Identifikasi� Beberapa Jenis Mangrove Hutan Kota Daerah
Perlindungan Mangrove dan Laut (DPML)�
Teritip
Nani
Husien1, Junaidinsyah2
Universitas Mulawarman, Indonesia
Abstrak:
Hutan mangrove merupakan ekosistem yang memiliki nilai ekonomis dan
ekologis tinggi, namun rentan terhadap kerusakan akibat pengelolaan yang tidak
bijaksana. Upaya perlindungan dan rehabilitasi sangat penting untuk menjaga
keberlanjutan ekosistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
jenis-jenis mangrove di Hutan Kota Daerah Perlindungan Mangrove dan Laut (DPML)
Teritip, serta menyediakan data yang dapat digunakan untuk pengelolaan dan
konservasi secara berkelanjutan. Kegiatan identifikasi dilakukan di Hutan Kota DPML Teritip pada periode 9
Juli hingga 31 Juli 2024. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan,
pengumpulan data, analisis taksonomi, dan pembuatan papan informasi mengenai
vegetasi mangrove yang teridentifikasi. Dari identifikasi yang dilakukan,
ditemukan beberapa spesies mangrove, antara lain Rhizophora mucronata, Rhizophora
apiculata, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum, Sonneratia sp., dan
Avicennia alba. Pemasangan papan
informasi juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya ekosistem mangrove. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman
masyarakat mengenai pentingnya konservasi mangrove. Diharapkan informasi yang
dihasilkan dapat menjadi sumber pengetahuan dan mendorong partisipasi dalam upaya
pelestarian ekosistem mangrove di Hutan Kota DPML Teritip.
Kata kunci: Hutan Mangrove,
Identifikasi Vegetasi, Konservasi, DPML Teritip, Ekosistem.
Abstract:
Mangrove
forests are ecosystems that have high economic and ecological value, but are vulnerable
to damage due to unwise management. Protection and rehabilitation efforts are
essential to maintain the sustainability of this ecosystem. This study aims to
identify mangrove species in the Teritip Mangrove and Marine Protection Area
(DPML) City Forest, and provide data that can be used for sustainable
management and conservation. Identification activities were carried out in the
DPML Teritip City Forest in the period July 9 to July 31, 2024. The methods
used include field surveys, data collection, taxonomic analysis, and making
information boards about identified mangrove vegetation. From the
identification, several mangrove species were found, including Rhizophora
mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum,
Sonneratia sp., and Avicennia alba. Information boards were also installed to
increase public awareness of the importance of mangrove ecosystems. This
activity succeeded in increasing the community's understanding of the
importance of mangrove conservation. It is expected that the information
generated can be a source of knowledge and encourage participation in efforts
to conserve mangrove ecosystems in DPML Teritip City Forest.
Keywords: Mangrove Forest, Vegetation Identification,
Conservation, DPML Teritip, Ecosystem.
����������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Nani
Husien
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Mangrove
adalah ekosistem hutan yang tumbuh di wilayah pesisir, terutama di daerah
tropis dan subtropis, yang berfungsi sebagai penyangga antara daratan dan laut (Asyiawati & Akliyah, 2014). Tumbuhan mangrove memiliki adaptasi unik, seperti akar yang menjulang
di atas permukaan air dan kemampuan untuk hidup di lingkungan salin atau asin (Sinabang et al., 2023). Mangrove berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,
seperti mencegah abrasi, menyerap karbon, serta menyediakan habitat bagi
berbagai spesies ikan, burung, dan hewan laut lainnya (Utomo et al., 2024). Selain itu, ekosistem mangrove juga berfungsi sebagai penahan gelombang
tsunami dan badai, sehingga melindungi daerah pesisir dari dampak bencana alam.
Pemanfaatan dan pelestarian mangrove sangat penting untuk menjaga keberlanjutan
lingkungan dan keanekaragaman hayati di kawasan pesisir (Hadi et al., 2022).
Di Indonesia, ekosistem mangrove tersebar luas
keanekaragaman yang bervariasi. Salah satu kawasan
konservasi mangrove yang penting adalah Hutan Kota DPML Mangrove Teritip, yang
terletak di Kalimantan Timur (Siahaan et al., 2024). Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai penyangga ekosistem pesisir,
tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar yang bergantung
pada sumber daya alam tersebut (Anjani, 2014).
