PENINGKATAN
HASIL BELAJAR PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP
INVESTIGATION KELAS XII IPS 4 DI SMA NEGERI 1 TENGGARONG KABUPATEN KUTAI
KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR
Jiati
SMA Negeri 1 Tenggarong Kutai Kartanegara
Diterima: 12-11-2022��������������������� ��������������� Review: 20-11-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
30-11-2022
Abstrak:
Permasalahan yang sering
menjadi perhatian dalam dunia pendidikan adalah permasalahan yang berkaitan dengan
cara untuk
meningkatkan dan mencapai tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai secara efektif dan efisien. Tujuan pembelajaran
dapat dicapai dengan proses pembelajaran yang tepat, menyenangkan, sehingga tujuan dengan sendirinya tercapai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas (disingkat PTK) atau Classroom
Action Research. hasil penelitian
yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) memiliki dampak positif dalam meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terbukti
efektif dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas XII IPS 4 di SMA Negeri 1 Tenggarong
Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, dimana
dalam dua siklus dapat mencapai
ketuntasan belajar siswa baik secara
individual maupun klasikal.
Kata kunci: Peningkatan Hasil Belajar;
Model Pembelajaran Group; Investigation.
Abstract:
Problems that are often of concern in the
world of education are problems related to how to improve and achieve the
learning objectives to be achieved effectively and efficiently. Learning
objectives can be achieved with appropriate, fun learning processes, so that
the objectives are achieved by themselves. The method used in this research is
classroom action research (abbreviated PTK) or Classroom Action Research. the
results of the research that has been done show that cooperative learning of
the Group Investigation (GI) type has a positive impact on increasing student
motivation and learning outcomes. Cooperative learning of the Group
Investigation (GI) type has proven to be effective in improving the learning
outcomes of citizenship education for class XII IPS 4 students at SMA Negeri 1 Tenggarong, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan, where in two cycles
students can achieve mastery of learning both individually and classically.
Keywords: Improved
Learning Outcomes; Group Learning Model; investigation.�����������������
Corresponding: Jiati
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Permasalahan yang sering
menjadi perhatian dalam dunia pendidikan adalah permasalahan yang berkaitan dengan
cara untuk
meningkatkan dan mencapai tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai secara efektif dan efisien (Syaparuddin, Meldianus, & Elihami,
2020). Tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan proses pembelajaran yang tepat, menyenangkan, sehingga tujuan dengan sendirinya
tercapai.
Paradigma belajar harus berubah dari
yang awalnya berorientasi
pada guru ke berorientasi siswa, sehingga siswa menjadi subyek
bukan lagi objek pendidikan. Lebih lanjut pengajar
perlu memberikan materi tersebut dengan jenis penyajian
yang sesuai (Suardi, 2018). Misalkan
dengan menerapkan model pembelajaran dan kegiatan sosiologis yang sesuai dengan cara berpikir
para pelajar dan materi
ajar, sehingga materi yang sulit difahami secara individu dapat dipecahkan secara sesama teman.
Semua usaha, melalui pemilihan metode dan media, bentuk kegiatan sosial yang cocok maupun melalui
model-model bertahap yang sesuai,
dianggap perlu untuk meningkatkan mutu pelajaran, dalam hal ini
pelajaran Pendidikan kewarganegaraan.
Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan bagi sebagian besar
siswa kelas XII IPS 4 sebagai mata pelajaran yang dianggap kurang menarik.� Ini menyebabkan siswa cenderung
mengabaikan, tidak memperhatikan karena disebabkan oleh banyaknya materi yang harus dihafal, dimana siswa terkadang
tidak memahami tujuan diberikannya materi Pendidikan kewarganegaraan.
Model Cooperative Learning� dengan berbagai tipe cocok
sebagai� model pembelajaran dalam kurikulum 2013 disaat ini dan sesuai dengan pendekatan teori belajar konstruktivisme.
