Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengembangan budaya literasi yang dilaksanakan=
di
SDN 63 Bengkulu Selatan. Sebuah program yang bertujuan untuk mengembangkan =
dan
meningkatkan kemampuan verbal siswa. Sejauhmana program ini dapat berjalan
efektif terhadap peningkatan kemampuan verbal siswa. Metode penelitian yang
digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif analitik. Dengan sumber d=
ata
primernya adalah hasil observasi, pengamatan dan wawancara dengan narasumbe=
r yang
memiliki pengetahuan tetang masalah penelitian. Adapun hasil penelitian dari
kajian ini adalah bahwa SDN 63 Bengkulu Selatan telah melaksanakan pengemba=
ngan
budaya literasi secara baik. Program literasi yang dikembangkan oleh SDN 63
Bengkulu Selatan langsung dibawah pimpinan kepala sekolah. Dalam merumuskan
tujuan program, SDN 63 Bengkulu Selatan mengundang seluruh stakeholder sehi=
ngga
dirumuskan bahwa program budaya literasi ini perlu di dukung oleh semua pih=
ak.
Program ini juga mendapat respon positif karena pada dasarnya program ini
memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan verbal siswa. Dalam
program budaya literasi yang dikembangkan SDN 63 Bengkulu Selatan melakukan
langkah-langkah yaitu memberikan waktu khusus untuk mengajak siswa membaca
(reading time), pamflet edukasi, kunjungan ke perpustakaan, memperkaya kole=
ksi
bacaan, serta memfungsikan lingkungan sebagai sarana pengembangan budaya
literasi.
Kata kunci: Buda=
ya
literasi, kemampuan verbal, SDN 63 Bengkulu Selatan
Abstract:
This=
study
aims to analyze the development of a literacy culture that is carried out at
SDN 63 Bengkulu Selatan. A program that aims to develop and improve student=
s'
verbal skills. How effectively this program can work to improve students'
verbal abilities. The research method used is descriptive analytical
qualitative research. The main source of data is the results of observation=
s,
observations and interviews with informants familiar with the research issu=
es.
The research findings of this study are that SDN 63 Bengkulu Selatan has do=
ne
well in developing a culture of literacy. The literacy program developed by=
SDN
63 South Bengkulu is directly under the direction of the school principal. =
When
formulating the objectives of the program, SDN 63 South Bengkulu invited all
stakeholders to formulate that this literacy culture program needs the supp=
ort
of all parties. This program has also received a positive response because
basically this program has a positive impact on improving the verbal abilit=
ies
of students. In the literacy culture program developed by SDN 63 South
Bengkulu, measures are taken, namely providing special time to invite stude=
nts
to read (reading time), educational brochures, library visits, enriching
reading collections and operating the environment as a means of developing a
culture of literacy.
Keyw=
ords: =
span>Culture
of Literacy, Verbal Skills, SDN 63 Bengkulu Selatan =
Kualitas
suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan
kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang
didapat, sedangkan ilmu pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh =
dari
lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang semangat
mencari ilmu pengetahuan, maka akan semakin tinggi peradabannya (Permatasari, 2015a)
Budaya sua=
tu
bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi, faktor kebudayaan =
dan
peradaban dipengaruhi oleh membacayang dihasilkan dari temuantemuan kaum
cendekia yang diabadikan dalam tulisan yang menjadikan warisan literasi
informasi yang sangat berguna bagi proses kehidupan sosial yang dinamis. Na=
mun
ironisnya jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidaksampai
18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang ya=
ng
mencapai 40.000 judul buku per tahun (Permatasari, 2015b). Sebagai warga Indo=
nesia,
tentu hal ini sangat menyedihkan bagi kita.
Pada tahun=
2015
kementerian pendidikan memberi perhatian penuh terhadap dua riset internasi=
onal
yaitu PIRLS dan PISA. Hal itu terjadi karena Indonesia mendapat prestasi ya=
ng
rendah pada keduanya, terbukti dari data yang terekam pada tahun 2011 PIRLS
menyimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas IV SD dalam hal membaca berada pada
urutan ke 45 dari 48 negara yang diriset (Hidayat
& Basuki, 2018a).
Tidak jara=
ng
kita temui bahkan penulis alami sendiri, mulai SD, SMP, sampai SMA, penulis
belum menemukan sekolah yang memberi penghargaan kepada seorang pelajar yang
sering berkunjung ke perpustakaan atau sering meminjam buku (baik buku pela=
jaran
atau nonpelajaran) di perpustakaan sekolah (Alfarikh, 2017). Pembelajaran membaca be=
rperan
penting dalam meningkatkan kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif.
Hal ini karena melalui kegiatan membaca, berbagai informasi, pengetahuan, d=
an
pengalaman-pengalaman baru dapat diperoleh siswa. Apa yang dibaca tersebut,
memungkinkan siswa untuk meningkatkan kemampuan daya pikirnya, membuat
pandangannya semakin tajam dan wawawasannya semakin luas (Sukma
& Sekarwidi, 2021).
Seiring
perjalanan waktu, arus informasi semakin mudah disebarkan. Begitu pula
teknologi yang menghantarkan informasi kian cepat perkembangannya. Publik
sebagai sasaran atau target penyediaan informasi tentu sangat diuntungkan
dengan perkembangan teknologi komunikasi masa kini. Namun, di lain pihak ti=
dak
sedikit perusahaan media yang gencar melakukan penyediaan informasi sebagai
bisnis menggiurkan yang akhirnya menciptakan apa yang disebut sebagai indus=
tri
media (Ainiyah, 2017).
Peningkatan
minat baca siswa didik sejak dini merupakan hal yang harus dilakukan agar
kemampuan membaca siswa meningkat. Minat baca masyarakat termasuk siswa
Indonesia masih rendah. Budaya lisan atau tutur lebih digemari masyarakat
dibandingkan dengan budaya membaca. Sebuah penelitian mengungkapkan membeli
pulsa lebih dipentingkan siswa, apabila dibandingkan dengan membeli buku.
