PNEUMONIA DENGAN
KEJANG DEMAM KOMPLEKS
Reinildis Hildegardis Uruk Hane
Puskesmas Peibenga Kabupaten Ende, Indonesia
Abstrak:
Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru
yang meliputi alveolus dan jaringan
interstitial. Penelitian ini menggunakan
metode potong lintang dengan melihat rekam medis
pasien kejang demam Kompleks di Puskesmas Peibenga Kabupaten
Ende. Desain penelitiannya menggunakan
survei depskriptif dan dilakukan secara retrospektif untuk melihat karakteristik demografis dan klinis kejang demam
kompleks. Pengambilan data melalui rekam medis
ini sudah mendapat persetujuan
dan izin dari Puskesmas Peibenga Kabupaten
Ende. Telah dilaporkan satu kasus Pneumonia dengan kejang
demam kompleks
pada seorang anak perempuan usia 10 bulan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana dilakukan sesuai dengan pedoman MTBS. Pasien dirawat selama 5 hari dan dipulangkan dalam kondisi membaik dan diminta untuk kontrol kembali di Poli MTBS
Kata kunci: pneumonia; penyakiit; kejang demam kompleks
Abstract:
Pneumonia is an acute
infection of the lung parenchyma which includes the alveoli and interstitial
tissue. This study used a cross-sectional method by looking at the medical
records of patients with complex febrile seizures at the Peibenga
Health Center, Ende Regency. The research design used a descriptive survey and
was conducted retrospectively to look at the demographic and clinical
characteristics of complex febrile seizures. Data collection through medical
records has received approval and permission from the Peibenga
Health Center, Ende Regency. A case of Pneumonia with complex febrile
convulsions in a 10 month old girl has been reported.
Diagnosis is based on history, physical examination and supporting
examinations. Management is carried out according to MTBS guidelines. The
patient was treated for 5 days and was sent home in an improved condition and
was asked to return to control at the MTBS Poly
Keywords:
pneumonia; disease; complex febrile
seizures
�������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding:
Reinildis Hildegardis
Uruk Hane
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pneumonia adalah infeksi
akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial (IDAI, 2009). Pneumonia terus menjadi pembunuh terbesar anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. Meskipun penerapan intervensi yang aman, efektif dan terjangkau telah mengurangi kematian pneumonia dari 4 juta pada tahun 1981menjadi lebih
dari satu juta pada tahun 2013, pneumonia masih menyumbang hampir seperlima dari kematian anak
di seluruh dunia (World Health Organization, 2014). Pneumonia menyumbang antara 30% dan 40% dari pasien yang masuk ke rumah sakit,
dengan tingkat kematian kasus terkait antara 15% dan 28% (Zar, Jeena, Argent, Gie, & Madhi, 2009). Insiden pneumonia lebih dari 10 kali lipat lebih tinggi (0,29 episode vs 0,03 episode), dan jumlah kematian anak-anak terkait pneumonia 2.000
kali lipat lebih tinggi, di
negara berkembang daripada
di negara maju (Kelly & Sandora, 2016) Penyakit infeksi menjadi penyumbang kematian pada kelompok anak usia
29 hari - 11 bulan. Berdasarkan
data tahun 2019, pneumonia dan diare
masih menjadi masalah utama yang meyebabkan 979 kematian
(pneumonia) dan 746 kematian (diare).
Di NTT sendiri, pneumonia menduduki urutan ke-4 kasus tertinggi penyebab kematian post neonatal (29 Hari-11 Bulan) dengan jumlah kasus
sebanyak 83 kasus. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Diagnosis dini serta pengobatan yang cepat akan menurunkan
angka kematian (Subanada & Purniti, 2016).
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan melihat rekam medis pasien
kejang demam Kompleks di Puskesmas Peibenga Kabupaten Ende. Desain penelitiannya
menggunakan survei depskriptif dan dilakukan secara retrospektif untuk melihat karakteristik demografis dan klinis kejang demam kompleks.
