Ciri Makroskopis dan Mikroskopis
Fosil Kayu Asal Desa Manunggal Jaya Kabupaten Kutai Kartanegara
��������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Febrian1, Nani Husien2, Erwin3
Universitas
Mulawarman, Samarinda
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
ciri makroskopis dan mikroskopis fosil kayu yang ditemukan di Desa Manunggal
Jaya, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Studi ini penting dalam
konteks geologi dan lingkungan, karena fosil kayu dapat memberikan informasi
tentang kondisi ekosistem masa lalu serta perubahan lingkungan. Metode
pengamatan makroskopis dilakukan dengan menganalisis warna, mengukur kekerasan,
dan menghitung berat jenis fosil kayu, sementara pengamatan mikroskopis
dilakukan pada tiga bidang: transversal, tangensial, dan radial, menggunakan
mikroskop stereoskopis NIKON SMZ 645 dengan perbesaran 20x dan 30x. Teknik ini
dipilih untuk mendapatkan detail struktur sel yang lebih akurat. Kekerasan
diukur menggunakan alat uji kekerasan batu "Diamond Selector II," dan
berat jenis dihitung dari perbandingan antara berat dan volume bahan. Hasil
pengamatan makroskopis menunjukkan bahwa fosil kayu memiliki warna putih,
campuran coklat, dan abu-abu, dengan nilai kekerasan 5 skala Mohs dan berat
jenis 2.24. Pengamatan mikroskopis mengungkapkan adanya sel pembuluh berbentuk
bulat dengan pengelompokkan soliter, porositas tata baur, serta parenkim apotrakeal
dan paratrakeal yang jarang. Jari-jari tipe multiseriate heterogen memiliki
lebar sel jari-jari 1-3 seri dan terdapat butir silika berbentuk bulat tak
beraturan di dalam sel jari-jari. Berdasarkan identifikasi xylarium bogoriense,
fosil kayu ini termasuk dalam kategori hard wood yang menyerupai Genus
Dipterocarpus dari Family Dipterocarpaceae. Temuan ini memberikan kontribusi
dalam pemahaman tentang keanekaragaman hayati serta potensi pemanfaatan fosil
kayu dalam penelitian lebih lanjut.
Kata
kunci: Kekerasan, Sifat
mikroskopis dan Berat jenis, Desa Manunggal Jaya
Abstract:
This study
aims to identify macroscopic and microscopic features of wood fossils found in
Manunggal Jaya Village, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan. This study
is important in the context of geology and the environment, because wood
fossils can provide information about past ecosystem conditions and
environmental changes. Macroscopic observations were made by analyzing the color,
measuring the hardness, and calculating the specific gravity of the wood
fossils, while microscopic observations were made in three planes: transverse,
tangential, and radial, using a NIKON SMZ 645 stereoscopic microscope with 20x
and 30x magnifications. This technique was chosen to obtain more accurate
details of the cell structure. Hardness was measured using a stone hardness
tester �Diamond Selector II,� and specific gravity was calculated from the
ratio between the weight and volume of the material. Macroscopic observations
showed that the fossil wood had a white, mixed brown, and gray color, with a
hardness value of 5 on the Mohs scale and a specific gravity of 2.24.
Microscopic observations revealed the presence of round-shaped vessel cells
with solitary groupings, diffuse porosity, and sparse apotracheal and
paratracheal parenchyma. Heterogeneous multiseriate type spokes have a spokes
cell width of 1-3 series and there are irregular round silica grains in the
spokes cells. Based on xylarium bogoriense identification, this wood fossil
belongs to the hard wood category resembling the Genus Dipterocarpus of the
Family Dipterocarpaceae. This finding contributes to the understanding of
biodiversity and the potential utilization of wood fossils in further research.
