METODOLOGI ERGONOMI
PADA REDESAIN SEPATU VOLI DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI TOTAL MENINGKATKAN
KENYAMANAN DAN PERFORMA ATLET
Made Ida Mulyati
Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta
Diterima: 08-12-2022������������������������������������� Review: 17-12-2022������������������������ ��������������� Publish:
Ergonomi adalah� ilmu
yang mempelajari perilaku manusia yang berkaitan dengan cara kerja,
alat dan lingkungannya. Secara lengkapnya dapat dikatakan bahwa ergonomi adalah cara penyesuaian
pekerjaan dengan tubuh manusia untuk
menurunkan tingkat stress akibat beban kerja
yang dihadapi saat berkerja. Salah satu upaya yang dilakukan menyesuaikan alat dengan gerakan manusian saat melakukan
pekerjaan untuk meminimalkan kelelahan. Ergonomi dapat dilakukan dengan cara penjabaran dalam fokus, tujuan
dan pendekatan mengenai ergonomi. Dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut: Secara fokus, ergonomi
menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari- hari manusia hidup
dan bekerja. Sedangkan� permasalahan
yang dihadapi dalam studi kasus tidak
dapat dipecahkan secara parsial, melainkan harus dipecahkan secara komprehensif salah satunya menggunakan pendekatan ergonomi total.
Pada penelitian ergonomi, dalam pengumpulan data agar efektif dan tearah, maka perlu berpedoman
pada delapan aspek ergonomi. Disamping itu dalam penelitian
ergonomi sebaiknya menggunakan metodelogi ergonomi agar lebih terarah. Dalam tulisan ini digunakan kasus redesain sepatu voli dengan pendekatan ergonomi. Tujuan dari penelitian
ini adalah meningkatkan� kenyamanan dan performa
atlet� maka diperlukan metodelogi ergonomi untuk membantu kelancaran penelitian khasusu tersebut sehingga tidak terjadi kesalahan dalam redesain sepatu voli dengan
pendekatan ergonomi total.
Kata kunci: metodelogi ergonomi, redesain sepatu voli, pendekatan ergonomi total, kenyamanan, performa, atlet.
Abstract:
Ergonomics is the science that studies human
behavior related to how things work, tools and the environment. In full it can
be said that ergonomics is a way of adapting work to the human body to reduce
stress levels due to the workload faced when working. One of the efforts made
is adjusting the tool with human movements when doing work to minimize fatigue.
Ergonomics can be done by elaborating on the focus, goals and approaches to
ergonomics. Where in the explanation it is stated as follows: In focus, ergonomics
focuses on humans and their interactions with products, equipment, facilities,
procedures and the environment in which humans live and work everyday. Meanwhile, the problems encountered in the case
study cannot be solved partially, but must be solved comprehensively, one of
which is using a total ergonomics approach. In ergonomics research, in order to
collect data to be effective and directed, it is necessary to be guided by
eight aspects of ergonomics. Besides that, in ergonomics research it is better
to use ergonomics methodology so that it is more focused. This paper uses the
case of redesigning volleyball shoes with an ergonomics approach. The aim of
this research is to improve the comfort and performance of athletes, so an
ergonomic methodology is needed to help smooth the research on this particular
milk so that there are no mistakes in redesigning volleyball shoes with a total
ergonomics approach.
Keywords: ergonomics
methodology, volleyball shoe redesign, total ergonomics approach, comfort, performance,
athletes.
�������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang berkaitan dengan pekerjaan dan alat yang digunakan dalam berkerja. Sasaran penelitian ergonomi adalah manusia pada waktu bekerja dalam
lingkungan. Untuk itu maka�� dapat dikatakan bahwa ergonomi adalah cara penyesuaian pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia
untuk menurunkan tingkat stress yang dihadapi saat berkerja. Salah satu upaya untuk
menyesuaikan alat dengan dimensi dan gerakan yang dilakukan saat berkerja untuk
meminimalkan kelelahan (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari mengenai hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain dalam sistem kerjaan
dengan mengaplikasikan teori, prinsip, data dan metode untuk merancang
sistem yang optimal. Ergonomi
memberikan sumbangan untuk rancangan alat atau produk,
lingkungan dan sistem gerak dalam berkerja,
agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan,
kempuan dan keterbatasan manusia.