Berkomunikasi lewat HP lebih disukai siswa, apabila dibandingkan dengan
kegiatan membaca dan menambahkan koleksi bukunya. Selain itu, budaya membaca
belum terbentuk pada diri siswa. Kegiatan membaca dilakukan siswa hanya apa=
bila
ada tugas dari guru. Hanya sedikit siswa yang mau membaca secara sadar dan
mandiri dengan tujuan agar pengetahuannya semakin luas. Kondisi ini menjadi
indikator bahwa minat baca siswa di Indonesia masih rendah (Sukma
& Sekarwidi, 2021).
Berbagai s=
trategi
literasi dilakukan sekolah dalam pelaksanaan gerakan literasi sekolah, baik
pada tahap pembiasaan, pengembangan, maupun pembelajaran. Strategi literasi
yang diterapkan masing-masing sekolah disesuaikan dengan berbagai sarana dan
prasarana yang tersedia. Keberhasilan pelaksanaan strategi literasi sangat
tergantung pada berbagai faktor pendukung dan penghambat yang ada dan bagai=
mana
cara sekolah menyikapi dan bertindak untuk mengatasi faktor penghambat
tersebut. Melalui strategi literasi yang tepat, maka minat belajar siswa da=
pat ditingkatkan.
Faktor pendukung tersebut dapat berasal dari sekolah, siswa, maupun dari or=
ang
tua dan masyarakat (Prabhawani, 2016).
Isu
literasi menjadi salah satu permasalahan yang memerlukan perhatian khusus di
Indonesia. Keadaan ini menjadi penting karena dalam beberapa dekade terakhi=
r,
daya saing bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa lain cenderung kurang
kompetitif.
Persoalan
literasi ini tentu perlu mendapatkan perhatian khusus, terlebih bagi anak u=
sia
Sekolah Dasar. Karena pada dasarnya usia Sekolah Dasar menjadi fondasi pent=
ing
bagi masa depan siswa di sekolah. Oleh karena itu, mengkaji budaya literasi
pada Sekolah Dasar menjadi suatu kegiatan yang sangat penting dilakukan, gu=
na
pengembangan budaya literasi dalam meningkatkan kemampuan verbal siswa di
sekolah dasar (Rohim & Rahmawati, 2020)=
Literasi adalah sebuah gerakan yang bertujuan un=
tuk
mendorong dan memperluas kegiatan membaca dan menulis. Dengan adanya gerakan
literasi, diharapkan masyarakat dapat terlibat aktif dalam kegiatan membaca=
dan
menulis sebagai bagian dari pembudidayaan budaya literasi. Gerakan ini
bertujuan untuk meningkatkan minat baca, pemahaman, serta keterampilan menu=
lis
pada semua lapisan masyarakat. Literasi memiliki banyak sekali keuntungan y=
akni
dapat melatih diri untuk lebih terbiasa dalam membaca dan juga dapat
membiasakan seseorang utamanya seorang siswa, untuk menyerap informasi yang
dibaca dan dirangkum dengan bahasa yang di pahaminya (Wajo, 2019). Literasi memiliki tujuan un=
tuk
mengembangkan budi pekerti yang baik, meningkatkan pengetahuan melalui memb=
aca
berbagai informasi yang bermanfaat, meningkatkan pemahaman dalam menyerap i=
nti
dari bacaan, serta memperkuat nilai-nilai kepribadian melalui kegiatan memb=
aca
dan menulis. Pengetahuan yang diperoleh melalui literasi akan membantu siswa
dalam membangun konsep ilmu pengetahuan. Melalui kegiatan membaca, siswa ak=
an
terlatih untuk berbicara dengan landasan pengetahuan yang dimiliki, sehingga
literasi menjadi dasar dan modal untuk meningkatkan kemampuan verbal siswa.=
Murti dan Winoto (Murti &
Winoto, 2018) dalam
penelitiannya menemukan
hubungan signifikan antarakemampuan literasi s=
iswa dan
prestasi belajarsiswa. Variabel lite=
rasi
informasi yang digunakanadalah kemampuan mer=
umuskan
masalah,kemampuan melakukan
pencarian informasi, <=
/span>kemampuan menentukan=
lokasi
dan aksesinformasi, kemampuan
menggunakan informasi,=
kemampuan melakukan
sintesis, sertamelakukan evaluasi t=
erhadap
sumber informasi;sementara data prest=
asi
belajar siswa dilihat =
dari rapor siswa (Antoro,
Boeriswati, & Leiliyanti, 2021). Penelitian lain yang
dilakukan oleh (Dewi & Wil=
any,
2019a)Dewi bahwa kecerdasan lingu=
istik
verbal memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan kemampuan pemah=
aman
membaca. Maka, selanjutnya perlu digali mengenai metode pembelajaran yang t=
epat
dan strategi-strategi yang sesuai dengan karakteristik dan tingkat kecerdas=
an
linguistik verbal siswa untuk mendapatkan hasil pembelajaran membaca teks
bahasa asing yang optimal (Dapodik Kemendikbud, 2023).
Pada SDN
63 Bengkulu Selatan,
kepala sekolah bertanggung jawab langsung dalamproses berjal=
annya
kegiatan literasi secara menyeluruh di lingkungan sekolah dengan=
memberikan
arahan, masukan, saran, serta bimbingan kepada setiap wali kelas dan dewan =
guru,
serta pengelola perpustakaan sekolah dalam melaksanakan kegiatan literasi u=
ntuk=
memotivasi,
membimbing, dan mengarahkan siswa agar menjadi tertarik dengan=
kegiatan
yang berkaitan dengan literasi, khususnya membaca dan menulis. Kegiatan
literasi,15 menit membaca, di SDN 63 Be=
ngkulu
Selatan
dilakukan dengan melalui pembudayaan yaitu denganmembaca langs=
ung di
dalam kelas atau lainnya.
Berdasar uraian diatas bah=
wa,
pemahaman akan konsep literasi tersebut sangatpenting, terl=
ebih
bagi pendidik, karena pendidikan salah satu yang berperan penting dalam=
pengembangan
dan pengimplentasian kegiatan literasi sekolah, berdasarkan uraian diatas=
span>=
juga,
dapat dipahami bersama bahwa kemampuan literasi ini sangatlah penting dimil=
iki,=
karena
kemampuan literasi ini juga berkaitan bagaimana seseorang meningkatkan
kemampuan verbal, sehingga mengembangkan kompetensi siswa dalam mencapai tu=
juan
pendidikan.