Pengambilan data melalui rekam medis ini sudah mendapat persetujuan dan izin dari Puskesmas Peibenga
Kabupaten Ende.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
�� Pneumonia, didefinisikan
sebagai peradangan parenkim paru, adalah penyebab utama kematian secara global di antara anak-anak di bawah usia 5 tahun, terhitung
sekitar 1,2 juta (18%
total) kematian setiap tahun (Kelly & Sandora, 2016). Pneumonia adalah infeksi akut parenkim
paru yang meliputi alveolus
dan jaringan interstitial. Walaupun
banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia merupakan suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk membuat suatu definisi
tunggal yang universal. Pneumonia didefinisikan
berdasarkan gejala dan tanda klinis, serta
perjalanan penyakitnya.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan
pneumonia hanya berdasarkan
penemuan klinis yang didapat pada pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan (IDAI, 2009).
Pneumonia banyak mengenai
usia balita, anak dengan malnutrisi,
dan jenis kelamin laki-laki. (Nyoman, Putu, & Bagus, 2007). Berikut ini adalah faktor resiko
terjadinya pneumonia pada anak:
Tabel 1. Faktor Resiko
CAP (Community Acquired Pneumonia) (Zar et al., 2009)
|
Medis |
|
Umur < 1thn Prematuritas Malnutrisi Immunosupresi |
|
Sosial/Lingkungan |
|
Kepadatan Perumahan yang tidak memadai Paparan asap rokok secara pasif paparan bahan bakar dalam ruangan Musim dingin |
Pada kasus ini pasien
berumur 10 bulan dengan
status gizi normal dan berjenis
kelamin perempuan. Pasien tinggal di daerah yang memiliki suhu relatif
dingin dan ayah pasien memiliki kebiasaan merokok. Hal tersebut diatas yaitu usia,
kebiasaan orang tua merokok, dan udara dingin menjadi faktor resiko pasien
mengalami pneumonia. Pasien
juga tidak mendapatkan ASI eksklusif, dimana ASI non eksklusif meningkatkan resiko terkena pneumonia pada anak (Beletew, Bimerew, Mengesha, Wudu, & Azmeraw,
2020; Hadisuwarno, Setyoningrum, & Umiastuti, 2015)
Meskipun sebagian besar kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, penyebab noninfeksius termasuk aspirasi (makanan atau asam
lambung, benda asing, hidrokarbon, dan zat lipoid), reaksi hipersensitivitas, dan pneumonitis akibat
obat atau radiasi. Penyebab pneumonia pada pasien individual seringkali sulit ditentukan karena kultur langsung jaringan paru bersifat
invasif dan jarang dilakukan (Kelly & Sandora, 2016).
Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain virus, jamur, dan bakteri. S.
pneumoniae merupakan penyebab
tersering pneumonia bakterial
pada semua kelompok umur. Virus lebih sering ditemukan pada anak kurang dari 5 tahun.
Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan virus penyebab tersering pada anak kurang dari 3 tahun.
Pada umur yang lebih muda, adenovirus, parainfluenza virus, dan influenza
virus juga ditemukan. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia
pneumonia, lebih sering ditemukan
pada anak-anak, dan biasanya
merupakan penyebab tersering yang ditemukan pada anak lebih dari 10 tahun. Penelitian di Bandung menunjukkan bahwa Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang paling sering ditemukan pada apusan tenggorok pasien pneumonia umur 2-59 bulan(IDAI, 2009).
