PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN
PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN GUIDED INQUIRY TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR
KRITIS SISWA SD N 01 KWADUNGAN
Kristin Wijayanti 1, Henny Dewi Koeswanti 2
PGSD, Universitas Kristen Satya Wacana
1,2
[email protected]1, [email protected]2
Diterima: 07-08-2022��������������������� ��������������� Review: 09-08-2022������������������������ ��������������� Publish:
Abstrak:
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut Mengetahui hasil apakah terdapat
perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mendapat pembelajaran
dengan model Problem Based Learning (PBL) dengan siswa yang mendapat
pembelajaran dengan model Guided Inquiry (GI) dengan media berbasis komputer
pada materi Tema 3.Mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai karakter yang
signifikan antara siswa mendapat pembelajaran dengan model Problem Based
Learning (PBL) dengan siswa yang mendapat pembelajaran dengan model Guided
Inquiry (GI) dengan media berbasis komputer pada materi Tema. Mengetahui
apakah terdapat hubungan antara nilai karakter yang terkembang dengan hasil
belajar siswa yang mendapat pembelajaran dengan model Problem Based Learning
(PBL) dengan siswa yang mendapat pembelajaran dengan model Guided Inquiry (GI)
dengan media berbasis komputer pada materi Tema 3. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimen . Hasil penelitian inimenunjukan bahwa
terdapat perbedaan model pembelajaran problem based learning dan model� Guided Inkuiri terhadap kemampuan berpikir
kritis peserta didik pada materi Tema�
kelas V dimana model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh
yang lebih baik daripada model pembelajaran�
Guided Inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada
materi Tema� kelas Kelas V SD N 01
Kwadungan� tahun ajaran 2021/2022
Kata kunci: Problem Based Learning (PBL); Guided Inquiry (GI); Berfikir kritis.
Abstract:
This study has the following objectives. To find out
whether there are significant differences in learning outcomes between students
who receive learning using the Problem Based Learning (PBL) model and students
who receive learning using the Guided Inquiry (GI) model with computer-based
media on the theme material 3. Knowing Is there a significant difference in
character values between students who receive learning using the
Problem Based Learning (PBL) model and students who receive learning using the
Guided Inquiry (GI) model with computer-based media on the material Tem Knowing
whether there is a relationship between the developed character values
and learning outcomes students who receive learning using the
Problem Based Learning (PBL) model and students who receive learning using the
Guided Inquiry (GI) model with computer-based media on the Theme 3. The method
used in this study is the experimental method. The results of this study
indicate that there are differences in the problem based learning model and the
Guided Inquiry model on students' critical thinking skills in the class V theme
material where the problem based learning learning model has a better effect
than the Guided Inquiry learning model on students' critical thinking skills on
the material. The theme for Class V SD N 01 Kwadungan for the academic year
2021/2022
Keywords: Problem Based Learning (PBL), Guided Inquiry (GI),
Critical Thinking���������������������������������������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Model pembelajaran problem based learning
merupakan strategi pembelajaran yang inovatif, di mana pada model ini guru
mendorong siswa dalam mengembangkan berbagai keterampilan, seperti keterampilan
dalam pemecahan masalah, kreativitas dan keterampilan berpikir kritis (Gunantara, Suarjana, & Riastini,
2014). Sedangkan model inkuiri terbimbing merupakan bagian dari kegiatan
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Suherman, 2003). Siswa diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan bukan hanya
dari hasil mengingat fakta-fakta saja, melainkan juga dari menemukan sendiri,
akibatnya dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam ranah
kognitif (Hidayat, 2012). Persamaan kedua model pembelajaran yakni sama-sama
berorientasi pada masalah (Santosa, 2018). Perbedaan keduanya adalah pada model pembelajaran berbasis masalah,
orientasi masalahnya berada ditahap awal inti pembelajaran di mana peserta
didik diberikan wacana seputar masalah yang berhubungan dengan dunia nyata (Ambarwati, 2017). Pada model pembelajaran inkuiri terbimbing, orientasi masalahnya
berada pada tahap inti pembelajaran di mana peserta didik.
Penelitian (Fadillah, 2015) mengenai penerapan model pembelajaran inkuiri
terbimbing pada pembelajaran materi koloid. Menunjukan kemampuan siswa dalam
pengklasifikasian, dalam kelompok tinggi, 62,5oh sangat baik, dan 37,5yo baik.
