PERILAKU
SLAKING STATIK DAN PLASTISITAS PADA BATULEMPUNG FORMASI PULAUBALANG (SLAKING
AND PLASTICITY BEHAVIOR IN CLAYSTONE IN PULAUBALANG FORMATION)
W. S. Gumilang, Revia
Oktaviani, Windhu Nugroho, Shalaho D. Devy, Tommy Trides
Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman,
Samarinda
Diterima: 11-12-2022��������������������� ��������������� Review: 23-12-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
29-12-2022
Abstrak:
Slaking
merupakan interaksi batulempung dengan udara bebas dan cuaca yang dapat
menyebabkan batulempung untuk mengalami penurunan durabilitas dan ketahanannya
seiring waktu. Batulempung juga memiliki sifat elastis dan plastis, dan hal ini
menyebabkan ia memiliki batas-batas pada keadaan elastis maupun plastis sebelum
hancur dan menjadi tanah lepas. Untuk itu, perilaku slaking statik dan
plastisitas yang dimiliki batulempung dapat berpengaruh terhadap tingkat
ketahanan dari batulempung tersebut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui
perilaku slaking statik dengan indeks plastisitas pada sampel batulempung di
Kota Samarinda pada Formasi Pulaubalang. Dari hasil uji Indeks Plastisitas, Tingkat plastisitas
pada sampel batulempung berada pada kategori plastisitas rendah dengan nilai Indeks
Plastisitas terendah 5,84 sampai dengan kategori
plastisitas sedang dengan nilai Indeks
Plastisitas tertinggi
14,91. Daya slaking
statik yang pada batulempung
berada pada kategori tinggi sampai dengan
ekstrim tinggi dengan nilai indeks
41,47% sampai dengan
70,22%, dan jumlah siklus berada pada dua sampai empat siklus.
Antara indeks plastisitas
dan indeks slaking statik menunjukkan tingkat korelasi yang lemah dengan angka koefisien
korelasi 0,282 dengan arah positif, namun
nilai R Tabel 0,666 lebih tinggidari nilai R Hitung menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel Indeks Plastisitas dengan nilai daya slaking statis pada batulempung. Hasil analisis model regresi linear sederhana yang dilakukan adalah didapatkan nilai Koefisien determinasi sebesar 0,0795, yang artinya 7,95% variasi indeks slaking statik yang dapat dijelaskan oleh faktor plastisitas, dan sisanya ditentukan oleh faktor lainnya.
Kata kunci: Batulempung, Pulaubalang, Slaking, Plastisitas
Abstract:
Slaking is the
interaction of claystone with free air and weather, which can cause claystone
to experience a decrease in its durability and resistance over time. Claystone
also has elastic and plastic properties, and this causes it to have limits on
both its elastic and plastic states before it crumbles and becomes loose soil.
For this reason, the static slaking behavior and plasticity of claystone can
affect the resistance level of the stone. This study was conducted to determine
the behavior of static slaking with a plasticity index on claystone samples in
Samarinda City in the Pulaubalang Formation. From the
results of the Plasticity Index test, the level of plasticity in the claystone
samples ranged from the low plasticity category with the lowest Plasticity Index
value of 5.84 to the medium plasticity category with the highest Plasticity
Index value of 14.91. The static slaking power in claystone is in the high to
extreme high category with an index value of 41.47% to 70.22%, and the number
of cycles is in the range of two to four cycles. Between the plasticity index
and the static slaking index, there is a weak correlation with a correlation
coefficient of 0.282 in a positive direction, but the R table value of 0.666 is
higher than the calculated R value, indicating that there is no relationship
between the plasticity index variable and the static slaking power value in
claystone. The results of the analysis of the simple linear regression model
that was carried out were that the coefficient of determination was 0.0795,
which means that 7.95% of the variation in the static slaking index can be
explained by the plasticity factor and the rest is determined by other factors.