Berikut ini merupakan etiologi
dari pneumonia berdasarkan usia pasien :
Tabel 2. Agen etiologi dikelompokkan berdasarkan usia pasien (Kelly & Sandora, 2016)
|
Kelompok Usia |
Patogen tersering |
|
Neonatus (<3 minggu) |
Group B streptococcus, Escherichia coli, other
Gram-negative bacilli, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae (type b,* nontypeable) |
|
3 minggu
-3 bulan |
Respiratory syncytial virus, other respiratory
viruses (rhinoviruses, parainfluenza viruses, influenza viruses, adenovirus),
S. pneumoniae, H. influenzae (type b,* nontypeable); if patient is afebrile, consider Chlamydia
trachomatis |
|
4 bulan -4
tahun |
Respiratory syncytial virus, other respiratory
viruses (rhinoviruses, parainfluenza viruses, influenza viruses, adenovirus),
S. pneumoniae, H. influenzae (type b,* nontypeable), Mycoplasma pneumoniae, group A
streptococcus |
|
≥5 tahun |
M. pneumoniae, S. pneumoniae, Chlamydophila
pneumoniae, H. influenzae (type b,* nontypeable), influenza viruses, adenovirus, other
respiratory viruses, Legionella pneumophila |
Patogen tambahan yang terjadi pada anak yang terinfeksi HIV, termasuk infeksi oportunistik, tercantum dalam Tabel 3.
Tabel 3. Patogen
tambahan yang menyebabkan
pneumonia pada anak yang terinfeksi
HIV(Zar et al., 2009)
|
Bakteri |
|
Non-typhoid
salmonella, Klebsiella pneumonia, Streptococcus milleri,
Escherichia coli, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus |
|
Jamur |
|
Pneumocystis jirovecii (previously Pneumocystis carinii), Candida species |
|
Virus |
|
Cytomegalovirus,
Varicella zoster virus |
�� Saluran
pernapasan bagian bawah biasanya tetap steril oleh mekanisme pertahanan fisiologis, termasuk pembersihan mukosiliar, sifat-sifat sekresi normal seperti imunoglobulin sekretori (Ig) A, dan pembersihan
jalan nafas dengan batuk. Mekanisme
pertahanan imunologi paru-paru yang membatasi invasi oleh organisme patogen termasuk makrofag yang ada di alveoli dan bronkiolus, IgA sekretori, dan imunoglobulin lainnya. Trauma, anestesi, dan aspirasi meningkatkan risiko infeksi paru. Pneumonia virus biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi di sepanjang saluran napas, disertai dengan cedera langsung
dari epitel pernapasan, yang mengakibatkan obstruksi jalan napas karena pembengkakan, sekresi yang abnormal, dan sebris
seluler. Ukuran yang kecil saluran udara
pada bayi muda membuat pasien tersebut sangat rentan terhadap infeksi parah. Infeksi virus pada saluran pernapasan juga dapat menjadi predisposisi infeksi bakteri sekunder dengan mengganggu mekanisme pertahanan normal pejamu, mengubah sekresi, dan memodifikasi flora bakteri.
Pneumonia bakteri paling sering
terjadi ketika organisme saluran pernapasan mengkolonisasi trakea dan kemudian mendapatkan akses ke paru-paru, tetapi pneumonia juga dapat terjadi akibat
penyebaran langsung jaringan paru-paru setelah bakteremia. Ketika infeksi bakteri terbentuk di parenkim paru, proses patologis bervariasi sesuai dengan organisme yang menyerang.� M. pneumoniae menempel
pada epitel pernapasan, menghambat kerja silia, dan menyebabkan destruksi seluler dan respons inflamasi di submukosa. Saat infeksi berlanjut,
puing-puing seluler yang terkelupas, sel-sel inflamasi, dan mukus menyebabkan obstruksi jalan napas, dengan penyebaran infeksi yang terjadi di sepanjang pohon bronkial, seperti yang terjadi pada
pneumonia virus (Kelly & Sandora, 2016).
�� Diagnosis CAP harus
dipertimbangkan pada setiap
anak yang memiliki onset akut gejala pernapasan,
terutama batuk, napas cepat atau kesulitan
bernapas. Diagnosis meliputi
evaluasi klinis, evaluasi radiografi, dan pemeriksaan etiologi untuk: (i) menetapkan apakah
ada pneumonia; (ii) menilai
tingkat keparahan
pneumonia; dan (iii) menentukan organisme
penyebab (Zar et al., 2009).
