Laporan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Workshop Pembuatan Wayang Kancil : Bahan Kardus Bekas Di� TPA Al-Barokah

 

Ima Novilasari1, Ari Dwi Rahmawati2

Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Indonesia

[email protected], [email protected]

 

Abstrak:

Laporan ini menguraikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk workshop pembuatan Wayang Kancil dari bahan kardus bekas, bertempat di TPA Al-Barokah, Tangkilan, Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Pelestarian budaya lokal dan pengelolaan limbah merupakan isu penting, baik secara global maupun lokal, sehingga workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan seni pembuatan wayang tradisional kepada masyarakat serta memanfaatkan bahan daur ulang. Kegiatan ini melibatkan peserta dari berbagai usia, yang diajarkan teknik dasar pembuatan wayang menggunakan kardus bekas, yang kemudian dikreasikan menjadi Wayang Kancil. Dengan pendekatan kualitatif dan partisipatif, workshop ini juga mengedukasi peserta mengenai pentingnya pengelolaan limbah dan kreativitas dalam memanfaatkan bahan yang tersedia. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme yang tinggi dari peserta, serta dampak nyata dalam memperkuat pelestarian budaya dan peningkatan keterampilan kerajinan tangan. Evaluasi menunjukkan bahwa peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya budaya lokal dan pengelolaan lingkungan. Kontribusi praktis dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pengajar di TPA dalam menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan berkelanjutan.

 

Kata kunci: Workshop, Wayang Kancil, Limbah, Kreativitas Pendidikan

 

Abstract:

This report describes the community service activities carried out in the form of a workshop on making Wayang Kancil from used cardboard materials, located at Al-Barokah Landfill, Tangkilan, Pabelan, Mungkid, Magelang, Central Java. Preservation of local culture and waste management are important issues, both globally and locally, so this workshop aims to introduce the art of traditional puppet making to the community and utilize recycled materials. This activity involved participants of various ages, who were taught the basic techniques of making puppets using used cardboard, which were then created into Wayang Kancil. Using a qualitative and participatory approach, the workshop also educated participants on the importance of waste management and creativity in utilizing available materials. The results of the activity showed high enthusiasm from participants, as well as a real impact in strengthening cultural preservation and improving handicraft skills. The evaluation showed that participants not only gained new skills, but also increased awareness of the importance of local culture and environmental management. The practical contribution of this activity is expected to provide inspiration for teachers in TPA in implementing creative and sustainable learning methods.

 

Keywords: Workshop, Wayang Kancil, Waste, Educational Creativity

Corresponding: Ima Novilasari

E-mail: [email protected]

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah unsur yang penting dalam kehidupan manusia sebagai wujud perkembangan pengetahuan (Aslamiyah & Abun, 2023). Di Indonesia terdapat beberapa jalur pendidikan, yaitu formal, informal dan nonformal. Pendiddikan� idealnya diberikan sejak anak masih kecil, sekaligus sebagai sarana untuk� menanamkan norma-norma kehidupan, dengan harapan suatu saat sang anak dapat meraih cita-cita dengan baik (Habibi & AP, 2015). Lembaga pendidikan nonformal seperti Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) merupakan tempat untuk mendidik anak-anak ytang masih berusia dini untuk mengenal Al-Quran dan ajaran agama Islam, yang bertujuan agar anak-anak memiliki pengetahuan dan wawasan keagamaan sehingga ketika dewasa dapat membentengi dirinya dari penegaruh buruk dalam kehidupan bermasyarakat (Iswanto et al., 2018). Meskipun hanya pendidikan nonformalm namun TPA memiliki tujan yang terarah dan sejalan dengan fungsi dan tujuan yang terdapat di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) yaitu Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, sikap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertaggungjawab (Omeri, 2015). Tujuan itulah yang membuat TPA semakin hari semakin diminati oleh masyarakat khususnya para orang tua yang ingin anaknya memiliki pemahaman yang lebih tentang agama Islam khusunya tentang Al-Quran (Larasati, 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dengan mitra PkM, permasalahan yang dialami dalam kegiatan di TPA Al-Barokah adalah kekurangan pengajar (Ustad dan Ustadzah), sehingga kegiatan ekstrakulikuler yang biasanya dilaksanakan setiap hari Sabtu, sekarang juga ditambahkan pada hari Kamis. Kegiatan ekstrakulikuler yang biasa dilaksanakan diantaranya adalah, mendalami sholat, mewarnai gambar, dan jalan-jalan keliling kampung agar para santri tidak bosan. Kegiatan PKM ini adalah ikut mengisi materi kegiatan ekstrakulikuler yaitu �Workshop membuat wayang kancil menggunakan bahan kardus bekas�. Kegiatan ini merupakan hal baru untuk para santri, sehingga menjadi hal menarik sebagai media pembelajaran. Selain itu, teknik pembuatan wayang kardus ini juga dapat dikembangkan ustad atau ustadzah sebagai media pembelajaran dengan mengangkat tema lain seperti kisah para nabi, sehingga para santri juga semakin antusias dalam kegiatan TPA (Sa�umi, 2018).

