STUDI
TINGKAT SLAKING INDEX PADA BATULEMPUNG FORMASI BALIKPAPAN DAERAH SAMARINDA DAN
KUTAI KARTANEGARA
Yogi Budi Utama,1 Revia Oktaviani2,
Windhu Nugroho3, Sakdillah4,
Tommy Trides5
Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman,
Samarinda
Diterima: 03-12-2022��������������������� ��������������� Review: 18-12-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
27-12-2022
Abstrak:
Batulempung merupakan batuan dialam yang dalam rekayasa geoteknik seringkali membuat permasalahan. Hal ini berkaitan dengan karakteristik batulempung yang mudah hancur dalam
waktu singkat ketika tersingkap ke permukaan dan atau saat berinteraksi
dengan air. Karena permasalahan
tersebut, batulempung selalu mengalami penurunan durabilitas dari waktu ke
waktu. Durabilitas batulempung dapat dihitung dengan menggunakan nilai indeks slaking. Indeks slaking merupakan persentase nilai tingkat daya
tahan batuan yang dihitung berdasarkan berat material batuan yang terdegradasi. Slaking sendiri merupakan perilaku batuan yang apabila kontak langsung dengan air dan temperatur sering menyebabkan hancurnya partikel, retakan-retakan serta mengelupasnya lapisan permukaan batuan dalam waktu tertentu.
Tujuan pengujian ini adalah untuk
mengamati reaksi pelapukan dan kehancurkan sampel batulempung yang direndam kedalam air. Sampel batulempung akan digolongkan pada
masing-masing tingkat kehancuran
sesuai dengan tingkatannya yang terbagi kedalam 6 kelas yaitu 0-5% very low, 5-10% low, 10-25% medium,
25-50% high, 50-75% very high, dan 75-100% extremely high.
Dari hasil pengujian 12 sampel batulempung, diperoleh nilai indeks slaking dengan rentang nilai paling rendah sebesar 84,77% pada sampel JW CS2 dan paling tinggi sebesar 100% untuk sampel LD CS1 � LD CS3 dan BK CS1 � BK CS3. Dengan rentang nilai persentase indeks slaking seperti itu, sampel pengujian
termasuk kedalam kelas 6 dengan klasifikasi indeks slaking extremely
high yang berarti sampel
batuan yang diuji mengalami tingkat disintegrasi atau kehancuran yang tinggi akibat proses perendaman air dan pengeringan.
Kata kunci: Batulempung, Durabilitas, Static Slaking, Slaking
Index
Abstract:
Claystone is a
natural rock which in geotechnical engineering often causes problems. This is
related to the characteristics of claystone which is easily destroyed in a
short time when it is exposed to the surface and/or when it interacts with
water. Because of these problems, claystone always experiences a decrease in
durability over time. The durability of claystone can be calculated using the
slaking index value. The slaking index is the percentage value of the rock
resistance level which is calculated based on the weight of the degraded rock
material. Slaking itself is a rock behavior that when
in direct contact with water and temperature often causes the destruction of
particles, cracks and peeling of the surface layer of rock within a certain
time. The purpose of this test is to observe the weathering and destruction
reactions of claystone samples immersed in water. Claystone samples will be
classified at each level of destruction according to its level which is divided
into 6 classes, namely 0-5% very low, 5-10% low, 10-25% medium, 25-50% high,
50-75% very high, and 75-100% extremely high. From the test results of 12
claystone samples, a slaking index value was obtained with the lowest value
range of 84.77% for the JW CS2 sample and the highest 100% for the LD CS1 � LD
CS3 and BK CS1 � BK CS3 samples. With such a range of slaking index percentage
values, the test samples belong to class 6 with an extremely high, meaning that
the rock samples tested experienced a high degree of disintegration or destruction
due to water immersion and drying processes.