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan konsep dalam pembelajaran.� Menurut (Handayani & Sujatmiko, 2019)� mengenai
filsafat kontruktifisme adalah � pengetahuan dibangun manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperoleh dari konteks yang terbatas (sempit) dan tidak datang dengan
sekonyong-konyong. Pengetahuan
bukanlah seperangkat fakta, konsep atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, melainkan manusia harus mengkonstruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengetahuan nyata�.
(Lie, 2002)� mengatakan bahwa
model pembelajaran CL belum
banyak diterapkan di
Indonesia karena alasan: kekhawatiran terjadi kekacauan di dalam kelas, siswa tidak
belajar di dalam kelompoknya, memiliki kesan negatif mengenai
kerja sama, hanya siswa yang tekun bekerja lebih
keras dan siswa yang kurang mampu minder dan nunut hasil saja
dan khawatir hilangnya karakter pribadi karena harus menyesuaikan
dengan kelompoknya. Namun perlu dikembangkan
untuk bisa mempraktikkan, dan mengaktifkan siswa dalam kegiatan
belajar mengajar.
Model
seperti ini akan sangat penting bagi siswa yang pada dasarnya memiliki banyak tipe dalam
implementasinya, salah satunya
adalah pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI). Siswa diharapkan mampu bekerja sama saling bantu dan membantu satu sama
lain. Proses interaksi antara siswa dalam suatu kelompok akan menimbulkan
ikatan emosional, percepatan pengetahuan bagi siswa yang saling bersikap aktif
dalam kegiatan kelompoknya dan lain sebagainya.
Berdasarkan latar
belakang masalah tersebut peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang� �Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Dengan Menggunakan
Model Pembelajaran Group Investigation kelas XII� IPS 4 di
SMA Negeri 1 Tenggarong Kabupaten
Kutai Kartanegara �Kalimantan Timur�
Adapun tujuan dari penelitian
ini adalah sebagai berikut.
Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan
kewarganegaraan siswa kelas XII IPS 4 di SMA Negeri 1 Tenggarong
Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur
Untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) di SMA Negeri 1
Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan
Timur.
Menurut (Artini, Ardana, & Putra, 2014) mengatakan bahwa Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil (4 sampai dengan 6 orang) yang memiliki tingkat kemampuan heterogen/ berbeda, dengan ciri: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d)
guru membantu mengembangkan
keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan
(Carin, 1993).
Sedangkan menurut (Fatkhurohman, 2017) mengatakan bahwa Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua
jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di
mana guru menetapkan tugas
dan pertanyaan-pertanyaan serta
menyediakan bahan-bahan dan
informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan
masalah yang dimaksud. Guru
biasa-nya menetapkan bentuk ujian tertentu
pada akhir tugas.
Di samping itu, pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis (Laa, Winata, & Meilani, 2017). Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok
harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam
kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Menurut (Dakhi, n.d.) selain mampu meningkatkan aktifitas siswa, pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran sains. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama
dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama
lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan
siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa
menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
METODE
PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas (disingkat PTK) atau Classroom
Action Research. PTK dipilih karena
peneliti ingin memperbaiki proses pembelajaran dengan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas tempat peneliti
mengajar agar diperoleh hasil yang optimal. Hal ini didasarkan pada pendapat Ebbutt (Wiriatmadja, 2008) yang mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik
dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (Hanifah, 2014).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini
dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tenggarong
Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur di Kelas
XII IPS 4 mata pelajaran
Pendidikan kewarganegaraan. Penelitian
Tindakan Kelas dilaksanakan
dengan menggunakan 2 Tahapan, yaitu siklus I, dan siklus II dan jika diperlukan akan dilakukan siklus III.
Penelitian Tindakan Kelas ini, akan memperoleh hasil temuan dari
setiap siklus yang telah dilaksanakan. Hasil penelitian ini kemudian dideskripsikan, dianalisis dan direfleksikan untuk mengetahui kekurangan serta kelebihan setiap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Sehingga hasil temuan tersebut
dapat direfleksikan dari setiap pembelajaran
yang disampaikan terhadap siswa dan membuat rencana juga pelaksanaan perbaikan proses pembelajaran
yang dilakukan oleh guru. Pelaksanaan
tindakan pada setiap siklus dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Hasil Penelitian Siklus I
Sebagaimana penelitian tindakan kelas maka penelitian
dilakukan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang pada akhinya membentuk sebuah siklus. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1.
