FORMULASI KESADARAN
DIRI SEBAGAI MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA REMAJA DALAM PENCEGAHAN RISIKO
STUNTING DAN MEMBUAT KEPUTUSAN UNTUK MENDUKUNG KESEHATAN
Roma Tao Toba Muara Ria1,
Sismulyanto2, Relita Br Perangin-angin3
Universitas Borobudur, Indonesia
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3
Pencegahan risiko stunting pada remaja adalah salah satu tantangan dalam bidang kesehatan
karena dampak jangka panjang yang dapat mempengaruhi kualitas hidup remaja sebagai generasi penerus bangsa. Penelitian ini bertujuan terformulasikannya
intervensi kesadaran diri dalam manajemen
asuhan keperawatan bagi remaja guna
mencegah stunting dan membuat
keputusan untuk mendukung kesehatan remaja. Desain penelitian menggunakan mixed method. Pengumpulan
data dilakukan melalui survei, wawancara, dan observasi pada remaja. Hasil penelitian secara kualitatif didapatkan 5 tema faktor risiko
stunting pada remaja yaitu pemahaman tentang stunting, persepsi gizi dan kesehatan, pengaruh lingkungan sosial, tantangan dalam penerapan kesadaran diri, dan �motivasi untuk berubah, hasil dari penelitian
kuantitatif yaitu kesadaran diri merupakan faktor yang dominan mempengaruhi perilaku risiko stunting pada remaja. Formulasi kesadaran diri ini adalah dengan
meningkatkan pengetahuan, sikap dan kesadaran diri akan perilaku
sehat untuk mencegah risiko stunting. Upaya promotif yang dilakukan adalah dengan program pendidikan dan pelatihan Remaja Cerdas Sadar Diri.
Kata kunci: Formulasi;
Kesadaran Diri; Pencegahan;
Remaja; Stunting
Abstract:
Prevention of stunting risk in adolescents
is one of the challenges in the health sector because of the long-term impacts
that can affect the quality of life of adolescents as the next generation of
the nation. This study aims to formulate self-awareness interventions in
nursing care management to prevent stunting and make decisions to support
health in adolescents. The research design uses a mixed method. Data collection
was carried out through surveys, interviews, and observations of adolescents.
The results of the qualitative study obtained 5 themes of stunting risk factors
in adolescents, namely �understanding of stunting, perceptions
of nutrition and health, the influence of the social environment, challenges in
implementing self-awareness, and motivation to change, the results of
quantitative research are that self-awareness is a dominant factor influencing
stunting risk behavior in adolescents. The formulation of this self-awareness
is by increasing knowledge, attitudes and self-awareness of healthy behavior to
prevent the risk of stunting. The promotive efforts carried out are through the
Smart Aware Teenagers education and training program.
Keywords: Formulation;
Self-Awareness; Prevention; Teenagers; Stunting
E-mail: Email author
PENDAHULUAN
Bonus demografi Indonesia akan mencapai puncaknya pada tahun 2030, dimana sebagian besar (70%) penduduknya berada dalam usia produktif
(15-64 tahun), dan 30% penduduk
tidak produktif. Tujuan pembangunan dalam Sustainable
Development Goals (SDGs) tahun 2030 menitik beratkan pada peran remaja dalam
mewujutkan pembangunan berkelanjutan. Sebagai penerus bangsa, remaja harus disiapkan
untuk menjadi generasi yang unggul dan memiliki nilai-nilai, prestasi, dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri remaja sendiri
dan orang lain. Remaja memiliki
peran penting dalam mendukung pelaksanaan SDGs melalui pemahaman dan tindakan yang salah
satunya terkait dengan kesehatan, karena remaja lebih
rentan terhadap masalah kesehatan sehingga memerlukan dukungan akses pelayanan kesehatan. Sangat penting untuk memiliki
proses keperawatan yang optimal bagi
remaja agar dapat memiliki perilaku kesehatan yang baik guna mencegah terjadinya
stunting. Asuhan��
keperawatan pada remaja
dapat dioptimalkan dengan menerapkan kesadaran diri dalam berperilaku sehat guna mencegah
stunting dan membuat keputusan
yang mendukung kesehatan remaja. Sepuluh tahun terakhir masalah kekurangan gizi telah meningkat
tanpa batas, oleh karena itu tujuan pembangunan
global adalah mengurangi
stunting secara signifikan
Remaja sebagai penerus bangsa, harus disiapkan untuk menjadi generasi
yang unggul. Prevalensi
status gizi menurut tinggi badan pada remaja di DKI
Jakarta, usia 13-15 tahun,
2,9% sangat pendek, 7,1% pendek , sedangkan
prevalensi status gizi berdasarkan IMT 1,9 sangat kurus, 6,2% kurus, 15,1% gemuk dan 10% gemuk
Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan yang mendapat perhatian global karena dampaknya terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak. Menurut World Health
Organization (WHO), sekitar 22% anak
balita di dunia mengalami
stunting (WHO, 2023). Kondisi ini
menghambat pertumbuhan fisik, memengaruhi kapasitas belajar, dan meningkatkan risiko penyakit kronis di masa dewasa (Black et al., 2020). Mengingat
implikasi luasnya, stunting
diprioritaskan dalam Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk
mengurangi angka kejadian hingga 40% pada tahun 2025 (UNICEF, 2022).