Keywords:
Claystones, Durability, Static Slaking, Slaking Index�������������������������������������������
Corresponding: Yogi Budi Utama
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Fenomena tanah dan batuan merupakan salah satu persoalan besar geoteknik yang harus segera ditangani (Andriyanto
& Rahman, 2020). Sejumlah
besar kerugian harus ditanggung masyarakat maupun perusahaan sejak disadari efek merusaknya
pada sejumlah bangunan maupun infrastruktur dalam kegiatan pertambangan, khususnya daerah Samarinda dan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Dari berbagai
jenis tanah dan batuan, batulempung adalah batuan yang banyak ditemukan dalam kebanyakan masalah keteknikan, karena sifat batulempung
yang dipengaruhi iklim dan cuaca dapat mengubah
batulempung menjadi tanah (MUHAMMAD,
2012).
Batulempung merupakan batuan dialam yang dalam dunia rekayasa geoteknik seringkali membuat permasalahan (Dwikasih &
Koesnaryo, 2020). Hal ini
berkaitan dengan karakteristik batulempung yang mudah hancur dalam
waktu singkat ketika tersingkap ke permukaan dan atau saat berinteraksi
dengan air dan temperature (Dwi Kurniawan,
2022). Karena permasalahannya
tersebut, batulempung selalu mengalami penurunan durabilitas dari waktu ke
waktu. Durabilitas batulempung dapat dihitung dengan menggunakan nilai Slaking Index atau Indeks Slaking. Indeks Slaking merupakan persentase nilai tingkat daya tahan
batuan yang dihitung berdasarkan berat material batuan yang terdegradasi (Abdurohman,
2021). Slaking sendiri merupakan perilaku batuan yang apabila kontak langsung dengan air dan
temperature sering menyebabkan
hancurnya partikel, retakan-retakan serta mengelupasnya lapisan permukaan batuan dalam waktu tertentu
(BASARI &
Suryo, 2012). Oleh karena
itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat daya tahan
batuan yang dihitung berdasarkan nilai Indeks Slaking serta potensi mengembang dari batulempung seiring berkurangnya daya tahan batuan
yang diakibat oleh keadaan basah dan kering.
Uji Ketahanan batuan dilakukan untuk menilai pengaruh pelapukan pada batuan dan hancurannya. Uji ini merupakan salah satu pendekatan kuantitatif yang dilakukan untuk mengetahui tingkat ketahanan suatu batuan (Ridha, Farian,
& Koesnaryo, 2020). Kehadiran
gaya-gaya yang bekerja pada
suatu material dapat menimbulkan suatu ketidakstabilan pada daerah di
mana massa material itu berada (Abdillah,
2020). Umumnya, keruntuhan akan timbul pada titik-titik
di sepanjang daerah yang memiliki ketidakstabilan. Statis tes adalah tes pada
batuan untuk mengamati bentuk perilaku batuan yang dapat digunakan untuk
menyelidiki proses dan mekanisme runtuhnya tanah lempung secara lebih rinci (Oktaviani,
Rahardjo, & Sadisun, 2018). Uji slaking statis ini
merupakan pengembangan dari modifikasi pengujian slake index yang dilakukan
oleh Deo (1972), Santi (1998) dan dikembangkan lebih lanjut oleh (Sadisun, Shimada,
Ichinose, & Matsui, 2005)
(Ekaputra, 2017) menyatakan bahwa slaking
adalah mekanisme degradasi fisik paling umum yang mempengaruhi tanah liat dan
batuan yang kaya tanah liat. Prosedur utama dari uji slaking statis yang
dilakukan dalam penelitian ini menjadi sasaran lima siklus kering-basah dari
batu utuh dalam gelas 500 ml, yaitu uji slaking index. Pada tingkat yang lebih
mendasar untuk memahami mekanisme detail kerusakan slake, pengembangan
diskontinuitas yang baru jadi menjadi fraktur terbuka juga sedang diselidiki
dengan paparan slaking, perendaman slaking, dan uji pengamatan slaking
siklus basah-kering melibatkan pengamatan kualitatif dari proses slaking secara
berurutan untuk mengidentifikasi mekanisme prinsip kemunduran (Dibyosaputro
& Haryono, 2020). Semua sampel dijelaskan dalam
hal pengembangan retak dan disintegrasi yang mungkin terjadi.
