UPAYA PENINGKATAN
KAPASITAS SANTRI HUSADA SEBAGAI PEER-EDUCATOR PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI
PONDOK PESANTREN NURUL ULUM PUTRI KOTA MALANG
Ardhiyanti Puspita Ratna1,
Tisnalia Merdya Andyastanti2,
Karina Nilasari3, Hilma Tsurayya4
Universitas Negeri Malang, Indonesia
Abstrak:
Penyakit menular seperti skabies, konjungtivitis, flu, dan TBC merupakan
permasalahan kesehatan yang
kerap terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri Kota
Malang. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman santri mengenai cara pencegahan penyakit dan belum optimalnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS). Untuk mengatasi masalah ini, penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader Santri Husada sebagai
pendidik sebaya dalam pencegahan penyakit menular. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang meliputi tahapan identifikasi masalah, pelatihan, aksi lapangan, serta evaluasi berkelanjutan. Sebanyak 52 Santri Husada diberikan
pelatihan kesehatan melalui metode diskusi kelompok dan praktek lapangan selama empat bulan.
Hasil penelitian menunjukkan
peningkatan signifikan pada
pengetahuan kader Santri Husada, dengan rata-rata nilai pengetahuan naik dari 60,87 sebelum pelatihan menjadi 82,31 setelah pelatihan. Selain itu, terjadi perubahan sikap positif, di mana persentase santri yang mendukung peran PHBS meningkat menjadi 63% dan sangat mendukung 29%. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan peer educator efektif dalam mempromosikan
kesehatan di lingkungan pesantren dan dapat diadopsi sebagai model pemberdayaan kesehatan di pesantren lainnya di Indonesia.
Kata kunci: Santri husada; peer educator; pencegahan penyakit; promosi Kesehatan; penyakit menular; pondok pesantren
Abstract:
Infectious diseases such as scabies,
conjunctivitis, flu, and tuberculosis are health problems that often occur in
the Nurul Ulum Putri Islamic Boarding School in
Malang City. This is due to the lack of understanding of students regarding how
to prevent diseases and the less than optimal
implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). To overcome this
problem, this study aims to improve the capacity of Santri
Husada cadres as peer educators in preventing
infectious diseases. This study uses a quantitative method that includes the
stages of problem identification, training, field action, and ongoing
evaluation. A total of 52 Santri Husada
were given health training through group discussion methods and field practice
for four months. The results of the study showed a significant increase in the
knowledge of Santri Husada
cadres, with an average knowledge score increasing from 60.87 before training
to 82.31 after training. In addition, there was a change in positive attitudes,
where the percentage of students who supported the role of PHBS increased to
63% and strongly supported 29%. The implications of this study indicate that
the peer educator approach is effective in promoting health in the Islamic
boarding school environment and can be adopted as a model for health
empowerment in other Islamic boarding schools in Indonesia.
Keywords:
Husada students; peer educator; disease prevention;
health promotion; infectious diseases; Islamic boarding school������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding:
Ardhiyanti Puspita Ratna
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan lembaga pendidikan di Indonesia
yang khas karena ciri budaya, lembaga,
dan cara pembelajarannya, selain itu pondok
pesantren menjadi basis pendidikan agama di masyarakat,
yang juga menjadi pusat perkembangan sosiokultural terutama pada lingkungan sekitar pesantren (Setiawan et
al., 2020). Kementerian Agama (Kemenag) mencatat, jumlah pesantren di Indonesia sebanyak
27 ribu unit pada tahun
2022. Seluruh pesantren itu mendidik hampir
3 juta santri. Menurut provinsinya, jumlah pesantren paling banyak di Jawa Barat, yakni 8.343
unit. Posisi kedua ditempati Banten dengan 4.579 pesantren, kemudian di Jawa timur terdapat 4.452 pesantren
Pondok pesantren sebagai bagian dari masyarakat perlu mengembangkan upaya dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk
meningkatkan derajat kesehatan, terutama para santrinya sebagai generasi penerus bangsa. Hasil inspeksi sanitasi di pondok pesantren, yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan selama kurun waktu 2006 - 2013 menunjukkan bahwa 50% pondok pesantren tergolong kategori �sedang�, yang berarti terdapat 40% - 95% faktor resiko timbulnya masalah kesehatan
Penyakit yang banyak dijumpai di lingkungan pesatren adalah penyakit menular berbasis lingkungan seperti Tuberculosis (TBC), Infeksi
Saluran Pernafasan Atas
(ISPA), diare, penyakit kulit, penyakit mata dan sebagainya. Faktor resiko yang menimbulkan masalah kesehatan tersebut adalah masalah higienitas, sanitasi, ruangan, dan bangunan serta perilaku masyarakat di ponpes
Pondok Pesantren merupakan wahana pendidikan, yang juga berperan sebagai tempat tinggal, belajar, dan berkembang bagi anak-anak di Indonesia
Pemberdayaan masyarakat di Pondok Pesantren merupakan upaya agar warga pondok pesantren
mengenal masalah yang dihadapi, merencanakan dan melakukan upaya pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan setempat. Salah satu wujud pemberdayaan
masyarakat di bidang kesehatan atau Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) adalah
Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).
Kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan Poskestren, lebih diutamakan dalam hal pelayanan promotif
(peningkatan kesehatan) dan
preventif (pencegahan), tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan), yang dilandasi semangat gotong royong dengan pembinaan oleh Puskesmas setempat
Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri merupakan salah satu ponpes di Kota Malang yang berdiri sejak tahun
1967. Saat ini Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri memiliki santri sebanyak lebih dari 600 orang dengan rentang usia 12-25 tahun. Di sini� para santri tidak hanya
mempelajari ilmu agama
Islam melalui kegiatan
Madrasah Diniyah, tetapi
juga mengenyam pendidikan
formal di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Untuk mengatasi permasalahan kesehatan santri, Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri mempunyai unit pelayanan kesehatan santri, Puskestren Asy-syifa yang berdiri sejak tahun
2008, yang memberi pelayanan
oleh tenaga kesehatan profesional pada santri yang memiliki masalah kesehatan.
Pada tahun 2018 juga dibentuk program kaderisasi Santri Husada, yang mengacu pada program
Pos Kesehatan Pesantren Dinas Kesehatan Kota Malang. Santri Husada awalnya
diharapkan dapat menjadi garda terdepan kesehatan pesantren yang mengutamakan aspek preventif dibanding kuratif. Namun dalam pelaksanaannya, para Santri Husada lebih
berperan sebagai �perawat� bagi santri
yang sakit, seperti mengantarkan ke fasilitas kesehatan, mengambilkan obat, mengambilkan makan dan lainnya.
Kondisi ini agak
menyimpang dari tujuan awal dibentuknya
Santri Husada yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam promosi kesehatan. Hal ini disebabkan karena tidak ada
pelatihan dan pengarahan
yang dilakukan secara rutin
oleh pihak terkait.
Kurangnya pemahaman akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di pesantren
berimplikasi signifikan
pada kesehatan santri. Tanpa pemahaman yang memadai tentang praktik kebersihan dasar, santri rentan
terhadap penyakit menular yang mudah tersebar di lingkungan asrama yang
padat. Kondisi sanitasi yang terbatas, bersama dengan perilaku higienitas yang kurang, meningkatkan risiko penyakit seperti skabies, konjungtivitis, flu, dan bahkan
TBC. Risiko ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih terstruktur dalam pendidikan PHBS bagi santri.
Ketika pendidikan kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik, pesantren
berisiko mengalami peningkatan kasus penyakit menular. Ini dapat mengakibatkan gangguan pada aktivitas belajar dan ibadah santri serta beban tambahan
pada fasilitas kesehatan pesantren. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa penyakit seperti ISPA dan penyakit kulit sangat umum di pesantren yang memiliki tingkat PHBS rendah, sehingga penanganan kesehatan yang preventif menjadi krusial.
Berdasarkan masalah yang teridentifikasi tersebut kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan
tujuan meningkatkan kapasitas Santri Husada Ponpes Nurul Ulum Putri Kota Malang sebagai
peer educator dalam pencegahan
penyakit menular. Penelitian ini menawarkan solusi yang berbeda, di mana santri dilatih untuk menjadi
pendidik sebaya dalam promosi Kesehatan serta memberikan kesempatan bagi santri untuk saling
mendukung dalam menjaga kesehatan lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menutup kesenjangan dalam literatur dengan menunjukkan efektivitas pendekatan ini, yang berbeda dengan metode konvensional
yang lebih mengandalkan tenaga kesehatan eksternal.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas santri sebagai pendidik sebaya dalam pencegahan
penyakit menular di lingkungan pondok pesantren. Dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri di Kota Malang, penelitian
ini berfokus pada pemahaman menyeluruh mengenai tantangan kesehatan di pesantren, terutama terkait perilaku dan sikap santri mengenai kesehatan. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama rentang waktu empat bulan,
sehingga memungkinkan adanya penilaian perkembangan dan evaluasi berkelanjutan dalam setiap tahap kegiatan.
