UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS SANTRI HUSADA SEBAGAI PEER-EDUCATOR PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI PONDOK PESANTREN NURUL ULUM PUTRI KOTA MALANG

 

Ardhiyanti Puspita Ratna1, Tisnalia Merdya Andyastanti2, Karina Nilasari3, Hilma Tsurayya4

Universitas Negeri Malang, Indonesia

[email protected]

Abstrak:

Penyakit menular seperti skabies, konjungtivitis, flu, dan TBC merupakan permasalahan kesehatan yang kerap terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri Kota Malang. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman santri mengenai cara pencegahan penyakit dan belum optimalnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader Santri Husada sebagai pendidik sebaya dalam pencegahan penyakit menular. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang meliputi tahapan identifikasi masalah, pelatihan, aksi lapangan, serta evaluasi berkelanjutan. Sebanyak 52 Santri Husada diberikan pelatihan kesehatan melalui metode diskusi kelompok dan praktek lapangan selama empat bulan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan kader Santri Husada, dengan rata-rata nilai pengetahuan naik dari 60,87 sebelum pelatihan menjadi 82,31 setelah pelatihan. Selain itu, terjadi perubahan sikap positif, di mana persentase santri yang mendukung peran PHBS meningkat menjadi 63% dan sangat mendukung 29%. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan peer educator efektif dalam mempromosikan kesehatan di lingkungan pesantren dan dapat diadopsi sebagai model pemberdayaan kesehatan di pesantren lainnya di Indonesia.

 

Kata kunciSantri husada; peer educator; pencegahan penyakitpromosi Kesehatan; penyakit menularpondok pesantren

 

Abstract:

Infectious diseases such as scabies, conjunctivitis, flu, and tuberculosis are health problems that often occur in the Nurul Ulum Putri Islamic Boarding School in Malang City. This is due to the lack of understanding of students regarding how to prevent diseases and the less than optimal implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). To overcome this problem, this study aims to improve the capacity of Santri Husada cadres as peer educators in preventing infectious diseases. This study uses a quantitative method that includes the stages of problem identification, training, field action, and ongoing evaluation. A total of 52 Santri Husada were given health training through group discussion methods and field practice for four months. The results of the study showed a significant increase in the knowledge of Santri Husada cadres, with an average knowledge score increasing from 60.87 before training to 82.31 after training. In addition, there was a change in positive attitudes, where the percentage of students who supported the role of PHBS increased to 63% and strongly supported 29%. The implications of this study indicate that the peer educator approach is effective in promoting health in the Islamic boarding school environment and can be adopted as a model for health empowerment in other Islamic boarding schools in Indonesia.

 

Keywords: Husada students; peer educator; disease prevention; health promotion; infectious diseases; Islamic boarding school������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������

 

 

Corresponding: Ardhiyanti Puspita Ratna

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan lembaga pendidikan di Indonesia yang khas karena ciri budaya, lembaga, dan cara pembelajarannya, selain itu pondok pesantren menjadi basis pendidikan agama di masyarakat, yang juga menjadi pusat perkembangan sosiokultural terutama pada lingkungan sekitar pesantren (Setiawan et al., 2020). Kementerian Agama (Kemenag) mencatat, jumlah pesantren di Indonesia sebanyak 27 ribu unit pada tahun 2022. Seluruh pesantren itu mendidik hampir 3 juta santri. Menurut provinsinya, jumlah pesantren paling banyak di Jawa Barat, yakni 8.343 unit. Posisi kedua ditempati Banten dengan 4.579 pesantren, kemudian di Jawa timur terdapat 4.452 pesantren (Mas�ud, 2023).

Pondok pesantren sebagai bagian dari masyarakat perlu mengembangkan upaya dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk meningkatkan derajat kesehatan, terutama para santrinya sebagai generasi penerus bangsa. Hasil inspeksi sanitasi di pondok pesantren, yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan selama kurun waktu 2006 - 2013 menunjukkan bahwa 50% pondok pesantren tergolong kategorisedang�, yang berarti terdapat 40% - 95% faktor resiko timbulnya masalah kesehatan (Azizah et al., 2018). Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pesantren masih rentan dalam masalah higienitas dan sanitasi lingkungan.