Keywords: Hardness, Microscopic properties and Specific gravity, Manunggal
Jaya Village
Corresponding: Nani Husien
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikaruniai kekayaan alam yang
sangat melimpah, termasuk kekayaan keragaman geologi (geodiversity). Banyak dari
keragaman geologi itu merupakan warisan geologi (geoheritage) yang penting untuk
pendidikan maupun sebagai aset wisata (Syarthibi
& Syarifuddin, 2018). Fosil kayu merupakan salah satu kekayaan
indonesia dimana fosil tersebut berumur ratusan hingga jutaan tahun yang lalu
atau tumbuhaan yang hidup dimasa lampau yang mengalami proses geologi atau
proses alam, sehinga fosil kayu termasuk sangat bernilai penting (Rahmayanti
& Feryl Ilyasa, 2022). Menurut Andianto, et al. (2012), Proses
terbentuknya fosil kayu mirip dengan terbentuknya fosil materi lain, yaitu
karena permineralisasi secara kimiawi dan fisika melalui proses yang sangat
panjang. Penelitian mengenai fosil kayu termasuk ke dalam lingkup bidang ilmu
paleobotani (Andreani & Prasetya, 2019).
Paleobotani merupakan ilmu yang mempelajari fosil
tumbuhan. Kajian dalam bidang ilmu paleobotani meliputi aspek fosil tumbuhan,
rekonstruksi taksa, dan sejarah evolusi dunia tumbuhan. Untuk dapat memahami
Paleobotani dengan baik diperlukan penguasaan pada bidang-bidang ilrnu
pendukung, seperti geologi, anatorni tumbuhan, dan taksonomi tumbuhan (Husien et al., 2022).
Penelitian fosil kayu di Indonesia sudah dimulai sejak masa pemerintahan
Belanda. Berbagai penelitian mengenai fosil kayu yang telah dilakukan
menunjukan bahwa penelitian fosil kayu mempunyai peranan penting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan khususnya paleobotani (Husien et al., 2021).
Saat ini banyak ditemukan fosil kayu yang terdapat di daerah Kalimantan
Timur, khususnya di Desa Manunggal Jaya Kabupaten Kutai Kartanegara, namun
jenis fosil tersebut belum diketahui sehingga sangat perlu dilakukan penelitian
guna mengetahui jenis-jenis yang ada pada lokasi tersebut. Menurut Husien, et.
al (2016) Indonesia sampai saat ini fosil kayu masih dianggap sebagai aset
bernilai ekonomi semata, demikian pula di Kalimantan Timur, fosil kayu digali
dan diperjual belikan dengan bebas dan kuota yang tidak terbatas (Husien et
al., 2016).
Penelitian ini menawarkan pendekatan baru dalam identifikasi spesies
mangrove di Hutan Kota Daerah Perlindungan Mangrove dan Laut (DPML) Teritip
dengan menggabungkan metode survei lapangan dan analisis taksonomi yang
komprehensif. Selain itu, pembuatan papan informasi mengenai vegetasi mangrove
yang teridentifikasi tidak hanya berfungsi sebagai media edukasi, tetapi juga
sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
konservasi ekosistem mangrove. Dengan fokus pada spesies-spesies spesifik yang
ada di wilayah ini, penelitian ini juga berkontribusi pada pengembangan
database vegetasi mangrove yang dapat digunakan untuk penelitian dan
pengelolaan yang lebih efektif di masa depan.
Urgensi penelitian ini sangat tinggi mengingat ekosistem mangrove di DPML
Teritip menghadapi ancaman kerusakan akibat pengelolaan yang tidak
berkelanjutan dan kurangnya informasi mengenai jenis-jenis vegetasi yang ada.
Dengan menyediakan data yang akurat dan terkini tentang spesies mangrove,
penelitian ini bertujuan untuk mendukung upaya konservasi dan rehabilitasi
kawasan mangrove. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya
ekosistem mangrove sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim dan
perlindungan bencana alam menjadi sangat krusial. Keterlibatan aktif masyarakat
dan pemangku kepentingan dalam upaya pelestarian diharapkan dapat terjadi
melalui informasi yang disajikan dalam penelitian ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ciri makroskopis dan
mikroskopis fosil kayu yang ditemukan di Desa Manunggal Jaya Kabupaten Kutai
Kartanegara Kalimantan Timur. Hasil yang Diharapkan dari Penelitian ini adalah
dapat mengetahui berat jenis, nilai kekerasan serta sifat anatomi fosil kayu
yang ditemukan, serta diharapkan juga dapat digunakan sebagai referensi
penemuan fosil kayu yang tersimpan di laboratorium Biologi dan Pengawetan Kayu.
