SMA Negeri 1 lebakwangi
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan analisis siswa pada pokok bahasan struktur
dan fungsi jaringan pada hewan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 (dua) siklus.
Masing-masing siklus terdapat
4 (empat) tahapan yaitu perencanaan, Tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI MIA 4 SMa Negeri I Lebakwangi yang berjumlah 31 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes setiap
akhir siklus dan observasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini antara lain: 1) keterlaksanaan model pembelajaran
berbasis masalah pada konsep struktur dan fungsi jaringan pada hewan berkategori baik, 2) kemampuan analisis siswa pada materi struktur dan fungsi jaringan setiap siklus mengalami
peningkatan diatas KKM yaitu 70, setelah diterapkan model pembelajaran berbasis masalah. Kemampuan analisis siswa pada siklus I adalah 70 mengalami kenaikan sebesar 18,64%. Kemampuan analisis siswa pada siklus II adalah 75 mengalami kenaikan sebesar 6,67%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I dan II. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar, dapat membantu siswa agar tetap fokus dan siap siaga dalam berbagai
situasi pembelajaran sehingga terjadi peningkatan kemampuan analisis siswa
Kata kunci: kemampuan analisis,
penelitian tindakan kelas, pembelajaran berbasis masalah.
Abstract:
The purpose of this study was to improve
students' analytical skills on the subject of tissue structure and function in
animals using a problem-based learning model. The research method used is
Classroom Action Research (CAR), which consists of 2 (two) cycles. Each cycle
has 4 (four) stages namely planning, action, observation and reflection. This
research was conducted in class XI MIA 4 SMA Negeri I Lebakwangi
with a total of 31 students. The data collection technique used was a test at
the end of each cycle and observation. The results obtained from this study
include: 1) the implementation of problem-based learning models on the concept
of network structure and function in animals that are in the good category, 2)
students' analytical abilities on the material structure and function of
networks each cycle have increased above the KKM, which is 70, after the model
is applied problem-based learning. The analytical ability of students in cycle
I was 70, which increased by 18.64%. The analytical ability of students in
cycle II was 75, which increased by 6.67%. This shows an increase from cycles I
and II. The application of problem-based learning models can increase student
activity in learning, can help students to stay focused and alert in various
learning situations so that there is an increase in students' analytical skills
Keywords:
Analytical Skills, Classroom Action
Research, Problem-Based Learning.
Corresponding: Detsy Henrliniar
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pokok
bahasan struktur dan fungsi jaringan pada hewan memiliki cakupan materi pemahaman tentang struktur jaringan, fungsi jaringan, dan keterkaitan antara struktur dengan fungsi jaringan yang menyusun organ (Wahyuni, 2019). Hal ini dapat mengembangkan kemampuan kognitif pada jenjang C4 sampai C6 yang merupakan salah satu indikator dari kemampuan analisis siswa (Saraswati & Agustika, 2020). Fakta menunjukkan bahwa daya serap
siswa pada materi struktur dan fungsi jaringan pada hewan belum menunjukkan hasil yang memuaskan (MARDIANA, 2019). Hal ini terlihat dari masih
banyaknya siswa yang memperoleh nilai ulangan harian di bawah KKM. Dari data nilai ulangan harian yang peneliti ketahui sebelumnya terlihat bahwa siswa yang mendapat nilai KKM tidak lebih dari
10%.
Jika dianalisis banyak
faktor penyebab terjadinya kondisi semacam ini. Selain materi struktur dan fungsi jaringan pada hewan memiliki kompleksitas yang tinggi, kemampuan analisis anak rendah, sarana
laboratorium IPA belum memadai, yang paling utama adalah rendahnya minat belajar siswa
(Fonna, 2019). Minat belajar
siswa terkait erat dengan proses pembelajaran di kelas dan tentunya proses pembelajaran yang
kurang baik, monoton dan tidak ada upaya
mengeksplor kemampuan siswa tidak akan
mampu mengubah keadaan (Ramadhani et al., 2020).
Pembelajaran berbasis masalah merupakan jawaban untuk mengatasi masalah ini. Pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu
pendekatan yang menggunakan
masalah dunia nyata sebagai
suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir
kritis dan keterampilan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Peran guru dalam pembelajaran
berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog sehingga
di kelas memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.
Kemampuan analisis merupakan kemampuan untuk menguraikan elemen, unsur, faktor, dan sebab-sebab dari suatu fenomena
(Andri, 2018). (Anderson & Krathwohl, 2015) menyatakan bahwa kemampuan analisis siswa adalah kemampuan
siswa dalam menguraikan suatu informasi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil
untuk menentukan keterkaitan
antar unsur. Kemampuan analisis ditunjukan dengan mampunyai menguraikan pengetahuan ke bagian-bagaian
yang lebih kecil dan mampu menunjukkan hubungan antar bagian tersebut
(Intarti, 2010). Kemampuan analisis ini mencakup tiga proses yaitu siswa dapat mengurai
unsur informasi yang relevan, menentukan hubungan antara unsur yang relevan, dan menentukan sudut pandang tentang tujuan dalam mempelajari
suatu informasi (Anderson & Krathwohl, 2015). Kemampuan analisis ini dapat dibagi menjadi
tiga subkatagori, yaitu analisis tentang bagian - bagian, analisis tentang hubungan-hubungan, dan analisis tentang prinsip-prinsip pengorganisasian (Jusriana, Sawedi, & Hading, 2019). Ilustrasi sasaran pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan analisis dapat dilihat dalam Tabel
1
Tabel 1 Ilustrasi Sasaran Pembelajaran
|
Subkatagori Kemampuan analisis |
Ilustrasi Sasaran Pembelajaran |
|
Analisis tentang bagian-bagian |
Kemampuan mengenali asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit Keterampilan membedakan fakta-fakta dari suatu hipotesis
Kemampuan mengenali fakta-fakta atau asumsi-asumsi dalam mendukung hipotesis Kemampuan memberikan ciri-ciri, berdasar fakta dari pernyataan
normatif Kemampuan memeriksa secara konsisten dari pembuktian hipotesis Keterampilan didalam mengidentifikasi motivasi-motivasi
dan membeda-bedakan antara
mekanisme-mekanisme dari tingkah laku berkenaan dengan individu dan kelompok-kelompok.
