PENGARUH
SLOW DEEP BREATHING TERHADAP FATIGUE
PADA PASIEN DENGAN PPOK DI RSUD MALINGPING
Tita Rahayu1 Zahrah Maulidia2,
Ida Faridah3
Program Studi S1 Keperawatan
Universitas yatsi Madani
Tangerang
Diterima: 05-12-2022��������������������� ��������������� Review: 17-12-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
29-12-2022
Abstrak:
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang disebabkan oleh kelainan saluran napas dan alveoli. PPOK menjadi masalah di seluruh dunia, karena penyebab utama terjadinya morbiditas dan mortalitas kronis. Sesak napas dan fatigue merupakan gejala utama yang dialami oleh pasien PPOK. Salah satu terapinya tanpa obat yaitu Slow Deep
Breathing. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengaruh Slow Deep Breating terhadap fatigue pada pasien
dengan PPOK di RSUD Malingping.
Desain penelitiannya yaitu Quasi-Eksperimen dengan pendekatan two group-pre test and post test design. Teknik pengambilan
sampel menggunakan concecutive sampling dengan jumlah 30 responden yang dibagi menjadi dua kelompok.
Tehnik analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji t dependen. Hasil uji statistik menunjukan bahwa terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dan sesudah dilakukan
slow deep breathing pada pasien
PPOK di RSUD Malingping kelompok
Intervensi (p=0,000) dan tidak
terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dan sesudah dilakukan slow
deep breathing pada kelompok control (p=0,651). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah slow deep breathing dapat mempengaruhi dan menurunkan skala fatigue pada pasien PPOK.
Kata kunci: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), slow
deep breathing, fatigue
Abstract:
Chronic
obstructive pulmonary disease (COPD) is a lung disease caused by abnormalities
of the airways and alveoli. COPD is a worldwide problem, as a major cause of
chronic morbidity and mortality. Shortness of breath and fatigue are the main
symptoms experienced by COPD patients. One of the therapies without drugs is
Slow Deep Breathing. The purpose of this study was to determine the effect of
Slow Deep Breathing on fatigue in patients with COPD at Malingping
Hospital. The research design is quasi-experimental with a two group-pre-test
and post-test design approach. The sampling technique used consecutive sampling
with a total of 30 respondents who were divided into two groups. The analytical
technique used in this study is the dependent t test. The results of
statistical tests showed that there was a difference in the fatigue scale
before and after slow deep breathing in COPD patients at the Malingping Hospital in the Intervention group (p = 0.000)
and there was no difference in the fatigue scale before and after slow deep
breathing in the control group (p = 0.651). The conclusion of this study is
that slow deep breathing can affect and reduce the fatigue scale in COPD
patients.
Keywords:
Chronic obstructive pulmonary disease (COPD),
slow deep breathing, fatigue�����
Corresponding: Tita Rahayu
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit yang umum, dapat dicegah
dan diobati yang ditandai dengan gejala pernapasan
yang persisten dan pembatasan
saluran napas yang disebabkan
oleh kelainan saluran napas
dan alveoli, biasanya partikel
berbahaya, atau karena paparan gas yang parah (Junaidin et al., 2019). Gejala pernapasan yang paling umum adalah dipsneu dan batuk berdahak sehingga dapat menyebabkan ketidak nyamanan dalam bernafas serta beraktivitas (TO, 2018) Sesak napas dan fatigue merupakan
gejala utama yang dialami oleh pasien penyakit paru obstruktif
kronik PPOK. Gejala ini menurunkan kinerja fungsional, fungsi kognitif, fisik dan psikososial hingga akan memperburuk
kesehatan dan menurunkan kualitas hidup (Saragih, 2018).
Gejala yang paling dominan pada pasien
PPOK adalah sesak napas
pada saat mulai beraktivitas. Kelelahan pada pasien PPOK disebabkan oleh atrofi otot yang menetap, adanya gangguan pada nutrisi, dan adanya sirkulasi pada sitokin. Theander (2007) dalam (Imamah, Sofro,
& Johan, 2017) mengemukakan
bahwa kelelahan salah satu penyebab berkurangnya
partisipasi pasien PPOK dalam aktivitas social dan pekerjaan. Beberapa dampak yang signifikan pada pasien PPOK yaitu berdampak pada kebutuhan sehari-hari, karena tidak hanya gangguan
fisik dan fisiologis tetapi juga gangguan mental, kurang konsentrasi dan depresi. Pada akhirnya kelemahan dapat menyebabkan kelelahan otot, termasuk otot pernapasan.