Penyakit yang banyak dijumpai di lingkungan pesatren adalah penyakit menular berbasis lingkungan seperti Tuberculosis (TBC), Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), diare, penyakit kulit, penyakit mata dan sebagainya. Faktor resiko yang menimbulkan masalah kesehatan tersebut adalah masalah higienitas, sanitasi, ruangan, dan bangunan serta perilaku masyarakat di ponpes (Setiawan et al., 2020). Berbagai hasil penelitian menunjukkan secara umum di berbagai ponpes di Indonesia masih memerlukan upaya peningkatan kesehatan individu baik santri maupun pengasuh pondok pesantren serta masalah kesehatan lingkungan. Selain itu perlu dilakukan peningkatan upaya pemberdayaan kesehatan di kalangan santri (Rosya1 et al., 2021).

Pondok Pesantren merupakan wahana pendidikan, yang juga berperan sebagai tempat tinggal, belajar, dan berkembang bagi anak-anak di Indonesia (Mulyadi et al., 2020). Ponpes memainkan peran penting dalam promosi kesehatan dalam masyarakat dengan menyediakan lingkungan terstruktur yang mengintegrasikan pendidikan dan praktik kesehatan ke dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga pendidikan ini berfungsi sebagai lingkungan penerapan perilaku dan intervensi yang mempromosikan kesehatan yang dapat memiliki dampak yang lebih luas pada para santri dan pada akhirnya akan berpengaruh juga pada kondisi kesehatan masyarakat (Indriati et al., 2019).

Pemberdayaan masyarakat di Pondok Pesantren merupakan upaya agar warga pondok pesantren mengenal masalah yang dihadapi, merencanakan dan melakukan upaya pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan setempat. Salah satu wujud pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan atau Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) adalah Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).

Kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan Poskestren, lebih diutamakan dalam hal pelayanan promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan), tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan), yang dilandasi semangat gotong royong dengan pembinaan oleh Puskesmas setempat (Sari, 2022). Sayangnya para santri belum memiliki perilaku dan sikap yang baik tentang proses penularan penyakit, sehingga mereka terkesan mewajarkan bila terjadi penyebaran penyakit. Literasi kesehatan yang terbatas mengakibatkan santri memiliki perilaku kesehatan berdasar mitos dan kebiasaan. Informasi mengenai kesehatan yang benar cukup terbatas dan belum terinternalisasi secara efektif dalam keseharian (Natassa et al., 2022).

Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri merupakan salah satu ponpes di Kota Malang yang berdiri sejak tahun 1967. Saat ini Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri memiliki santri sebanyak lebih dari 600 orang dengan rentang usia 12-25 tahun. Di sinipara santri tidak hanya mempelajari ilmu agama Islam melalui kegiatan Madrasah Diniyah, tetapi juga mengenyam pendidikan formal di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Untuk mengatasi permasalahan kesehatan santri, Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri mempunyai unit pelayanan kesehatan santri, Puskestren Asy-syifa yang berdiri sejak tahun 2008, yang memberi pelayanan oleh tenaga kesehatan profesional pada santri yang memiliki masalah kesehatan.

Pada tahun 2018 juga dibentuk program kaderisasi Santri Husada, yang mengacu pada program Pos Kesehatan Pesantren Dinas Kesehatan Kota Malang. Santri Husada awalnya diharapkan dapat menjadi garda terdepan kesehatan pesantren yang mengutamakan aspek preventif dibanding kuratif. Namun dalam pelaksanaannya, para Santri Husada lebih berperan sebagaiperawatbagi santri yang sakit, seperti mengantarkan ke fasilitas kesehatan, mengambilkan obat, mengambilkan makan dan lainnya.