Ergonomi dapat dilakukan
dengan penjabaran dalam fokus, tujuan
dan pendekatan mengenai ergonomi dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut: (1) Secara fokus, ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan. (2) Secara tujuan, tujuan ergonomi ada dua hal,
yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja, disamping itu juga meningkatan nilai kemanusiaan.� (3) Secara pendekatan, ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk merancang alat, prosedur dan lingkungan untuk melakukan aktivitasnya. Untuk itu permasalahan� dalam
penelitian ergonomi tidak dapat dipecahkan
secara parsial, melainkan harus dipecahkan secara komprehensif salah satunya menggunakan pendekatan ergonomi total dan metodelogi ergonomic.
METODE
PENELITIAN
Metode Pengukuran Secara Subyektif
Beberapa metode subjektif yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Wilson, Wilson, Corlett, & Manenica,
1987):
A.� Metode observasional
Studi eksperimental antara lain: eksperimen laboratorium, simulasi, eksperimen lapangan.
B.� Metode data base antara
lain:� buku, jurnal, hasil penelitian,
catatan dari sistem terdahulu , dan data dari para ahli
C.� Metode pengukuran subjektif antara lain:� metode ranking ditekankan pada jenis pertanyaan dan me-ranking dari
yang terbaik sampai terburuk atau sebaliknya.
Selanjutnya responden disuruh mengisi kuesioner keluhan subyektif pada kaki yang terdiri dari 5 item yang sudah diuji validitas dan rehabilitasnya. Setiap pertanyaan diberi angka dari awal
sampai akhir dengan metode rating yang berkaitan dengan jenis pertanyaan dan diberi skala pada tiap jenis pertanyaan.
Skala yang digunakan dikategorikan:
tidak sakit, agak sakit, sakit,
sangat sakit. Metode yang umum digunakan adalah: Metode dengan skala rating sederhana, teknik perbandingan, metode interva lequelopenning, skalaLikert.
Data yang diperoleh
dengan metode pengukuran subjektif adalah data yang dikumpulkan berdasarkan sensasi dan perasaan yang dirasakan oleh subjek. Data ini tidak dapat diukur seperti
pada pengukuran tinggi
badan, berat badan, dan lain-lain. Data yang dikumpulkan umumnya bersekala nominal dan ordinal (Daniel & Cross, 2018).
Metode Pengukuran Objektif.
Pengukuran secara objektif dilakukan dengan memgunakan alat ukur dan data yang diperoleh umumnya memiliki skala interval dan rasio (Daniel & Cross, 2018). Dalam pengukuran ini instrumen yang digunakan harus sesuai dengan
standar tertentu dan telah diuji validitas
serta reabilitasnya, sehingga dapat dipertanggung-jawabkan (Arikunto,
1998). Ada beberapa data objektif
yang umum dikumpulkan untuk keperluan penelitian ergonomi, yaitu:
A.� Beban
Kerja
Menurut (Adiputra, 1998), secara umum beban kerja dibedakan
menjadi dua kelompok besar yaitu:
1)�� external
load (stressor) merupakan beban kerja yang diambil pada saat� pekerjaan
sedang dilakukan, dan memiliki ciri khusus
dan� berlaku untuk semua orang.
�2)� internal load (functional load /
strain) adalah reaksi tubuh seseorang terhadap suatu external load
yang diberikan. Untuk mengetahui pengaruh external
load, dapat diukur melalui denyut nadi/jantung.
Menurut Rodahl (1989) beban kerja fisik
pada pekerja dapat diukur secara objektif
dengan cara:
1)�� Pengukuran secara langsung kebutuhan energi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. dengan mengukur asupan oksigen yang diperlukan selama bekerja dengan analisis ekspirasi.
2)�� Secara tidak langsung
dengan merekam denyut nadi selama
kerja.
Denyut nadi merupakan respon fisiologis dapat dihitung secara praktis saat ingin mengetahui
beban kerja seseorang, untuk mengetahui jumlah denyut nadi per menit cukup dilakukan
dengan meraba pada radialis
dengan teknik palpasi atau dengan
alat pulsemonitor.
