PELESTARIAN BUDAYA BALI MELALUI SENI ARJA MENJADI DESA BUDAYA DI DESA
KERAMAS, GIANYAR
I
Gusti Agung Agra Adiaya1,
Ni Luh Diana2, Kadek Pina Piaska Yanti3,
Ni Kadek Widya Kusumaningsih4
Universitas Warmadewa,
Indonesia
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3, [email protected]4
Abstrak:
Pelestarian budaya local menjadi tantangan signifikan di Tengah arus globalisasi yang mengancam keberlangsungan seni tradisional, termasuk Seni Arja
di Bali. Seni Arja, sebagai teater
klasik Bali yang memadukan elemen tari, music, dan drama, menghadapi
penurunan minat khususnya di kalangan generasi muda akibat
modernisasi dan kurangnya partisipasi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi pelestarian
Seni Arja melalui pendekatan
berbasis desa budaya di Desa Kramas, Gianyar. Dengan
menggunakan metode kualitatif parsitipatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan maestro seni, observasi kegiatan budaya, dan survie Masyarakat.
Hasil Arja melalui program-program seperti pembentukan sanggar seni, penyusunan
kurikulum dan modul budaya, serta pelaksanaan
pagelaran seni �Gebyar Arja�. Implikasi dari penelitian ini adalah memberikan
panduan strategis bagi pengelola desa adat dan pemerintah
daerah untuk menjadikan Seni Arja sebagai inti
dari pengembangan desa budaya, sehingga
mendukung pariwisata berkelanjutan dan memperkuat identitas budaya local.
Kata kunci: Seni Arja; pelestarian
budaya, generasi muda
Abstract:
Preserving local culture is a
significant challenge amidst the current of globalization that threatens the
sustainability of traditional arts, including Seni Arja in Bali. Seni Arja, as
a classical Balinese theater that combines elements of dance, music, and drama,
is facing declining interest, especially among the younger generation due to
modernization and their lack of participation. This study aims to develop a
strategy for preserving Seni Arja through a cultural village-based approach in Keramas Village, Gianyar. Using a participatory qualitative
method, data were collected through in-depth interviews with art maestros,
observations of cultural activities, and community surveys. The results of the
study show an increase in awareness and participation of the younger generation
in preserving Seni Arja through programs such as the establishment of art
studios, the preparation of cultural curricula and modules, and the
implementation of the �Gebyar Arja� art performance.
The implications of this study are to provide strategic guidance for
traditional village managers and local governments to make Seni Arja the core
of cultural village development, thereby supporting sustainable tourism and
strengthening local cultural identity.
Keywords: Arja
Art, Cultural Preservation, Youth.
Corresponding:
I Gusti Agung Agra Adiaya
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Globalisasi telah membawa
dampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya. Di satu sisi, globalisasi
mempermudah akses terhadap budaya global; di sisi lain, fenomena ini menyebabkan semakin tergerusnya budaya lokal. Budaya
tradisional, sebagai identitas suatu bangsa, menghadapi tantangan serius untuk bertahan hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
UNESCO mencatat bahwa pelestarian budaya lokal menjadi salah satu prioritas global untuk menjaga keberagaman
budaya dunia. Dalam konteks
Indonesia, seni tradisional,
termasuk seni pertunjukan seperti Arja di Bali,
sering kali mengalami penurunan minat di kalangan generasi muda akibat perkembangan
budaya populer
Di Bali, seni Arja merupakan warisan budaya yang memiliki nilai estetika, edukasi, dan spiritual
yang mendalam. Namun, tekanan globalisasi dan urbanisasi telah menyebabkan berkurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional
ini
Secara khusus, seni Arja di Bali menghadapi berbagai tantangan dalam pelestariannya. Seni ini, yang sebelumnya menjadi bagian penting dari kehidupan
masyarakat Bali, kini mulai kehilangan relevansi di tengah gaya hidup modern
Pelestarian seni Arja di Bali memiliki urgensi tinggi mengingat perannya dalam menjaga identitas budaya lokal. Seni ini tidak hanya
merupakan bentuk hiburan tetapi juga media pendidikan karakter dan spiritual
yang dapat memperkuat nilai-nilai lokal di masyarakat
Namun, pelaksanaan upaya pelestarian ini tidak bebas
dari hambatan. Tantangan meliputi kurangnya dukungan sumber daya, rendahnya
partisipasi generasi muda, dan minimnya strategi promosi yang efektif
Sementara banyak penelitian telah membahas pelestarian seni tradisional di Bali, seperti peran banjar
dalam pendidikan seni budaya
Penelitian ini bertujuan
untuk Mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pelestarian seni Arja di Bali. Menganalisis potensi seni Arja sebagai elemen inti dalam pengembangan desa budaya. Merumuskan
strategi pelestarian seni
Arja melalui pendekatan berbasis desa budaya
yang berkelanjutan.