Kondisi ini agak menyimpang dari tujuan awal dibentuknya Santri Husada yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam promosi kesehatan. Hal ini disebabkan karena tidak ada pelatihan dan pengarahan yang dilakukan secara rutin oleh pihak terkait. Kurangnya pemahaman akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di pesantren berimplikasi signifikan pada kesehatan santri. Tanpa pemahaman yang memadai tentang praktik kebersihan dasar, santri rentan terhadap penyakit menular yang mudah tersebar di lingkungan asrama yang padat. Kondisi sanitasi yang terbatas, bersama dengan perilaku higienitas yang kurang, meningkatkan risiko penyakit seperti skabies, konjungtivitis, flu, dan bahkan TBC. Risiko ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih terstruktur dalam pendidikan PHBS bagi santri.

Ketika pendidikan kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik, pesantren berisiko mengalami peningkatan kasus penyakit menular. Ini dapat mengakibatkan gangguan pada aktivitas belajar dan ibadah santri serta beban tambahan pada fasilitas kesehatan pesantren. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa penyakit seperti ISPA dan penyakit kulit sangat umum di pesantren yang memiliki tingkat PHBS rendah, sehingga penanganan kesehatan yang preventif menjadi krusial.

Berdasarkan masalah yang teridentifikasi tersebut kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kapasitas Santri Husada Ponpes Nurul Ulum Putri Kota Malang sebagai peer educator dalam pencegahan penyakit menular. Penelitian ini menawarkan solusi yang berbeda, di mana santri dilatih untuk menjadi pendidik sebaya dalam promosi Kesehatan serta memberikan kesempatan bagi santri untuk saling mendukung dalam menjaga kesehatan lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menutup kesenjangan dalam literatur dengan menunjukkan efektivitas pendekatan ini, yang berbeda dengan metode konvensional yang lebih mengandalkan tenaga kesehatan eksternal.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas santri sebagai pendidik sebaya dalam pencegahan penyakit menular di lingkungan pondok pesantren. Dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri di Kota Malang, penelitian ini berfokus pada pemahaman menyeluruh mengenai tantangan kesehatan di pesantren, terutama terkait perilaku dan sikap santri mengenai kesehatan. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama rentang waktu empat bulan, sehingga memungkinkan adanya penilaian perkembangan dan evaluasi berkelanjutan dalam setiap tahap kegiatan.

 

Identifikasi Masalah Dan Koordinasi Dengan Mitra

Koordinasi ini dilakukan dengan melibatkan mitra, yaitu pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri Malang untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang dihadapi mitra, kemudian membahas mekanisme kolaborasi program dan penentuan waktu serta jumlah peserta yang terlibat dalam pengabdian masyarakat ini. Koordinasi ini juga mencakup persiapan tempat dan fasilitas untuk pengabdian masyarakat.

 

Penyusunan Modul Dan Desain Instruksional Pelatihan

Sebelum melakukan pelatihan, tim pengabdian masyarakat akan menyusun modul dan desain instruksional pelathan. Tujuan kegiatan ini agar pelatihan dapat terlaksana dengan terencana dan baik. Melalui penyusunan modul dan desain operasional yang terstandar diharapkan tujuan, metode dan materi pelatihan dapat tersampaikan secara maksimal, agar target program dapat tercapai.

 

Orientasi Santri Husada

Sebelum masuk kepada kegiatan utama, para santri husada diberikan orientasi mengenai pelatihan yang akan diikuti termasuk juga perkenalan, menyampaikan tujuan pelatihan, dan harapan dari masing-masing pihak. Pada orientasi ini juga dilakukan pretest untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari santri husada tentang tugas dan fungsi santri husada, pengetahuan umum tentang beberapa jenis penyakit menular dan penerapan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kegiatan ini dilakukan sebelum melakukan pelatihan.

 

Peningkatan Literasi Kesehatan Mengenai Promosi Kesehatan Dan Komunikasi Efektif Pada Santri Husada

Kegiatan peningkatan literasi kesehatan mengenai pencegahan penyakit menular bagi santri husada ini dilakukan dengan konsep pelatihan yang menyenangkan, interaktif dan kolaboratif. Dengan kegiatan ini, Santri Husada diharapkan dapat meningkatkan persepsi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap mengenai pencegahan penyakit menular di pondok pesantren. Capaian peningkatan literasi ini juga dievaluasi secara terukur, sebagai acuan untuk pelaksanaan tahap selanjutnya.