Parameter fisiologis dengan
denyut nadi per menit tersebut lazim digunakan sebagai indikator penilaian beban kerja karena:� proses pengukurannya
sederhana, dan tidak terlalu banyak mengganggu pekerja. Denyut nadi digunakan
memprediksi atau indikator penilaian beban kerja seseorang,
yaitu dengan mengkonversikan pada tabel kategori beban kerja menurut (Christensen, 1991):
|
No |
Denyut Nadi Kerja (Denyut /menit) |
Kategori beban kerja |
|
|
60-70 |
Sangat
ringan = istirahat |
|
|
75-100 |
Ringan |
|
|
100-125 |
Sedang |
|
|
125-150 |
Berat |
|
|
150-175 |
Sangat berat |
|
|
175 < |
Ekstrim |
Data denyut nadi yang perlu diketahui terkait dengan beban kerja adalah:
�1)�� Denyut nadi istirahat
atau denyut nadi pada waktu tidak bekerja. Pengukuran denyut nadi istirahat dilakukan pada subjek dalam keadaan istirahat.
Orang dewasa normal, denyut
nadi istirahatnya berkisar antara 60 - 80 denyut/menit. Dalam
suatu penelitian yang memakai denyut nadi sebagai salah satu indikator beban kerja, maka
denyut nadi istirahat dianggap sebagai kondisi yang menggambarkan kondisi awal subjek (Adiputra, 2002). Denyut nadi istirahat dihitung berdasarkan denyut nadi radialis di pergelangan tangan kiri dengan
metode sepuluh denyut. Metode pengukuran dilakukan tiga kali berturut-turut dengan tujuan untuk
mendapatkan hasil yang lebih konstan. Subjek yang akan diukur diusahakan dalam keadaan tenang.
Pada saat dilakukan palpasi, posisi subjek boleh duduk, berdiri atau dalam
posisi terlentang �(Adiputra, 1998); (Adiputra, 2002).
2)�� Denyut nadi kerja (nadi
saat kerja fisik) yaitu denyut
nadi yang diukur pada saat subjek sedang
melaksanakan pekerjaan. Kecepatan denyut nadi yang terjadi saat bekerja adalah
sebagai akibat dari kecepatan dari metabolisme dalam tubuh (Adiputra, 2002). Penghitungan denyut nadi kerja dilaksanakan
selama kerja, apabila alat pengukur
memungkinkan, jika tidak, maka penghitungan
dapat dilakukan setiap lima menit, tiga puluh menit
atau bahkan setiap satu jam sejak mulai kerja
sampai akhir kerja, tergantung dari jenis pekerjaan
yang dilakukan. Pengukuran dengan menggunakan metode sepuluh denyut (ten pulses method) (stopwatch ditekan
start saat denyutan satu dan ditekan stop pada denyutan ke sebelas) dapat dilakukan selama bekerja atau pada akhir bekerja selama 30 detik dan hasilnya dikalikan dua dan metode ini lazim dipakai untuk menggambarkan
denyut nadi kerja. (Adiputra, 2002).
3)�� Denyut nadi pemulihan atau recovery heart rate yaitu denyut nadi yang dialami saat atlit
selesai melaksanakan gerakan voli. Beban kerja yang diterima atlit saat bekerja
dapat pula diketahui dengan mengukur denyut nadi pemulihan.
Ketika mulai� berhenti melakukan gerakan voli, maka
saat itu denyut nadi akan
mulai mengalami penurunan denyut� sampai kembali ke kondisi awal (sebelum bekerja)
kondisi denyut nadi tersebut disebut
nadi pemulihan (Adiputra, 2002). Denyut nadi pemulihan biasanya diukur satu menit
setelah aktivitas gerakan voli dihentikan,
kemudian dilanjutkan lagi
pada menit kedua, ketiga, keempat dan kelima, masing-masing dihitung berdasarkan denyut nadi radialis dipergelangan tangan kiri dalam
30 detik dan hasilnya dikalikan dua yang dilakukan setelah selesai melakukan gerakan voli. Denyut
nadi pemulihan memberikan fakta tentang perubahan metabolisme tubuh dari keadaan aktif
ke kondisi istirahat (Adiputra, 2002).
