan Puro Mangkunegaran. Harapanya, Akademi Seni Mangkunegaran dapat memperluas relasi nya dengan Lembaga Budaya yang ada di Surakarta seperti, Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, Sanggar Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, Bentara Budaya Balai Soedjatmoko milik Kompas Gramedia, dan Taman Budaya Jawa Tengah (Kompas.com, n.d.). Melalui relasi dengan lembaga pendidikan, Puro Mangkunegaran dapat menciptakan ruang untuk inovasi dan kolaborasi dalam pengembangan program-program pendidikan baru yang memadukan elemen-elemen budaya dan seni tradisional dengan pendidikan formal. Dengan demikian, relasi dengan lembaga pendidikan di sekitar Puro Mangkunegaran tidak hanya penting untuk melestarikan warisan budaya dan sejarah, tetapi juga untuk menginspirasi, mendidik, dan melibatkan generasi muda dalam kegiatan budaya yang kaya dan berharga.
Melibatkan sektor swasta seperti perusahaan lokal, perusahaan multinasional, dan lembaga keuangan untuk berkontribusi dalam program pemeliharaan dan restorasi. Dalam konsep industri kreatif, selain cendekiawan terdapat juga business sebagai aktor penggerak industri kreatif. Bisnis pariwisata dapat berperan dalam mengembangkan destinasi wisata sekitar Puro Mangkunegaran dengan menyediakan akomodasi, restoran, dan layanan lainnya yang mendukung kunjungan wisatawan. Dengan bekerja sama, PuroMangkunegaran dan pihak swasta dapat melakukan promosi bersama untuk meningkatkan kunjungan wisata dan mendapatkan dukungan masyarakat yanglebih luas. Ini dapat mencakup promosi melalui media sosial, situs web, dan kampanye pemasaran yang ditujukan kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Pihak swasta dapat menjadi mitra dalam pengelolaan Puro Mangkunegaran secara keseluruhan. Ini termasuk pengelolaan kunjungan wisata, perawatan bangunan, dan penyelenggaraan acara budaya. Kemitraan semacam ini memungkinkan Puro Mangkunegaran untuk fokus pada misi budaya dan sejarahnya, sementara pihak swasta dapat membantu dalam aspekoperasional dan manajemen. Beberapa lembaga atau perusahaan yang dapat menjalin kerjasama dengan Puro Mangkunegaran adalah, UNESCO, BUMN khusunya PT KAI, karena pada saat ini KGPAA Mangkunegaran X ditunjuk sebagai komisaris PT KAI dengan demikian akan sangat kuat ikatan kerjasama nya.
Hasil analisis SWOT menunjukan bahwa kekuatan yang dimiliki Puro Mangkunegaran mampu bersaing dengan destinasi wisata lainya yang ada di Indonesia. Hal itu disebabkan komponen daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas maupun sumber daya manusia nya cukup dalam mendukung pengembangan Puro Mangkunegaran yang berbasiskan Industri Kreatif.
CONCLUSIONS
Variasi
industri kreatif di Puro Mangkunegaran menunjukkan kekayaan budaya dan seni
yang khas dari daerah Jawa Tengah, terutama dalam hal pakaian tradisional, seni
pertunjukan, dan kerajinan tangan. Puro Mangkunegaran sebagai pusat kebudayaan
dan tradisi Jawa menggambarkan pentingnya melestarikan warisan budaya melalui
industri kreatif, yang tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisional
tetapi juga menginspirasi inovasi dan pengembangan baru dalam seni dan
kerajinan. Sepuluh dari sebelas variasi industri kreatif sudah dijalankan di
lingkungan Puro Mangkunegaran. Hal ini menunjukan Puro Mangkunegaran cukup siap
dalam mengembangkan pariwisata berbasis industri kreatif.
