PENGARUH BLENDED
LEARNING, MEDIA PEMBELAJARAN, DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
Ni Made Viriyani Asih
Universitas Budi Luhur, Indonesia
Pandemi adalah penyakit yang menyebar luas misalnya di beberapa benua atau di seluruh dunia. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna mengurangi angka kenaikan pasien positif Covid-19 dan korban meninggal
akibatnya. Program vaksin
yang dilakukan secara berkala untuk melindungi seluruh komponen masyarakat dari pandemi Covid-19 ini adalah salah
satunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di SDS Narada. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitaif dengan metode survei.
Populasi pada penelitian
ini adalah seluruh siswa kelas 6 yang berjumlah 68 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total
sampling. Data dikumpulkan melalui
kuesioner dengan skala model likert yang diolah dengan software Microsoft
Excel 2019 dan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan
blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar berpengaruh positif dengan nilai persentase
96,4%. Hal ini menunjukkan bahwa
blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa.
Dapat disimpulkan bahwa secara parsial,
blended learning berpengaruh positif
dengan nilai persentase 9,2% dan berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa kelas
6 pada mata pelajaran
Bahasa Inggris. Media pembelajaran
berpengaruh positif dengan nilai persentase
74,5% dan berpengaruh kuat
terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris
Kata Kunci: blended
learning; media pembelajaran; motivasi
belajar; dan hasil belajar
Abstract:
A pandemic is a disease that spreads very widely, for example across
several continents or throughout the world. Various efforts have been made by
the government to suppress the increase in the number of positive COVID-19
patients and the number of victims who died as a result. Vaccine programs that
are carried out regularly to protect all components of society from the
Covid-19 pandemic are one of them. Purpose: This study aims
to determine the effect of Blended Learning, Learning Media, and Learning
Motivation on Student Learning Outcomes in English subjects at SDS Narada.
Methods: The research method uses a quantitative approach with a survey method.
The population in this study were all 6th grade students, totaling 68 students.
The sampling technique used is the total sampling technique. Data was collected
through a questionnaire with a Likert model scale which was processed with
Microsoft Excel 2019 software and SPSS version 25. Results: The results showed
that simultaneously blended learning, learning media, and learning motivation
had a positive effect with a percentage value of 96.4%. This shows that blended
learning, learning media, and learning motivation have a strong influence on
student learning outcomes. Conclusion: It can be concluded that partially
blended learning has a positive effect with a percentage value of 9.2% and has
a strong effect on student learning outcomes in grade 6 English subjects.
Learning media has a positive effect with a percentage value of 74.5% and has a
strong effect on student learning outcomes in grade 6 English subjects
Keywords: blended learning; learning
media; learning motivation; dan learning outcomes���
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Dewasa
ini, pandemi dari wabah Coronavirus Disease (Covid-19) masih menjadi momok
terbesar di Indonesia. Pandemi adalah penyakit yang menyebar luas misalnya di
beberapa benua atau di seluruh dunia (Bainus &
Rachman, 2020). Bukan hanya di Indonesia,
tetapi di seluruh dunia. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna
mengurangi angka kenaikan pasien positif Covid-19 dan korban meninggal
akibatnya. Program vaksin yang dilakukan secara berkala untuk melindungi
seluruh komponen masyarakat dari pandemi Covid-19 ini adalah salah satunya (Rian El
Kharis, 2022). Selain itu, protokol
kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan atau menggunakan hand
sanitizer, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan juga diterapkan.
Pandemi
yang muncul pada 2019 ini memiliki dampak luar biasa pada banyak sektor,
seperti ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, dan lain sebagainya. Salah satu
sektor yang juga terkena dampak dari Covid-19 ini adalah pendidikan. Pemerintah
mengantisipasi penyebaran virus Corona dengan mengubah sistem pelaksanaan
pendidikan. Siswa diminta belajar secara daring dan tidak berangkat ke sekolah (Susanti &
Prameswari, 2020). Jadi, pembelajaran sementara
dilakukan secara jarak jauh, daring atau online. Penggunaan media online
seperti google classroom dan yang lainnya merupakan salah satu solusi untuk
peserta didik mampu menerima materi pembelajaran dengan baik (Mustakim,
2020). Seiring berjalannya waktu,
guru juga beralih ke media pembelajaran yang lebih menarik lagi seperti canva,
filmorago, dan masih banyak yang lainnya. Ini dilakukan oleh para guru di
Sekolah Narada agar siswa dapat lebih mengerti materi karena hanya dibagikan
melalui google classroom. Namun, seiring berjalannya waktu, pembelajaran di
tahun ajaran selanjutnya, penggunaan aplikasi Zoom sudah digunakan di Sekolah
Narada. Sehingga, siswa dan guru dapat bertemu secara langsung di dalam layar.
Media
merupakan instrumen strategis dalam perspektif pendidikan yang mendorong
keberhasilan dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan (Khaira, 2021). Guru dituntut memanfaatkan
media pembelajaran untuk pengajaran selama proses belajar mengajar dilakukan
dari rumah. Salah satu proses pembelajaran yang inovatif adalah menggunakan
media pembelajaran. Menurut (Sanjaya, 2016), media pembelajaran adalah
segala sesuatu seperti alat, lingkungan, dan segala bentuk kegiatan yang
dikondisikan untuk menambah pengetahuan, mengubah sikap atau menanamkan
keterampilan pada setiap orang yang memanfaatkannya . Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin
berkembang pesat serta dilengkapi dengan internet, masalah pendidikan di masa
pandemi dapat teratasi sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan.