Wayang Kancil adalah jenis wayang yang cerita utamanya mengambil dari cerita Kancil, sebuah dongeng yang dipercaya mengandung nilai-nilai dan moral baik untuk anak-anak maupun orang dewasa (Herawati, 2024). Bentuk-bentuk yang ditampilkan juga banyak dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita kancil (Trisnasasti, 2020). Wayang kancil pada dasarnya dapat digunakan sebagai media edukasi atau pembelejaran kepada anak-anak agar selalu mengingat salah satu budaya Indonesia (Krissandi, 2021). Wayang kancil juga sebagai salah satu materi yang terdapat pada perkuliahan khusunya pada Prodi Kriya Kulit.

TPA� Al-Barokah adalah salah satu lembaga pendidikan nonformal jenis keagamaan Islam yang berada di lingkungan Dusun Tangkilan RW 18, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan di TPA Al-Barokah dilaksanakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu, diantaranya mengajarkan anak-anak membaca Iqro�, membaca dan menulis Al-quran, melatih kemampuan membaca do�a-do�a, belajar sholat, dan tembahan kegiata ekstrakulikuler. TPA Al-Barokah dalam kurun waktu trakhir mengalami kekurangan pengajar (Ustad dan Ustadzah), sehingga kegiatan ekstrakulikuler yang biasanya dilaksanakan setiap hari Sabtu, sekarang biasanya juga ditambahkan pada hari Kamis. Kegiatan ekstrakulikuler yang biasa dilaksanakan diantaranya adalah mendalami sholat, mewarnai gambar, dan jalan-jalan keliling kampung agar para santri tidak bosan. Adanya permasalahan dalam kegiatan di TPA tersebut, maka untuk menambah kegiatan� baru Sanggar Sarana Karya berinisiatif untuk memberikan kegiatan yaitu workshop pembuatan Wayang Kancil. Ide tersebut muncul berawal dari keikutsertaan Sanggar Sarana Karya dalam acara Pesta Wayang 2023 yang diadakan oleh Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Salah satu kegiatan Pesta Wayang 2023 diantaranya adalah workshop wayang kontemporer menggunakan bahan kardus bekas dan pagelaran Wayang Kancil oleh Mahasiswa Prodi Kriya Kulit. Sehingga dari dua kegiatan tersebut muncul ide untuk menggabungkan dua esensi dari kegiatan tersebut yaitu, workshop wayang kancil menggunakan bahan kardus bekas dengan mengajukan permohonan narasumber Dosen dan Mahasiswa Prodi Kriya Kulit, kepada Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan hal baru untuk kegiatan ekstrakulikuler para santri TPA Al-Barokah, sehingga akan menjadi hal menarik untuk dilaksanakan kegiatan tersebut. Selain itu mahasiswa Prodi Kriya Kulit juga mendapatkan pengalaman untuk mengelola acaara kegiatan workshop,� sekaligus mengenalkan Wayang Kancil sebagai media pembelajaran di TPA Al- Barokah (Nuraini, 2023). Dari hasil workshop tersebut diharapkan akan menjadi pemantik para santri untuk berkarya dalam bidang seni budaya yang masih dalam lingkup pendidkan keagamaan, karena wayang kulit dalam sejarah juga merupakan salah satu media yang digunakan para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi kegiatan yang berkelanjutan di mana pada awal ini pada tahap perkenalan tentang Wayang Kancil, dan untuk kegiatan selanjutnya ketika para santri sudah memahami struktur, bentuk dan teknik pembuatan Wayang Kancil, maka dapat dilanjutkan untuk lebih dalam membuat wayang fabel dengan tema cerita-cerita dalam Islam.