Sedangkan dalam kelompok menengah, 20,0yo sangat baik; 60,0% baik, dan 20,00
cukup. Adapun pada kelompok rendah, 22,2yo baik, dan 77,7yo sudah cukup. Untuk
keterampilan siswa diperoleh, dalam kelompok tinggi, 75,0o/o sangat baik, dan
25,00 baik. Dalam kelompok menengah, 26,6yobaik,4}o/obaik, dan 33 ,3o/o cukup.
Pada kelompok rendah , 33,3o/o baik, dan 66,6oh cukup. Peneliti lain Wahyudi dan
Supardi (2013) mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri
terbimbing dengan pelatihan keterampilan proses sains dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Penelitian selanjutnya menunjukan bahwa penerapan metode inkuiri
terbimbing dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dari 67,25% menjadi
8l,060A dan juga meningkatkan hasil belajar siswa dari 75o/o menjadi 95%.
Penerapan inkuiri terbimbing selain dapat
meningkatkan hasil belajar, juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis
siswa (Hendracipta, Nulhakim, & Agustini, 2017). Mengungkapkan penerapan
inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X di Southem
Mazar direktorat pendidikan. Penelitian yang serupa juga menyimpuikan bahwa
model inkuiri terbimbing memiliki dampak yang signifikan pada keterampilan
berpikir kritis mahasiswa. Oleh karena itu hasil penelitian merekomendasikan
bahwa guru sains harus mengadopsi inkuiri terbimbing dalam kelas sains karena
akan mendorong baik siswa laki-laki dan perempuan untuk melakukan dengan baik
dan mengurangi kesenjangan antara kedua kelompok (Sunyono & Meristin, 2020). Pada akhirnya sesuai dengan penelitian Mellyzar, model
pembelajaran yang paling efektif untuk meningkatkan hasil belajar sisr,va
adalah model pembelajaran berbasis masalah diintegrasikan dengan media
komputer, dan model pembelajaran yang paling efektif untuk meningkatkan
kreativitas siswa adalah model inkuiri diintegrasikan dengan media komputer (Manik, 2016). Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dikemukakan
di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang model pembelajaran
berbasis masalah (Problem Based Learning) dan inkuiri terbimbing (Guided
Inquiry) (Julak, 2021). Dengan judul " Perbedaaan Model Pembelajaran Problem Based
Learning dengan Guided Inquiry terhadap kemampuan berpikir kritis Siswa SD Negeri 01 Kwadungan".
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini
dilakukan pada bulan Juni Sampai selesai dan pada Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan
berpikir kreatif siswa, sedangkan subjek dalam penelitian
ini adalah siswa kelas 5 SD N 01 Kwadungan. Penelitian ini dilaksanakan di dua kelas yaitu kelas V SD N 01 Kwadungan dan Kelas V di SD N 01
Karangrejo,
Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen
adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui pengaruh
variabel independen (treatment/perlakuan) tehadap variabel dependen (hasil)
dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono,
2013). Desain penelitian
yang digunakan adalah desain Nonequivalent
Control Group Design yang merupakan desain penelitian eksperimen semu atau
kuasi eksperimen (Quasi Experiment).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan
untuk melihat perbedaan dari kedua kelas eksperimen yakni kedua kelas yang
memiliki perbedaan model pembelajaran dalam mempengaruhi kemampuan berpikir
kritis peserta didik, selanjutnya unruk menguji hipotesisi uji yang digunakan
yakni uji t sampel berkorelasi karena sampel masih berhubungan satu sama lain.
Data hasil perhitungan dan secara sederhana disajikan dalam Tabel 7 berikut
ini.
Tabel 1
Deskripsi Hasil Perhitungan
Uji Hipotesis dengan Uji t Sampel
Berkorelasi
|
Deskripsi Statistik |
Kelas Eksperimen I |
Kelas Eksperimen II |
|
Nilai Rata-rata (x) |
75,184 |
71,28947 |
|
Standar Deviasi (S) |
8,0601 |
8,655284 |
|
Varians Gabungan (S2) |
64,965 |
74,91394 |
|
Banyaknya Peserta Didik |
38 |
38 |
|
thitung |
2,03 |
|
|
ttabel |
1,993 |
|
|
Kesimpulan |
thitung����� > ttabel, H0
ditolak sehingga kedua kelas eksperimen memiliki perbedaan |
|
Tabel 1 dapat dianalisis untuk menjawab hipotesis dari
penelitian ini yaitu apakah terdapat perbedaan dari kedua model pembelajaran
yaitu model problem based learning dan
model� Guided Inkuiri dalam mempengaruhi
kemampuan berpikir kritis peserta didik. dari tabel 1 didapat nilai rata-rata kelas eksperimen I sebesar 75,28
dan nilai rata-rata kelas eksperimen II sebesar 71,28 dengan standar deviasi
masing-masing 8,06 dan 8,65 dan varians gabungan masing-masing 64,96 dan 74,91.