Perencanaan Tindakan
Dalam perencanaan tindakan
ini dipersiapkan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan berkenaan dengan pembelajaran yang diterapkan:
1)
Melakukan studi pustaka untuk menyiapkan bahan-bahan persiapan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation (GI)
2)
Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada tindakan yang diterapkan dalam PTK yaitu dengan Pembelajaran
kooperatif tipe Group
Investigation (GI)
3)
Mempersiapkan media dan alat pembelajaran
yang akan digunakan, seperti LKS
4)
Membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian
2.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan di Kelas XI IPS dengan jumlah siswa 40 siswa. Dalam hal
ini peneliti bertindak sebagai pengamat dan sekaligus sebagai pengajar di kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Tenggarong
Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif
dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa.
Adapun data hasil penelitian
pada siklus I adalah sebagai berikut.
Tabel 1 Hasil
Akhir Pada Siklus I
|
No |
Nama |
Nilai |
|
|
1 |
AJI LIA
ELFADINA |
80 |
|
|
2 |
ALFIAWAN |
76 |
|
|
3 |
ALYA ARISTA |
60 |
|
|
4 |
ANANDA AMALIA |
84 |
|
|
5 |
ANNISA AULIA |
88 |
|
|
6 |
ARDYA NAUFAL |
84 |
|
|
7 |
CATRINE
MAYSELA |
80 |
|
|
8 |
DESFINA M |
80 |
|
|
9 |
DHEA PUTRI A |
72 |
|
|
10 |
FADRA ARYA. T |
64 |
|
|
11 |
FEDERA R. R |
68 |
|
|
12 |
FEDORA. R.R |
72 |
|
|
13 |
GUVAN KRISTIAN |
72 |
|
|
14 |
JUWITA BUNGA |
60 |
|
|
15 |
M. ALFAN
FARIDZI |
64 |
|
|
16 |
MARIA SHERENA |
60 |
|
|
17 |
M. AKBAR RIVAI |
72 |
|
|
18 |
MUFTY WAHUDI |
68 |
|
|
19 |
M. ANWARUL
ARDI |
68 |
|
|
20 |
M. FARIL. M. |
64 |
|
|
21 |
M. REZA. NUR |
84 |
|
|
22 |
MUTIA ASYIFA.
P |
80 |
|
|
23 |
NAILA ASHAFA |
80 |
|
|
24 |
NAILA SHAKIRA |
72 |
|
|
25 |
NONI FEBRIANA |
84 |
|
|
26 |
NOVIA CALOLINE |
80 |
|
|
27 |
PRINCES NADIRA |
76 |
|
|
28 |
PUTRI
FAMALAKOP |
80 |
|
|
29 |
REVA OKTAURA |
60 |
|
|
30 |
RIZKA DWI.P |
68 |
|
|
31 |
SATRIA SUKMA.
L |
80 |
|
|
32 |
STEVEN LAUREN |
60 |
|
|
33 |
WINDA
FELISHA.P |
84 |
|
|
|
Rata-rata |
73 |
|
|
|
Belum Tuntas (%) |
�� 33 |
|
|
|
Sudah Tuntas (%) |
�� 67 |
Dari tabel di atas dapat
dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa
adalah 73.00 dan ketuntasan
belajar yang dicapai adalah 67.00% atau ada 21 siswa dari
33 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar
(terdapat 12 siswa belum tuntas belajar),
karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 hanya sebesar 67.00%, lebih kecil dari
persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.
3.
Tahap Observasi
Pada tahap ini, guru yang menjadi observer melaksanakan pengamatan secara langsung terhadap aktifitas guru dan aktifitas siswa selama pembelajaran
berlangsung. Hasil pengamatan
mereka diisikan pada Lembar
Observasi yang telah peneliti siapkan. Hasil observasi ini sebagai
masukan dan evaluasi untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.