Sampai
saatnya pandemi sudah mulai membaik di akhir tahun 2021, Surat Keputusan
Bersama (SKB) dari empat menteri dikeluarkan dan menyebutkan bahwa satuan pendidikan
di wilayah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 1 dan 2
bisa melaksanakan PTM dengan jumlah peserta didik 100 persen jika capaian
vaksinasi dosis 2 pendidik dan tenaga kependidikan paling sedikit 80 persen.
Dengan begitu, sekolah juga bisa menyelenggarakan PTM setiap hari dengan lama
belajar paling banyak enam jam pelajaran per hari. Namun, jika capaian
vaksinasi dosis 2 pendidik dan tenaga kependidikan di wilayah PPKM level 1 dan
2 berada di antara angka 50�80 persen, maka satuan pendidikan di wilayah
tersebut hanya diperbolehkan menyelenggarakan PTM terbatas dengan jumlah
peserta didik 50 persen dari kapasitas ruang kelas. PTM terbatas di wilayah itu
bisa diselenggarakan setiap hari, namun harus dilakukan bergantian sesuai dengan
jadwal yang diatur sekolah berdasarkan jumlah siswa dan ketersediaan ruang
kelas, dengan lama belajar maksimal enam jam pelajaran per hari.
Dengan
begitu, pembelajaran campuran antara tatap muka (face to face) dan daring pun
menjadi metode baru yang sering disebut sebagai blended learning. Di Sekolah
Narada, blended learning sudah dilaksanakan sejak semester 1 tahun 2021 untuk
siswa kelas 5 dan 6. Sedangkan, blended learning untuk siswa kelas 1 sampai 4
mulai dilaksanakan pada bulan Januari tahun 2022. Beberapa guru yang mengajar mengalami kesulitan saat blended
learning. Guru merasakan perhatian mereka terbagi untuk siswa yang terdapat di
sekolah dan rumah. Selain itu, guru juga mengalami kesulitan saat akan
memberikan tugas berupa G-Forms dan G- Docs karena siswa tidak diperbolehkan
membawa alat komunikasi seperti handphone, tablet, dan laptop ke sekolah.
Saat
pembelajaran blended learning, perhatian guru terbagi kepada siswa yang ada di
rumah dan sekolah oleh karena tidak semua siswa mengikuti pembelajaran tatap
muka (Zebua &
Harefa, 2022). Guru mengutamakan siswa yang
ada di sekolah sehingga motivasi belajar siswa yang ada di rumah menurun karena
merasa kurang diperhatikan. Sejalan dengan pendapat dari Menik, dkk (2020)
bahwa motivasi belajar sangat berpengaruh terhadap naik turunnya hasil belajar
siswa, terlebih dalam masa pandemi, tingkat motivasi belajar siswa tentu sangat
mempengaruhi hasil belajar.
Terlihat dari data hasil
belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris berikut:
Gambar 1. Nilai Bahasa Inggris Kelas 6
Sumber: Data Ledger Nilai Kelas 6 SDS Narada Tahun Ajaran
2021/2022
Dari diagram di atas
terlihat bahwa hasil belajar siswa
kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas 6A dan 6C menurun sedangkan di kelas 6B menaik. Ini berarti terdapat kesenjangan Blended
Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi
Belajar terhadap Hasil Belajar
Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang �Pengaruh Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Siswa Kelas 6 di SDS Narada�. Tujuan Penelitian ini adalah :
Hasil belajar terdiri dari dua kata, yaitu hasil dan belajar. Menurut KBBI, hasil adalah sesuatu
yang diadakan (dibuat, dijadikan, dsb) oleh usaha. Sedangkan, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Jadi, hasil belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Ini sejalan dengan pendapat dari Mudjiono
dalam Lukman (2020:110), �hasil
belajar merupakan proses
untuk menentukan nilai belajar siswa melalui
kegiatan penilaian dan/atau pengukuran hasil belajar�.
Menurut Susanto (2013:5), �hasil belajar
yaitu perubahan-perubahan yang terjadi
pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan
belajar� (Fitri, Adnan, & Irdamurni, 2021). Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya guru menetapkan tujuan belajar dimana siswa dikatakan berhasil belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar terdapat jenis-jenis hasil belajar. Penggolongan atau tingkatan jenis hasil belajar
terdiri atas tiga ranah, yaitu
ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.
Senada dengan Bloom dalam Suprijono (2013:6), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik (Butarbutar & Rasyid, 2017). Kemampuan kognitif terdiri dari knowledge (pengetahuan, ingatan),
comprehension (pemahaman, menjelaskan,
meringkas, contoh),
application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan,
merencanakan), dan evaluating (menilai).
Kemampuan afektif terdiri dari receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuting (nilai), organization (organisasi), dan characterization (karakterisasi).