�� Pneumonia sering
didahului oleh beberapa hari gejala infeksi
saluran pernapasan atas, biasanya rinitis dan batuk. Pada pneumonia
virus, demam biasanya terjadi tetapi suhu umumnya lebih rendah daripada pneumonia bakteri. Anamnesis yang perlu ditanyakan antara lain : batuk yang awalnya kering kemudian mejadi produktif dengan dahak purulent bahkan bisa berdarah,
sesak napas, demam, kesulitan makan/minum, tampak lemah, dan apakah serangan ini pertama atau berulang untuk membedakan dengan kondisi imunokompromais, kelainan anatomi bronkus, atau asma(Kelly & Sandora, 2016). Pada pasien ini didapatkan gejala demam, riwayat batuk pilek beberapa
hari sebelumnya, sesak napas dan kejang demam pada hari ke 3. Hasil
anamnesis ini mendukung diagnosa
pneumonia.
Pasien juga mengalami kejang demam. Kejang
demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada ke- naikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 380
C) yang disebabkan oleh suatu
proses ekstrakranium. Kejang
demam kompleks didefinisikan sebagai kejang demam dengan
salah satu ciri berikut ini:
Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang
berulang terjadi pada 16%
di antara anak yang mengalami kejang demam. Pasien mengalami
2 kali kejang dalam waktu 24 jam dengan lama kejang sekitar 1 menit, dan diantara 2 bangkitan kejang pasien sadar, sehingga
dapat disimpulkan bahwa anak juga mengalami kejang demam kompleks (Pusponegoro, Widodo, & Ismael, 2019).
Temuan fisik tergantung
pada stadium pneumonia. Di awal perjalanan
penyakit, suara napas berkurang, ronki tersebar, dan ronki sering terdengar di lapangan paru yang terkena. Dengan perkembangan peningkatan konsolidasi atau komplikasi pneumonia seperti efusi pleura atau empiema, didapatkan perkusi redup dan suara napas mungkin berkurang (Kelly & Sandora, 2016).
Pemeriksaan fisis dapat
berupa :
a.
Penilaian keadaan umum anak, frekuensi napas, dan
nadi harus dilakukan pada saat awal pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang
dapat menyebabkan anak gelisah atau rewel.
b. Penilaian keadaan
umum antara lain meliputi kesadaran dan kemampuan makan/ minum.
c. Gejala distres
pernapasan seperti takipnea, retraksi subkostal, batuk, krepitasi, dan penurunan suara paru.
d. Demam dan sianosis.
e. Anak di bawah 5 tahun mungkin
tidak menunjukkan gejala pneumonia yang klasik.
Pada anak yang demam dan
sakit akut, terdapat gejala nyeri yang diproyeksikan ke abdomen. Pada bayi
muda, terdapat gejala pernapasan tak teratur dan hipopnea (IDAI, 2009).
Takipnea adalah manifestasi klinis
pneumonia yang paling konsisten. Peningkatan
kerja pernapasan disertai dengan retraksi interkostal, subkostal, dan
suprasternal, pelebaran hidung,
dan penggunaan otot aksesori sering terjadi (Kelly & Sandora, 2016). Anak disebut mengalami napas cepat apabila pada umur 2 bulan -
<12 bulan : 50 kali atau
lebih per menit, dan pada umur
12 bulan -<5 tahun : 40 kali atau
lebih per menit. Pada anak dengan gejala batuk
atau sukar bernapas, Pedoman MTBS membagi klasifikasi menjadi tiga yaitu :
1. Pneumonia Berat :
apabila terdapat napas cepat disertai tarikan dinding dada ke dalam atau
saturasi oksigen <90%
Pada pasien ini didapatkan
adanya napas cepat dan ronkhi serta batuk,
sehingga sesuai dengan gejala-gejala pneumonia.