Dari
hasil analisis SWOT Puro Mangkunegaran bahwa strategi pengembangan yang tepat berada
pada posisi kuadaran I yaitu strategi strength-opportunity (SO) yang merupakan
strategi yang digunakan untuk menggunakan seluruh kekuatan yang ada dengan
menangkap dan memanfaatkan peluang. Maka strategi pengembangan yang perlu
digunakan untuk mengembangkan Puro Mangkunegaran sebagai daya tarik wisata
berbasis Industri Kreatif adalah sebagai berikut: mengembangkan produk digital
kreatif seperti e-book tentang sejarah Puro Mangkunegaran dan membuat aplikasi
virtual tour; menerapkan sistem pemesanan tiket online yang memungkinkan
pengunjung untuk memesan dan membayar tiket masuk secara mudah melalui
internet; bermitra dengan desainer, seniman, musisi, dan produsen konten
kreatif untuk mengembangkan produk-produk baru dan pengalaman-pengalaman
inovatif yang terinspirasi oleh sejarah dan budaya Puro Mangkunegaran;
merancang dan menyelenggarakan program pendidikan formal dan non-formal yang
fokus pada sejarah, seni, dan budaya Jawa, serta kearifan lokal; dan melibatkan
sektor swasta seperti perusahaan lokal, perusahaan multinasional, dan lembaga
keuangan untuk berkontribusi dalam program pemeliharaan dan restorasi.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Anak Agung
Gede. (2015). Pengembangan model wisata edukasi-ekonomi berbasis industri
kreatif berwawasan kearifan lokal untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Jurnal
Ilmu Sosial Dan Humaniora, 4(2).
Asriandy, Ian.
(2016). Strategi Pengembangan Obyek Wisata Air Terjun Bissapu di Kabupaten
Bantaeng. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Makassar: UNHAS.
Azizah, Siti Nur,
& Muhfiatun, Muhfiatun. (2018). Pengembangan ekonomi kreatif berbasis
kearifan lokal pandanus handicraft dalam menghadapi pasar modern perspektif
ekonomi syariah (Study Case di Pandanus Nusa Sambisari Yogyakarta). Aplikasia:
Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, 17(2), 63�78.
Filep, Sebastian,
& Pearce, Philip. (2014). Tourist experience and fulfilment. Insights
from Positive.
Hasanah, Aan.
(2015). Penanaman nilai-nilai karakter berbasis kearifan lokal Budaya Sunda
untuk mengembangkan Life Skill siswa madrasah: Penelitian Pada Madrasah Aliyah
di Kota Bandung. Ilib. Uinsgd. Ac. Id, (3), 1�130.
Kompas.com.
(n.d.). Pura Mangkunegaran Dipadati Wisatawan, Pengunjung Capai 1.000 Orang
hingga Kekurangan �Tour Guide.� Retrieved November 1, 2023, from Kompas.com
website: https://regional.kompas.com/read/2022/12/30/135048778/pura-
mangkunegaran-dipadati-wisatawan-pengunjung-capai-1000-orang-hingga
Laksmi, Putu Ayu
Sita, & Arjawa, I. Gde Wedana. (2023). Kearifan Lokal dalam Mendukung
Pengembangan Industri Kreatif di Provinsi Bali. Journal Scientific of
Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955| p-ISSN 2809-0543, 4(1), 1�15.
Liritzis,
Ioannis, Al-Otaibi, F. M., & Volonakis, P. (2015). Digital technologies and
trends in cultural heritage. Mediterranean Archaeology and Archaeometry,
15(3), 313.
Mandaka,
Mutiawati, & Ikaputra, Ikaputra. (2021). URBAN HERITAGE TOURISM Sebuah
konsep pelestarian melalui pendekatan pariwisata. Jurnal Arsitektur
Kolaborasi, 1(2), 67�75.
Pemayun, A. G. P.
(2018). Ekonomi Kreatif dan Kearifan Lokal dalam Pembangunan Pariwisata
Berkelanjutan di Bali. Universitas Pendidikan Nasional.
Rahayu, Anita.
(2015). Strategi komunikasi pemasaran kota solo sebagai destinasi mice
(Meeting, Incentive Trip, Conference, Exhibition). UNS (Sebelas Maret
University).
Setiawan, Heri
Cahyo Bagus. (2020). Manajemen Industri Kreatif: Teori dan Aplikasi. PT.
Berkat Mukmin Mandiri.
Suprapto, Monica
Hadi, Purnomo, Budi, & Pradipta, Made Prasta Yostitia. (2018). Peran
Kelompok Sadar Wisata Dalam Merevitalisasi Kampung Pecinan Sebagai Objek Dan
Daya Tarik Wisata di Kota Surakarta. Jurnal Pariwisata Indonesia, 14(1),
60�65.
Tao, Fei, Cheng,
Ying, Zhang, Lin, & Nee, Andrew Y. C. (2017). Advanced manufacturing
systems: socialization characteristics and trends. Journal of Intelligent
Manufacturing, 28, 1079�1094.
Utama, I. Gusti
Bagus Rai. (2017). Pemasaran pariwisata. Penerbit Andi.