Fakultas Kehutanan. Universitas Mulawarman.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi pengambilan sampel di
Desa Manunggal Jaya, Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Pengamatan makroskopis
dan mikroskopis dilakukan di Laboratorium Biologi dan Pengawetan Kayu Fakultas
Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda Kalimantan Timur. Peta lokasi
pengambilan sampel fosil kayu ada pada Gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel Fosil Kayu Di Desa Manunggal Jaya,
Kutai Kartanegara
Kalimantan Timur.
Bahan dan Peralatan
Bahan yan digunakan dalam
penelitian ini adalah 1 buah sampel fosil kayu dari Desa Manunggal Jaya, Kutai
Kartanegara Kalimantan Timur. air dan kertas amplas. Sedangkan alat yang digunakan
antara lain: mesin pemotong batu, mesin penghalus batu, loupe, kamera digital,
keranjang, label, alat uji kekerasan, timbangan digital, gelas ukur dan
mikroskops stereoscope SMZ 645, Mikroskop Layar dan Mikroskop Eclipse E400.
Prosedur Penelitian:
Survey lokasi
penemuan fosil serta dilakukan observasi sampel fosil kayu untuk memastikan
jika sampel yang ditemukan adalah fosil kayu. Peta geografis Desa Manunggal
Jaya pada koordinat BT 11706�43�� dan LS 0021�26��.
Pembuatan sampel
makro dilakukan dengan terlebih dahulu sampel dibersihkan dan diamplas grit
kasar, lalu menentukan bidang tranversal, tangensial, dan radial (x, t, r)
kemudian sampel dipotong ukuran 3x3x3cm menggunakan gerinda atau alat pemotong
batu, pengamplasan sampel diulangi dengan amplas kertas grit sedang,
selanjutnya dibersihkan dengan air, dan dihaluskan kembali dengan mesin
penghalus.
Pembuatan Sampel Mikro
dilakukan dengan pembuatan preparat fosi kayu yaitu dengan ukuran 2x2x2 cm, di
potong tipis 100-200 mikron, lalu setiap irisan fosil kayu di cuci dengan air
kemudian di gosok dengan serbuk karborundum 320 mesh di cuci lalu di gosok
kembali dengan serbuk karborundum. Masing-masing irisan selanjutnya direkat
pada objek glass yang sudah diolesi canada balsam, ditekan hingga tidak terlihat
gelembung udara dan di keringkan. Setiap irisan fosil yang sudah melekat pada
objek glass selanjutnya digosok kembali pada plat gosok batuan hingga terlihat
tipis kemudian di tutup coverglass dan diamati dibawah mikroskop.
Pengamatan dan Perhitungan
a.
Pengamatan
makroskopis fosil kayu
������ Pengamatan fosil kayu secara makroskopis
dilakukan pada tiga bidang penampang, bidang transversal, radial, dan
tangensial dengan menggunakan loupe perbesaran 10x. dan mikroskop SMZ 645.
Pengamatan makro meliputi: warna, lingkaran tahun, sebaran sel pembuluh,
keberadaan SIA (sel interseluler aksial) dan struktur makroskopis lain yang
dapat terlihat jelas.
b.
Pengamatan
mikroskopis
������ Pengamatan mikroskopis
melalui hasil sayatan fosil kayu dengan menggunakan mikroskop layar Nikon E400
dengan perbesaran 40x dan100x serta kamera Nikon D8400, yang meliputi sel-sel
yaitu sel pori, jari-jari, sel parenkim aksial dan menghitung persentase sel
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

c.
Perhitungan nilai
kekerasan fosil kayu dengan cara menempelkan ujung besi diamond selector II ke
sampel fosil kayu dan menekan besi yang berada di balik diamond selector II
dengan menggunakan jari hingga alat tersebut mengeluarkan bunyi dan penekanan
dilakukan hingga lampu hijau berhenti pada titik skala yang ada pada diamond selector
II yang menunjukkan nilai (angka) kekerasan.
d.
Perhitungan berat jenis fosil kayu menggunakan standar perhitungan berat
jenis secara umum, yaitu dengan rumus BJ W/V, Timbang Berat (Massa)
masing-masing sampel fosil kayu menggunakan timbangan digital (w). Isi gelas
ukur dengan air secukupnya Masukan sampel fosil Kayu kedalam gelas ukur yang
telah berisikan air.