Pada pasien tidak didapatkan adanya retraksi pada dinding dada. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan saturasi oksigen karena keterbatasan sumber daya pulse oxymetri.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien antara lain
:�
Pemeriksaan Radiologi :
a.
Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara
rutin pada anak dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan tanpa
komplikasi.
b. Pemeriksaan foto
dada direkomendasikan pada penderita
pneumonia yang dirawat inap
atau bila tanda klinis yang ditemukan membingungkan.
c. Pemeriksaan foto
dada follow up hanya dilakukan
bila didapatkan adanya kolaps lobus,
kecurigaan terjadinya komplikasi, pneumonia berat, gejala yang menetap atau memburuk, atau tidak respons
terhadap antibiotik.
d. Pemeriksaan foto
dada tidak dapat mengidentifikasi agen penyebab.
Pemeriksaan Laboratorium
1.
Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis
leukosit perlu dilakukan untuk membantu menentukan pemberian antibiotik.
2.
Pemeriksaan kultur dan pewarnaan Gram sputum dengan
kualitas yang baik direkomendasikan dalam tata laksana anak dengan pneumonia
yang berat.
3.
Kultur darah tidak direkomendasikan secara rutin
pada pasien rawat jalan, tetapi direkomendasikan pada pasien rawat inap dengan
kondisi berat dan pada setiap anak yang dicurigai menderita pneumonia
bakterial.
4.
Pada anak kurang dari 18 bulan, dilakukan
pemeriksaan untuk mendeteksi antigen virus dengan atau tanpa kultur virus jika
fasilitas tersedia (IDAI, 2009).
Pada pasien ini dilakukan
pemeriksaan laboratorium leukosit darah, dan didapatkan hasil 10.600/mm3.
Tidak dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi
antigen virus karena keterbatasan
sumberdaya di puskesmas. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik kemudian ditegakkan diagnosa pneumonia yang disertai dengan kejang demam
kompleks.
Pada saat masuk UGD, perawat melaporkan kondisi
pasien dan melalui konsultasi dokter
via telp, berdasarkan
diagnose pneumonia dan kejang demam
komplek kemudian diberikan
penatalaksanaan yaitu :
a. Amoxicilin sirup 45
mg/kgbb/hari� dibagi 3 dosis (3x125 mg)
Pemilihan antibiotik dipengaruhi oleh epidemiologi penyakit organisme yang menginfeksi di daerah tersebut, prevalensi resistensi obat, prevalensi HIV dan sumber daya yang tersedia. Karena sulit dibedakan antara pneumonia yang disebabkan
oleh bakteri dan yang disebabkan
oleh infeksi virus, dan karena
frekuensi� infeksi campuran bakteri-virus (setidaknya
30-40%), anak-anak dengan
pneumonia memerlukan antibiotika.
(Zar et al., 2009). Pada sebuah penelitian mendapatkan suhu ≥39�C sesaat sebelum pengambilan sampel darah berhubungan dengan bakteremia(Subanada & Purniti, 2016). Kebanyakan pneumonia bakteri responsif terhadap amoksisilin, menjadikan
amoxicillin sebagai antibiotik
pilihan. Pada hari pertama pasien diberikan dosis standar amoxicillin. Pada pneumonia, terapi
oksigen harus digunakan untuk mengobati hipoksia.� Hipoksemia hanya dapat dinilai secara
akurat jika menggunakan pulse oxymetri :
i) Bila oksimetri nadi tersedia, mulailah terapi oksigen saat saturasi
transkutan kurang dari 90-92% di udara ruangan.
ii) Bila oksimetri nadi
tidak tersedia, terapi oksigen harus digunakan bila ada: (a) sianosis
sentral; (b) penarikan dada
bagian bawah ke dalam; (c) merintih; (d) gelisah; (e) ketidakmampuan untuk
minum atau makan; dan (f) frekuensi
pernapasan >70 kali per menit
(Zar et al., 2009).