Identifikasi Masalah Dan Koordinasi Dengan Mitra
Koordinasi ini dilakukan dengan melibatkan mitra, yaitu pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri Malang untuk mengidentifikasi dan menganalisis
masalah yang dihadapi mitra, kemudian membahas mekanisme kolaborasi program dan penentuan waktu serta jumlah
peserta yang terlibat dalam pengabdian masyarakat ini. Koordinasi ini juga mencakup persiapan tempat dan fasilitas untuk pengabdian masyarakat.
Penyusunan Modul Dan Desain Instruksional
Pelatihan
Sebelum melakukan pelatihan, tim pengabdian masyarakat akan menyusun modul
dan desain instruksional pelathan. Tujuan kegiatan ini agar pelatihan dapat terlaksana dengan terencana dan baik. Melalui penyusunan
modul dan desain operasional yang terstandar diharapkan tujuan, metode dan materi pelatihan dapat tersampaikan secara maksimal, agar target program dapat
tercapai.
Orientasi Santri Husada
Sebelum masuk kepada kegiatan utama, para santri husada diberikan orientasi mengenai pelatihan yang akan diikuti termasuk juga perkenalan, menyampaikan tujuan pelatihan, dan harapan dari masing-masing pihak. Pada orientasi ini juga dilakukan pretest untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari santri
husada tentang tugas dan fungsi santri husada, pengetahuan umum tentang beberapa jenis penyakit menular dan penerapan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kegiatan ini dilakukan
sebelum melakukan pelatihan.
Peningkatan Literasi
Kesehatan Mengenai Promosi
Kesehatan Dan Komunikasi Efektif
Pada Santri Husada
Kegiatan peningkatan literasi kesehatan mengenai pencegahan penyakit menular bagi santri husada
ini dilakukan dengan konsep pelatihan
yang menyenangkan, interaktif
dan kolaboratif. Dengan kegiatan ini, Santri
Husada diharapkan dapat meningkatkan persepsi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap mengenai pencegahan penyakit menular di pondok pesantren. Capaian peningkatan literasi ini juga dievaluasi secara terukur, sebagai acuan untuk pelaksanaan
tahap selanjutnya.
Pelatihan Peer Educator Bagi Santri
Husada Dengan Metode Role
Play
Setelah kemampuan literasi kesehatan dan pemahaman komunikasi meningkat, maka dilanjutkan dengan pelatihan peer educator. Pada kegiatan
ini santri husada akan dibekali
dengan tips dan trik dalam melakukan promosi kesehatan kepada santri. Pelatihan ketrampilan ini berbasis praktek
dan studi kasus, sebelum para santri husada melakukan praktek lapangan.
Aksi Santri Husada
Setelah mendapatkan pelatihan, santri husada akan mulai
berproses menjadi peer
educator bagi teman-teman sejawatnya. Aksi Santri Husada ini dilaksanakan
selama 3 bulan dengan pendampingan dari Tim. Terdapat log book yang akan menjadi bukti
pelaporan capaian, temuan masalah dan komunikasi antara santri husada sebagai
peer educator dengan tim pendamping.
Monitoring Dan Evaluasi
Monitoring dan Evaluasi
dari tim pengabdian kepada masyarakat akan dilakukan setiap bulan sekali dengan
tujuan untuk mendampingi pelaksanaan Aksi Santri Husada, mengevaluasi target dan capaian, serta mengidentifikasi masalah yang muncul selama pelaksanaan program. Pada akhir tahap ini
juga dilakukan postest untuk mengukur capaian peserta program secara kuantitatif. Selain itu evaluasi juga dilakukan antar sesama santri husada
untuk mengimplementasikan kaidah peer assesment, dengan menilai kegiatan harian dan temuan-temuan kasus yang direkam dalam log book.