Intervensi untuk penderita PPOK
yaitu terdiri dai terapi obat
dan terapi tanpa obat. Salah satu terapi tanpa obat
yaitu Teknik pernapasan dalam dan lambat atau disebut juga Slow Deep
Breathing. Tujuan utamanya
adalah untuk meningkatkan toleransi latihan, sehingga dapat memaksimalkan kapasitas kerja pada penderita PPOK.� Slow
Deep Breathing (SDB) yaitu tatacara bernapas menggunakan frekuensi <
10 napas per menit serta periode inspirasi lama. Pernapasan lambat dan dalam adalah tindakan
sadar untuk mengatur pernapasan dalam dan lambat. Pernapasan lambat dan dalam lebih menitikberatkan
pada pengajaran pernapasan
yang benar yang dapat meredakan gejala PPOK, sehingga PPOK dapat dikendalikan. Pernapasan dalam yang lambat adalah latihan pernapasan dengan teknik pernapasan dalam yang lambat yang menggunakan diafragma, memungkinkan perut naik perlahan dan tulang rusuk mengembang penuh. Dengan latihan
pernapasan dalam dan lambat, Anda dapat mengontrol pernapasan dengan mantap untuk
memaksimalkan ekspansi dan kontraksi paru-paru. Latihan ini efektif untuk
penyakit pernapasan (Black &
Hawks, 2014).
�Berdasarkan
penelitian sebelumnya, khususnya penelitian rehabilitasi paru tentang perubahan dispnea dan kelelahan untuk pasien penyakit
paru obstruktif kronik (PPOK) menunjukkan bahwa t- tes untuk
dyspnea diperoleh p<
0,001 dan p-value = 0,034 untuk kelelahan,
sehingga disimpulkan bahwa rehabilitasi paru dapat mengurangi
dispnea dan mengurangi kelelahan pada pasien PPOK (Imamah et al.,
2017).
PPOK adalah masalah
global. Penyakit ini merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan
yang banyak dihadapi saat ini. Penyakit
ini signifikan dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas kronis di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) memberikan tanggapan
bahwa pada tahun 2030 PPOK sebagai penyebab utama kematian yang ketiga di dunia. Pada tahun 2018 menunjukkan bahwa dari seluruh kematian
di dunia terdapat 6 ribu karena PPOK. Kematian akibat PPOK diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun kedepan karena
paparan terus menerus terhadap faktor risiko PPOK, penuaan, dan populasi. Belakangan ini PPOK lebih sering dibicarakan
karena prevalensinya yang semakin meningkat. Berdasarkan GOLD dan studi epidemiologi skala besar lainnya, diperkirakan jumlah PPOK adalah 384 juta pada tahun 2010. Secara global, ada sekitar tiga
juta kematian. Dengan meningkatnya prevalensi
merokok di negara-negara berkembang,
dan populasi yang menua di
negara-negara berpenghasilan tinggi,
prevalensinya PPOK diperkirakan
akan meningkat selama 30 tahun ke depan dan pada tahun 2020 mungkin ada lebih
dari 4,5 juta kematian setiap tahun yang di akibatkan PPOK (TO, 2018).
�Prevelensi dalam PPOK diperkiraan mengalami peningkatan secara drastis dampak beberapa negara pada Asia yg ditimbulkan sang peningkatan pemakaian tembakau. Dengan meningkatnya perkara merokok dinegara berkembang mengakibatkan PPOK sebagai lebih berfokus buat ditangani & pada tindaklanjuti.
Diperkiraan menurut populasi dunia yg berumur 15 tahun adalah perokok aktif. Indonesia menjadi negara menggunakan jumlah perokok tinggi & terdapat beberapa pola hayati yg
belum sanggup terjaga menggunakan baik, memiliki prevalensi yg besar.