B.�� Metode Pengukuran Antropometri
Antropometri merupakan
salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain alat-alat kerja, sebagai upaya untuk
memperoleh kondisi kerja yang enase (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien) dan produktivitas kerja yang maksimal (Suma�mur, 2012), Antropometri adalah cabang dari ilmu
ergonomi yang berkaitan dengan ukuran dimensi
dan karakteristik tertentu dari tubuh manusia,
seperti volume, titik berat, dimensi dan massa (Sanders & McCormick, 1998). Antropometri merupakan
sistem pengukuran sifat fisik tubuh
manusia, terutama mengenai dimensi ukuran dan bentuk kaki manusia (Bhattacharya & McGlothlin, 1996). Merupakan ukuran dan proporsi kaki� manusia yang mempunyai manfaat praktis untuk dimensi rancangan
sepatu olahraga voli (Panero & Zelnik, 1979).
Pemanfaatan data antropometri
memungkinkan para perancang
untuk mengakomodasi kebutuhan yang diinginkan dari populasi potensial.
Sumber perbedaan antropometri dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:� umur, jenis kelamin, etnis, lingkungan geografi, tingkat social, dan jenis pekerjaan. Perbedaan antropometri akan berpengaruh terhadap nilai rata-rata dan standar deviasi, yang akan membedakan nilai persentil. Dimensi kaki pria memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan
wanita, misalkan panjang dan lebar kaki. Dimensi kaki yang beranekaragam dapat digunakan sebagai bahan untuk
melakukan penelitian, dengan fungsi perhitungan
diketahui sebagai distribusi normal. Johann Gauss (1777-1855). Sir Francis
Galton (1822-1911) seorang ahli
antropologi dan genetik asal Inggris mengemukakan
model matematika untuk menghitung distribusi normal dan karakteristik antropometri. Ada dua parameter yang digunakan untuk menentukan antropometri sepatu antara lain panjang dan lebar kaki distribusi normal yaitu rerata dan standar deviasi. Rerata adalah nilai
rata-rata dari jumlah variabel distribusi normal yang disebut juga sebagai persentil 50.
Secara sederhana
ada beberapa data antropometri kakai yang perlu diukur untuk
memperoleh kesuaian dengan peralatan yang digunakan (Sutajaya, 2006) seperti: Dalam melakukan suatu perancangan maka diperlukan kreteria metode antropometri agar produk yang dibuat sesuai dengan fungsinya.
Kriteria antropometri yang digunakan dalam perancangan terdiri dari 3 kategori, yaitu clerance, reach
dan posture.
Dalam perancangan
sepatu olahraga voli ini memerlukan� pengukuran
posture kaki merupakan hal
yang cukup rumit misalkan sepatu yang terlalu longgar atau terlalu sempit
tidak diinginkan� oleh pemakai khususnya atlit. Karena menggunakan sepatu yang tidak sesuai dengan
postur kaki mengakibatkn ketidak nyamanan dan dapat juga yang lebih berbahaya dapat mengakibatkan kecelakaan saat melakukan gerakan dalam berolahraga.
Dalam kondisi ini solusinya adalah merancang sepatu olahaga voli yang dapat disesuaikan (adjustable).
C.�� Metode Pengukuran Berat dan Tinggi Badan
Berat badan atau body weight adalah bobot tubuh seseorang
atau subjek penelitian yang diukur dengan timbangan badan, seperti timbangan badan merk Detecto Medical Scale, model 439 buatan
Amerika dengan ketelitian
0,2 kg. Sedangkan tinggi badan
atau body height adalah ukuran tinggi tubuh
seseorang atau subjek yang diukur pada posisi berdiri tegak dengan antropometer
tegak lurus dari lantai sampai
ubun-ubun atau vertex.
Cara mengukur berat
badan adalah subjek penelitian berdiri pada bidang (daun) timbangan
tanpa alas kaki dan tanpa membawa sesuatu. Geser batu timbangan yang terdapat pada mistar timbangan sambil memperhatikan ujung mistar sampai satu
titik dengan ujung penunjuk. Kemudian baca angka
dalam satuan kg yang ditunjukkan oleh batu timbangan
pada mistar tersebut.
Sedangkan cara
mengukur tinggi badan adalah dengan menyuruh
seorang subjek penelitian untuk berdiri tegak dengan
sikap bersiap, pandangan lurus ke depan. Usahakan tumit, pantat, punggung dan kepala bagian belakang menyentuh tembok atau pada posisi segaris. Diukur dari lantai kemudian
seku-siku digerakkan sampai menyentuh vertex (Budiono, 2011).