Pada pasien, walaupun
tidak memiliki pulse oxymetri, dengan melihat kondisi pasien, saat ini pasien belum memerlukan
terapi oksigen. Pedoman MTBS WHO mendefinisikan 'tanda bahaya' spesifik
yang menunjukkan parah penyakit yang memerlukan rujukan ke rumah sakit termasuk ketidakmampuan untuk minum, kejang,
kantuk yang tidak normal, atau muntah terus-menerus
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019; Zar
et al., 2009). Dengan pertimbangan ini maka pasien diminta
untuk dirawatinap di puskesmas
untuk dilakukan observasi tanda bahaya tersebut.
Pada hari kedua perawatan, pasien masih mengalami demam dan sesak namun tidak mengalami
kejang, sehingga setelah pemeriksaan langsung oleh dokter, dipertimbangkan untuk menaikkan dosis obat menjadi :
1.
Amoxicilin sirup 45 mg/kgbb/kali, 2 kali pemberian
(2x378 mg)
2. Pulvis
Asetilsistein 20 mg + dexamethason 0,2 mg + salbutamol 0,8
mg + CTM 1 mg
3. Paracetamol drops 4
x 1,2 cc bila demam
4. Dilakukan kompres
hangat
Berdasarkan rekomendasi WHO terdapat kemanjuran dosis amoksisilin yang lebih tinggi (80-90 mg/kg/hari) vs dosis amoksisilin yang lebih rendah (45 mg/kg/hari) atau dengan kata lain amoksisilin lebih efektif bila diberikan dalam dosis yang lebih tinggi(World Health Organization, 2014). Hal ini juga sesuai dengan pedoman MTBS pada anak dengan pneumonia diberikan dosis Amoxicillin 45
mg/kgbb/kali selama 3 hari. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Anak-anak dengan pneumonia dengan napas cepat tanpa tarikan
dinding dada ke dalam atau tanda bahaya
umum harus diobati dengan amoksisilin oral: setidaknya 40
mg/kg/dosis dua kali sehari
(80mg/kg/hari) selama lima hari. Di daerah dengan prevalensi HIV rendah, diberikan amoksisilin selama tiga hari. Anak-anak dengan pneumonia pernapasan cepat yang gagal pada pengobatan lini pertama dengan
amoksisilin harus memiliki pilihan rujukan ke fasilitas di mana terdapat pengobatan lini kedua yang sesuai (World Health Organization, 2014). Berdasarkan sumber lain, anak-anak
usia 3 bulan sampai 5 tahun harus diobati
dengan amoksisilin oral
(50-90 mg/kg/dosis) selama
7-10 hari (Federico et al., 2018).
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan
antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam (level I, rekomendasi D), namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan
(level III, rekomendasi B). Dosis
parasetamol yang digunakan adalah 10 �15 mg/kg/kali diberikan
4 kali sehari dan tidak
lebih dari 5 kali. Dosis
Ibuprofen 5-10 mg/ kg/kali , 3-4 kali sehari (Pusponegoro et al., 2019; Zar et al., 2009). Pada pasien ini dosis paracetamol yang diberikan adalah dosis maksimal dan sudah sesuai dengan konsensus
yakni paracetamol drop 4 x 120 mg (4 x 1,2cc) apabila pasien mengalami demam (>38,5oc).
