PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION KELAS XII IPS 4 DI SMA NEGERI 1 TENGGARONG KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR

 

Jiati

SMA Negeri 1 Tenggarong Kutai Kartanegara

[email protected]

 

Diterima: 12-11-2022��������������������� ��������������� Review: 20-11-2022�������� ��������������� ��������������� Publish: 30-11-2022

Abstrak:

Permasalahan yang sering menjadi perhatian dalam dunia pendidikan adalah permasalahan yang berkaitan dengan cara untuk meningkatkan dan mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai secara efektif dan efisien. Tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan proses pembelajaran yang tepat, menyenangkan, sehingga tujuan dengan sendirinya tercapai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (disingkat PTK) atau Classroom Action Research. hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) memiliki dampak positif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas XII IPS 4 di SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, dimana dalam dua siklus dapat mencapai ketuntasan belajar siswa baik secara individual maupun klasikal.

 

Kata kunci: Peningkatan Hasil Belajar; Model Pembelajaran Group; Investigation.

 

Abstract:

Problems that are often of concern in the world of education are problems related to how to improve and achieve the learning objectives to be achieved effectively and efficiently. Learning objectives can be achieved with appropriate, fun learning processes, so that the objectives are achieved by themselves. The method used in this research is classroom action research (abbreviated PTK) or Classroom Action Research. the results of the research that has been done show that cooperative learning of the Group Investigation (GI) type has a positive impact on increasing student motivation and learning outcomes. Cooperative learning of the Group Investigation (GI) type has proven to be effective in improving the learning outcomes of citizenship education for class XII IPS 4 students at SMA Negeri 1 Tenggarong, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan, where in two cycles students can achieve mastery of learning both individually and classically.

 

Keywords: Improved Learning Outcomes; Group Learning Model; investigation.�����������������

Corresponding: Jiati

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Permasalahan yang sering menjadi perhatian dalam dunia pendidikan adalah permasalahan yang berkaitan dengan cara untuk meningkatkan dan mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai secara efektif dan efisien (Syaparuddin, Meldianus, & Elihami, 2020). Tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan proses pembelajaran yang tepat, menyenangkan, sehingga tujuan dengan sendirinya tercapai.

Paradigma belajar harus berubah dari yang awalnya berorientasi pada guru ke berorientasi siswa, sehingga siswa menjadi subyek bukan lagi objek pendidikan. Lebih lanjut pengajar perlu memberikan materi tersebut dengan jenis penyajian yang sesuai (Suardi, 2018). Misalkan dengan menerapkan model pembelajaran dan kegiatan sosiologis yang sesuai dengan cara berpikir para pelajar dan materi ajar, sehingga materi yang sulit difahami secara individu dapat dipecahkan secara sesama teman. Semua usaha, melalui pemilihan metode dan media, bentuk kegiatan sosial yang cocok maupun melalui model-model bertahap yang sesuai, dianggap perlu untuk meningkatkan mutu pelajaran, dalam hal ini pelajaran Pendidikan kewarganegaraan.

Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan bagi sebagian besar siswa kelas XII IPS 4 sebagai mata pelajaran yang dianggap kurang menarik.Ini menyebabkan siswa cenderung mengabaikan, tidak memperhatikan karena disebabkan oleh banyaknya materi yang harus dihafal, dimana siswa terkadang tidak memahami tujuan diberikannya materi Pendidikan kewarganegaraan.

Model Cooperative Learningdengan berbagai tipe cocok sebagaimodel pembelajaran dalam kurikulum 2013 disaat ini dan sesuai dengan pendekatan teori belajar konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan konsep dalam pembelajaran.Menurut (Handayani & Sujatmiko, 2019)mengenai filsafat kontruktifisme adalahpengetahuan dibangun manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperoleh dari konteks yang terbatas (sempit) dan tidak datang dengan sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, melainkan manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengetahuan nyata�.