Data pengukuran berat
dan tinggi badan para pekerja
bermanfaat untuk mengetahui ukuran badan yang
ideal. Sebab dengan perbandingan antara berat dan tinggi badan yang ideal
dapat dipakai sebagai salah satu indikator kesehatan tubuh dan memungkinkan pekerja akan dapat
bekerja lebih optimal. Berat badan yang ideal dapat dihitung dengan rumus: tinggi badan - 100 � (hasil pengurangan � 10%) (Aryatmo, 1981).
D.�� Metode Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah
merupakan tenaga yang dipompakan dari jantung untuk melawan
tahanan pembuluh darah atau sejumlah
tenaga yang dibutuhkan untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Sepanjang hari, tekanan darah
akan berubah-ubah tergantung dari aktivitas tubuh (Hartati, 2007). Dalam pengukuran tekanan darah dikenal
dua jenis tekanan darah: (1) tekanan darah sistol,
yaitu tekanan tertinggi terjadi saat ventrikel berkontraksi dan (2) tekanan darah diasto, yaitu tekanan terendah
terjadi saat jantung berada dalam fase relaksasi.
Menurut World Health Organization (WHO),
bahwa tekanan darah dalam keadaan
normal, jika tekanan darah systolic kurang atau sama dengan
140 mmHg dan tekanan darah
diastolic kurang atau sama dengan 90 mmHg. (Depkes RI, 2007). Di kalangan medis alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah disebut Sphygmomanometer,
sedangkan di masyarakat lazim disebut dengan
tensimeter. Alat ini digunakan untuk
mengukur tekanan darah pada pembuluh arteri perifer.
Cara pengukuran tekanan
darah adalah dengan menggunakan Sphygmomano- meter pada lengan
atas dan selangnya dipasang tepat pada pembuluh arteri, selain itu, juga dipasang stethoscope pada pangkal
siku bagian dalam. Kemudian dipompa sampai pada tekanan 150 mmHg dan selanjutnya diturunkan secara perlahan sambil memdengarkan bunyi detakan pada stethoscope. Bunyi detakan atau
'dug' yang pertama kali terdengar
adalah merupakan tanda tekanan darah
systolic dan dari sini terus akan terdengar
bunyi 'dug' yang semakin melemah sampai hilang. Tepat pada saat bunyi 'dug' menghilang adalah tanda dari tekanan
darah diastolic. Pengukuran
dilakukan 2 kali berturut-turut
dengan interval 2 menit. Apabila terdapat selisih tekanan darah >10 mmHg pada peng- ukuran ke 1 dan ke 2 baik pada
systolic dan atau pada diastolic, kembali
perlu dilakukan
E.� Metode Pengukuran Suhu Kering, Suhu Basah,
Kelembaban Relatif dan
Gerakan Udara
Iklim kerja
adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan angin� atau
gerakan udara dan panas radiasi dengan
tingkat pengeluaran panas dari tubuh
tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya. Suhu kering (dry bulb temperature) adalah
suhu yang
ditunjukkan oleh thermometer suhu
kering, sedangkan suhu basah alami
(nature wet bulb temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola basah alami (Nursihab & Icih, 2022) Kelembaban udara relatif adalah perbandingan jumlah uap air dalam udara
(kelembaban absolut) dengan jumlah uap
air maksimum yang�
dikandung oleh udara� dalam suhu udara pada saat dan tempat yang sama. Untuk mengukur
kelembaban relatif dapat dilakukan dengan mengkonversikan hasil pengukuran suhu basah dan kering pada Psychometric Chart dan hasilnya dalam prosentase (%) kelembanan (Adnayana Manuaba, 2004).
Kecepatan angin
dalam ruang kerja adalah gerakan
udara atau hembusan angin yang dirasakan atlit saat melakukan aktivitasnya dalam lapangan. Gerakan udara juga memberi pengaruh kepada suhu dalam
suatu ruangan. Terkait dengan hal tersebut, agar gerakan udara tersebut
tidak menimbulkan dampak buruk terhadap
para pekerja, maka dianjurkan gerakan udara di dalam ruangan tidak lebih
dari 0,2 m/detik (Adnayana Manuaba, 2004).