Penelitian
yang hampir sama pernah dilakukan oleh (Saadati & Sadli, 2019)
dalam sebuah artikel dngan judul “Analisis Pengembangan Budaya Literasi D=
alam
Meningkatkan Minat Membaca Siswa Di Sekolah Dasar”. Perbedaan penelitian =
ini
dengan penelitian (Saadati & Sadli, 2019)
adalah pada fokus analisisnya. Penelitian terdahulu berfokus pada pengemban=
gan
minat membaca siswa di sekolah dasar secara umum. Analisis ini akan
mengevaluasi upaya pengembangan budaya literasi di sekolah dasar untuk
meningkatkan minat membaca siswa. Fokusnya adalah pada aspek minat membaca =
dan
bagaimana pengembangan budaya literasi dapat mendorong siswa untuk lebih ak=
tif
membaca. Tujuan analisis ini adalah untuk menilai efektivitas pengembangan
budaya literasi dalam meningkatkan minat membaca siswa secara keseluruhan di
sekolah dasar. Sedangkan penelitian ini berfokus lebih berfokus pada hubung=
an
antara budaya literasi dan kemampuan verbal siswa di sekolah dasar tertentu,
yaitu SDN 63 Bengkulu Selatan. Analisis tersebut akan mengevaluasi bagaimana
pengembangan budaya literasi, seperti kegiatan membaca dan menulis, dapat
mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Tujuan analisis ini adalah untuk mengi=
dentifikasi
apakah ada hubungan positif antara pengembangan budaya literasi dan kemampu=
an
verbal siswa di sekolah dasar tersebut.
METODE PENELITIAN =
p>
Jenis pend=
ekatan
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan penelitian
kualitatif dengan desain penelitian studi lapangan (fieldresearc=
h).
Adalah bentuk penelitian yang bertujuan mengungkapkan makna yang diberikan =
oleh
anggota masyarakat pada perilakunya dan kenyataan sekitar. Metode field<=
/i> research
digunakan ketika metode survai ataupun eksperimen dirasakan tidak praktis, =
atau
ketika lapangan penelitian masih terbentang dengan demikian luasnya (Martana, n.d.). Penelitian ini mengangkat
masalah studi lapangan tentang analisis pengembangan budaya literasi di SDN=
63
Bengkulu Selatan dalam meningkatkan kemampuan verbal siswa.
Jenis studi
kasus pada penelitian ini tergolong pada studi kasus deskriptif karena
penelitian ini mencoba menjawab masalah penelitian yang menyangkut pertanya=
an
‘apa, bagaimana dan mengapa’. Namun, jika dilihat berdasarkan jumlah ka=
susnya
maka jenis studi kasus pada penelitian ini yaitu multi kasus (Rahardjo, 2017)
Penelitian=
ini
berlokasi di SDN 63 Bengkulu Selatan yang terletak di Desa Pajar Bulan, Pajar Bulan, Kec. Ked=
urang,
Kab. Bengkulu Selatan Prov. Bengkulu. Sekolah ter=
sebut
memiliki program literasi yang cukup baik dalam meningkatkan kemampuan verb=
al
siswa. Sekolah tersebut berada pada situasi lingkungan yang berbeda yaitu d=
alam
upaya peningkatan kemampuan verbal siswa SDN 63 Bengkulu Selatan. Oleh kare=
na
itu peneliti tertarik untuk melihat dan menganalisis tentang program budaya
literasi yang dilakukan oleh SDN 63 Bengkulu Selatan.
Sumber data
penelitian ini berupa ulasan kata-kata atau tindakan dan dokumen. Ulasan
kata-kata atau tindakan diperoleh melalui informan, informan dalam peneliti=
an
ini yaitu kepala sekolah beserta salah satu guru kelas tinggi dan salah satu
guru kelas rendah dari masing-masing sekolah tersebut. Sumber data berbentuk
dokumen dalam penelitian ini yaitu segala dokumen yang bersinggungan dengan
pelaksanaan kegiatan budaya literasi yang dilakukan oleh sekolah dari tim
literasi (Hidayat & Basuki, 2018).
Metode
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam (in=
-dept
interview) berstruktur, observasi, studi dokumentasi. Hasil wawancara d=
alam
penelitian ini mengisyaratkan bahwa pertanyaan yang diajukan sangat bergant=
ung
pada pewawancara untuk dapat mengungkap lebih dalam tentang pelaksanaan bud=
aya
literasi di SDN 63 Bengkulu Selatan. Hubungan pewawancara dengan informan
terjalin seperti suasana yang terjadi sehari-hari, sedangkan dalam metode
observasi peran peneliti dalam melaksanakan metode ini sebagai observer as participant yaitu peran sebagai
pengamat lebih banyak dari partisipan. Instrumen penelitian yang digunakan
adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedoman studi dokumentasi.=
Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan
langkah-langkah: (a) kredibilitas atau derajat kepercayaan, (b)
transferabilitas atau keteralihan, (c) dependabilitas atau kebergantungan, =
(d)
konfirmabilitas atau kepastian. Analisis data dilakukan dengan cara
menganalisis setelah pengumpulan data. Adapun metode analisis data yang dig=
unakan
yaitu analisis data model Miles dan Huberman yang dimulai dari reduksi data,
deskripsi data, dan penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perencanaan Budaya Literasi di SDN=
63
Bengkulu Selatan
SDN 63
Bengkulu Selatan merupakan salah satu Sekolah Dasar yang memiliki pengemban=
gan
budaya literasi di sekolahnya. Hal ini bertujuan =
untuk meningkatkan
kemampuan verbal siswa dalam pembelajaran di sekolah. Tidak jarang, siswa
memiliki kemampuan verbal namun tidak di dukung oleh pengetahuan yang dimil=
iki,
begitupun sebalinya masih banyak siswa yang tidak memiliki kemampuan berbic=
ara
secara baik karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki. SDN 63 Bengkulu Sel=
atan
memiliki konsep pengembangan budaya literasi yang dapat mendukung peningkat=
an
kemampuan verbal siswa. Tentu program pengembangan budaya literasi tersebut
perlu dievaluasi sehingga dapat mencapai tujuan peningkatan kemampuan verbal
siswa. Oleh karena itu perlu dilihat mulai dari perencanaan, implementasi,
implikasi budaya terhadap kemampuan verbal siswa.
