STUDI PENGGUNAAN MATERIAL BATU ALAM PADA
BANGUNAN MASJID
Langgeng1,
Susetyarto2
Study Program of Sarjana Arsitektur,
Universitas Trisakti, Indonesia 11440;
Department of Architecture, Universitas Trisakti,
Indonesia 11440,1,2
[email protected]1, [email protected]2
Diterima: 01-08-2022������������������������������������� Review: 11-08-2022������������������������ ��������������� Publish:
16-08-2022
Abstrak:
Pada umumnya suatu bangunan dibuat menggunakan bata tanah liat atau
bata ringan. Namun jauh sebelum
bata tanah liat atau bata
ringan dipopulerkan, batu alam adalah salah satu material yang sering digunakan untuk pembangunan. Penggunaan berbagai jenis batu alam kembali popular di jaman modern mulai sekitar awal tahun
1960 dimana batu alam sudah mulai banyak
digunakan untuk bangunan, salah satunya penggunaan batu alam pada bangunan masjid. Meskipun sudah banyak pengrajin
batu alam, terutama di
Indonesia, namun pengetahuan
tentang manfaat dan cara pengaplikasian batu alam pada bangunan masjid masih minim diketahui oleh khalayak. Sehingga saat ini hanya
sedikit bangunan masjid
yang menggunakan material batu alam.
Artikel ini membahas tentang
penggunaan material tersebut
serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Hasil pembahasan menunjukkan teknik pemasangan, cara perawatan dan finishing batu alam
pada bangunan masjid secara
umum
Kata kunci: Batu Alam,
Masjid
Abstract:
In
general, a building is made using clay brick or light brick. But long before
clay brick or lightweight brick was popularized, natural stone was one of the
materials that was often used for construction. The use of various types of
natural stone is popular again in modern times starting around the early 1960s
where natural stone has begun to be widely used for buildings, one of which is
the use of natural stone in mosque buildings. Although there are many natural
stone craftsmen, especially in Indonesia, knowledge about the benefits and how
to apply natural stone in mosque buildings is still minimally known to the
public. So that currently only a few mosque buildings use natural stone materials.
This article discusses the use of these materials and the factors that
influence them. The results of the discussion show installation techniques, how
to treat and finish natural stone in mosque buildings in general
Keywords:
Batu Natural, Mosque�������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Langgeng
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pada umumnya suatu bangunan dibuat menggunakan bata tanah liat atau
bata ringan. Namun jauh sebelum
bata tanah liat atau bata
ringan dipopulerkan, batu alam adalah salah satu material yang sering digunakan untuk pembangunan (Fatriady et
al., 2022). Hal ini
dapat dilihat pada monumen-monumen Mesir kuno, seperti The Great Pyramid
of Cheops yang dibangun dari
blok batu kapur besar pada 2560 SM. Bangsa Yunani
juga membangun kuil-kuil dari material batu marmer. Di
Indonesia sendiri berbagai jenis batu alam sejak dulu telah
dimanfaatkan, hal ini terbukti dengan
banyaknya patung, candi, dan peninggalan lainnya yang terbuat dari batu alam (Partono, 2010).
Berdasarkan data dari Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral Tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia untuk negara
dengan kekayaan sumber daya geologi
terbesar (Ester,
Ramadhan, Halim, & Kantong, 2022). Indonesia juga memiliki sumber
daya geologi komoditas non-logam berupa zeolit, pasir kuarsa, batuan
karbonat, marmer, granit, pasir dan batu, dan
mineral serta batuan non-logam lainnya yang dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia (Nabila
Ramadhani, 2022). Dari sekian
banyak jenis batuan alam yang ada di Indonesia, menurut artikel matsansaga.com, sebagian besar masyarakat belum mengetahui tentang batu alam dan kesulitan untuk mendapatkan informasi bagaimana memilih batu alam untuk digunakan pada bangunan (Pangaribuan & Belladona, 2017).
Penggunaan berbagai jenis batu alam kembali popular di jaman modern mulai sekitar awal tahun
1960 dimana batu alam sudah mulai banyak
digunakan untuk bangunan, salah satunya penggunaan batu alam pada bangunan masjid, misalnya penggunaan material marmer pada lantai masjid, serta penggunaan batu Paras atau Palimanan pada dinding dan fasad (Witman, 2020). Selain sebagai
unsur estetika pada bangunan masjid yang identik dengan kemegahan dan suasana sejuk alami,
juga karena sifat-sifat
batu alam yang tahan terhadap cuaca dan juga ramah lingkungan. Oleh karena itu, batu alam membutuhkan perawatan supaya tetap terlihat
estetik dan bersih (Nono, Djoko, & Budiyono, 2014).