(Lie, 2002)mengatakan bahwa model pembelajaran CL belum banyak diterapkan di Indonesia karena alasan: kekhawatiran terjadi kekacauan di dalam kelas, siswa tidak belajar di dalam kelompoknya, memiliki kesan negatif mengenai kerja sama, hanya siswa yang tekun bekerja lebih keras dan siswa yang kurang mampu minder dan nunut hasil saja dan khawatir hilangnya karakter pribadi karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya. Namun perlu dikembangkan untuk bisa mempraktikkan, dan mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Model seperti ini akan sangat penting bagi siswa yang pada dasarnya memiliki banyak tipe dalam implementasinya, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI). Siswa diharapkan mampu bekerja sama saling bantu dan membantu satu sama lain. Proses interaksi antara siswa dalam suatu kelompok akan menimbulkan ikatan emosional, percepatan pengetahuan bagi siswa yang saling bersikap aktif dalam kegiatan kelompoknya dan lain sebagainya.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti tertarik mengadakan penelitian tentangPeningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Group Investigation kelas XIIIPS 4 di SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas XII IPS 4 di SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

Untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) di SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

Menurut (Artini, Ardana, & Putra, 2014) mengatakan bahwa Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil (4 sampai dengan 6 orang) yang memiliki tingkat kemampuan heterogen/ berbeda, dengan ciri: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Carin, 1993).

Sedangkan menurut (Fatkhurohman, 2017) mengatakan bahwa Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasa-nya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Di samping itu, pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis (Laa, Winata, & Meilani, 2017). Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Menurut (Dakhi, n.d.) selain mampu meningkatkan aktifitas siswa, pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran sains. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (disingkat PTK) atau Classroom Action Research. PTK dipilih karena peneliti ingin memperbaiki proses pembelajaran dengan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas tempat peneliti mengajar agar diperoleh hasil yang optimal. Hal ini didasarkan pada pendapat Ebbutt (Wiriatmadja, 2008) yang mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (Hanifah, 2014).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur di Kelas XII IPS 4 mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan. Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dengan menggunakan 2 Tahapan, yaitu siklus I, dan siklus II dan jika diperlukan akan dilakukan siklus III.

Penelitian Tindakan Kelas ini, akan memperoleh hasil temuan dari setiap siklus yang telah dilaksanakan. Hasil penelitian ini kemudian dideskripsikan, dianalisis dan direfleksikan untuk mengetahui kekurangan serta kelebihan setiap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Sehingga hasil temuan tersebut dapat direfleksikan dari setiap pembelajaran yang disampaikan terhadap siswa dan membuat rencana juga pelaksanaan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pelaksanaan tindakan pada setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut:

 

1.    Hasil Penelitian Siklus I

Sebagaimana penelitian tindakan kelas maka penelitian dilakukan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang pada akhinya membentuk sebuah siklus. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1.    Perencanaan Tindakan

Dalam perencanaan tindakan ini dipersiapkan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan berkenaan dengan pembelajaran yang diterapkan:

1)      Melakukan studi pustaka untuk menyiapkan bahan-bahan persiapan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)

2)      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada tindakan yang diterapkan dalam PTK yaitu dengan Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)

3)      Mempersiapkan media dan alat pembelajaran yang akan digunakan, seperti LKS

4)      Membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian

2.    Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan di Kelas XI IPS dengan jumlah siswa 40 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengamat dan sekaligus sebagai pengajar di kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut.