Perencanaan pengembangan budaya literasi di SDN 63 Bengkulu Selatan
memiliki empat aspek yang menjadi perhatian yakni=
;
1.&n=
bsp;
Perumusan tujuan program
2.&n=
bsp;
Perumusan program
3.&n=
bsp;
Penyusunan
struktur organisasi
4.&n=
bsp;
Penyusunan strategi
5.&n=
bsp;
Pengelolaan sarana dan prasarana pendukung
Perencanaan
adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya ya=
ng
bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, dan program. Hal
tersebut tentu tidak terlepas dari tiga strategi penting yang perlu di
perhatikan dalam pengembangan budaya literasi sekolah. Hal ini sebagaimana =
yang
dijelaskan dalam ketentuan Direktoran Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar dan
Menengah. Tiga strategi penting tersebut adalah (Menengah, 2021)
1.&n=
bsp;
Mengkonsolidasikan
lingkungan fisik ramah literasi
2.&n=
bsp;
Mengupayakan
lingkungan sosial dan efektif
3.&n=
bsp;
Mengupayakan
sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat
Tahapan
pengembangan budaya literasi yang bertujuan untuk peningkatan kemampuan ver=
bal
siswa di SDN 63 Bengkulu Selatan dapat dijelaskan sebagai berikut;=
p>
Pertama=
, tujuan budaya literasi di SDN 63 Bengkulu Selatan adalah untuk=
meningkatkan
kemampuan verbal siswa mulai dari penanaman kebiasaan berfikir dan berperil=
aku
ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri. Tujuan tersebut dapat tercapai den=
gan
cara menciptakan dan mengembangkan lingkungan belajar yang simulatif, kreat=
if,
dan menyenangkan. Dalam melakukan perumusan tujuan dan program, kepala seko=
lah
SDN 63 Bengkulu Selatan terlebih dahulu melakukan FGD (focus group discu=
sion)
dengan seluruh stakeholder yang ada, mulai dari tenaga pendidik, wali siswa,
komite sekolah, serta tokoh masyarakat setempat. Hal ini dilakukan untuk
menyamakan persepsi tentang program pengembangan literasi sekolah sehingga
dapat didukung dan dipahami oleh semua pihak sekolah. Hal ini penting untuk
dilakukan, bahwa program pengembangan literasi sekolah tidak dapat lepas da=
ri
dukungan seluruh stakeholder sekolah, sehingga program tersebut dapat terca=
pai
dengan baik. Kemudian, agar tujuan program pengembangan literasi ini dapat
tercapai maka, seluruh stakeholder diharapkan dapat ikut mengawasi, dan
membimbing siswa dimanapun ia berada untuk membudayakan literasi
dilingkungannya.
Kedua, =
penyusunan program atau konten pembelajaran. Program-program
unggulan yang dirancang untuk mencapai tujuan budaya literasi di SDN 63
Bengkulu Selatan adalah; layanan dongeng, reading time, reading
group, pamplet edukasi, dan kunjungan perpustakaan. Penyusunan program =
ini
diharapkan akan membentuk budaya literasi siswa sehingga terbiasa dengan
tradisi-tradisi membaca. Karena pada dasarnya untuk membiasakan literasi te=
ntu
tidak terlepas dari pembentukan lingkungan budaya literasi. Budaya literasi=
ini
sebagai bentuk upaya pembiasaan literasi kepada siswa, sehingga ketika siswa
sudah terbiasa, akan secara tidak sadar terbiasa untuk membaca, menulis dan
berdiskusi. Penyusunan program ini juga sebagai bagian dari hydn curricu=
lum
yang berkaitan dengan pengembangan budaya literasi sekolah.
Ketiga,=
penyusunan struktur organisasi. Struktur organisasi di dalam =
pelaksanaan
program merupakan upaya konkrit untuk mengadakan kepanitiaan dan pengawasan
terhadap keterlaksanaan program. Komponen struktur organisasi adalah tim at=
au
spesialisasi pekerjaan yang menjadi struktural penting dalam ketercapaian
program. Spesialisasi tugas merupakan gambaran kegiatan dalam organisasi. H=
al
tersebut dibagi menjadi tugas-tugas yang terorganisir. Struktur organisasi
memudahkan kepala sekolah dan guru untuk lebih efisien dengan spesialisasi =
pencapaian
tujuan program. Spesialisasi ini dengan tujuan agar setiap tugas yang ada d=
i sekolah
memiliki penanggung jawab yang jelas. Spesialisasi juga merupakan sikap lem=
baga
sekolah untuk dapat mengambil langkah tepat untuk timnya, karena tidak semua
guru memiliki tugas yang sama. Program pengembangan budaya literasi di SDN =
63
Bengkulu Selatan langsung dibawah kordinasi kepala sekolah sendiri.
Penanggungjawab secara utuh tentang program pengembangan literasi ini langs=
ung
di pegang oleh kepala sekolah dan membawahi guru-guru kelas sebagai anggota
organisasi.
Keempat=
, kegiatan penyusunan strategi pembelajaran yang akan digunakan
guru. Penyusunan strategi di SDN 63 Bengkulu Selatan penting untuk dilakukan
karena dengan strategi program-program pembelajaran yang telah dirancang da=
pat
diterima oleh siswa dengan mudah. Dengan demikian, tujuan yang telah diteta=
pkan
dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Kelima,=
Peng=
elolaan
sarana dan prasarana pendukung. pengelolaan saran=
a dan
prasarana pendukung pengembangan budaya literasi. Sarana dan prasarana
merupakan hal yang sangat diperlukan dalam mengimplementasikan budaya liter=
asi
di sekolah. Adanya sarana dan prasarana dapat memudahkan penyampaian tujuan
pembelajaran. Sarana Prasarana pendukung di SDN 63 Bengkulu Selatan termasuk
kedalam kategori lengkap. Mulai dari gedung perpustakaan hingga taman baca.
Selain itu, sarana juga termasuk dalam kategori lengkap seperti ketersediaan
sumber bacaan yang memadai (buku pelajaran maupun buku non pelajaran). Buku=
non
pelajaran yang disediakan tidak sembarangan akan tetapi diseleksi terlebih
dahulu agar apa yang dibaca memiliki pesan-pesan moral dalam kehidupan seha=
ri-hari.
