PERDAMAIAN ADALAH KEBUTUHAN DAN MENJAGA PERDAMAIAN ADALAH TANGGUNGJAWAB SEMUA ORANG

 

Margyen Manuhutu

Universitas Kristen Duta Wacana

[email protected]

 

Diterima: 02-08-2022��������������������� ��������������� Review: 10-08-2022�������� ��������������� ��������������� Publish: 14-08-2022

Abstrak:

Sebagian besar daerah kabupaten Mamuju provinsi Sulawesi Barat, belum ada akses jalan yang memadai untuk menghubungkan antara desa dan kota, maupun antar desa yang satu dan desa yang lain. tujuan penulisan paper ini sebagai bahan pembelajaran bagi para pemimpin atau tokoh masyarakat, pada wilayah pedesaan ketika menghadapi dan menangani konflik yang terjadi. 1. Untuk mendidik kaum muda pemahaman akan moral 2. Untuk memberikan pemahaman dalam mengendalikan keegoisan diri. data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jajak pendapat dari individu atau kelompok (orang) maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian (benda). Berdasarkan teori dan latar belakang yang ada tindakan kebohongan public yang dilakukan jelas sangat berbahaya. Itulah pentingnya moral yang dimiliki oleh setiap pribadi terutama dalam kalangan anak-anak muda dan dalam bertindak tidak menuruti ego diri sendiri dan perlu untuk mampu mengendalikan diri. Dengan demikian jika konflik kekerasan dihadapi juga dengan cara kekerasan, tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dan dalam menghadapi konflik perlunya peran orang-orang yang punya kesabaran, tidak egois, mau untuk mendengarkan pendapat orang lain. seperti para tokoh-tokoh di dusun Salubabu.

 

Kata kunci: Perdamaian; Kebutuhan dan Menjaga; Tanggungjawab

 

Abstract:

Most of the Mamuju district of West Sulawesi province, there is no adequate road access to connect between villages and cities, as well as between one village and another. The purpose of writing this paper is as learning material for leaders or community leaders, in rural areas when dealing with and dealing with conflicts that occur. 1. To educate young people about moral understanding 2. To provide understanding in controlling self-selfishness. research data obtained directly from the original source in the form of interviews, polls from individuals or groups (people) as well as the results of observations of an object, event or test result (object). Based on the existing theory and background, the act of public deceit is clearly very dangerous. That is the importance of morality that is owned by every person, especially among young people and in acting not according to one's own ego and the need to be able to control oneself. Thus, if violent conflict is also faced with violence, it will never solve the problem. And in dealing with conflicts, the role of people who have patience, are not selfish, are willing to listen to the opinions of others. like the figures in the village of Salubabu.

 

Keywords: Peace; Need and Maintain; Responsibility���������������������������������������������������������

Corresponding: Margyen Manuhutu

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Sebagian besar daerah kabupaten Mamuju provinsi Sulawesi Barat, belum ada akses jalan yang memadai untuk menghubungkan antara desa dan kota, maupun antar desa yang satu dan desa yang lain. seperti kondisi jalan yang ada di kecamatan Kalumpang desa Karama, dan akses jalan itu akan semakin memburuk ketika perubahan cuaca terjadi, dari musim panas ke musim hujan, oleh karena jalanan akan menjadi lumpur, banhkan dapat terputus akhirnya menyebabkan kendaraan roda dua/motor tentu saja tidak dapat beroperasi. Sehingga aktivitas masyarakat menjadi terganggu karena jalan yang menghubungkan antar desa terputus. Dan jika keadaan seperti itu terjadi pemerintah desa setempat khususnya desa karama tidak pernah berusaha untuk memperbaiki kondisi jalan tersebut, sementara warga desanya mempunyai usaha pertanaian di wilayah desa yang lain, seperti di desa Polio maupun Panasuan yang menjadi desa tetangga dengan desa Karama. Kondisi jalan seperti itu menyebabkan warga desa karama harus berusaha memperbaikinya sendiri secara gotong-royong pada bagian-bagian jalan yang kerusakannya cukup parah, jadi setiap musim hujan tiba, jalan-jalan yang ada di desa Karama mengalami kerusakan, karena pada dasarnya kondisi jalan berupa tanah yang lembek. Selain itu jalan juga dapat terputus jika cuaca hujan yang ekstrim sehingga aktivitas masyarakat, menjadi terhalang.

