PELESTARIAN BUDAYA BALI MELALUI SENI ARJA MENJADI DESA BUDAYA DI DESA KERAMAS, GIANYAR

 

I Gusti Agung Agra Adiaya1, Ni Luh Diana2, Kadek Pina Piaska Yanti3, Ni Kadek Widya Kusumaningsih4

Universitas Warmadewa, Indonesia

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3, [email protected]4

Abstrak:

Pelestarian budaya local menjadi tantangan signifikan di Tengah arus globalisasi yang mengancam keberlangsungan seni tradisional, termasuk Seni Arja di Bali. Seni Arja, sebagai teater klasik Bali yang memadukan elemen tari, music, dan drama, menghadapi penurunan minat khususnya di kalangan generasi muda akibat modernisasi dan kurangnya partisipasi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi pelestarian Seni Arja melalui pendekatan berbasis desa budaya di Desa Kramas, Gianyar. Dengan menggunakan metode kualitatif parsitipatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan maestro seni, observasi kegiatan budaya, dan survie Masyarakat. Hasil Arja melalui program-program seperti pembentukan sanggar seni, penyusunan kurikulum dan modul budaya, serta pelaksanaan pagelaran seniGebyar Arja�. Implikasi dari penelitian ini adalah memberikan panduan strategis bagi pengelola desa adat dan pemerintah daerah untuk menjadikan Seni Arja sebagai inti dari pengembangan desa budaya, sehingga mendukung pariwisata berkelanjutan dan memperkuat identitas budaya local.

 

Kata kunci: Seni Arja; pelestarian budaya, generasi muda

 

Abstract:

Preserving local culture is a significant challenge amidst the current of globalization that threatens the sustainability of traditional arts, including Seni Arja in Bali. Seni Arja, as a classical Balinese theater that combines elements of dance, music, and drama, is facing declining interest, especially among the younger generation due to modernization and their lack of participation. This study aims to develop a strategy for preserving Seni Arja through a cultural village-based approach in Keramas Village, Gianyar. Using a participatory qualitative method, data were collected through in-depth interviews with art maestros, observations of cultural activities, and community surveys. The results of the study show an increase in awareness and participation of the younger generation in preserving Seni Arja through programs such as the establishment of art studios, the preparation of cultural curricula and modules, and the implementation of the �Gebyar Arja� art performance. The implications of this study are to provide strategic guidance for traditional village managers and local governments to make Seni Arja the core of cultural village development, thereby supporting sustainable tourism and strengthening local cultural identity.

 

Keywords: Arja Art, Cultural Preservation, Youth.

Corresponding: I Gusti Agung Agra Adiaya

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Globalisasi telah membawa dampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya. Di satu sisi, globalisasi mempermudah akses terhadap budaya global; di sisi lain, fenomena ini menyebabkan semakin tergerusnya budaya lokal. Budaya tradisional, sebagai identitas suatu bangsa, menghadapi tantangan serius untuk bertahan hidup di tengah derasnya arus modernisasi. UNESCO mencatat bahwa pelestarian budaya lokal menjadi salah satu prioritas global untuk menjaga keberagaman budaya dunia. Dalam konteks Indonesia, seni tradisional, termasuk seni pertunjukan seperti Arja di Bali, sering kali mengalami penurunan minat di kalangan generasi muda akibat perkembangan budaya populer (Yusuf Muslihin et al., 2021)

Di Bali, seni Arja merupakan warisan budaya yang memiliki nilai estetika, edukasi, dan spiritual yang mendalam. Namun, tekanan globalisasi dan urbanisasi telah menyebabkan berkurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional ini (Gunarta, 2021). Kondisi ini menjadi perhatian global karena seni tradisional seperti Arja tidak hanya penting bagi identitas lokal tetapi juga merupakan bagian dari kekayaan budaya dunia yang perlu dijaga.

Secara khusus, seni Arja di Bali menghadapi berbagai tantangan dalam pelestariannya. Seni ini, yang sebelumnya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali, kini mulai kehilangan relevansi di tengah gaya hidup modern (Putri Wulandari Atur Rejeki, 2022). Desa-desa adat seperti Tenganan Pegringsingan telah menunjukkan upaya pelestarian budaya melalui integrasi seni tradisional ke dalam kehidupan sehari-hari (Dyah R et al, 2017). Namun, praktik-praktik ini belum diadopsi secara luas di seluruh Bali. Penelitian menunjukkan bahwa desa budaya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pelestarian seni tradisional seperti Arja, tetapi diperlukan strategi yang lebih efektif untuk merealisasikannya (Sukarma, 2021).