Penelitian ini memiliki
beberapa implikasi yang signifikan, baik secara akademis maupun praktis. Secara akademis, studi ini berkontribusi
pada pengembangan literatur
tentang pelestarian budaya tradisional, khususnya seni pertunjukan di Bali. Penelitian ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan
ke dalam pengelolaan desa budaya untuk mendukung
pembangunan berkelanjutan
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan
bagi pemerintah daerah, komunitas seni, dan pengelola desa adat untuk
mengembangkan strategi pelestarian
seni Arja. Selain itu, penelitian ini dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam upaya
pelestarian budaya, memperkuat pariwisata budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengelolaan
budaya yang inovatif
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif untuk mengeksplorasi strategi pelestarian
Seni Arja di Desa Keramas, Gianyar, dan berlangsung selama lima bulan dari Juni hingga Oktober 2024. Fokus utama penelitian adalah komunitas pemuda Desa Keramas, khususnya anggota Sekaa Teruna Teruni dari enam
banjar, yang berperan penting dalam pelestarian
budaya lokal. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan sosialisasi awal di Balai Desa melibatkan berbagai pihak, termasuk pemuda, tokoh masyarakat, dan dinas kebudayaan, guna meningkatkan kesadaran tentang pentingnya Seni Arja sebagai identitas budaya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan maestro Seni Arja dan anggota
masyarakat, observasi partisipatif selama kegiatan, serta dokumentasi pelatihan dan pagelaran seni. Observasi dan wawancara ini memberikan pemahaman mengenai sejarah, nilai budaya, dan tantangan dalam pelestarian Seni Arja.
Penelitian ini berkolaborasi dengan Sanggar Seni Siwa Ratri sebagai pusat pengembangan
sanggar dan pelatihan generasi muda, yang akan dilengkapi dengan kurikulum yang disusun bersama ahli dan maetro setempat. Kurikulum mencakup teknik dasar Seni Arja, termasuk tari, musik, dan drama, serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Untuk memperkuat operasional sanggar, disusun AD/ART sebagai pedoman keberlanjutan. Kegiatan pelatihan melibatkan pemuda dari setiap banjar dalam
pelatihan intensif tari
Arja dan gamelan geguntangan, dengan
puncaknya berupa pagelaran seni �Gebyar Arja� di Wantilan Pura
Desa Keramas. Pagelaran ini bertujuan menunjukkan
hasil pelatihan dan menarik minat masyarakat
serta dukungan pemerintah.
Evaluasi juga dilakukan melalui kuesioner dan wawancara pasca-pagelaran untuk menilai partisipasi generasi muda dan respon masyarakat. Monitoring dilakukan oleh tim peneliti bersama pihak desa untuk
memastikan pelaksanaan
program berjalan sesuai tujuan. Untuk memperluas
jangkauan, Seni Arja dipromosikan
melalui media cetak, elektronik, dan kolaborasi dengan media partner, yang diharapkan
mampu meningkatkan kesadaran dan minat generasi muda terhadap
pelestarian Seni Arja. Metodologi
komprehensif ini diharapkan dapat memperkuat pelestarian Seni Arja
di Desa Keramas dan menjadi
model pelestarian budaya bagi wilayah lainnya.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada��
awal�� tahun�� 1980 a n seni pertunjukan drama tari arja merupakan
satu� kesenian� tradisonal Bali� yang�
sangat dihormati��� dan��� pertunjukannya��� memiliki gengsi�� serta��
prestise�� tinggi�� di��
kalangan masyarakat� Bali
Perkembangan seni pertunjukan drama tari arja
di Desa Keramas dari tahun�� ke�� tahun��
dengan�� lahirnya
generasi-generasipenerus menciptakan semangat baru mengenai arjadi Desa Keramas.� Hal ini���
lah��� yang��� dapat���
menguatkan keberadaan��� dari��� komunitas ArjaKeramas. Arja Keramas� yang�
telah melanglang�� buana�� bukan��
saja�� di dalam�� negeri��
tapi�� sampai�� keluar negeri menyebarkan aroma
wanginya�� yang�� amat��
mempesona. Desa Keramas��
mampu�� eksis�� dan bertahan�
hingga��� saat��� ini,���
tidak terlepas dari regenerasi atau genarasi penerus, yang masih
memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikanseni�� pertunjukan��
ini. Hal�� tersebut�� dikarenakan,�� hampir seluruh� anggota�
masyarakat� di Desa Keramas� adalah�
seniman arja pada zaman�� keemasan
seni pertunjukan dramatari arja, minimal masyarakatnya sebagai penikmat
serta�� pembangga seni�� pertunjukan dramatari arja
Dalam upaya melaksanakan program pelestarian
Seni Arja di Desa Keramas, adapun program yang dirancang sebagai upaya
pelestarian budaya bali melalui Seni Arja menjadi desa budaya di Desa Keramas
yaitu penyadaran generasi muda akan pentingnya Seni Arja melalui: 1)
Sosialisasi dan Promosi terkait pentingnya Kesenian Arja; 2) Pembentukan
kelompok Tari Arja dan Gamelan Geguntangan; 3) Penetapan serta pengembangan
sanggar seni termasuk pembentukan AD/ART, Kurikulum, Modul Budaya, dan Buku
Refleksi Ormawa; 4) Melaksanakan Pelatihan Rutin; 5) Promosi Seni Arja melalui
media cetak dan elektronik seperti koran, berita, dan brosur; serta 6)
Melaksanakan Pagelaran sebagai hasil akhir dari pelaksanaan program.
�����������������������
�������������������������
������� �Gambar 1.� Kegiatan Sosialisasi dan Promosi�� Gambar 2. Pembentukan kelompok Tari Arja
�������� dan Gamelan Geguntangan
Pada Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi
Pelestarian Seni Arja di Desa Keramas merupakan langkah awal yang signifikan
dalam program ini. Sosialisasi dan promosi ini dilakukan di Balai Desa Keramas,
dimana generasi muda yang menjadi fokus sasaran utama diajak untuk menyadari
pentingnya Seni Arja sebagai bagian dari warisan budaya desa mereka. Generasi
muda yang dimaksud dalam fokus sasaran utama pelaksanaan program ini adalah
Sekaa Teruna Teruni yang merupakan anggota kepemudaan yang ada di Desa Keramas.
Adapun Sekaa Teruna Teruni yang terdapat di Desa Keramas terdiri dari 6 (enam)
banjar, diantaranya adalah Banjar Biya, Banjar Gelgel, Banjar Lodpeken, Banjar
Palak, Banjar Maspait, dan Banjar Lebah. Setiap banjar dari Sekaa Teruna Teruni
ini akan berkontribusi dalam membentuk kelompok tari Arja dan kelompok gamelan
geguntangan, dengan melibatkan pemuda-pemudi dari masing-masing banjar. Dalam
program ini, peneliti mengajak dan melibatkan 30 anggota Sekaa Teruna Teruni
untuk berpartisipasi dan mendalami Seni Arja. Sosialisasi ini berhasil menarik
perhatian pemuda-pemudi desa, yang mulai memahami pentingnya peran mereka dalam
menjaga kelangsungan Seni Arja. Langkah berikutnya terlihat pada Gambar 2.
adalah pembentukan kelompok Tari Arja dan Gamelan Geguntangan yang
beranggotakan dari setiap Sekaa Teruna Teruni yang ada di Desa Keramas, yang
kemudian dilatih secara intensif di sanggar Seni Siwa Ratri.
��������� ������������
�����
�������
a) ������������������������������������������������������������b)
Gambar 3. a) Wawancara mengenai penyusunan
AD/ART dan Kurikulum, b) Wawancara mengenai Penyusunan isi dari Modul Budaya
dan Buku Refleksi Ormawa
Tokoh masyarakat seperti seniman lokal juga
dilibatkan untuk memberikan wawasan lebih dalam mengenai sejarah dan
perkembangan Seni Arja di Desa Keramas. Pada Gambar 3. a) dan b) Peneliti
melakukan wawancara dengan salah satu maestro Arja Keramas, yaitu Ibu Ni Wayan
Latri. Melalui wawancara bersama Ibu Ni Wayan Ratri diperoleh informasi penting
tentang Sejarah Arja Desa Keramas dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam
Kesenian Arja. Dari wawancara ini menjadi sumber utama dalam melakukan
penyusunan terkait penetapan serta pengembangan Sanggar Seni Siwa ratri
termasuk menyusun sebuah keperluan administratif sanggar seperti AD/ART dan
Kurikulum, serta menyusun atau membuat Modul Budaya dan Buku Refleksi Ormawa
yang berisi pemahaman terkait Seni Arja.