Kemampuan psikomotorik meliputi initiatory (inisiasi),
pre-rountie (rutin), dan rountinized. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar yang bisa dinilai dari siswa
bukan hanya darisegi pengetahuan saja, namun juga peningkatan sikap dan psikomotorik mempunyai andil atas peningkatan hasil belajar siswa.
METODE
PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, metode survey adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu
yang alamiah (bukan buatan),
di mana peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuisioner, tes, dan sebagainya menurut (TarsitoTarsito, 2014). Jenis penelitian
yang dilakukan adalah
explanatory research (penelitian penjelasan).
Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini disajikan dengan angka-angka. Hal ini sesuai dengan pendapat (Suhandoyo &
Wijayanti, n.d.)
yang mengemukakan penelitian
kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan
data, penafsiran terhadap data tersebut,
serta penampilan hasilnya. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dari hasil kuesioner tersebut dianalisis untuk mengetahui pengaruh masing-masing
variabel dengan analisis data yang bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (TarsitoTarsito, 2014).
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah bidang manajemen
pendidikan yang berfokus
pada seberapa besar pengaruh blended learning (X1), media pembelajaran
(X2), dan motivasi belajar
(X3) sebagai variabel independen terhadap Hasil Belajar
(Y) sebagai variabel dependen Populasi adalah wilayah generalilasi yang terdiri atas obyek
atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (TarsitoTarsito, 2014). Populasi yang dimaksud ialah siswa berjumlah kelas 6 dengan jumlah 68 orang. Sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari
semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana dan waktu, maka peneliti
dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (TarsitoTarsito, 2014). Pengambilan sampel dalam penelitian
ini didapatkan dengan menggunakan teknik non
probability sampling.
Menurut (TarsitoTarsito, 2014) mengatakan bahwa teknik non probability
sampling adalah teknik penarikan sampel yang tidak memberikan peluang bagi setiap unsur atau anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dan, peneliti akan menggunakan
teknik total sampling. Menurut
(TarsitoTarsito, 2014) mengatakan bahwa total sampling adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel. Maka dari
uraian di atas, teknik penarikan sampel yang digunakan sebagai penelitian sebanyak 68 orang yang terdiri dari siswa kelas
6 Sekolah Dasar Narada.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Data
Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang
digunakan adalah sebanyak 68 orang yang terdiri dari siswa kelas 6 Sekolah
Dasar Swasta Narada. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh
dengan cara menyebarkan kuesioner kepada siswa kelas 6 SDS Narada untuk
memperoleh informasi secara langsung dari responden sebagai obyek penelitian.
B.
Pengujian
Hipotesis dan Pembahasan
a.
Interpretasi Nilai
Interval
Interpretasi nilai interval adalah
mengkategorikan nilai yang diperoleh. Nilai kelas selanjutnya dikategorikan
sebagai sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju.
Pengkategorian nilai interval didapatkan melalui rumus:
Interval = (Nilai Tertinggi - Nilai Terendah)
: Jumlah kelas Interval
= (5 � 1) : 5 = 0,80
Tabel 1. Interpretasi Nilai Variabel
|
Interpretasi |
Interval |
|
Sangat tidak setuju |
1 - 1,80 |
|
Tidak setuju |
1,80 - 2,60 |
|
Cukup setuju |
2,60 - 3,40 |
|
Setuju |
3,40 - 4,20 |
|
Sangat setuju |
4,20 - 5,00 |
Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
b.
Pengukuran Deskriptif
Variabel X₁, X₂, X₃, dan Y
Salah satu teknik pengumpulan data pada
penelitian ini adalah menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 68 orang
siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Kuesioner ini terdiri atas berbagai
pernyataan yang dibuat berdasarkan 4 variabel yang diteliti. Dari hasil
penelitian dapat diketahui jawaban responden atas pernyataan tersebut yang tersaji dalam masing-masing tabel dibawah ini:
Tabel 2. Pengukuran Rata-Rata
Blended Learning (X1)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
X1.1 |
298 |
4.38 |
Sangat Setuju |
|
X1.2 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
X1.3 |
299 |
4.4 |
Sangat Setuju |
|
X1.4 |
290 |
4.26 |
Sangat Setuju |
|
X1.5 |
299 |
4.4 |
Sangat Setuju |
|
X1.6 |
295 |
4.34 |
Sangat Setuju |
|
X1.7 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
X1.8 |
294 |
4.32 |
Sangat Setuju |
|
X1.9 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
X1.10 |
287 |
4.22 |
Sangat Setuju |
|
X1.11 |
281 |
4.13 |
Setuju |
|
X1.12 |
284 |
4.18 |
Setuju |
|
X1.13 |
289 |
4.25 |
Sangat Setuju |
|
X1.14 |
282 |
4.15 |
Setuju |
|
X1.15 |
288 |
4.24 |
Sangat Setuju |
|
Blended_Learning.X1 |
4377 |
64.37 |
|
Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
Dari
tabel di atas, dapat dilihat bahwa
rata-rata responden menganggap
sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai blended learning (X1) pada siswa
kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari
pernyataan 3 dan 5 (X1.3 dan X1.5) yaitu �Guru memberikan bimbingan yang efektif selama pelajaran�, dengan skor sebesar
299 dan �Saya nyaman berinteraksi
dengan guru dalam pembelajaran selama belajar dari rumah�, dengan skor sebesar
299, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa blended
learning yang dilakukan pada siswa
kelas 6 Sekolah Dasar Narada pada mata pelajaran Bahasa Inggris sangat membantu dan sesuai pada penerapannya, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan
11 (X1.11) yaitu �Orangtua atau keluarga mampu
membimbing saya dengan baik selama belajar dari rumah�, dengan skor sebesar
281.