Untuk mengetahui
suhu basah dan kering pada lapangan, diukur dengan menggunakan
alat sling thermometer. Pengukuran
dilakukan pada lima titik, yaitu di tiap pojok
dan di pusat ruang dapur dan dilaksanakan pada rentang waktu tertentu,
dengan maksud untuk mendapatkan suhu awal kerja
dan suhu paling ekstrim hari tersebut. Cara mengukur suhu basah
dan kering dengan menggunakan sling thermometer dilakukan
dengan:
a)�� Membasahi
salah satu thermometer yang terdapat
pada sling themometer (pada bagian
ujungnya).
b)�� Memutar alat tersebut selama
lima menit pada titik- titik yang akan diukur.
c)� membaca suhu kering pada themometer yang ujungnya tidak dibasahi dan suhu basah pada thermometer yang ujungnya dibasahi.
Pengukuran kelembaban
relatif dilakukan dengan tujuan mengetahui
kondisi lapangan antara sebelun dan sesudah perlakuan. Jika melalui perhitungan statistik terdapat perbedaan bermakna, berarti suhu lapangan
akan berpengaruh terhadap hasil intervensi yang diberikan, sebab kondisi udara
panas dan lembab akan berpengaruh kepada kenyamanan atlit yang merugikan, baik dari segi
kesehatan fisik maupun mental. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keringat tidak dapat berevaporasi,
kulit tubuh tetap basah, dan panas tubuh meningkat.
Terkait dengan hal ini, (Adnayana Manuaba, 2004) memberikan batas suhu tinggi sebesar
35-40�C kelembaban 40- 50%; perbedaan
suhu permukaan < 40�C.
Kecepatan angin
diukur dengan menggunakan alat yang disebut animometer. Seperti anemometer digital merk Lutron AM 4201. Cara penggunaannya dalam ruangan sebagai berikut:
a)�� Menggeser tombol sakelar pada posisi on.
b)�� Menghadapkan
baling-baling animometer atau
sensor head berlawanan dengan
aliran angin yang masuk ke dalam ruangan dapur selama
lima menit.
c)�� Kemudian membaca hasilnya pada display.
F.�� Metode Pengukuran Produktivitas
Pada prinsipnya peranan
implementasi ergonomi dalam berbagai bidang adalah bertujuan
untuk mengeleminir dampak buruk yang ditimbulkan akibat kerja dan menciptakan suasana kerja yang enase (efektif, nyaman, aman, sehat,
dan efisien) dan berimplikasi
pada peningkatan produktivitas
(Adnayana Manuaba, 2004). Menurut Ravianto dalam (Febrianty et al., 2020) bahwa produktivitas dapat diketahui dengan pendekatan multidisiplin secara efektif merumuskan tujuan dan pelaksanaan (operasional) dengan menggunakan sumber daya secara efisien
namun tetap menjaga kualitas. Pengertian produktivitas berkaitan dengan sistem produksi yaitu sistem pengelolaan
dengan cara yang terorganisir mengenai tenaga kerja, modal atau kapital berupa
mesin, peralatan kerja, bahan baku,
bangunan, untuk mewujudkan barang atau jasa secara
efektif dan efisien.
Cara mengukur produktivitas (P) adalah dengan membandingkan jumlah masukan (M) dan hasil yang diperoleh sebagai luaran (L) serta banyaknya waktu (W) yang diperlukan dalam satu siklus
kerja antara sebelum dengan sesudah diberi perlakuan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1. �Difinisi Ilmu Ergonomi dan
Tujuan
Pengertian ergonomi adalah ilmu, teknologi
dan seni yang bertujuan� menserasikan cara, alat dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia, sehingga tercipta suatu alat, sistem kerja,
lingkungan sehat, aman, dan efisien untuk tercapainya produktivitas maksimal (Komarudin, Kuswana, & Noor, 2016).
Tujuan Ergonomi adalah meminimalkan tingkat ketidaknyamanan (discomfort)
atau kelelahan (fatigue).
Ergonomi merupakan ilmu mengenai pendekatan
multidisipliner bertujuan mengoptimalkan gerak manusia terhadap sitem pekerjaannya, sehingga tercipta alat, cara dan lingkungan kerja� sehat,
aman,
nyaman, dan efisien (A Manuaba, 2000). Alat yang digunakan dalam oahraga salah satunya sepatu hendaknya memiliki keserasian dan kesesuaian, sehingga dapat meminimalkan masalah (Adiatmika & Anggoro, n.d.).
2.� Pendekatan
Ergonomi Total
Pendekatan ergonomi total merupakan usaha yang baik untuk� memperbaikan
kondisi kerja (manusia, alat dan lingkungan) agar lebih optimal dengan dampak yang lebih minimal. Dampak minimal dapat dilakukan dengan sistemik,
holistic, interdisiplin dan partisipasi.