Di Indonesia,
stunting masih menjadi masalah kesehatan utama dengan prevalensi
yang cukup tinggi, mencapai 24,4% pada tahun 2022
(Kementerian Kesehatan RI, 2023). Salah satu kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus adalah remaja,
terutama remaja putri yang kelak menjadi calon ibu.
Kurangnya kesadaran diri tentang pentingnya
gizi dan kesehatan reproduksi sering kali menyebabkan risiko stunting pada generasi berikutnya (Sari &
Putri, 2021).
Teori kesadaran diri dalam psikologi kesehatan menyatakan bahwa individu yang memiliki kesadaran diri yang tinggi cenderung memiliki perilaku kesehatan yang lebih baik (Rogers & Maslow,
2019). Dalam konteks keperawatan,
manajemen asuhan keperawatan yang berbasis kesadaran diri dapat memotivasi remaja untuk menjaga
kesehatan diri dan mencegah risiko stunting (Nursalam, 2020).
Pendekatan keperawatan berbasis kesadaran diri mencakup intervensi
edukasi gizi, konseling kesehatan reproduksi, dan promosi kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan yang diberikan oleh perawat dapat meningkatkan pemahaman dan perilaku kesehatan remaja (Hidayati & Amalia, 2021). Oleh karena
itu, integrasi teori kesadaran diri dalam manajemen
asuhan keperawatan menjadi strategi yang potensial untuk menurunkan prevalensi stunting.
Melihat tingginya angka stunting dan pentingnya kesehatan remaja sebagai calon ibu,
penelitian ini memiliki urgensi tinggi. Remaja membutuhkan intervensi yang tidak hanya bersifat
preventif tetapi juga promotif, yang berfokus pada penguatan kesadaran diri untuk menjaga
kesehatan secara holistik (Yulianti, 2022). Manajemen
asuhan keperawatan berbasis kesadaran diri menjadi solusi
yang dapat diterapkan secara luas dalam
program kesehatan masyarakat.
Tujuannya adalah terformulasikannya intervensi kesadaran diri dalam manajemen asuhan keperawatan bagi remaja guna
mencegah stunting dan membuat
keputusan untuk mendukung kesehatan remaja.
Bagaimanakah formulasi kesadaran diri dalam manajemen asuhan keperawatan pada remaja dalam mencegah
risiko stunting dan membuat
keputusan untuk mendukung kesehatan? Pencegahan risiko stunting pada remaja dilakukan dengan mengendalikan faktor internal. Pengetahuan remaja yang luas tentang persepsi dan pengalaman yang berfokus pada diri sendiri sering
disebut dengan kesadaran diri, yang terdiri dari sadar
akan pikiran, perasaan, keyakinan, sikap dan perilaku. Pencegahan risiko stunting pada remaja diperlukan kesadaran diri
Strategi pemecahan masalah dengan menggunakan intervensi yang diterapkan di sekolah karena sekolah merupakan peer grup terkuat dari
remaja dan sekolah merupakan lokasi terpusat untuk individu dengan rentang usia tertentu,
misal sekolah menengah pertama untuk remaja usia
12-15 tahun. Intervensi
yang akan digunakan merupakan gabungan dari teori transisi
Meleis dan teori transtheoritical model (Prochaska). Kedua
teori tersebut dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan hidup remaja seperti
pengetahuan, sikap, perilaku sehat, kesadaran diri, dan membuat keputusan untuk mendukung kesehatan secara mandiri.