Tabel 3. Pengukuran
Rata-Rata Media Pembelajaran (X2)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi
nilai |
|
X2.1 |
299 |
4.4 |
Sangat
Setuju |
|
X2.2 |
298 |
4.38 |
Sangat
Setuju |
|
X2.3 |
292 |
4.29 |
Sangat
Setuju |
|
X2.4 |
297 |
4.37 |
Sangat
Setuju |
|
X2.5 |
297 |
4.37 |
Sangat
Setuju |
|
X2.6 |
289 |
4.25 |
Sangat
Setuju |
|
X2.7 |
293 |
4.31 |
Sangat
Setuju |
|
X2.8 |
296 |
4.35 |
Sangat
Setuju |
|
X2.9 |
294 |
4.32 |
Sangat
Setuju |
|
X2.10 |
298 |
4.38 |
Sangat
Setuju |
|
X2.11 |
284 |
4.18 |
Setuju |
|
X2.12 |
278 |
4.09 |
Setuju |
|
Media_Pembelajaran.X2 |
3515 |
51.69 |
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Dari
tabel di atas, dapat dilihat bahwa
rata-rata responden menganggap
sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai media pembelajaran (X2)
pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan
1 (X2.1) yaitu �Apakah guru
menggunakan media visual setiap
kali pelajaran�, dengan skor sebesar 299, dari hal tersebut
dapat disimpulkan bahwa guru menggunakan atau memanfaatkan media visual dalam setiap pembelajaran.
Sedangkan, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan
12 (X2.12) yaitu �Saya tidak
merasakan manfaat media pembelajaran�, dengan skor sebesar 278.
Tabel 4. Pengukuran
Rata-Rata Motivasi Belajar
(X3)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
X3.1 |
300 |
4.41 |
Sangat Setuju |
|
X3.2 |
300 |
4.41 |
Sangat Setuju |
|
X3.3 |
302 |
4.44 |
Sangat Setuju |
|
X3.4 |
282 |
4.15 |
Setuju |
|
X3.5 |
296 |
4.35 |
Sangat Setuju |
|
X3.6 |
292 |
4.29 |
Sangat Setuju |
|
X3.7 |
283 |
4.16 |
Setuju |
|
X3.8 |
290 |
4.26 |
Sangat Setuju |
|
X3.9 |
299 |
4.4 |
Sangat Setuju |
|
X3.10 |
300 |
4.41 |
Sangat Setuju |
|
X3.11 |
294 |
4.32 |
Sangat Setuju |
|
Motivasi_Belajar.X3 |
3238 |
47.62 |
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Dari
tabel di atas, dapat dilihat bahwa
rata-rata responden menganggap
sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai motivasi belajar (X3) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari
pernyataan 3 (X3.3) yaitu
�Saya malas bertanya kepada
guru kalau ada pelajaran yang tidak saya mengerti�, dengan skor sebesar
302 dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa enggan bertanya
jika ada hal yang tidak ia� mengerti. Sedangkan, skor terendah dapat
dilihat dari pernyataan 4 (X3.4) yaitu �Saya senang belajar dengan menggunakan video�, dengan skor sebesar
282.
Tabel 5. Pengukuran
Rata-Rata Hasil Belajar (Y)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
Y.1 |
298 |
4.38 |
Sangat Setuju |
|
Y.2 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
Y.3 |
291 |
4.28 |
Sangat Setuju |
|
Y.4 |
293 |
4.31 |
Sangat Setuju |
|
Y.5 |
296 |
4.35 |
Sangat Setuju |
|
Y.6 |
294 |
4.32 |
Sangat Setuju |
|
Hasil_belajar_Y |
1769 |
26.01 |
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Dari
tabel di atas, dapat dilihat bahwa
rata-rata responden menganggap
sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai hasil belajar (Y) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari
pernyataan 1 (Y.1) yaitu
�Saya memahami materi melalui pembelajaran daring�, dengan skor sebesar
298, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa secara umum
dapat memahami materi pembelajaran selama proses daring, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan
3 (Y3) yaitu �Saya dapat belajar mandiri dengan menggunakan e- learning�, dengan skor sebesar
291.
c. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji
validitas dilakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya kuesioner yang disebar. Keputusan pengujian validitas responden menggunakan taraf signifikansi sebagai berikut:
1. Item pertanyaan-pertanyaan responden penelitian dikatakan valid jika rhitung lebih besar atau sama
dengan rtabel (rhitung ≥ rtabel).