���������������������������������������
��������������������
��������������������������� Gambar 4. Buku
Modul Budaya��� Gambar 5. Buku Refleksi
Ormawa
|
|
Gambar 4 Modul Budaya� yang
disusun dalam program pelestarian Seni Arja di Desa Keramas berfungsi sebagai
panduan yang berisi informasi tentang sejarah, nilai-nilai filosofis, serta
teknik dan praktik Seni Arja. Modul ini didesain untuk menjadi referensi utama
dan pedoman utama pelaksanaan kegiatan sanggar bagi para pemuda-pemudi yang
berpartisipasi dalam pelatihan di Sanggar Seni Siwa Ratri. Selain itu, adapun Gambar
5 Buku Refleksi Ormawa berperan sebagai dokumentasi atas proses pemberdayaan
masyarakat melalui program pelestarian Seni Arja. Buku ini tidak hanya mencatat
perjalanan program, tetapi juga menggambarkan bagaimana keterlibatan antara
kelompok sasaran dan tim peneliti dalam mengembangkan soft skills dan hard
skills mereka. Buku ini juga memuat refleksi mendalam dari para mahasiswa
dan pemangku kepentingan tentang tantangan dan pencapaian selama program
berlangsung, serta memberikan pandangan tentang bagaimana program ini
berkontribusi terhadap pembangunan sosial-budaya di Desa Keramas.
����������������������������� 
������� �Gambar 6. Publikasi Media Cetak dan Elektronik��� ����� ���Gambar
7. Brosur Pementasan
Upaya pelestarian Seni Arja di Desa Keramas, program ini juga melakukan
promosi yang dipublikasikan melalui berbagai media cetak dan elektronik seperti
koran, berita, dan brosur yang disebarkan kepada masyarakat. Publikasi ini
berisi informasi penting mengenai sejarah Seni Arja, nilai budaya yang
terkandung di dalamnya, serta ajakan untuk turut serta dalam melestarikan seni
tradisional ini. Gambar 6 Koran dan berita memuat artikel yang menyoroti
pentingnya peran masyarakat, terutama generasi muda Desa Keramas, dalam menjaga
warisan budaya Seni Arja agar tetap hidup. Sementara itu, Gambar 7 Brosur
disusun dengan desain yang menarik, yang disebarkan berfokus pada ajakan untuk
menonton pagelaran Arja yang akan digelar Melalui penyebaran informasi ini,
diharapkan masyarakat yang lebih luas, termasuk di luar Desa Keramas, menjadi
lebih sadar akan upaya pelestarian Seni Arja dan terdorong untuk berpartisipasi
dalam menjaga seni tersebut sebagai bagian dari warisan budaya Bali.

Gambar 8. Pagelaran �Gebyar Arja� Hasil
Pelaksanaan Tim Pelaksana PPK Ormawa
Gambar 8 Pagelaran Seni Arja diselenggarakan
dengan tajuk "Gebyar Arja", yang diadakan di Wantilan Pura Desa
Keramas, menjadi puncak dari program pelestarian ini dan berlangsung dengan
meriah, dihadiri oleh masyarakat Desa Keramas, pejabat struktural kampus,
perwakilan dinas kebudayaan, dan tamu undangan lainnya. Acara ini mendapat
antusiasme tinggi dari seluruh lapisan masyarakat, yang menyaksikan pertunjukan
para pemuda desa hasil dari pelatihan intensif Seni Arja di Sanggar Siwa Ratri.
Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat memberikan legitimasi dan dukungan
kuat terhadap pelestarian seni tradisional, menegaskan pentingnya Seni Arja
sebagai identitas budaya yang berharga. Salah satu aspek yang penting dalam
pertunjukan atau penyajian dramatari Arja adalah tempat pertunjukan. Hal ini
dikarenakan tempat pertunjukan juga berperan penting dalam keberhasilan sebuah
pementasan. Pementasan dramatari Arja sering diadakan di wantilan pura atau
bale banjar yang ukurannya luas. Ada juga yang dipentaskan di jaba pura atau di
panggung pertunjukan khusus seperti di Art Centre
������������������������ 
|
Gambar 9. Poster |
Gambar 10. Publikasi Media Elektronik pasca-pagelaran |
Kegiatan sosialisasi yang lebih luas, tim
pelaksana juga merancang poster Gambar 9 yang berisi latar belakang pelaksanaan
program PPK Ormawa, pencapaian program, serta metode yang digunakan dalam
pelaksanaan kegiatan ini. Poster ini dipublikasikan sebagai dokumentasi yang
komprehensif yang diharapakan untuk mengajak generasi muda aktif terlibat dalam
menjaga budaya lokal. Selain itu, pada gambar 10. Dilakukan kembali publikasi
media elektronik juga dilakukan oleh tim peneliti pasca-pagelaran. Hal ini
menjadi bentuk dari upaya penting untuk menyebarluaskan hasil dan pencapaian
program kepada khalayak yang lebih luas, serta menjadi inspirasi bagi daerah
lain dalam melaksanakan program serupa demi pelestarian seni dan budaya
tradisional. Dengan terbitnya publikasi hasil pelaksanaan program pula,
pelestarian Seni Arja kini semakin dikenal dan diakui di tingkat lokal maupun
regional, menjadikan Desa Keramas semakin kokoh sebagai Desa Budaya.