Tabel 2 Aktivitas Guru Pada Siklus I
|
Aktivitas |
P1 |
P2 |
Rata |
|
Persiapan |
|
|
|
|
1) Mempersiapkan materi pelajaran |
3 |
3 |
3 |
|
2) Guru memberikan dorongan dan motivasi |
3 |
3 |
3 |
|
3) Menjelaskan tujuan pembelajaran kooperatif |
3 |
4 |
3.5 |
|
Keterampilan Kooperatif |
|
|
|
|
1) Guru membentuk kelompok Heterogen |
3 |
3 |
3 |
|
2) Guru mendorong diskusi kelompok |
3 |
3 |
3 |
|
3) Guru mengumumkan tim dengan skor
tertinggi |
4 |
4 |
4 |
|
4) Guru mengumumkan siswa dengan skor tertinggi |
3 |
4 |
3.5 |
|
5) Guru memberikan kuis |
3 |
4 |
3.5 |
|
Memberi Kesimpulan |
4 |
3 |
3.5 |
|
Rata-Rata |
3.22 |
3.44 |
3.33 |
Keterangan : 1 : sangat kurang, 2 : kurang,
3 : cukup, 4 : baik; 5:
sangat baik
Berdasarkan tabel aktivitas guru
pada siklus I diketahui bahwa aktivitas guru dalam kategori baik dimana guru baik dalam membentuk
kelompok heterogen, mendorong diskusi kelompok dan mengumumkan tim dengan skor
tertinggi dan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Dan secara keseluruhan aktivitas guru dapat dikategorikan baik, namun demikian
masih dapat ditingkatkan lagi, karena terdapat beberapa indikator yang dapat dioptimalkan sehingga aktivitas guru dapat menjadi baik.
Tabel 3 Aktivitas Siswa Siklus I
|
Aktivitas |
P1 |
P2 |
Rata |
|
1)
Siswa dihadapkan pada situasi problematik |
3 |
3 |
3 |
|
2)
Siswa melakukan eksplorasi (mengkaji) sebagai respon terhadap situasi problematik itu |
3 |
4 |
3.5 |
|
3)
Siswa merumuskan tugas belajar dan mengorganisasikannya untuk belajar |
4 |
3 |
3.5 |
|
4)
Siswa melakukan kegiatan belajar kelompok atau mandiri |
3 |
4 |
3.5 |
|
5)
Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan
dalam belajar |
4 |
3 |
3.5 |
|
6)
Siswa mengecek ulang hasil belajar |
3 |
3 |
3 |
|
Rata-rata |
3.33 |
3.33 |
3.33 |
Keterangan: 1 : sangat kurang,
2: kurang, 3 : cukup, 4 : baik; 5 : sangat baik
Berdasarkan tabel aktivitas siswa pada siklus I diketahui bahwa pada dasarnya aktivitas siswa cukup dan terdapat aktivitas siswa yang baik meskipun itu menurut
penilaian salah satu pengamat. Namun perlu sangat ditingkatkan pada saat siswa dihadapkan
pada situasi problematik karena masih kategori
cukup. Secara keseluruhan aktivitas siswa dalam kategori
cukup. Namun demikian secara umum aktivitas siwa adalah cukup
dan kondisi demikian masih dapat ditingkatkan.
4.
Refleksi
Pada tahap selanjutnya dipaparkan tentang pelaksanaan pembelajaran kooperatif baik kelebihan maupun kekurangan yang telah terlaksana dalam pembelajaran kooperatiaf tipe Group Investigation (GI) ini. Berdasarkan data-data penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut.
1)
Selama proses belajar mengajar
guru melaksanakan semua pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan baik.
2)
Dalam proses belajar mengajar
siswa tampak aktif dari siklus
yang diterapkan namun perlu di dorong lagi keaktifan siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran kooperatif utamanya
dalam melakukan kegiatan kelompok, berdiskusi dan mempersiapkan materi pelajaran.
3)
Hasil belajar belum mengalami
ketuntasan pada siklus I sehingga diperlukan siklus lebih lanjut
agar dapat namun sebelumnya dilakukan perbaikan pada perencanaan pembelajarannya.