Pendekatan Terstruktur
Strategi yang dirancang
dalam penelitian ini memiliki pendekatan
terstruktur yang memastikan
setiap tahapan penelitian berjalan sesuai dengan sasaran
yang telah ditetapkan.
Langkah pertama melibatkan pengidentifikasian masalah kesehatan utama yang dihadapi para santri. Ini dilakukan dengan bekerja sama dengan
pihak pondok pesantren dan mengumpulkan data mengenai kebiasaan hidup santri sehari-hari
serta insiden penyakit menular yang sering terjadi di lingkungan pondok.
Selanjutnya, dilakukan tahapan persiapan berupa pengembangan materi pelatihan yang disusun khusus sesuai dengan karakteristik
peserta, yakni para santri yang menjadi sasaran pengembangan. Materi ini mencakup informasi
mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, teknik pencegahan
penyakit menular, serta strategi komunikasi efektif sebagai pendidik sebaya. Pengembangan materi ini melibatkan sejumlah ahli kesehatan
serta tenaga pendidikan yang berpengalaman dalam bidang promosi
kesehatan.
Populasi dan Partisipasi
Aktif Santri
Populasi penelitian ini mencakup seluruh
santri yang tergabung dalam kelompok kader Santri Husada
di Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri, dengan jumlah total sekitar 52 peserta. Partisipasi aktif dari santri
Husada ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan
di kalangan santri lainnya. Strategi ini difokuskan agar peserta tidak hanya mendapatkan
pengetahuan baru, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara langsung dalam peran mereka sebagai
pendidik sebaya di pesantren.
Instrumen dan Evaluasi Terukur
Untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan
berjalan sesuai tujuan, penelitian ini menggunakan berbagai instrumen sebagai alat ukur.
Meskipun instrumen tersebut tidak dijelaskan secara spesifik, tetapi strategi utamanya mencakup evaluasi berkelanjutan yang terintegrasi dalam setiap tahapan kegiatan, dari mulai pretest, posttest, hingga sesi pemantauan dan penilaian dampak setelah pelatihan selesai. Strategi ini membantu peneliti untuk memperoleh data yang akurat mengenai perkembangan kemampuan santri serta perubahan
sikap mereka terhadap kesehatan di lingkungan pesantren.
Siklus Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan
Penelitian ini menggunakan siklus evaluasi yang dilakukan setiap bulan selama
pelaksanaan kegiatan. Evaluasi ini mencakup
aspek keterampilan, pengetahuan, dan sikap santri terhadap perilaku hidup sehat. Setiap perkembangan
dievaluasi dan diolah untuk menyusun rekomendasi yang tepat bagi peserta. Selain itu, terdapat sesi
peer assessment di mana santri Husada
melakukan evaluasi terhadap rekan sejawat mereka, yang dilakukan sebagai bentuk penilaian kolektif dan peningkatan kemampuan reflektif di antara peserta.
Selama kegiatan pelatihan berlangsung, penerapan pembelajaran interaktif diterapkan untuk meningkatkan antusiasme dan keterlibatan peserta dalam setiap
tahapan pelatihan. Penggunaan sesi diskusi, simulasi kasus, dan praktek langsung dirancang agar peserta mampu memahami
materi dengan baik serta dapat
mengaplikasikannya dalam situasi nyata di pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan perubahan yang signifikan tidak hanya dari sisi
pengetahuan, tetapi juga dari aspek sikap
dan perilaku, yang pada akhirnya
diharapkan mampu mengurangi insiden penyakit menular di lingkungan pondok pesantren.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Kegiatan peningkatan
kapasitas santri husada ini merupakan
bentuk implementasi dari Tridarma Perguruan
Tinggi yang dilakukan oleh kelompok
pengabdian dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Malang. Kegiatan ini
berlangsung mulai bulan Juli sampai Oktober dengan melibatkan peserta sebanyak 52 orang santri dengan rentang
usia 15-17 tahun. Para santri husada ini
dipilih sesuai dengan kaidah jumlah
kader adalah 10% dari populasi yang ada.
