PERSEPSI DAN PERILAKU
MASYARAKAT PASCA VAKSINASI COVID-19 TERHADAP PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN DI
KECAMATAN TUBAN
Widya Nuraini1,
Wahyu Tri Ningsih2, Aby Yazid Al Busthomy Rofi'i 3
Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia
[email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak:
Lebih dari 40% masyarakat Indonesia telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap, yang mana telah berhasil melampaui target WHO. Namun konfirmasi positif COVID-19 masih terus bertambah.
Di Kecamatan Tuban banyak ditemui masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19 terutama memakai masker dan menjaga jarak yang mana hal tersebut termasuk faktor penyebab penularan COVID-19. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui
persepsi dan perilaku masyarakat pasca vaksinasi COVID-19 terhadap penerapan
protokol kesehatan di Kecamatan Tuban. Desain penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam
penelitian adalah seluruh masyarakat Kecamatan Tuban yang telah divaksin COVID-19 minimal dosis 1, besar sampel 96 orang dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuisioner berupa link google form. Setelah data terkumpul kemudian diolah dan ditabulasi secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar masyarakat memiliki persepsi negatif, hampir seluruh masyarakat memiliki perilaku kurang, dan hampir seluruh masyarakat yang berperilaku kurang memiliki persepsi negatif terhadap penerapan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19. Dengan persepsi negatif dan perilaku kurang dalam menerapkan protokol kesehatan dapat menyebabkan penularan COVID-19. Untuk itu diperlukan
sosialisasi terkait pentingnya penerapan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19 terutama memakai masker dan menjaga jarak saat
berada di tempat umum.
Kata kunci: Persepsi, Perilaku, Protokol Kesehatan COVID-19
Abstract:
More than 40% of Indonesian people have received
the full dose of COVID-19 vaccine, which has successfully exceeded the WHO
target. But the positive confirmation of COVID-19 is still growing. In the
Sub-district of Tuban, there are many people who do
not implement health protocols after COVID-19 vaccination especially wearing
mask and maintaining distance which are factors that cause COVID-19
transmission. This research aims to determine public perception and behavior
after COVID-19 vaccination on application of health protocols in the
Sub-district of Tuban. This research design used
descriptive with cross sectional approach. Population in this research is the
entire people in the Sub-district of Tuban who has
received at least first dose of COVID-19 vaccine, total sample 96 people with
the sampling technique used purposive sampling. Data collection tool used
questionnaire with link google form. After the data is collected then it will
be processed and tabulated descriptively. The results of this research indicate
that most people have negative perceptions, almost all people have poor
behavior, and almost all people who have less behavior have a negative
perception in implementing health protocols after COVID-19 vaccination. With
negative perception and less behavior in implementing health protocols can
cause COVID-19 transmission. For this reason, socialization is needed about the
importance of implementing health protocols after COVID-19 vaccination,
especially wearing mask and maintaining distance when in public places.
Keywords:
Perception, Behavior, COVID-19 Health Protocols
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Widya Nuraini
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Hingga saat ini pandemi
COVID-19 masih terjadi dengan ditemukannya varian baru yaitu
Omicron yang memiliki kemampuan
dalam menembus pertahanan kekebalan imunitas dari yang sebelumnya terinfeksi lebih baik dari varian Delta (Dyer, 2021). Program vaksinasi saat
ini sedang gencar dilakukan
oleh pemerintah, namun kondisi di lapangan menunjukkan masih tingginya kasus konfirmasi positif COVID-19 (Ardiningsih & Kardiwinata, 2021). Menurut studi observasi yang dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan mengenai efektivitas
vaksin pada periode
Januari-Juni 2021 menunjukkan
bahwa meskipun telah vaksinasi lengkap, peluang terjangkit COVID-19 masih dapat terjadi (Kemenkes, 2021).