 

Tabel 1 Hasil Akhir Pada Siklus I

No

Nama

Nilai

1

AJI LIA ELFADINA

80

2

ALFIAWAN

76

3

ALYA ARISTA

60

4

ANANDA AMALIA

84

5

ANNISA AULIA

88

6

ARDYA NAUFAL

84

7

CATRINE MAYSELA

80

8

DESFINA M

80

9

DHEA PUTRI A

72

10

FADRA ARYA. T

64

11

FEDERA R. R

68

12

FEDORA. R.R

72

13

GUVAN KRISTIAN

72

14

JUWITA BUNGA

60

15

M. ALFAN FARIDZI

64

16

MARIA SHERENA

60

17

M. AKBAR RIVAI

72

18

MUFTY WAHUDI

68

19

M. ANWARUL ARDI

68

20

M. FARIL. M.

64

21

M. REZA. NUR

84

22

MUTIA ASYIFA. P

80

23

NAILA ASHAFA

80

24

NAILA SHAKIRA

72

25

NONI FEBRIANA

84

26

NOVIA CALOLINE

80

27

PRINCES NADIRA

76

28

PUTRI FAMALAKOP

80

29

REVA OKTAURA

60

30

RIZKA DWI.P

68

31

SATRIA SUKMA. L

80

32

STEVEN LAUREN

60

33

WINDA FELISHA.P

84

 

Rata-rata

73

 

Belum Tuntas (%)

�� 33

 

Sudah Tuntas (%)

�� 67

 

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 73.00 dan ketuntasan belajar yang dicapai adalah 67.00% atau ada 21 siswa dari 33 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar (terdapat 12 siswa belum tuntas belajar), karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 hanya sebesar 67.00%, lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.

3.    Tahap Observasi

Pada tahap ini, guru yang menjadi observer melaksanakan pengamatan secara langsung terhadap aktifitas guru dan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan mereka diisikan pada Lembar Observasi yang telah peneliti siapkan. Hasil observasi ini sebagai masukan dan evaluasi untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.

 

Tabel 2 Aktivitas Guru Pada Siklus I

Aktivitas

P1

P2

Rata

Persiapan

 

 

 

1)      Mempersiapkan materi pelajaran

3

3

3

2)      Guru memberikan dorongan dan motivasi

3

3

3

3)      Menjelaskan tujuan pembelajaran kooperatif

3

4

3.5

Keterampilan Kooperatif

 

 

 

1)      Guru membentuk kelompok Heterogen

3

3

3

2)      Guru mendorong diskusi kelompok

3

3

3

3)      Guru mengumumkan tim dengan skor tertinggi

4

4

4

4)      Guru mengumumkan siswa dengan skor tertinggi

3

4

3.5

5)      Guru memberikan kuis

3

4

3.5

Memberi Kesimpulan

4

3

3.5

Rata-Rata

3.22

3.44

3.33

Keterangan : 1 : sangat kurang, 2 : kurang, 3 : cukup, 4 : baik; 5: sangat baik

Berdasarkan tabel aktivitas guru pada siklus I diketahui bahwa aktivitas guru dalam kategori baik dimana guru baik dalam membentuk kelompok heterogen, mendorong diskusi kelompok dan mengumumkan tim dengan skor tertinggi dan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Dan secara keseluruhan aktivitas guru dapat dikategorikan baik, namun demikian masih dapat ditingkatkan lagi, karena terdapat beberapa indikator yang dapat dioptimalkan sehingga aktivitas guru dapat menjadi baik.

 

Tabel 3 Aktivitas Siswa Siklus I

Aktivitas

P1

P2

Rata

1)      Siswa dihadapkan pada situasi problematik

3

3

3

2)      Siswa melakukan eksplorasi (mengkaji) sebagai respon terhadap situasi problematik itu

3

4

3.5

3)      Siswa merumuskan tugas belajar dan mengorganisasikannya untuk belajar

4

3

3.5

4)      Siswa melakukan kegiatan belajar kelompok atau mandiri

3

4

3.5

5)      Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam belajar

4

3

3.5

6)      Siswa mengecek ulang hasil belajar

3

3

3

Rata-rata

3.33

3.33

3.33

Keterangan: 1 : sangat kurang, 2: kurang, 3 : cukup, 4 : baik; 5 : sangat baik

Berdasarkan tabel aktivitas siswa pada siklus I diketahui bahwa pada dasarnya aktivitas siswa cukup dan terdapat aktivitas siswa yang baik meskipun itu menurut penilaian salah satu pengamat. Namun perlu sangat ditingkatkan pada saat siswa dihadapkan pada situasi problematik karena masih kategori cukup. Secara keseluruhan aktivitas siswa dalam kategori cukup. Namun demikian secara umum aktivitas siwa adalah cukup dan kondisi demikian masih dapat ditingkatkan.