Pada kegiatan yang berlangsung selama bulan Juli-Oktober ini dilakukan identifikasi
masalah, pengukuran tingkat pengetahuan dan sikap awal para santri husada terhadap
peran dan tugas kader santri husada,
pemahaman masalah kesehatan di lingkungan ponpes, pencegahan dan identifikasi masalah kesehatan berupa penyakit menular di lingkungan ponpes, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah dan komunikasi efektif dengan pretes tertulis
yang terdiri dari 25 butir pertanyaan, selanjutnya dilakukan pemberian materi oleh tim pengabdian yang merupakan praktisi medis dan pengajar di FIK UM. Peserta juga mendapat sesi latihan kasus
untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam menunjang perannya sebagai santri husada. Selanjutnya para peserta melaksanakan aksi santri husada dan mencatat temuan dan kegiatannya di log book yang kemudian
divalidasi oleh sesama santri husada dan tim pengabdian. Di akhir kegiatan yaitu pada bulan ketiga dilakukan monitoring dan evaluasi, peserta akan dinilai menggunakan
pretes tertulis untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikapnya.
Berdasarkan hasil pretes yang dilakukan kepada 52 orang responden yang menilai tingkat pengetahuan santri husada tentang
peran dan tugas kader santri husada,
pemahaman masalah kesehatan di lingkungan ponpes, pencegahan dan identifikasi masalah kesehatan berupa penyakit menular di lingkungan ponpes, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan sekolah dan komunikasi efektif, diperoleh hasil nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 15, sehingga didapatkan nilai rata-rata sebesar
60,87�14,4. Setelah 12 minggu,
dilakukan pengujian kembali dengan dilakukan post test yang menilai pengetahuan, diperoleh peningkatan pengetahuan dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 55, dengan nilai rata-rata
82,31�10,91.
Hasil pretest dan
posttest menunjukkan bahwa pelatihan dengan metode Forum Group Discussion (FGD) berperan
dalam meningkatkan pengetahuan para kader santri husada. Hasil uji paired T
test juga menunjukkan P=0,000 (P<0,05) yang menunjukkan adanya pengaruh peningkatan rata-rata pengetahuan disajikan dalam grafik di bawah ini.

Gambar
5. Grafik hasil pengukuran pengetahuan santri husada
Pelatihan dalam bentuk
penyuluhan materi dan Forum
Group Discussion (FGD) dapat meningkatkan
nilai pengetahuan responden karena memberikan lingkungan belajar interaktif dan sumber daya praktis.
Ekstensi materi, yang mencakup alat dan sumber daya langsung,
memungkinkan responden terlibat langsung dengan materi, meningkatkan pemahaman mereka, dan mempertahankan informasi
Pelatihan telah terbukti
bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan spesifik sesuai dengan topik yang diajarkan. Berbagai metode pelatihan, seperti bermain peran, diskusi kelompok, ceramah interaktif, dan simulasi, efektif dalam meningkatkan
pengetahuan peserta (Alhidayatullah et al., 2023). Dengan
menggabungkan metode ini, peserta dapat
mempelajari materi dari berbagai sudut
pandang dan mendapatkan pemahaman baru
Selain dilakukan evaluasi tingkat pengetahuan terkait masalah kesehatan di lingkungan ponpes, para santri husada juga diharapkan mendapatkan perubahan sikap sebagai kader
promosi kesehatan. Seperti diketahui pada saat identifikasi masalah oleh tim, para santri husada ini
umumnya belum mengetahui tugas dan fungsinya serta kurang literasi terhadap masalah kesehatan dan langkah penerapan PHBS sebagai pencegahan efektif penyakit menular. Dari hasil evaluasi sikap diperoleh hasil pretes yaitu
dari 52 responden 33% (17
orang) menunjukkan sikap tidak mendukung peran santri husada
dan penerapan PHBS, 59 % (31 orang) mendukung dan sisanya sebanyak 8% (4 orang bersikap
sangat mendukung.
Setelah mendapatkan pelatihan, penerapan aksi langsung dan pendampingan, terdapat perubahan signifikan dimana jumlah santri
husada yang bersikan tidak mendukung turun menjadi 8% (4 orang) saja, sebanyak 63% (33 orang) mendukung dan sikap sangat mendukung naik menjadi 29 % (15
orang). Hal ini menunjukkan
adanya perubahan sikap positif dari
para kader santri husada untuk menerapkan
tugasnya sebagai kader promosi kesehatan
dan menerapkan PHBS di lingkungan
pesantren. Grafik evaluasi sikap disajikan pada gambar 6.