Data riset kesehatan dasar tahun 2018 memperlihatkan prevalensi pasien menggunakan PPOK mencapai 3,7% atau 9,2 juta penduduk
Berdasarkan data 10 besar penyakit
di Ruang Rawat Inap RSUD Malingping
tahun 2020, PPOK termasuk
10 besar penyakit terbanyak di Ruang Rawat Inap
RSUD Malingping, PPOK menduduki
peringkat ke delapan yaitu sebesar 57 pasien/tahun. Peringkat
pertama di tempati oleh Tb Paru sebanyak 121/tahun, kedua oleh CHF sebanyak 103, ketiga oleh DHF sebanyak 95, dan selanjutnya. (Instalasi Rekam Medik RSUD Malingping, 2021). Dan
berdasarkan pengalaman peneliti selama 1 tahun bekerja dan sampai dengan saat
ini pasien PPOK selalu masuk 10 besar di RSUD Malingping. Hal ini menggambarkan
bahwa penyakit PPOK ini perlu mendapatkan perhatian khusus agar angkanya mengalami penurunan. Berdasarkan pengalaman peneliti tersebut, belum pernah ada intervensi
khusus dalam menerapkan Slow Deep Breathing. Oleh sebab
itu dalam penelitian ini akan melihat bagaimana
pengaruh Slow
Deep Breathing terhadap fatigue pada pasien PPOK di Ruang rawat inap RSUD Malingping.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain Quasi-Eksperimen with Control group design dengan pendekatan two group-pre test
and post test design. Intervensi
yang diberikan dalam kelompok intervensi adalah dengan memberikan
Slow Deep Breathing sedangkan pada kelompok kontrol hanya dilakukan
pengukuran fatigue.
Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap RSUD Malingping (Sugiyono, 2018). Dengan waktu penelitian dimulai pada bulan Agustus 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien PPOK yang dirawat di ruang rawat inap
RS Malingping. Sampel yang digunakan berjumlah 30 responden. Jadi, dalam penelitian ini peneliti membagi 2 kelompok yaitu masing masing kelompok berjumlah 15 orang, satu kelompok 15 orang mendapatkan intervensi atau perlakuan dan satu kelompok yg lainnya
15 orang menjadi kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sampling yaitu
consecutive sampling. Sampel yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien PPOK yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Malingping yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu pasien secara
medis terdiagnosis Penyakit PPOK yang tercatat dalam rekam medik,
Kesadaran pasien composmentis, Pasien yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Malingping, Pasien yang tidak ada keterbatasan secara fisik, Pasien
yang tidak pernah mendapatkan terapi Slow Deep Breathing dari peneliti atau tenaga
kesehatan lainnya. Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah Pasien tidak
bersedia mengikuti penelitian, Mempunyai komplikasi penyulit degeneratif dan gangguan penyakit lainnya, Pasien pernah/sedang
mendapat Therapy selain Slow Deep Breathing sebelumnya.
Dalam penelitian ini
instrument penelitian yang digunakan sebagai pengumpul data yaitu lembar kuesioner terkait dengan skala fatigue pada pasien
PPOK. Skala fatigue akan� diukur�
dengan� menggunakan� Manchester COPD
Fatigue Scale (MCFS). Tes� ini� dilakukan sebelum dan sesudah intervensi Slow Deep Breathing. Pada penelitian ini sebelum dilakukan analisis data, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data untuk mengetahui normal atau tidaknya data yang ada. Karena hasil data berdistribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik
parametrik yaitu uji t dependen.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tabel 1
Karakteristik pasien PPOK di Ruang Rawat Inap RSUD Malingping (n=30)
|
Variabel |
Kelompok Intervensi (n=15) |
Kelompok Kontrol (n=15) |
|
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan |
11 (73,3%) 4 (26,7%) |
11 (73,3%) 4 (26,7%) |
|
Usia Mean, �SD Min-Max |
52, � 18,504 19-78 |
58, � 16,360 34-86 |
|
Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja |
11 (73,3%) 4 (26,7%) |
11 (73,3%) 4 (26,7%) |
|
Tingkat Pendidikan SD SMP SMA PT |
5 (33,3%) 1 (6,7%) 7 (46,7%) 2 (13,3%) |
7 (46,7%) 3 (20,0%) 5 (33,3%) 0 (0%) |
|
Riwayat Penyakit Ada Tidak ada |
5 (33,3%) 10 (66,7%) |
3 (20,0%) 12 (80,0%) |
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi pada pasien PPOK di ruang rawat inap
RSUD Malingping sebagian besar (73,3%) berjenis kelamin laki-laki, rata-rata berusia 52 tahun, sebagian besar (73,3%) bekerja, hampir setengah (46,7%) berpendidikan
SMA dan Sebagian besar (66,7%) tidak
ada Riwayat penyakit. Sedangkan untuk kelompok kontrol pada pasien PPOK di ruang rawat inap RSUD Malingping sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (73,3%),
rata-rata berusia 58 tahun,
sebagian besar (73,3%) bekerja, hampir setengah (46,7%) berpendidikan SD
dan Sebagian besar (80%) tidak
ada Riwayat penyakit.