Kemampuan memberikan ciri-ciri sebab akibat atau hubungan-hubungan
dari urutan lain Kemampuan meneliti hubungan-hubungan pernyataan-pernyataan
dalam satu argumentasi, dan memberikan ciri-ciri yang relevan dan tidak |
|
Analisis tentang hubungan-hubungan |
Kemampuan mengenali seluk beluk penetapan
suatu keputusan yang relevan Kemampuan mengenali fakta-fakta atau asumsi-asumsi yang bersifat penting dalam menyusun hipotesis Kemampuan untuk memeriksa konsistensi asumsi-asumsi dari hipotesis Kemampuan memberi ciri-ciri dari sebab akibat
atau hubungan-hubungan dan
urutan-urutan logis Kemampuan meneliti hubungan-hubungan pernyataan-pernyataan
dalam satu argumentasi Kemampuan memberi ciri-ciri pernyataan relevan dan yang tidak Kemampuan mengenali kronologis hubungan sebab akibat secara terperinci |
|
Analisis tentang prinsip-prinsip pengorganisasian |
Kemampuan memahami makna dan mengenali wujud serta pola
artistik dalam kesusastraan |
Kemampuan analisis penting dimiliki siswa karena siswa akan
mampu mendudukan situasi, masalah, subjek, atau keputusan
pada pemeriksaan yang mendalam.
Siswa yang memiliki kemampuan analisis dapat menguji pernyataan
berdasarkan standar objektif dan dapat menemukan akar permasalahan. Siswa juga dapat menimbang dan memutuskan atas dasar logika. Siswa
dengan kemampuan analisis mampu membedakan hasil pemikiran analisisnya dengan perasaan dan prasangka yang ada pada dirinya. Siswa yang memiliki kemampuan analisis dapat tekun, jujur, empati
dan mengakui keterbatasan diri atas pengetahuan.
Ciri pemikir analitis adalah dapat bertahan dalam melakukan tindakan (tidak mudah menyerah).
Pengukuran kemampuan analisis siswa dapat diketahui
melalui Kata Kerja Operasional
(KKO) Taksonomi Bloom. KKO kemampuan
analisis meliputi: membandingkan, mempertentangkan, memisahkan, menghubungkan, membuat diagram, menunjukan hubungan, dan mempertanyakan (Hasibuan, 2018). Kemampuan analisis
diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu membedakan,
mengorganisasikan dan mengatribusikan
(Anderson & Krathwohl, 2015).
Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi
berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur 2002:
2 dalam (Batubara, 2017), �Pembelajaran
berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based
Teaching (pembelajaran proyek),
Experience-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic
Learning (pembelajaran autentik),
dan Anchored Instruction (pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)�.
Peran guru
dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan masalah tidak dapat
dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari penyajian kepada siswa situasi
masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk penyelidikan dan inkuiri.
Dengan menggunakan model Pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan analisis siswa pada konsep Struktur dan Fungsi Jaringan pada Hewan di Kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Lebakwangi
Kabupaten Kuningan Tahun Pelajaran 2022/2023.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam 2 siklus Tindakan dan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Di dalam satu siklus
terdiri atas 4 tahapan yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
pengamatan dan (4) refleksi.
Dalam penelitian Tindakan kelas ini, pengumpulan data dilakukan dengan Teknik:
1.�� Pengamatan (Observasi)
Observasi dilakukan terhadap guru dan siswa berdasarkan lembar observasi yang telah dibuat bersama
kolaborator.
2.�� Tes
Tes dilakukan pada setiap akhir siklus. Tes
ini digunakan untuk mengetahui kompetensi peserta didik pada konsep struktur dan fungsi jaringan.
Indikator keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini apabila 75 % peserta didik mendapatkan
nilai ≥ 70 (sudah memenuhi KKM) dan aktifitas peserta didik meningkat
rata-rata 20 persen.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik sederhana, yaitu dengan analisis
deskriptif. Disini yang dianalisis yaitu hasil ulangan pada setiap siklus. Dari hasil ulangan tersebut,
dapat ditafsirkan tentang ketuntasan belajar siswa. Dalam penelitian ini, untuk ketuntasan
belajar siswa individu maupun klasikal digunakan pedoman ketuntasan sebagai berikut: 1) ketuntasan perorangan, dinyatakan berhasil jika telah mencapai
75% atau lebih dapat melanjutkan ke pokok bahasan
berikutnya, 2) ketuntasan klasikal, dinyatakan berhasil mencapai ketuntasan belajar jika paling sedikit 85% data jumlah siswa dalam
kelas tersebut telah mencapai ketuntasan perorangan.
Indikator keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini apabila 85% siswa mendapatkan nilai ≥ 75 (sudah memenuhi KKM) dan terjadi peningkatan aktifitas belajar yang mendukung keberhasilan pembelajaran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
SIKLUS I
Perencanaan
Dalam tahap perencanaan: 1) Guru melaksanakan
kegiatan pembelajaran sesuai yang direncanakan dengan Kolaborator dengan bentuk klasikal, 2) Siswa duduk berkelompok sesuai dengan tempat
duduk yang berdekatan dalam
satu garis bangku dengan anggota 5 - 6 orang, 3)
Guru memberikan tugas secara
berkelompok dan individu,
4) Guru mengamati proses berlangsungnya
belajar kelompok, 5) Kolaborator membuat catatan pribadi (catatan lapangan), 6) Guru memberikan tes kepada siswa.