Gambar
6. Grafik hasil evaluasi sikap santri husada
Dengan memberikan pelatihan melalui materi pelatihan dan forum diskusi kelompok, perspektif seseorang secara signifikan ditingkatkan. Studi menunjukkan bahwa ekstensi materi memberikan pengalaman praktis dan langsung, yang dapat menyebabkan pemahaman yang lebih baik dan sikap yang lebih positif terhadap pelajaran karena orang merasa lebih terampil
dan terdidik . Diskusi grup
Forum juga memungkinkan peserta
bekerja sama dan berbagi pandangan dan pengalaman mereka. Ini telah terbukti meningkatkan keinginan untuk menerima ide-ide baru dan juga mengurangi keengganan
�Pelatihan interaktif juga mendorong pemikiran kritis dan refleksi, yang memungkinkan orang
untuk mempertimbangkan kembali keyakinan dan pendapat mereka tentang hal-hal baru yang mereka temukan selama pelatihan dan diskusi
Peer educator atau pendidik sebaya
sendiri adalah metode promosi kesehatan dimana anggota dari suatu
kelompok sebaya dilatih untuk memberikan
edukasi dan dukungan kepada teman-teman sebayanya.� Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa remaja dan dewasa muda cenderung
lebih mudah menerima informasi dan pengaruh dari teman
sebayanya dibandingkan dari orang dewasa atau tenaga kesehatan
Santri husada berperan sebagai kader kesehatan di lingkungan pesantren dan menyebarkan informasi tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada santri lainnya.
Mereka juga dapat memberikan edukasi dan penyuluhan kesehatan kepada warga pesantren,
sehingga pengetahuan dan sikap yang cukup tentang perilaku sehat sangat penting
KESIMPULAN
Pelatihan
dan pendampingan yang diberikan
kepada kader Santri Husada sebagai
pendidik sebaya telah berhasil meningkatkan kapasitas mereka dalam pencegahan
penyakit menular di Pondok Pesantren Nurul Ulum Putri, Kota Malang. Melalui serangkaian tahapan mulai dari identifikasi
masalah, pelatihan, praktik lapangan, hingga evaluasi berkelanjutan, Santri Husada berhasil memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mempromosikan kesehatan serta perubahan sikap yang lebih positif terhadap
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan program promosi kesehatan berbasis pesantren dan menyarankan bahwa pelatihan kader kesehatan di lingkungan pesantren perlu dijadikan program berkelanjutan. Dengan demikian, diharapkan pesantren dapat memainkan peran strategis dalam meningkatkan kesehatan komunitas, serta menjadi model pemberdayaan kesehatan yang dapat diadopsi oleh pesantren lainnya di Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin, Z. (2023). Manajemen
Pelayanan Kesehatan Berbasis
Pesantren Melalui Santri Husada. Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman, 460�472.
Azizah, N. R., Indra Puspikawati,
S., Oktanova, M. A., Kesehatan, D. G., &
Masyarakat, K. (2018). Inspeksi Kesehatan Lingkungan Sekolah Dasar di Kabupaten Banyuwangi (Vol. 2, Edisi
1). Http://E-Journal.Unair.Ac.Id/Jphrecode
Borzou, SR,
Rasoli, M., Khalili, Z., & Tapak, L. (2020). Perbandingan Diskusi Kelompok Dan Mengajarkan Kembali
Pendidikan Selfcare Efek Terhadap
Pengetahuan, Sikap, Dan
Kinerja Pasien Hemodialisis.
Nefro-Urologi Bulanan,
12(3). Https://Doi.Org/10.5812/Numonthly.105938
Endar T, Saifudin, IM Moh. Y., Rahmayanti,
ID, & Oktavianto, E. (2021). Hubungan
Pengetahuan Premenstrual Syndrome Dengan Tingkat Kecemasan Pada Remaja Putri Di Sd Negeri Kauman
Dan Sd Negeri Pungkuran Pleret
Bantul Yogyakarta. Dalam Jurnal Keperawatan Lanjutan Dan Ilmu Kesehatan (Vol. 2, Edisi
1).
Fanaqi, C.,
Nurkalam, F., Ayuning Tias, D., Dwi Syahputri, S.,
& Octaviani, N. (2020). Komunikasi
Kesehatan Bagi Pelajar Dengan
Pendekatan Peer Education. Yumary : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 1�9.
Https://Doi.Org/10.35912/Jpm.V1i1.62
Fidianingsih, I.
(2020). Pelatihan dan Diskusi
Motivasi Luar Ruangan Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Merokok. Jurnal
Pendidikan, Kesehatan Dan Psikologi Komunitas, 9(3).