Pelestarian seni Arja di Bali memiliki urgensi tinggi mengingat perannya dalam menjaga identitas budaya lokal. Seni ini tidak hanya merupakan bentuk hiburan tetapi juga media pendidikan karakter dan spiritual yang dapat memperkuat nilai-nilai lokal di masyarakat (Gunarta, 2021). Menjadikan desa-desa di Bali sebagai desa budaya berbasis seni Arja merupakan langkah strategis untuk melestarikan seni ini sekaligus mendukung pariwisata budaya. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan keberhasilan beberapa desa adat dalam mengintegrasikan seni tradisional ke dalam pengelolaan desa, seperti yang terjadi di Desa Wisata Kandri dan Desa Adat Tenganan Pegringsingan (Dyah, R et al, 2017 :Sukarma, 2021).

Namun, pelaksanaan upaya pelestarian ini tidak bebas dari hambatan. Tantangan meliputi kurangnya dukungan sumber daya, rendahnya partisipasi generasi muda, dan minimnya strategi promosi yang efektif (Muslihin, Y et al., 2021). Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengidentifikasi strategi pelestarian seni Arja melalui pengembangan desa budaya yang berkelanjutan.

Sementara banyak penelitian telah membahas pelestarian seni tradisional di Bali, seperti peran banjar dalam pendidikan seni budaya (Sukarma, 2021) dan nilai pendidikan karakter dalam seni pertunjukan (Gunarta, 2021), masih terdapat kesenjangan dalam penelitian yang fokus pada integrasi seni Arja ke dalam konsep desa budaya. Penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti tantangan umum dalam pelestarian budaya (Muslihin, Y et al., 2021) tanpa memberikan solusi konkret yang berbasis pada pengelolaan desa. Studi ini berusaha mengisi gap tersebut dengan mengeksplorasi bagaimana seni Arja dapat menjadi inti dari strategi pengembangan desa budaya di Bali.

Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pelestarian seni Arja di Bali. Menganalisis potensi seni Arja sebagai elemen inti dalam pengembangan desa budaya. Merumuskan strategi pelestarian seni Arja melalui pendekatan berbasis desa budaya yang berkelanjutan.

Penelitian ini memiliki beberapa implikasi yang signifikan, baik secara akademis maupun praktis. Secara akademis, studi ini berkontribusi pada pengembangan literatur tentang pelestarian budaya tradisional, khususnya seni pertunjukan di Bali. Penelitian ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam pengelolaan desa budaya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (Sukarma, 2021 :Jannati et al., 2020).

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pemerintah daerah, komunitas seni, dan pengelola desa adat untuk mengembangkan strategi pelestarian seni Arja. Selain itu, penelitian ini dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian budaya, memperkuat pariwisata budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengelolaan budaya yang inovatif (Wulandari, 2019).

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif untuk mengeksplorasi strategi pelestarian Seni Arja di Desa Keramas, Gianyar, dan berlangsung selama lima bulan dari Juni hingga Oktober 2024. Fokus utama penelitian adalah komunitas pemuda Desa Keramas, khususnya anggota Sekaa Teruna Teruni dari enam banjar, yang berperan penting dalam pelestarian budaya lokal. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan sosialisasi awal di Balai Desa melibatkan berbagai pihak, termasuk pemuda, tokoh masyarakat, dan dinas kebudayaan, guna meningkatkan kesadaran tentang pentingnya Seni Arja sebagai identitas budaya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan maestro Seni Arja dan anggota masyarakat, observasi partisipatif selama kegiatan, serta dokumentasi pelatihan dan pagelaran seni. Observasi dan wawancara ini memberikan pemahaman mengenai sejarah, nilai budaya, dan tantangan dalam pelestarian Seni Arja.