METODE
PENELITIAN
Desain mixed method digunakan
untuk memformulasikan intervensi kesadaran diri pada remaja guna mencegah stunting dan membuat keputusan yang mendukung kesehatan remaja. Mixed method dilakukan dengan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi persepsi remaja tentang tumbuh kembang remaja, perubahan-perubahan yang dialami remaja, perilaku sehat dan perilaku tidak sehat, serta pola
asuh keluarga . Sedangkan pendekatan
kuantitatif digunakan untuk menyusun prinsip dasar intervensi
kesadaran diri sebagai dasar asuhan
keperawatan pada remaja guna mencegah stunting dan membuat keputusan untuk mendukung kesehatan.
Penelitian ini dengan menggunakan subyek remaja yang memiliki usia yang rentan terhadap terjadinya perubahan kearah positif maupun negatif, sehingga perlu formulasi atau intervensi yang mumpuni dan ramah remaja agar melalui tahapan sistem (input-output) dapat meningkatkan kesadaran diri untuk mencegah
risiko stunting dan membuat
keputusan untuk mendukung kesehatan remaja.
Populasi adalah remaja SMP (Sekolah Menengah Pertama di wilayah
Jakarta Timur. Sampel penelitian kuantitatif
diambil 200 siswa dari 5 sekolah. Sampel penelitian� kualitatif dari 5 sekolah dengan jumlah 55 sampel, dengan jumlah 3 remaja, guru UKS 3 ,
orang tua remaja 3, petugas Puskesmas 2. sehingga total sampel 255. Penelitian ini akan dilaksanakan selama 1 tahun, mulai dari persiapan,
pelaksanaan dan evaluasi.
Fase pelaksanaan
dilakukan dengan pendekatan mixed method. Pengambilan
data dengan pendekatan kuantitatif menggunakan survei dan pendekatan kualitatif dilakukan wawancara mendalam dan FGD untuk mengeksplorasi penyebab terjadinya stunting pada
remaja, bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku remaja serta pola asuh
yang diberikan oleh orang tua
dan bagaimana dukungan akses kesehatan yang diterima oleh remaja. Agar data
yang didapat komprehensif peneliti melakukan observasi secara langsung ke sekolah
dan kunjungan rumah.
Peneliti telah mengidentifikasi masalah untuk memperoleh pemahaman mengenai faktor risiko stunting pada remaja dan pilihan keputusan untuk mendukung kesehatan. Metode kuantitatif dan kualitatif digunakan untuk mengungkapkannya. Peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan menerapkan pada semua tahapan penelitian, mulai dari merancang
kerangka, menentukan subjek, membangun konsep, mengajukan hipotesis, memetakan definisi operasional, memilih lokasi, merumuskan etika hingga menganalisis hasil yang terkumpul. Hasil data kuantitatif dianalisis secara statistik melalui regresi, sedangkan data kualitatif ditranskrip dan dianalisis secara tematik sehingga dihasilkan tema-tema permasalahan.
Teknik Pengumpulan
Data
Pendekatan Kuantitatif:
a.
Survei:
Dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup variabel
seperti pengetahuan, sikap, kesadaran diri, dan perilaku risiko stunting pada
remaja.
b.
Sampel:
200 siswa dari lima sekolah menengah pertama di Jakarta Timur.
Pendekatan Kualitatif:
a.
Wawancara
Mendalam: Dilakukan dengan remaja, orang tua, guru UKS, dan petugas Puskesmas
untuk mengeksplorasi faktor risiko dan tantangan dalam penerapan kesadaran
diri.
b. Focus Group Discussion (FGD): Melibatkan
para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan strategi intervensi.
c.