Tujuan dan manfaat kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi kepada anak-anak agar mereka memahami tentang Wayang Kancil. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang telah mereka peroleh selama perkuliahan, sehingga mereka dapat lebih dikenal di masyarakat. Di samping itu, kegiatan ini memberikan pengalaman kepada pengajar TPA (Ustad/Ustadzah) mengenai pilihan media pembelajaran alternatif, yaitu Wayang Kancil yang terbuat dari bahan kardus.

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini meliputi pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Kegiatan dimulai dengan persiapan, di mana kebutuhan peserta diidentifikasi melalui wawancara dengan pengurus TPA Al-Barokah untuk mengetahui latar belakang dan minat para santri. Selanjutnya, materi workshop disusun, termasuk desain wayang dan teknik pembuatan yang sesuai dengan kelompok usia peserta. Pelaksanaan workshop diawali dengan registrasi peserta dan pembukaan acara, diikuti dengan penjelasan mengenai seni wayang oleh dosen dan mahasiswa, serta demonstrasi cara membuat Wayang Kancil dari kardus bekas. Peserta kemudian terlibat langsung dalam praktik pembuatan wayang dengan bimbingan dari mahasiswa. Setelah kegiatan, evaluasi dilakukan melalui pengamatan untuk menilai tingkat antusiasme peserta dan hasil karya yang dihasilkan. Kuesioner juga dibagikan untuk mengumpulkan feedback mengenai pengalaman peserta selama workshop. Data yang diperoleh dari kuesioner dan observasi dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui efektivitas workshop dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Dengan metode ini, diharapkan dapat mengukur dampak kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta memberikan wawasan baru tentang pelestarian budaya dan kreativitas di kalangan generasi muda.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      MATERI WORKSHOP (DESAIN)

1.       Desain / Tokoh-Tokoh Dalam Wayang Kancil

Materi wokrshop untuk kegiatan PKM ini adalah membuat Wayang Kancil menggunakan media kardus bekas. Tokoh-tokoh yang diangkat menjadi wayang untuk dibuat desain ada 10 tokoh utama dan pendukung suasana yang berkaitan dengan beberapa cerita kancil. Desain dibuat dengan A4 dan beberapa tokoh dibuat untuk bisa digerakkan, dengan desain sebagai berikut :

 

1)     
Pak Tani

Gambar 1 Desain Wayang Pak Tani

(Sumber : Iwan Hidayat,2023)

2)     
Bu Tani

Gambar 2 Desain Wayang Bu Tani

(Sumber : Iwan Hidayat,2023)

 

3)     
Pohon Bambu

Gambar 3 Desain Wayang Pohon Bambu

(Sumber : Iwan Hidayat,2023)

4)      Memedi Sawah


Gambar 4 Desain Wayang Memedi Sawah

(Sumber : Prima Yogya, 2023)

 

5)     
Kurungan

Gambar 5 Desain Wayang Kurungan

(Sumber : Tataik Nur Haryanti, 2023)

6)     
Gajah

Gambar 6 Desain Wayang Gajah

(Sumber : Nuraini, 2023)

 

 

7)      Kancil


Gambar 7 Desain Wayang Kancil

(Sumber : Ima Novilasari, M.Sn)

8)      Anjing


Gambar 8 Desain Wayang Anjing

(Sumber : Sekar Noviantirta, 2023)

9)     
Buaya

Gambar 9 Desain Wayang Buaya

(Sumber : Agung Nugroho, 2023)

10)  
Babi Hutan

Gambar 10 Desain Wayang Babi Hutan

(Sumber : id.pinterest.com)

2.       Alat dan Bahan

������������� Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan wayang kancil menggunakan bahan kardus bekas adalah sebagai berikut :

1)      Kardus bekas

2)      Gunting

3)      Krayon

4)      Solasi kertas ukuran besar

5)      Gapit dan tuding berbahan bambu

6)      Jarum dan benang besar untuk memasang tuding dan bagian sambungan yang bisa digerakkan

7)      Debog dan penyangga untuk menyimping (memajang wayang) hasil workshop (2 set)

8)      Pensil dan spidol

9)      Plastik untuk packing dibawa pulang wayang hasil workshop.