Infeksi COVID-19 di Indonesia terjadi begitu cepat yaitu
saat terjadi gelombang kedua COVID-19 akibat mutasi COVID-19 yang dikenal dengan varian Delta (B.1.617.2) dan gelombang
ketiga COVID-19 karena varian Omicron (B.1.1.529) (Hamjah, Paramita, & Nuryati, 2022). Di Indonesia, sejak awal
ditemukan kasus konfirmasi positif COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020 hingga tanggal 18 Januari 2022 sudah tercatat
jumlah angka positif COVID-19 mencapai
4.273.783 kasus. Dari kasus
konfirmasi positif COVID-19
tersebut, sebanyak 882
orang terinfeksi varian
Omicron (B.1.1.529) dan untuk pertama kalinya angka konfirmasi
positif COVID-19 harian
Indonesia diatas 1000 kasus
setelah sebelumnya menurun dalam beberapa bulan (Kemenkes RI, 2022). Di kabupaten Tuban, jumlah kasus
konfirmasi positif COVID-19
pada tanggal 22 Desember
2021 sebanyak 7.566 kasus,
pada tanggal 22 Januari 2022 meningkat
menjadi 7.576 kasus dan
pada tanggal 22 Februari 2022 terus
mengalami peningkatan hingga mencapai 8.335 kasus (Dinkes Jatim,
2022). Sedangkan masyarakat
Indonesia yang telah menerima
vaksin dosis lengkap pada tanggal 22 Februari
2022 mencapai 141.042.401 (67,72%) dari 208.265.720 target sasaran vaksinasi nasional dan yang telah menerima vaksin booster sebanyak 8.712.274 orang. Dari presentase
tersebut, Indonesia berhasil
melampaui target WHO yaitu setidaknya 40% populasi sudah divaksin dosis lengkap (Kemenkes RI, 2022). Berdasarkan hasil penelitian (Pusra & Purnamawati, 2021) di RW 05 Kelurahan Jombang
Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden memiliki persepsi negatif dan perilaku kurang mengenai pencegahan COVID-19 pasca program
vaksinasi yaitu berjumlah 83 responden (53,5%).
Program vaksinasi
COVID-19 di Indonesia gencar dilakukan
oleh pemerintah bahkan telah melampaui target WHO namun konfirmasi positif COVID-19 terus bertambah setiap harinya. Kondisi di masyarakat masih banyak ditemui yang tidak menerapkan protokol kesehatan terutama memakai masker, sedangkan protokol kesehatan merupakan salah satu kunci penting
untuk mencegah penularan
COVID-19 setelah vaksinasi (Latif, Syafar, Yusuf, & Asmi, 2021).
Persepsi masyarakat terhadap kesehatan
dan pencegahan penyakit merupakan faktor penting (Adityo & Rumende, 2019). Persepsi masyarakat
terkait vaksin akan memengaruhi perilaku masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan pasca vaksin. Anggapan
sepele masyarakat menjadi faktor yang berperan dalam perilaku tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, masih banyak masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan terutama memakai masker saat berada di luar rumah. Tidak sedikit pula masyarakat yang berkerumun tanpa menjaga jarak saat
berada di tempat umum seperti di tempat makan, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata. Hal tersebut menjadi penyebab penyebaran virus dalam skala yang lebih besar.
Untuk itu diperlukan
kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak minimal 1 meter dan mencuci
tangan dengan sabun di air mengalir meskipun sudah divaksin dosis lengkap (Hutapea & Hutapea, 2021). Menggunakan masker efektif hanya ketika dikombinasikan
dengan sering membersihkan tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau handrub berbasis alkohol (WHO, 2020). Selain itu, WHO telah menetapkan sering mencuci tangan dengan sabun dan air merupakan tindakan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran virus.
Satu intervensi tidak cukup
untuk melawan COVID-19. Menerapkan
protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta Mencuci tangan pakai sabun) dan melakukan vaksinasi adalah cara terbaik
untuk mengakhiri pandemi
global COVID-19 (SATGAS COVID-19, 2021).
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua
masyarakat di Kecamatan Tuban sebanyak 91.980 orang. Namun dari populasi
tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti jumlah
masyarakat yang telah divaksin COVID-19 minimal dosis 1
dikarenakan data vaksinasi
yang berubah setiap harinya..
Besar sampel penelitian ini berjumlah 96
orang. Teknik yang digunakan pada penelitian
ini adalah dengan menggunakan teknik probability
sampling dengan cara purposive
sampling. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah persepsi dan perilaku masyarakat pasca vaksinasi COVID-19. Variabel dependen
dalam penelitian ini adalah penerapan protokol Kesehatan (Dewi & Apriliani,
2021).
Dalam instrumen penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner sebagai pengumpulan data. Terdapat kuisioner persepsi dan perilaku terhadap penerapan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19 (Imas Masturoh et al.,
2018).