Dari perbaikan-perbaikan sebagian jalan yang rusak parah khusunya pembuatan jembatan darurat, ada aturan yang dibuat oleh warga desa Karama sendiri. Bahwa yang dapat melewati jembatan tersebut hanyalah warga desa Karama, sedangkan warga desa lain yang di luar desa Karama atau yang bukan penduduk desa Karama, terkecuali pejalan kaki, jika menggunakan kendaraan roda dua, mereka harus membayar sebesar tarif yang ditentukan dari rp10.000 sampai dengan rp20.000 dan itu hanya terjadi untuk satu kali pembayaran saja, hal itu sebagai biaya material yang dipakai dan juga biaya kerja warga. Jika pada area yang dikenakan tarif biasanya ada bebarapa anak muda yang akan ditugaskan untuk menjaga jembatan tersebut, secara bergantian untuk menagih orang yang akan melewati jembatan tersebut. Tetapi pada suatu hari ada seorang pemuda dari desa lain (desa Batu Makada) yang hendak melintasi jembatan tersebut tetapi tidak mau untuk membayar sesuai dengan apa yang ditepkan oleh warga desa karama, maka terjadilah pertengkaran mulut diantara para pemuda yang sementara menjaga jembatan itu dengan pemuda tersebut. Tetapi pada saat itu pertengkaran yang terjadi itu, tidak sampai dengan adu fisik diantara mereka, pemuda-pemuda desa Karama pada saat itu justru membiarkan pemuda tersebut untuk melanjutkan perjalanannya melewati jembatan itu untuk menuju ke desanya, tanpa melukainya.

Tetapi rupanya ketika pemuda itu sampai di desanya, ada suatu kebohongan yang ia ciptakan, ia menceritakan yang tidak benar terhadap orang-orang di desanya, sampai kepada para tua-tua adat, dan pemerintah desanya, bahwa ia telah dipukul oleh pemuda-pemuda desa Karama hanya karena pada saat akan melewati jembatan yang telah diperbaiki oleh warga desa Karama dan harus dibayar tetapi ia tidak membayar, dan menurut cerita bohong pemuda itu, bahwa pada saat itu, bukannya saya kata pemuda itu tidak mau untuk membayar, tetapi saya tidak memiliki uang pada saat itu dan sudah menjelaskan kepada para pemuda desa Karama yang menjaga di jembatan itu, tetapi para pemuda desa Karama tidak mau untuk mengerti dan akhirnya saya dipukul.

Berdasarkan pada kebohongan certita pemuda tersebut, maka keesokan harinya, kepala desa Batu Makada, tokoh adat dan beberapa pemuda dari desa Batu Makada, lengkap dengan senjata tajam datang dan mengamuk di desa Karama. Kejadian ini terjadi pada tahun 2012, tepatnya di dusun Salubabu karena kebetulan dari arah desa Batu Makada dusun Salubabu yang menjadi bagian dari wilayah desa Karama, lebih dahulu dijumpai. Dan kebetulan juga yang jaga jembatan pada saat itu adalah para pemuda dari dusun Salubabu, sehingga rombongan dari desa Batu Makada masuk di wilayah desa Karama dan berteriak-teriak untuk menantang perkelahian dengan warga dusun Salubabu dan mencari kepala dusun Salubabu untuk menuntut pertanggungjawaban. Seketika itu juga keluarlah para pemuda dan semua laki-laki dari dusun Salubabu juga dengan membawa senjata tajam untuk menghalangi penyerangan yang dilakukan oleh orang-orang dari desa Batu Makada.

Tetapi untunglah para majelis gereja setempat pada saat itu, yang berada di dusun Salubabu, dan juga kepala dususn Salubabu sendiri, tidak ikut terpancing dengan situasi dan kondisi yang terjadi di wilayah dusun mereka pada saat itu, walaupun dusun dan diri mereka sendiri diserang, tetapi mereka tenang menghadapi keadaan pada saat itu dan dengan tegas bertindak melerai keributan dan pertengkaran yang terjadi pada saat itu, dengan menenangkan warga dusun Salubabu, sehingga pertengkaran itu dapat dikendalikan walaupun dengan penuh kesulitan hingga akhirnya tidak terjadi pertumpahan darah.