Sehingga menghasilkan thitung sebesar 2,03 dan ttabel� sebesar 1,993. Berdasarkan keputusan uji thitung
> ttabel atau 2,03 > 1,993, sehingga H0 ditolak.
Dengan demikian, terdapat
perbedaan antara kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II terhadap kemampuan
berpikir kritis peserta didik atau terdapat perbedaan antara kelas yang diberi
perlakuan berupa pembelajaran yang menggunakan model problem based learning dengan kelas yang menggunakan model� Guided Inkuiri terhadap kemampuan berpikir
kritis peserta didik kelas V��� pada
materi Tema.
A. Nilai rata-rata (
Hipotesis yang
selanjutnya tentang model mana yang lebih baik antara model problem based learning dengan model
iukuiri terbimbing dengan menganalisis nilai rata-rata dari kemampuan berpikir
kritis pada setiap indikator pada masing-masing model atau kelas eksperimen.
Data hasil penelitian model pembelajaran Problem
Based Learning dan� Guided Inkuiri
terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi Tema� yaitu berupa data hasil kemampuan berpikir
kritis yang tertera pada Tabel 4,5 dan Tabel 4.6.
Hasil tersebut berasal
dari kedua kelas eksperimen yakni kelas eksperimen I yang mendapat perlakuan
model problem based learning dan
kelas eksperimen II mendapat perlakuan model�
Guided Inkuiri yang selanjutnya dianalisis berdasarkan
indikator-indikator kemampuan berpikir kritis untuk melihat perbedaan pengaruh
dari kedua model pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik
dengan kategori kemampuan berpikir kritis yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Kategori Kemampuan Berpikir Kritis
|
Interval Persentase Kemampuan Berpikir Kritis peserta didik Pada Pembelajaran Fisika |
Kategori |
|
80 � 100 |
Baik Sekali |
|
66 � 79 |
Baik |
|
56 � 65 |
Cukup |
|
40 � 55 |
Kurang |
|
0 - 39 |
Kurang Sekali |
Data hasil perhitungan hasil kemampuab
berpikir kritis pada materi Tema� kelas V
adalah sebagai berikut:
Tabel 3
Deskripsi Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Kelas Eksperimen
1 (Model
A. Problem Based Learning)
|
No |
Indikator Kemampuan Berpikir Kritis yang di ukur |
Kelas Eksperimen I |
||
|
Nilai Rerata Perbutir Soal |
% Pencapaian |
Kategori |
||
|
1 |
Memfokuskan Pertanyaan |
63,15 |
63% |
Cukup |
|
2 |
Menganalisis Argumen |
66,44 |
66% |
Baik |
|
3 |
Bertanya dan Menjawab |
80,92 |
81% |
Baik |
|
4 |
Mempertimbangkanapakah sumber dapat
dipercaya atau tidak |
86,18 |
86% |
Baik Sekali |
|
5 |
Mendeduksi dan Mempertimbangkan Hasil
Deduksi |
68,42 |
68% |
Baik |
|
6 |
Menginduksi dan Mempertimbangkan Hasil
Induksi |
69,07 |
69% |
Baik |
|
7 |
Mengidentifikasi asumsi |
77,63 |
78% |
Baik |
|
8 |
Menentukan Tindakan |
89,47 |
89% |
Baik Sekali |
|
|
Rata-rata Pencapaian |
75 |
75% |
Baik |
Data hasil Tabel 3 menunjukkan bahwa pada indikator I mempereoleh nilai
sebesar 63,15 dengan persentase 63 % dengann kategori cukup, pada indikator II
nilai yang diperoleh sebesar 66,44 dengan persentase 66 % termasuk kedalam
kategori baik, pada indikator III nilai yang diperoleh sebesar 80,92 dengan
persentase 81% dan termasuk kategori baik sekali, pada indikator IV memperoleh
nilai sebesar 86,16 dengan persentase 86 % dan termasuk baik sekali, pada
indikator V memperoleh nilai sebesar 64,42 dengan persentase 64% dan termasuk
kategori baik, pada indikator VI memperoleh nilai sebesar 69,07 dengan
persentase 69% dan termasuk kategori baik, pada indikator VII memperoleh nilai
sebesar 77,63 dengan persentase 78 % dan termasuk kategori baik dan pada
indikator VIII memperoleh nilai sebesar 89,47 dengan persentase 89% dan
termasuk kategori baik sekali. Dengan demikian, nilai keseluruhan dari masing-
masing indikator dirata-ratakan dan diperoleh nilai sebsar 75 dengan persentase
75% dengan kategori baik.