Setelah data terkumpul kemudian
ditabulasikan, dan dikelompokkan
sesuai dengan sub variabel yang diteliti dan dianalisa dengan analisis deskripstif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan persentase (Hidayat, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Umum
Distribusi Karakteristik Responden
Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin dan Dosis Vaksin yang Telah Didapatkan di Kecamatan Tuban Bulan Juni Tahun 2022
Tabel 1 Distribusi Karakteristik
Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin
dan Dosis Vaksin yang Telah
Didapatkan di Kecamatan Tuban Bulan Juni Tahun 2022
|
Umur |
N |
% |
|
<15 Tahun 15-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun |
5 67 22 2 |
5,2% 69,8% 22,9% 2,1% |
|
∑ |
96 |
100% |
|
Jenis Kelamin |
N |
% |
|
Laki-laki Perempuan |
37 59 |
38,5% 61,5% |
|
∑ |
96 |
100% |
|
Dosis Vaksin |
N |
% |
|
Dosis 1 |
2 |
2,1% |
|
Dosis 2 |
64 |
66,7% |
|
Booster |
30 |
31,2% |
|
∑ |
96 |
100% |
Dari tabel 1 diketahui
bahwa sebagian besar responden berumur 15-24 Tahun sejumlah 67
orang (69,8%). Data ini menunjukkan bahwa jumlah responden
terbanyak termasuk kelompok usia muda.
Dan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 59 orang (61,5%). Data ini menunjukkan
bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada responden berjenis kelamin laki-laki. Serta sebagian besar responden telah vaksin dosis
lengkap (dosis 2) berjumlah 64 orang (66,7%). Data ini menunjukkan
bahwa responden sudah banyak yang telah menerima vaksin dosis lengkap.
Data
Khusus
Persepsi
Masyarakat Pasca Vaksinasi
COVID-19 Terhadap Penerapan Protokol
Kesehatan di Kecamatan Tuban
Bulan Juni Tahun 2022
Tabel 2 Persepsi Masyarakat Pasca Vaksinasi COVID-19 Terhadap Penerapan Protokol Kesehatan di Kecamatan
Tuban Bulan Juni Tahun 2022
|
Persepsi |
N |
% |
|
Positif |
28 |
29,2% |
|
Negatif |
68 |
70,8% |
|
∑ |
96 |
100% |
Dari tabel 2 diketahui
bahwa sebagian besar masyarakat memiliki persepsi negatif sebanyak 68 orang
(70,8%). Data ini menunjukkan bahwa
banyak masyarakat Kecamatan Tuban pasca vaksinasi COVID-19 memiliki persepsi negatif terhadap penerapan protokol kesehatan.
Perilaku Masyarakat Pasca Vaksinasi
COVID-19 Terhadap Penerapan Protokol
Kesehatan di Kecamatan Tuban
Bulan Juni Tahun 2022
Tabel 3 Perilaku Masyarakat Pasca
Vaksinasi COVID-19 Terhadap Penerapan
Protokol Kesehatan di Kecamatan
Tuban Bulan Juni Tahun 2022
|
Perilaku |
N |
% |
|
Baik |
15 |
15,6% |
|
Kurang |
81 |
84,4% |
|
∑ |
96 |
100% |
Dari tabel 3 diketahui
bahwa hampir seluruh masyarakat memiliki perilaku kurang sebanyak 81 orang (84,4%).
Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Kecamatan Tuban pasca vaksinasi
COVID-19 yang berperilaku kurang
lebih banyak daripada yang berperilaku baik terhadap penerapan
protokol kesehatan.
Tabel 4 Tabulasi Silang Persepsi
dan Perilaku Masyarakat Pasca
Vaksinasi COVID-19 Terhadap Penerapan
Protokol Kesehatan di Kecamatan
Tuban Bulan Juni Tahun 2022
|
Persepsi |
Perilaku |
∑ |
||||
|
Baik |
Kurang |
|||||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|
|
Positif |
7 |
25% |
21 |
75% |
28 |
100% |
|
Negatif |
8 |
11,8% |
60 |
88,2% |
68 |
100% |
|
∑ |
15 |
15,6% |
81 |
84,4% |
96 |
100% |
Pada tabel 4 diketahui
bahwa hampir seluruhnya perilaku kurang terdapat pada masyarakat yang memiliki persepsi negatif terhadap penerapan protokol kesehatan sebanyak 60 orang
(88,2%) dan hanya sebagian kecil perilaku baik pada masyarakat yang memiliki persepsi positif terhadap penerapan protokol kesehatan sebanyak 7 orang (25%).