Keywords:
Claystone, Pulaubalang,
Slaking, Plasticity��������������������������������������������������������
Corresponding: W. S. Gumilang
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Batulempung
merupakan batuan yang banyak ditemukan dalam beberapa masalah keteknikan karena
sifatnya yang dapat berubah menjadi tanah jika dipengaruhi oleh iklim dan cuaca
(Utama, Oktaviani,
Nugroho, Devy, & Trides, 2022). Batulempung memiliki sifat
unik yaitu saat dalam kondisi kering maka dia akan menyusut dan mengeras, namun
ketika menyerap air ia akan mengembang dan pada saat mencapai batasnya
batulempung akan kehilangan gaya gesernya sehingga dapat terjadi keruntuhan
secara tiba-tiba karena beratnya sendiri (Saptono, 2019). Karena sifat batulempung yang
mudah mengembang dan menyusut, maka batulempung dapat lepas dan menjadi tanah
berlempung, terutama pada daerah yang memiliki tingkat perubahan cuaca yang
tinggi (Utami, 2018). Slaking merupakan interaksi batulempung dengan udara bebas dan
cuaca yang dapat menyebabkan batulempung untuk mengalami penurrunan durabilitas
dan ketahanannya seiring waktu dan akhirnya menghancurkan dan merubah
batulempung menjadi tanah lepas. Pengujian Slaking
Index merupakan salah satu cara untuk menguji tingkat ketahanan batuan
berdasarkan perubahan temperatur pada kondisi sekitar (Prasetyo,
Hendrawan, & Yuliani, 2022). Pengujian static slaking yang merupakan pengujian
ketahanan batuan berdasarkan siklus basah-kering juga dianggap lebih menyerupai
kondisi asli pelapukan yang dialami oleh batuan dikarenakan cuaca dan
temperatur. Selai itu, batulempung memiliki sifat elastis dan plastis, dan hal
ini menyebabkan ia memiliki batas-batas pada keadaan elastis maupun plastis
sebelum hancur dan menjadi tanah lepas. Untuk itu, tentunya indeks plastisitas
yang dimiliki batulempung pun bisajadi dapat berpengaruh terhadap tingkat
ketahanan dari batulempung tersebut.
Menurut (Chand & Subbarao, 2007), Slaking adalah proses runtuhnya
material yang ditandai dengan
pecahnya butiran karena pembasahan dan pengeringan yang berulang-ulang. Batuan dapat
dalam kondisi yang keras saat tertimbun
secara alami, namun bila telah
terekspos maka kondisi yang terbuka memungkinkan terjadinya pelapukan. Slaking adalah
mekanisme degradasi fisik paling umum yang mempengaruhi tanah liat dan batuan yang kaya tanah liat. (Koncag�l &
Santi, 1999) berusaha
untuk menjelaskan berbagai jenis dan faktor-faktornya secara rinci. Sampel yang telah diuji adalah
sampel curah tidak teratur. Indeks slaking diberikan kepada masing-masing sampel untuk periode yang ditentukan dengan mengacu pada tabel indeks slaking. Untuk mengetahui perilaku slaking statis dan plastisitas pada batulempung,
dilakukan pengujian indeks slaking statik yang mengacu pada rekomendasi
pengujian dari (Sadisun, Shimada,
Ichinose, & Matsui, 2005) yang membagi nilai dan kelas
indeks slaking statik menjadi 6 kelas. Pembagian Kelas tersebut dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai kelas dan Klasifikasi
Indeks Slaking Statik Siklus Tunggal (Sadisun et
al., 2005).
|
Kelas |
Slaking Indeks (%) |
Klasifikasi |
|
1 |
0-5 |
Very Low |
|
2 |
5-10 |
Low |
|
3 |
10-25 |
Medium |
|
4 |
25-50 |
High |
|
5 |
50-75 |
Very High |
|
6 |
75-100 |
Extremely High |
Selain itu, Suatu hal
yang penting pada tanah berbutir halus adalah sifat plastisitasnya.
Plastisitas disebabkan oleh
adanya partikel mineral lempung dalam tanah.