Meskipun sudah banyak pengrajin batu alam, terutama di Indonesia, namun pengetahuan tentang manfaat dan cara pengaplikasian dan perawatan batu
alam pada bangunan masjid masih minim diketahui oleh khalayak. Sehingga saat ini hanya
sedikit bangunan masjid
yang menggunakan material batu alam
(Susila, 2014). Oleh karena itu, perlu adanya kajian
mengenai pemanfaatan batu alam, terutama pada bangunan masjid.
Penelitian ini bertujuan untuk dapat digunakan
sebagai acuan dalam membuat desain
bangunan masjid di Kabupaten
Magelang menggunakan
material batu alam sebagai Tugas Akhir.
Dari hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat sehingga dapat mengetahui teknik pemasangan dan perawatan batu alam, dan dapat menerapkan pemanfaatan batu alam pada bangunan masjid, serta dapat dijadikan
referensi bagi negara dan bangsa untuk mengurangi
penggunaan material import.
METODE PENELITIAN
Metode
yang dipakai dalam penelitaian ini menggunakan metode Studi Pustaka, dalam hal ini data-data yang dirujuk dari jurnal,
artikel, dan studi literatur dari hasil penelitian yang relevan sebagai acuan landasan penelitian.

Gambar 1. Metode Riset Studi Perpustakaan
Sumber : Susetyarto,
2021
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis-jenis Batu Alam
Batu alam
berasal dari dalam perut bumi ymang awalnya berbentuk batuan cair yang sangat
panas (Herdiansyah & Pangaribuan, 2013). Akibat tekanan yang sangat kuat mendesak ke luar
permukaan bumi dan akhirnya menjadi letusan gunung berapi. Setelah mengendap dan
membeku menjadi batuan, terdiri dari batuan beku, batuan sedimen dan batuan
malihan. Setelah ratusan tahun tercampur dengan mineral-mineral lain
menyebabkan variasi dari jenis-jenis batu alam, warna, ataupun corak (Pangaribuan
& Belladona, 2017). Karena itu kita mengenal berbagai jenis batu alam
seperti marmer, granit, batu pasir (sandstone), batu sabak slate, batu andesit
dan banyak lagi lainnya (Pubi, 1997). Menurut proses terjadinya dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu
batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorphic, (Departemen Perindustrian,
1990/1991).
1. Batuan Beku. Batuan ini merupakan batuan yang
terbentuk karena adanya proses pengkristalan magma. Pada saat magma mengalami
penurunan suhu/ pendinginan yang terjadi di dalam bumi maupun di permukaan bumi
maka terjadilah pengkristalan magma. Berikut ini contoh batuan beku, yaitu
Breksi, Basalt, Obsidian, Tonalite, Andesite, Kimberlite dan Pegmatile.
2. Batuan Sedimen. Batuan ini terjadi karena adanya
proses pengendapan yang terdiri dari partikel pasir, kerikil, lempung, dan
endapan lumpur. Proses alami ini berlangsung sangat lama sehingga terjadi
ikatan yang erat dan semakin tertutup rapat. Menurut Joel. E. Arem, (1977),
kurang lebih 75% batu-batuan yang keluar dari bumi terjadi karena adanya proses
pengendapan baik di udara terbuka maupun saat terjadi di dalam air, dan
kejadian ini diikuti dengan terendapnya partikel mineral di dalam air. Berikut
adalah contoh batuan sedimen, yaitu Kapur, Kalsit, Arkose, Skale, Serpih,
Conglomerate, Graywake dan Sandstone.
3. Batuan Metamorphic. Batuan ini terbentuk karena
adanya pengaruh suhu/ cuaca dan tekanan terhadap batu yang ada di permukaan
bumi. Contoh batuan metamorphic adalah Marmer, Pualam, Skarn, Kuarsa, Marble,
Sabak, dan Slate.