Pada hari ketiga perawatan, kondisi pasien mulai membaik
dan kembali aktif, tidak ada kejang,
demam mulai turun hingga 38,1oC namun pasien masih
mengalami takipneu dan masih terdapat ronkhi pada pulmo sinistra. Dokter kemudian melakukan konsultasi kepada dokter spesialis
anak. Hasil konsultasi berupa dilakukan penghentian terapi Chlorpheniramine
maleat dan penambahan terapi dexamethason injeksi 0,6 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis
(3x1,68 mg) atau 3x0,3 cc iv dan pemberian
Nebul ventolin 0,1 ml/kgbb/kali tiap 4 jam. Anak-anak dengan pneumonia tanpa komplikasi harus menerima cairan pemeliharaan normal. Rehidrasi yang tepat diperlukan pada anak-anak yang mengalami dehidrasi (Zar et al., 2009). Pasien kemudian diberikan infus RL maintenance dengan dosis 840 cc/24 jam dan penambahan
terapi sesuai hasil konsultasi dengan dokter spesialis
anak. Pada pasien ini diberikan asetilsistein, kortikosteroid dan bronkodilator inhalasi. Sedangkan pada sebuah referensi disebutkan bahwa agen mukolitik tidak disarankan dan tidak ada bukti
yang mendukung penggunaan kortikosteroid oral atau inhalasi. Bronkodilator nebulasi atau salin
juga tidak memperbaiki hasil CAP (Zar et al., 2009). Namun pada pedoman MTBS disarankan apabila terdapat mengi/whezzing, dapat diberikan nebulisasi salbutamol 2,5 mg+ Nacl
0,9% hingga 4-6 ml setiap 4
jam. Dan apabila tidak tersedia, dapat diberikan salbutamol oral 3 kali sehari
selama 3 hari, dengan dosis 1 mg untuk BB <10
kg dan 2 mg untuk BB 10-19 kg. Untuk meredakan batuk dan melegakkan tenggorakan dengan bahan yang aman dapat diberikan ASI eksklusif bagi bayi sampai umur 6 bulan, kecap manis atau
madu dicampur dengan jeruk nipis
(madu tidak dianjurkan untuk anak <1 tahun). Semua jenis
obat batuk yang dijual bebas, yang mengandung atropine, codein dan derivatnya atau alohol serta obat-obatan
dekongestan oral dan nasal tidak
dianjurkan. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Nebulisasi dengan β2 agonis dan/atau
NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary
clearance(IDAI, 2009). Untuk anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan
CAP, kortikosteroid tambahan
dikaitkan dengan LOS rumah
sakit yang lebih pendek di antara
pasien yang menerima terapi �-agonis secara bersamaan. Di antara pasien yang tidak menerima terapi ini, kortikosteroid sistemik dikaitkan dengan LOS yang lebih
lama dan kemungkinan masuk kembali yang lebih besar. Jika terapi �-agonis dianggap sebagai proxy untuk mengi, menunjukkan bahwa di antara pasien yang dirawat di rumah sakit dengan
diagnosis CAP, hanya mereka
dengan mengi akut yang mendapat manfaat dari terapi
kortikosteroid sistemik tambahan (Weiss et al., 2011).
Pada hari keempat perawatan, kondisi pasien membaik dan aktif, tidak ada
kejang, dan tidak mengalami demam. Pasien kadang masih
mengalami sesak. Perawatan dilanjutkan hingga hari kelima.
Pada hari kelima perawatan, pasien sudah tidak mengalami sesak, demam, dan kejang. Pasien sudah aktif bermain dan makan minum seperti biasa.
Berdasarkan kriteria pulang :
a. Gejala dan tanda
pneumonia menghilang
Karena sudah memenuhi kriteria,
maka pasien kemudian dipulangkan dan dilakukan perawatan lanjutan terapi oral di rumah. Orangtua pasien diminta untuk membawa anaknya kontrol pada tgl.11 Mei
2020.
Pasien dengan pneumonia bakterial yang didapat dari komunitas menunjukkan respons terhadap terapi, dengan perbaikan klinis. Biasanya, pasien dengan pneumonia bakterial tanpa komplikasi menunjukkan respons terhadap terapi, dengan perbaikan gejala klinis (demam, batuk, takipnea, nyeri dada), dalam 48-96 jam setelah pneumonia menunjukkan respons terhadap terapi, dengan perbaikan gejala klinis (demam, batuk, takipnea,
nyeri dada), dalam 48-96
jam setelah pemberian antibiotik. Bukti radiografis dari kelambatan perbaikan gejala (demam, batuk, takipnea,
nyeri dada), dalam 48-96
jam setelah inisiasi antibiotik. Bukti radiografik perbaikan jauh tertinggal dari klinis (Kelly & Sandora, 2016).