�
Tabel 2
Distribusi frekuensi observasi perlakuan responden kelompok intervensi pada pasien PPOK di Ruang Rawat Inap
RSUD Malingping
|
SPO Slow Deep Breathing |
Kelompok Intervensi |
|
|
N |
% |
|
|
Kurang Efektif |
1 |
6,7 |
|
Efektif |
14 |
93,3 |
|
Total |
15 |
100 |
Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa kelompok intervensi yang melakukan Slow
Deep Breathing sesuai SPO dengan
efektif sebanyak 14 responden (93,3%).
Tabel 3
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pretest
Fatigue pada pasien PPOK di Ruang Rawat Inap RSUD Malingping
|
Skala Fatigue |
Pretest Intervensi |
Pretest Kontrol |
||
|
N |
% |
N |
% |
|
|
Fatigue Berat |
11 |
73,3 |
10 |
66,7 |
|
Fatigue Ringan |
4 |
26,7 |
5 |
33,3 |
|
Total |
15 |
100 |
15 |
100 |
Berdasarkan table 3 menunjukkan bahwa pretest pada kelompok intervensi sebagian besar (73,3%) pasien PPOK di ruang rawat inap
RSUD Malingping mengalami fatigue
berat. Begitu pula dengan kelompok kontrol, Sebagian besar (66,7%) mengalami fatigue berat.
Tabel 4
Distribusi frekuensi responden berdasarkan posttest
Fatigue pada pasien PPOK di Ruang Rawat Inap RSUD Malingping
|
Skala Fatigue |
Post Test Intervensi |
Post Test Kontrol |
||
|
N |
% |
N |
% |
|
|
Fatigue Berat |
2 |
13,3 |
11 |
73,3 |
|
Fatigue Ringan |
13 |
86,7 |
4 |
26,7 |
|
Total |
15 |
100 |
15 |
100 |
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa post-test pada kelompok
intervensi sebagian besar (86,7%) pasien PPOK di ruang rawat inap
RSUD Malingping mengalami fatigue
ringan. Sedangkan untuk kelompok kontrol, Sebagian besar (73,3%) mengalami fatigue berat.
Tabel 5
Rerata Fatigue pada pasien PPOK di Ruang
Rawat Inap RSUD Malingping
|
Variabel |
|
|
Rata-rata |
Standar deviasi |
Min-Max |
|
Fatigue |
Kelompok Intervensi |
Pre-test Post-test |
31,73 18,87 |
13,956 9,870 |
11-52 7-39 |
|
Kelompok Kontrol |
Pre-test Post-test |
31,93 31,33 |
10,613 9,256 |
15-50 15-48 |
|
|
Total |
|
|
|
|
|
Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata fatigue pada kelompok
intervensi pre-test adalah
31,73 � 13,956 (11-52) dan post-test adalah
18,87 � 9,870 (7-39). Sedangkan rata-rata fatigue pada
kelompok kontrol pre-test
adalah 31,93 � 10,613 (15-50) dan post-test adalah 31,33 � 9,256 (15-48).
