PENANGGULANGAN
LONGSOR AKIBAT BANJIR PADA LERENG DI KECAMATAN BANJAR REJO KENDAL
Aris
Krisdiyanto, Kemmala Dewi
Universitas 17 Agustus 1945 Semarang
[email protected], [email protected]
Abstrak:
Penanggulangan
longsor pada wilayah Krajan, Banjarejo, Kecamatan Boja Kendal yang
diaibatkan curah hujan yang tinggi, kemudian talut tidak bisa menahan tekanan
air dan kondisi tanah yang terkena air ikut terbawa yang mengakibatkan longsor
pada wilayah tersebut. Kondisi lokasi diapit antara tebing yang terjai pada
bulan Juni Tahun 2022, penanganganan longsor dilihart dari strukur tanah dan
kondis kontrur tsnsh dipilih yang paling cocok adalah menggunakan konstruksi
bronjong karena merupakan tebing dan dapat dibuat dengan metode terasering� dari pada menggunakan turap beton bertulang
atau pasangan batu kali utuh. Konstruksi bronjong lebih mudah pelaksanannya,
lebih murah biaya dan efisien.
Kata kunci: penanggulangan; banjir; longsor
Abstract:
The
handling of landslides in the Krajan area, Banjarejo, Boja Kendal District
which was caused by high rainfall, then the ditch could not withstand the water
pressure and the soil conditions affected by the water were carried away which
resulted in landslides in the area. The condition of the location between the
cliffs that occurred in June 2022, the handling of landslides seen from the
soil structure and the condition of the tsnsh contour, the most suitable is to
use gabion construction because it is a cliff and can be made by the terracing
method instead of using reinforced concrete sheet pile or river stone masonry
intact. Gabion construction is easier to implement, cheaper and more efficient.
Keywords:
countermeasures; flood; landslide
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Aris Krisdiyanto
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pengabdian masyarakat untuk penanggulangan longsor pada lereng Jl. Krajan
RT 02/RW 02, Banjarejo, Kec.Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah 51381,
melibatkan sebagian mahasiswa faktultas Prodi Sipil Fak. Teknik Sipil untuk
membantu mengecek pemasangan batu kali dan pemasangan kawat bronjong yang
bertujuan belajar langsung dilapangan.
Tanah merupakan aspek penting dalam perencanaan konstruksi. Karena pada
tanah berdirinya satu bangunan (Wikantiyoso, 2010). Oleh karena itu sangat
penting untuk memperhatikan faktor kestabilan tanah (Zakaria, 2009). Salah satu cara yang
digunakan untuk melakukan pengendalian kestabilan tanah agar tidak mengalami
kelongsoran adalah dengan membangun dinding penahan tanah (Subiana, 2021). Dinding penahan tanah
adalah suatu struktur konstruksi yang dibangun untuk menahan tanah yang
mempunyai kemiringan/lereng dimana kekuatan tanah tersebut tidak dapat dijamin
oleh tanah itu sendiri (Anang, 2019).
Bangunan dinding penahan tanah digunakan untuk menahan tekanan tanah
lateral yang ditimbulkan oleh tanah urugan atau tanah asli yang labil akibat
kondisi topografinya (Setiawan, 2011).
Dinding penahan dalam praktik konstruksi sipil memiliki banyak jenis
tergantung dari aplikasi dan kasus yang akan digunakan digunakan baik untuk
menahan tekanan tanah pada tebing/slope, timbunan/embankment, konstruksi sub
structure/basement, kolam tampungan retensi/ pond, konstruksi pembendung air,
penahan transpor sedimen pada sungai roraya (Winanda, 2017). Dinding penahan memiliki
beberapa fungsi antara lain:
a.
Menahan tekanan lateral tanah aktif ( Active Lateral Force Soil ) yang
dapat berpotensi menyebabkan terjadinya keruntuhan lateral tanah misalnya
longsor/landslide.
b.
Menahan tekanan lateral air ( Lateral Force Water )� yang dapat berpotensi menyebabkan terjadinya
keruntuhan lateral akibat tekanan tekanan air yang besar.
c.
Mencegah terjadinya proses perembesan air/ seepage secara lateral yang
diakibatkan oleh kondisi elevasi muka air tanah yang cukup tinggi. Dalam hal
ini juga berfungsi dalam proses dewatering yaitu dengan memotong aliran air (
Flow net ) pada tanah (Cut Off ).