Observasi
Langsung: Dilaksanakan di sekolah dan kunjungan rumah untuk mendapatkan data
autentik.
Teknik Analisis
Data
Analisis Kuantitatif:
a.
Statistik
Deskriptif: Untuk mendeskripsikan karakteristik sampel.
b.
Analisis
Regresi: Untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen
(pengetahuan, sikap) dan variabel dependen (kesadaran diri dan perilaku risiko
stunting).
Analisis Kualitatif:
a.
Transkripsi
Wawancara: Data dari wawancara direkam, ditranskrip, dan dianalisis secara
tematik.
b.
Tematisasi:
Proses analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul,
seperti persepsi tentang stunting, pengaruh lingkungan sosial, dan motivasi
untuk berubah.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil metode kuantitatif karakteristik, pengetahuan, sikap, perilaku dan kesadaran diri pada remaja di Jakarta Timur sebagai berikut:
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Remaja
di Jakarta Timur (n=203)
|
Karakteristik |
Jumlah |
||
|
n |
% |
||
|
1. |
Umur 1.
12 Tahun 2.
13 Tahun 3.
14 Tahun 4.
15 Tahun |
26 78 70 29 |
12,8 38, 34,5 14,3 |
|
2. |
Jenis kelamin 1)
Laki-Laki 2)
Perempuan |
77 126 |
37,9 62,1 |
|
3. |
Kelas 1)
Kelas 7 2)
Kelas 8 3)
Kelas 9 |
81 74 48 |
39,9 36,5 23,6 |
|
4. |
IMT (Index Masa
Tubuh) Kurus� : Berat < 17,0 ������������� Ringan 17,0 � 18,4 Normal: 18,5
-25,0 Gemuk:� Ringan 25,1 -27,0 �������������� Berat > 27 |
52 37 106 4 4 |
25,62 18,21 52,22 1,97 1,97 |
|
5. |
Tinggal Bersama 1)
Bersama orang tua 2)
Bersama kakek/nenek 3)
Bersama saudara 4)
Lain-lain |
195 4 1 3 |
96,1 2,0 0,5 1,5 |
|
6. |
Pendidikan Ayah 1)
Perguruan Tinggi 2)
SMA 3)
SMP 4)
SD 5)
Tidak sekolah |
68 95 24 11 5 |
33,5 46,8 11,8 5,4 2,5 |
|
7. |
Pekerjaan Ayah 1)
Pegawai Negeri Sipil/ASN 2)
TNI/Polri 3)
Karyawan Swasta 4)
Wirausaha/Wiraswasta 5)
Lain-lain |
23 8 74 43 55 |
11,3 3,9 36,5 21,2 27,1 |
|
8. |
Pendidikan Ibu 1)
Perguruan Tinggi 2)
SMA 3)
SMP 4)
SD 5)
Tidak Sekolah |
67 87 32 13 4 |
33 47,9 15,8 6,4 2,0 |
|
9. |
Pekerjaan Ibu 1)
Ibu Rumah Tangga 2)
Pegawai Negeri Sipil/ASN 3)
TNI/Polri 4)
Karyawan Swasta 5)
Wirausaha/Wiraswasta 6)
Lain-lain |
139 13 12 22 13 4 |
68,5 6,4 5,9 10,8 6,4 2,0 |
|
10. |
Tingkat pendapatan
keluarga�����
1)
Diatas UMR (Rp. 4.498.961) 2)
Dibawah UMR (Rp. 4.498.961) |
121 82 |
59,6 40,4 |
|
11. |
Aktifitas
menjalankan ibadah 1)
Selalu 2)
Sering 3)
Kadang-kadang |
200 39 22 |
76,6 14,9 8,4 |
Tabel 2. Distribusi
Responden Berdasarkan Pengetahuan, Sikap, Kesadaran Diri dan
Risiko
Stunting� pada� Remaja di Jakarta
Timur (n=203)
|
Variabel |
Jumlah |
|
|
� n |
� % |
|
|
Pengetahuan Baik Kurang |
133 70 |
65,5 34,5 |
|
Sikap ����� Baik ����� Kurang |
129 74 |
63,5 36,5 |
|
Perilaku Risiko Stunting ������ Tinggi ������ Rendah |
114 89 |
56,2 43,8 |
|
Kesadaran Diri ����� Baik ����� Kurang |
103 100 |
50,7 49.3 |
Peneliti juga melakukan pendekatan
kualitatif dalam desain penelitian, partisipan, waktu dan tempat penelitian, etika penelitian, alat pengumpul data, prosedur pengumpulan data dan analisis data pada metode kualitatif dalam mengidentifikasi� faktor risiko stunting pada remaja. Penelitian kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam
terhadap partisipan remaja, orang tua, guru UKS dan petugas puskesmas
didapatkan 5 tema faktor risiko stunting pada remaja yaitu a) pemahaman tentang
stunting, b) persepsi gizi dan kesehatan, c) pengaruh lingkungan sosial, d)
tantangan dalam penerapan kesadaran diri, dan e) motivasi untuk berubah.