 =
;
Budaya Literasi yang di Kembangkan=
di
SDN 63 Bengkulu Selatan
Budaya literasi yang dikembangkan di SDN 63 Bengkulu Selatan merupakan
program strategi yang di canangkan oleh Kepala sekolah. Sebagaimana yang
dijelaskan di atas, bahwa program pengembangan budaya literasi ini ditujukan
untuk meningkatkan kemampuan verbal siswa sehingga siswa memiliki kecakapan
yang baik, pengetahuan yang luas, kepercayaan diri, hingga kemampuan nalar
kritis siswa. Program ini melibatkan seluruh stakeholder sekolah SDN 63
Bengkulu Selatan.
Menurut The
National Literacy Strategy pembelajaran literasi ditujukan agar siswa m=
ampu
mencapai kompetensi-kompetensi sebagai berikut: 1) Percaya diri, lancar dan
paham membaca dan menulis. (2) Tertarik pada buku-buku, menikmati kegiatan
membaca, mengevaluasi dan menilai bacaan yang dibaca. (3) Mengetahui dan
memahami berbagai genre fiksi dan puisi. (4) Memahami dan mengakrabi strukt=
ur
dasar narasi. (5) Memahami dan menggunakan berbagai teks nonfiksi. (6) Dapat
menggunakan berbagai macam petunjuk baca (fonik, grafis, sintaksis, dan
konteks) untuk memonitor dan mengoreksi kegiatan membaca secara mandiri. (7)
Merencanakan, menyusun draf, merevisi dan mengedit tulisan secara mandiri. =
(8)
Memiliki ketertarikan terhadap kata dan maknanya dan secara aktif mengemban=
gkan
kosakata. (9) Memahami sistem bunyi dan ejaan dan menggunakannya untuk meng=
eja
dan membaca secara akurat. (10) Lancar dan terbiasa menulis tulisan tangan =
(Samsiyah, 2017).
Tenaga pendidik di SDN 63
Bengkulu Selatan pada dasarnya sudah memahami program yang direncakan tenta=
ng
pengembangan budaya literasi tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan
bagaimana kegiatan literasi yang dilakukansudah sesuai =
dengan
konsep program pengembangan budaya literasi itu sendiri. Berdasarkan hasil
observasi denganmelakukan pengamatan baik =
ketika
proses pembelajaran berlangsung maupun diluar prosespembelajaran,=
serta
dengan melakukan wawancara, ada beberapa kegiatan literasi yangdilaksanakan,
pertama berkaitan dengan gerakan budaya literasi yang dilakukan antara lain=
:
1.&n=
bsp;
Baca buku cerita/pengayaan =
selama
10 menit sebelum pelajaran dimulai. <=
/span>Kegiatan membaca=
yang
dilakukan adalah membaca buku dengan nyaring dan <=
/span>membaca buku dal=
am hati
yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Membaca dengan mempresentasikan dengan tujuan untuk melatih siswa d=
alam
meningkatkan kemampuan bahasa atau verbal siswa
2.&n=
bsp;
Menyampaikan
pamplet-pamplet edukasi yang berisi mengajak siswa untuk membaca dengan aja=
kan
disertai dengan gambar.
3.&n=
bsp;
Memperkaya koleksi bacaan <=
/span>baik di dalam kelas maupun di perpustakaan untuk mendukung pengembangan budaya literasi sekolah.
4.&n=
bsp;
Meningkatkan
kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakanbuku
pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran. H=
al ini
juga didukung dengan pengawasan orang tua wali.
5.&n=
bsp;
Memfungsikan
lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasaranasek=
olah
antara lain perpustakaan dan pojok di kelas. <=
/span>
Pojok baca adalah sebuah sudut baca di kelas yang dilengkapi dengan
koleksi buku yang ditata secara menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa<=
/span>. Sudut baca ini sebagai perpanjangan dari fungsi perpustakaan
Sekolah Dasar yaitu untuk mendekatkan buku kepada siswa, buku yang tersedia
bukan hanya buku pelajaran tetapi terdapat juga buku non pelajaran. Buku ya=
ng
tersedia di pojok baca sebagian berasal dari perpustakaan sekolah (Kurniawan et al., 2020). Poj=
ok
baca Kelas berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan di sekolah das=
ar,yaitu mendekatkan buku kepada
peserta didik. Pojok
baca kelas dikelola oleh guru, pesertadidik, dan or=
ang tua.
Peran guru=
tidak
hanya mengajar, tetapi juga membimbing siswa dalam menemukan buku bacaan ya=
ng
tepat. Di dalam kelas disediakan pojok baca yang berguna untuk memudahkan s=
iswa
dalam memperoleh bahan bacaan saat pembelajaran berlangsung, selain itu poj=
ok
baca juga dapat menumbuhkan minat membaca di dalam diri siswa. Buku yang
tersedia di pojok baca kelas yaitu mulai dari buku fiksi hingga non fiksi. =
Hal
ini sesuai dengan peran guru menurut (Muhammad, 2020) yang terdiri atas bebera=
pa
yaitu guru sebagai pendidik dan pengajar, guru sebagai mediator, dan guru
sebagai model dan teladan. Dengan demikian berkaitan dengan pelaksanaan
kegiatan literasi yang dilaksanakan pada saatpembelajaran =
di
kelas, yang dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.&n=
bsp;
Menyediakan
pembelajaran terpadu berbasis literasi.
2.&n=
bsp;
Menata
kelas berbasis literasi.
3.&n=
bsp;
Menggunakan sarana tembok kelas
sebagai tempat pamplet/ sosialiasi budaya literasi kepada siswa
4.&n=
bsp;
Melaksanakan
literasi terpadu sesuai dengan tema dan mata pelajaran.=
p>
5.&n=
bsp;
Melaksanakan asesmen dan evaluasi terhadap budaya literasi yang sudah dikembangkan dan implikasinya
terhadap peningkatan verbal siswa.