Setelah situasi mulai tenang, barulah ada pembicaraan antara kedua bela pihak yang bertikai tersebut, setelah proses pembicaraan yang cukup panjang itu, akhirnya diketahuilah duduk masalah yang sebenarnya. Bahwa ada kebohongan yang dilakukan oleh salah seorang pemuda anggota masyarakat dari desa Batu Makada, terkait penagihan pembayaran jembatan tersebut. Seketika itu juga masyarakat desa Karama khususnya bagian dusun Salubabu, (Salubabu merupakan salah satu nama dusun dari tujuh dusun yang ada di wilayah pemerintahan desa Karama) warga dusun mengamuk dan tidak menerima kejadian itu mereka menuntut balik, karena itu suatu penghinaan dan sudah merupakan tindakan kekerasan dengan masuk wilayah orang lain dan membuat keributan. Dalam tradisi adat-istiadat setempat dan pada umumnya dalam wilayah kecamatan Kalumpang, jika ada terjadi kekacauan dalam kampung yang mengagetkan dan menakutkan bagi masyarakat, maka itu harus ditindak baik itu oleh warga masyarakat dalam kampung sendiri maupun oleh orang lain di luar kampung. Dan hukuman yang dijatuhkan tergantung dari besar kecilnya masalah yang diperbuat, dan dituntut sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Tetapi itu dapat membuat masalah akan semakin berat dan besar, dan tidak tertutup kemungkinan pertikaian dan perkelahian antar kampung akan terjadi, selain itu juga akan menyita waktu, tenaga, fikiran dan juga materi yang tidak sedikit dari kedua belah pihak.

Dengan mempertimbangkan semua itu, maka para tua-tua kampung seperti tokoh adat, tokoh pemerintah dan tokoh gereja, dari dusun Salubabu sepakat untuk mengambil jalan damai, dengan saling memafkan dan tidak memperpanjang masalah tersebut.Jadi ketika pihak dari desa Batu Makada menyampaikan permohonan maaf mereka, permohonan maaf itupun diterima oleh ketiga tokoh masyarakat dari dusun Salubabu tersebut, walaupun ada kekecewaan dariwarga dusun Salubabu, tetapi mereka tetap menerima keputusan yang telah diambil oleh tokoh-tokoh masyarakat mereka. Kejadian ini memperlihatkan adanya semangat spiritualitas perdamain dari para tokoh masyarakat dusun Salubabu, juga adanya sikap menyadari dan mengakui kesalahan dari pihak desa Batu Makada. Sehingga permasalahan yang terjadi antara kedua belah pihak itu, pada akhirnya dapat terselesaikan dengan penuh kedamain dan kembali hubungan antara kedua belah pihak menjadi harmonis.

Dengan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penulisan paper ini sebagai bahan pembelajaran bagi para pemimpin atau tokoh masyarakat, pada wilayah pedesaan ketika menghadapi dan menangani konflik yang terjadi. 1. Untuk mendidik kaum muda pemahaman akan moral 2. Untuk memberikan pemahaman dalam mengendalikan keegoisan diri

Pengertian tentang moral, secara umum moral dapat dipahami sebagai tindakan atau perilaku seseorang dalam menjalin hubungan atau bersosialisasi dengan orang lain secara baik. Moral mengarahkan manusia untuk hidup dengan rasa saling menghormati dan menghargai, kata moral juga mengacu pada baik dan buruknya perbuatan manusia (akhlak). Moral merupakan penilaian dari seseorang mengenai tindakan dan perbuatan, juga termasuk perkataan, yang dapat dinilai baik dan buruknya. Yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, dan yang dapat diterima dalam lingkungan masyarakat, dan semua itu berhubungan dengan budi pekerti manusia yang beradab, sehingga menjadi penilaian terhadap diri seseorang apakah memiliki moral yang baik dan tidak baik. (Zakky, 2018) Moral inilah yang banyak hilang dari diri sebagian anak muda, sehingga dengan mudahnya terjadi pertikaian dalam pergaulan maupun hubungan sosial masyarakat. Itu sebabnya moral perlu dipahami oleh kaum muda sebagai salah satu bentuk etika pergaulan dan bersosialisasi. Agar dapat menjaga sikap perilaku juga tutur kata dalam berbicara, sehingga kaum muda dalam pergaulan dan bersosialisasi, dapat tetap menjaga keamanan dan kedamaian.