Keterangan :
BJ���������� :
Berat Jenis
w���������� :
Berat (weight)
v ���������� :
Volume
e.
Identifikasi
kesesuaian jenis fosil kayu dilakukan untuk mengetahui species atau genus
dengan cara membandingkan dengan jenis kayu solid masa kini yang dilakukan
melalui lembar aplikasi identifikasi fosil kayu. data pengamatan selanjutnya
dijelaskan secara deskriptif melalui gambar anatomi dan grafik yang mengacu
pada standar IAWA (Priswantoro et al., 2021) serta aplikasi identifikasi kayu Xylarium Bogoriense, 1915 (LP3HH,
Bogor).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Ciri Makroskopis
Ciri makroskopis fosil kayu meliputi warna, lingkaran tahun dan
keberadaan SIA, serta struktur makro lainnya yang dapat dilihat sacara kasat
mata, secara jelas dapat dilihat pada Gambar 3 dan hasil rekapitulasi
pengamatan disajikan pada Tabel 1.


Gambar 2. Warna pada Fosil Kayu,
(a) Sampel Sebelum diamplas, (b) struktur makro
fosil kayu
Tabel 1. Rekapitulasi Struktur Makroskopis
|
Parameter
Pengamatan |
Hasil
Pengamatan |
|
Warna
dan Corak |
Putih, bercampur warna coklat dan abu-abu |
|
Lingkaran
Tahun |
Tidak Ada |
|
SIA |
Ada |
�������������� Gambar 3 (b) memperlihatkan
pengamatan bidang transversal, keberadaan SIA tampak tersebar di beberapa
bagian, tidak terlihat keberadaan lingkaran tahun. Jari-jari terlihat tidak
lurus, melainkan berkelok (Widayana, 2022). Porositas pembuluh (pori) tata baur dalam pori
terlihat kristal warna putih. Hasil reiapitulasi pada Tabel 1, menjelaskan
warna fosil kayu yang terlihat adalah putih bercampur warna coklat dan abu-abu.
Hal ini seperti yang di katakan oleh Sunarty et. al (2017) bahwa warna fosil
kayu cenderung berwarna putih/cream hingga coklat muda, hal ini disebabkan
fosil kayu berada di dinding sungai atau bekas galian batubara yang mengandung
endapan batu pasir yang umumnya berwarna putih. Pengamatan struktur makroskopis
juga dilakukan dengan menggunakan mikoskop NIKON SMZ-645 pada tiga bidang yaitu
: transversal, tangensial dan radial (Husien et al., 2023).
a.
Bidang Transversal

Gambar 3. Pengamatan Bidang Transversal
������������� Pada bidang transversal pembuluh (pori) tampak bentuk
tidak teratur atau tidak bulat, tipe soliter, porositas tata baur, terdapat
kristal didalam pori, Sel Jari � jari tebal, arah tidak lurus. memiliki
parenkim apotrakeal dan paratrakeal. pengelompokan sel pembuluh hampir
seluruhnya soliter (90% lebih) dan beberapa sel pembuluh berisi kristal
berwarna putih. Sel pembuluh Sebagian kecil berbentuk bulat namun Sebagian
besar berbentuk lonjong, kemungkinan hal ini disebabkan karena sel pembuluh
terisi dengan kandungan mineral dalam jangka waktu yang sangat lama dan adanya
tekanan selama berlangsung proses fosilisasi. Saluran interseluler aksial (SIA)
juga terlihat namun sangat jarang.
b.
Bidang Tangensial

Gambar 4. Bidang Tangensial terlihat : pori, jari-jari uniserite dan multiseriate
dengan lebar 1-3 seri.
Pada bidang tangensial terlihat sel jari-jari tipe multiseriate. sel pori
berbentuk seperti pipa memanjang. Sel jari-jari pada bidang tangensial
kebanyakan multiseriate yaitu terdiri dari beberapa lapis sel dengan ukuran
panjang sel yang berbeda. sel jari-jari memiliki lebar 1-3 sel.
c.
Bidang Radial

Gambar 5. Bidang
Radial Fosil Kayu, terlihat pembuluh (pori), serabut,
Jari-jari multiseriate heterogen.