Pendekatan tersebut dikenal dengan istilah SHIP atau SHIP Approach
(A Manuaba, 2000). Pendekatan SHIP adalah perbaikan yang dilakukan secara keseluruhan terhadap aspek ergonomi di dalam proses desain sampai produksi dari hulu sampai
hilir dengan berkesinambungan dan terintegrasi.
Menurutn (Sucipta, Nada, & Wulan, 2017), pendekatan sistemik artinya pendekatan terhadap sistem. Pendekatan holistik, artinya semua factor atau sistem� terkait dengan masalah pada kasus yang harus dipecahkan, secara proaktif dan menyeluruh. Sedangkan pendekatan interdisipliner artinya semua disiplin terkait harus dapat
dimanfaatkan secara maksimal, karena makin kompleksnya permasalahan yang ada diasumsikan tidak akan terpecahkan secara maksimal jika hanya dikaji
melalul satu disiplin. Oleh sebab itu harus dikajian
melalui lintas disiplin ilmu. Partisipatori artinya semua orang yang terlibat dalam pemecahan masalah dalam kasus
tersebut harus dilibatkan sejak awal. Hal tersebut bertujuan agar dapat diwujudkan mekanisme kerja kondusif dan diperoleh luaran� berkualitas
sesuai dengan tuntutan jaman. Rencana Aksi (Plan of Action)
adalah penjabaran� rencana
kerja (work plan) dibuat
lebih oprasional, dikarenakan� mengandung unsur 5 W,2 H dan 1R, antara lain : apa yang akan dikerjakan (what), mengapa harus dikerjakan
(Why), bagaimana cara
mengerjakan (How), siapa
yang akan mengerjakan (Who).,
kapan dikerjakan (when), dimana dikerjakan (Where),
berapa biyaya dan dana diperlukan (How Much) serta
apa dasar hukum dalam melaksanakan
rencana tersebut (Regulation).
3. Metodologi Ergonomi
Pada penelitian ergonomi,
dalam pengumpulan data agar
efektif dan tearah, maka perlu berpedoman
pada delapan aspek ergonomi yaitu : data yang berkaitan dengan gizi, aplikasi
tenaga otot, posisi tubuh, lingkungan
kerja, kondisi berhubungan dengan waktu, kondisi sosial-budaya, kondisi informasi dan interaksi manusia/mesin. Berdasarkan sumber data dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok
yaitu data primer dan data sekunder,
sedangkan berdasarkan sifatnya data yang akan diperoleh adalah data subjektif dan data objektif dan berdasarkan kontinum data dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
data kualitatif dan kuantitatif.
Sebelum melakukan pengukuran, beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai justifikasi kemampuan alat ukur yang digunakan, baik untuk memperoleh data subjektif maupun objektif yaitu (Kerlinger, 1966) :
A. Validitas
Apakah pengukuran tersebut memiliki hubungan langsung terhadap fenomena yang terdapat pada hipotesis? Seperti: Apakah pengukuran denyut nadi merupakan pengukuran yang valid untuk beban metabolisme ?. Kondisi ini akan valid jika tidak ada tekanan
panas, ketegangan otot statis dan tekanan emosional. Dengan demikian secara teknis validitas merupakan korelasi antara variabel yang diukur dengan fenomena
yang di representasikan pada hipotesis.
B. Reliabilitas
Apakah pengukuran tersebut memberikan hasil yang konsisten ketika digunakan secara berulang-ulang ?. Seperti: Apakah
pengukuran denyut nadi yang berubah- ubah menjadi pengukuran
beban metabolisme yang dapat dipercaya?. Validitas mempertanyakan
seberapa baik sebuah pengukuran berhubungan dengan fenomena eksternal, sedangkan reliabilitas mempertanyakan seberapa baik pengukuran tersebut berhubungan dengan pengukuran itu sendiri.
C. Sensitivitas
Apakah pengukuran tersebut memberikan reaksi yang cukup baik terhadap perubahan
pada variabel bebas?. Dalam suatu
pengukuran sangat mungkin pengukuran yang dipilih valid dan
reliabel akan tetapi tidak menunjukkan
pengaruh yang cukup besar terhadap variabel bebas. Oleh karena itu semua
pengukuran harus mengikuti tiga kriteria tersebut yaitu valid, reliabel dan sensitif.