 

4.    Refleksi

Pada tahap selanjutnya dipaparkan tentang pelaksanaan pembelajaran kooperatif baik kelebihan maupun kekurangan yang telah terlaksana dalam pembelajaran kooperatiaf tipe Group Investigation (GI) ini. Berdasarkan data-data penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut.

1)      Selama proses belajar mengajar guru melaksanakan semua pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan baik.

2)      Dalam proses belajar mengajar siswa tampak aktif dari siklus yang diterapkan namun perlu di dorong lagi keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran kooperatif utamanya dalam melakukan kegiatan kelompok, berdiskusi dan mempersiapkan materi pelajaran.

3)      Hasil belajar belum mengalami ketuntasan pada siklus I sehingga diperlukan siklus lebih lanjut agar dapat namun sebelumnya dilakukan perbaikan pada perencanaan pembelajarannya.

4)      Hasil belajar masih dikategorikan kurang, sehingga perlu ditingkatkan.

 

Hasil Penelitian Siklus II

a.    Perencanaan Tindakan

Dalam perencanaan tindakan ini dipersiapkan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan berkenaan dengan pembelajaran yang diterapkan:

1)      Melakukan studi pustaka untuk menyiapkan bahan-bahan persiapan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)

2)      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada tindakan yang diterapkan dalam PTK yaitu dengan pembelajaran kooperatif dengan melakukan revisi-revisi dari siklus 1

3)      Mempersiapkan media dan alat pembelajaran yang akan digunakan

4)      Membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian

 

b.    Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan di Kelas XI IPS 4 dengan jumlah siswa 33 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengamat dan sekaligus sebagai pengajar di kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.

 

Tabel 4 Hasil Akhir Pada Siklus II

No

Nama

Nilai

1

AJI LIA ELFADINA

84

2

ALFIAWAN

84

3

ALYA ARISTA

80

4

ANANDA AMALIA

92

5

ANNISA AULIA

80

6

ARDYA NAUFAL

88

7

CATRINE MAYSELA

84

8

DESFINA M

84

9

DHEA PUTRI A

88

10

FADRA ARYA. T

92

11

FEDERA R. R

92

12

FEDORA. R.R

92

13

GUVAN KRISTIAN

92

14

JUWITA BUNGA

84

15

M. ALFAN FARIDZI

88

16

MARIA SHERENA

88

17

M. AKBAR RIVAI

80

18

MUFTY WAHUDI

80

19

M. ANWARUL ARDI

88

20

M. FARIL. M.

84

21

M. REZA. NUR

84

22

MUTIA ASYIFA. P

88

23

NAILA ASHAFA

88

24

NAILA SHAKIRA

84

25

NONI FEBRIANA

92

26

NOVIA CALOLINE

84

27

PRINCES NADIRA

84

28

PUTRI FAMALAKOP

84

29

REVA OKTAURA

80

30

RIZKA DWI.P

84

31

SATRIA SUKMA. L

92

32

STEVEN LAUREN

68

33

WINDA FELISHA.P

88

 

Rata-rata

86.00

 

Belum Tuntas (%)

���� 3.00

 

Sudah Tuntas (%)

�� 97.00

 

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 86.00 dan ketuntasan belajar mencapai 97.00% atau ada 32 siswa dari 33 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus kedua secara klasikal siswa sudah tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebesar 97.00% lebih besar dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.