2. Item pertanyaan-pertanyaan responden penelitian dikatakan tidak valid jika rhitung lebih kecil dari rtabel (rhitung
≤ rtabel). Di mana untuk rtabel
68 Responden adalah sebesar 0.2012.
Disamping harus valid Instrumen penelitian, juga harus dapat dipercaya
(reliable). Oleh karena itu, digunakan
uji reliabilitas yang berguna
untuk mengetahui ketepatan nilai kuesioner, artinya instrumen penelitian bila diujikan pada kelompok yang sama walaupun pada waktu yang berbeda hasilnya akan sama.
Instrumen dapat dikatakan reliabel, apabila hasil Cα hitung > Cα table. Dasar pengambilan
keputusan pada uji reliabilitas
ini, yaitu
:
�
Cronbach�s Alpha > 0,6, maka
kuesioner yang diuji reliabel.
�
Cronbach�s Alpha ≤ 0,6, maka kuesioner yang diuji tidak reliabel.
Untuk
Instrumen penelitian ini hasil uji validitas dan reliabilitasnya sebagai berikut:
Tabel 6. Hasil Pengujian Validitas & Reliabilitas
|
Variabel |
Ite m |
Koefisien Cronbach Alfha |
Item total Correlation |
Item Gugur |
|
|
Blended Learning (X1) |
15 |
0,896 |
0,307 0,588 |
� |
4 Item (10,12,13,14) |
|
Media Pembelajaran (X2) |
12 |
0,835 |
0,310 0,940 |
� |
2 Item (11,12) |
|
Motivasi Belajar (X3) |
11 |
0,788 |
0,272 0,575 |
- |
2 Item (4,7) |
|
Hasil Belajar (Y) |
6 |
0,817 |
0,329 0,530 |
- |
Nihil |
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
d. Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Dasar pengambilan
keputusan untuk mendeteksi kenormalan adalah jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti
arah diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas dan dapat dilihat juga dari grafik diagramnya
berdistribusi normal (Priyatno,
2017).
Gambar 2.
Hasil Uji Normalitas
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Pada
gambar hasil dari output SPSS Normal P-P plot, memperlihatkan
bahwa distribusi dari titik-titik data menyebar disekitar garis diagonal
dan penyebaran titik-titik
data searah dengan garis
diagonal. Jadi, data pada variabel hasil belajar dapat
dikatakan normal.
a) Uji Multikolinearitas
Uji
Multikolinearitas dilakukan
untuk mengetahui apakah
pada sebuah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka terdapat multikolinearitas.
Model regresi yang baik memiliki
syarat bshwa tidak adanya masalah
multikolinearitas. Salah satu
cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas
yaitu dengan cara melihat nilai
Tolerance (t) dan variance inflation factor (VIF). Metode
pengambilan keputusan yaitu jika semakin
kecil nilai Tolerance dan semakin besar nilai
VIF, maka semakin mendekati terjadinya masalah multikolinearitas. Dalam kebanyakan penelitian menyebutkan bahwa jika Tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10 maka tidak
terjadi multikolinearitas.
Tabel 7. Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
|
Model |
Collinearity
Statistics |
|
|
|
Tolerance |
VIF |
|
|
|
(Constant) Blended_Learning.X1 |
0.458 |
2.183 |
|
|
Media_Pembelajaran.X2 Motivasi_Belajar.X3 |
0.265 0.190 |
3.773 5.275 |
|
|
Dependent Variable:
Hasil_belajar_Y |
|||
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Dari hasil di atas
dapat diketahui nilai variance inflation factor (VIF) masing-masing variabel yaitu variabel Blended Learning sebesar
2,183, variabel Media Pembelajaran
sebesar 3,773, dan variabel
Motivasi Belajar 5,275. Sedangkan, nilai Tolerance dari masing-masing variabel yaitu 0,458 pada variabel
Blended Learning, 0,265 pada variabel
Media Pembelajaran, dan 0,190 pada variabel Motivasi Belajar. Jadi, Tolerance dari ketiga variabel lebih dari 0,100 dan VIF kurang dari 10. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan
bahwa untuk variabel
Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar tidak memiliki masalah multikolinearitas.
b) Uji Heteroskedastisitas.
Uji
heteroskedastisitas digunakan
untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians pada
residual (error) dari satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Jika varians dari
residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang
lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas. Namun, jika varians
berbeda disebut sebagai Heteroskedastisitas. Sebuah model regresi dikatakan baik jika tidak terjadi Heteroskedastisitas.
Dasar pengambilan keputusan
ada atau tidaknya Heteroskedastisitas:
�
Jika titik-titik
pada output tersebut membentuk
suatu pola tertentu yang teratur maka terjadi heteroskedastisitas.
�
Jika titik-titik
pada output tersebut tidak membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka tidak
terjadi heteroskedastisitas.
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Pada
gambar di atas penyebaran titik-titik menunjukkan data sebagai berikut:
1. Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau disekitar angka 0.
2. Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah
saja.
3. Penyebaran titik � titik data tidak berpola.
Maka, dapat disimpulkan bahwa variabel independen terbebas dari asumsi
klasik heteroskedastisitas
dan layak digunakan dalam penelitian.
c) Korelasi
Analisis
korelasi adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan secara linear antara dua variabel.