Tabel 6
Perbedaan skala Fatigue pre post dilakukan
Slow Deep Breathing pada pasien PPOK di Ruang
Rawat Inap RSUD Malingping
|
Kelompok responden |
|
Mean |
Standar deviasi |
Min-Max |
Nilai P |
|
Kelompok Intervensi |
Pre-test Post-test |
12,867 |
6,999 |
8,991 � 16,742 |
0,000 |
|
Kelompok Kontrol |
Pre-test Post-test |
0,600 |
5,026 |
-2,183 � 3,383 |
0,651 |
|
|
|
|
|
|
|
Berdasarkan table 5.6 menunjukkan bahwa hasil uji statistik parametrik dengan t dependen pada kelompok intervensi pre-test dan post
test didapatkan nilai
P (P= 0,000) atau (P≤
0,05) berarti terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dan sesudah diberikan Slow Deep Breathing dengan
rata-rata nilai pre-test dan post test 12,867. Sedangkan
pada kelompok kontrol didapatkan nilai P (P=
0,651) atau (P > 0,05) berarti
tidak terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dan sesudah diberikan Slow Deep Breathing dengan
rata-rata nilai pre-test dan post test 0,600.
PEMBAHASAN
Skala fatigue sebelum
dilakukan slow deep breathing pada pasien PPOK di RSUD Malingping
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala fatigue sebelum dilakukan slow deep
breathing pada kelompok intervensi
yaitu 73,3% mengalami fatigue
berat dengan rata-rata nilai sebelum intervensi
yaitu 31,73 � 13,956 dengan
nilai minimum 11 dan maksimum
52. Sedangkan rata-rata fatigue pada kelompok kontrol pre-test adalah 31,93 � 10,613 dengan nilai minimum 15 dan maksimum 50 dimana terdapat 66,7% mengalami fatigue berat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Imamah et al., 2017) dimana sebelum
dilakukan rehabilitasi paru yaitu rata-rata
skala fatigue 21,65.
Hasil penelitian merupakan nilai awal sebelum
membandingkan dengan nilai setelah diberikan
slow deep breathing selama 3 hari, sehingga hasil penelitian ini sebagai data awal untuk menentukan
adakah pengaruh slow
deep breathing terhadap skala
fatigue pada pasien PPOK. Berdasarkan
hasil tersebut dapat dilihat bahwa
skala fatigue pada pasien
PPOK sebelum diberikan intervensi dikategorikan fatigue
berat. Sesak napas dan
fatigue merupakan gejala
utama yang dialami oleh pasien PPOK. Gejala ini menurunkan kinerja fungsional, fungsi kognitif, fisik dan psikososial hingga akan memperburuk
kesehatan dan menurunkan kualitas hidup (Saragih, 2018).
Penyebab fatique pada pasien PPOK adalah karena disuse atrophy serta gangguan nutrisi serta adanya
cytokine yang beredar pada pasien
PPOK. Selain itu fatigue
juga mengakibatkan berkurangnya
partisipasi pasien PPPOK dalam aktivitas social serta pekerjaan. Kelemahan otot akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya kelelahan otot (muscle fatigue)
dimana didalamnya termasuk juga dengan otor pernafasan. Oleh sebab itu maka
diperlukan salah satu therapi non farmakologi pada pasien PPOK yaitu dengan Slow Deep Breathing, dimana
tujuan utamanya pasien PPOK dapat memaksimalkan peningkatan kapasitas kerja yaitu dengan meningkatkan
toleransi terhadap latihan. (Imamah et al., 2017). Slow Deep Breathing adalah
metode pernapasan dalam lambat yang menggunakan otot diafragma untuk mengangkat perut perlahan dan melebarkan dada sepenuhnya (Smeltzer & Bare, 2015).
Skala fatigue sesudah dilakukan slow deep
breathing pada pasien PPOK di RSUD Malingping
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala fatigue setelah dilakukan slow deep
breathing pada kelompok intervensi
yaitu 86,7% mengalami fatigue
ringan dengan rata-rata
nilai sebelum intervensi yaitu 18,87 � 9,870 dengan nilai minimum 7 dan maksimum 39. Sedangkan rata-rata fatigue
pada kelompok kontrol post-test
adalah 31,33 � 9,256 dengan
nilai minimum 15 dan maksimum
48 dimana terdapat 73,3% mengalami fatigue berat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Imamah et al., 2017) dimana skala
fatigue setelah intervensi mengalami penurunan yaitu dimana rata-rata skalanya menjadi 20,82. Hasil penelitian ini merupakan nilai akhir setelah diberikan
slow deep breathing, sehingga hasil penelitian sebagai pembanding dari nilai awal
dalam mengetahui pengaruh slow deep breathing terhadap
skala fatigue pada pasien
PPOK di RSUD Malingping.