Namun
demikian, upaya konservasi di kawasan Hutan Kota DPML Mangrove Teritip
menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kurangnya informasi yang komprehensif
mengenai jenis-jenis vegetasi mangrove yang ada di wilayah tersebut. Tanpa
adanya data yang tepat dan akurat, pengelolaan kawasan konservasi menjadi kurang
efektif dan berisiko menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati (Sari, N., Lestari, Y., & Nugroho,
2018).
Kegiatan
Identifikasi jenis dan pembuatan papan informasi vegetasi mangrove di Hutan
Kota DPML Mangrove Teritip sangat penting untuk mendukung upaya konservasi.
Dengan melakukan identifikasi jenis dan pendokumentasian mangrove yang ada,
diharapkan kegiatan berkala ini tersimpan di database secara akurat dan up-to-date
yang akan membantu dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Informasi
ini juga dapat berperan penting dalam edukasi masyarakat serta peningkatan
kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai bagian dari upaya
mitigasi perubahan iklim (Susilo, 2020). Partisipasi aktif masyarakat dan pemangku kepentingan sangat diperlukan
untuk mendorong pelestarian Hutan Mangrove DPML Teritip secara berkelanjutan.
Penelitian
ini memiliki beberapa inovasi yang membedakannya dari studi sebelumnya tentang
ekosistem mangrove. Pertama, pendekatan terpadu yang digunakan menggabungkan
metode identifikasi taksonomi dengan pemasangan papan informasi untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat. Hal ini tidak hanya memberikan data ilmiah,
tetapi juga berkontribusi pada pendidikan lingkungan. Kedua, fokus khusus pada
Hutan Kota DPML Teritip memberikan wawasan baru tentang keanekaragaman spesies
mangrove di kawasan yang kurang terjamah sebelumnya, meskipun banyak penelitian
telah dilakukan di ekosistem mangrove di Indonesia. Ketiga, keterlibatan
masyarakat lokal dalam proses identifikasi dan penyebaran informasi merupakan
langkah inovatif yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas konservasi
mangrove dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya ekosistem ini.
Terakhir, penelitian ini berupaya untuk membangun database vegetasi mangrove
yang dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut dan
pengelolaan berkelanjutan, sehingga diharapkan menjadi sumber data yang
berharga bagi peneliti dan pengelola lingkungan di masa mendatang. Dengan
demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan,
tetapi juga pada praktik konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Penelitian
ini bertujuan untuk menyediakan data dan informasi tentang jenis mangrove yang
dapat digunakan dalam pengelolaan dan konservasi hutan mangrove secara
berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai pentingnya konservasi hutan
mangrove di Hutan Kota DPML Mangrove Teritip, serta menyediakan informasi dasar
yang dapat dijadikan acuan dalam upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan
untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove di kawasan tersebut.
a. Pengertian Ekosistem Mangrove
Mangrove
adalah tumbuhan atau komunitas tumbuhan yang tumbuh di wilayah peralihan antara
daratan dan laut, dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Julaikha & Sumiyati, 2017). Hutan mangrove merupakan jenis hutan tropis dan subtropis yang unik,
berkembang di sepanjang pantai atau muara sungai dengan kondisi pasang surut.