Perencanaan bangunan dinding penahan tanah untuk menahan dan meninggikan
tanah timbunan maka di rencanakan bangunan dinding penahan tanah bronjong pada
pekerjaan Bronjong di Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Kendal.
Dinding Penahan Tanah (Retaining wall) Retaining wall merupakan istilah
di bidang teknik sipil yang artinya dinding penahan (Tamaela, Suhudi, & Arifianto, 2018). Berdasarkan buku
Sudarmanto, Ir., Msc., (1996), Konstruksi Beton 2 dinyatakan bahwa, Dinding
penahan tanah adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menahan tanah lepas
atau alami dan mencegah keruntuhan tanah yang miring atau lereng yang
kemampatannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri.
Pada dasarnya pembangunan konstruksi dinding penahan tanah berfungsi
untuk mencegah agar tidak terjadi terjadi kelongsoran ke menurut kemiringan
alaminya (RI, 2015). Sebagian besar bentuk
dinding penahan tanah adalah tegak (vertikal) (Mona, 2021).
Adapun tujuan dalam pembangunan dinding penahan tanah dengan bronjong ini
adalah mencegah kembali terjadinya longsoran ketika curah hujan tinggi pada
tanah timbunan di punggung dinding penahan, karena sebelumnya menggunakan
dinding penahan tanah/talud dengan pasangan batu kali, dan dinding penahan
dengan bronjong ini dicoba untuk meminimalisir terjadinya longsoran kembali.
METODE PENELITIAN
Dalam pengumpulan
data sebagai bahan penyusunan laporan ini, metode yang penulis gunakan adalah :
Metode Observasi
Observasi atau
pengamatan adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan
pengamatan objek pekerjaan atau kegiatan secara langsung di lapangan. Apabila
ada yang perlu ditanyakan kepada pembimbing lapangan, sebisa mungkin pertanyaan
tersebut dicatat dengan benar dan jelas sesuai dengan keadaan di lapangan,
mengetahui kaondisi tanah exsiting
Metode Interview (Wawancara)
Dalam metode
wawancara, penulis memanfaatkan kemampuan berbicara penulis dengan mengajukan
berbagai pertanyaan secara langsung pada saat berada di lapangan dengan
pihak-pihak yang dianggap mampu memberikan penjelasan secara benar dan konkret
sehingga didapat data-data yang dapat dipertanggungjawabkan. Melalui proses tanya
jawab inilah penulis mampu memperoleh data tambahan guna memudahkan penulis
dalam penyusunan laporan (Sugiyono, 2015).
Metode Dokumentasi
Dokumentasi
adalah metode untuk memperoleh data dengan cara mengambil gambar-gambar
kegiatan, benda, ataupun peristiwa pada saat berada di lokasi proyek
konstruksi. Metode ini juga dapat dilakukan dengan cara melihat gambar-gambar
kerja dan dokumen lain yang berkait dengan materi yang akan disampaikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
PEKERJAAN PEMASANGAN BRONJONG
DEFINISI PEKERJAAN PEMASANGAN BRONJONG
Bronjong adalah batu-batu yang diisi ke dalam jaring berbentuk keranjang
yang terbuat dari besi yang telah digalvanisir yang digunakan untuk
menstabilkan tanah dan mencegah erosi. Keranjang dari jaring tersebut mempunyai
berbagai ukuran tapi pada prinsipnya untuk menciptakan suatu kepadatan,
fleksibel, permeable dan membentuk suatu batuan yang besar yang disatukan oleh
sebuah jaring.
Bronjong digunkan untuk menstabilisasikan slope untuk mencegah longsor,
disebabkan oleh erosi atau berdasarkan desain perencanaan tangga slope (Sela, 2012). Contohnya digunakan untuk
tepi� sungai,� timbunan jalan,� timbunan rel, dinding/tepi laut dan dinding
penahan dari erosi dan control banjir. Seandainya bronjong mempunyai nilai
ketinggian yang kecil dalam hubungannya ke dimensi� lateral,�
ini� disebut� gabion�
mattress.� Worksheet ini
menggambarkan prosedur dasar dari pembangunan sebuah bronjong termasuk
penggalian, pemasangan bronjong dan pelaksanaan penggalian kembali.
Adapun tujuan dalam pembangunan dinding penahan tanah dengan bronjong ini
adalah mencegah kembali terjadinya longsoran ketika curah hujan tinggi pada
tanah timbunan di punggung dinding penahan, karena sebelumnya menggunakan
dinding penahan tanah/talud dengan pasangan batu kali, dan dinding penahan
dengan bronjong ini dicoba untuk meminimalisir terjadinya longsoran kembali.