Apabila respon
tubuh tidak normal gejala fatique di tandai dengan pasien
akan mengalami lelah, letih, lesu
(Tunizan, 2020). Menurut Mitchell et al.
(2007) dalam �(Sarjana, n.d.) menyatakan bahwa untuk menurunkan fatique adalah intervensi potensial yang dapat di lakukan meliputi energy konservasi, mengurangi keletihan, meningkatkan kualitas tidur, manajemen aktifitas, relaksasi otot, SDB, masase, dan edukasi. Kunci penting dalam
mengembalikan kemampuan fungsional penderita yaitu bagaimana upaya untuk mengurangi
keluhan fatique. Penggunaan energy harus di lakukan sesuai dengan toleransi,
maka penderita harus di arahkan dan di bantu agar mampu beraktifitaas sesuai denan level energy yang di milikinya
(Sarjana, n.d.).
Dengan teknik
slow deep breathing tubuh kita mendapatkan
input oksigen yang optimal, dimana
oksigen merupakan pemegang peran penting dalam sistem
pernafasan dan sirkulasi tubuh. Pada saat kita melakukan teknik slow deep
breathing ini, oksigen mengalir ke pembuluh
darah dan seluruh jaringan tubuh, membuang racun dan sisa metabolisme yang tidak terpakai, meningkatkan metabolisme dan memproduksi energi yang kemudian akan memaksimalkan
jumlah oksigen yang masuk dan disuplay ke seluruh jaringan
sehingga tubuh dapat memproduksi energi dan menurunkan level keletihan/ fatigue (Pertiwi & Prihati, 2020).
Perbedaan skala fatigue sebelum dilakukan slow deep
breathing dan sesudah dilakukan
slow deep breathing pada pasien PPOK di RSUD Malingping
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dan sesudah diberikan Slow Deep Breathing pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat
perbedaan skala fatigue sebelum dan sesudah diberikan Slow Deep Breathing. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Imamah et al., 2017) dimana terdapat
perubahan fatigue sebelum
dan sesudah rehabilitasi paru. Dan hasil penelitian ini juga (Fajrianti, 2021) dimana breathing
exercise efektif untuk menurunkan fatigue pada pasien
PPOK. Selain itu hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oeh (Saragih, 2018) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor sesak dan fatigue pada pasien
PPOK pada kelompok kontrol
dan kelompok intervensi
Latihan Active Cycle of Breathing Technique.
Hasil tersebut sesuai dengan konsep teori
yang menyatakan bahwa Slow
Deep Breathing yaitu merupakan
salah satu bentuk terapi yang mampu meringankan gejala kelelahan dan salah satu teknik pernapasan secara mandiri untuk meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan perfusi oksigen ke jaringan
perifer (Black & Hawks, 2014). Kelelahan merupakan manifestasi yang umumnya diasosiasikan dengan sebagian besar penyakit akut atau kronis
namun juga dialami pada kehidupan normal dan memiliki fungsi yang sehat. Kelelahan dapat didefinisikan sebagai perasaan lelah yang berlebihan dan penurunan aktivitas untuk kerja dan mental pada tingkatan
yang biasa. Kelelahan dapat didefinisikan dalam pernyataan subjektif dimana pasien mengalami perasaan lelah dan hilangnya kapasitas untuk melakukan kerja fisik atau
mental yang tidak dapat diredakan dengan istirahat. Hal ini merupakan indikasi awal proses abnormal dan mungkin berkembang menjadi kondisi yang kronis dan semakin menurun (Black & Hawks, 2014).
Teknik Slow Deep
Breathing yang dilakukan bertujuan
untuk memperbaiki dan mengontrol dari gejala penyakit PPOK yang muncul. Hubungan antara dyspnea, aktivitas fisik atau latihan dan fatigue,
exercise yang menggabungkan dengan
respirasi exercise mengurangi
kecepatan pernafasan dan meningkatkan alembic aeration. Peningkatan
konsentrasi myoglobin setelah
dilakukan latihan akan membantu difusi
oksigen dari membrane sel ke mitokondria.