Penelitian ini berkolaborasi dengan Sanggar Seni Siwa Ratri sebagai pusat pengembangan sanggar dan pelatihan generasi muda, yang akan dilengkapi dengan kurikulum yang disusun bersama ahli dan maetro setempat. Kurikulum mencakup teknik dasar Seni Arja, termasuk tari, musik, dan drama, serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Untuk memperkuat operasional sanggar, disusun AD/ART sebagai pedoman keberlanjutan. Kegiatan pelatihan melibatkan pemuda dari setiap banjar dalam pelatihan intensif tari Arja dan gamelan geguntangan, dengan puncaknya berupa pagelaran seniGebyar Arja� di Wantilan Pura Desa Keramas. Pagelaran ini bertujuan menunjukkan hasil pelatihan dan menarik minat masyarakat serta dukungan pemerintah.

Evaluasi juga dilakukan melalui kuesioner dan wawancara pasca-pagelaran untuk menilai partisipasi generasi muda dan respon masyarakat. Monitoring dilakukan oleh tim peneliti bersama pihak desa untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Untuk memperluas jangkauan, Seni Arja dipromosikan melalui media cetak, elektronik, dan kolaborasi dengan media partner, yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan minat generasi muda terhadap pelestarian Seni Arja. Metodologi komprehensif ini diharapkan dapat memperkuat pelestarian Seni Arja di Desa Keramas dan menjadi model pelestarian budaya bagi wilayah lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada�� awal�� tahun�� 1980 a n seni pertunjukan drama tari arja merupakan satukeseniantradisonal Baliyangsangat dihormati��� dan��� pertunjukannya��� memiliki gengsi�� serta�� prestise�� tinggi�� di�� kalangan masyarakatBali (Dibia, 2017). Pertunjukan arja memiliki��� berbagai fungsidanmaknayang terkaitdengan kehidupan masyarakat Bali.Fungsi utama arja adalah sebagai��� hiburan, tempat penyaluran bakat, dan�� media informasi.Dalampertunjukannya, arjamemberikan pendidikan secara informal melalui tokoh- tokoh yang berkarakter baik, serta menampilkan ajaran agama dan informasi program- program pemerintah. Arja juga berfungsi sebagai alat cultural exchange dengan negara lain, sertasebagaipenggaliandanamelalui penjualan tiket. Dalam setiap pertunjukannya, arja menampilkan berbagai unsur kesenian, seperti seni tari, drama, vokal, seni rias, dan busana, yang membuatpenontonsangatterhiburdan terkesan (Putri, 2024).

Perkembangan seni pertunjukan drama tari arja di Desa Keramas dari tahun�� ke�� tahun�� dengan�� lahirnya generasi-generasipenerus menciptakan semangat baru mengenai arjadi Desa Keramas.Hal ini��� lah��� yang��� dapat��� menguatkan keberadaan��� dari��� komunitas ArjaKeramas. Arja Keramasyangtelah melanglang�� buana�� bukan�� saja�� di dalam�� negeri�� tapi�� sampai�� keluar negeri menyebarkan aroma wanginya�� yang�� amat�� mempesona. Desa Keramas�� mampu�� eksis�� dan bertahanhingga��� saat��� ini,��� tidak terlepas dari regenerasi atau genarasi penerus, yang masih memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikanseni�� pertunjukan�� ini. Hal�� tersebut�� dikarenakan,�� hampir seluruhanggotamasyarakatdi Desa Keramasadalahseniman arja pada zaman�� keemasan seni pertunjukan dramatari arja, minimal masyarakatnya sebagai penikmat serta�� pembangga seni�� pertunjukan dramatari arja (Putri, 2024).Hinggapadatahun 2013�� pamor arja sudah�� meredup, namun�� sebagai�� seniman arja yang memilikirasatanggungjawabmaka lahirlahsebuah Sanggar Arja yaitu Sanggar Seni Siwa Ratriyang didirikan oleh Ni Wayan Latri. Yang berdiripadabulanJuni tahun2013, SanggarbinaanNiWayanLatriini sering melakukan pementasandi pura-puradan juga mendapat tawaran dalamacara�� Pesta Kesenian Bali. Pada tahun 2018 seni pertunjukan dramatari Arja Desa Keramas tampil memukau penonton dengan lakon Dukuh Siladri.Alur cerita dan beberapa adegan kocak yang disajikan olehpara�� penari sangat menghibur dan menuai respon positif dari penonton. Sebagian besar pemain yang tampil masih remaja karena sangatdibutuhkan sekali regenerasipenari arja,sehingga seni pertunjukandramatari arja di Desa Keramas agar tidak terputus.