KESIMPULAN
Pelestarian
Seni Arja sebagai bagian dari budaya Bali di Desa Keramas, Gianyar, telah berhasil meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam melestarikan warisan budaya yang hampir punah. Melalui
serangkaian program yang dirancang,
seperti sosialisasi, pembentukan sanggar seni, penyusunan kurikulum dan AD/ART, serta pembuatan modul budaya dan buku refleksi, upaya pelestarian ini mendapat dukungan yang luas dari berbagai
pihak. Puncaknya adalah pelaksanaan pagelaran "Gebyar
Arja," yang menunjukkan hasil
nyata dari pelatihan dan program pelestarian
tersebut. Dengan pendekatan ini, Seni Arja tidak hanya berhasil
dipertahankan sebagai identitas budaya lokal tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan budaya berkelanjutan di wilayah
lain, menjadikan Desa Keramas
sebagai model desa budaya yang kokoh dan dikenal luas.
DAFTAR PUSTAKA
�Dibia, I. Wayan. (2017). Arja: Drama
Tari Bali. Denpasar: Institut Seni Indonesia
(ISI) Denpasar.
Sukarma,
I. W. (2021). Pengembangan Kearifan
Lokal Seni Budaya Melalui Pendidikan Berbasis
Banjar di Bali. JURNAL UNS.
Gunarta, I. W. A. (2022). Nilai-Nilai
Pendidikan Karakter dalam Dramatari
Arja Basur di Desa Adat Tegal, Darmasaba Badung Bali.
JOURNAL UNY.
I
Putu Gede Budhi Danaswara,
I Nyoman Sedana, I Gusti Putu Sudarta.
2024. Transformasi Arja ke dalam Wayang Kulit
Arja Lakon Citta Kelangen Dalang
I Made Sidja. Jurnal Pendidikan Tambusay, Vol 8 No 2. Hal. 29661-29676.
Jannati & Syifa
A. (2022). Modal Sosial dalam
Revitalisasi Kearifan Lokal
di Desa Wisata Kandri. JURNAL
UNS.
Lamopia, I. W. G. (2022). Masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan. JOURNAL
UNY.
Luh Putu Elik Sri Karisma et al. 2024. Identifikasi Pertunjukan Arjakeramas Lakon. Journal PENSI. Vol. 2 No. 4. Hal.
147-159.
Muslihin, H. Y., Pranata, O. H., Nurlaela, W., & Cahyana.
(2021). Hambatan dan Tantangan
Proses Pelestarian Budaya Lokal dalam Seni Tradisi. JOURNAL UNY.
Ni Made, R. (2019). Keterpinggiran
Kelompok Kesenian Cak Bedulu
Dalam Seni Pertunjukan Pariwisata
Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya,
34(2), 186-198.
Wulandari,
R., & Lamopia, I. W. G. (2022). Bali Mendongeng: Revitalisasi Kearifan
Lokal yang Memudar. JOURNAL
UNY.
Nugroho,
Djono, & Sariyatun. (2021). Peranan
Sanggar Seni Santi Budaya dalam Pelestarian Budaya Tradisional. JURNAL UNS.
Rindi,
Mirna, & Sari (Amirul Nisa) (2021). Budaya Patriarki Bali Menurut Perspektif Ni Komang Ariani dalam
Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri. JURNAL UNS.
�Saputra & Alan D. (2022). Penerapan Arsitektur Tradisional Bali pada Perancangan
Teater Kontemporer. JURNAL UNS.
Triwardani, R., & Rochayanti,
C. (2014). Implementasi kebijakan
desa budaya dalam upaya pelestarian
budaya lokal. Reformasi, 4
(2), 102�110.