EDUKASI
�MENJADI ORANG TUA HEBAT DI ERA GADGET� PADA YAYASAN CIARYLENE
Grace Latuheru1, Joe Kambodji2,
Joice Mailoa
Universitas Pattimura,
Indonesia1, ASHERA.AMQ, Layanan Psikologi, Ambon, Maluku, Indonesia2
Abstrak:
Pandemi Covid-19 belum
berakhir, masyarakat harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Kebiasaan baru
tersebut antara lain bekerja, beribadah dan belajar dari rumah. Begitu pun
dengan siswa/I di TK Ciarylene. Anak menghabiskan waktu bersekolah atau bermain
di dalam rumah. Orang tua sering kewalahan dalam membersamai anaknya belajar di
rumah, apalagi orang tua yang masih harus bekerja. Untuk mengurangi kewalahan
orang tua, mereka sering memberikan gadget kepada anak sebagai cara
untuk anak diam, tidak mengganggu aktivitas orang tua. Gadget selain
sebagai alat elektronik yang berfungsi untuk komunikasi dan mencari informasi,
gadget juga dilengkapi dengan aplikasi dan fitur yang menarik sehingga
anak-anak dapat tenang ketika memainkan gadget. Saat pemberian gadget
tidak dikontrol dengan baik oleh orang tua, maka akan mengakibatkan terjadi
kecanduan gadget pada anak. Kecanduan gadget ini akan berdampak pada fisik
maupun psikis anak. Hal ini mendasari dilakukannya kegiatan pengabdian
masyarakat di Yayasan Ciarylene sebagai langkah sederhana memberikan edukasi
kepada orang tua terkait bahaya penggunaan gadget. Metode yang digunakan
adalah dengan ceramah dan diskusi. Kesimpulan yang diperoleh setelah
pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat, adalah peserta sangat antusian
mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dengan tertib
Kata kunci: edukasi; kecanduan
gadget; orang tua
Abstract:
The COVID-19 pandemic hasn't ended yet, therefore
individuals have to get used to new routines. These new routines include
working, worshiping, and studying from home. It is also experienced by students
at Ciarylene Kindergarten. Children spend their time at school or playing in
the house. Parents who still have to work are often overwhelmed when
accompanying their children to study at home. To reduce parental stress,
children are frequently given gadgets so they can be quiet and don't interfere
with their parents� activities. Gadgets, in addition to being electronic tools
for communication and information obtaining, are also equipped with interesting
applications and features that allow children to relax while using them. Giving
children gadgets that are not properly controlled by their parents will result
in gadget addiction. Addiction to this device will have an impact on the
child's physical and psychological well-being. This underlies the community
service activities at the Ciarylene Foundation as a simple step in providing
education to parents regarding the dangers of using gadgets. The methods used
were lectures and discussions. Following the completion of the community
service activities, the participants were found to be very enthusiastic about
participating in the activity from start to finish in a timely manner.
Keywords:
education; gadget addiction; parent
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Grace Latuheru
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Saat penyebaran pandemi Covid-19 sampai ke Indonesia, masyarakat
diharuskan melakukan aktivitas dari rumah seperti bekerja, beribadah dan
belajar. Aktivitas dari rumah ini dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan
penyebaran covid-19. Begitu pun dengan proses pembelajaran pada
anak-anak karena mereka harus melakukan pembelajaran dari rumah yang disebut
dengan pembelajaran daring.
Dalam proses pembelajaran secara daring, anak-anak diharuskan menggunakan
gadget baik smarthphone ataupun laptop. Hal ini mengakibatkan
para orang tua menemani anak dalam proses pembelajaran secara online/daring.� Akibat dari pembelajaran daring ialah orang
tua kewalahan dalam membersamai anak dalam belajar, sehingga orang tua kerapkali
membiarkan anak memainkan gadget agar anak tenang dan tidak mengganggu
aktivitas orang tua.