 

Pelatihan Peer Educator Bagi Santri Husada Dengan Metode Role Play

Setelah kemampuan literasi kesehatan dan pemahaman komunikasi meningkat, maka dilanjutkan dengan pelatihan peer educator. Pada kegiatan ini santri husada akan dibekali dengan tips dan trik dalam melakukan promosi kesehatan kepada santri. Pelatihan ketrampilan ini berbasis praktek dan studi kasus, sebelum para santri husada melakukan praktek lapangan.

 

Aksi Santri Husada

Setelah mendapatkan pelatihan, santri husada akan mulai berproses menjadi peer educator bagi teman-teman sejawatnya. Aksi Santri Husada ini dilaksanakan selama 3 bulan dengan pendampingan dari Tim. Terdapat log book yang akan menjadi bukti pelaporan capaian, temuan masalah dan komunikasi antara santri husada sebagai peer educator dengan tim pendamping.

 

Monitoring Dan Evaluasi

Monitoring dan Evaluasi dari tim pengabdian kepada masyarakat akan dilakukan setiap bulan sekali dengan tujuan untuk mendampingi pelaksanaan Aksi Santri Husada, mengevaluasi target dan capaian, serta mengidentifikasi masalah yang muncul selama pelaksanaan program. Pada akhir tahap ini juga dilakukan postest untuk mengukur capaian peserta program secara kuantitatif. Selain itu evaluasi juga dilakukan antar sesama santri husada untuk mengimplementasikan kaidah peer assesment, dengan menilai kegiatan harian dan temuan-temuan kasus yang direkam dalam log book.

 

Pendekatan Terstruktur

Strategi yang dirancang dalam penelitian ini memiliki pendekatan terstruktur yang memastikan setiap tahapan penelitian berjalan sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Langkah pertama melibatkan pengidentifikasian masalah kesehatan utama yang dihadapi para santri. Ini dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak pondok pesantren dan mengumpulkan data mengenai kebiasaan hidup santri sehari-hari serta insiden penyakit menular yang sering terjadi di lingkungan pondok.

Selanjutnya, dilakukan tahapan persiapan berupa pengembangan materi pelatihan yang disusun khusus sesuai dengan karakteristik peserta, yakni para santri yang menjadi sasaran pengembangan. Materi ini mencakup informasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, teknik pencegahan penyakit menular, serta strategi komunikasi efektif sebagai pendidik sebaya. Pengembangan materi ini melibatkan sejumlah ahli kesehatan serta tenaga pendidikan yang berpengalaman dalam bidang promosi kesehatan.

 

Populasi dan Partisipasi Aktif Santri

Populasi penelitian ini mencakup seluruh santri yang tergabung dalam kelompok kader Santri Husada di Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri, dengan jumlah total sekitar 52 peserta. Partisipasi aktif dari santri Husada ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan di kalangan santri lainnya. Strategi ini difokuskan agar peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara langsung dalam peran mereka sebagai pendidik sebaya di pesantren.

 

Instrumen dan Evaluasi Terukur

Untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan berjalan sesuai tujuan, penelitian ini menggunakan berbagai instrumen sebagai alat ukur. Meskipun instrumen tersebut tidak dijelaskan secara spesifik, tetapi strategi utamanya mencakup evaluasi berkelanjutan yang terintegrasi dalam setiap tahapan kegiatan, dari mulai pretest, posttest, hingga sesi pemantauan dan penilaian dampak setelah pelatihan selesai. Strategi ini membantu peneliti untuk memperoleh data yang akurat mengenai perkembangan kemampuan santri serta perubahan sikap mereka terhadap kesehatan di lingkungan pesantren.

 

Siklus Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan

Penelitian ini menggunakan siklus evaluasi yang dilakukan setiap bulan selama pelaksanaan kegiatan. Evaluasi ini mencakup aspek keterampilan, pengetahuan, dan sikap santri terhadap perilaku hidup sehat. Setiap perkembangan dievaluasi dan diolah untuk menyusun rekomendasi yang tepat bagi peserta. Selain itu, terdapat sesi peer assessment di mana santri Husada melakukan evaluasi terhadap rekan sejawat mereka, yang dilakukan sebagai bentuk penilaian kolektif dan peningkatan kemampuan reflektif di antara peserta.