Cara Memilih Batu Alam
Dari
banyaknya jenis batu alam, terdapat beberapa cara untuk menentukan batu alam
yang akan digunakan: 1. Disarankan memilih batu bukan dari pertimbangan
harganya. Lebih mahal tidak selalu lebih baik atau lebih indah. Faktor harga
biasanya ditentukan oleh banyak sedikitnya kuantitas ketersediaan batu alam,
perbedaan biaya proses, perbedaan biaya pengangkutan, dan perbedaan banyaknya
perminataan pasar. Jadi harus disesuaikan dengan kebutuhan. 2. Beberapa jenis
batu seperti batu paras dan batu breksi memiliki sifat porous (mudah meresap).
Batu yang memiliki sifat porous sebaiknya tidak digunakan untuk tempat yang
lembab.
Teknik Perawatan Batu Alam
Menurut artikel ahlikuli.com, untuk merawat batu alam
terdapat beberapa langkah, yaitu:
1.
Langkah pertama dengan membersihkan batu alam dengan
menggunakan spons, kain yang lembut atau sikat yang lembut. Lakukan pembersihan
dengan cara memutar agar batu alam tidak tergores.
2. Membersihkan dengan
air yang dicampur dengan sabun (pH netral), lalu sikat secara
halus kemudian dibilas dengan air bertekanan tinggi.
3.
Lap dengan kain halus
agar batu alam lebih cepat kering.
4.
Perhatikan coating batu, jika kondisi
masih bagus maka langkah pembersihan
sudah selesai.
Keunggulan Dan Manfaat
Menurut
artikel fagetti.com, batu alam merupakan material alami yang sangat kuat
sehingga dapat difungsikan sebagai penutup fasad bangunan atau cladding. Batu alam juga bisa bertahan
lama dengan terpaan cuaca ekstrim hingga bertahun-tahun. Selain itu, baru alam
termasuk dalam kategori material ramah lingkungan, karena proses pengolahannya
membutuhkan biaya dan emisi yang rendah serta dapat di daur ulang. Batu alam
juga dapat menjadi insulasi termal alami yang paling ideal. Ketika
diaplikasikan pada fasad bangunan, batu alam dapat mencegah dan menghambat
perpindahan panas dari sinar matahari atau cuaca ekstrem yang lain. Pengunaan
fasad dengan material batu alam dapat membuat ruangan menjadi lebih sejuk.
Fasad batu alam juga dapat menjadi insulasi akustik yang meredam kebisingan suara
yang berasal dari luar bangunan. Desain batu alam juga tak lekang oleh waktu
karena batu alam dapat ditambang baik di permukaan maupun di perut bumi. Proses
pembentukan batu di alam juga tidak sebentar tapi membutuhkan waktu ribuan
tahun. Alhasil, warna dan motif batu alam yang tercipta sangat unik dan tak
bisa diulang.
Studi Banding
Masjid
Jami� Tua, Palopo
Masjid Tua
Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu berada di kota Palopo,
Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu tahun 1604 M. Memiliki
luas 15 m�. Tiang utama Masjid Tua Palopo terbuat dari pohon Cinaduri, serta
dinding yang terbuat dari susunan batu cadas yang ditempelkan menggunakan bahan
campuran dari putih telur (Herdiansyah
& Pangaribuan, 2013). Sejak Masjid Tua didirikan, masjid ini sudah
mengalami beberapa kali perluasan menjadi seluas 1.680m2 di tahun 1981 dengan
menggunakan material yang sama, tetapi struktur dinding batu cadas tidak banyak
mengalami perubahan, hanya dipoles kembali setiap beberapa tahun sekali sebagai
perawatan rutin.

Gambar 3. Masjid Tua, Palopo
Sumber : bujangmasjid.blogspot.com
Masjid
Jami Betawi Al Karomah, Kab.
Bekasi
Masjid Jami
Betawi Al Karomah, atau dikenal juga dengan sebutan Masjid Tugu terletak di
tengah Kampung Pahlwan Setia, Tarumajaya, Kab. Bekasi yang mengandung nilai
sejarah perjuangan NKRI melawan KNIL di tahun 1947. Keseluruhan bangunan masjid
terbuat dari susunan batu kali dengan ukuran yang beragam, ditempel menggunakan
semen.