Sedangkan hasil dari penelitian kuantitatif yaitu kesadaran diri merupakan
faktor yang dominan mempengaruhi perilaku risiko stunting pada remaja.
Formulasi kesadaran diri sebagai manajemen asuhan
keperawatan pada remaja dalam mencegah risiko stunting dan membuat keputusan
untuk mendukung kesehatan disusun dengan
menggunakan pendekatan teori transisi
meleis dan transtheoritical model of
change. �Tahap ini dilakukan studi literatur, sintesis
model, pembuatan draft modul kesadaran
diri, dan uji keterbacaan modul kesadaran diri oleh remaja. Formulasi kesadaran diri membentuk pola hubungan sistem
yang saling mempengaruhi satu sama lain antara pengetahuan, sikap, kesadaran
diri akan perilaku sehat mencegah risiko stunting pada remaja. Formulasi
kesadaran diri melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, pendampingan,
monitoring dan mandiri sehingga remaja memiliki perilaku sehat dan menjadi gaya
hidup.
Formulasi kesadaran diri ini adalah
dengan meningkatkan pengetahuan, sikap dan kesadaran diri akan perilaku sehat
untuk mencegah risiko stunting. Upaya promotif
yang dilakukan adalah dengan program pendidikan dan pelatihan Remaja Cerdas Sadar
Diri yang terdiri dari 2 modul yaitu modul
pertama tentang kapasitas diri remaja (Remaja Cerdas) dan modul kedua tentang
Kesadaran Diri.
Pembahasan
Pubertas
pada remaja mengakibatkan tingkat neurotransmite berubah. Peningkatan neurotransmitter
dopamin terjadi di kedua korteks prefrontal dan sistem limbik selama
masa remaja
Perubahan
sistem syaraf pada remaja mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan, dan perilaku
berisiko. Lingkungan keluarga juga dapat mempengaruhi
perkembangan otak remaja menjadi terbatas.
Remaja
merupakan masa transisi perkembangan, dimana terjadi perubahan-perubahan baik fisik, kognitif,
moral, emosional, sosial, kepribadian dan spiritual yang dapat
mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan diantaranya stunting. Ada lima subkonsep
pengalaman transisi, salah satunya kesadaran.
Formulasi
kesadaran diri adalah untuk memodifikasi
perilaku remaja menuju arah yang lebih baik. Tahap
pertama (precontemplation): remaja belum tahu
atau belum mendapatkan informasi tentang konsekuensi atau akibat dari
suatu perilaku. Oleh sebab itu perlu
peningkatan kesadaran melalui pemberian informasi sehingga menimbulkan niat untuk melakukan perubahan (tahap kedua contemplation). Tahap
ini individu niat berubah dalam
6 bulan ke depan namun masih
memiliki kebingungan sehingga tahap ini membutuhkan waktu yang sangat lama.
Individu
masih melakukan perilaku berisiko namun menyadari bahwa perilaku tersebut dapat menimbulkan masalah. Remaja yang memiliki kesadaran diri yang tinggi cenderung lebih mampu mengelola
stres dan membuat keputusan yang lebih baik terkait kesehatan
mereka. Remaja yang memiliki kesadaran diri yang baik, lebih terlibat dalam perilaku sehat, seperti olahraga dan pola makan yang seimbang. Sebaliknya, remaja yang kurang sadar diri
sering kali terjebak dalam perilaku berisiko, seperti konsumsi makanan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik.