Selama kegiatan pelatihan berlangsung, penerapan pembelajaran interaktif diterapkan untuk meningkatkan antusiasme dan keterlibatan peserta dalam setiap tahapan pelatihan. Penggunaan sesi diskusi, simulasi kasus, dan praktek langsung dirancang agar peserta mampu memahami materi dengan baik serta dapat mengaplikasikannya dalam situasi nyata di pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan perubahan yang signifikan tidak hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari aspek sikap dan perilaku, yang pada akhirnya diharapkan mampu mengurangi insiden penyakit menular di lingkungan pondok pesantren.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan peningkatan kapasitas santri husada ini merupakan bentuk implementasi dari Tridarma Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh kelompok pengabdian dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Kegiatan ini berlangsung mulai bulan Juli sampai Oktober dengan melibatkan peserta sebanyak 52 orang santri dengan rentang usia 15-17 tahun. Para santri husada ini dipilih sesuai dengan kaidah jumlah kader adalah 10% dari populasi yang ada.

Pada kegiatan yang berlangsung selama bulan Juli-Oktober ini dilakukan identifikasi masalah, pengukuran tingkat pengetahuan dan sikap awal para santri husada terhadap peran dan tugas kader santri husada, pemahaman masalah kesehatan di lingkungan ponpes, pencegahan dan identifikasi masalah kesehatan berupa penyakit menular di lingkungan ponpes, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah dan komunikasi efektif dengan pretes tertulis yang terdiri dari 25 butir pertanyaan, selanjutnya dilakukan pemberian materi oleh tim pengabdian yang merupakan praktisi medis dan pengajar di FIK UM. Peserta juga mendapat sesi latihan kasus untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam menunjang perannya sebagai santri husada. Selanjutnya para peserta melaksanakan aksi santri husada dan mencatat temuan dan kegiatannya di log book yang kemudian divalidasi oleh sesama santri husada dan tim pengabdian. Di akhir kegiatan yaitu pada bulan ketiga dilakukan monitoring dan evaluasi, peserta akan dinilai menggunakan pretes tertulis untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikapnya.

Berdasarkan hasil pretes yang dilakukan kepada 52 orang responden yang menilai tingkat pengetahuan santri husada tentang peran dan tugas kader santri husada, pemahaman masalah kesehatan di lingkungan ponpes, pencegahan dan identifikasi masalah kesehatan berupa penyakit menular di lingkungan ponpes, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah dan komunikasi efektif, diperoleh hasil nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 15, sehingga didapatkan nilai rata-rata sebesar 60,87�14,4. Setelah 12 minggu, dilakukan pengujian kembali dengan dilakukan post test yang menilai pengetahuan, diperoleh peningkatan pengetahuan dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 55, dengan nilai rata-rata 82,31�10,91.

Hasil pretest dan posttest menunjukkan bahwa pelatihan dengan metode Forum Group Discussion (FGD) berperan dalam meningkatkan pengetahuan para kader santri husada. Hasil uji paired T test juga menunjukkan P=0,000 (P<0,05) yang menunjukkan adanya pengaruh peningkatan rata-rata pengetahuan disajikan dalam grafik di bawah ini.

 

Gambar 5. Grafik hasil pengukuran pengetahuan santri husada

 

Pelatihan dalam bentuk penyuluhan materi dan Forum Group Discussion (FGD) dapat meningkatkan nilai pengetahuan responden karena memberikan lingkungan belajar interaktif dan sumber daya praktis. Ekstensi materi, yang mencakup alat dan sumber daya langsung, memungkinkan responden terlibat langsung dengan materi, meningkatkan pemahaman mereka, dan mempertahankan informasi (Timiyatun et al, 2021). Metode ini juga memungkinkan responden melakukan diskusi tentang situasi dunia nyata, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan pemikiran kritis (Sari, 2022),