������������� Pada bidang radial
memperlihatkan Jari-jari yang terdiri dari jari-jari multiseriate, yaitu
terdiri dari beberapa lapis (1-3 sel), dan Jari-jari heterogen yaitu jari-jari
yang terdiri dari sel tegak dan sel baring, susunan sel jari jari yang terdapat
pada bidang radial fosil kayu ini adalah multiseriate heterogen tipe 1 dimana
tipe satu yang dimaksud adalah terdapat sel tegak pada bagian bawah dan atas,
kemudian pada bagian tengah didominasi sel baring. Sel pori (pembuluh) pada
bidang radial, tampak berupa garis memanjang yang bentuknya seperti pipa.
2.
Ciri Mikroskopis
������������� Pengamatan struktur
mikroskopis (anatomi) fosil kayu di lakukan dengan menggunakan mikroskop Nikon
Eclips (E400) dan mikroskop layar merk Projectina, dengan perbesaran 40x dan
100x dimana sampel yang digunakan berupa preparat dari hasil slicing sampel
yang dibuat di laboratorium Badan Geologi Bandung (Amalia et al., 2022). Pengamatan mikroskopis disajikan pada gambar berikut:
a.
Bidang Transversal

Gambar 6 (a). Porositas dan pengelompokkan
pembuluh (pori). Perbesaran 40x
������������� Porositas pembuluh
adalah tata baur dengan pengelompokan pembuluh soliter`) pada gambar 7(a) fosil
kayu yang memperlihatkan sel pembuluh yang berbentuk bulat namun ada sebagian
yang berbentuk lonjong, dan ada juga yang berbentuk gepeng, hai kemungkinan
karena adanya proses tekanan selama proses fosilisasi (Husien et al., 2016).
Pada gambar 7(b) memperlihatkan Parenkim aksial paratrakeal yang sangat sedikit
(sangat jarang) yang berada sekeliling pori, dan pada gambar yang sama,
terlihat jari-jari tidak lurus beraturan melainkan sedikit berkelok dan tampak
agak tebal yang berarti bahwa sel jari-jari sampel terdiri dari beberapa lapis
sel (Olatunji, 2014).

Gambar 7 (b).
Parenkim aksial paratrakeal jara-ng (Apotrakeal dan Paratrakeal),
dan Saluran Interseluler Aksial (SIA).
������������� Keberadaan pembuluh
(pori), pada struktur anatomi fosil kayu yang diteliti seperti terlihat pada
Gambar 7, dapat diindikasikan fosil kayu yang ditemukan sebagai fosil kayu
kelompok daun lebar (Hardwood). Menurut Apri (2008) struktur kayu daun lebar
(hardwood) secara umum ditandai dengan terlihatnya sel pembuluh yang sangat
jelas berupa bulatan atau bulatan yang tidak beraturan pada bidang transversal.
Sampel fosil kayu yang diteliti lingkaran tahun tidak terlihat jelas atau dapat
dikatakan tidak ada.
b.
Bidang Tangensial

Gambar 8. Penampang bidang tangensial (T)
������������� Pada Gambar 8 yaitu
bidang tangensial terlihat pembuluh (bentuk seperti pipa memanjang kearah
axial), Jari-jari uniseriate dan multiseriate, dan bidang perforasi bentuk
sederhana. Jari-jari uniseriate seperti pada gambar di atas berbentuk kecil
dengan satu baris sel, sedangkan Jari-jari multiseriate berbentuk besar dan
panjang terdiri dari beberapa lapis sel (1-3 baris), dapat dikatakan bahwa sel
jari-jari sampel memiliki sel campuran uniseriate dan multiseriate. Bidang
perforasi pada gambar juga dapat dilihat dengan jelas (Sari & Nasution, 2021). Berdasarkan hasil
dari perhitungan sel jari-jari bidang tangensial maka didapatkan Rataan hasil
perhitungan tinggi pembuluh (pori) 257.68 �m dan persentase 27.85 �m. Rataan
tinggi jari-jari 7,4 mm, lebar 60.06 �m, jumlah 5.2 buah/mm2 dengan persentase
sel jari-jari 25.80%.
c.