Indah Nurfazriah,
& Ayuni Hartati. (2023). Efektivitas promosi kesehatan dengan metode peer education terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri
Tentang dampak pernikahan dini di smpn 5 cilegon. Diagnosa: Jurnal Ilmu Kesehatan Dan Keperawatan,
1(3), 306�318. Https://Doi.Org/10.59581/Diagnosa-Widyakarya.V1i3.1292
Indriati, I.,
Setyowati, T., & Abidin, M. Z. (2019). Efektivitas Promosi Kesehatan
Dalam Mengurangi Skabies
Di Pondok Pesantren. Jurnal Praktek Keperawatan, 3(1), 8�13.
Https://Doi.Org/10.30994/Jnp.V3i1.60
Mas'ud, M. (2023). Model Relasi
Pondok Pesantren Dan Pemerintah Daerah Dalam Kegiatan
Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Joedu : Jurnal Pendidikan Dasar (Vol. 02, Edisi
01).
Mulyadi, E., Oktavianisya,
N., Gabriella, G., Imaniyah, I., Suraying,
S., & Muhith, A. (2020). Sekolah Asrama yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis masyarakat. Prosiding Prosiding Konferensi Internasional ke-1 Tentang Bisnis, Hukum dan Pedagogi, Icblp 2019, 13-15 Februari 2019,
Sidoarjo, Indonesia.
Https://Doi.Org/10.4108/Eai.13-2-2019.2286499
Natassa, SE, Siregar, D., & Putra Armidin, R. (2022). Habitasi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Dalam Pencegahan Covid-19 Di Pondok Pesantren Al-Husna Marindal. Pengabdian Kepada
Masyarakat, 7(2), 483�490.
Nurlita, D.,
Abdul Rahman, A., Farmasi, J., & Kesehatan Kemenkes
Tasikmalaya, P. (2022). Peran Pos Kesehatan Pesantren Pada Pencegahan Kejadian
Scabies Di Pondok Pesantren
(Studi Kualitatif) Peran Pos Kesehatan Pesantren Pencegahan Penyakit Kudis Di Pondok Pesantren (Studi Kualitatif).
Dalam Jurnal Kesehatan (Vol. 13, Edisi 1). Daring.
Http://Ejurnal.Poltekkes-Tjk.Ac.Id/Index.Php/Jk
Rahmati, R., Khadivzadeh,
T., & Esmaily, H. (2020). Perbandingan
Pengaruh Dua Metode Pelatihan
(Webinar Dan Diskusi Kelompok)
Terhadap Peningkatan Sikap Dan Kinerja Tenaga Kesehatan Dalam Memberikan Konseling Dengan Pendekatan Promosi Kesuburan. Jurnal Pendidikan Dan Promosi
Kesehatan, 9(1), 280. Https://Doi.Org/10.4103/Jehp.Jehp_134_20
Rosya1, E., Wahyuni2, Y., Sari3, W., Ilmu-Ilmu Kesehatan, F., & Keperawatan,
S. (2021). Prosiding Hasil Pengabdian Masyarakat Tahun 2021
Literacy Resiko Kejadian
Tuberculosis Paru (Tbc Paru) Pada Siswa Pondok Pesantren Asshiddiqiah Kedoya Utara Tahun 2020.
Sari, CK (2022). Pelaksanaan
Pemberdayaan Masyarakat Pada Pos Kesehatan Pondok Pesantren. Jurnal Riset Kesehatan Global Indonesia, 4(1),
9�14. Https://Doi.Org/10.37287/Ijghr.V4i1.783
Setiawan, H., Anisa Firdaus, F., Ariyanto, H., Nantia Khaerunnisa,
R., & Muhammadiyah Ciamis, Stik. (2020). Pendidikan
Kesehatan Perilaku Hidup Bersih
Dan Sehat Di Pondok Pesantren
(Vol. 1, Edisi 3).
Https://Madaniya.Pustaka.My.Id/Journals/Contents/Article/View/22
Uun Nurjanah, Syamsiah, N., & Suryanto, Y. (2023). Pengaruh Pelatihan Terhadap Pengetahuan Dan Self Efficacypeserta
Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Berbasis Rumah Tangga Di Karawang. Jurnal
Keperawatan Dan Kebidanan,
218�221.