Jadi moral merupakan nilai dari agama dan budaya yang sudah ada dan mengakar dalam diri seseorang, tetapi belum tentu untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari. Orang yang bermoral adalah yang memiliki hati nurani yang baik, karena itu merupakan anugerah dari Tuhan. Anugerah itu berupa nilai-nilai penyayang, jujur, sopan santun, jadi yang berakhlak baik. (Ramdhiani, 2018) Orang yang mempunyai moral adalah mereka yang ketika bertindak baik dalam sikap tingkahlaku maupun tutur kata, penuh dengan pertimbangan dan kehati-hatian, karena itu menyangkut dengan hubungan hidup antara sesama umat manusia. Sesuai dengan asal kata moral itu sendiri, yang dari bahasa aslinya yaitu bahasa Latin �mores� yang artinyaaturan kesusilaanataupun suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas perbuatan yang secara layak dikatakan baik, buruk, benar maupun salah. Dan itu dapat terwujud dalam kehidupan manusia yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain, dan manusia yang bermoral akan menunjukan suatu kebiasaan hidup yang baik, yang hidup dengan rasa saling membutuhkan, saling menghargai, sehingga terjadilah rasa cinta kasih dan sayang dalam hubungan dengan sesama manusia (Susanto, 2018).

Jika saja kaum muda dalam menjalani kehidupan yang dianugerahi Allah ini dengan moral, tentu saja tidak ada keributan dan kekacauan dalam lingkungan pergaulan dan bermasyarakat. Tetapi yang terjadi justru saling bekerja sama dalam membangun hidup bermasyarakat, dan turut ikut dalam menjaga dan menciptakan perdamaian.

Berbicara tentang manusia, maka sebagai seorang manusia, kita sudah sepantasnya memahami apa itu arti manusia yang sesungguhnya (Bagir, 2017). Akan tetapi, kenyataannya masih banyak sekali orang yang tidak memahami makna dan arti kata manusia, sehingga dalam perbuatan hidup terkadang tidak mencerminkan diri sebagai seorang manusia. Yang sudah jelas bahwa manusia itu adalah mkhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, manusia merupakan wakil Allah di bumi, yang diberikan akal pikiran untuk berkarya dimuka bumi ini. Dan bahkan manusipun memiliki perbedaan dengan makhluk ciptaan yang lain, baik secara biologis maupun rohani. Secara biologis umumnya manusia dibedakan secara fisik, sedangkan secara rohani manusia dibedakan berdasarkan kepercayaannya atau agama yang dianutnya.

Dari arti kata manusia itu sendiri ada banyak definisinya, menurut para ahli ternama tentang manusia namun pengertiannya definisi manusia itu sendiri dipahami secara bahasa bahwa manusia berasal dari kata manu (Sansekerta), dan mens (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).  Secaraistilah manusia dapat diartikan sebagaisebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu (Makplus, 2018).Selain itu tidak bisa dipungkiri bahwa, dalam kehidupan umat manusia tidak dapat untuk hidup sendiri, karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang berbudaya, yang mempunyai hubungan pergaulan yang sangat luas, dan hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam dan manusia dengan Sang Pencipta. Selain itu manusia juga bukanlah makhluk yang sempurna sebagai makhluk yang tidaksempurna manusia tidak terlepas dari kesalahan yang diperbuat, baik itu sengaja maupun tidak (Christiana, 2013). Dan dari setiap kesalahan yang diperbuat oleh manusia yang paling penting adalah jiwa yang besar untuk mengakui sebuah kesalahan dan kemudian meminta maaf untuk kesalahan yang diperbuat.