Hal ini menunjukkan bahwa persepsi mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19.
A.
Persepsi Masyarakat Pasca Vaksinasi COVID-19 Terhadap Penerapan
Protokol Kesehatan
Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan, didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki persepsi negatif dan hampir setengahnya memiliki persepsi positif.
Persepsi merupakan
proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh
proses penginderaan, yaitu
proses diterimanya stimulus oleh alat
indra kemudian individu memiliki perhatian setelah itu stimulus diteruskan
ke otak hingga individu menyadari tentang sesuatu yang dinamakan persepsi (Andi & Yudi, 2016).
Menurut Veithzal
(2002) dalam (Irwan, 2017) ada
beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain: 1) Faktor pelaku persepsi seperti sikap, keutuhan atau motif, kepentingan atau minat pengalaman dan pengharapan individu. 2) Faktor yang ada pada objek atau target yang dipersepsikan yang meliputi hal-hal baru, gerakan,
bunyi, ukuran latar belakang dan kedekatan. 3) Faktor konteks situasi dimana persepsi itu dilakukan yang meliputi waktu, keadaan atau tempat, dan keadaan sosial.
Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh (Wahyudiyono
dkk, 2021) menunjukkan bahwa kisaran 10% responden memiliki persepsi boleh melakukan kegiatan tanpa menggunakan masker, bahkan tanpa keharusan menjaga jarak.
Dari uraian data dan teori
di atas, diketahui bahwa persepsi negatif masyarakat pasca vaksinasi COVID-19 terhadap
penerapan protokol kesehatan masih tergolong tinggi. Berdasarkan hasil pengisian kuisioner, diketahui banyak masyarakat yang menjawab setuju pada pertanyaan setelah divaksin dosis lengkap tidak akan
terinfeksi COVID-19. Persepsi
masyarakat dapat berbeda-beda tergantung pribadi seseorang, objek yang dipersepsikan, dan situasi. Masyarakat akan mengetahui bahwa penerapan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19 itu penting bermula dari pengamatannya
sendiri sehingga akan memberikan penafsiran bagi dirinya untuk kemudian ada proses memahami terhadap hal yang telah diamati. Dikarenakan protokol kesehatan penting untuk tetap diterapkan meskipun telah vaksin dosis
lengkap, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara kerja vaksin dan pentingnya untuk tetap menerapkan protokol kesehatan pasca vaksin untuk menumbuhkan persepsi positif masyarakat pasca vaksinasi COVID-19.
B.
Perilaku Masyarakat Pasca Vaksinasi COVID-19 Terhadap Penerapan
Protokol Kesehatan
Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa hampir seluruh
masyarakat memiliki perilaku kurang dan sebagian kecil masyarakat yang memiliki perilaku baik.
Perilaku merupakan
hasil daripada segala macam pengalaman
serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan,
sikap dan tindakan. Perilaku merupakan respon/reaksi seorang
individu terhadap stimulus yang berasal
dari luar maupun dari dalam
dirinya (Notoatmodjo,
2010).
Usia menjadi
faktor yang dapat mempengaruhi perilaku. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Riyadi & Larasaty, 2020) didapatkan
variabel usia berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan dengan koefisien regresi sebesar 0,02. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh �(Pratiwi & Kardiwinata, 2022) menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan
penerapan protokol kesehatan COVID-19 dengan p-value=0,009.
Berdasarkan penelitian
(Aji et al., 2021) pada variabel jenis kelamin terhadap perilaku penerapan protokol kesehatan didapatkan hasil Odds ratio berjumlah 1.44, yang artinya perilaku buruk dalam penerapan protokol kesehatan pada responden laki-laki lebih tinggi 1.44 kali dibandingkan dengan perempuan. Sejalan dengan penelitian (Pratiwi & Kardiwinata, 2022) bahwa
berdasarkan karakteristik jenis kelamin terdapat
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin
dengan penerapan protokol kesehatan COVID-19 (p-value= 0,031). Responden
jenis kelamin perempuan memiliki peluang meningkatkan penerapan protokol kesehatan yang baik sebesar 2,27
kali lebih tinggi dibandingkan
jenis kelamin laki-laki.