Gadget secara umum merupakan perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus
pada setiap perangkatnya. Gadget dilengkapi dengan aplikasi dan fitur
yang menarik. Sehingga menarik anak-anak untuk menggunakan gadget. Hal
ini tentu membuat para orang tua percaya bahwa gadget bisa menjadi teman
bermain yang aman dan mudah dipantau. Alhasil, sekarang gadget bisa
menggantikan peran orang tua.
Penggunaan gadget tidak dianjurkan untuk anak usia prasekolah, hal
ini dikarenakan pada usia prasekolah anak masih harus mengenal lingkungan
sekitar. Penggunaan gadget biasanya hanya dipakai untuk bermain game
dan menonton video animasi (Azizah, 2021). Usia prasekolah biasa juga disebut Golden periode atau usia emas.
Golden periode adalah masa pertumbuhan dan perkembangan, dimana sebagian besar jaringan
sel otak berfungsi sebagai pengendali aktivitas manusia. Anak akan merespon
serta belajar hal-hal baru dan mulai mengeksplorasi sekitarnya (Suana &
Firdaus, 2014).
Nyatanya, masih banyak orang tua yang belum memahami stimulasi dini dalam
perkembangan anak prasekolah. Selain itu, orang tua juga belum menyadari bahwa
pola asuh juga mempengaruhi perkembangan anak sampai dia dewasa. Hal ini
berarti bahwa peran orang tua secara langsung dalam memberikan stimulasi sejak
dini kepada anak serta kehadiran orang tua mampu memberikan perkembangan yang
baik dalam tumbuh kembang anak. Berbading terbalik dengan kenyataan di lapangan
karena masih banyak orang tua sengaja membiarkan anak bermain gadget
agar anak duduk tenang dan tidak rewel (Novitasari
& Khotimah, 2016).
Semakin tinggi tingkat pengguna gadget
maka akan meningkatkan risiko kecanduan gadget. Menurut hasil penelitian
sebelumnya didapatkan hubungan kecanduan gadget akan meningkatkan risiko gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas atau sering disebut
ADHD karena kecanduan gadget mempengaruhi pelepasan hormone dopamine
yang berlebihan sehingga menyebabkan penurunan kematangan Pre Frontal Cortex (PFC) (Paturel, 2014).
Masalah aktual yang terjadi dilapangan Hal ini juga dirasakan oleh guru
pada Taman Kanak-kanak Ciarylene. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Sekolah,
beliau menyebutkan bahwa beberapa guru kewalahan karena ada murid yang saat di
sekolah ada siswa yang tantrum jika tidak diberikan gadget. Guru juga mengamati perilaku muridnya yang suka menonton video melalui
aplikasi tiktok dan membuat mereka menari atau meniru gerakan yang sensasional
dari video tersebut.� Hal ini juga
menjadi ketakutan guru, dikarenakan dalam 2021 sudah terjadi kasus pelecehan
seksual di sekitar sekolah.
Berdasarkan survey yang dilakukan
peneliti kepada orang tua siswa terkait durasi penggunaan gadget,
diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 1. Hasil Survey Dursi Penggunaan Gadget
Hal ini menunjukkan bahwa murid di
Ciarylene memiliki risiko mengalami kecanduan gadget. Pada penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Ria Novianti, dkk tahun 2019 (Novianti, Hukmi, & Maria, 2019) mendapatkan hasil bahwa durasi penggunaan gadget pada anak adalah sebagai berikut: 21,3%
anak yang sering menggunakan gadget lebih dari 10 jam sehari, 51,1%
mengatakan kadang-kadang, 12,8% tidak pernah menggunakan gadget dan 9,6%
tidak pernah menggunakan gadget.
Hasil penelitian lain tahun 2013 juga
menyebutkan bahwa 72 % anak prasekolah sudah menggunakan gadget. Hasil
penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa anak usia 2 tahun lebih senang
memainkan tablet atau smarthphone. Survei yang dilakukan eMarketer didapatkan hasil bahwa pengguna gadget di
Indonesia mengalami peningkatan sejak tahun 2016 dan diprediksi masuk 4 besar
populasi pengguna gadget terbesar di dunia (Suana & Firdaus, 2014).