Kemudian kepala sekolah SDN 63
Bengkulu Selatan juga mengupayakan program pendukung lain sehingga kegiatan
literasi ini dapat membudaya, sebagian kelas yang ada di SDN 63 Bengkulu
Selatan. Upaya tersebut dilakukan oleh kepala sekolah dengan memperkaya kel=
as melalui
bahan-bahan karya teks hingga memfasilitasi karya yang dihasilkan oleh sisw=
a,
bahan karya teks diantaranya adalah :
<=
![if !supportLists]>1.&n=
bsp;
Karya-karya
peserta didik berupa tulisan, gambar, atau grafik di tempatkan di lemari ka=
rya
dan dipubilkasikan kepada seluruh warga sekolah;
2.Poster-poster ya=
ng
terkait pelajaran, poster buku, poster kampanye membaca, danpos=
ter
kampanye lain yang bertujuan menumbuhkan cinta pengetahuan.
3.Dinding kata ata=
u papan
buletin.
4.Jadwal harian membaca sebelum mulai pelajaran serta pembagian kelompok tugas =
kelas.
5.Mengadakan program kunjungan ker perpustakaan sekolah dengan
menyampaikan koleksi buku
atau sumber informasi lain (koran, majalah, buletin).=
o:p>
Implikasi Budaya Literasi Terhadap
Kemampuan Verbal Siswa SDN 63 Bengkulu Selatan
Keberhasil=
an
daripada pengembangan budaya literasi di SDN 63 Bengkulu Selatan dapat dili=
hat
dari meningkatnya kegemaran d=
an
kecintaan anak untuk membaca. Terlebih pengembangan budaya literasi ini
berdampak kepada kemampuan verbal siswa. Dari hasil penelitian di lapangan
bahwa siswa yang memiliki kegemaran yang tinggi terhadap literasi, mampu
menunjukan kemampuan berbicara dengan bahasa yang ilmiah dan terstruktur de=
ngan
baik. Siswa yang memiliki kegemaran membaca dan menulis menunjukan tingkat
kemampuan dalam berbicara dan melakukan presentasi di depan kelas. Kemudian
siswa juga memiliki kelebihan dalam kepercayaan diri dan memiliki nalar kri=
tis
yang baik.
Melihat ti=
ngkat kegemaran
siswa dalam membaca mengindikasikan bahwa anak merasa senang, suka, atau
memiliki minat untuk membaca. Sebagaimana dijelaskan bahwa minat adalah ses=
uatu
yang disenangi, disukai, oleh seseorang sehingga ketika orang tersebut
mengerjakan apa yang diminatinya akan merasa senang tanpa ada paksaan dari =
luar
(Sardiman, 2020).
Berdasarkan
hasil pengamatan peneliti menunjukkan bahwa siswa SDN 63 Bengkulu Selatan
terlihat semangat, aktif, senang, dan antusias ketika mengikuti program
literasi membaca di sekolah. Hal ini mengindikasikan bahwa, anak-anak bermi=
nat
ketika mengikuti proses literasi. Hal ini berdasarkan pendapat yang diutara=
kan
oleh kepala sekolah SDN 63 Bengkulu Selatan menjadi penanggungjawab utama d=
alam
program literasi tersebut. Ia menjelaskan tentang beberapa indikator seseor=
ang
dikatakan berminat dalam melakukan sesuatu atau minat dalam belajar belajar
yaitu: perasaan senang, ketertarikan, penerimaan, dan keterlibatan siswa. <=
/span>
Berbagai h=
asil
penelitian sebelumnya lebih banyak membahas budaya literasi terhadap presta=
si
belajar, minat baca dan karakter siswa. Semenstara penelitian kali ini memb=
awa
kebaruan yang lebih berfokus pada mendeskripsikan dan mengkaji pengembangan
budaya literasi dalam meningkatkan kemampuan verbal siswa di SDN 63 Bengkulu
Selatan. Bahwa budaya literasi ini juga selain meningkatkan kemampuan verbal
siswa, karena siswa akan memiliki bahasa yang baik dan benar ketika berbica=
ra
atau melakukan presentasi, maka berimplikasi juga terhadap kepercayaan diri,
cara berpikir yang ilmiah, serta mengasah narasi atau nalar berpikir siswa
secara terstruktur dan ilmiah.
Kemudian h=
asil
penelitian menunjukkan bahwa implikasi pengembangan budaya literasi juga da=
pat
meningkatkan kegemaran, ketertarikan, dan minat membaca pada siswa.
Pengembangan budaya literasi di SDN 63 Bengkulu Selatan sudah menerapkan
strategi pengembangan budaya literasi secara terstruktur dan terorganisasi
dengan baik. Bahkan pihak sekolah melakukan tahapan-tahapan konsolidasi den=
gan
seluruh pihak atau stakeholder sekolah sehingga dalam pemahaman prosesnya
memberikan kemudahan kepada pihak sekolah baik kepala sekolah maupun para
pendidik dalam melakukan proses pengembangan budaya literasi.
 =
;
 =
;
 =
;
Evaluasi Pengembangan Budaya Liter=
asi
di SDN 63 Bengkulu Selatan
Pelaksanaan
kegiatan literasi yang baik adalah kegiatan literasi yang dilaksanakan seca=
ra berkesinambungan, maksudnya pelaksanaannya secara berkelanjutan, sehingg=
a membentuk
suatu budaya literasi dan akan berdampak langsung pada minat serta minat pe=
serta
dalam kegiatan literasi.
Berdasarkan hasil peneliti=
an
yang dilakukan, ada beberapa yang menjadi catatan dan bahan refleksi, agar
pelaksanaan kegiatan literasi ini dapat berjalan secara berkelanjutan, sehi=
ngga
membuat kegiatan literasi ini dapat menjadi suatu kegiatan yang membudaya d=
an
dapat meningkatkan kemampuan verbal siswa SDN 63 Bengkulu Selatan.
pertama dalam hal koleksi =
buku,
buku-buku yang tersedia masih banyak yang perlu ditambahi dan diperbaharui,
karena buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah dan pojok baca di kelas m=
asih
kurang dan kurang variatif, serta di didominasi buku-buku lama. Maka dari i=
tu
hal ini perlu menjadi perhatian agar nantinya buku-buku yang tersedia dapat
menarik minat baca peserta didik.
Kedua pelaksanaan kegiatan
membaca buku cerita/pengayaan selama 10 menit yang masih kurang efektif dan
perlu perbaikan dalam manajemen pelaksanaan. Salah satunya dari kurangnya w=
aktu
yang dibutuhkan dalam membaca buku cerita, sehingga peserta didik dapat den=
gan
leluasa mendapatkan pembiasaan membaca buku.