Pelatihan telah terbukti bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan spesifik sesuai dengan topik yang diajarkan. Berbagai metode pelatihan, seperti bermain peran, diskusi kelompok, ceramah interaktif, dan simulasi, efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta (Alhidayatullah et al., 2023). Dengan menggabungkan metode ini, peserta dapat mempelajari materi dari berbagai sudut pandang dan mendapatkan pemahaman baru (Nurjanah et al, 2023). Kondisi tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini dimana setelah dilakukan pelatihan dengan penggabungan metode ceramah, diskusi interaktif, diskusi kasus dan praktek berkelompok, didapatkan peningkatan signifikan terhadap tingkat pengetahuan santri husada di ponpes Nurul Ulum putri Kota Malang.

Selain dilakukan evaluasi tingkat pengetahuan terkait masalah kesehatan di lingkungan ponpes, para santri husada juga diharapkan mendapatkan perubahan sikap sebagai kader promosi kesehatan. Seperti diketahui pada saat identifikasi masalah oleh tim, para santri husada ini umumnya belum mengetahui tugas dan fungsinya serta kurang literasi terhadap masalah kesehatan dan langkah penerapan PHBS sebagai pencegahan efektif penyakit menular. Dari hasil evaluasi sikap diperoleh hasil pretes yaitu dari 52 responden 33% (17 orang) menunjukkan sikap tidak mendukung peran santri husada dan penerapan PHBS, 59 % (31 orang) mendukung dan sisanya sebanyak 8% (4 orang bersikap sangat mendukung.

Setelah mendapatkan pelatihan, penerapan aksi langsung dan pendampingan, terdapat perubahan signifikan dimana jumlah santri husada yang bersikan tidak mendukung turun menjadi 8% (4 orang) saja, sebanyak 63% (33 orang) mendukung dan sikap sangat mendukung naik menjadi 29 % (15 orang). Hal ini menunjukkan adanya perubahan sikap positif dari para kader santri husada untuk menerapkan tugasnya sebagai kader promosi kesehatan dan menerapkan PHBS di lingkungan pesantren. Grafik evaluasi sikap disajikan pada gambar 6.

 

Gambar 6. Grafik hasil evaluasi sikap santri husada

 

Dengan memberikan pelatihan melalui materi pelatihan dan forum diskusi kelompok, perspektif seseorang secara signifikan ditingkatkan. Studi menunjukkan bahwa ekstensi materi memberikan pengalaman praktis dan langsung, yang dapat menyebabkan pemahaman yang lebih baik dan sikap yang lebih positif terhadap pelajaran karena orang merasa lebih terampil dan terdidik . Diskusi grup Forum juga memungkinkan peserta bekerja sama dan berbagi pandangan dan pengalaman mereka. Ini telah terbukti meningkatkan keinginan untuk menerima ide-ide baru dan juga mengurangi keengganan (Borzou et al., 2020).

Pelatihan interaktif juga mendorong pemikiran kritis dan refleksi, yang memungkinkan orang untuk mempertimbangkan kembali keyakinan dan pendapat mereka tentang hal-hal baru yang mereka temukan selama pelatihan dan diskusi (Rahmati et al., 2020). Metode ini membantu pemahaman yang lebih baik dan membentuk kelompok pendukung, yang sangat penting untuk perubahan sikap. Akibatnya, menggabungkan materi ekstensi dengan diskusi kelompok secara efektif mengubah sikap dengan meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan rasa keterlibatan yang dapat berpengaruh pada perubahan sikap (Fidianingsih, 2020). Hal tersebut sejalan dengan hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian ini, dimana setelah dilakukan peningkatan literasi dan implementasi peran santri husada diketahui terdapat perubahan sikap mendukung peran promotif santri husada dan penerapan PHBS di lingkungan pesantren.