Jika manusia tidak mempunyai keinginan untuk menyadari, menyesali dan meminta maaf atas suatu pelanggaran yang dilakukan, dan justru menganggap apa yang diberbuatnya itu benar, tidak mempedulikan sudut pandang orang lain, itulah egosentrisme pada diri seseorang. Mencerminkan keegoisan diri yang sesungguhnya dan dapat menyebabkan masalah yang lebih berat lagi bagi diri sendiri dan juga orang lain. Seperti kasus yang dilakukan oleh salah seorang pemuda dari bagian latar belakang tulisan ini, yang memutarbalikan fakta untuk menutupi kesalahannya dan itulah bagian dari pada keegoisan diri seseorang atau yang biasa disebut ego

Egois berasal dari kata ego, ego itu artinya aku yang dalam bahasa Yunani, jadi orang yang disebut egois orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, mementingkan akunya, yang tidak peduli dengan orang lain (Meng, 2018). Tetapi dalam aktivitasnya ego itu bisa sadar, prasadar, maupun tak sadar. Tetapi untuk sebagaian besar aktivitas yang dilakukan ego itu bersifat sadar. Aktivitas sadar dapat disebut persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual tentang aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan (sesuatu yang lupa dapat diingat kembali) dan aktivitas tak sadar dijalankan oleh ego, melalui mekanisme-mekanisme pertahanan, misalnya orang yang dalam hati kecilnya sangat takut pada kenyataannya berlagak gagah berani. Ego dikuasai oleh prinsip realitas, sebagaimana tampak dalam pemikiran yang obyektif, yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial , yang bersifat rasional dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Jadi, prinsip kesenangan diri diganti dengan prinsip realitas. Ego mempunyai tugas untuk

mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar, lagi pula untuk memecahkan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang masuk kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Akhirnya, ego menjamin kesatuan kperibadian, atau dengan kata lain mengadakan sintesis psikis (Barents, 2001).

Jadi ketika ego tidak dapat dikendalikan cenderung seseorang dalam tindakan dan perbuatannya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam tatanan hidup bermasyarakat, dan itulah yang dapat menyebabkan ketidakharmonisan. Jadi sebagai manusia setidaknya kita belajar untuk bagaimana mengendalikan ego dan lebih baik meningkatkan superego dalam diri dan hidup kita, untuk menciptakan situasi dan kondisi yang damai.

Superego adalah perasaan bersalah yang dirasakan manusia, apabila manusia melakukan hal-hal yang terlarang. Sedangkan ego adalahaku� yang sadar, subjektivitas manusia, pusat kesadaran dan keinginan manusia. Ego adalah aku kita, kedirian kita yang merasakan, mengerti, mengambil sikap, menghendaki dan bertindak. Pusat kedirian manusia adalah ego (Suseno & Dasar, 2005).

Jadi ego adalah diri manusia sendiri atau diri kita sendiri, ego itulah yang mengerti, yang mengambil sikap dengan bebas dan bertindak. Kemampuan ego adalah mengerti dan mengambil sikap atau bertindak, jadi bereaksi terhadap apa yang dimengerti. Dan superego yang menegur kalau dalam bereaksi, terhadap realitas luar ego tidak bertindak sesuai dengan semestinya (Holiday, 2019).

 

METODE PENELITIAN

Dengan menggunakan data primer dan sekunder.

Premier

Primer: sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jajak pendapat dari individu atau kelompok (orang) maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian (benda). Dengan kata lain, peneliti membutuhkan pengumpulan data dengan cara menjawab pertanyaan riset (metode survei) atau penelitian benda (metode observasi).

Sekunder

Sekunder: sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, jurnal, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan teori dan latar belakang yang ada tindakan kebohongan public yang dilakukan jelas sangat berbahaya. Itulah pentingnya moral yang dimiliki oleh setiap pribadi terutama dalam kalangan anak-anak muda dan dalam bertindak tidak menuruti ego diri sendiri dan perlu untuk mampu mengendalikan diri. Namun dari peristiwa itu, setidaknya oleh tokoh-tokoh dusun Salubabu, disikapi secara bijak, meletakan ego mereka agar konflik dapat berhenti. Tokoh-tokoh Salubabu mempunyai tanggung jawab untuk meciptakan perdamain dan disambut dengan baik dari pihak penyerang. Kedua-duanya sama-sama ingin untuk menghentikan konflik yang terjadi di antara mereka dengan cara damai. Dengan jalan damai yang diambil tanpa adanya proses penyelesaian secara hukum adat, sesungguhnya menguntungkan pihak yang datang menyerang. Karena tidak akan menerima sanksi adat yang cukup berat bagi mereka jika itu diperlakukan, yang terjadi kerugian waktu, tenaga dan materi. Dan justru hal itu lah yang dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh dusun Salubabu, ada rasa belas kasihan dalam diri mereka, walaupun mereka yang mengalami fitnah dan diserang secara terang-terangan di kampung sendiri.