Penggunaan bahan daur ulang ini sejalan dengan upaya untuk mengedukasi peserta mengenai pentingnya pengelolaan limbah, yang merupakan bagian dari pembelajaran berkelanjutan

 

3.       Tahapan / Proses Pembuatan Wayang

Tahapan pembuatan wayang Kancil berbahan kardus bekas untuk workshop ini adalah :

1)      Tahap pertama peserta menjaplak desain pada kardus bekas.

2)      Setelah menjaplak melanjutkan dengan mewarnai sesui keinginan peserta dan diarahkan atau dibantu oleh mahasiswa tentang cara mewarni yang baik dan benar.

3)      Setelah diwarnai, dilanjutkan memotong menggunakan gunting.

4)      Memasang gapit menggunakan solasi kertas ukuran besar

5)      Memasang tuding menggunakan jarum dan benang besar pada bagian-bagian yang bisa digerakkan

6)      Menyimping (memajang wayang) hasil workshop pada debog yang sudah disiapkan

Menurut Krissandi (2021), kegiatan seni seperti ini dapat meningkatkan motivasi belajar anak, karena mereka terlibat aktif dalam pengalaman kreatif yang menyenangkan.

 

B.      HASIL KEGIATAN

������������� Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini yang pertama (workshop) dilaksanakan di Gedung RW 18, Dusun Tangkilan, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang sebagai tempat pelaksanaan kegiatan TPA Al-Barokah. Kegiatan kedua (apresiasi dan pemutaran video pementasan wayang kancil) di Sanggar Sarana� Karya yang letaknya dibelakang Gedung RW 18. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah 40 santri TPA dan didampingi 2 pengurus TPA Al-Barokah. Metode yang digunakan adalah ceramah dan demonstrasi, serta tanya jawab antara peserta dan narasumber. Secara lengkap terbagi menjadi 3 kegiatan sebagai berikut :

1.       PERSIAPAN WORKSHOP

������������� Sebelum melaksankan workshop Dosen dan mahasiswa melaksanakan persiapan terlebih dahulu terkait kebutuhan yang akan digunakan, diantaranya persiapan desain, memasang banner workshop, mempersiapkan debog untuk memajang contoh wayang kancil karya mahasiswa dan debog memajang wayang hasil workshop, menyiapkan soundsystem, dan LCD Proyektor untuk pemutaran video pagelaran wayang kancil (Winarsih & Martani, 2018).

 

Gambar 11 Persiapan desain untuk workshop

(Foto : Nia, Magelang, 29 November 2023)

2.       PELAKSANAAN WORKSHOP MEMBUAT WAYANG KANCIL

������������� Kegiatan pertama adalah workshop dilaksanakan di Gedung RW 18, Dusun Tangkilan, Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Sebelum pemberian materi workshop, pada pukul 14.00 WIB peserta melakukan registrasi yang telah disiapkan oleh tim terlebih dahulu. Kemudian dengan dilakukan acara pembukaan dipandu oleh MC dari mahasiswa yaitu Sekar Noviantirta dan Singgih Catur Angga. Diawali pidato sambutan oleh Ketua P3MP Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta yaitu Ari Dwi Rahmawati, M.Pd, dan pemaparan singkat tentang wayang kancil dan wayang kancil dari kardus bekas oleh Ketua Tim Pkm yaitu Ima Novilasari, M.Sn. Tahap pelakasanaan workshop sebagai berikut :

Gambar 12 Peserta melakukan registrasi

(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)

1)      Mahasiswa membagikan� kardus bekas dan desain wayang kancil kepada para peserta workshop berdasarkan tingkat kesulitan. Desain dengan bentuk sederhana diberikan kepada peserta kelas 1-2 TPA, sedangkan desain� dengan bentuk rumit diberikan kepada peserta kelas 3 TPA.

Gambar 13 Mahasiswa membagikan kertas desain

(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)

2)     
Para peserta menjaplak desain pada kardus bekas, dibantu para mahasiswa jika ada yang mengalami kesulitan.