Tabel 8. Hasil Pengujian
Analisis Korelasi Correlation
|
|
|
Blended_Learning.X1 |
Media_Pembelajarn.X2 |
Motivasi_Belajar.X3 |
Hasil_Belajar_Y |
|
Blended_Learning.X1 |
Person Correlation |
1 |
.595� |
.733� |
.618� |
|
Sig. (2-tailed) N |
|
0 |
0 |
0 |
|
|
|
|
68 |
68 |
68 |
68 |
|
Media_Pembelajarn.X2 |
Person Correlation |
.595� |
1 |
.856� |
.965� |
|
|
0 |
|
0 |
0 |
|
|
Sig. (2-tailed) N |
68 |
68 |
68 |
68 |
|
|
Motivasi_Belajar.X3 |
Person Correlation |
.733� |
.856� |
1 |
.766� |
|
Sig. (2-tailed) N |
0 |
0 |
68 |
0 |
|
|
|
|
68 |
68 |
|
68 |
|
Hasil_Belajar_Y |
Person Correlation |
.618� |
.965� |
.766� |
1 |
|
Sig. (2-tailed) N |
0 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
68 |
68 |
68 |
68 |
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Tabel 9. Tabel
Tingkat Korelasi
|
Interval Koefisien |
Tingkat Hubungan |
|
0,80 � 1,000 |
Sangat Kuat |
|
0,60 � 0,969 |
Kuat |
|
0,40 � 0,599 |
Cukup Kuat |
|
0,20 � 0,399 |
Rendah |
|
0,00 � 0,199 |
Sangat Rendah |
Berdasarkan tabel di atas, keterangan pada output mengenai korelasi dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Variabel
Blended Learning (X1) dengan Hasil Belajar (Y) : (r = 0,618 : Sig =
0,000)
Data
pada tabel menunjukkan hubungan antara variabel Blended Learning dengan
Hasil Belajar sebesar 0,618
sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan antara Blended Learning dengan
Hasil Belajar Siswa menunjukan Korelasi Kuat.
2. Variabel
Media Pembelajaran (X2) dengan
Hasil Belajar (Y) : (r = 0,965 : Sig = 0,000)
Dari
data pada tabel menunjukkan
hubungan antara variabel Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar sebesar 0,965 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan antara variabel Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan korelasi kuat.
3. Variabel Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y) :
(r=0,766 : Sig = 0,000)
Data
pada tabel menunjukan hubungan antara variabel Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar sebesar 0,766 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan korelasi kuat.
d) Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel 10. Hasil Perhitungan
Regresi Coefficientsa
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) Blended_Learning.X1 |
.347 .092 |
.686 .016 |
.205 |
.506 5.838 |
.614 .000 |
|
Media_Pembelajaran.X2 Motivasi_Belajar.X3 |
.745 -.281 |
.029 .039 |
1.182 -.397 |
25.586 -7.262 |
.000 .000 |
|
a. Dependent
Variable: Hasil_belajar_Y Sumber:
Hasil Pengolahan Data 2022
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui
persamaan regresinya yaitu:
Y
= a + b1X1 + b2 X2 + b3X3 + e
Y
= 0,347 + 0,092 X1 + 0,745 X2 + -0,281 X3 + e
Keterangan
:
Y
= Hasil Belajar a = Konstanta
X1
= Blended Learning X2 = Media Pembelajaran X3 = Motivasi Belajar
e
= error
Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah dengan sendirinya sebesar nilai konstanta yaitu 0,347.
b. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar 0,092 setiap satuan variabel
Blended Learning (X1).
c. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar 0,745 setiap satuan variabel
Media Pembelajaran (X2).
d. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar -0,281 setiap satuan variabel
Motivasi Belajar (X3).
e) Uji Hipotesis
a. Uji Signifikasi Pengaruh Parsial (Uji
t)
Tabel 11. Uji Parsial
(Uji t) Coefficientsa
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
|
(Constant) Blended_Learning.X1 |
.347 .092 |
.686 .016 |
.205 |
.506 5.838 |
.614 .000 |
|
Media_Pembelajaran.X2 Motivasi_Belajar.X3 |
.745 -.281 |
.029 .039 |
1.182 -.397 |
25.586 -7.262 |
.000 .000 |
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Berdasarkan data pada tabel diperoleh nilai thitung. Nilai ini digunakan
untuk mengukur tingkat signifikansi pengaruh variabel X terhadap Y. Dengan db (derajat kebebasan
) = N � k - 1, dimana N = jumlah
sampel dan k = jumlah variabel (k=4), sehingga db = 68 � 4 - 1= 63. Nilai ttabel
dengan db = 63 dan taraf kepercayaan sebesar 95%, maka diperoleh angka 1.669.
Hypothesis:
1. Ho:
Variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh tidak signifikan
2. Ha:
Variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
Aturan dalam Uji t:
�
Jika thitung > ttabel, Ho ditolak sehingga Ha diterima (Signifikan).
�
Jika ttabel < thitung, Ho diterima sehingga Ha ditolak (Tidak Signifikan).
Atau, dapat juga menggunakan Nilai Signifikasi:
�
Jika Sig < 0,05, Ho ditolak
sehingga Ha diterima (Signifikan).
�
Jika Sig > 0,05, Ho diterima
sehingga Ha ditolak (Tidak Signifikan).