Dalam upaya melaksanakan program pelestarian Seni Arja di Desa Keramas, adapun program yang dirancang sebagai upaya pelestarian budaya bali melalui Seni Arja menjadi desa budaya di Desa Keramas yaitu penyadaran generasi muda akan pentingnya Seni Arja melalui: 1) Sosialisasi dan Promosi terkait pentingnya Kesenian Arja; 2) Pembentukan kelompok Tari Arja dan Gamelan Geguntangan; 3) Penetapan serta pengembangan sanggar seni termasuk pembentukan AD/ART, Kurikulum, Modul Budaya, dan Buku Refleksi Ormawa; 4) Melaksanakan Pelatihan Rutin; 5) Promosi Seni Arja melalui media cetak dan elektronik seperti koran, berita, dan brosur; serta 6) Melaksanakan Pagelaran sebagai hasil akhir dari pelaksanaan program.

����������������������� �������������������������

������� Gambar 1.Kegiatan Sosialisasi dan Promosi�� Gambar 2. Pembentukan kelompok Tari Arja

�������� dan Gamelan Geguntangan

 

Pada Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi Pelestarian Seni Arja di Desa Keramas merupakan langkah awal yang signifikan dalam program ini. Sosialisasi dan promosi ini dilakukan di Balai Desa Keramas, dimana generasi muda yang menjadi fokus sasaran utama diajak untuk menyadari pentingnya Seni Arja sebagai bagian dari warisan budaya desa mereka. Generasi muda yang dimaksud dalam fokus sasaran utama pelaksanaan program ini adalah Sekaa Teruna Teruni yang merupakan anggota kepemudaan yang ada di Desa Keramas. Adapun Sekaa Teruna Teruni yang terdapat di Desa Keramas terdiri dari 6 (enam) banjar, diantaranya adalah Banjar Biya, Banjar Gelgel, Banjar Lodpeken, Banjar Palak, Banjar Maspait, dan Banjar Lebah. Setiap banjar dari Sekaa Teruna Teruni ini akan berkontribusi dalam membentuk kelompok tari Arja dan kelompok gamelan geguntangan, dengan melibatkan pemuda-pemudi dari masing-masing banjar. Dalam program ini, peneliti mengajak dan melibatkan 30 anggota Sekaa Teruna Teruni untuk berpartisipasi dan mendalami Seni Arja. Sosialisasi ini berhasil menarik perhatian pemuda-pemudi desa, yang mulai memahami pentingnya peran mereka dalam menjaga kelangsungan Seni Arja. Langkah berikutnya terlihat pada Gambar 2. adalah pembentukan kelompok Tari Arja dan Gamelan Geguntangan yang beranggotakan dari setiap Sekaa Teruna Teruni yang ada di Desa Keramas, yang kemudian dilatih secara intensif di sanggar Seni Siwa Ratri.

 

��������� ������������������������

a)       ������������������������������������������������������������b)

Gambar 3. a) Wawancara mengenai penyusunan AD/ART dan Kurikulum, b) Wawancara mengenai Penyusunan isi dari Modul Budaya dan Buku Refleksi Ormawa

 

Tokoh masyarakat seperti seniman lokal juga dilibatkan untuk memberikan wawasan lebih dalam mengenai sejarah dan perkembangan Seni Arja di Desa Keramas. Pada Gambar 3. a) dan b) Peneliti melakukan wawancara dengan salah satu maestro Arja Keramas, yaitu Ibu Ni Wayan Latri. Melalui wawancara bersama Ibu Ni Wayan Ratri diperoleh informasi penting tentang Sejarah Arja Desa Keramas dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Kesenian Arja. Dari wawancara ini menjadi sumber utama dalam melakukan penyusunan terkait penetapan serta pengembangan Sanggar Seni Siwa ratri termasuk menyusun sebuah keperluan administratif sanggar seperti AD/ART dan Kurikulum, serta menyusun atau membuat Modul Budaya dan Buku Refleksi Ormawa yang berisi pemahaman terkait Seni Arja.