Mangrove banyak ditemukan di daerah pesisir yang terlindung dari gelombang
besar dan memiliki kemiringan landai (Akbar et al., 2017). Pertumbuhan mangrove optimal di wilayah pesisir dengan muara sungai
besar yang membawa sedimen lumpur, sementara di pesisir tanpa muara sungai,
vegetasi mangrove kurang berkembang. Mangrove sulit tumbuh di area pesisir yang
terjal dan terpapar ombak besar serta arus pasang surut yang kuat karena
kondisi ini menghambat pengendapan lumpur yang diperlukan sebagai media
pertumbuhannya (Zen et al., 2023). Ekosistem mangrove terletak di wilayah pesisir, dipengaruhi oleh pasang
surut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang mampu bertahan di
lingkungan air asin atau payau (Naibaho et al., 2023). Pasang surut air laut yang memengaruhi ekosistem ini membuatnya
dipenuhi oleh spesies pohon keras dan semak yang bermanfaat bagi perairan
payau. Faktor lingkungan seperti salinitas, suhu, pH, oksigen terlarut, arus,
kekeruhan, dan substrat dasar sangat memengaruhi komunitas mangrove (Adharani et al., 2024). Menurut Duke (1992), ekosistem mangrove memiliki karakteristik unik
karena lantainya terendam air secara berkala akibat pengaruh salinitas dan
fluktuasi permukaan air laut. Hutan mangrove juga disebut sebagai hutan
intertidal yang berada di perbatasan darat dan laut, terutama di pantai dan
muara sungai yang terkena pasang surut (Purnobasuki, 2024).
b. Tipe vegetasi mangrove
Struktur
Secara umum,
mangrove tumbuh dalam empat zona utama, yaitu di wilayah terbuka, wilayah
tengah, daerah dengan air payau hingga hampir tawar, dan daerah yang lebih
dekat ke daratan dengan air tawar.
1)
Mangrove terbuka
Mangrove ini terletak di area yang langsung berhadapan dengan laut.
Menurut Samingan (1980), di Karang Agung, Sumatera Selatan, zona ini didominasi
oleh Sonneratia alba yang tumbuh di wilayah yang sangat dipengaruhi oleh air
laut (Zakiyah et
al., 2023). Van Steenis (1958) juga
melaporkan bahwa S. alba dan Avicennia alba adalah jenis yang mendominasi di
pantai yang sering tergenang air. Di Halmahera, Maluku, Komiyama et al. (1988)
menemukan bahwa S. alba mendominasi zona ini. Komposisi tumbuhan di zona
terbuka sangat tergantung pada jenis substratnya. S. alba biasanya mendominasi
daerah berpasir, sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata lebih
sering ditemukan di wilayah berlumpur�
Namun, jika tanah lumpur kaya akan bahan organik, Sonneratia dapat
tumbuh bersama Avicennia (Tabalessy,
2023).
2)
Mangrove tengah
Zona ini terletak di belakang zona mangrove terbuka. Biasanya, zona ini
didominasi oleh spesies Rhizophora.
Namun, Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung, Bruguiera cylindrica mendominasi wilayah ini. Jenis penting lainnya
yang ditemukan di Karang Agung termasuk B.
eriopetala, B. gymnorrhiza, Excoecaria agallocha, R. mucronata, Xylocarpus
granatum, dan X. moluccensis.
3)
Mangrove payau
Mangrove ini
tumbuh di sepanjang sungai dengan air payau hingga hampir tawar. Zona ini
biasanya didominasi oleh komunitas Nypa
atau Sonneratia. Di Karang Agung,
komunitas Nypa fruticans ditemukan
dalam jalur sempit yang membentang sepanjang sebagian besar sungai. Jalur
tersebut sering kali berdekatan dengan vegetasi lain seperti Cerbera sp., Gluta renghas, Stenochlaena
palustris, dan Xylocarpus granatum.
Semakin
mendekati pantai, komunitas campuran Sonneratia
dan Nypa menjadi lebih umum. Di
beberapa wilayah lain, seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di muara Sungai
Barito, Kalimantan Selatan, atau di muara Sungai Singkil di Aceh, Sonneratia caseolaris mendominasi,
terutama di estuari dengan air yang hampir tawar.
4)
Mangrove daratan
Mangrove ini
terletak di zona air payau hingga hampir tawar, di belakang jalur utama
mangrove. Jenis-jenis yang umum di zona ini meliputi Ficus microcarpus (F. retusa),
Intsia bijuga, N. fruticans, Lumnitzera
racemosa, Pandanus sp., dan
Xylocarpus moluccensis. Zona ini memiliki keanekaragaman spesies yang lebih
tinggi dibandingkan zona lainnya.