Dari
tabel di atas dapat disimpulkan bahwa:
thitung (5,838) > ttabel
(1,669) maka Ha diterima
dan H0 ditolak.
Nilai
Sig (0,000) < 0,05) maka Ha diterima
dan H0 ditolak.
Artinya, koefisien variabel Blended
Learning (X1) secara parsial
memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel
Hasil Belajar (Y).
thitung (25,586) > ttabel
(1,669) maka Ha diterima
dan H0 ditolak.
Nilai
Sig (0,000) < 0,05) maka Ha diterima
dan H0 ditolak.
Artinya, koefisien variabel Media Pembelajaran (X2) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel
Hasil Belajar (Y).
thitung (7,262) > ttabel
(1,669) maka Ha diterima
dan H0 ditolak.
Nilai
Sig (0,000) < 0,05) maka Ha diterima
dan H0 ditolak.
Artinya, koefisien variabel Motivasi Belajar (X3) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Hasil Belajar (Y).
b. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Untuk
menguji signifikasi pengaruh variabel bebas yaitu Blended Learning (X1), Media Pembelajaran
(X2), dan Motivasi Belajar
(X3) terhadap variabel terikat
Hasil Belajar (Y) dapat digunakan uji F.
Kriteria pengambilan keputusan untuk menguji signifikansi adalah: Ho : ρYX1 = ρYX2 = 0
H1
: sekurang-kurangnya ada sebuah ρYX1 , ρYX2 0 Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak.
Tabel 12. Output ANOVA ANOVAa
|
Model |
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Regression |
309.358 |
3 |
103.119 |
567.582 |
.000b |
|
Residual |
11.628 |
64 |
.182 |
|
|
|
Total |
320.985 |
67 |
|
|
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Berdasarkan tabel diperoleh nilai Fhitung = 567,582 dengan nilai signifikansi 0,000, sedangkan Ftabel = 2,748. Karena nilai Fhitung > Ftabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari taraf signifikansi
5%, maka H0 ditolak dan regresi dapat digunakan
untuk memprediksi Hasil Belajar
(Y), atau secara bersama-sama variabel Blended
Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) berpengaruh terhadap Hasil Belajar
(Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dengan taraf kepercayaan
95%.
c. Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Untuk
mengetahui seberapa kuat dan seberapa besar nilai Blended Learning
(X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) berpengaruh terhadap Hasil Belajar
(Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dapat dilihat melalui
nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi.
Tabel 13. Analisis Koefisien
Determinasi Model Summaryb
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.982a |
.964 |
.962 |
.426 |
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Berdasarkan data pada tabel diperoleh nilai koefisien korelasi antara Blended Learning (X1), Media Pembelajaran
(X2), dan Motivasi Belajar
(X3) dengan Hasil Belajar
(Y) sebesar 0,982. Bila korelasi
tersebut diinterpretasikan
pada tabel klasifikasi koefisien korelasi menurut (TarsitoTarsito, 2014), maka hubungan antara
Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) dengan�� Hasil Belajar (Y) memiliki hubungan yang sangat kuat yakni 0,982. Sementara, besarnya pengaruh Blended
Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) secara bersama-sama terhadap
Hasil Belajar (Y) adalah sebesar 96,4%. Hal ini berarti
Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) sangat efektif dalam mempengaruhi
Hasil Belajar (Y) pada Siswa
kelas 6 SDS Narada Jakarta
untuk mata pelajaran Bahasa
Inggris dikarenakan hanya sebesar 3,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (є).
C. Interpretasi Hasil Penelitian
Berdasarkan berdasarkan hasil pengolahan data penelitian, maka dapat interpretasikan sebagai berikut:
1. Variabel
Blended Learning (X1) dengan Hasil Belajar (Y)
Hasil
pengujian hipotesis pertama, pada penelitian ini menunjukkan bahwa Blended
Learning (X1) berpengaruh positif
secara signifikan terhadap
Hasil Belajar (Y) pada Siswa
kelas 6 SDS Narada Jakarta
untuk mata pelajaran Bahasa
Inggris. Diyakini bahwa beban kognitif
asing menghambat pembelajaran; tujuan akhir merancang pembelajaran multimedia adalah
untuk mengurangi beban kognitif asing yang berkembang ketika informasi baru diintegrasikan dengan pengetahuan yang ada. Beban kognitif Germane adalah sumber daya mental individu yang digunakan untuk memperoleh dan mengotomatisasi skema dalam sistem
memori jangka. Tujuan akhir dari
pendidikan online adalah
untuk mengurangi beban kognitif siswa. Hubungan antara beban kognitif peserta didik dan hasil belajar telah
dipelajari secara ekstensif (Rerung, Sinon, & Widyaningsih, 2017).