4)
Hasil belajar masih dikategorikan
kurang, sehingga perlu ditingkatkan.
Hasil
Penelitian Siklus II
a. Perencanaan Tindakan
Dalam perencanaan tindakan
ini dipersiapkan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan berkenaan dengan pembelajaran yang diterapkan:
1)
Melakukan studi pustaka untuk menyiapkan bahan-bahan persiapan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)
2)
Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada tindakan yang diterapkan dalam PTK yaitu dengan pembelajaran
kooperatif
dengan melakukan revisi-revisi dari siklus 1
3)
Mempersiapkan media dan alat pembelajaran
yang akan digunakan
4)
Membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan di Kelas XI IPS 4 dengan jumlah siswa 33 siswa. Dalam hal
ini peneliti bertindak sebagai pengamat dan sekaligus sebagai pengajar di kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Tenggarong
Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.
Tabel 4 Hasil
Akhir Pada Siklus II
|
No |
Nama |
Nilai |
|
|
1 |
AJI LIA
ELFADINA |
84 |
|
|
2 |
ALFIAWAN |
84 |
|
|
3 |
ALYA ARISTA |
80 |
|
|
4 |
ANANDA AMALIA |
92 |
|
|
5 |
ANNISA AULIA |
80 |
|
|
6 |
ARDYA NAUFAL |
88 |
|
|
7 |
CATRINE
MAYSELA |
84 |
|
|
8 |
DESFINA M |
84 |
|
|
9 |
DHEA PUTRI A |
88 |
|
|
10 |
FADRA ARYA. T |
92 |
|
|
11 |
FEDERA R. R |
92 |
|
|
12 |
FEDORA. R.R |
92 |
|
|
13 |
GUVAN KRISTIAN |
92 |
|
|
14 |
JUWITA BUNGA |
84 |
|
|
15 |
M. ALFAN
FARIDZI |
88 |
|
|
16 |
MARIA SHERENA |
88 |
|
|
17 |
M. AKBAR RIVAI |
80 |
|
|
18 |
MUFTY WAHUDI |
80 |
|
|
19 |
M. ANWARUL
ARDI |
88 |
|
|
20 |
M. FARIL. M. |
84 |
|
|
21 |
M. REZA. NUR |
84 |
|
|
22 |
MUTIA ASYIFA.
P |
88 |
|
|
23 |
NAILA ASHAFA |
88 |
|
|
24 |
NAILA SHAKIRA |
84 |
|
|
25 |
NONI FEBRIANA |
92 |
|
|
26 |
NOVIA CALOLINE |
84 |
|
|
27 |
PRINCES NADIRA |
84 |
|
|
28 |
PUTRI
FAMALAKOP |
84 |
|
|
29 |
REVA OKTAURA |
80 |
|
|
30 |
RIZKA DWI.P |
84 |
|
|
31 |
SATRIA SUKMA.
L |
92 |
|
|
32 |
STEVEN LAUREN |
68 |
|
|
33 |
WINDA
FELISHA.P |
88 |
|
|
|
Rata-rata |
86.00 |
|
|
|
Belum Tuntas (%) |
����
3.00 |
|
|
|
Sudah Tuntas (%) |
��
97.00 |
Dari tabel di atas dapat
dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa
adalah 86.00 dan ketuntasan
belajar mencapai 97.00% atau ada 32 siswa
dari 33 siswa sudah tuntas belajar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus kedua secara klasikal
siswa sudah tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebesar 97.00% lebih besar dari persentase
ketuntasan yang dikehendaki
yaitu sebesar 85%.
c. Tahap Observasi
Pada tahap ini, guru yang menjadi observer melaksanakan pengamatan secara langsung terhadap aktifitas guru dan aktifitas siswa selama pembelajaran
berlangsung. Hasil pengamatan
mereka diisikan pada Lembar
Observasi yang telah peneliti siapkan. Hasil observasi ini sebagai
masukan dan evaluasi untuk perbaikan pada pertemuan berikutnya.