��������������������������������������� ��������������������

��������������������������� Gambar 4. Buku Modul Budaya��� Gambar 5. Buku Refleksi Ormawa

 

Gambar 4 Modul Budayayang disusun dalam program pelestarian Seni Arja di Desa Keramas berfungsi sebagai panduan yang berisi informasi tentang sejarah, nilai-nilai filosofis, serta teknik dan praktik Seni Arja. Modul ini didesain untuk menjadi referensi utama dan pedoman utama pelaksanaan kegiatan sanggar bagi para pemuda-pemudi yang berpartisipasi dalam pelatihan di Sanggar Seni Siwa Ratri. Selain itu, adapun Gambar 5 Buku Refleksi Ormawa berperan sebagai dokumentasi atas proses pemberdayaan masyarakat melalui program pelestarian Seni Arja. Buku ini tidak hanya mencatat perjalanan program, tetapi juga menggambarkan bagaimana keterlibatan antara kelompok sasaran dan tim peneliti dalam mengembangkan soft skills dan hard skills mereka. Buku ini juga memuat refleksi mendalam dari para mahasiswa dan pemangku kepentingan tentang tantangan dan pencapaian selama program berlangsung, serta memberikan pandangan tentang bagaimana program ini berkontribusi terhadap pembangunan sosial-budaya di Desa Keramas.

�����������������������������

������ Gambar 6. Publikasi Media Cetak dan Elektronik��� ����� ��Gambar 7. Brosur Pementasan

Upaya pelestarian Seni Arja di Desa Keramas, program ini juga melakukan promosi yang dipublikasikan melalui berbagai media cetak dan elektronik seperti koran, berita, dan brosur yang disebarkan kepada masyarakat. Publikasi ini berisi informasi penting mengenai sejarah Seni Arja, nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta ajakan untuk turut serta dalam melestarikan seni tradisional ini. Gambar 6 Koran dan berita memuat artikel yang menyoroti pentingnya peran masyarakat, terutama generasi muda Desa Keramas, dalam menjaga warisan budaya Seni Arja agar tetap hidup. Sementara itu, Gambar 7 Brosur disusun dengan desain yang menarik, yang disebarkan berfokus pada ajakan untuk menonton pagelaran Arja yang akan digelar Melalui penyebaran informasi ini, diharapkan masyarakat yang lebih luas, termasuk di luar Desa Keramas, menjadi lebih sadar akan upaya pelestarian Seni Arja dan terdorong untuk berpartisipasi dalam menjaga seni tersebut sebagai bagian dari warisan budaya Bali.

Gambar 8. Pagelaran �Gebyar Arja� Hasil Pelaksanaan Tim Pelaksana PPK Ormawa

Gambar 8 Pagelaran Seni Arja diselenggarakan dengan tajuk "Gebyar Arja", yang diadakan di Wantilan Pura Desa Keramas, menjadi puncak dari program pelestarian ini dan berlangsung dengan meriah, dihadiri oleh masyarakat Desa Keramas, pejabat struktural kampus, perwakilan dinas kebudayaan, dan tamu undangan lainnya. Acara ini mendapat antusiasme tinggi dari seluruh lapisan masyarakat, yang menyaksikan pertunjukan para pemuda desa hasil dari pelatihan intensif Seni Arja di Sanggar Siwa Ratri. Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat memberikan legitimasi dan dukungan kuat terhadap pelestarian seni tradisional, menegaskan pentingnya Seni Arja sebagai identitas budaya yang berharga. Salah satu aspek yang penting dalam pertunjukan atau penyajian dramatari Arja adalah tempat pertunjukan. Hal ini dikarenakan tempat pertunjukan juga berperan penting dalam keberhasilan sebuah pementasan. Pementasan dramatari Arja sering diadakan di wantilan pura atau bale banjar yang ukurannya luas. Ada juga yang dipentaskan di jaba pura atau di panggung pertunjukan khusus seperti di Art Centre (Putu et al. 2024).