Gambar 14 Peserta menjaplak desain


(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)

3)      Setelah selesai menjaplak dilanjutkan dengan mewarnai gambar hasil japlak menggunakan krayon atau spidol sesuai keinginan peserta, namun mahasiswa juga memberikan pengarahan tentang pemilihan warna dan cara mewarnai yang baik.

Gambar 15 Peserta mewarnai gambar hasil japlak

(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)

4)      Setelah selesai mewarnai, dilanjutkan dengan menggunting bagian tepi garis sesuai desain.

5)      Dilanjutkan pada tahapan pemasangan gapit dan tuding dari bambu yang dibantu oleh para mahasiswa, dan wayang kardus telah selesai dibuat.

6)      Sambil menunggu wayang kardus selesai digapit, dosen dan mahasiswa juga memberikan sedikit pemaparan atau penjelasan tentang wayang kancil asli, mulai dari bahan, proses pembuatan, dan nama-nama tokoh yang digunakan sebagai contoh. Selain itu, untuk memantik ketertarikan peserta, salah satu mahasiswa juga memberikan contoh cara memainkan atau mendalang wayang kancil, sehingga para peserta menjadi semakin antusias. Setelah itu, juga diberikan waktu untuk tanya jawab antara peserta dan narasumber.

7)      Tahap terakhir adalah menyimping atau memajang karya pada gedebok yang telah disediakan sebagai wujud keberhasilan peserta telah menyelesaikan pembuatan wayang kancil dari kardus bekas.

 

 


Gambar 16 Foto Tim PkM Bersama Santri TPA Al-Barokah


(Foto : Ana, Magelang, 29 November 2023)

Gambar 17 Foto Tim PkM Bersama Pengurus TPA Al-Barokah

(Foto : Mikaila, Magelang, 29 November 2023)

3.       PEMUTARAN VIDEO WAYANG KANCIL & APRESIASI HASIL WORKSHOP

������������� Kegiatan kedua adalah pemutaran video wayang kancil dan apresiasi hasil workshop yang bertempat di Sanggar Sarana Karya, pada pukul 18.30 WIB. Pemutaran video kancil bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para peserta tentang seperti pementasan wayang kancil yang sesungguhnya yang lengkap dengan iringan musik gamelan. Pada kegiatan ini meskipun dilaksanaknan pada malam hari namun tetap lengkap dihadiri oleh seluruh peserta workshop TPA Al-Barokah dan juga dihadiri oleh beberapa orang tua wali dari peserta dan masayarakat sekitar yang penasaran dengan wayang kancil (Ibda, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa setelah para peserta mengikuti kegiatan workshop, secara tidak langsung dapat menerima dengan baik dan antusias sehingga masih tertarik untuk mengikuti kegiatan berikutnya yaitu pemutaran video wayang kancil.


Gambar 18 Kegiatan pemutaran video wayang kancil

(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)


Gambar 19 Orang tua santri ikut kegiatan pemutaran video wayang kancil

(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)


������������� Selain pemutaran video, dilanjutkan dengan kegiatan apresiasi kepada peserta workshop sebagai hasil karya terbaik wayang kardus dari kualitas pewarnaan. Hal ini bertujuan agar para peserta lebih semangat lagi untuk membuat wayang kancil (Suryanto & Waluyo, 2017). Hasil karya wayang kardus setelah selesai acara selanjutnya dibawa pulang masing-masing peserta agar dapat digunakan sebagai referensi media pembelajaran di TPA Al-Barokah.

Gambar 20 Kegiatan apresiasi hasil karya workshop

(Foto : Qorib, Magelang, 29 November 2023)


Gambar 21 Kegiatan apresiasi hasil karya workshop

(Foto : Nia, Magelang, 29 November 2023)