KESIMPULAN
Untuk mendapat hasil redesain sepatu voli yang baik dengan pendekatan
ergonomi total yang bertujuan
meningkatkan kenyamanan dan
performa atlet sebaiknya di dalam penlitian menggunakan metodelogi ergonomi dari tahapan redisain
sampai tahapan mencobakan hasil redesain tersebut, guna mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Adiatmika, I. Putu Gede,
& Anggoro, Tjahjo. (n.d.). Penerapan Aspek Ergonomi Dalam Olahraga:
Pengaruh Panjang Tangan Terhadap Jarak Lemparan Cakram Siswa SMA I Kediri
Tabanan.
Adiputra, N. (1998).
Metodologi Ergonomi. Denpasar: Program Studi Ergonomi Fisiologi
Kerja-Program Pascasarjana Universitas Udayana, 11�12.
Adiputra, N. (2002).
Denyut Nadi dan Kegunaannya dalam Ergonomi. Jurnal Ergonomi Indonesia, 3(1),
22�26.
Aryatmo, T. (1981).
Obesitas. Jakarta: Komisi Pengembangan Riset Dan Perpustakaan, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Bhattacharya, Amit,
& McGlothlin, James D. (1996). Occupational ergonomics: Theory and
applications. CRC Press.
Budiono, Inge Fanny.
(2011). Aplikasi Ergonomi pada Proses Pemotongan Pelat Eser Meningkatkan
Kinerja Mahasiswa di Bengkel Teknologi Mekanik Politeknik Negeri Bali.
Christensen, E. H.
(1991). Physiology of work. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety,
3rd (Revised) Ed. Genewa: ILO, 1698�1700.
Daniel, Wayne W., &
Cross, Chad L. (2018). Biostatistics: a foundation for analysis in the
health sciences. Wiley.
Febrianty, Febrianty,
Revida, Erika, Simarmata, Janner, Suleman, Abdul Rahman, Hasibuan, Abdurrozzaq,
Purba, Sukarman, Butarbutar, Marisi, & Saputra, Syifa. (2020). Manajemen
Perubahan Perusahaan Di Era Transformasi Digital. Yayasan Kita Menulis.
Hartati. (2007). Jus
Bagi Penderita Hipertensi.
Kerlinger, Fred Nichols.
(1966). Foundations of behavioral research.
Komarudin, Didin,
Kuswana, Wowo S., & Noor, Ridwan A. M. (2016). Kesehatan dan keselamatan
kerja di SMK. Journal of Mechanical Engineering Education, 3(1).
Manuaba, A. (2000).
Ergonomi meningkatkan kinerja tenaga kerja dan perusahaan. Proseding
Simposium Dan Pameran Ergonomi Indonesia.
Manuaba, Adnayana.
(2004). Kontribusi Ergonomi dalam Pembangunan, dengan Acuan Khusus Bali. 2nd
National Seminar on Ergonomics, UGM, Yogyakarta, 9.
Nursihab, Dandi, &
Icih. (2022). Pengaruh Rotasi KAP, Audit Fee, Audit Tenure, Kinerja Keuangan,
Komite Audit Terhadap Kualitas Audit. Sikap, 2(1), 20�34.
Panero, Julius, &
Zelnik, Martin. (1979). Human dimension & interior space: a source book
of design reference standards. Watson-Guptill.
Sanders, Mark S., &
McCormick, Ernest James. (1998). Human factors in engineering and design. Industrial
Robot: An International Journal.
Sucipta, I. Nyoman,
Nada, I. Made, & Wulan, Wayan Citra. (2017). Pendekatan SHIP (Sistemik,
Holistik, Interdisipliner, Partisipatori) pada Program Biogas di Desa Kelating,
Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Jurnal Ilmiah
Teknologi Pertanian Agrotechno, 1(2), 107�113.
Suma�mur, P. K. (2012).
Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, PT. Toko Gunung Agung, Jakarta.
Wilson, John, Wilson,
John R., Corlett, Esmond Nigel, & Manenica, Ilija. (1987). New Methods
in Applied Ergonomics: The Proceedings of the Second International Occupational
Ergonomics Symposium, Zadar, Yugoslavia, 14-16 April 1987 (Vol. 2). Taylor
& Francis Group.