METODE PELAKSANAAN PENANGANAN BRONJONG
1. Lakukan pemasangan patok dan benang untuk menandakan
daerah penggalian untuk pemasangan bronjong berdasarkan dimensi jaring dan
disain.Termasuk tempat ruangan untuk pemadatan merial pada bagian luar
penempatan bronjong, dianjurkan lebar tempat 500 mm diukur dari bagian bawah
areabronjong. Pastikan kemiringan yang tepat dibuat padasaat penggalian, paling
tidak 1:2 (45�). Seandainya dibutuhkan gunakan penopang dan lembaran papan
untuk penahan. Pastikan daerah penggalian selalu kering dengan menggunakan
pompa air listrik dan generator
2. Selama penggalian, letakkan jaring bronjong
padapinggir slope dan mulai pembentukan jaring. Biasanya jaring bronjong
dikirim dalam bentuk memanjang (seperti ditunjukkkan pada gambar), dan dengan
ukuran lebar x tinggi yaitu 1000 x 500. Bungkus jaring hingga berbentuk kotak
dan ikatkan bersama bagiantepinya menggunakan kawat yang telah digavanisir d=3
mm, jepit dan ikatkan serta dipotong dengan menggunakan tang
3. Selama penggalian, letakkan jaring bronjong pada
pinggir slope dan mulai pembentukan jaring. Biasanya jaring bronjong dikirim
dalam bentuk memanjang (seperti ditunjukkkan pada gambar), dan dengan ukuran
lebar x tinggi yaitu 1000 x 500. Bungkus jaring hingga berbentuk kotak dan
ikatkan bersama bagian tepinya menggunakan kawat yang telah digavanisir d=3 mm,
jepit dan ikatkan serta dipotong dengan menggunakan tang.
4. Lanjutkan perletakan dan pengisian jaring bronjong
dan tumpukan dan ikatkan semua sesuai dengan gambar. Semakin banyak dinding
bagian dalam di dapat, maka bronjong semakin kuat, karena itu maka setiap
bronjong harus diikatkan secara bersama-sama dengan sebelumnya secara sejajar.
Bronjong yang diletakkan diatas untuk setiap susunan harus dihubungkan juga
dengan yang lainnya. Seandainya bronjong mempunyai bentuk memanjang sisi bagian
baah jaring harus dipasang daya tahan dan memperkuat struktur
5. Rongga antara bagian belakang dinding bronjong
dengan kemiringan bekas galian harus ditimbun kembali dan dilakukan pemadatan dengan menggunakan material berukuran 0-150mm. Seandainya menggunakan
tamper, yaitu alat yang paling sesuai digunakan untuk memadatkan material,
tuangkan material setebal 40 cm disekeliling bronjong.
6.

Ketika struktur bronjong telas selesai, pastikan
semua celah disekeliling bronjong ditimbun kembali dan dipadatkan dengan baik
dan semua sambungan diikatkan dengan baik
QUALITY CONTROL PEKERJAAN BRONJONG Sebelum
Aktifitas Dilaksanakan :
1.
Pastikan Semua
material, peralatan dan alat bantu lainnya tersedia dan dalam kondisi baik
serta sesuai dengan spesifikasi;
2.
Pastikan setting out
dilakuakan dengan benar dan berdasarkan suatu ketinggian yang telah ditentukan
sebelumnya;
3.
Kontrol jaring
bronjong, perletakan batuan, diameter lubang jaring, diameter kawat dan volume
untuk perencanaan pekerjaan.

Ketika Aktifitas Dilaksanakan:
1.
Pastikan Semua tanah dipindahkan dari galian sampai dengan kedalaman yang
tepat;
2.
Pastikan semua bongkahan dan batu-batu besar dipindahkan dari bawah
tempat penggalian dan seandianya butuh ratakan dengan material yang lebih baik;
3.
Periksa dinding penggalian dan kemiringan dinding galia 1:2 untuk mencegah
terjadinya longsor Jagalah galian agar dalam
keadaan kering sebisa mungkin;
4.
Pastikan pengikat dilakukan dengan kawat yang telah digalvanisir d>3mm
dan dengan jumlah kawat yang cukup;
5.
Pastikan batu dan kerikil yang digunakan mempunyai kualitas yang baik dan
dengan ukuran yang sesuai;
6.