Untuk mengetahui perilaku
slaking statis pada batulempung, dilakukan pengujian indeks slaking statik yang
mengacu pada rekomendasi pengujian dari (Sadisun et al.,
2005) yang membagi nilai dan kelas
indeks slaking statik menjadi 6 kelas. Pembagian Kelas tersebut dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai kelas dan
Klasifikasi Indeks Slaking Statik Siklus Tunggal (Sadisun dkk, 2005)
|
Kelas |
Slaking Indeks (%) |
Klasifikasi |
|
1 |
0-5 |
Very Low |
|
2 |
5-10 |
Low |
|
3 |
10-25 |
Medium |
|
4 |
25-50 |
High |
|
5 |
50-75 |
Very High |
|
6 |
75-100 |
Extremely High |
METODE
PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan masalah yang berkaitan judul penelitian berupa pengambilan bahan, baik berupa
dasar teori maupun data-data objek yang diamati secara langsung dilapangan (Rukin, 2019). Studi literatur
yaitu pencarian literatur-literatur yang berkaitan
dengan judul penelitian guna menunjang pengetahuan selama penelitian berlangsung (Juliandi & Manurung, 2014). Untuk
tahap ini literatur-literatur yang menjadi acuan sebagai bahan
penunjang penelitian seperti jurnal penelitian, skripsi dan beberapa buku terkait judul penelitian.
Pengamatan lapangan
yang dilakukan adalah pengamatan terhadap lokasi penelitian. Tahap ini dilakukan
dengan melihat langsung kondisi lapangan guna menyesuaikan
metode atau cara pengambilan data dalam proses penelitian. Penelitian dilakukan pada dua tahap yaitu
tahap penelitian lapangan dan tahap pengujian di laboratorium.
Metode Pengumpulan Data
Pengambilan sampel batuan dengan
material berupa batulempung
dilakukan disekitar wilayah
Kota Samarinda dan Kab. Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Pengambilan
sampel dilakukan secara acak yaitu
pada 4 (Empat) titik lokasi berbeda. Pengambilan sampel dari lapangan dilakukan
secara langsung dan merupakan contoh tanah yang terganggu (disturbed
sample) dan tanpa perlakuan
khusus. Pengambilan sampel menggunakan palu geologi, linggis
dan alat penggali sejenis dan dimasukkan kedalam plastik sampel. Uji durabilitas batuan yaitu dengan
menggunakan 12 sampel batulempung (claystone). Persiapan
sampel uji dilakukan mulai dari pemotongan
sampel dan penimbangan berat sampel dengan
ukuran berat berkisar 200�300-gram kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan sampel untuk menghilangkan kadar air. Pengujian durabilitas dilakukan dengan menggunakan metode slaking static atau
pengujian siklus basah-kering sebanyak 5 siklus. Pada uji slaking statis, setelah
siklus pengeringan-basah, analisis dilakukan menggunakan 25,4 � 2 mm ayakan. Sampel batuan yang ditahan pada setiap saringan kemudian dikeringkan hingga berat konstan pada 105�C dan ditimbang, dan berat potongan yang tertahan dicatat. Penimbangan berat sampel dilakukan
sebelum dan sesudah proses siklus basah-kering berlangsung. Persentase ditahan dihitung dengan membagi berat kering dipertahankan
oleh berat sampel kering asli.
Metode Analisis Data
Tahapan analisis data yang dilakukan untuk mengetahui dan mendapatkan nilai tingkat disintegrasi atau kehancuran batuan yang pada penelitian ini menggunakan sampel batulempung dengan menggunakan nilai Indeks Slaking (Is)
yang merupakan persentase nilai berat sampel
ditahan dengan berat sampel kering
asli. Tujuan uji slaking
statis adalah untuk mengamati reaksi pelapukan dan kehancuran sampel batulempung yang direndam kedalam air.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilaksanakan pada lereng
bukit atau bekas lokasi galian
yang ada di daerah sekitar Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan
Timur. Penulis mencari lokasi penelitian yang didalam lokasi tersebut terdapat lapisan batulempung. Sampel berupa bongkahan
batulempung dalam keadaan terganggu (disturbed)
yang dimana tidak bisa terjamin kesegaran
kualitasnya. Namun penulis tetap berusaha
mempertahankan kondisi sampel agar tidak berubah dengan cara membungkus sampel dengan menggunakan
alumunium foil dan plastik
wrapping. Selanjutnya sampel
dibawa ke lokasi pengujian pada Laboratorium Teknologi Mineral
dan Batubara Fakultas Teknik Universitas Mulawarman. Adapun titik koordinat lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Tabel 2 dan digambarkan pada Peta
Lokasi Gambar 1.