Tabel 4
Deskripsi Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Kelas
Eksperimen II (Model Inkuiri Terbimbing)
|
No |
Indikator
Kemampuan Berpikir Kritis yang di ukur |
Kelas Eksperimen II |
||||
|
Nilai Rerata Perbutir Soal |
% Pencapaian |
Kategori |
||||
|
1 |
Memfokuskan Pertanyaan |
69,73 |
70% |
Baik |
||
|
2 |
Menganalisis Argumen |
64,47 |
64% |
Cukup |
||
|
3 |
Bertanya dan Menjawab |
67,1 |
67% |
Baik |
||
|
4 |
Mempertimbangkanapakah sumber dapat dipercaya atau
tidak |
73,02 |
73% |
Baik |
||
|
5 |
Mendeduksi dan Mempertimbangkan Hasil Deduksi |
63,81 |
63% |
Cukup |
||
|
�� 6 |
Menginduksi dan Mempertimbangkan Hasil Induksi |
78,94 |
79% |
Baik |
||
|
�� 7 |
Mengidentifikasi asumsi |
57,23 |
57% |
Cukup |
||
|
�� 8 |
Menentukan Tindakan |
95,39 |
95% |
Bagus Sekall |
||
|
|
Rata-Rata
Pencapaian |
71 |
71% |
�Baik |
||
Data hasil Tabel 4 menunjukkan bahwa pada indikator I mempereoleh nilai
sebesar 69,73 dengan persentase 70 % dengan kategori baik, pada indikator II
nilai yang diperoleh sebesar 64,47 dengan persentase 64 % termasuk kedalam
kategori cukup, pada indikator III nilai yang diperoleh sebesar 67,10 dengan
persentase 67 % dan termasuk kategori cukup sekali, pada indikator IV
memperoleh nilai sebesar 73,02 dengan persentase 73 % dan termasuk baik sekali,
pada indikator V memperoleh nilai sebesar 63,81 dengan persentase 64% dan termasuk
kategori cukup, pada indikator VI memperoleh nilai sebesar 69,07 dengan
persentase 69% dan termasuk
kategori baik, pada indikator VII memperoleh nilai sebesar 78,94 dengan
persentase 79 % dan termasuk kategori baik dan pada indikator VIII memperoleh
nilai sebesar 95,39 dengan persentase 95 % dan termasuk kategori baik sekali.
Dengan demikian, nilai keseluruhan dari masing-masing indikator dirata-ratakan
dan diperoleh nilai sebsar 71 dengan persentase 71 % dengan kategori
baik.Analsis terakhir kemampuan berpikir kritis pesertadidik dalam bentuk
grafik berikut ini:
Gambar 4.1 Grafik Nilai Rata-rata Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Keterangan:
I
: Indikator I
II
: Indikator II
III
: Indikator III
IV
: Indikator IV
V
: Indikator V
VI
: Indikator VI
VII
: Indikator VII
VIII
: Indikator VIII
Gambar grafik di atas
menunjukkan perrbandingan dari setiap indikator kemampuan berpikir kritis yang
dimilik oleh kedua model antara model problem
based learning dan inkuiri terbimbing. Pada indikator I kelas eksperimen dua
memiliki grafik yang lebih tinggi dari pada kelas eksperimen satu, pada
indikator II kelas eksperimen satu lebih tinggi daripada kelas eksperimen dua,
pada indikator III kelas eksperimen satu memiliki grafik yang lebih tinggi
daripada kelas eksperimen dua, pada indikator IV kelas eksperimen satu memiliki
grafik yang lebih tinggi daripada kelas eksperimen dua, pada indikator V kelas
eksperimen satu memiliki indikator yang lebih tinggi daripada kelas eksperimen
dua, pada indikator VI kelas eksperimen dua memiliki grafik yang lebih tinggi
daripada eksperimen satu, pada indikator VII kelas eksperimen satu memiliki
grafik yang ebih tinggi daripada kelas eksperimen dua dan pada indikator VIII
kelas eksperimen dua memiliki grafik yang lebih tinggi daripada kelas ekspermen
satu.