Tabel 5 Aktivitas Guru Pada Siklus II
|
Aktivitas |
P1 |
P2 |
Rata |
|
Persiapan |
|
|
|
|
1) Mempersiapkan materi pelajaran |
4 |
4 |
4 |
|
2) Guru memberikan dorongan dan motivasi |
4 |
5 |
4.5 |
|
3) Menjelaskan tujuan pembelajaran kooperatif |
4 |
4 |
4 |
|
Kooperatif |
|
|
|
|
1) Guru membentuk kelompok Heterogen |
5 |
5 |
5 |
|
2) Guru mendorong diskusi kelompok |
5 |
5 |
5 |
|
3)����� Guru
mengumumkan tim dengan skor tertinggi |
4 |
5 |
4.5 |
|
4)����� Guru
mengumumkan siswa dengan skor tertinggi |
4 |
5 |
4.5 |
|
5) Guru memberikan kuis |
5 |
5 |
5 |
|
Memberi Kesimpulan |
5 |
5 |
5 |
|
Rata-Rata |
4.44 |
4.78 |
4.61 |
Keterangan : 1 : sangat kurang, 2: kurang,
3 : cukup, 4 : baik; 5 :
sangat baik
Berdasarkan tabel aktivitas guru
pada siklus II diketahui bahwa tidak terdapat
aktivitas guru dalam kategori kurang, yang perlu ditingkatkan hanya dalam guru memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa. Dan secara keseluruhan aktivitas guru dapat dikategorikan baik. Namun demikian
masih dapat ditingkatkan lagi, karena terdapat beberapa indikator yang dapat dioptimalkan sehingga aktivitas guru dapat menjadi sangat baik.
Tabel 6 Aktivitas Siswa Siklus II
|
Aktivitas |
P1 |
P2 |
Rata |
|
1)
Siswa dihadapkan pada situasi problematik |
4 |
4 |
4 |
|
2)
Siswa melakukan eksplorasi (mengkaji) sebagai respon terhadap situasi problematik itu |
4 |
5 |
4.5 |
|
3)
Siswa merumuskan tugas belajar dan mengorganisasikannya untuk belajar |
5 |
4 |
4.5 |
|
4)
Siswa melakukan kegiatan belajar kelompok atau mandiri |
5 |
5 |
5 |
|
5)
Siswa menganalisis kemajuan dan proses yang dilakukan
dalam belajar |
5 |
4 |
4.5 |
|
6)
Siswa mengecek ulang hasil belajar |
5 |
5 |
5 |
|
Rata-rata |
4.67 |
4.50 |
4.58 |
Keterangan : 1 : sangat kurang, 2: kurang,
3 : cukup, 4 : baik; 5 :
sangat baik
Berdasarkan tabel aktivitas siswa pada siklus II diketahui bahwa aktivitas siswa sudah sangat baik, kecuali pada Siswa dihadapkan pada situasi problematik dengan kategori baik. Namun demikian terdapat beberapa indikator seperti siswa memberikan pertanyaan dapat ditingkatkan menjadi sangat baik.
d.
Refleksi
Pada tahap selanjutnya dipaparkan tentang pelaksanaan pembelajaran kooperatif, baik kelebihan maupun kekurangan yang telah terlaksana dalam pembelajaran aktif ini. Berdasarkan data-data penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut.
1)
Selama proses belajar mengajar
guru melaksanakan semua pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan baik, sehingga
didapatkan hasil yang lebih optimal, berdasarkan pada pembelajaran kooperatif yang telah diterapkan. Namun demikian terdapat beberapa indikator pembelajaran yang dapat ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa
2)
Dalam proses belajar mengajar
siswa terlihat/tampak lebih aktif
dari siklus sebelumnya hal ini ditunjukkan dari tinggi hasil
belajar yang didapatkan siswa
3)
Hasil belajar telah mengalami
ketuntasan pada siklus II sehingga tidak� diperlukan
siklus lebih lanjut.