Tabel 2. Koordinat Lokasi Pengambilan
Sampel
|
No |
Sampel |
Lokasi |
Koordinat |
|
|
Bujur Timur (BT) |
Lintang Selatan (LS) |
|||
|
1 |
LD CS |
Loa Duri Seberang |
117� 03� 48�� |
0� 33� 45�� |
|
2 |
JW CS |
Anggana, Kutai Lama |
117� 17� 56.65�� |
0� 30� 00.85�� |
|
3 |
BK |
Sanga-Sanga |
117� 14� 11.68�� |
0� 41� 10.28�� |
|
4 |
RB CS |
Lok Bahu,
Sungai Kunjang |
117� 05� 28�� |
0� 29� 06�� |

Gambar 1. Peta Lokasi

Gambar 2. Peta Formasi
Geologi
Berdasarkan pengambilan data koordinat
dilapangan menggunakan GPS
yang selanjutnya koordinat tersebut dilakukan plotting pada peta geologi lembar
Samarinda. Diketahui lokasi pengambilan sampel penelitian dilakukan pada Formasi Balikpapan
di daerah Kota Samarinda
dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Gambar 2). Kondisi Batulempung yang didapatkan peneliti dengan ciri-ciri berwarna abu-abu muda sampai
gelap, dengan tekstur butir yang sangat halus saat dipegang
menggunakan tangan.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui dan mendapatkan nilai tingkat disintegrasi atau kehancuran batuan yang pada penelitian kali ini digunakan sampel
batulempung. Tujuan uji
slaking static adalah untuk
mengamati reaksi pelapukan dan kehancuran sampel batulempung yang direndam kedalam air. Sampel pengujian batulempung akan digolongkan pada masing-masing tingkat
kehancuran. Sesuai dengan tingkatannya, tingkat klasifikasi slaking index
digolongkan kedalam 6 kelas. Mulai dari
very low dengan nilai
Indeks Slaking (Is) 0-5%, low 5-10%, medium
10-25%, high 25-50%, very high 50-75%, dan extremely high
75-100%. Berdasarkan kelas tersebut, nilai indeks slaking diartikan sebagai tingkat kehancuran batuan, yang berarti semakin tinggi persentase nilai indeks slaking (Is)
semakin tinggi pula tingkat kehancurannya.
Berbeda dengan indeks
slaking, Slake durability atau indeks
durabilitas merupakan suatu uji ketahanan material yang
tujuan pengujiannya dilakukan untuk mengetahui tingkat ketahanan (Setiawan,
2010). Dengan
cara yang sama seperti indeks slaking, indeks durabilitas juga dilakukan dengan proses perendaman namun ditambahkan dengan diberikan gaya putar terhadap suatu material dan menyebabkan
material yang diuji akan mengalami disintegrasi atau tidak sesuai
dengan tingkat ketahanan material tersebut.

Gambar 3. Sampel Uji Batulempung
Sampel batulempung yang terdapat
pada Gambar 3 merupakan contoh
dari 12 sampel pengujian untuk uji indeks slaking statis. Sampel tersebut sebelumnya telah dilakukan pengeringan menggunakan oven selama 24 jam dengan suhu 105�C untuk menghilangkan kadar air yang terkandung didalamnya. Dapat dilihat pada gambar tersebut, bahwa pada pengujian indeks slaking statis tidak menggunakan bentuk, dimensi maupun ukuran spesifik untuk proses pengujiannya, namun khusus pengujian
kali ini dilakukan dengan menggunakan berat sampel berkisar
antara 200-300 gram. Sampel
yang telah dihilangkan kadar airnya, kemudian
masuk kedalam proses siklus pembasahan, dimana sampel direndam
dengan air berkisar 500 ml atau lebih pada wadah transparan dan merendam seluruh bagian sampel batulempung.