Meskipun ada
zonasi yang jelas dalam vegetasi mangrove, kenyataannya di lapangan lebih
kompleks. Banyak formasi dan zona vegetasi yang tumpang tindih serta bercampur,
dan struktur yang terlihat di satu daerah sering kali tidak berlaku di daerah
lain.
c. Fungsi dan Peranan Mangrove
Mangrove
merupakan salah satu ekosistem yang banyak dijumpai di sepanjang pantai tropis
dan estuari. Ekosistem ini berperan sebagai penyaring nutrisi dan penghasil
bahan organik, serta menjadi zona penyangga antara daratan dan lautan. Menurut
peneliti terdahulu, hutan mangrove memiliki berbagai fungsi dan manfaat,
seperti meredam gelombang dan angin badai, melindungi dari abrasi, menahan
lumpur, dan menjebak sedimen (Tabalessy, 2023). Mangrove juga menghasilkan detritus dari daun dan pohon, serta menjadi
habitat penting bagi berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya, baik
sebagai tempat asuhan, mencari makan, maupun pemijahan. Selain itu, mangrove
menyediakan kayu untuk konstruksi, kayu bakar, arang, dan bahan baku kertas,
serta menjadi sumber larva ikan dan udang, dan memiliki nilai pariwisata.
d. Ekowisata Hutan Mangrove
Beragam
produk dan jasa lingkungan dapat dihasilkan dari ekosistem hutan mangrove,
salah satu yang berpotensi dikembangkan tanpa merusak ekosistem tersebut adalah
ekowisata. Ekowisata memungkinkan manusia menikmati keindahan alam tanpa
merusak hutan yang ada. Keunikan vegetasi mangrove, seperti akar yang mencuat
keluar dari tanah, menjadi daya tarik tersendiri yang membedakannya dari
formasi hutan lainnya. Beberapa atraksi wisata yang dapat dikembangkan di hutan
mangrove meliputi pembuatan jembatan di antara pohon-pohon mangrove, restoran
yang menyajikan hasil laut dengan panggung di atas pohon, serta aktivitas
memancing dan berperahu. Menurut penelitian terdahulu, potensi ekowisata
melibatkan semua objek alam, budaya, dan buatan yang perlu dikelola dengan baik
untuk menarik wisatawan (Rhama, 2019). Potensi ini ditentukan oleh daya dukung kawasan, yaitu jumlah
pengunjung maksimum yang dapat ditampung tanpa merusak lingkungan. Meskipun
minat pengunjung tinggi, daya dukung menjadi faktor pembatas dalam menjaga
keseimbangan alam dan pengalaman wisata.
METODE PENELITIAN
1. Tempat dan Waktu Kegiatan:
Kegiatan dilaksanakan di Hutan Kota Daerah Perlindungan Mangrove
dan Laut (DPML)� Teritip Balikpapan
Timur. Waktu pelaksanaan 9 Juli � 31 Juli 2024
Narasumber :
1) Petugas konservasi dari Hutan Kota DPML Mangrove
Teritip.
2) Perwakilan dari masyarakat setempat yang memiliki
pengetahuan tentang ekosistem mangrove.
Sasaran kegiatan :
1)
Masyarakat lokal yang tinggal di sekitar Hutan
Kota DPML Mangrove Teritip.
2)
Pelajar dan mahasiswa serta wisatawan yang
tertarik pada ekosistem mangrove.
2. Prosedur Kegiatan:
Prosedur kegiatan ini meliputi beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Persiapan: Melakukan koordinasi dengan pihak terkait
dan mempersiapkan peralatan serta bahan yang diperlukan.
b. Melakukan survei lapangan untuk mengidentifikasi dan
mendokumentasikan jenis- jenis vegetasi mangrove yang ada di Hutan Kota DPML
Teritip.
c.
Pengumpulan Data: untuk mengidentifikasi dan
mencatat jenis-jenis vegetasi mangrove yang ada,
d.
Analisis Data: menganalisis data yang
diperoleh dengan cara mengklasifikasikan jenis vegetasi mangrove dalam
taksanomi dan morfologi.
e.
Membuat desain�
papan informasi : Papan informasi mangrove merupakan tambahan dalam
kegiatan ini untuk memberikan informasi dilapangan.
f.
Data selanjutnya diintegrasikan ke dalam papan
informasi untuk memudahkan akses masyarakat dan pemangku kepentingan.
g.