Pelaksanaaan
Pelaksanaan
pembelajaran siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan pada tanggal 03 Agustus
2022� dan 08 Agustus 2022 di kelas XI MIA
4 dengan jumlah siswa 31 siswa yang pelaksanaanya sebagai berikut : 1) tahap
orientasi siswa pada masalah ; peneliti mengucapkan salam dan mengabsen siswa
kemudian dibahas tentang Struktur Jaringan. Peneliti memberikan
pertanyaan-pertanyaan tentang Struktur Jaringan dengan tujuan untuk mengetahui
sejauh mana pengetahuan siswa tentang Struktur Jaringan. Selain diharapkan
dapat membangkitkan kreatifitas siswa dalam mengungkapkan pendapat dan apa yang
siswa ketahui tentang Struktur Jaringan. Kemudian siswa disuruh untuk
menyebutkan contoh-contoh organ serta jaringan penyusunnya. 2) tahap
pengorganisasian siswa ; peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan tercapai. Siswa disuruh membentuk
kelompok secara heterogen yang beranggotakan 4-5
orang. Setelah siswa duduk secara berkelompok, peneliti membagikan LKPD untuk mengamati macam-macam struktur jaringan yang terdapat pada manusia. Siswa setelah menerima LKPD menyiapkan dan mengecek alat dan bahan yang dibutuhkan, 3) tahap pembimbingan terhadap penyelidikan individu maupun kelompok; masing-masing anggota kelompok melakukan pengamatan jaringan epitel, jaringan tulang, jaringan saraf dan jaringan otot sesuai dengan
prosedur yang terdapat pada
LKPD. Kemudian siswa menggambar struktur dari setiap jaringan
sesuai yang diamati. Peneliti membimbing siswa melakukan pengamatan dengan berkeliling ke semua kelompok
untuk memastikan siswa dapat melakukan pengamatan dengan benar dan siswa dalam kelompok mendiskusikan hasil dari pemecahan masalah dan verifikasi hasil dari pengolahan
data yang telah dilakukan,
4) mengambangkan dan menyajikan
hasil karya, Peneliti meminta masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Peneliti memfasilitasi diskusi kelas, mempersilakan kelompok lain untuk
bertanya kepada kelompok presentator. Berdasarkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan, diharapkan semua kelompok dapat melaksanakan presentasi untuk menyajikan hasil pekerjaan mereka. Kelompok lain dipersilakan untuk bertanya. Diskusi yang menarik dan aktif diharapkan terjadi selama kegiatan ini. Akan tetapi, hanya beberapa
saja yang berani bertanya
dan menjawab pertanyaan
yang dilontarkan. 5) tahap menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan
masalah; Siswa dengan bimbingan peneliti melakukan evaluasi atas kelemahan
pengamatan yang telah dilakukan. Kendala apa saja yang mereka temukan pada saat pengamatan. Peneliti meminta siswa untuk mengingat kembali proses pembelajaran yang telah dilakukan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai refleksi dan evaluasi proses pembelajaran yang
dilakukan siswa bersama peneliti. Di akhir pembelajaran Diakhir pembelajaran siswa diberikan waktu untuk mengerjakan soal berjumlah 10 butir soal dan diperoleh hasil seperti pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2
Nilai Ulangan Harian
Semester Ganjil Pada Siklus
I Siswa Kelas XI MIA 4
Mata
Pelajaran��������� :���� Biologi
Pokok Bahasan���������� :���� Struktur Jaringan Hewan
Kelas/Semester�������� :���� XI MIA 4 / Ganjil
Tahun Pelajaran������� :���� 2022 / 2023
Jumlah Soal���������������� :���� 10
Jumlah Siswa������������� :���� 31
Tes��������������������������������� :���� Siklus I
|
Nama |
Nomor Soal |
Skor |
Nilai |
% Pencapaian |
Ketuntasan |
||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
||||||
|
1 |
ADI SUPANDI |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
9 |
90 |
90 |
Tuntas |
|
2 |
AFNI AULIA NURUL FITRIANI |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
3 |
AGNIA NUR ROSYIDINA |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
4 |
ANIS FADILAH |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
5 |
ASRI AMALA GUNAWAN |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
6 |
DANIL SAPUTRA |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
7 |
FITRI RAMDHANI |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
8 |
GHESANY MUTIARA RAMADANI |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
9 |
HANY NUR FITRIYANI |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
10 |
INDAH PERMATA SARI |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
11 |
KARINA AZZAHRA |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
12 |
KARTIKA PUTRI ANDINI |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
13 |
KOMARA ABDUL QODIR |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
0 |
5 |
50 |
50 |
Belum |
|
14 |
LINDA JULIYANTI |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
15 |
MAYATUNAZAH |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
16 |
MELANI FEBRIYANTI |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
17 |
MERI WIDIA ASTUTI |
1 |
0 |
0 |
1 |
0 |
0 |
1 |
0 |
0 |
0 |
3 |
30 |
30 |
Belum |
|
18 |
MICHELE FRANSCISCA |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0 |
5 |
50 |
50 |
Belum |
|
19 |
MUHAMAD NUR AWALUDIN |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
20 |
MUHAMMAD FAIZAL |
1 |
0 |
0 |
1 |
0 |
0 |
0 |
1 |
0 |
0 |
3 |
30 |
30 |
Belum |
|
21 |
NELA TRIYANI |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
22 |
NIDA AULIA RACHMA |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
23 |
NIRA MULYANI |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
24 |
RAJIB ILHAM WIJAYA |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
10 |
100 |
100 |
Tuntas |
|
25 |
RHISA KHOERUNISSA |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
26 |
RIDHO RIZKULLAH |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
27 |
SANDY FITRIYANI |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
28 |
TITA RAHMA SUDIANA |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
0 |
5 |
50 |
50 |
Belum |
|
29 |
YUNIDAR |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
30 |
ZANUR FADILAH |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
31 |
SRI AYUNI OKTAVIYANI |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
JUMLAH |
25 |
18 |
20 |
26 |
23 |
21 |
25 |
22 |
20 |
17 |
217 |
2.170 |
|||
|
RATA-RATA |
0,81 |
0,58 |
0,65 |
0,84 |
0,74 |
0,68 |
0,81 |
0,71 |
0,65 |
0,55 |
7,00 |
70,00 |
|||
|
Skor Rata - Rata |
2,50 |
1,80 |
2,00 |
2,60 |
2,30 |
2,10 |
2,50 |
2,20 |
2,00 |
1,70 |
2,50 |
||||
|
Nilai Tertinggi |
100 |
||||||||||||||
|
Nilai Terendah |
30 |
||||||||||||||
Pengamatan
Pada tahap ini, pengamat
menilai bahwa peneliti tidak tampak membimbing siswa dalam mendeskripsikan
dan mengaitkan antara struktur dengan fungsi jaringan yang terdapat pada manusia. Selain itu, menurut pengamat peneliti tidak menginstruksikan siswa dalam seluruh
kelompok untuk mendiskusikan
hasil dari pemecahan masalah dan verifikasi hasil pengolahan data yang telah dilakukan apakah sesuai dengan buku
atau teori dengan mengkaji modul jaringan yang terdapat pada manusia, hanya pada sebagian besar saja yaitu 3 kelompok.�
Berdasarkan catatan di lapangan, pada saat berlangsungnya belajar kelompok ada diantara
salah satu kelompok yang
dua anggotanya bercengkrama
sendiri tentang hal diluar materi diskusi.