Bidang Radial
������������� Bidang Radial
disajikan pada Gambar sebagai berikut:

Gambar 9. Penampang bidang Radial
������������� Gambar 9 menunjukkan
sel jari-jari pada bidang radial, sel jari-jari multiseriate heterogen. Tipe jari-jari tersebut
dapat terlihat di bidang tangensial dimana pada ujung atas sel tersebut
terlihat satu sel dan ujung bawah satu sel dan bagian tengah ada banyak atau
terdiri dari beberapa sel sehingga dapat dikatakan bahwa sel jari-jari tersebut
sel jari-jari multiseriate heterogen (Hasanah et
al., 2019). Ada
terlihat butir silika dalam sel jari-jari, bentuknya bulat tidak teratur. Hal
ini sama hal yang di kemukakan oleh Andianto et.al (2013) yaitu fosil kayu
merupakan kayu yang sudah membatu dimana semua bahan organiknya telah
digantikan oleh mineral (silika dan sejenis kuarsa), namun struktur kayu tetap
terjaga. Nilai kekerasan
fosil kayu (Andianto
& Ismanto, 2017).
1)
Kekerasan (Hardness)
������������� Nilai Kekerasan adalah
ketahanan yang terdapat pada mineral apabila permukaannya di gores dengan benda
tajam. Pada penelitian ini nilai kekerasan fosil kayu dihitung dengan
menggunakan alat uji kekerasan yaitu �Diamond Selector II� (Husien et al., 2016). Dari
hasil perhitungan di dapatkan nilai tercantum pada berikut:
Tabel 2. Nilai
kekerasan fosil kayu
|
Ulangan
Ke |
Titik
Pengamatan |
Nilai
Kekerasan (Mohs) |
|
1 |
Titik 1 |
5 |
|
2 |
Titik 2 |
5 |
|
3 |
Titik 3 |
5 |
|
4 |
Titik 4 |
5 |
������������� Pada Tabel 2 memperlihatkan nilai kekerasan sampel
fosil kayu yang dilakukan sebanyak 4x pengulangan atau 4 titik pengamatan dan
masing-masing titik pengamatan memiliki nilai kekerasan yang sama yaitu pada
skala 5. Peneliti terdahulu menjelaskan bahwa kekerasan adalah ketahanan yang
terdapat pada mineral apabila permukaannya di gores dengan benda tajam (Husien et al., 2021). Tingkat kekerasan mineral batuan terdiri atas
10 skala, sebagai berikut: Talk, Gibsum, Kalsit, Fluorit, Apatit, Ortoklas,
Kuarsa, Topas, Kolorondum, dan Intan. Dari hasil pengukuran nilai kekerasan
fosil kayu yyang berada pada skala 5 masuk dalam kelas Apatit. Menurut
Poerwidodo (1991), jenis mineral Apatit ciri kekerasannya adalah sukar digores
pisau atau kaca dan mudah menggores kaca. Mineral apatit sebagai contoh terdapat dalam batuan basa (Panennungi
& Pertiwi, 2018).
2)
Perhitungan berat jenis fosil kayu
������������� Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa
jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni atau dalam penelitian ini adalah
perbandingan massa jenis fosil kayu kepada massa jenis air (Husien et
al., 2016). Hasil perhitungan berat jenis sampel fosil kayu
yaitu:
Berat Fosil��������� ���������������������������� = 22.40 g
Jumlah air dalam Gelas ukur ���� �=
200 ml
Berat Fosil Kayu + Jumlah Air = 210 ml
Selisih kenaikan air����������������������
= 10 ml
BJ w/v
BJ (22.40 g)/(10 ml)
BJ = 2.24
Berdasarkan dari hasil perhitungan yang telah dilakukan nilai berat jenis
pada sampel fosil kayu adalah 2.24.