Dari uraian data dan teori
di atas, diketahui bahwa hampir seluruh
masyarakat memiliki perilaku kurang dalam penerapan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19. Berdasarkan data hasil pengisian kuisioner, banyak masyarakat yang menjawab kadang/jarang dan tidak pernah memakai masker dan menjaga jarak saat
berada di luar rumah atau di tempat umum. Perilaku seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan dari pengalaman serta interaksi dengan lingkungannya. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin terhadap perilaku penerapan protokol kesehatan. Semakin tua usia
akan semakin baik dalam penerapan protokol kesehatan dan jenis kelamin perempuan
cenderung lebih taat dalam menerapkan protokol kesehatan dibandingkan jenis kelamin laki-laki. Adanya informasi dari lingkungan sekitar dapat memberikan
landasan kognitif baru bagi terbentuknya keyakinan terhadap suatu hal yang kemudian dapat mempengaruhi perilaku seseorang (Alizamar & Couto, 2016). Bertambahnya usia dapat mempengaruhi kemampuan berpikir semakin matang, sehingga tingkat pengalaman yang diperoleh berpengaruh terhadap penerapan protokol kesehatan COVID-19. Promosi kesehatan kepada masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan meskipun telah menerima vaksin COVID-19 melalui berbagai media seperti poster, leaflet, sosialisasi
di tingkat RT, dan lain sebagainya
perlu dilakukan sebagai sarana untuk memberikan informasi yang positif dengan harapan perilaku masyarakat yang kurang dapat berubah
menjadi baik.
C.
Persepsi dan Perilaku Masyarakat Pasca Vaksinasi COVID-19 Terhadap
Penerapan Protokol Kesehatan
Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa sebagian besar perilaku kurang pada masyarakat yang memiliki persepsi negatif, sebagian kecil persepsi positif dengan perilaku kurang, sebagian kecil persepsi negatif dengan perilaku baik, dan sebagian kecil perilaku baik pada masyarakat
yang memiliki persepsi positif.
Menurut Lawrence Green
(1980), faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku antara lain: 1) Faktor predisposisi terjadinya perilaku seseorang, seperti pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya. 2) Faktor pemungkin, termasuk didalamnya adalah berbagai macam sarana dan prasarana. Faktor-faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan
untuk terjadinya perilaku kesehatan. 3) Faktor pendukung, yang meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, undang-undang peraturan baik dari pusat maupun
pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.
Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh (Pusra & Purnamawati, 2021) terdapat
hubungan signifikan antara persepsi dengan perilaku pencegahan COVID-19, dari hasil
uji chi-square diperoleh
nilai p<0,05. Sejalan dengan penelitian (Suryaningrum, Nurjazuli, & Rahardjo, 2021) terdapat
hubungan antara persepsi dengan upaya pencegahan COVID-19 pada masyarakat Kelurahan Srondol Wetan (p-value = 0,045) yang mana semakin ditingkatkan persepsi seseorang, maka akan meningkat
pula upaya pencegahan
COVID-19 yang dilakukan. Penelitian
lain yang dilakukan oleh (Mirnawati
dkk, 2022) didapatkan hasil uji chi-square dengan
p-value = 0,001 yang mana menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi keseriusan dengan kepatuhan protokol kesehatan COVID-19 pada siswa kelas X dan XI di wilayah Kecamatan
Ternate.
Dari uraian data dan teori
di atas, diketahui bahwa sebagian besar masyarakat memiliki perilaku kurang terhadap penerapan protokol kesehatan COVID-19 dikarenakan memiliki persepsi negatif. Namun dari data juga didapatkan bahwa persepsi negatif tidak selalu diikuti dengan perilaku kurang, karena perilaku seseorang tidak hanya dipengaruhi
oleh persepsi. Faktor lain seperti sarana, prasarana, orang lain di lingkungan
sekitar, dan peraturan yang
ada juga ikut mempengaruhi perilaku individu. Dari hasil penelitian didapatkan 21 dari 23 masyarakat Kecamatan Tuban yang berperilaku kurang memiliki keyakinan karena sudah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap. Oleh karena itu, sosialisasi dan ajakan kepada seluruh
masyarakat tentang penerapan protokol kesehatan pasca vaksinasi COVID-19 tetap perlu dilakukan dengan harapan dapat mengubah persepsi negatif menjadi positif dan perilaku kurang menjadi baik serta mempertahankan persepsi positif dan perilaku baik untuk membantu mencegah penambahan kasus konfirmasi positif COVID-19
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Sebagian besar masyarakat Kecamatan Tuban pasca vaksinasi
COVID-19 memiliki persepsi negatif terhadap penerapan protokol kesehatan. 2. Hampir seluruh masyarakat Kecamatan Tuban pasca vaksinasi
COVID-19 memiliki perilaku kurang terhadap penerapan protokol kesehatan. 3. Hampir seluruh masyarakat Kecamatan Tuban pasca vaksinasi
COVID-19 yang berperilaku kurang
memiliki persepsi negatif terhadap penerapan protokol kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Adityo,
Susilo, & Rumende, C. M. (2019). dkk (2020). Coronavirus Disease.