Peneliti memberikan teguran dan menyuruh untuk aktif berinteraksi dengan kelompoknya. Pada setiap kelompok yang antusias membahas tugas yang diberikan, rata-rata 3 atau 4
orang sedang yang lainnya tidak
aktif.
a. Pengamatan berdasarkan ketuntasan belajar
Berdasarkan
hasil tes diakhir pembelajaran dari 31 siswa kelas XI MIA 4 yang mencapai
ketuntasan belajar sebanyak 21 siswa dan yang belum tuntas 10 siswa. Prosentase
banyaknya siswa yang tuntas adalah 83,87% dan diambil kesimpulan bahwa kegiatan
pembelajaran yang dilakukan berhasil. Selanjutnya, interpretasi dari kualitas
nilai hasil ulangan harian pada siklus I secara keseluruhan (klasikal) adalah
sebagai berikut :
Tabel 3 Interpretasi Kualitas
Nilai Hasil Ulangan Harian
pada Siklus I
|
Kelompok Nilai |
Interval Nilai |
Banyaknya Siswa |
Prosentase |
Kualitas Nilai |
|
1 |
0
- 59 |
5 |
16,13% |
Kurang |
|
2 |
60
� 74 |
15 |
48,39% |
Cukup |
|
3 |
75
� 89 |
9 |
29,03% |
Baik |
|
4 |
90
� 100 |
2 |
6,45% |
Amat
Baik |
b. Pengamatan berdasarkan keaktifan siswa mencatat
materi pelajaran
Ditinjau dari banyaknya siswa yang
aktif mencatat materi pelajaran adalah sebagai berikut :
Tabel 4 Keaktifan Siswa Mencatat pada Siklus I
|
No |
Keaktifan |
Banyaknya Siswa |
Prosentase |
|
1 |
Aktif |
26 |
83,87% |
|
2 |
Tidak Aktif |
5 |
16,12% |
|
Jumlah |
31 |
100% |
|
c. Pengamatan berdasarkan keaktifan siswa dalam
belajar kelompok
Ditinjau dari banyaknya
siswa yang aktif dalam belajar kelompok adalah sebagai berikut :
Tabel 5 Keaktifan Siswa
dalam Belajar Kelompok pada Siklus I
|
No |
Keaktifan |
Banyaknya Siswa |
Prosentase |
|
1 |
Aktif |
28 |
90,32% |
|
2 |
Tidak Aktif |
3 |
9,67% |
|
Jumlah |
31 |
100% |
|
d. Pengamatan berdasarkan kinerja guru
Dari hasil
pengamatan kolaborator dalam hal ini salah satu rekan peneliti diperoleh data
tentang kinerja peneliti pada saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran berbasis masalah, yaitu :
Tabel 6 Hasil Pengamatan
Kolaborator terhadap Kinerja Guru pada Siklus I
|
No |
Aspek yang diamati |
Kurang |
Cukup |
Baik |
|
A. |
Pendahuluan |
|
|
|
|
|
1.
Peneliti mengucapkan salam, memastikan kesiapan siswa untuk belajar dan memeriksa kehadiran siswa |
|
|
˅ |
|
|
2.
Memberikan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
dengan struktur dan fungsi jaringan pada hewan |
|
|
˅ |
|
|
3.
Peneliti memberikan arahan rencana pembelajaran model pembelajaran
berbasis masalah |
|
|
˅ |
|
|
4.
Peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai |
|
|
˅ |
|
B. |
Kegiatan Inti |
|
|
|
|
|
5.
Peneliti membagi seluruh siswa menjadi 6 kelompok dengan anggota yang heterogen baik jenis kelamin maupun kemampuan kognitifnya |
|
|
˅ |
|
|
6.
Peneliti mengajukan rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan |
|
|
˅ |
|
|
7.
Siswa mengajukan hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang diajukan oleh guru |
|
|
˅ |
|
|
8.
Siswa dibagikan LKPD tentang prosedur pengamatan struktur jaringan pada manusia |
|
|
˅ |
|
|
9.
Siswa menyiapkan dan mengecek alat dan bahan yang dibutuhkan |
|
|
˅ |
|
|
10. Peneliti membimbing siswa dengan berkeliling ke semua kelompok
untuk mengumpulkan data pengamatan |
|
˅ |
|
|
|
11. Siswa mendiskusikan dan
mengolah data hasil pengamatan, menginterpretasikan
data serta mendiskusikan hasil dari pemecahan
masalah dan verifikasi hasil dari pengolahan
data. |
|
|
˅ |
|
|
12. Siswa membuktikan hipotesis yang diajukan di awal pembelajaran salah atau benar |
|
|
˅ |
|
|
13. Peneliti menyampaikan klaim nilai dari
struktur dan fungsi jaringan yang terdapat pada manusia |
|
|
˅ |
|
C. |
Penutup |
|
|
|
|
|
14. Peneliti memberikan penguatan materi dan memberikan kesimpulan dari hasil pengamatan
yang telah dilakukan |
|
|
˅ |
|
|
15. Peneliti memberikan arahan tentang rencana pembelajaran dipertemuan berikutnya. |
|
|
˅ |
|
D. |
Pengelolaan Waktu |
|
˅ |
|
|
E. |
Penampilan guru (ceria, bersih
dan rapih) |
|
|
˅ |
|
F. |
Penguasaan Kelas |
|
|
|
|
|
1.
Antusias Siswa |
|
|
˅ |
|
|
2.