Manajemen Asuhan Keperawatan
pada remaja dihadapkan pada sejumlah tantangan yang kompleks akibat perubahan
fisiologis, kognitif, dan sosial selama periode pubertas. Salah satu perubahan
yang terjadi adalah peningkatan neurotransmitter dopamin di korteks prefrontal
dan sistem limbik, yang dapat mengarah pada peningkatan motivasi, tetapi juga
meningkatkan kerentanan terhadap perilaku berisiko, seperti pola makan yang
tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Perkembangan yang belum sepenuhnya
matang pada korteks prefrontal memengaruhi kemampuan remaja dalam mengendalikan
emosi dan membuat keputusan yang bijaksana.
Selain itu, faktor lingkungan
keluarga dan kondisi ekonomi, seperti kemiskinan, berperan dalam mempengaruhi
perkembangan otak, kemampuan kognitif, aspek psikologis, dan kesehatan fisik
remaja, yang berpotensi meningkatkan risiko stunting serta masalah kesehatan
lainnya. Dalam penerapan program kesehatan, terdapat tantangan signifikan
terkait dengan ketidakcocokan jadwal antara remaja, guru UKS, dan tenaga
kesehatan, terutama dalam kegiatan kunjungan rumah. Perbedaan waktu kunjungan
dengan jadwal sekolah remaja yang bervariasi antara pagi dan sore, serta
keterbatasan waktu guru UKS yang sibuk mengajar, menghambat efektivitas
intervensi yang dilakukan.
Untuk mengatasi tantangan
ini, berbagai langkah strategis dapat diambil oleh tenaga keperawatan.
Meningkatkan kesadaran diri remaja merupakan langkah awal yang penting, yang
dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan yang menyoroti konsekuensi dari
perilaku berisiko dan manfaat dari pola hidup sehat. Edukasi ini juga
melibatkan peran keluarga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung.
Pendekatan yang terstruktur dengan memanfaatkan tahap perubahan perilaku
seperti precontemplation dan contemplation dapat digunakan untuk membantu
remaja mengenali dan mengubah kebiasaan buruk. Selain itu, penyesuaian waktu
kunjungan rumah agar sesuai dengan jadwal remaja, seperti dilakukan di luar jam
sekolah atau pada akhir pekan, dapat meningkatkan aksesibilitas intervensi.
�Penguatan program berbasis sekolah, dengan
mengintegrasikan promosi kesehatan ke dalam kurikulum dan menyediakan kegiatan
ekstrakurikuler yang mendukung gaya hidup sehat, juga dianggap sebagai strategi
yang efektif. Di sisi lain, kolaborasi multisektoral dengan pemerintah daerah,
organisasi masyarakat, dan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan untuk mendukung
keberlanjutan program, termasuk pelatihan bagi guru UKS dalam mendeteksi
perilaku berisiko secara dini. Melalui pendekatan ini, diharapkan remaja dapat
menjalani masa transisi perkembangan dengan lebih sehat dan produktif.
KESIMPULAN
Demografi
Indonesia memberikan bonus peluang
besar bagi generasi muda dalam
pembangunan berkelanjutan
di Tahun 2030 yang mana hal
ini sesuai dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Namun, terdapat masalah yang mungkin terjadi yang disebabkan oleh tingginya angka prevalensi dalam bidang kesehatan
dikalangan remaja sehingga hal ini
memerlukan perhatian serius. Berdasarkan hasil penelitian ini, kesadaran diri memiliki peranan
penting dalam mencegah perilaku yang berisiko pada permasalahan
stunting. Stunting dapat berdampak
pada pengetahuan, sikap, serta perilaku remaja. Hal ini pula dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga dan ekonomi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kesadaran kesehatan remaja.