Istilah plastisitas menggambarkan kemampuan tanah dalam menyesuaikan
perubahan bentuk pada
volume yang konstan tanpa retak-retak atau remuk. Bergantung pada kadar air, tanah dapat berbentuk cair, plastis, semi padat, atau padat.
Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada kadar air tertentu disebut konsistensi. Konsistensi bergantung pada gaya tarik antara
partikel mineral lempung (Hardiyatmo,
2002). Atterberg (1991) dalam (Hardiyatmo,
2002), memberikan
cara untuk menggambarkan batas-batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan
kandungan kadar air tanah. Batas-batas tersebut adalah batas cair (liquid limit), batas plastis
(plastic limit), dan batas susut (shrinkage limit). Batasan mengenai indeks plastisitas, sifat, macam tanah,
dan kohesi diberikan oleh
Atterberg dalam (Hardiyatmo, 2002) pada tabel 2.
Tabel 2. Nilai Indeks
Plastisitas dan Macam Tanah (Hardiyatmo,
2002)
|
PI (%) |
Sifat |
Macam Tanah |
Kohesi |
|
0 |
Non Plastis |
Pasir |
Non Kohesif |
|
<7 |
Plastisitas Rendah |
Lanau |
Kohesif Sebagian |
|
7-17 |
Plastisitas Sedang |
Lempung Berlanau |
Kohesif |
|
>17 |
Plastisitas Tinggi |
Lempung |
Kohesif |
���� Untuk dapat mengetahui perilaku slaking
statik dan plastisitas pada batulempung Formasi Pulaubalang, maka dilakukan
serangkaian pengujian untuk mengetahui Indeks Slaking Statik, nilai Indeks
Plastisitas, dan melakukan uji untuk mengetahui hubungan yang terdapat antara
Indeks Slaking Statikdengan Indeks Plastisitas pada sampel batulempung yang
diuji.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan
beberapa tahap, yang diawali dengan studi literatur, untuk mempelajari masalah yang berkaitan dengan penelitian dan pengkajian dasar-dasar teori yang akan dijadikan acuan dalam penelitian (Sugiyono, 2016). Setelah studi dilakukan, maka dilakukan pengamatan lapangan, untuk meninjau kondisi di lapangan seperti keadan lokasi dan keadaan sampel. Selain itu juga untuk menyesuaikan metode pengambilan sampel yang dilakukan. Penelitian dilakukan pada dua tahap yaitu tahap
penelitian lapangan dan tahap pengujian di� laboratorium (Supardi, 2013).
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data diawali dengan survey lapangan yang dilakukan untuk menentukan lokasi penelitian yang sesuai. Dalam hal
ini ditentukan lokasi penelitian merupakan lereng-lereng batuan yang terdapat pada Formasi Pulaubalang dan terdapat batulempung (Claystone) pada lereng
batuan yang ada. Lalu dilakukan Sampling atau pengambilan sampel pada beberapa titik di lokasi penelitian, dengan masing-masing titik lokasi pengambilan
sampel diambil tiga sampel dengan
ukuran dan bentuk yang diinginkan. Populasi sampel yang akan diuji adalah 9 sampel.� Setelah pengambilan sampel, maka dilakukan
preparasi pada masing-masing sampel
untuk persiapan pengujian pertama, yaitu pengujian Static Slaking. Pengujian
ini dilakukan berdasarkan rekomendasi (Sadisun et al., 2005) dengan
penyesuaian. Untuk pengujian Static
Slaking, sampel yang dibutuhkan
tidak perlu memiliki bentuk tertentu dan ukuran jugadapat disesuaikan. Pengujian dilakukan dengan metode siklus
basah-kering siklus tunggal yang akan mewakili kondisi pelapukan yang terjadi di lapangan. Pengujian dilakukan dengan beberapa siklus sampai sampel batuan
hancur seluruhnya, dengan pembatasan maksimal 5 siklus. Setelah pengujian Static Slaking dilakukan,
maka dilakukan persiapan untuk pengujian batas-batas Atterberg. Pengujian
dilakukan dengan metode uji berdasarkan (Hardiyatmo, 2002). Pengujian batas-batas Atterberg dilakukan untuk mendapatkan nilai dari Batas Cair, Batas Plastis, dan Indeks Plastisitas.
Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara penentuan perilaku Slaking dengan menentukan klasifikasi Indeks Slaking Statik dari hasil
pengujian, yang dapat dilihat pada Tabel 1. Lalu dilakukan penentuan Sifat Keplastisan dengan menggunakan hasil pengujian Indeks Plastisitas, yang dapat dilihat pada Tabel 2. Untuk mengetahui hubungan yang ada antara Nilai Indeks Slaking Statik dengan Nilai Indeks Plastisitas, dibuat Grafik Scatterplot untuk
mengetahui Koefisien Korelasi sederhana dari hasil pengujian
sampel batulempung.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pengujian dilakukan pada tiga lokasi yang berada di Kota Samarinda, dengan masing-masing lokasi diambil tiga sampel
batuan. Pada ketiga lokasi, semuanya berada pada Formasi Pulaubalang.� Koordinat dari masing-masing lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Koordinat Lokasi Penelitian
|
Nomor |
Sampel |
Lintang Selatan |
Bujur Timur |
Sifat Keplastisan |
|
1 |
PB CS |
0�28�17,96� |
117�07�33,77� |
Plastisitas Sedang |
|
2 |
KP CS |
0�28�23� |
117�06�40� |
Plastisitas Sedang |
|
3 |
SI CS |
0�27�57� |
117�06�27� |
Plastisitas Sedang |
Total populasi sampel
yang diuji ada 9 sampel, dengan dua tahap pengujian
yang dilakukan, yaitu Uji Slaking Static dengan
Uji Batas-batas Atterberg.� Masing-masing lokasi
pengambilan sampel terdapat 3 sampel untuk diuji.
Hasil pengujian Indeks
Slaking Statik didapatkan dengan melihat siklus tunggal atau siklus pertama
yang didapatkan.

Gambar 1. Pengujian
Sampel PB CS

Gambar 2. Pengujian
Sampel KP CS

Gambar 3. Pengujian Sampel
SI CS
Pada sampel PB CS berada
pada kategori slaking sangat tinggi
(very high) dengan
nilai indeks slaking PB CS1
70,221%, PB CS2 64,489%, dan 62,863%. Pada sampel KP
CS berada pada kategori
sangat tinggi (very
high) pada PB CS1 dan PB CS3 dengan nilai indeks slaking KP CS1
50,017% dan KP CS3 51,511%. Sedangkan KP CS2 berada pada kategori tinggi (high) dengan nilai indeks
slaking 41,469%. Dan pada sampel SI CS berada pada kategori sangat tinggi (very high)
dengan nilai indeks slaking SI CS1 65,969%, SI CS2 56,869% dan SI CS3
55,632%. Sedangkan jumlah siklus yang didapatkan adalah dua siklus
pada sampel PB CS1 dan PB CS2, tiga
siklus untuk sampel PB CS3, KP CS1, SI CS1, SI CS2, dan SI CS3. Dan untuk sampel KP CS2 dan KP CS3 didapatkan empat siklus. Hasil nilai Indeks slaking yang didapatkan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Nilai Indeks Slaking Statik
dan Klasifikasi Indeks
Slaking Statik
|
Sampel |
Is1(%) |
Is2(%) |
Is3 (%) |
Is4(%) |
Is5(%) |
Klasifikasi |
|
PB CS1 |
70,221 |
100 |
- |
- |
- |
Very High |
|
PB CS2 |
64,489 |
100 |
- |
- |
- |
Very High |
|
PB CS3 |
63,863 |
64,492 |
100 |
- |
- |
Very High |
|
KP CS1 |
50,017 |
86,058 |
100 |
- |
- |
Very High |
|
KP CS2 |
41,469 |
81,261 |
86,486 |
100 |
- |
High |
|
KP CS3 |
51,511 |
66,064 |
90,722 |
100 |
- |
Very High |
|
SI CS1 |
65,969 |
97,786 |
100 |
- |
- |
Very High |
|
SI CS2 |
56,869 |
99,63 |
100 |
- |
- |
Very High |
|
SI CS3 |
55,632 |
99,726 |
100 |
- |
- |
Very High |
Hasil pengujian batas-batas
Atterberg yang dilakukan pada sampel
batuan mendapatkan hasil berupa nilai
Batas Cair, Batas Plastis,
dan hasil akhir berupa Indeks Plastisitas
dan Sifat Keplastisan.