Antusias Peneliti |
|
|
˅ |
Berdasarkan hasil pengamatan tentang kinerja peneliti pada saat melakukan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, nampak bahwa secara
keseluruhan kinerja peneliti dikatakan cukup baik. Tetapi
pada bagian tertentu seperti mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Dimana peneliti membimbing siswa untuk melakukan interpretasi data dengan mendeskripsikan dan mengaitkan antara struktur dengan fungsi jaringan yang terdapat pada manusia, tidak menginstruksikan siswa dalam seluruh
kelompok untuk mendiskusikan
hasil dari pemecahan masalah dan verifikasi hasil pengolahan data yang telah dilakukan apakah sesuai dengan buku
atau teori dengan mengkaji modul jaringan yang terdapat pada manusia, hanya pada sebagian besar saja yaitu tiga kelompok.
Refleksi Perbaikan dan Pengayaan
Berdasarkan ketuntasan belajar, terdapat 5 siswa atau 16,13% yang belum mencapai ketuntasan belajar. Kelima siswa tersebut
hendaknya diberikan pembelajaran remedial dan pembinaan
khusus, sampai mencapai ketuntasan belajar. sedangkan berdasarkan keaktifan siswa dalam mencatat
materi yang diberikan, terdapat 5 siswa atau, 16,13% yang tidak mencatat meteri pelajaran. Keempat siswa tersebut hendaknya diberi nasehat atau teguran
tentang pentingnya mempunyai catatan.
Berdasarkan keaktifan siswa dalam belajar
kelompok, terdapat 3 orang atau 9,67% yang tidak aktif. Ketiga siswa
ini hendaknya diberi teguran. sedangkan berdasarkan kinerja peneliti pada saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, pada bagian mengembangkan dan menyajikan hasil
karya. Masih ada aspek yang kurang optimal dilakukan peneliti yaitu dimana peneliti membimbing siswa untuk melakukan interpretasi data dengan mendeskripsikan dan mengaitkan antara struktur dengan fungsi jaringan
yang terdapat pada manusia,
tidak menginstruksikan siswa dalam seluruh
kelompok untuk mendiskusikan hasil dari pemecahan masalah dan verifikasi hasil pengolahan data yang telah dilakukan apakah sesuai dengan
buku atau teori dengan mengkaji
modul jaringan yang terdapat pada manusia, hanya pada sebagian besar saja yaitu
3 kelompok.
SIKLUS II
Perencanaan
Pada siklus
II ini peneliti lebih meningkatkan
kegiatan pembelajaran berdasarkan apa yang telah dilakukan pada siklus I, yaitu ingin meningkatkan kemampuan analisis siswa kelas XI MIA 4 dalam pembelajaran berbasis masalah. Adapun perencanaannya sebagai berikut: siswa diminta belajar
berkelompok untuk membahas penyelesaian soal-soal Fungsi � Fungsi Jaringan, peneliti memberikan tugas secara berkelompok, siswa diberi kesempatan secara berkelompok untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas., peneliti
memberikan bimbingan kepada setiap kelompok
yang mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal Fungsi Jaringan, kolaborator membuat catatan pribadi dan membagikan angket, peneliti memberikan tes kepada siswa.
Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan
pada tanggal 10 Agustus
2022 dan 15 Agustus 2022 di kelas
XI MIA 4 dengan jumlah siswa 31 siswa yang pelaksanaannya sama seperti siklus I tetapi dimodifikasi sedikit lebih menekankan pada kemampuan analisis siswa dalam belajar.
Kegiatan diawali dengan mengucapkan salam dan mengajak peserta didik untuk berdoa. Kemudian mengecek kehadiran siswa. Peneliti menyampaikan indikator serta tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai, melakukan apersepsi serta memotivasi siswa agar berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Selanjutnya peneliti memberikan pertanyaan tentang materi yang telah diajarkan pada siklus I. Setelah menyampaikan materi, peneliti memberikan contoh soal analisis di papan tulis.
Selanjutnya peneliti membagi siswa dalam kelompok
heterogen yang terdiri atas 4 -5 siswa tiap kelompoknya, kemudian : tiap
orang dalam masing-masing kelompok
membuat soal-soal yang ada hubungannya dengan pokok bahasan
seperti yang dicontohkan di
papan tulis, membicarakan soal yang telah dibuat masing-masing orang dalam kelompok, mendiskusikan soal yang dipilih sebagai soal kelompoknya, masing-masing anggota
kelompok mengerjakan soal berdasarkan pertanyaan hasil kesepakatan, membandingkan jawaban antar anggota
kelompok, dengan tugas terstruktur tersebut diharapkan mereka belajar bagaimana menggunakan pertanyaan untuk membantu mereka dalam merencanakan, memantau dan mengevaluasi pemecahan masalah yang mereka hadapi. Hal serupa dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dalam kelas tersebut.
Setelah masing-masing kelompok mendiskusikan kegiatan di atas, masing-masing kelompok berusaha untuk menjawab soal berdasarkan
pertanyaan hasil diskusi kelompok. Sedangkan kepada siswa yang sedang membuat jawaban secara individu, Peneliti berkeliling memantau kemajuan siswa, antara lain apakah siswa sudah bekerja sesuai dengan rencana
atau belum. Jika Peneliti mendapati siswa menemui kesulitan,
maka peneliti perlu memberi bantuan
antara lain dengan mengingatkan langkah-langkah penyelesaian soal, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Jawaban masing-masing kelompok didiskusikan dalam kelompok tersebut. Secara acak peneliti menunjuk
salah satu anggota kelompok tersebut untuk mempresentasikan penyelesaiannya
dan menjelaskan kepada
semua siswa tentang proses penyelesaian soal yang dikerjakan. Peneliti membantu siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan soal. Sebelum kegiatan belajar berakhir, Peneliti memberikan soal-soal latihan (evaluasi 2) yang harus dikerjakan siswa.
Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan
model pembelajaran berbasis
masalah pada siklus II dinilai baik dengan semua tahap pembelajarannya dalam kategori baik. Tahap yang dinilai
kurang optimal di siklus I mengalami peningkatan di siklus II. Selain itu, berdasarkan pengamatan peneliti menginstruksikan siswa dalam kelompok
untuk mendiskusikan dan menjawab
pertanyaan analisis untuk seluruh kelompok. Adapun pengamatan di luar proses belajar kelompok peneliti memeriksa catatan setiap siswa setelah materi diberikan. Ternyata ada dua orang
siswa yang catatannya tidak lengkap.