Peer educator atau pendidik sebaya sendiri adalah metode promosi kesehatan dimana anggota dari suatu kelompok sebaya dilatih untuk memberikan edukasi dan dukungan kepada teman-teman sebayanya.Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa remaja dan dewasa muda cenderung lebih mudah menerima informasi dan pengaruh dari teman sebayanya dibandingkan dari orang dewasa atau tenaga kesehatan (Fanaqi et al., 2020). Pendekatan peer ini dinilai cukup efektif karena umumnya siswa merasa lebih nyaman dan terbuka untuk berbicara dengan teman sebaya daripada dengan guru atau orang yang lebih tua. Selain itu usia remaja memiliki kecenderungan mencari role model, terutama dari lingkungan sekitar, sehingga pendekatan ini cukup efektif terutama untuk mempromosikan perilaku dan sikap kesehatan di kalangan remaja (Indah N et al, 2023).

Santri husada berperan sebagai kader kesehatan di lingkungan pesantren dan menyebarkan informasi tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada santri lainnya. Mereka juga dapat memberikan edukasi dan penyuluhan kesehatan kepada warga pesantren, sehingga pengetahuan dan sikap yang cukup tentang perilaku sehat sangat penting (Abidin, 2023). Santri husada dapat berinteraksi dengan baik dan diterima oleh santri lain untuk menerapkan gaya hidup sehat di pesantren. Mereka dapat berfungsi sebagai model dan inspirasi bagi santri lainnya. Melalui edukasi dan pemantauan pelaksanaan PHBS oleh santri, santri husada dapat membantu upaya pencegahan penyakit di pesantren (Nurlita et al., 2022). Dengan peran-peran tersebut, santri husada sangat strategis untuk mendorong gaya hidup sehat di pesantren. Mereka adalah bagian penting dari upaya untuk meningkatkan kesehatan di lingkungan pesantren dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara luas (Sari, 2022).

 

KESIMPULAN

Pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada kader Santri Husada sebagai pendidik sebaya telah berhasil meningkatkan kapasitas mereka dalam pencegahan penyakit menular di Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri, Kota Malang. Melalui serangkaian tahapan mulai dari identifikasi masalah, pelatihan, praktik lapangan, hingga evaluasi berkelanjutan, Santri Husada berhasil memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mempromosikan kesehatan serta perubahan sikap yang lebih positif terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan program promosi kesehatan berbasis pesantren dan menyarankan bahwa pelatihan kader kesehatan di lingkungan pesantren perlu dijadikan program berkelanjutan. Dengan demikian, diharapkan pesantren dapat memainkan peran strategis dalam meningkatkan kesehatan komunitas, serta menjadi model pemberdayaan kesehatan yang dapat diadopsi oleh pesantren lainnya di Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. (2023). Manajemen Pelayanan Kesehatan Berbasis Pesantren Melalui Santri Husada. Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman, 460�472.

Azizah, N. R., Indra Puspikawati, S., Oktanova, M. A., Kesehatan, D. G., & Masyarakat, K. (2018). Inspeksi Kesehatan Lingkungan Sekolah Dasar di Kabupaten Banyuwangi (Vol. 2, Edisi 1). Http://E-Journal.Unair.Ac.Id/Jphrecode

Borzou, SR, Rasoli, M., Khalili, Z., & Tapak, L. (2020). Perbandingan Diskusi Kelompok Dan Mengajarkan Kembali Pendidikan Selfcare Efek Terhadap Pengetahuan, Sikap, Dan Kinerja Pasien Hemodialisis. Nefro-Urologi Bulanan, 12(3). Https://Doi.Org/10.5812/Numonthly.105938

Endar T, Saifudin, IM Moh. Y., Rahmayanti, ID, & Oktavianto, E. (2021). Hubungan Pengetahuan Premenstrual Syndrome Dengan Tingkat Kecemasan Pada Remaja Putri Di Sd Negeri Kauman Dan Sd Negeri Pungkuran Pleret Bantul Yogyakarta. Dalam Jurnal Keperawatan Lanjutan Dan Ilmu Kesehatan (Vol. 2, Edisi 1).

Fanaqi, C., Nurkalam, F., Ayuning Tias, D., Dwi Syahputri, S., & Octaviani, N. (2020). Komunikasi Kesehatan Bagi Pelajar Dengan Pendekatan Peer Education. Yumary : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 1�9. Https://Doi.Org/10.35912/Jpm.V1i1.62

Fidianingsih, I. (2020). Pelatihan dan Diskusi Motivasi Luar Ruangan Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Merokok. Jurnal Pendidikan, Kesehatan Dan Psikologi Komunitas, 9(3).