3)
Rekapitulasi Identifikasi Berdasarkan Xylarium Bogoriense
|
No kesesuain |
Deskripsi Keseuaian Sifat |
� Atau X |
|
|
Lingkar Tumbuh : |
|
|
2 |
Batas lingkar tumbuh tidak jelas |
� |
|
|
Sel Pembuluh/
Pori: |
|
|
|
Porositas
Pembuluh: |
|
|
5 |
Kayu berpori tata
baur |
� |
|
|
Susunan Pembuluh: |
|
|
|
Pengelompokan
Pembuluh: |
|
|
9 |
Pembuluh seluruhnya soliter (90% atau lebih) |
� |
|
|
Bidang Porforasi |
|
|
13 |
Bidang porforasi
sederhana |
� |
|
|
Diameter Lumen
Pembuluh: |
|
|
42 |
100 � 200 �m (257.68) |
� |
|
|
Jumlah Pembuluh
per mm2: |
|
|
46 |
≤ 5
pembuluh per mm2(2.75) |
� |
|
|
Serat : |
|
|
69 |
Serat berbanding tipis sampai tebal |
� |
|
|
Parenkim Aksial
Apotrakeal: |
|
|
76 |
Parenkim aksial
baur (diffuse) |
� |
|
|
Parenkim Aksial
Paratrakea: |
|
|
78 |
Parenkim aksial
paratrakea jarang |
� |
|
79 |
Parenkim aksial
vasisentrik |
� |
|
|
SEL JARI-JARI: |
|
|
97 |
Lebar jari-jari
1-3 sel |
� |
|
|
Tinggi Jari-Jari: |
|
|
106 |
Sel tubuh jari-jari baring dengan1 jalur sel tegak atau
bujur sangkar |
� |
|
107 |
Sel tubuh jari-jari baring dengan
umumnya 2-4 jalur sel tegak marjinal |
� |
|
|
Jumlah Jari-Jari Per Milimeter (mm): |
|
|
115 |
4-12 / mm (7.4) |
� |
|
|
Saluran Interseluler Aksial |
|
|
129 |
Saluran aksial tersebar (Baur) |
� |
|
|
Butir Silika |
|
|
160 |
Butir silika dalam
jari-jari |
� |
������������� Hasil
identifikasi jenis fosil kayu yang ditemukan adalah golongan tumbuhan berdaun
lebar (hardwood), genus Dipterocarpoxylon familiy Dipterocarpaceae. Hal ini
sesuai penelitian Dewi (2013) terhadap tiga jenis sampel keruing yaitu D.
stellatus, D. glabrigemmatus, dan D. pachyphyllus bahwa ciri mikroskopis utama
ketiga spesies yaitu lingkar tumbuh tidak jelas, sebagian besar pembuluh
soliter dan bulat, memiliki perforasi sederhana, jari-jari heterogeny
multiseriate, serat berdinding tebal, pembuluh tata baur. dan memiliki parenkim
diffus dan vasisentrik, memiliki saluran interseluler aksial.
KESIMPULAN
Penelitian ini mengkaji karakteristik morfologi dan mikroskopis fosil kayu
yang ditemukan di Desa Manunggal Jaya. Secara kasat mata, fosil kayu
menunjukkan warna putih yang bercampur dengan coklat dan abu-abu. Pengamatan
makroskopis mengindikasikan bahwa fosil ini memiliki ciri-ciri sel kayu daun
lebar (Hardwood) yang menyerupai genus *Dipterocarpoxylon*. Ciri khasnya adalah
tidak adanya lingkaran tahun, sel pembuluh yang kebanyakan tunggal, serta
bentuk sel yang bulat dan tidak beraturan, dengan porositas yang menunjukkan
tata baur. Sel jari-jari yang ditemukan bersifat multiseriate, terdiri dari 1-3
baris sel dengan tipe heterogen, serta memiliki sistem interseluler (SIA)
paratrakeal dan apotrakeal. Berdasarkan pengukuran, fosil kayu ini memiliki
nilai kekerasan sebesar 5 dalam skala Mohs dan berat jenis 2,24. Secara
mikroskopis, pada bidang transversal, sel pembuluh tampak jelas berbentuk bulat
dengan pengelompokan pembuluh soliter, serta menunjukkan porositas yang
bervariasi. Sel parenkim apotrakea, baik aksial baur (diffuse) maupun
paratrakeal, ditemukan dalam jumlah yang jarang, sementara pada bidang
tangensial terdapat sel jari-jari dengan multiseriate dan uniseriate tipe I,
serta bidang perforasi yang jelas. Pada bidang radial, jari-jari multiseriate heterogen
terlihat, dengan kehadiran silika berbentuk bulat di dalam sel jari-jari.