Oleh sebab itu, diperlukan formulasi intervensi kesadaran diri dalam manajemen asuhan keperawatan remaja yang terbukti efektif dalam meningkatkan
perilaku kesehatan. Pendekatan ini dilakukan� melalui edukasi, pelarihan, serta monitoring perilaku remaja yang dapat dilakukan oleh keluarga, sekolah, dan fasilitas kesehatan yang mendukung agar remaja dapat mengambil
keputusan dalam menjaga kesehatan mereka. Intervensi yang dimaksudkan dalam hal ini melibatkan
pendekatan perubahan perilaku. Dengan menerapkan model Transtheoretical Model of Change, pemerintah diharapkan mampu memfasilitasi transisi perilaku dan risiko gaya hidup
sehat. Metode ini juga perlu didukung dengan sinergi antara tenaga kesehatan,
keluarga, serta pihak sekolah sehingga
mampu menciptakan generasi muda yang unggul dan bebas Stunting yang
mana capaian ini mendukung perwujudan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
A. L. Pieterse, M. Lee, A. Ritmeester,
And N. M. Collins, �Towards A Model Of Self-Awareness
Development For Counselling And Psychotherapy Training,� Couns Psychol Q, Vol.
26, No. 2, Pp. 190�207, 2013, Doi: 10.1080/09515070.2013.793451.
Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional, �Laporan Pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting
Semester Pertama Tahun
2023,� P. 2, 2023.
G. H. Brody Et Al., �Protective Prevention
Effects On The Association Of Poverty With Brain
Development,� Jama Pediatr, Vol. 171, No. 1, Pp.
46�52, 2017, Doi: 10.1001/Jamapediatrics.2016.2988.
I. A. Dwidyaniti Wira,
�Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stunting Pada
Balita,� Pramana: Jurnal Hasil Penelitian,
Vol. 2, No. 2, P. 213, 2022, Doi: 10.55115/Jp.V2i2.2723.
I. Tanziha, D. Briawan, D. G. Masyarakat, And F. E. Manusia,
�652-Article Text-1693-1-10-20230106,� Vol. 1, No. 2, Pp. 90�96, 2018.
J. L. Leroy And E. A.
Frongillo, �Perspective: What Does Stunting Really Mean? A Critical Review Of The Evidence,� Advances In Nutrition, Vol. 10, No. 2, Pp.
196�204, 2019, Doi: 10.1093/Advances/Nmy101.
M. Dubol Et Al.,
�Dopamine Transporter And Reward Anticipation In A
Dimensional Perspective: A Multimodal Brain Imaging Study,�
Neuropsychopharmacology, Vol. 43, No. 4, Pp. 820�827, Mar. 2018, Doi:
10.1038/Npp.2017.183.
M. Dubol Et Al.,
�Dopamine Transporter And Reward Anticipation In A
Dimensional Perspective: A Multimodal Brain Imaging Study,�
Neuropsychopharmacology, Vol. 43, No. 4, Pp. 820�827, 2018, Doi:
10.1038/Npp.2017.183.
N. Lauharatanahirun, D.
Maciejewski, C. Holmes, K. Deater-Deckard, J. Kim-Spoon, And B. King-Casas,
�Neural Correlates Of Risk Processing Among
Adolescents: Influences Of Parental Monitoring And Household Chaos,� Child Dev,
Vol. 89, No. 3, Pp. 784�796, 2018, Doi: 10.1111/Cdev.13036.
N. O. Nirmalasari,
�Stunting Pada Anak : Penyebab
Dan Faktor Risiko Stunting Di Indonesia,� Qawwam: Journal For Gender Mainstreming,
Vol. 14, No. 1, Pp. 19�28, 2020, Doi: 10.20414/Qawwam.V14i1.2372.
R. E. Dahl, �Adolescent Brain Development: A
Period Of Vulnerabilities And Opportunu,�
Neurosci Biobehav Rev, Vol.
70, No. 2, Pp. 32�35, 2013.
Riskesdas, 2018, �Laporan Riskesdas
2018 Nasional.Pdf,� 2018.
Risnah And M. Irwan, Falsafah
Dan Teori Keperawatan Dalam� Integrasi Keilmuan.
Kabupaten Gowa: Alauddin
University Press , 2021.