Pelaksanaan kegiatan liter=
asi
ini sudah terprogram akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum tidak
kontinyu secara baik. Dalam satu minggu ada kendala guru dalam mendapingi
kegiatan membaca buku ini. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor perta=
ma
jumlah waktu tersedia kurang mencukupi karena guru dan peserta didik juga h=
arus
menyelesaikan topik-topik materi pembelajaran Kegiatan yang dilakukan dengan
kondisi ini sangat sulit dalam membentuk suatu budaya literasi.<=
/span>
Pengembangan budaya litera=
si perlu
dilakukan secara konsisten dan kontinyu artinya proses kegiatan literasi ya=
ng
dilakukan berkelanjutan dan harus sudah menjadi suatu kebiasaan, sehingga
kegiatan literasi yang dilaksanakan berdampak langsung pada tujuan pengemba=
ngan
budaya literasi yang diinginkan. Kemampuan literasi yang dimiliki peserta d=
idik
masih perlu terus di asah dan kembangkan. Peran dan dampingan guru serta or=
ang
tua menjadi ujung tombak dalam pengembangan budaya literasi bagi siswa SDN =
63
Bengkulu Selatan.
=
p>
KESIMPULAN
Prog=
ram
pengembangan budaya literasi yang dilaksanakan oleh SDN 63 Bengkulu Selatan
dilaksanakan secara terstruktur dan terorganisasi dengan baik. Dalam tahapan
penyusunan tujuan, SDN 63 Bengkulu Selatan melakukan pengkajian terhadap
kondisi obyektif dan subyektif lembaga. Hal ini terlihat dari program FGD y=
ang
dilakukan SDN 63 Bengkulu Selatan. Sehingga dalam melaksanakan program
mendapatkan respon dan dukungan dari seluruh stakeholder. Dari hasil kajian
bersama stakeholder ditemukan bahwa program budaya literasi ini dianggap
memiliki dampak terhadap peningkatan kemampuan verbal siswa. Bahkan dari
kemampuan verbal tersebut, siswa secara tidak langsung terlatih kepercayaan
diri, nalar ilmiah, berpikir kritis, bahkan dapat berpikir secara sistematis
karena dilandasi oleh pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Dari hasil a=
nalisis
kajian pengembangan budaya literasi yang dikembangkan oleh SDN 63 Bengkulu
Selatan menunjukan pada dampak peningkatan kemampuan verbal siswa. Dengan
demikian budaya literasi yang dikembangkan oleh SDN 63 Bengkulu Selatan ada=
lah
dengan memberikan waktu khusus untuk membaca (reading time), pamflet edukas=
i,
kunjungan ke perpustakaan, memperkaya koleksi bacaan, memfungsikan lingkung=
an
sebagai sarana pengembangan budaya literasi.
DAFTAR PUSTAKA<=
/p>
=
Tri16JournalArticle{15DD42C9-6491-4B00-8AD6-A79C258673EB}TriyantoMenjadi Islam Sama Dengan Menjadi Miskin (Studi Ad=
aptasi Muallaf Tionghoa Terhadap Masyarakat Aceh)C=
ommunity2016230-2411Sug13Book{083398FF-0B0B-44EC-BCFB-02C82DC42E1B}Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.=
2013Sugi=
yonoBandung<=
/b:City>Alfabeta2Zuh09Book{8AEDD522-A974-4457-9C95-F9A82F9AD382} Madinah: Kota Suc=
i, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAWJakarta2009Mi=
srawiZuhairi=
PT. Kompas Media Nusantara3Bro16Inte=
rview{B52D7CBC-A778-4ABF-AA3A-0190B8EAF5DD}=
Damai Itu Indah dan Intrik Konflik 2016=
Bromansyah<=
/b:Person>SaktiCakrakusumaAgustus084
------=_NextPart_01D9A450.D0A985D0
Content-Location: file:///C:/A5875A78/3.Diantono.517-528.fld/props002.xml
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
Content-Type: text/xml
------=_NextPart_01D9A450.D0A985D0
Content-Location: file:///C:/A5875A78/3.Diantono.517-528.fld/themedata.thmx
Content-Transfer-Encoding: base64
Content-Type: application/vnd.ms-officetheme
UEsDBBQABgAIAAAAIQDp3g+//wAAABwCAAATAAAAW0NvbnRlbnRfVHlwZXNdLnhtbKyRy07DMBBF