Latihan Slow Deep Breathing dilakukan akan meningkatkan kapasitas otot rangka untuk melakukan
metabolism aerob sehingga energi yang terbentuk lebih besar. Pasien
dengan PPOK selain akan mengalami penurunan respirasi juga akan mengalami penurunan organ tubuh secara fisiologis, pasien akan mengalami
penurunan kualitas hidup, kehilangan nafsu makan, fatigue dan gangguan tidur. Terapi non farmakologis Slow
Deep Breathing merupakan salah satu terapi yang bertujuan untuk memperbaiki ventilasi, mensinkronkan dan melatih kerja otot abdomen serta thorak untuk
menghasilkan tekanan inspirasi sehingga dapat melakukan ventilasi maksimal. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian
ini, dimana Slow Deep
Breathing berpengaruh terhadap
penurunan fatigue (Imamah et al., 2017).
Berdasarkan hasil penelitian dan beberapa penelitian terkait maka peneliti
menyimpulkan bahwa slow
deep breathing merupakan terapi
non farmakologi yang mampu menurunkan skala fatigue
yang disebabkan banyak faktor dan salah satunya karena adanya PPOK, sehingga slow deep breathing dapat
diterapkan oleh perawat dalam memberikan intervensi asuhan keperawatan pada fatigue pasien
PPOK.
KESIMPULAN
��������������� Terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dilakukan slow deep breathing dan sesudah dilakukan slow deep breathing pada pasien
PPOK di RSUD Malingping kelompok
Intervensi dan tidak terdapat perbedaan skala fatigue sebelum dilakukan slow deep breathing dan sesudah dilakukan slow
deep breathing pada pasien PPOK di RSUD Malingping kelompok kontrol. Serta intervensi slow deep
breathing dapat menurunkan skala fatigue �pada pasien
PPOK.
DAFTAR PUSTAKA
Black,
Joyce M., & Hawks, Jane Hokanson. (2014). Keperawatan Medikal Bedah;
Manajemen klinis untuk hasil yang diharapkan.
Fajrianti, Rizky Apri.
(2021). Studi Kasus Menurunkan Fatigue Dengan Pursed Lips Breathing Exercise
Pada Pasien Hemodialisa Di Ruang Hemodialisa RSUD Dr. Loekmono Hati Kudus.
Diunduh pada.
Imamah, Ida Nur, Sofro,
Muchlis A. U., & Johan, Andrew. (2017). Rehabilitasi paru terhadap
perubahan sesak nafas dan fatigue pada pasien penyakit paru obstruksi kronik
(PPOK). Adi Husada Nursing Journal, 3(1), 18�22.
Junaidin, Junaidin,
Sartika, D., Hasliani, H., Fitriani, F., Ramli, R., Nugrawati, N., & Qasim,
M. (2019). Comparison of training pursed lip breathing and balloon blowing on
the increasing of respiratory muscle strength, respiratory rate and the increasing
of oxygen saturation in COPD at the Makassar community lung health center. Jurnal
Ilmiah Keperawatan Dan Kebidanan Holistic Care, 3(3), 27.
Pertiwi, Ria Astarina,
& Prihati, Dyah Restuning. (2020). Penerapan Slow Deep Breathing Untuk
Menurunkan Keletihan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Manajemen
Asuhan Keperawatan, 4(1), 14�19.
Saragih, Lely N. M.
(2018). Pengaruh active cycle of breathing technique acbt pada perubahan
skor sesak dan fatigue pada pasien (PPOK)= Effect of active cycle of breathing
technique acbt on dyspnea and fatigue scale changes in patients with (CPOD).
Sarjana, Meraih Gelar.
(n.d.). Intervensi Non-Farmakologi yang Efektif terhadap Insomnia pada
Lansia: Telaah Literatur.
Smeltzer, Susan C.,
& Bare, B. G. (2015). Keperawatan Medikal Bedah (Handbook for Brunner
& Suddarth�s Textbook of Medical-Surgical Nursing). Jakarta: EGC.
Sugiyono. (2018). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
TO, POCKET GUIDE.
(2018). Global initiative for chronic obstructive lung. Am J Respir Crit
Care Med, 197(1).
Tunizan, Sovia Fitria.
(2020). Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap Tingkat Fatigue Pasien Gagal
Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisis. STIKES BINA SEHAT PPNI.