Untuk lebih lengkapnya, hasil
pengamatan yang dilakukan
pada siklus II adalah
sebagai berikut:
a. Pengamatan berdasarkan ketuntasan belajar
Berdasarkan hasil ulangan harian pada siklus II, maka ketuntasan belajar siswa pada pelajaran Biologi dengan pokok bahasan Struktur
dan Fungsi Jaringan adalah sebagai berikut:
Tabel 7
Analisis Hasil Ulangan Harian
Pada Siklus II
Mata
Pelajaran��������� :���� Biologi
Pokok Bahasan���������� :���� Struktur Jaringan Hewan
Kelas/Semester�������� :���� XI MIA 4 / Ganjil
Tahun Pelajaran������� :���� 2022 / 2023
Jumlah Soal���������������� :���� 10
Jumlah Siswa������������� :���� 31
Tes��������������������������������� :���� Siklus II
|
No |
Nama |
No Soal |
Skor |
Nilai |
% Pencapaian |
Ketuntasan |
|||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
||||||
|
1 |
ADI SUPANDI |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
2 |
AFNI AULIA NURUL FITRIANI |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
10 |
100 |
100 |
Tuntas |
|
3 |
AGNIA NUR ROSYIDINA |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
4 |
ANIS FADILAH |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
5 |
ASRI AMALA GUNAWAN |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
0 |
6 |
60 |
60 |
Belum |
|
6 |
DANIL SAPUTRA |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
7 |
FITRI RAMDHANI |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
8 |
GHESANY MUTIARA RAMADANI |
1 |
0 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
6 |
60 |
60 |
Belum |
|
9 |
HANY NUR FITRIYANI |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
10 |
INDAH PERMATA SARI |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
11 |
KARINA AZZAHRA |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
12 |
KARTIKA PUTRI ANDINI |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
13 |
KOMARA ABDUL QODIR |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
14 |
LINDA JULIYANTI |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
15 |
MAYATUNAZAH |
1 |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
16 |
MELANI FEBRIYANTI |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
17 |
MERI WIDIA ASTUTI |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
18 |
MICHELE FRANSCISCA |
0 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
19 |
MUHAMAD NUR AWALUDIN |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
20 |
MUHAMMAD FAIZAL |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
21 |
NELA TRIYANI |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
9 |
90 |
90 |
Tuntas |
|
22 |
NIDA AULIA RACHMA |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
23 |
NIRA MULYANI |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
24 |
RAJIB ILHAM WIJAYA |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
25 |
RHISA KHOERUNISSA |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
26 |
RIDHO RIZKULLAH |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
27 |
SANDY FITRIYANI |
0 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
7 |
70 |
70 |
Tuntas |
|
28 |
TITA RAHMA SUDIANA |
1 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
6 |
60 |
60 |
Belum |
|
29 |
YUNIDAR |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
30 |
ZANUR FADILAH |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
31 |
SRI AYUNI OKTAVIYANI |
1 |
1 |
1 |
0 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
0 |
8 |
80 |
80 |
Tuntas |
|
JUMLAH |
25 |
22 |
20 |
25 |
23 |
23 |
25 |
22 |
22 |
26 |
233 |
2.330 |
2.330 |
||
|
RATA-RATA |
0,81 |
0,71 |
0,65 |
0,81 |
0,74 |
0,74 |
0,81 |
0,71 |
0,71 |
0,84 |
7,52 |
75 |
75,16 |
||
|
Skor Rata - Rata |
2,50 |
2,20 |
2,00 |
2,50 |
2,30 |
2,30 |
2,50 |
2,20 |
2,20 |
2,60 |
23,30 |
||||
|
Nilai Tertinggi |
100 |
||||||||||||||
|
Nilai Terendah |
60 |
||||||||||||||
Berdasarkan data tabel di atas, dari 31 siswa
kelas XI MIA 4, 28 siswa mencapai ketuntasan belajar dan 3 siswa belum tuntas. Prosentase
banyaknya siswa yang tuntas adalah = 28/31 X 100 %=
90,32%. Dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan berhasil. Hal ini karena prosentase ketuntasan secara klasikal (90,32%) melebihi batas minimal ketuntasan
belajar klasikal yaitu 85%. Selanjutnya, interpretasi dari kualitas nilai hasil ulangan harian
pada siklus II secara keseluruhan (klasikal) adalah sebagai berikut:
Tabel 8
Interpretasi Kualitas Nilai Hasil Ulangan
Harian pada Siklus II
|
Kelompok Nilai |
Interval Nilai |
Banyaknya Siswa |
Prosentase |
Kualitas Nilai |
|
1 |
0���� -��
59 |
0 |
0% |
Kurang |
|
2 |
60�� -��
74 |
15 |
48,38% |
Cukup |
|
3 |
75�� -��
89 |
14 |
45,16% |
Baik |
|
4 |
90�� -��
100 |
2 |
6,45% |
Amat Baik |
b. Pengamatan berdasarkan keaktifan siswa mencatat materi pelajaran
Ditinjau dari banyaknya siswa yang aktif mencatat materi pelajaran adalah sebagai berikut:
Tabel 9
Keaktifan Siswa Mencatat pada Siklus II
|
No |
Keaktifan |
Banyaknya Siswa |
Prosentase |
|
1 |
Aktif |
29 |
93,54% |
|
2 |
Tidak Aktif |
2 |
6,45% |
|
Jumlah |
31 |
100 % |
|
Prosentase sebesar 93,54% ini
menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis masalah ini dikatakan berhasil.
c. Pengamatan berdasarkan keaktifan siswa dalam belajar kelompok
Ditinjau dari banyaknya siswa yang aktif dalam belajar kelompok
adalah sebagai berikut:
Tabel 10 Keaktifan Siswa dalam Belajar Kelompok
pada Siklus II
|
No |
Keaktifan |
Banyaknya Siswa |
Prosentase |
|
1 |
Aktif |
28 |
90,32% |
|
2 |
Tidak Aktif |
3 |
9,67% |
|
Jumlah |
30 |
100 % |
|
Prosentase sebesar 90,32% ini
menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis masalah ini dikatakan berhasil.
d. Pengamatan berdasarkan kinerja guru
Dari hasil pengamatan
kolaborator dalam hal ini salah satu rekan peneliti diperoleh data tentang kinerja peneliti pada saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
Tabel 11 Hasil Pengamatan Kolaborator terhadap Kinerja Peneliti
pada Siklus II
|
No |
Aspek yang diamati |
Kurang |
Cukup |
Baik |
|
A. |
Pendahuluan |
|
|
|
|
|
1.