Aji,
Bayu Seno, Wulandari, Febrie, Yusriyah, Ghina, Annisa, Ika Rania, Widhy,
Litriane Rispa, Annisa, Luthfiatul, Suwandi, Meilina, Satrio, Mohammad Irfan,
Syarifah, Nabilatus, & Ginting, Sri Karina Br. (2021). Perilaku Penerapan
Protokol Kesehatan Covid-19. Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat
(Pengmaskesmas), 1(2).
Alizamar,
Alizamar, & Couto, Nasbahry. (2016). Psikologi Persepsi dan Desain
Informasi: Sebuah Kajian Psikologi Persepsi dan Prinsip Kognitif untuk
Kependidikan dan Desain Komunikasi Visual.
Ardiningsih,
Ni Nyoman Ayu, & Kardiwinata, Made Pasek. (2021). Studi Cross-Sectional:
Persepsi Masyarakat Terhadap Penerimaan Vaksinasi Covid-19 Di Kabupaten
Karangasem. Jurnal Riset Kesehatan Nasional, 5(2), 150�158.
Dewi,
Ratna, & Apriliani, Irina. (2021). Studi Fenomenologi Persepsi Masyarakat
Dalam Penerapan Protokol Covid-19. Real in Nursing Journal, 4(1),
44�49.
Dyer,
Owen. (2021). Covid-19: Omicron is causing more infections but fewer
hospital admissions than delta, South African data show. British Medical
Journal Publishing Group.
Hamjah,
Mirnawati Hi, Paramita, Pradnya, & Nuryati, Tati. (2022). Analysis of
Adolescent Compliance Factors Implementing The Covid-19 Health Protocol in
North Ternate High School in 2021. Jurnal Inovasi Penelitian, 2(8),
2647�2656.
Hidayat,
Alimul. (2009). Metode penelitian kebidanan dan teknik analisis data.
Hutapea,
Angeline Priscilla, & Hutapea, Lyna. (2021). Tingkat kepatuhan mahasiswa/i
yang sudah divaksin dalam melaksanakan protokol kesehatan di masa pandemi
covid-19. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(4), 749�758.
Imas
Masturoh, S. K. M., Imas Masturoh, S. K. M., Nauri Anggita, T., SKM, M., Nauri
Anggita, T., & SKM, M. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Irwan,
D. S. (2017). Etika dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta, Absolute Media.
Latif,
Abdul, Syafar, Muhammad, Yusuf, Andi, & Asmi, A. Syamsinar. (2021).
Analisis Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Pengunjung Warkop Pada
Protokol Kesehatan Covid-19. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(2),
380�389.
Pratiwi,
Ni Ketut Ita, & Kardiwinata, Made Pasek. (2022). Penerapan Protokol
Kesehatan Covid-19 oleh Remaja di Kecamatan Mengwi Kabupaten Bandung Tahun
2021. Arc. Com. Health, 9(1).
Pusra,
Elwa, & Purnamawati, Dewi. (2021). Determinan Perilaku Pencegahan Corona
Virus Disease 2019 Pasca Program Vaksinasi. Prosiding Seminar Nasional
Penelitian LPPM UMJ, 2021.
Riyadi,
Riyadi, & Larasaty, Putri. (2020). Faktor yang berpengaruh terhadap
kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran
COVID-19. Seminar Nasional Official Statistics, 2020(1), 45�54.
Suryaningrum,
Fatma Nur, Nurjazuli, Nurjazuli, & Rahardjo, Mursid. (2021). Hubungan
pengetahuan dan persepsi masyarakat dengan upaya pencegahan covid-19 di
Kelurahan Srondol Wetan, Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 9(2),
257�263.