Gambar 4. Pengujian
Atterberg PB CS

Gambar 5. Pengujian
Atterberg KP CS

Gambar 6. Pengujian
Atterberg SI CS
Pada sampel PB CS, nilai
Indeks Plastisitas yang didapatkan berada pada kategori Plastisitas Sedang, dengan nilai PI pada PB CS1
12,10%, PB CS2 9,64%, dan PB CS3 11,59%. Lalu pada sampel
KP CS, nilai Indeks Plastisitas didapatkan berada pada kategori Plastisitas Sedang pada sampel KP
CS1 dan KP CS2 dan Plastisitas Rendah
pada sampel KP CS3, dengan nilai PI pada KP CS1 11,65%, KP CS2 9,62%, dan KP CS3
5,84%. Dan pada sampel SI CS, didapatkan
nilai Indeks Plastisitas berada pada kategori Plastisitas Sedang, dengan nilai PI pada SI CS1
13,11%, SI CS2 14,67%, dan SI CS3 14,91%. Berdasarkan
hasil tersebut, rata-rata sampel memiliki nilai Plastisitas Sedang, dengan satu pengecualian.
Hasil Pengujian batas-batas
Atterberg dapat
dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Batas-batas Atterberg dan Sifat Keplastisan
|
Sampel |
Batas Cair (%) |
Batas Plastis (%) |
Indeks Plastisitas (%) |
Sifat Keplastisan |
|
PB CS1 |
30,95 |
18,85 |
12,10 |
Plastisitas Sedang |
|
PB CS2 |
29,80 |
20,16 |
9,64 |
Plastisitas Sedang |
|
PB CS3 |
32,20 |
20,61 |
11,59 |
Plastisitas Sedang |
|
KP CS1 |
33,95 |
22,30 |
11,65 |
Plastisitas Sedang |
|
KP CS2 |
33,12 |
23,50 |
9,62 |
Plastisitas Sedang |
|
KP CS3 |
33,45 |
27,61 |
5,84 |
Plastisitas Rendah |
|
SI CS1 |
44,30 |
31,19 |
13,11 |
Plastisitas Sedang |
|
SI CS2 |
44,18 |
29,51 |
14,67 |
Plastisitas Sedang |
|
SI CS3 |
40,80 |
25,89 |
14,91 |
Plastisitas Sedang |
Untuk mengetahui interaksi dan hubungan yang terdapat pada perilaku slaking
dan plastisitas pada sampel
batulempung, dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi sederhana. Kedua variabel dapat dikorelasikan dengan metode korelasi Pearson untuk mengetahui koefisien korelasinya untuk mengetahui besarnya hubungan antara nilai slaking dan plastisitas. Selain itu, nilai
koefisien determinasi dapat dihitung untuk mengetahui persentase variabel dalam memprediksi perubahan variabel terikatnya. Berdasarkan grafik korelasi sederhana yang telah dibuat, didapatkan nilai Koefisien Korelasi (R) 0,282 yang berarti kedua variabel memiliki hubungan yang rendah. Namun R hitung yang didapatkan ternyata lebih kecil dari nilai
R Tabel yang memiliki nilai 0,666 sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwatidak ada hubungan antara dua variabel yang dihitung. Selain itu, dapat dilihat
nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar
0,0795 yang artinya 7,95% variasi
nilai Indeks Slaking Statik yang dapat dijelaskan oleh nilai Indeks Plastisitas, sedangkan 92,05% sisanya ditentukan oleh faktor lainnya. Untuk mengetahui grafik hubungan antara kedua variabel dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Grafik
Hubungan Indeks Plastisitas dengan Indeks Slaking
KESIMPULAN
��������������� Nilai Indeks Slaking Statik
berada pada kategori tinggi (high) sampai sangat tinggi (very high) dengan
nilai Indeks Slaking terendah berada pada 41,469% dan nilai Indeks Slaking tertinggi berada pada 70,221%.