Tokoh-tokoh dusun Salubabu mengajarkan bahwa hubungan manusia bukan hanya dengan manusia, tetapi hubungan manusia dengan Tuhan yaitu manusia diciptakan oleh Allah berdasarkan kehendak-Nya, menurut gambar-Nya, bahwa gambar Ilahi itu mencakup kualitas-kualitas rasional, moral dan spiritual, yang mebedakan kita dari binatang dan menghubungkan kita dengan Allah. Ada pula hubungan manusia denga sesama. Bahwa Allah sendiri yang menciptakan umat manusia dan itu merupakan oknum sosial, jadi manusia adalah makhluk sosial, menjadi mkhluk sosial salah satu tugasnya bertanggung jawab untuk menjaga hubungan yang baik antara satu dengan yang lain, menjaga perdamaian.

Dari peristiwa ini terlihat bahwa para tokoh-tokoh dusun Salubabu adalah orang-orang yang menjadi juru damai, bahwa pendamai itu adalah seorang yang membawa perubahan-perubahan hidup kearah yang lebih baik. Seperti arti kata �pendamaianitu sendiri, ataurekonsiliasi� yang diterjemahkan dari kata benda bahasa Yunani katallege, yang artinya: perubahan, rekonsiliasi, atau pendamaian. Yang dalam bentuk kata kerja dipakai kata: katallaso dan apokatallaso, yang artinya: mengubah atau mendamaikan kembali. Dalam bentuk pasif dipakai kata katallagen yang artinya: didamaikan kembali. Kalau kata kerja katallaso dipakai dalam artian pendamaian kembali seorang dengan sesamanya, sedangkan apokatallaso dalam pengertian yang sama, yaitu pendamaian dengan sesame (Taunaumang, 2007).

 

KESIMPULAN

Pada dasarnya kedamaian itu merupakan hak esensial bagi hidup manusia, itu sebabnya setiap manusia bertanggungjawab dalam menjaga perdamaian dan menjadi pendamai dengan semua ciptaan Tuhan. Sama dengan spiritualitas juga merupakan hak esensial dari keseluruhan hidup manusia. Dalam artian manusia berdamai dengan sesama, berdamai dengan bumi, berdamai dengan semua mkhluk ciptaan-Nya, turut menjaga kelestarian bumi. dan itu juga merupakan wujud dari spiritualitas perdamaian. Karena tindakan kekerasan atau konflik yang terjadi bukan hanya antara manusia dengan manusia, tetapi itu juga dapat terjadi anatara manusia dengan alam ciptaan Tuhan. Seperti yang ditulis oleh James Mc Ginnis bahwa tindak tanpa kekerasan lebih luas dari pada membiarkan orang hidup damai. Tindak tanpa kekerasan pertama-tama bersikap terhadap alam, langit, laut, tambang, udara, air, rumah. Inilah barang-barang pertama yang harus disikapi tanpa kekerasan.

Dengan demikian jika konflik kekerasan dihadapi juga dengan cara kekerasan, tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dan dalam menghadapi konflik perlunya peran orang-orang yang punya kesabaran, tidak egois, mau untuk mendengarkan pendapat orang lain. seperti para tokoh-tokoh di dusun Salubabu.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bagir, Haidar. (2017). Islam Tuhan Islam Manusia. Almizan.

 

Barents, K. (2001). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Christiana, Esther. (2013). Pendidikan yang Memanusiakan Manusia. Humaniora, 4(1), 398�410.

 

Holiday, Ryan. (2019). Ego is the Enemy. Elex media komputindo.

 

Makplus, Om. (2018). Pengertian Manusia Serta Defenisi Manusia Menurut Para Ahli.

Meng, Dj. (2018). Pengertian Egois.

 

Ramdhiani, Mendy. (2018). Pengertian Moral Menurut Para Ahli dan Contohnya.

 

Susanto, Agus. (2018). Hukum Moral dan Keadilan.

 

Suseno, Franz Magnis, & Dasar, Etika. (2005). Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.

 

Taunaumang, Calvin. (2007). Menebar Damai Meredam Konflik.

 

Zakky. (2018). Pengertian Moral Menurut Para Ahli dan Secara Umum.