Berdasarkan referensi dari tabel *xylarium bogoriense*, fosil kayu ini dapat
dikategorikan sebagai genus *Dipterocarpoxylon* dari keluarga
*Dipterocarpaceae*, yang menambah pemahaman kita tentang keanekaragaman hayati
dan potensi fosil kayu di daerah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, H., Aliamat, A.,
& Yunita, Y. (2022). Aplikasi Mobile Sistem Informasi Pengolahan Kayu
Xylarium Bogoriense. Jurnal Teknik Komputer, 8(1), 22�27.
https://doi.org/10.31294/jtk.v8i1.11383
Andianto, A., &
Ismanto, A. (2017). Identifikasi Fosil Kayu asal Bogor dan Lebak
(Identification of Wood Fossil from Bogor and Lebak). Jurnal Ilmu Dan
Teknologi Kayu Tropis, 15(1), 75�88.
Andreani, A. P., &
Prasetya, R. D. (2019). Petrified Wood: Karakteristik dan Aplikasinya dalam
Bidang Desain Produk. Jurnal Rekarupa, 5(2).
Hasanah, N., Sulaeman,
R., & Sribudiani, E. (2019). Studi Tentang Sifat Batang Nibung (Oncosperma
tigillarium) Di Desa Tameran, Kabupaten Bengkalis. Jurnal Ilmu-Ilmu
Kehutanan, 3(1).
Husien, N., Budi, A. S.,
Budiarso, E., Arifin, Z., & Kasnadi, S. (2022). Literasi Warga Desa
Purwajaya, Terhadap Temuan dan Pemanfaatan Fosil Kayu. ABDIKU: Jurnal
Pengabdian Masyarakat Universitas Mulawarman, 1(1), 11�15.
Husien, N., Hidayat, M.
N., & Budi, A. S. (2023). Characteristics of Fossil Wood from Loa Tebu
Kutai Kertanegara, East Kalimantan. Jurnal Multidisiplin Madani, 3(2),
453�463.
Husien, N., Maulida, M.,
Hidayat, M. N., Budi, A. S., & Kasnadi, S. (2021). Ciri Makroskopis Fosil
Kayu dari Tiga Desa di Kalimantan Timur. Journal of Tropical Ethnobiology,
128�133.
Husien, N., Sulistyo,
A., & Gandi, B. (2016). Preliminary Research: Feature of Cross Section,
Hardness, and Specific Gravity Some Petrified Wood from Loa Janan, Kutai
Kertanegara, East Kalimantan. Journal Modern Environmental Science and
Engineering (10), 716�722.
Olatunji, O. O. (2014).
Wood Anatomy in Several Genera of Nigerian Annonaceae. Notulae Scientia
Biologicae, 6(1), 125�130. https://doi.org/10.15835/nsb619192
Panennungi, P., &
Pertiwi, N. (2018). Ilmu Bahan Bangunan. Badan Penerbit Universitas
Negeri Makassar.
Priswantoro, A. A.,
Sulaksana, N., Endyana, C., & Mursito, A. A. T. (2021). Kesesuaian Lahan
Untuk Tanaman Kayu Putih Sebagai Strategi Modifikasi Konservasi Dan Kepentingan
Nilai Tambah Ekonomi Di Desa Cikembang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
Jurnal Teknologi Lingkungan, 22(1), 68�77.
https://doi.org/10.29122/jtl.v22i1.4253
Rahmayanti, H., &
Feryl Ilyasa, S. K. M. (2022). Pendidikan Lingkungan dan Perubahan Iklim.
Selat Media.
Sari, S. A., &
Nasution, D. H. (2021). Pengembangan Metode Serbuk Daun Suji (Pleomele
Angustifolia N.E.Br) Sebagai Identifikasi Sidik Jari Laten. Jurnal Riset
Kimia, 12(2). https://doi.org/10.25077/jrk.v12i2.406
Syarthibi, A., &
Syarifuddin, H. (2018). Karakteristik Geokimia Komposisi Mineral Fosil Kayu:
Isolasi Dan Identifikasi Kandungan Lignin Dalam Kayu Petrisian Dan
In-Situaraucarioxylon Di Geopark Merangin. Jurnal Pembangunan Berkelanjutan,
1(2), 82�93.
Widayana, K. A. (2022).
Pemeriksaan Radiologi Dan Imaging Untuk Perforasi Hollow Organ Abdomen. Cermin
Dunia Kedokteran, 49(1), 50. https://doi.org/10.55175/cdk.v49i1.1646