������������������������

Gambar 9. Poster

Gambar 10. Publikasi Media Elektronik pasca-pagelaran

Kegiatan sosialisasi yang lebih luas, tim pelaksana juga merancang poster Gambar 9 yang berisi latar belakang pelaksanaan program PPK Ormawa, pencapaian program, serta metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Poster ini dipublikasikan sebagai dokumentasi yang komprehensif yang diharapakan untuk mengajak generasi muda aktif terlibat dalam menjaga budaya lokal. Selain itu, pada gambar 10. Dilakukan kembali publikasi media elektronik juga dilakukan oleh tim peneliti pasca-pagelaran. Hal ini menjadi bentuk dari upaya penting untuk menyebarluaskan hasil dan pencapaian program kepada khalayak yang lebih luas, serta menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam melaksanakan program serupa demi pelestarian seni dan budaya tradisional. Dengan terbitnya publikasi hasil pelaksanaan program pula, pelestarian Seni Arja kini semakin dikenal dan diakui di tingkat lokal maupun regional, menjadikan Desa Keramas semakin kokoh sebagai Desa Budaya.

 

KESIMPULAN

Pelestarian Seni Arja sebagai bagian dari budaya Bali di Desa Keramas, Gianyar, telah berhasil meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam melestarikan warisan budaya yang hampir punah. Melalui serangkaian program yang dirancang, seperti sosialisasi, pembentukan sanggar seni, penyusunan kurikulum dan AD/ART, serta pembuatan modul budaya dan buku refleksi, upaya pelestarian ini mendapat dukungan yang luas dari berbagai pihak. Puncaknya adalah pelaksanaan pagelaran "Gebyar Arja," yang menunjukkan hasil nyata dari pelatihan dan program pelestarian tersebut. Dengan pendekatan ini, Seni Arja tidak hanya berhasil dipertahankan sebagai identitas budaya lokal tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan budaya berkelanjutan di wilayah lain, menjadikan Desa Keramas sebagai model desa budaya yang kokoh dan dikenal luas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dibia, I. Wayan. (2017). Arja: Drama Tari Bali. Denpasar: Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Sukarma, I. W. (2021). Pengembangan Kearifan Lokal Seni Budaya Melalui Pendidikan Berbasis Banjar di Bali. JURNAL UNS.

Gunarta, I. W. A. (2022). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Dramatari Arja Basur di Desa Adat Tegal, Darmasaba Badung Bali. JOURNAL UNY.

I Putu Gede Budhi Danaswara, I Nyoman Sedana, I Gusti Putu Sudarta. 2024. Transformasi Arja ke dalam Wayang Kulit Arja Lakon Citta Kelangen Dalang I Made Sidja. Jurnal Pendidikan Tambusay, Vol 8 No 2. Hal. 29661-29676.

Jannati & Syifa A. (2022). Modal Sosial dalam Revitalisasi Kearifan Lokal di Desa Wisata Kandri. JURNAL UNS.

Lamopia, I. W. G. (2022). Masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan. JOURNAL UNY.

Luh Putu Elik Sri Karisma et al. 2024. Identifikasi Pertunjukan Arjakeramas Lakon. Journal PENSI. Vol. 2 No. 4. Hal. 147-159.

Muslihin, H. Y., Pranata, O. H., Nurlaela, W., & Cahyana. (2021). Hambatan dan Tantangan Proses Pelestarian Budaya Lokal dalam Seni Tradisi. JOURNAL UNY.

Ni Made, R. (2019). Keterpinggiran Kelompok Kesenian Cak Bedulu Dalam Seni Pertunjukan Pariwisata Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(2), 186-198.

Wulandari, R., & Lamopia, I. W. G. (2022). Bali Mendongeng: Revitalisasi Kearifan Lokal yang Memudar. JOURNAL UNY.

Nugroho, Djono, & Sariyatun. (2021). Peranan Sanggar Seni Santi Budaya dalam Pelestarian Budaya Tradisional. JURNAL UNS.

Rindi, Mirna, & Sari (Amirul Nisa) (2021). Budaya Patriarki Bali Menurut Perspektif Ni Komang Ariani dalam Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri. JURNAL UNS.

Saputra & Alan D. (2022). Penerapan Arsitektur Tradisional Bali pada Perancangan Teater Kontemporer. JURNAL UNS.

Triwardani, R., & Rochayanti, C. (2014). Implementasi kebijakan desa budaya dalam upaya pelestarian budaya lokal. Reformasi, 4 (2), 102�110.