Gambar 4. Masjid Jami Betawi Al Karomah
Sumber : id.berita.yahoo.com
Tabel 1. Rekapitulasi Studi
Banding Masjid
|
No. |
Nama Masjid |
Jenis Batu Alam |
Pemasangan |
|
1. |
Masjid Jami� Tua, Palopo |
Batu Cadas |
Kumpulan
batu cadas ditempel menggunakan campuran putih telur |
|
2. |
Masjid Jami Al Karomah. Kab. Bekasi |
Batu Kali |
Kumpulan
batu kali ditempel menggunakan
semen |
KESIMPULAN
Mengaplikasikan batu alam ke dalam bangunan bukan merupakan pekerjaan yang sulit, karena Indonesia punya persediaan
batu alam yang melimpah. Untuk memilih jenis
batu alam sebelumnya harus mengetahui sifat-sifat batu alam terlebih dulu supaya
dapat disesuaikan dengan fungsi dan peletakannya.
Penggunaan batu alam sangat ideal untuk
bangunan masjid. Batu alam dapat digunakan pada lantai dan juga dinding, baik interior maupun eksterior. Penggunaan material
batu alam pada lantai dan dinding masjid dapat menjadikan masjid menjadi lebih sejuk karena
sifat batu alam sebagai insulator alami. Contoh batu alam yang dapat digunakan pada masjid yaitu, marmer, batu andesit, batu cadas, batu palimanan, dan batu kali. Untuk bagian eksterior disarankan untuk tidak memakai batu alam yang berisfat porous, seperti batu paras dan batu breksi
yang sifatnya mudah menyerap air.
DAFTAR
PUSTAKA
Ester, Villy, Ramadhan,
Dylan Aldianza, Halim, Evelyne Julian, & Kantong, Brandon Christopher.
(2022). THORIUM: Energi Alternatif Baru Berbasisi Nuklir Sebagai Jawaban Atas
Keberlangsungan Ketahanan Energi di Indonesia. Ikatan Penulis Mahasiswa
Hukum Indonesia Law Journal, 2(1).
Fatriady, M. R.,
Rachman, M. Rais, Jamal, Mardewi, Muliawan, I. Wayan, Mustika, Wayan, &
Mabui, Didik Suryamiharja S. (2022). Teknologi Bangunan dan Material.
TOHAR MEDIA.
Herdiansyah,
Herdiansyah, & Pangaribuan, Mekar Ria. (2013). Pengaruh Batu Cadas (Batu
Trass) Sebagai Bahan Pembentuk Beton Terhadap Kuat Tekan Beton. Inersia:
Jurnal Teknik Sipil, 5(2), 11�20.
NABILA RAMADHANI, HAFIZ.
(2022). NERACA SUMBER DAYA DAN CADANGAN MINERAL DI WILAYAH KENDENG SELATAN
DALAM RANGKA PENINGKATAN PENERIMAAN PAJAK DAN INVESTASI. UPN�Veteran"
Yogyakarta.
Nono, Marselinus M.,
Djoko, Riyanto, & Budiyono, Debora. (2014). Penerapan Batu Alam Pada Desain
Lanskap Ruang Terbuka Publik Kota Malang. Fakultas Pertanian, 2(2).
Pangaribuan, Mekar Ria,
& Belladona, Meilani. (2017). IbM Pembuatan Batu Alam Buatan Menggunakan
Bahan Baku Tempurung, Karang, Pasir dan Semen. Dharma Raflesia: Jurnal
Ilmiah Pengembangan Dan Penerapan IPTEKS, 15(2).
Partono, Tri. (2010). Manifestasi
budaya indis dalam arsitektur dan tata kota Semarang pada tahun 1900-1950.
Susila, Dwi Agus.
(2014). IMPRESIF BATU ALAM (Sebuah Kajian Kerajinan Batu Alam di Desa Ngeposari
Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta). Corak: Jurnal Seni Kriya,
3(2).
Umum, Departemen
Pekerjaan. (1997). Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Direktorat Jenderal
Bina Marga, Jakarta.
Witman, Yuda Wira.
(2020). Geliat Kerajinan Rumahan Batu Pualam Tulungagung 1961-1990.
UNIVERSITAS AIRLANGGA.
https://www.fagetti.com/post/5-keunggulan-batu-alam-untuk-fasad-bangunan,
diakses pada 3 April 2022.
https://www.ahlikuli.com/cara-merawat-batu-alam-dinding/,
diakses pada 16 April 2022
https://www.matsansaga.com/2020/03/memilih-jenis-batu-alam-berkualitas.html,
diakses pada 17 April 2022