Pembahasan
Sebelum pelaksanaan penelitian
tindakan kelas, peneliti terlebih dahulu melakukan obeservasi awal terhadap situasi dan kondisi proses pembelajaran, banyak kendala-kendala yang dialami baik oleh guru maupun oleh siswa selama proses pembelajaran yang dilakukan, hal ini tidak terlepas
akan pemahaman guru dan siswa terhadap pembelajaran kooperatif, tapi setelah dilakukan
penelitian tindakan kelas banyak perubahan
yang terjadi seperti minat dan motivasi belajar siswa meningkat,
aktivitas belajar siswa meningkat dan hasil belajarpun mengalami peningkatan. Pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif ini menekankan pada peningkatan aktivitas dan efektivitas hasil belajar siswa dan diskusi-diskusi kelompok yang berdasarkan pada pencapaian tim dan siswa di mana pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk
saling berlomba untuk menjadi yang terbaik, dan selanjutnya guru bertindak sebagai seorang fasilitator.
Berdasarkan pada pembahasan yang yang
dilakukan, lebih lanjut dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1. Ketuntasan Hasil Belajar
Siswa
Melalui hasil penelitian
yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) memiliki dampak positif dalam meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat
dari semakin baiknya hasil belajar
dan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar siswa meningkat dari siklus I ke
siklus II). Selanjutnya
pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara
klasikal telah tercapai, yaitu mencapai 97.00% atau 32 siswa dari 33 siswa.
Di samping itu, ketuntasan belajar dapat dicapai lebih
cepat dimana hanya membutuhkan dua siklus pembelajaran.
Hal ini tidak terlepas dari pemahaman
dan keterampilan guru terhadap
pembelajaran kooperatif Tipe Group
Investigation (GI).
2. Aktivitas Guru dan Siswa
dalam Pembelajaran
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh aktivitas dan guru dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif Tipe Group
Investigation (GI) dapat dikategorikan
cukup dan baik. Artinya pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dapat digunakan dalam proses belajar karena pada indikator-indikator aktivitas yang diberikan, guru
dan siswa dapat melakukan dengan baik. Di samping itu, terjadinya perbaikan-perbaikan aktivitas
oleh guru dan siswa dari siklus ke siklus,
sehingga ini menjadi salah satu indikator respon positif atau ketertarikan
dari guru dan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di kelas.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
DAFTAR PUSTAKA
Artini, Ni Luh Eka,
Ardana, I. Ketut, & Putra, D. B. K. T. N. G. R. Semara. (2014). PENGARUH
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBASIS PROYEK TERHADAP HASIL BELAJAR
IPA SISWA KELAS V SD GUGUS IV KEROBOKAN KELOD. MIMBAR PGSD Undiksha, 2(1).
Dakhi, Hermina. (n.d.).
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN MOTIVASI BERPRESTASI
TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SISWA SMA NEGERI 1 PULAU
BATU, KABUPATEN NIAS SELATAN. KULTURA, 6778.
FATKHUROHMAN, NURHADI.
(2017). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two
(Kekuatan Berdua) terhadap Hasil Belajar pada Pelajaran Matematika Materi
Himpunan pada Siswa Kelas VII A MTs Miftahul Huda Bandung Tulungagung Tahun
Pelajaran 2014/2015.
Handayani, Mentari Deka,
& Sujatmiko, Wiji. (2019). Filsafat Konstruktivisme Wadah Implementasi
Kurikulum 2013. Seminar Nasional Pendidikan dan Call for Papers (SNDIK) I
2019.
Hanifah, Nurdinah.
(2014). Memahami penelitian tindakan kelas: teori dan aplikasinya. Upi
Press.
Laa, Neli, Winata,
Hendri, & Meilani, Rini Intansari. (2017). Pengaruh model pembelajaran
kooperatif tipe student teams achievement division terhadap minat belajar
siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 2(2),
251�260.
Lie, Anita. (2002). Cooperative
Learning (Cover Baru). Grasindo.
Suardi, Moh. (2018). Belajar
& pembelajaran. Deepublish.
Syaparuddin,
Syaparuddin, Meldianus, Meldianus, & Elihami, Elihami. (2020). Strategi
pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar pkn peserta didik. Mahaguru:
Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 30�41.
Wiriatmadja, Rochiati.
(2008). Strategi Penelitian Tindakan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru
Dan Dosen. Bandung.