Gambar 4. Sampel
Uji LD CS1 � LD CS3
Pada pengujian sampel
LD-CS1 sampai dengan LD-CS3
(Gambar 4), saat proses perendaman
berlangsung terdapat perubahan-perubahan yang terjadi
pada sampel batulempung tersebut. Terjadi pergerakan retakan hingga pelapukan yang sangat cepat ketika air telah memenuhi seluruh wadah dan menutupi keseluruhan sampel. Ketiga sampel tersebut secara bersamaan sedikit demi sedikit terlihat mengalami pelapukan hingga tingkat kehancuran yang cukup cepat, pada sampel LD-CS1 sampai dengan LD-CS3 dalam kurun waktu perendaman
3 jam pertama, keseluruhan sampel sepenuhnya telah mengalami kehancuran seperti terlihat pada gambar.

Gambar 5. Sampel
Uji BK CS1 � BK CS3
Pada pengujian sampel
BK-CS1 sampai dengan BK-CS3
(Gambar 5), saat proses perendaman
berlangsung terdapat perubahan yang terjadi hampir sama dengan
yang terjadi pada sampel
LD-CS1 sampai dengan
LD-CS3. Ketiga sampel tersebut mengalami proses retakan dengan pecahan kecil pada awal proses perendaman, kemudian mengalami proses peretakan lebih lanjut dan mengalami tingkat kehancuran yang baik dengan material yang terendapkan sangat banyak pada siklus pertama.

Gambar 6. Sampel
Uji JW CS1 � JW CS3
Pada sampel uji JW-CS1 sampai
dengan JW-CS3 saat proses perendaman berlangsung mengalami perubahan berupa retak-retak hingga pecahan kecil. Ketiga sampel
tersebut juga mengalami tingkat pelapukan dan pengendapan yang cukup lambat dibandingkan dengan sampel BK dan LD. Dapat dilihat pada Gambar 6, setelah proses perendaman berlangsung selama 24 jam ketiga sampel tersebut
masih terlihat belum mengalami tingkat kehancuran yang baik, masih terdapat
pecahan-pecahan sampel yang
cukup besar sehingga harus dilakukan siklus perendaman dan pengeringan yang kedua dengan rentang
nilai indeks slaking pada
siklus pertama sebesar 84,76% sampai dengan 87,94%. Pada siklus kedua, didapatkan hasil bahwa sampel
JW-CS1 hingga JW-CS3 seluruhnya
telah mengalami tingkat kehancuran yang sangat baik dan keseluruhan sampel tersebut telah terendapkan sepenuhnya.

Gambar 7. Sampel
Uji RB CS1 � RB CS3
Pada sampel uji RB CS1 � RB CS3 saat proses perendaman berlangsung terjadi perubahan berupa retak-retak hingga pecahan kecil, sedikit partikel pasir dan lumpur yang mulai terendapkan. Hampir sama dengan
sampel uji JW, pada sampel
RB CS1 hingga RB CS3 mengalami
tingkat pelapukan yang cukup lambat. Setelah
proses perendaman berlangsung
selama 24 jam pada siklus
1, dapat dilihat pada gambar 7 yang menunjukkan perubahan yang terjadi pada ketiga sampel. Perubahan setelah proses perendaman tersebut, ketiga sampel masih
terlihat belum terendapkan sepenuhnya, masih terdapat pecahan-pecahan yang cukup besar dan material yang terendapkan
masih cukup sedikit dengan hasil nilai indeks
slaking pada siklus pertama
dengan rentang nilai sebesar 85,09% hingga 91,26%. Pada sampel uji RB
CS1 hingga RB CS3, mengalami
proses siklus hingga 3 kali
dan pada siklus ketiga mengalami tingkat kehancuran yang baik dan seluruh material sampel terendapkan.