Dampak kecanduan gadget pada anak
juga ialah gangguan pada perkembangan anak dan gangguan pada interaksi social
anak. Sehingga penulis bersama dengan Yayasan Ciarylene melaksanakan
sosialisasi guna meningkatkan pemahaman orang tua terhadap bahaya kecanduan gadget
serta dampaknya terhadap anak.
Pemecahan
masalah yang berkaitan dengan kecanduang gadget
dapat
direalisasikan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut
berupa Sosialisasi Menjadi orang tua hebat di era Gadget
pada Yayasan Ciarylene. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat memberikan tambahan
pengetahuan kepada mitra untuk diaplikasikan.
Edukasi merupakan proses interaktif yang mendorong terjadinya
pembelajaran, dan pembelajaran merupakan upaya penambahan pengetahuan baru,
sikap, dan keterampilan melalui penguatan praktik dan pengalaman tertentu.
Edukasi, yaitu dengan diberikan pendidikan kesehatan yang terprogram
menggunakan berbagai macam cara. memiliki arti bahwa materi edukasi disiapkan
dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. menurut kamus besar
bahasa Indonesia adalah sudah dalam keadaan disusun atau diatur rapi. Edukasi
dilakukan dalam pengabdian masyarakat ini guna meningkatkan peningkatan
pemahaman atau pengetahuan bagi orang tua dalam memberikan gadget kepada
anak.
METODE PENELITIAN
Metode Pelaksanaan harus memuat beberapa hal penting
berikut:
Waktu dan Lokasi Kegiatan
Kegiatan Sosialisasi dilaksanakan di Yayasan Ciarylene, Ahuru, Ambon pada
tangga 10 September 2022 pukul 10.00 � 12.00 WIT. Kegiatan tersebut dihadiri
oleh 25 orang tua murid.
Mitra Kegiatan.
Mitra kegiatan pengabdian masyarakat adalah TK
Yayasan Ciarylene, Ahuru, Ambon.
Langkah-langkah pelaksanaan
Kegiatan
dilaksanakan dengan memberikan sosialisasi Menjadi Orang Tua Hebat di Era Gadget
melalui ceramah dan diskusi bagi peserta.
Tahap Persiapan
Tahap persiapan dari
kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah observasi lokasi kegiatan dan
pengurusan administrasi kegiatan serta koordinasi dengan pengelola Yayasan
Ciarylene
Tahap Pelaksanaan
Kegiatan pengabdian
kepada masyarakat ini dilakukan dengan penyampaian materi sosialisasi terlebih
dahulu. Materi seputar gadget dan kecanduan gadget pada anak. Kegiatan
dilanjutkan dengan diskusi bersama orang tua siswa.
Evaluasi
Evaluasi kegiatan
berkaitan dengan proses penyampaian materi dan respons orang tua siswa terhadap
kegiatan yang dilaksanakan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan sesuai
dengan jadwal yang ditentukan. Materi disajikan dengan baik dan menggunakan
bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Interaksi antara pembicara dan peserta
dalam diskusi dan sesi tanya jawab juga sangat baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian msyarakat ini
berfokus pada edukasi kepada orang tua terkait pengaruh gadget pada anak.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan secara langsung berinteraksi
dengan peserta dengan tetap menerapkan protocol Kesehatan. Peserta yang
mengikuti kegiatan berjumlah 25 orang.

Gambar 2. Penyampaian Materi Gadget dan
Pengaruhnya bagi anak-anak


Gambar.3 Materi terkait Gadget dan
Pengaruhnya
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan
sambutan oleh ketua Yayasan Ciarylene yang kemudian dilanjutkan dengan
penyampaian materi menjadi orang tua hebat di era Gadget. Sebelum
menyampaikan materi, pemateri melakukan diskusi awal sebagai pre-tes dengan
orang tua untuk mengukur pengetahuan orang tua tentang gadget dan
dampaknya terhadap perkembangan anak. Hampir semua orang tua menjawab gadget
membantu mereka dalam menenangkan anak serta menjaga anak untuk tidak bergaul
di luar rumah.