Pembuatan media informasi : mempersiapkan
beberapa potongan kayu dan papan sebagai media informasi.
h.
Pemasangan papan informasi : Pemasangan papan
informasi dilakukan dibeberapa tempat yang telah ditentukan oleh pengelola
Hutan Kota DPML Teritip, dan tim hanya memasang di tempat yang telah di arahkan
pengelola
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil kegiatan
dan penelitian yang dilakukan selama beberapa minggu adalah:
1.
Pemasangan beberapa
plang papan nama jenis vegetasi mangrove dilokasi Hutan Mangrove PML Teritip
2.
Identifikasi
vegetasi yang dilakukan terhadap beberapa jenis vegetasi di Hutan Mangrove
DPML, diperoleh data beberapa spesies mangrove serta kondisi ekosistemnya.
Identifikasi beberapa vegetasi mangrove yang behasil dilakukan diantaranya
adalah jenis : Rhizopora Mucronata,
Rhizopora apiculata, Rhizopora stylosa, xylocarpus granatum, Soneratia sp,
dan Avicennia alba.
Taksonomi dan
morfologi vegetasi mangrove yang dilakukan tercantum sebagai berikut:
1)

(Rhizopora mucronata)
A.
Taksonomi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
B.
Morfologi
a)
Batang : memiliki
diameter batang pohon 13,5 cm dengan warna batang yang cerah agak ke abu-abuan
dan tinggi pohon dapat mencapai 25 meter.
b)
Akar : Memiliki akar napas yang membantu dalam respirasi terutama saat
akar terendam air. Selain itu, terdapat juga akar penyangga
(stilt roots) yang membantu
menstabilkan tanaman pada substrat berlumpur.
c)
Daun : Daun Rhizopora mucronata berwarna hijau mengkilap,
berbentuk elips, dan tebal dengan ujung yang meruncing.
d)
Buah : Buah Rhizopora mucronata berbentuk seperti
cerutu dan mampu berkembang menjadi bibit yang langsung bisa berakar setelah
jatuh ke tanah.
2)

(Rhizopora apiculata)
A.
Taksonomi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
Spesies : Rhizophora apiculata
B.
Morfologi
a)
Batang : memiliki
diameter batang pohon sebesar 20,9 cm batang Rhizapora apiculata cenderung berwarnan cokelat ke abu-abuan dengan
tinggi pohon bisa mencapai 15 meter.
b) Akar : Rhizophora apiculata
memiliki akar napas (pneumatofora)
yang memungkinkan pertukaran udara saat terendam air. Akar-akar ini juga berfungsi untuk
menstabilkan tanaman di tanah berlumpur dengan membentuk jaring-jaring yang
kokoh.
c)
Daun : Daun tanaman ini berwarna hijau tua, berbentuk elips hingga
lonjong, dengan ujung yang meruncing, permukaan
daun mengkilap dan tebal.
d) Buah : Buah berbentuk
seperti cerutu dan berwarna hijau. Setelah jatuh ke tanah, buah ini mampu
berkecambah dan tumbuh menjadi bibit baru.
3) 
(Rhizopora Stylosa)
A.
Taksonomi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
Spesies : Rhizophora stylosa
B.
Morfologi
a)
Batang : memiliki
diameter batang pohon 20,4 cm dengan warna batang yang cenderung cokelat, untuk
tinggi pohon bisa mencapai 10- 15 meter.
b)
Akar : Rhizophora stylosa memiliki akar
penyangga (stilt roots) yang mencuat
dari batang dan membantu menstabilkan tanaman pada substrat berlumpur.
Akar-akar ini juga berfungsi sebagai akar napas (pneumatofora) yang memungkinkan respirasi saat terendam air.
c)
Daun : Daunnya
berwarna hijau mengkilap, berbentuk elips hingga lonjong, dengan ujung yang
meruncing. Permukaan daun bagian atas lebih mengkilap dibandingkan bagian
bawah.
d)
Buah : Buah tanaman
ini berbentuk cerutu dengan ujung yang meruncing. Buah ini mampu berkecambah
saat masih berada di pohon (vivipari)
dan siap menancap di tanah setelah jatuh.