 

c.       Tahap Observasi

Pada tahap ini, guru yang menjadi observer melaksanakan pengamatan secara langsung terhadap aktifitas guru dan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan mereka diisikan pada Lembar Observasi yang telah peneliti siapkan. Hasil observasi ini sebagai masukan dan evaluasi untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.

 

Tabel 5 Aktivitas Guru Pada Siklus II

Aktivitas

P1

P2

Rata

Persiapan

 

 

 

1)      Mempersiapkan materi pelajaran

4

4

4

2)      Guru memberikan dorongan dan motivasi

4

5

4.5

3)      Menjelaskan tujuan pembelajaran kooperatif

4

4

4

Kooperatif

 

 

 

1)      Guru membentuk kelompok Heterogen

5

5

5

2)      Guru mendorong diskusi kelompok

5

5

5

3)����� Guru mengumumkan tim dengan skor tertinggi

4

5

4.5

4)����� Guru mengumumkan siswa dengan skor tertinggi

4

5

4.5

5)      Guru memberikan kuis

5

5

5

Memberi Kesimpulan

5

5

5

Rata-Rata

4.44

4.78

4.61

Keterangan : 1 : sangat kurang, 2: kurang, 3 : cukup, 4 : baik; 5 : sangat baik

Berdasarkan tabel aktivitas guru pada siklus II diketahui bahwa tidak terdapat aktivitas guru dalam kategori kurang, yang perlu ditingkatkan hanya dalam guru memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa. Dan secara keseluruhan aktivitas guru dapat dikategorikan baik. Namun demikian masih dapat ditingkatkan lagi, karena terdapat beberapa indikator yang dapat dioptimalkan sehingga aktivitas guru dapat menjadi sangat baik.

 

Tabel 6 Aktivitas Siswa Siklus II

Aktivitas

P1

P2

Rata

1)      Siswa dihadapkan pada situasi problematik

4

4

4

2)      Siswa melakukan eksplorasi (mengkaji) sebagai respon terhadap situasi problematik itu

4

5

4.5

3)      Siswa merumuskan tugas belajar dan mengorganisasikannya untuk belajar

5

4

4.5

4)      Siswa melakukan kegiatan belajar kelompok atau mandiri

5

5

5

5)      Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan dalam belajar

5

4

4.5

6)      Siswa mengecek ulang hasil belajar

5

5

5

Rata-rata

4.67

4.50

4.58

Keterangan : 1 : sangat kurang, 2: kurang, 3 : cukup, 4 : baik; 5 : sangat baik

Berdasarkan tabel aktivitas siswa pada siklus II diketahui bahwa aktivitas siswa sudah sangat baik, kecuali pada Siswa dihadapkan pada situasi problematik dengan kategori baik. Namun demikian terdapat beberapa indikator seperti siswa memberikan pertanyaan dapat ditingkatkan menjadi sangat baik.

 

d.         Refleksi

Pada tahap selanjutnya dipaparkan tentang pelaksanaan pembelajaran kooperatif, baik kelebihan maupun kekurangan yang telah terlaksana dalam pembelajaran aktif ini. Berdasarkan data-data penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut.

1)      Selama proses belajar mengajar guru melaksanakan semua pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan baik, sehingga didapatkan hasil yang lebih optimal, berdasarkan pada pembelajaran kooperatif yang telah diterapkan. Namun demikian terdapat beberapa indikator pembelajaran yang dapat ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa

2)      Dalam proses belajar mengajar siswa terlihat/tampak lebih aktif dari siklus sebelumnya hal ini ditunjukkan dari tinggi hasil belajar yang didapatkan siswa

3)      Hasil belajar telah mengalami ketuntasan pada siklus II sehingga tidakdiperlukan siklus lebih lanjut.