Menurut Yeni tahun 2015 Generasi Alpha (Gen A) adalah anak-anak yang
lahir setelah tahun 2010 dan menjadi generasi yang paling lekat dengan internet
(Yuniati,
Yuningsih, & Nurahmawati, 2015). Menurut Ediana & Herawati dalam Kursiwi tahun 2016, komunikasi
serta interaksi manusia semakin mudah karena hadirnya gadget. Gadget
mengakibatkan perkembangan pesat dalam dunia teknologi dan komunikasi (Fatimah, 2013)
Golden
periode atau usia emas
anak adalah periode lima tahun pertama kehidupan anak sering disebut juga
sebagai window opportunity, atau critical periode (Suana & Firdaus, 2014). Periode ini
merupakan waktu yang baik dalam mengasah berbagai
aspek tumbuh kembang anak, seperti kecerdasan, minat & bakat, kemampuan fisik, sikap, perilaku, kepribadian, bahasa, dan spiritual (Wulandari, Ichsan, & Romadhon, 2017).
Pada
periode golden age ini penting untuk memberi stimulasi atau rangsangan agar meningkatkan fungsi organ tubuh, �serta peningkatan kemampuan dasar pada anak terutama untuk meningkatkan
tumbuh kembangnya (Nurjanah, 2015)
Penggunaan gadget yang tidak terkendali menyebabkan kecanduan
gadget. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan keterkaitan antara kecanduan
gadget dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak (Paturel, 2014). Kecanduan
adalah bagian dari perilaku kompulsif, ketergantungan dan kehilangan kendali,
menurut Griffiths. Kata kecanduan (kecanduan) banyak digunakan dalam konteks
klinis dan diekspresikan dengan perilaku berlebihan (Essau, 2008).
Materi sosialisasi manjadi orang tua
hebat di era Gadget yang disampaikan dalam kegiatan ini berupa
powerpoint dan lembar diskusi dengan orang tua. Dalam power point
tersebut menjelaskan tentang apa itu gadget, apa dampak penggunaan gadget,
durasi penggunaan gadget, diskusi kebutuhan penggunaan gadget,
pengaruh tiktok bagi perkembangan anak. Orang tua diberi pengetahuan terkait gadget
dan permasalahan terkait penggunaan gadget agar mampu mengontrol
pemberian gadget pada anak. Mildayani pada tahun 2017 yang mempelajari dampak gadget terhadap
interaksi sosio-emosional anak menyatakan bahwa perkembangan sosio-emosional
anak bergantung pada lingkungannya yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya.
Hal ini berarti bahwa saat anak terlalu sering memainkan gadget maka
kemampuan sosio emosinya akan rendah.
Beberapa penelitian sebelumnya menemukan
bahwa menunjukkan ada
hubungan penggunaan gadget dengan resiko gangguan ADHD pada anak usia
prasekolah di TK ABA III Gunungan, Bareng Lor (Setianingsih, 2018). Selanjutnya menurut Harfiyanto dkk tahun 2015 siswa hanya memainkan gadget tanpa
menghiraukan lingkungan sekitar (Harfiyanto,
Utomo, & Budi, 2015). �Iswanto dan Onibala dalam Yusmi Warisyah tahun
2015 mendefenisikan, bahwa Anak yang sering memainkan gadget, cenderung
mengabaikan lingkungan sekitar. Mereka menganggap gadget sebagai teman
bermain (Warisyah,
2019).
Usai pemberian materi, diadakan diskusi
dan tanya jawab dengan peserta. Para peserta antusian memberikan pertanyaan
menyangkut materi yang diberikan. Peserta merespons soal bagaimana seharusnya
pengontrolan untuk anak yang diasuh oleh orang lain karena orang tuanya
bekerja, bagaimana Langkah yang harus dilakukan jika anak sudah terlanjur
menjadi pecandu gadget.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang setelah dilakukannya pengabdian masyarakat ini,
adalah peserta kegiatan sangat antusias. Para orang tua walau dalam kegiatan
pengabdian bersamaan dengan bazar Yayasan tetapi orang tua tetap mengikuti
kegiatan dari awal hingga akhir dengan tertib. Peningkatan pengetahuan tentang
bahaya gadget bagi Kesehatan fisik maupun psikis sudah tersampaikan
dengan baik kepada peserta.