Hasil
pengujian hipotesais kedua pada penelitian ini menunjukkan bahwa Media Pembelajaran (X2) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar
(Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Moser
et. All, 2017 lebih lanjut mencatat bahwa media digital bergerak, dalam arti "pembelajaran di
mana-mana," menawarkan peluang
yang menjanjikan untuk desain
proses pembelajaran yang fleksibel
dan mandiri. Selain itu, aplikasi digital yang agak baru, seperti opsi
AR, memadukan lingkungan fisik dan virtual peserta didik, dengan menambah
dunia nyata peserta didik dengan informasi
virtual tambahan pada tampilan
(Huda et al., 2020). Penggunaan media digital untuk pendidikan
tampaknya bermanfaat bagi meningkatkan pengetahuan mata pelajaran, motivasi, dan literasi media peserta didik. Namun, penggunaan informasi digital itu sendiri tidak
secara otomatis meningkatkan proses pembelajaran,
khususnya dalam lingkungan belajar yang diarahkan sendiri, seperti tempat belajar informal (Mursid & Yulia, 2019). Di sini, langkah-langkah pendukung untuk memandu proses pembelajaran diperlukan (Banner
M, et. All 2009, Lin M, et. All 2016, Mayer RE, et.all
2003).
Hasil
pengujian hipotesis ketiga pada penelitian ini menunjukkan bahwa Motivasi Belajar (X3) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Motivasi dapat mengarahkan anak-anak untuk mengejar peluang untuk belajar, yang kemungkinan akan menghasilkan peningkatan usaha, lebih banyak latihan, pengembangan keterampilan yang lebih cepat dan
pada akhirnya pencapaian
yang lebih tinggi (Aunola
et al., 2006). Penelitian tentang
motivasi pada anak sekolah dasar jarang
dilakukan, yang mungkin disebabkan oleh kesulitan dalam menilai motivasi
pada usia ini (Berhenke et
al., 2011).
Hasil
pengujian hipotesis keempat pada penelitian ini menunjukkan bahwa Blended
Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi
Belajar berpengaruh positif secara simultan terhadap Hasil Belajar
pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.
KESIMPULAN
Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Bank Syariah dan Bank Konvensional
dapat dikategorikan ke dalam tingkatan �Paham�. Hal ini dibuktikan dari jawaban-jawaban yang telah dilontarkan dari Masyarakat. Masyarakat paham
apa itu pengertian bank
syariah dan bank konvensional, mereka
juga mampu membedakan perbedaan bank syariah dan bank konvensional,
juga mereka sudah memahami produk-produk yang terdapat dalam bank syariah dan bank konvensional.
Terdapat dua faktor yang melatarbelakangi masyarakat menabung di bank syariah dan bank konvensional
yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi syarat pekerjaan, sedangkan faktor eksternal meliputi Lokasi dan tidak tertarik.
DAFTAR PUSTAKA
Bainus, Arry, &
Rachman, Junita Budi. (2020). Pandemi Penyakit Menular (Covid-19) Hubungan
Internasional. Intermestic: Journal of International Studies, 4(2),
111�123.
Butarbutar, Abdul Hakin,
& Rasyid, Muhammad. (2017). Perbedaan Hasil Belajar Instalasi Penerangan
Listrik Menggunakan Strategi Pembelajaran (PBL) dengan Strategi Pembelajaran
Ekspositori Siswa Kelas XI TIPTL SML Negeri 1 Percut Sei Tuan. Jurnal
Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 19(2).
Fitri, Ridha Ahsanul,
Adnan, Fachri, & Irdamurni, Irdamurni. (2021). Pengaruh Model Quantum
Teaching terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal
Basicedu, 5(1), 88�101.
Huda, Asrul, Kom, S.,
Kom, M., Almasri, M. T., Azhar, Nelda, Wulansari, Rizky Ema, Mubai, Akrimullah,
Sakti, Rizki Hardian, & Firdaus, S. Pd. (2020). Media Animasi Digital
Berbasis Hots (Higher Order Thinking Skill). UNP PRESS.
Khaira, Hafizatul.
(2021). Pemanfaatan aplikasi kinemaster sebagai media pembelajaran berbasis
ICT. Prosiding Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia
(SemNas PBSI)-3, 39�44. FBS Unimed Press.
Mursid, R., & Yulia,
Erma. (2019). Pengembangan pembelajaran dalam teknologi pendidikan di era ri
4.0.
Mustakim, Mustakim.
(2020). Efektivitas pembelajaran daring menggunakan media online selama pandemi
covid-19 pada mata pelajaran matematika. Al Asma: Journal of Islamic
Education, 2(1), 1�12.
Rerung, Nensy, Sinon,
Iriwi L. S., & Widyaningsih, Sri Wahyu. (2017). Penerapan model
pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik SMA pada materi usaha dan energi. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Fisika Al-Biruni, 6(1), 47�55.
Rian El Kharis, S. P.
(2022). STRATEGI PEMERINTAH KOTA MANADO DALAM MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT
MENGHADAPI PANDEMI COVID-19. JURNAL POLITICO, 11(2), 67�82.
Sanjaya, H. Wina.
(2016). Media komunikasi pembelajaran. Prenada Media.
Suhandoyo, Guntur, &
Wijayanti, Pradnyo. (n.d.). Arikunto, Suharsimi. 2015. Choices, 16,
269�291.
Susanti, Dewi Indah,
& Prameswari, Jatut Yoga. (2020). Adaptasi Blended Learning di Masa Pandemi
COVID-19 untuk Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Lingua Susastra,
1(2), 50�61.
TarsitoTarsito,
Sugiyono. (2014). (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Alfabeta. Bandung.
Zebua, Erlinda, &
Harefa, Anugerah Tatema. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Blended learning
Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1),
251�262.