Tabel 3. Nilai Slaking Indeks Per Siklus
|
No. |
Sampel |
IS 1
(%) |
IS 2 (%) |
IS 3 (%) |
|
1 |
LD CS1 |
100 |
||
|
2 |
LD CS2 |
100 |
||
|
3 |
LD CS3 |
100 |
||
|
4 |
BK CS1 |
100 |
||
|
5 |
BK CS2 |
100 |
||
|
6 |
BK CS3 |
100 |
||
|
7 |
RB CS1 |
85,098 |
98,861 |
100 |
|
8 |
RB CS2 |
91,268 |
94,624 |
100 |
|
9 |
RB CS3 |
87,67 |
92,429 |
100 |
|
10 |
JW CS1 |
87,948 |
100 |
|
|
11 |
JW CS2 |
84,766 |
100 |
|
|
12 |
JW CS3 |
87,702 |
100 |
Tabel 4. Nilai Uji Indeks Slaking
|
No. |
Sampel |
Indeks Slaking (IS) |
Klasifikasi Slaking Indeks |
|
1 |
LD CS1 |
100 |
Extremely High |
|
2 |
LD CS2 |
100 |
Extremely High |
|
3 |
LD CS3 |
100 |
Extremely High |
|
4 |
JW CS1 |
87,948 |
Extremely High |
|
5 |
JW CS2 |
84,766 |
Extremely High |
|
6 |
JW CS3 |
87,702 |
Extremely High |
|
7 |
BK CS1 |
100 |
Extremely High |
|
8 |
BK CS2 |
100 |
Extremely High |
|
9 |
BK CS3 |
100 |
Extremely High |
|
10 |
RB CS1 |
85,098 |
Extremely High |
|
11 |
RB CS2 |
91,268 |
Extremely High |
|
12 |
RB CS3 |
87,670 |
Extremely High |
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa 12 sampel batulempung yang diuji diperoleh nilai indeks slaking dengan rentang nilai paling rendah sebesar 84,77% pada sampel JW CS2
dan paling tinggi sebesar
100% untuk sampel LD CS1-LD
CS3 dan BK CS1-BK CS3. Dengan rentang
nilai persentase indeks slaking seperti itu, sampel pengujian
termasuk kedalam kelas 6 dengan klasifikasi slaking indeks
extremely high yang berarti sampel
batuan yang diuji mengalami tingkat disintegrasi atau kehancuran yang tinggi akibat proses perendaman air dan pengeringan. Nilai indeks slaking
yang digunakan merupakan nilai indeks slaking pada siklus pertama, karna pada siklus pertama tersebutlah sampel mengalami tingkat kehancuran yang sebenar-benarnya yang diakibatkan
oleh proses pengeringan kadar
air sebelum proses perendaman
hingga pada saat siklus basah atau
perendaman telah berlangsung.
KESIMPULAN
Nilai indeks slaking yang didapatkan
pada seluruh sampel penelitian termasuk kedalam kelas 6 dengan klasifikasi indeks slaking berupa Extremely
High yang berarti sampel
penelitian mengalami tingkat disintegrasi atau kehancuran yang tinggi akibat proses perendaman air dan pengeringan.
Pada sampel LD CS1 sampai dengan LD CS3 mendapatkan nilai Indeks Slaking sebesar 100%, begitu pula dengan sampel BK CS1 hingga CS3 dengan nilai Indeks Slaking sebesar 100%. Pada sampel JW CS1 hingga JW CS3 secara berurutan mendapatkan nilai Indeks Slaking sebesar 87,94%, 84,76% dan 87,70%. Pada sampel
RB CS1 hingga RB CS3 secara
berurutan mendapatkan nilai Indeks Slaking sebesar 85,09%, 91,26%, dan 87,67%.
Untuk menentukan dan memaksimalkan tingkat klasifikasi slaking index, dalam penelitian selanjutnya peneliti dapat mencoba menggunakan variasi formasi batuan, lokasi dan jenis batuan yang berbeda guna mendapatkan
data yang lebih bervariatif
dan informatif untuk disajikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah,
Fauzan Umarah. (2020). ANALISIS KARAKTERISASI LERENG BATUAN DAN KEMANTAPAN
LERENG MENGGUNAKAN METODE SLOPE MASS RATING DAN LIMIT EQUILIBRIUM DI LERENG
SIDEWALL UTARA (Studi Kasus Longsoran Pit Merandai, PT Cipta Kridatama Site
BBE, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur)= ROCK SLOPE
CHARACTERIZATION AND SLOPE STABILITY ANALYSIS USING SLOPE MASS RATING AND
EQUILIBRIUM LIMIT METHODS ON THE NORTH SIDEWALL SLOPES (Case Study of Pit
Merandai Landslide, PT Cipta Kridatama BBE site, Kutai Kartanegara Regency,
East Kalimantan Province). Universitas Hasanuddin.