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil dilaksanakan di Gedung RW 18, Dusun Tangkilan, dengan jumlah peserta mencapai 40 santri yang didampingi oleh dua pengurus TPA Al-Barokah (Imam, 2021). Metode yang digunakan terdiri dari ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab antara peserta dan narasumber. Kegiatan dibagi menjadi tiga bagian, dimulai dengan persiapan yang meliputi identifikasi kebutuhan dan penyusunan desain (Rakhmanina, Melati, Masitah, & Marita, 2024). Pelaksanaan workshop dimulai dengan registrasi, diikuti dengan pembukaan acara dan pemaparan tentang Wayang Kancil. Para peserta kemudian diajarkan cara menjaplak desain pada kardus bekas, mewarnai, dan merakit wayang dengan bimbingan mahasiswa. Setelah selesai, karya peserta dipajang sebagai wujud keberhasilan mereka. Kegiatan kedua berupa pemutaran video pementasan Wayang Kancil di Sanggar Sarana Karya, yang dihadiri oleh seluruh peserta serta beberapa orang tua wali dan masyarakat sekitar, menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap seni wayang. Selain itu, apresiasi diberikan kepada peserta dengan hasil karya terbaik, sehingga memotivasi mereka untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan selanjutnya. Secara keseluruhan, evaluasi menunjukkan dampak positif dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta serta minat mereka terhadap seni budaya.

 

KESIMPULAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui workshop pembuatan Wayang Kancil dari bahan kardus bekas berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pertama, workshop ini berhasil memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai seni dan budaya Wayang Kancil, sehingga mereka dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Kedua, mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini memperoleh pengalaman praktis dalam mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang mereka pelajari di bangku kuliah, serta meningkatkan keterlibatan mereka di masyarakat. Ketiga, pengajar TPA (Ustad/Ustadzah) mendapatkan wawasan baru tentang penggunaan media pembelajaran alternatif, yaitu Wayang Kancil berbahan kardus, yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar di TPA. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada pelestarian budaya, tetapi juga pada peningkatan kreativitas dan kesadaran lingkungan di kalangan peserta.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aslamiyah, Nurul, & Abun, Rifai. (2023). Profesionalisme guru sebuah tuntutan dalam era perubahan sebagai wujud penguatan manajemen pendidikan islam. At-Tajdid: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam, 7(1), 12�24.

Habibi, Muhammad Mujtaba, & AP, M. (2015). Revolusi Pendidikan Karakter Bangsa.

Herawati, Nanik. (2024). Persuasi Dan Janturan Dalam Pertunjukan Wayang Purwa. Prosiding Seminar Nasional Dan Internasional HISKI, 1, 120�137.

Ibda, Hamidulloh. (2017). Media Pembelajaran berbasis Wayang: Konsep dan Aplikasi. CV. Pilar Nusantara.

Imam, Subiyakto. (2021). Manajemen Pendidikan Karakter Di Pesantren Al-Barokah Wal Khoir Pakujati Paguyangan Brebes. UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri.

Iswanto, Agus, Oetomo, Setyo Boedi, Noviani, Nur Laili, Khalim, Samidi, Atmanto, Nugroho Eko, & Rachmadani, Arnis. (2018). Literasi Al-Quran Siswa Smp Di Jawa Timur. Suhuf, 11(1), 1�28.

Krissandi, Apri Damai Sagita. (2021). Sastra Anak Indonesia. Sanata Dharma University Press.

Larasati, Husna Ayu. (2020). Peran Masyarakat Dalam Peningkatan Baca Tulis Alquran Di Tpa Mta 3 Nu Santren Di Dusun Santren, Muntilan, Magelang.

Nuraini, Dwi. (2023). Manajemen Strategi dalam Meningkatkan Karakter Disiplin Santri di Pondok Pesantren Al-Barokah Ponorogo. IAIN Ponorogo.

Omeri, Nopan. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Manajer Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana, 9(3).

Rakhmanina, Lisa, Melati, Melati, Masitah, Siti, & Marita, Yosi. (2024). Workshop Penulisan Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru Sman 1 Kota Bengkulu: Dalam Kegiatan Pengabdian Masyarakat. Proficio, 5(1), 344�350.

Sa�umi, Suci. (2018). Implementasi Kurikulum Mandiri Terpadu di Pondok Pesantren Pendidikan Islam (PPPI) Miftahussalam Banyumas. IAIN Purwokerto.

Suryanto, Edy, & Waluyo, Budi. (2017). Pembelajaran apresiasi cerita rakyat bermedia wayang kancil. Indonesian Language Education and Literature, 3(1), 66�78.

Trisnasasti, Ajeng. (2020). Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Nusantara. Journal of Language Learning and Research, 3(2), 99�106.

Winarsih, Tri, & Martani, Wisjnu. (2018). Storytelling using wayang kancil to enhance the understanding of prosocial behavior for preschool children. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 4(1).