Nilai Indeks Plastisitas berada pada kategori Plastisitas Rendah sampai dengan Plastisitas
Sedang, dengan Nilai Indeks
Plastisitas terendah berada pada 5,84% dan Nilai Indeks
Plastisitas tertinggi berada pada 14,91%. Hubungan antara kedua variabel
dinyatakan dengan Nilai Koefisien Korelasi (R) dengan nilai 0,282 yang artinya kedua variabel
memiliki hubungan yang rendah, dan nilai Koefisien Determinasi (R2)
sebesar 0,0795% yang artinya
7,95% variasi nilai Indeks Slaking Statik dapat dijelaskan oleh nilai Indeks Plastisitas,
sedangkan 92,05% sisanya ditentukan oleh faktor lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Chand, Sudeep Kumar, & Subbarao, Chillara.
(2007). Strength and slake durability of lime stabilized pond ash. Journal
of Materials in Civil Engineering, 19(7), 601�608.
Hardiyatmo, Hary Christady. (2002). Mekanika Tanah
I. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Koncag�l, Engin C., & Santi, Paul M. (1999).
Predicting the unconfined compressive strength of the Breathitt shale using
slake durability, Shore hardness and rock structural properties. International
Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences, 36(2), 139�153.
Prasetyo, Erinna Melina, Hendrawan, Andre Primantyo,
& Yuliani, Emma. (2022). Identifikasi Karakteristik Fisik Dan Mineralogi
Tanah Dan Batuan Material Longsoran Di Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Jurnal
Teknologi Dan Rekayasa Sumber Daya Air, 3(1), 409.
Sadisun, Imam A., Shimada, Hideki, Ichinose, M.,
& Matsui, K. (2005). Study on the physical disintegration characteristics
of Subang claystone subjected to a modified slaking index test. Geotechnical
& Geological Engineering, 23(3), 199�218.
Saptono, Singgih. (2019). Sistem Klasifikasi Massa
Batuan untuk Tambang Terbuka. LPPM UPN" Veteran" Yogyakarta.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D (PT Alfabet). Bandung.
Supardi, U. S. (2013). Aplikasi statistika dalam
penelitian. Jakarta: Change Publisher.
Utama, Yogi Budi, Oktaviani, Revia, Nugroho, Windhu, Sakdillah,
& Trides, Tommy. (2022). Studi Tingkat Slaking Index pada Batulempung
Formasi Balikpapan Daerah Samarinda dan Kutai Kartanegara. Journal Locus
Penelitian Dan Pengabdian, 1(9), 738�748.
Utami, Dyah Nursita. (2018). KAJIAN JENIS MINERALOGI
LEMPUNG DAN IMPLIKASINYA DENGAN GERAKAN TANAH STUDY OF CLAY MINERAL TYPE AND
ITS IMPLICATION TOWARD LANDSLIDE. Jurnal Alami (e-ISSN: 2548-8635), 2(2).
Tucker, M. E. 2003. Sedimentary
Rocks in the Field: A Practical Guide, Third Edition. USA: John Wiley and
Sons. (ISBN 0-470-85123-6)
Qi, J., Sui, W., Liu, Y., & Zhang, D. 2015. Slaking Process and Mechanisms Under Static
Wetting and Drying Cycles Slaking Test in a Red Strata Mudstone. Geotech
Geol Eng, 959-972.
Mohammad, E. T., Saad, R., & Abad, S. V. 2011. Durability Assessment of Weak Rock by Using
Jar Slaking Test. EJGE, 1319-1335