Analisis dari grafik
hasil kemampuan berpikir kritis peserta didik pada Gambar 4.1 di atas
menunjukkan bahwa kelas eskperimen satu (model problem based learning menghasilkan indikator yang lebih tinggi
grafiknya yakni indikator II, III, IV, V dan VII dan kelas eksperimen dua
(model inkuiri terbimbing) menghasilkan indikator yang lebih tinggi yakni I, VI
dan VIII. Dengan demikian,gambar grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kelas
eksperimen satu ( model problem based
learning lebih baik daripada kelas eksperimen dua (model inkuiri
terbimbing) yang terlihat dari pencapaian indikator pencapaian yang dimiliki
oleh kedua kelas dan dilihat dari nilai yang diperoleh dai indikator yang
dihasilkan.
Tabel 5
|
Deskripsi Statistik |
Kelas Ekperimen I |
Kelas Eksperimen II |
|
Nilai Rata-rata (X ) |
75,18 |
71,28 |
|
Varians (S2) |
64,96 |
74,91 |
|
Standar Deviasi (S) |
8,05 |
8,65 |
|
Skor Maksimum |
30 |
29 |
|
Skor Minimum |
18 |
17 |
�Tabel 5 menunjukkan nilai
rata-rata dari hasil tes kemampuan berpikir kritis yang berasal dari kedua
kelas eksperimen. Berdasarkan kriteria kemampuan berpikir kritis peserta didik
maka nilai rerata pada kelas ekperimen yang menggunakan model problem based learning memperoleh nilai
sebesar 75,18 tergolong sedang dan nilai rerata pada kelas eksperimen yang
menggunakan model� Guided Inkuiri sebesar
71,28 tergolong kurang.
Dengan demikian,
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara pembelajaran model problem based learning dengan model� Guided Inkuiri terhadap kemampuan berpikir
kritis. Dengan perbandingan model problem
based learning lebih baik daripada model�
Guided Inkuiri dalam mempengaruhi kemampuan berpikir peserta didik pada
materi Tema kelas Kelas V SD N 01 Kwadungan�
tahun ajaran 2021/2022
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan untuk menjawab dari hipotesisi , maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan model pembelajaran problem based learning dan model�
Guided Inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada
materi Tema� kelas V��� dimana model pembelajaran problem based learning memberikan
pengaruh yang lebih baik daripada model pembelajaran� Guided Inkuiri terhadap kemampuan berpikir
kritis peserta didik pada materi Tema� kelas
Kelas V SD N 01 Kwadungan� tahun ajaran
2021/2022.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Tira. (2017).
Pengembangan Buku Saku Digital Menggunakan Model Pembelajaran Problem
Solving Pada Materi Himpunan Siswa Kelas VII. UIN Raden Intan Lampung.
Fadillah, Eva. (2015). PENERAPAN
MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERINTEGRASI MODEL GUIDED INQURY (GI) DENGAN
MEDIA BERBASIS KOMPUTER PADA PEMBELAJARAN HIDROLISIS GARAM UNTUK MENINGKATKAN
KARAKTER DAN HASIL BELAJAR SISWA SMA KELAS XI IPA DI KOTA MEDAN. UNIMED.
Gunantara, Gede,
Suarjana, I. Made, & Riastini, Putu Nanci. (2014). Penerapan model
pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah matematika siswa kelas V. Mimbar PGSD Undiksha, 2(1).
Hendracipta, Nana,
Nulhakim, Lukman, & Agustini, Siti Mariam. (2017). Perbedaan kemampuan
berpikir kritis siswa melalui penerapan model inkuiri terbimbing di sekolah
dasar. JPsd (Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar), 3(2), 215�227.
Hidayat, Muhtar S.
(2012). Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran. INSANIA: Jurnal Pemikiran
Alternatif Kependidikan, 17(2).
Julak, Jurnal. (2021). Penerapan
Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dalam Hal Penanaman Nilai Demokrasi Dalam
Mata Pelajaran Ppkn Pada Siswa Kelas X Multimedia SMK Negeri 1 Marabahan Oleh;
Nuriman.
Manik, Febrianto.
(2016). PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MEDIA KOMPUTER
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KREATIVITAS SISWA SMA KELAS XI IPA PADA
POKOK BAHASAN HIDROLISIS GARAM. UNIMED.
Santosa, Donald Samuel
Slamet. (2018). Manfaat Pembelajaran Kooperatif Team Games Tournament (TGT)
dalam Pembelajaran. Ecodunamika, 1(3).
Sugiyono, Prof Dr.
(2013). Metode penelitian manajemen. Bandung: Alfabeta, CV.
Suherman, Erman. (2003).
Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. Educare.
Sunyono, Sunyono, &
Meristin, Annisa. (2020). Kontrak & Laporan Penelitian: Peran
Pembelajaran Daring Akibat Pendemi COVID�19 Terhadap Persepsi dan Motivasi
Mahasiswa Calon Guru Kimia.