4)

�(Xylocarpus granatum)
A.
Taksonomi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus : Xylocarpus
Spesies : Xylocarpus granatum
B.
Morfologi
a)
Batang : Batangnya
tegak, bercabang banyak, dan memiliki kayu yang keras serta berwarna cokelat
kemerahan. Batang utama seringkali memiliki kulit yang mengelupas dalam serpihan
kecil. Memiliki diameter batang pohon mencapai
37 cm dan tinggi pohon kisaran 15-25 meter.
b)
Akar : memiliki
jenis akar papan dan akar napas, mampu mengelola kadar garam yang tinggi di
lingkungannya.
c)
Daun : Daunnya
berwarna hijau mengkilap, berbentuk majemuk menyirip dengan anak daun berbentuk
elips hingga lonjong dan ujung yang meruncing. Daun tersusun berseling.
d)
Buah : Buahnya berbentuk bulat besar, berdiameter hingga 25 cm, dan
berwarna cokelat. Buah ini mengandung banyak biji yang
besar dan keras.
5)

(Sonneratia
sp)
A.
Taksonomi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Famili : Lythraceae
Genus : Sonneratia
B.
Morfologi
a)
Batang : Batang Sonneratia umumnya tegak dan bercabang,
dengan kulit batang yang halus hingga sedikit kasar. Berdiameter batang pohon
sebesar 37 cm dan tinggi pohon mampu mencapai 20 meter.
b)
Akar : Sonneratia memiliki sistem akar napas
yang berkembang dari akar horizontal di bawah permukaan tanah. Akar ini
membantu tanaman bernafas di lingkungan yang tergenang air.
c) Daun : Daun tanaman ini
tebal dan berdaging, berwarna hijau mengkilap dengan bentuk lonjong atau bulat
telur.
d) Buah : Buah Sonneratia berbentuk seperti bintang
atau kapsul dengan banyak biji di dalamnya. Buah ini mengapung di air dan
menyebar melalui arus laut.
6)

(Avicennia
alba)
Taksonomi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida Ordo :
Lamiales
Famili : Acanthaceae
Genus : Avicennia
Spesies : Avicennia alba
A.
Morfologi
a)
Batang : memiliki
diameter batang pohon 28,6 cm dan batang pohon yang cenderung berwarna cokelat
keabu-abuan dan mampu mencapai ketinggian 20 meter.
b)
Akar : Avicennia alba memiliki akar napas yang
tumbuh vertikal dari tanah untuk membantu respirasi. Akar-akar ini berbentuk
seperti pensil dan seringkali terlihat menonjol di sekitar tanaman.
c)
Daun : Daun tanaman
ini berwarna hijau muda hingga hijau kekuningan, berbentuk elips dengan ujung
yang tumpul. Daun memiliki permukaan atas yang mengkilap dan bagian bawah yang
lebih pucat.
d)
Buah : Buah tanaman
ini berbentuk kapsul, kecil, dan mengandung biji yang dapat mengapung di air,
memungkinkan penyebaran melalui arus laut.
KESIMPULAN
Pelaksanaan kegiatan Identifikasi
jenis vegetasi mangrove di Hutan Kota DPML Mangrove Teritip telah berhasil
mengidentifikasi dan mendokumentasikan spesies-spesies mangrove yang ada, cara
ini diharapkan� dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekosistem mangrove. Partisipasi aktif
dari berbagai pihak menunjukkan antusiasme terhadap upaya konservasi yang
berkelanjutan. Sangat diharapkan informasi yang disajikan dapat menjadi sumber
pengetahuan yang� bermanfaat� bagi�
masyarakat,� peneliti,� dan�
pemangku kepentingan, serta dapat mendorong upaya pelestarian hutan
mangrove di masa mendatang. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang
efektif untuk perlindungan dan pemanfaatan ekosistem mangrove berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adharani, N., Affandi,
R. I., Rachmawati, N. F., Sukendar, W., Setyono, B. D. H., Gaffar, S.,
Sumsanto, M., Ode, I., Luthfiyana, N., & Sulthoniyah, S. T. M. (2024). Pengantar
Ilmu Perikanan dan Kelauta. TOHAR MEDIA.