Penggunaan gadget dapat dikontrol oleh orang tua sebagai
pemegang kekuasaan dalam keluarga. Saat memberikan gadget kepada anak
orang tua diharapkan melakukan diskusi terkait kebutuhan anak dalam memakai gadget,
membuat aturan penggunaan gadget guna mengontrol dan meminimalisir
terjadinya kecanduan. Serta tidak sampai kepada materi saja terkait dampak dan
cara mengatasi, diharapkan kedepannya guru dan orang tua menyepakati melakukan
program sehari tanpa gadget untuk memulai membatasi penggunaan gadget
pada anak.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Siti Nafiah
Faiqotul. (2021). HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN GADGET DENGAN PERKEMBANGAN
SOSIAL ANAK PRASEKOLAH. UNIVERSITAS dr. SOEBANDI.
Essau, C. (2008).
Adolescent Addiction: Epidemiology. Assessment and Treatment. Oxford:
Academic Press.
Fatimah, Dewi. (2013). Faktor-Faktor
Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Di
Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo.
Harfiyanto, Doni, Utomo,
Cahyo Budi, & Budi, Tjaturahono. (2015). Pola interaksi sosial siswa
pengguna gadget di SMA N 1 Semarang. Journal of Educational Social Studies,
4(1). http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jess
Novianti, Ria, Hukmi,
Hukmi, & Maria, Ilga. (2019). Generasi Alpha�Tumbuh Dengan Gadget Dalam
Genggaman. Jurnal Educhild: Pendidikan Dan Sosial, 8(2), 65�70.
Novitasari, Wahyu, &
Khotimah, Nurul. (2016). Dampak penggunaan gadget terhadap interaksi sosial
anak usia 5-6 tahun. Jurnal PAUD Teratai, 5(3), 182�186.
Nurjanah, Nunung.
(2015). Pengaruh penkes stimulasi perkembangan anak terhadap pengetahuan dan
sikap orangtua di rumah bintang islamic pre school. Jurnal Keperawatan BSI,
3(2).
Paturel, Amy. (2014).
Game Theory: How do video games affect the developing brains of children and
teens? Neurology Now, 10(3), 32�36.
Setianingsih, S. (2018).
Dampak penggunaan gadget pada anak usia prasekolah dapat meningkatan resiko
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Gaster, 16(2),
191�205. https://doi.org/10.30787/gaster.v16i2.297
Suana, Suana, &
Firdaus, Firdaus. (2014). Pola Asuh Orangtua Akan Meningkatkan Adaptasi Sosial
Anak Prasekolah di RA Muslimat NU 202 Assa�adah Sukowati Bungah Gresik. Journal
of Health Sciences, 7(2). https://doi.org/10.33086/jhs.v7i2.509
Warisyah, Yusmi. (2019).
Pentingnya �pendampingan dialogis� orang tua dalam penggunaan gadget pada anak
usia dini. Seminar Nasional Pendidikan 2015, 130�138.
Wulandari, Retno,
Ichsan, Burhannudin, & Romadhon, Yusuf Alam. (2017). Perbedaan perkembangan
sosial anak usia 3-6 tahun dengan pendidikan usia dini dan tanpa pendidikan
usia dini di Kecamatan Peterongan Jombang. Biomedika, 8(1). https://doi.org/10.23917/biomedika.v8i1.2900
Yuniati, Yenni,
Yuningsih, Ani, & Nurahmawati, Nurahmawati. (2015). Konsep diri remaja
dalam komunikasi sosial melalui �Smartphone.� MIMBAR: Jurnal Sosial Dan
Pembangunan, 31(2), 439�450. https://doi.org/10.29313/mimbar.v31i2.1552