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak
pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis
umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang
lama atau kejang berulang baik umum atau fokal. Kejang
demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya
kejang demam adalah :
Bila seluruh faktor
di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah
80%, sedangkan bila tidak terdapat fak- tor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya
10%-15%. Kemungkinan berulangnya
kejang demam paling besar pada tahun pertama. Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari (Pusponegoro et al., 2019)
KESIMPULAN
�� Telah dilaporkan satu kasus Pneumonia
dengan kejang demam kompleks pada seorang anak perempuan usia 10 bulan. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Tatalaksana dilakukan sesuai dengan pedoman
MTBS. Pasien dirawat selama 5 hari dan dipulangkan dalam kondisi membaik dan diminta untuk kontrol kembali di Poli MTBS.
DAFTAR PUSTAKA
Beletew,
Biruk, Bimerew, Melaku, Mengesha, Ayelign, Wudu, Mesfin, & Azmeraw, Molla.
(2020). Prevalence of pneumonia and its associated factors among under-five
children in East Africa: a systematic review and meta-analysis. BMC
Pediatrics, 20, 254. https://doi.org/https://doi.org/10.1186/s12887-020-02083-z
Federico, MJ, Baker, CD,
Deboer, EM, Halbower, AC, Kupfer, O., Martiniano, SL, Sagel, SD, Stillwell, P.,
Zemanick, ET, Caraballo, M., & Hawkins, S. (2018). COMMUNITY-ACQUIRED
BACTERIAL PNEUMONIA. In Current Diagnosis and Treatment: Pediatrics
(24th ed.). McGraw-Hill Education.
Hadisuwarno, Wiharjo,
Setyoningrum, Retno Asih, & Umiastuti, Pirlina. (2015). Host factors
related to pneumonia in children under 5 years of age. Paediatrica
Indonesiana, 55(5), 248. https://doi.org/10.14238/pi55.5.2015.248-51
IDAI. (2009). Pneumonia.
In Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia (Vol. 1, pp.
250�255). https://doi.org/10.1136/adc.25.122.190
Kelly, MS, &
Sandora, TJ. (2016). Community-Acquired Pneumonia. In Nelson Textbook of
Pediatrics (20th ed., pp. 3090�3096). Philadelphia: Elsevier.
Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. (2019). Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
(pp. 2, 11-12,17). pp. 2, 11-12,17. Jakarta.
Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. (2020). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019.
https://doi.org/10.5005/jp/books/11257_5
Nyoman, Budastra I.,
Putu, Siadi Purniti, & Bagus, Subanada Ida. (2007). Pneumonia Atipikal. Sari
Pediatri, 9(2), 138�144.
Pusponegoro, Hardiono,
Widodo, Dwi Putra, & Ismael, Sofyan (Ikatan Dokter Anak Indonesia). (2019).
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Ikatan Dokter Anak Indonesia,
1�23.
Subanada, Ida Bagus,
& Purniti, Ni Putu Siadi. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Pneumonia Bakteri pada Anak. Sari Pediatri, 12(3), 184.
https://doi.org/10.14238/sp12.3.2010.184-9
Weiss, Anna K., Hall,
Matthew, Lee, Grace E., Kronman, Matthew P., Sheffler-Collins, Seth, &
Shah, Samir S. (2011). Adjunct corticosteroids in children hospitalized with
community-acquired pneumonia. Pediatrics, 127(2), 255�263.
https://doi.org/10.1542/peds.2010-0983
World Health
Organization. (2014). Revised WHO Classification and Treatment of Childhood
Pneumonia at Health Facilities: Evidence Summaries. In Who.
Zar, H., Jeena, Prakash,
Argent, Andrew, Gie, Robert, & Madhi, Shabir. (2009). Diagnosis and
Management of Community-Acquired Pneumonia in Childhood�South African Thoracic
Society Guidelines. South Afr J Epidemiol Infect, 95.