Abdurohman, Abdurohman.
(2021). ANALISIS PENGARUH AIR HUJAN TERHADAP KINERJA CAMPURAN BERASPAL PANAS
TIPE LASTON (AC-WC). Universitas Siliwangi.
Andriyanto, M. P., &
Rahman, M. S. Khabibur. (2020). Kerawanan Longsor Pada Lereng Tanah Lunak
dan Penanganannya. Penerbit Lakeisha.
BASARI, ACHMAD, &
Suryo, Sumar Hadi. (2012). PENGARUH PADUAN ABU VULKANIK DAN TANAH LIAT
TERHADAP SIFAT ABRASIF DAN KUAT TEKAN DINGIN SEBAGAI BAHAN REFRACTORY.
mechanical engineering department, faculty engineering of Diponegoro
university.
Dibyosaputro, Suprapto,
& Haryono, Eko. (2020). Geomorfologi dasar. UGM PRESS.
Dwi Kurniawan, Riko.
(2022). GEOLOGI DAN PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP POLA SEBARAN DAN
KEMENERUSAN SEAM BATUBARA PT. SEBUKU TANJUNG COAL PADA CEKUNGAN ASEM-ASEM,
FORMASI TANJUNG, PULAU LAUT, KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN.
UPN" Veteran Yogyakarta.
Dwikasih, Finanti P.,
& Koesnaryo, S. Koesnaryo S. (2020). Pengaruh Struktur Ketidakmenerusan
Pada Kestabilan Lereng Penggalian Batuan. Jurnal Sumberdaya Bumi
Berkelanjutan (SEMITAN), 2(1), 443�450.
Ekaputra, Fiqri Sanubari.
(2017). Studi Pengaruh Variasi Jenis Binder Terhadap Derajat Reduksi dan
Morfologi Briket Pasir Besi Dalam Pembuatan Sponge Iron. Institut Teknologi
Sepuluh Nopember.
Juliandi, Azuar, &
Manurung, Saprinal. (2014). Metodologi Penelitian Bisnis, Konsep dan
Aplikasi: Sukses Menulis Skripsi & Tesis Mandiri. Umsu Press.
MUHAMMAD, BUDIMAN.
(2012). Geologi dan Studi Kestabilan Lereng Daerah Dlingo dan Sekitarnya
Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. UPN"
Veteran" Yogyakarta.
Oktaviani, Revia,
Rahardjo, Paulus P., & Sadisun, Imam A. (2018). The Clay Shale Durability
Behavior of Jatiluhur Formation Based on Dynamic and Static Slaking Indices. International
Journal of Scientific and Engineering Journal, 9(5), 1266�1281.
Ridha, Agustina Elfira,
Farian, Yulius Romario, & Koesnaryo, S. Koesnaryo S. (2020). KAJIAN
PENGARUH TINGAT PELAPUKAN TERHADAP KEKUATAN BATUAN PADA BATU ANDESIT,
PARANGTRITIS, KEC. KRETEK, KAB. BANTUL, PROV. DI YOGYAKARTA. Jurnal
Sumberdaya Bumi Berkelanjutan (SEMITAN), 2(1), 349�358.
Rukin, S. Pd. (2019). Metodologi
Penelitian Kualitatif. Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia.
Sadisun, Imam A.,
Shimada, Hideki, Ichinose, M., & Matsui, K. (2005). Study on the physical
disintegration characteristics of Subang claystone subjected to a modified
slaking index test. Geotechnical & Geological Engineering, 23(3),
199�218.
Setiawan, Denny
Adhiharta. (2010). Kajian sifat teknis agregat lokal di sekitar kabupaten
Blora terhadap durabilitas campuran laston. UNS (Sebelas Maret University).