Indah Nurfazriah, & Ayuni Hartati. (2023). Efektivitas promosi kesehatan dengan metode peer education terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri Tentang dampak pernikahan dini di smpn 5 cilegon. Diagnosa: Jurnal Ilmu Kesehatan Dan Keperawatan, 1(3), 306�318. Https://Doi.Org/10.59581/Diagnosa-Widyakarya.V1i3.1292

Indriati, I., Setyowati, T., & Abidin, M. Z. (2019). Efektivitas Promosi Kesehatan Dalam Mengurangi Skabies Di Pondok Pesantren. Jurnal Praktek Keperawatan, 3(1), 8�13. Https://Doi.Org/10.30994/Jnp.V3i1.60

Mas'ud, M. (2023). Model Relasi Pondok Pesantren Dan Pemerintah Daerah Dalam Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Joedu : Jurnal Pendidikan Dasar (Vol. 02, Edisi 01).

Mulyadi, E., Oktavianisya, N., Gabriella, G., Imaniyah, I., Suraying, S., & Muhith, A. (2020). Sekolah Asrama yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis masyarakat. Prosiding Prosiding Konferensi Internasional ke-1 Tentang Bisnis, Hukum dan Pedagogi, Icblp 2019, 13-15 Februari 2019, Sidoarjo, Indonesia. Https://Doi.Org/10.4108/Eai.13-2-2019.2286499

Natassa, SE, Siregar, D., & Putra Armidin, R. (2022). Habitasi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dalam Pencegahan Covid-19 Di Pondok Pesantren Al-Husna Marindal. Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(2), 483�490.

Nurlita, D., Abdul Rahman, A., Farmasi, J., & Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya, P. (2022). Peran Pos Kesehatan Pesantren Pada Pencegahan Kejadian Scabies Di Pondok Pesantren (Studi Kualitatif) Peran Pos Kesehatan Pesantren Pencegahan Penyakit Kudis Di Pondok Pesantren (Studi Kualitatif). Dalam Jurnal Kesehatan (Vol. 13, Edisi 1). Daring. Http://Ejurnal.Poltekkes-Tjk.Ac.Id/Index.Php/Jk

Rahmati, R., Khadivzadeh, T., & Esmaily, H. (2020). Perbandingan Pengaruh Dua Metode Pelatihan (Webinar Dan Diskusi Kelompok) Terhadap Peningkatan Sikap Dan Kinerja Tenaga Kesehatan Dalam Memberikan Konseling Dengan Pendekatan Promosi Kesuburan. Jurnal Pendidikan Dan Promosi Kesehatan, 9(1), 280. Https://Doi.Org/10.4103/Jehp.Jehp_134_20

Rosya1, E., Wahyuni2, Y., Sari3, W., Ilmu-Ilmu Kesehatan, F., & Keperawatan, S. (2021). Prosiding Hasil Pengabdian Masyarakat Tahun 2021 Literacy Resiko Kejadian Tuberculosis Paru (Tbc Paru) Pada Siswa Pondok Pesantren Asshiddiqiah Kedoya Utara Tahun 2020.

Sari, CK (2022). Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Pada Pos Kesehatan Pondok Pesantren. Jurnal Riset Kesehatan Global Indonesia, 4(1), 9�14. Https://Doi.Org/10.37287/Ijghr.V4i1.783

Setiawan, H., Anisa Firdaus, F., Ariyanto, H., Nantia Khaerunnisa, R., & Muhammadiyah Ciamis, Stik. (2020). Pendidikan Kesehatan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Pondok Pesantren (Vol. 1, Edisi 3). Https://Madaniya.Pustaka.My.Id/Journals/Contents/Article/View/22

Uun Nurjanah, Syamsiah, N., & Suryanto, Y. (2023). Pengaruh Pelatihan Terhadap Pengetahuan Dan Self Efficacypeserta Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Berbasis Rumah Tangga Di Karawang. Jurnal Keperawatan Dan Kebidanan, 218�221.