 

Pembahasan

Sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas, peneliti terlebih dahulu melakukan obeservasi awal terhadap situasi dan kondisi proses pembelajaran, banyak kendala-kendala yang dialami baik oleh guru maupun oleh siswa selama proses pembelajaran yang dilakukan, hal ini tidak terlepas akan pemahaman guru dan siswa terhadap pembelajaran kooperatif, tapi setelah dilakukan penelitian tindakan kelas banyak perubahan yang terjadi seperti minat dan motivasi belajar siswa meningkat, aktivitas belajar siswa meningkat dan hasil belajarpun mengalami peningkatan. Pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif ini menekankan pada peningkatan aktivitas dan efektivitas hasil belajar siswa dan diskusi-diskusi kelompok yang berdasarkan pada pencapaian tim dan siswa di mana pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling berlomba untuk menjadi yang terbaik, dan selanjutnya guru bertindak sebagai seorang fasilitator.

Berdasarkan pada pembahasan yang yang dilakukan, lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Melalui hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) memiliki dampak positif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin baiknya hasil belajar dan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II). Selanjutnya pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai, yaitu mencapai 97.00% atau 32 siswa dari 33 siswa. Di samping itu, ketuntasan belajar dapat dicapai lebih cepat dimana hanya membutuhkan dua siklus pembelajaran. Hal ini tidak terlepas dari pemahaman dan keterampilan guru terhadap pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI).

 

2.       Aktivitas Guru dan Siswa dalam Pembelajaran

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh aktivitas dan guru dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dapat dikategorikan cukup dan baik. Artinya pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dapat digunakan dalam proses belajar karena pada indikator-indikator aktivitas yang diberikan, guru dan siswa dapat melakukan dengan baik. Di samping itu, terjadinya perbaikan-perbaikan aktivitas oleh guru dan siswa dari siklus ke siklus, sehingga ini menjadi salah satu indikator respon positif atau ketertarikan dari guru dan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di kelas.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

  1. Pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas XII IPS 4 di SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, dimana dalam dua siklus dapat mencapai ketuntasan belajar siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Siswa memiliki aktivitas yang baik terhadap pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI), yang ditunjukkan peningkatan aktivitas baik guru maupun siswa pada setiap siklus yang diterapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan kooperatif Tipe Group Investigation (GI).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Artini, Ni Luh Eka, Ardana, I. Ketut, & Putra, D. B. K. T. N. G. R. Semara. (2014). PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBASIS PROYEK TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD GUGUS IV KEROBOKAN KELOD. MIMBAR PGSD Undiksha, 2(1).

 

Dakhi, Hermina. (n.d.). PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SISWA SMA NEGERI 1 PULAU BATU, KABUPATEN NIAS SELATAN. KULTURA, 6778.

 

FATKHUROHMAN, NURHADI. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two (Kekuatan Berdua) terhadap Hasil Belajar pada Pelajaran Matematika Materi Himpunan pada Siswa Kelas VII A MTs Miftahul Huda Bandung Tulungagung Tahun Pelajaran 2014/2015.

 

Handayani, Mentari Deka, & Sujatmiko, Wiji. (2019). Filsafat Konstruktivisme Wadah Implementasi Kurikulum 2013. Seminar Nasional Pendidikan dan Call for Papers (SNDIK) I 2019.

 

Hanifah, Nurdinah. (2014). Memahami penelitian tindakan kelas: teori dan aplikasinya. Upi Press.

 

Laa, Neli, Winata, Hendri, & Meilani, Rini Intansari. (2017). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division terhadap minat belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 2(2), 251�260.

 

Lie, Anita. (2002). Cooperative Learning (Cover Baru). Grasindo.

 

Suardi, Moh. (2018). Belajar & pembelajaran. Deepublish.

 

Syaparuddin, Syaparuddin, Meldianus, Meldianus, & Elihami, Elihami. (2020). Strategi pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar pkn peserta didik. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 30�41.

 

Wiriatmadja, Rochiati. (2008). Strategi Penelitian Tindakan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Dan Dosen. Bandung.