Akbar, N., Haya, N.,
Baksir, A., Harahap, Z. A., Tahir, I., Ramili, Y., & Kotta, R. (2017).
Struktur komunitas dan pemetaan ekosistem mangrove di pesisir Pulau Maitara,
Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Depik, 6(2), 167�181.
Anjani, B. (2014). Kajian
manfaat pengelolaan kawasan konservasi perairan bagi perikanan berkelanjutan
(studi kasus perairan laut berau, Kalimantan timur). Tesis.
Asyiawati, Y., &
Akliyah, L. S. (2014). Identifikasi dampak perubahan fungsi ekosistem pesisir
terhadap lingkungan di wilayah pesisir kecamatan muaragembong. Jurnal
Perencanaan Wilayah Dan Kota, 14(1).
Hadi, A., Wahyuni, D.,
Safitri, N., Jannah, N. R., Rahmadin, M. G., & Febrianti, S. S. (2022).
Rehabilitasi lahan mangrove sebagai strategi mitigasi bencana alam di Desa
Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Pengabdian Magister
Pendidikan IPA, 5(1), 45�50.
Julaikha, S., &
Sumiyati, L. (2017). Nilai ekologis ekosistem hutan mangrove. Jurnal Biologi
Tropis.
Naibaho, A. A., Harefa,
M. S., Nainggolan, R. S., & Alfiaturahmah, V. L. (2023). Investigasi
Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Dampaknya Terhadap Daerah Pesisir di Pantai
Mangrove Paluh Getah, Tanjung Rejo. J-CoSE: Journal of Community Service
& Empowerment, 1(1), 22�33.
Purnobasuki, H. (2024). Mangrove
Lestari, Bumi Berseri. Airlangga University Press.
Rhama, B. (2019).
Peluang Ekowisata Dalam Industri 4.0 di Indonesia. Journal Ilmu Sosial,
Politik Dan Pemerintahan, 8(2), 1�13.
Sari, N., Lestari, Y.,
& Nugroho, P. (2018). Keanekaragaman Vegetasi Mangrove di Hutan Kota
Teritip. Jurnal Biologi Tropis, 123�130.
Siahaan, R., Safrida,
S., Rondonuwu, S. B., Leimena, H. E. P., Samsuria, S., Maabuat, P. V.,
Dhaniati, L., Lewerissa, Y. A., Handayani, S., & Moniharapon, D. D. (2024).
Potensi, Ancaman Dan Rehabilitasi Lamun. Penerbit Widina.
Sinabang, I., Waruwu, K.
D., Pauliana, G., Rahayu, W., & Harefa, M. S. (2023). Analisis Pemanfaatan
Keanekaragaman Mangrove oleh Masyarakat di Pesisir Pantai Mangrove Paluh Getah.
J-CoSE: Journal of Community Service & Empowerment, 1(1), 10�21.
Susilo, E. (2020).
Edukasi dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat tentang Pentingnya Konservasi
Mangrove. Jurnal Pendidikan Lingkungan, 215�221.
Tabalessy, R. R. (2023).
Ekosistem Mangrove Kota Sorong: Kajian Kondisi Ekosistem, Nilai Manfaat Dan
Prioritas Pengelolaan. CV. Ruang Tentor.
Utomo, A. P., Haerani,
J. O., Ferdian, R. N., Paradise, R., & Radianto, D. O. (2024). Pemaksimalan
Fungsi Penanaman Mangrove di Daerah Rawan Abrasi Jakarta. Jurnal Ilmiah
Nusantara, 1(3), 12�22.
Zakiyah, U., Isdianto,
A., & Mulyanto, K. D. S. (2023). Konservasi Mangrove di Indonesia.
Media Nusa Creative (MNC Publishing).
Zen, F. M., Deni, S.,
Husain, T., Ibrahim, A. H. H., & La Suhu, B. (2023). Implementasi Program
Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Di Kelurahan Rua Kota Ternate (Studi di Balai
Kawasan Konservasi Perairan Daerah). Journal Of Administrative Science-JAS,
1(1), 12�20.