Peneliti mengucapkan salam, memastikan kesiapan siswa untuk belajar dan memeriksa kehadiran siswa |
|
|
˅ |
|
|
2.
Memberikan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
dengan struktur dan fungsi jaringan pada hewan |
|
|
˅ |
|
|
3.
Peneliti memberikan arahan rencana pembelajaran model Pembelajaran
Berbasis Masalah |
|
|
˅ |
|
|
4.
Peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai |
|
|
˅ |
|
B. |
Kegiatan Inti |
|
|
|
|
|
5.
Peneliti membagi seluruh siswa menjadi 6 kelompok dengan anggota yang heterogen baik jenis kelamin maupun kemampuan kognitifnya |
|
|
˅ |
|
|
6.
Peneliti mengajukan rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan |
|
|
˅ |
|
|
7.
Siswa mengajukan hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang diajukan oleh peneliti |
|
|
˅ |
|
|
8.
Siswa dibagikan LKPD tentang prosedur pengamatan struktur jaringan pada manusia |
|
|
˅ |
|
|
9.
Siswa menyiapkan dan mengecek alat dan bahan yang dibutuhkan |
|
|
˅ |
|
|
10.
Peneliti membimbing siswa dengan berkeliling ke semua kelompok untuk mengumpulkan data pengamatan |
|
|
˅ |
|
|
11.
Siswa mendiskusikan dan mengolah data hasil pengamatan, menginterpretasikan
data serta mendiskusikan hasil dari pemecahan
masalah dan verifikasi hasil dari pengolahan
data. |
|
|
˅ |
|
|
12.
Siswa membuktikan hipotesis yang diajukan di awal pembelajaran salah atau benar |
|
|
˅ |
|
|
13.
Peneliti menyampaikan klaim nilai dari
struktur dan fungsi jaringan yang terdapat pada manusia |
|
|
˅ |
|
C. |
Penutup |
|
|
|
|
|
14.
Peneliti memberikan penguatan materi dan memberikan kesimpulan dari hasil pengamatan
yang telah dilakukan |
|
|
˅ |
|
|
15.
Peneliti memberikan arahan tentang rencana pembelajaran dipertemuan berikutnya. |
|
|
˅ |
|
D. |
Pengelolaan Waktu |
|
˅ |
|
|
E. |
Penampilan peneliti (ceria, bersih dan rapih) |
|
|
˅ |
|
F. |
Penguasaan Kelas |
|
|
|
|
|
1.
Antusias Siswa |
|
|
˅ |
|
|
2.
Antusias Peneliti |
|
|
˅ |
Berdasarkan hasil pengamatan tentang kinerja peneliti pada saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, nampak bahwa secara keseluruhan
kinerja peneliti dikatakan baik. Pada siklus II,
tahap dan aspek yang kurang
optimal di siklus I telah diperbaiki sehingga terjadi peningkatan di siklus II.
Refleksi Perbaikan dan Pengayaan
Berdasarkan hasil pelaksanaan dan pengamatan pada siklus II ditemukan kegagalan sebagai berikut: Berdasarkan keaktifan siswa dalam mencatat
materi yang diberikan, hanya 2 siswa atau
6,45% yang tidak mencatat meteri pelajaran. Kedua siswa tersebut
hendaknya diberi nasehat atau teguran
tentang penting mempunyai sebuah catatan. Berdasarkan keaktifan siswa dalam belajar kelompok,
terdapat 3 siswa atau 9,67 % yang tidak aktif. Berdasarkan kinerja peneliti pada saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, pada bagian pengelolaan waktu masih perlu
ditingkatkan lagi. Melihat nilai siswa pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dalam ketuntasan belajar, ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dan secara keseluruhan berhasil.
Pembahasan Hasil Penelitian
�Dari hasil penelitian tindakan kelas selama siklus
I sampai dengan siklus II dilakukan pengelompokkan hasil-hasil nilai ulangan harian.
Hal ini untuk memudahkan dalam menganalisis. Hasil
keseluruhan siklus adalah sebagai berikut:
Tabel 12 Hasil Penelitian Berdasarkan Nilai Rata-rata, Nilai Tertinggi
dan Nilai Terendah
|
No. |
Uraian |
Nilai |
||
|
Rata-rata |
Tertinggi |
Terendah |
||
|
1. |
Pra PTK |
59,68 |
90 |
20 |
|
2. |
Siklus I |
70 |
100 |
30 |
|
3. |
Siklus II |
75 |
100 |
60 |
|
4. |
Kenaikan Pra PTK ke Siklus I |
11 |
|
|
|
18,64% |
|
|
||
|
5. |
Kenaikan Siklus I ke Siklus II |
5 |
|
|
|
6,67% |
|
|
||
|
6. |
Kenaikan Keseluruhan (Pra PTK ke Siklus II) |
16 |
|
|
|
21,33% |
|
|
||
Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan
bahwa dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah rata-rata nilai ulangan harian
mengalami peningkatan. Secara keseluruhan peningkatan rata-rata ini sebesar
16 atau 21,33%.