Pastikan bronjong terkunci dengan mengikatkannya secara bersamaan;
7.
pastikan dilakukan pemadatan yang cukup di sekeliling bronjong
Pencegahan Akhir :
1.
Pastikan bronjong
diisi dengan cukup, timbunan kembali yang dibuat dipadatkan dengan baik
sehingga tidak ada lagi yang masih lembek;
2.
Periksa semua
sambungan yang terlihat apakah sudah terikat dengan baik
KESIMPULAN
Pemilihan konstruksi
penanggulangan bronjong sangatlah tepat karena loksi longsor adalah tebing yang
cukup terjal, apabila menggunakan konriksi pasangan batu kali atau konstruksi
beton bertulang akan lebih berbahaya karna dapagt mengakibatkan sliding dan
juga konstruksi bronjong lebih murah dan mudah pelaksanaannya dari pengamatan
selama melaksanakan kunjungan, penyusun dapat menyimpulkan bahwa :
1.
Dapat dijadikan literatur dalam menambah
wawasan di dunia Teknik Sipil.
2.
Dapat menambah pengetahuan bagaimana
merencanakan sebuah konstruksi yang lebih baik dan efesien.
3.
Untuk melatih kemampuan penyusunan laporan tertulis
secara sistematis dan logis sesuai kaidah penulisan karya ilmiah.
4.
Untuk meningkatkan perbendaharaan kata bahasa
Indonesia.
5.
Untuk melatih mahasiswa agar dapat melakukan
pengelolaan informasi dengan baik dan benar.
6.
Menumbuhkembangkan kemampuan imajinasi,
kreatifitas, analisa, dan sintensa secara komprehensif yang diwujudkkan dalam
bentuk laporan ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
�Anang, Setiyawan.
(2019). Analisa Stabilitas Dinding Penahan Tanah Terhadap Beban Statik
(Studi Kasus Dinding Penahan Tanah Ipald Berbah Kabupaten Sleman).
Universitas Widya Dharma.
Mona, Ellyta. (2021). Analisa Perhitungan Dimensi
Turap Kayu (Panjang Kayu Ditanam Dan Tebal) Sebagai Dinding Penahan Tanah
Sementara. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 21(3),
1057�1061.
RI, J. U. M. (2015). Perencanaan Dinding Penahan
Tanah Pada Ruas Jalan Tenggarong Seberang Km 10 Kecamatan Tenggarong Seberang. Kurva
Mahasiswa, 4(1), 670�679.
Sela, Rieneke. (2012). Penataan Permukiman Di Lahan
Miring Pinggir Sungai Yang Responsif Terhadap Erosi Dan Longsor Di Manado. Sabua:
Jurnal Lingkungan Binaan Dan Arsitektur, 3(3).
Setiawan, Hendra. (2011). Perbandingan penggunaan
dinding penahan tanah tipe kantilever dan gravitasi dengan variasi ketinggian
lereng. Journal Teknik Sipil Dan Infrastruktur, 1(2).
Subiana, Natia. (2021). Pembangunan Dinding Penahan
Tanah Di Ruas Duri-Kandis STA 72+ 100 Dan Rantau Berangin-Batas Provinsi
Sumatera Barat STA 95+ 300.
Sugiyono, Prof. (2015). Metode penelitian kombinasi
(mixed methods). Bandung: Alfabeta, 28, 1�12.
Tamaela, Linda, Suhudi, Suhudi, & Arifianto, Andy
Kristafi. (2018). Analisis Stabilitas Dinding Penahan Tanah di Perumahan
Pegawai Negeri Sipil Kepanjen Kabupaten Malang. EUREKA: Jurnal Penelitian
Teknik Sipil Dan Teknik Kimia, 2(2), 295�301.
Wikantiyoso, Respati. (2010). Mitigasi Bencana Di
Perkotaan; Adaptasi Atau Antisipasi Perencanaan Dan Perancangan Kota?(Potensi
Kearifan Lokal Dalam Perencanaan Dan Perancangan Kota Untuk Upaya Mitigasi
Bencana). Local Wisdom: Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal, 2(1),
18�29.
Winanda, Restu Arga. (2017). Perencanaan Dinding
Penahan Tanah Concrete Cantilever Dengan Menggunakan Program Plaxis (Studi
Kasus: Jalan Liwa�Simpang Gunung Kemala Krui KM. 264+ 600).
Zakaria, Zulfiadi. (2009). Analisis kestabilan lereng
tanah. Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Geologi. Universitas
Padjajaran. Bandung.