Selanjutnya, berdasarkan interpretasi
dari kualitas nilai hasil ulangan
harian secara keseluruhan (klasikal) adalah sebagai berikut:
Tabel 13 Interpretasi Kualitas Nilai Hasil Ulangan
Harian pada Siklus I
|
Interval
Nilai |
Nilai Pra PTK |
Nilai Siklus I |
Nilai Siklus II |
Kualitas
Nilai |
|||
|
Jml Siswa |
% |
Jml Siswa |
% |
Jml Siswa |
% |
||
|
0 - 59 |
13 |
41,93% |
5 |
16,13% |
0 |
0% |
Kurang |
|
60 - 74 |
8 |
25,81% |
15 |
48,39% |
15 |
48,39% |
Cukup |
|
75 - 89 |
9 |
29,03% |
9 |
29,03% |
14 |
45,16% |
Baik |
|
90 - 100 |
1 |
3,22% |
2 |
6,45% |
2 |
6,45% |
Amat Baik |
Berdasarkan data di atas, ternyata untuk katagori nilai kurang dari nilai
Pra PTK ke nilai siklus II mengalami penurunan yang besar dari 41,93% menjadi 0%. Untuk katagori nilai cukup mengalami kenaikan sebesar 22,58%. Untuk katagori nilai baik mengalami kenaikan besar yaitu 16,13%, sedangkan untuk katagori nilai amat baik mengalami kenaikan 3,23%. Bila ditinjau dari banyaknya siswa yang aktif mencatat materi pelajaran dari siklus I dan siklus II, diperoleh data berikut:
Tabel 14
Keaktifan Siswa Mencatat Siklus I dan Siklus II
|
No |
Keaktifan |
Siklus I |
Siklus II |
|||
|
Banyaknya Siswa |
% |
Banyaknya Siswa |
% |
|||
|
1 |
Aktif |
26 |
83,87% |
29 |
93,55% |
|
|
2 |
Tidak Aktif |
5 |
16,12% |
2 |
6,45% |
|
|
Jumlah |
31 |
100% |
31 |
100 % |
||
Dari hasil data di atas,
diperoleh bahwa untuk keaktifan siswa dalam mencatat materi pelajaran antara siklus I (terdapat 26 siswa atau 83,67% yang aktif) dan siklus II (terdapat 29 siswa atau 93,55%) mengalami kenaikan sebesar 9,68%.
Kemudian, bila ditinjau keaktifan siswa dalam belajar kelompok
dari siklus I dan siklus II, diperoleh data berikut:
Tabel 15
Keaktifan Siswa dalam Belajar
Kelompok Siklus I dan Siklus II
|
No |
Keaktifan |
Siklus I |
Siklus II |
|||
|
Banyaknya Siswa |
% |
Banyaknya Siswa |
% |
|
||
|
1 |
Aktif |
28 |
90,32% |
28 |
90,32% |
|
|
2 |
Tidak Aktif |
3 |
9,67% |
3 |
9,67% |
|
|
Jumlah |
31 |
100% |
31 |
100% |
|
|
Dari hasil
data di atas, diperoleh bahwa untuk keaktifan siswa dalam belajar
kelompok antara siklus I dan siklus II tidak mengalami perubahan.
KESIMPULAN
Setelah peneliti cermati selama dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas dari proses sampai hasil, maka peneliti
menyimpulkan:
Dengan menggunakan model Pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan
kemampuan analisis siswa pada pokok bahasan Struktur dan Fungsi Jaringan pada hewan di kelas XI MIA 4 SMAN 1 Lebakwangi Kab. Kuningan Tahun Pelajaran
2022/2023. Hal ini dapat dilihat dari perolehan
nilai rata-rata ulangan harian yang semula sebelum diadakan penelitian 59,68 dengan ketuntasan 51,61% meningkat menjadi 70 pada siklus I dengan ketuntasan 83,87% dan 75
pada siklus II dengan ketuntasan 90,32%.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Lorin W., &
Krathwohl, R. (2015). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan asesmen
(Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom), terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Andri, Ryan. (2018). Pengaruh
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Lerning (Pbl) Dengan Media Kartu
Masalah Terhadap Kemampuan Analisis Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Sma
Negeri 3 Tapung. Universitas Islam Riau.
Batubara, Ismail Hanif. (2017).
Peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis melalui model pembelajaran berbasis
masalah berbantuan autograph dan geogebra di SMA Freemethodist Medan. MES: Journal
of Mathematics Education and Science, 3(1), 47�54.
Fonna, Nurdianita. (2019).
Pengembangan Revolusi Industri 4.0 dalam Berbagai Bidang. Guepedia.
Hasibuan, Miska Khairani.
(2018). Meningkatkan Hasil Belajar Bukti Transaksi Dengan Kemampuan
Menganalisis Melalui Model Kooperatif Tipe Picture and Picture.
Intarti, Esther Rela. (2010).
Hubungan Antara Konsep Diri Dan Pengetahuan Administrasi Gereja Dengan
Motivasi Pelayanan Majelis Gereja Kristen Jawa Pondok Gede Jakarta Timur. Sekolah
Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta.
Jusriana, Andi, Sawedi, Astianinsi,
& Hading, Hading. (2019). Efektivitas Metode Pembelajaran Problem Posing
Tipe Pre Solution Posing Terhadap Kemampuan Menganalisis Peserta Didik. JPF (Jurnal
Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 7(2),
162�168.
MARDIANA, SITI. (2019). Penggunaan
Model Pembelajaran Project Based Learning (Pjbl) Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Sma Pada Kelas X Materi Keanekaragaman Hayati. FKIP UNPAS.
Ramadhani, Rahmi, Masrul,
Masrul, Nofriansyah, Dicky, Abi Hamid, Mustofa, Sudarsana, I. Ketut, Sahri, Sahri,
Simarmata, Janner, Safitri, Meilani, & Suhelayanti, Suhelayanti. (2020). Belajar
dan pembelajaran: konsep dan pengembangan. Yayasan Kita Menulis.
Saraswati, Putu Manik
Sugiari, & Agustika, Gusti Ngurah Sastra. (2020). Kemampuan berpikir tingkat
tinggi dalam menyelesaikan soal HOTS mata pelajaran matematika. Jurnal
Ilmiah Sekolah Dasar, 4(2), 257�269.
Wahyuni, Sry. (2019). Pengembangan
Lembar Kerja Peserta Didik (lkpd) Terintegrasi Imtaq Pada Materi Pokok Struktur
Dan Fungsi Jaringan Pada Tumbuhan Untuk Kelas Xi Sma Tahun 2018/2019. Universitas
Islam Riau.
Nafiah, N. Y. 2014. Penerapan
Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan
Hasil Belajar Siswa. (Volume 4 Nomor 1). Jurnal Pendidikan Vokasi. (Diakses pada
tanggal 10 Oktober 2022).
Paidi. 2010. Model
Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Biologi di SMA. FMIPA UNY. (Diakses tanggal
20 Oktober 2022).
Prasetyanti, dkk. 2016. Penerapan
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan
Proses Berpikir Kognitif Siswa Kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun
Pelajaran 2015/2016. Jurnal Pendidikan IPA. Hal-17. (Volume : 5 Nomor : 2). (Diakses
12 Oktober 2022).