90j8g+UtSpyyQAgl6YLHjseifMDImSQWydiyp1X790zSVEKoIBZsLNkz954743K9Hwe1w5icp0qv
8kIrJOsbR12l3zdP2a1WiYEaGDxhpQ+Y9Lq+vCg3h4BJiZpSpXvmcGdMsj2OkHIfkKTS+jgCyzV2
JoD9gA7NdVHcGOuJkTjjyUPX5QO2sB1YPe7l+Zgk4pC0uj82TqxKQwiDs8CS1Oyo+UbJFkIuyrkn
9S6kK4mhzVnCVPkZsOheZTXRNajeIPILjBLDsAyJX89nIBkt5r87nons29ZZbLzdjrKOfDZezE7B
/xRg9T/oE9PMf1t/AgAA//8DAFBLAwQUAAYACAAAACEApdan58AAAAA2AQAACwAAAF9yZWxzLy5y
ZWxzhI/PasMwDIfvhb2D0X1R0sMYJXYvpZBDL6N9AOEof2giG9sb69tPxwYKuwiEpO/3qT3+rov5
4ZTnIBaaqgbD4kM/y2jhdj2/f4LJhaSnJQhbeHCGo3vbtV+8UNGjPM0xG6VItjCVEg+I2U+8Uq5C
ZNHJENJKRds0YiR/p5FxX9cfmJ4Z4DZM0/UWUtc3YK6PqMn/s8MwzJ5PwX+vLOVFBG43lExp5GKh
qC/jU72QqGWq1B7Qtbj51v0BAAD//wMAUEsDBBQABgAIAAAAIQBreZYWgwAAAIoAAAAcAAAAdGhl
bWUvdGhlbWUvdGhlbWVNYW5hZ2VyLnhtbAzMTQrDIBBA4X2hd5DZN2O7KEVissuuu/YAQ5waQceg
0p/b1+XjgzfO3xTVm0sNWSycBw2KZc0uiLfwfCynG6jaSBzFLGzhxxXm6XgYybSNE99JyHNRfSPV
kIWttd0g1rUr1SHvLN1euSRqPYtHV+jT9yniResrJgoCOP0BAAD//wMAUEsDBBQABgAIAAAAIQBa
g/ICswYAAE8aAAAWAAAAdGhlbWUvdGhlbWUvdGhlbWUxLnhtbOxZz2/bNhS+D9j/IOju+pck20Gd
wpbtZmvSFrXboUfapi02lGSIdFKjKDC0xwEDhnXDDiuw2w7DtgItsEv312TrsHXA/oU9UrJM2vSS
BjkEQ5OLRX3v8eN75PdI8eq1hyG1jnDCSBw17fKVkm3haBSPSTRt2ncHvULdthhH0RjROMJNe4GZ
fW33ww+uoh0e4BBbYB+xHdS0A85nO8UiG0EzYlfiGY7g3SROQsThMZkWxwk6Br8hLVZKJa8YIhLZ
VoRCcHtrMiEjbA2ES3t36bxL4THiTDSMaNIXrrFmIbHjw7JAsAXzaWIdIdq0oZ9xfDzAD7ltUcQ4
vGjaJflnF3evFtFOZkT5FlvFrif/MrvMYHxYkX0m02HeqeO4jtfK/UsA5Zu4bq3rdb3cnwSg0QhG
mnJRfbrtRrvjZlgFlP40+O7UOtWyhlf8Vzc4t1zxr+ElKPXvbOB7PR+iqOElKMW7G3jHqVV8R8NL
UIr3NvC1Uqvj1DS8BAWURIcb6JLrVf3laHPIJKZ7RnjDdXq1SuZ8hYLZkM8u0cUkjvi2uRaiB3HS
A4AAUsRJZPHFDE/QCGaxjygZJsTaJ9OAi27QDkbK+7RpxDaaRI8WGyVkxpv2xzME62Ll9Z/XP/7z
+qV18uTVyZNfTp4+PXnyc+pIs9pD0VS1evv9F38//9T66+V3b599ZcYzFf/7T5/99uuXZiAsohWd
N1+/+OPVizfffP7nD88M8FaChip8QELMrJv42LoThzAwGRWdOR4m72YxCBBRLVrRlKEIiV4M/rs8
0NA3F4giA66N9QjeS0BETMDr8wca4X6QzDkxeLwRhBrwII5pO06MUbgh+lLCPJhHU3PnyVzF3UHo
yNS3jyItv935DNSTmFz6AdZo3qYo4miKI8wt8S4+xNgwuvuEaHE9IKMkZvGEW/eJ1UbEGJIBGWqz
aWW0R0LIy8JEEPKtxebgntWOqWnUHXykI2FVIGogP8BUC+N1NOcoNLkcoJCqAd9HPDCR7C+SkYrr
Mg6ZnmIaW90xZsxkcyuB8SpJvwECYk77AV2EOjLh5NDkcx/FsYrsxId+gMKZCdsnUaBiP2KHMEWR
dTvmJvhBrK8Q8Qx5QNHWdN8jWEv36WpwF7RTpbSaIOLNPDHk8jqOtfnbX9AJwlJqQNo1xQ5JdKp8
pz1cnHCDVL759rmB92WV7FZCjGtmb02ot+HW5dmPkzG5/OrcQfPoNoYFsVmi3ovze3G2//fivG09
X7wkr1QYBFpsBtPtttx8h1v33hNCaZ8vKN5ncvvNoPaMe9Ao7OS5E+dnsVkAP8VKhg403DRB0sZK
Yv4J4UE/QDPYupdt4WTKMtdTZs1iBkdG2Wz0LfB0Hh7E4/TIWS6L42UqHgzxVXvJzdvhuMBTtFdb
HaNy95LtVB53lwSE7buQUDrTSVQNJGrLRhEkebiGoBlIyJFdCIuGgUVduF+maoMFUMuzApsjC7ZU
Tdt1wASM4MyEKB6LPKWpXmZXJvMiM70tmNoMKMF3jWwGrDLdEFy3Dk+MLp1qZ8i0RkKZbjoJGRlZ
w1iAxjibnaL1LDTeNdeNVUo1eiIUWSwUGrX6f7E4b67Bbl0baKQqBY2s46btVV2YMiM0a9oTOLrD
z3AGc4eJTS2iU/j+NeJJuuDPoyyzhPEOYkEacCk6qRqEhOPEoiRs2mL4eRpoJDVEcitXQBAuLbkG
yMplIwdJ15OMJxM84mralRYR6fQRFD7VCuNbaX5+sLCM55DufjA+toZ0ntxBMMXcWlkEcEwYfN8p
p9EcE/gkmQvZav6tFaZMdtVvgnIOpe2IzgKUVRRVzFO4lPKcjnzKY6A8ZWOGgCohyQrhcCoKrBpU
rZrmVSPlsLXqnm4kIqeI5qpmaqoiqqZZxbQelmVgLZbnK/IKq2WIoVyqFT6V7nXJbSy1bm2fkFcJ
CHgeP0PVPUNBUKitOtOoCcabMiw0O2vVa8dygKdQO0uRUFTfW7pdi1teI4zdQeO5Kj/Yrc9aaJos
95Uy0vLuQr1eiIcPQDw68CF3TjmTqYTLgwTBhqgv9ySpbMASecizpQG/rHlCmvajktty/IrrF0p1
t1twqk6pUHdb1ULLdavlrlsuddqVx1BYeBCW3fTepAcfm+giuz2R7Rs3KOHye9qVURwWY3lDUpTE
5Q1KubL9BsUiIDqPvEqvUW20vUKj2uoVnE67Xmj4XrvQ8fxap9fx3Xqj99i2jiTYaVV9x+vWC17Z
9wuOVxL0641CzalUWk6tVe86rcfZNgZGnspHFgsIr+S1+y8AAAD//wMAUEsDBBQABgAIAAAAIQAN
0ZCftgAAABsBAAAnAAAAdGhlbWUvdGhlbWUvX3JlbHMvdGhlbWVNYW5hZ2VyLnhtbC5yZWxzhI9N
CsIwFIT3gncIb2/TuhCRJt2I0K3UA4TkNQ02PyRR7O0NriwILodhvplpu5edyRNjMt4xaKoaCDrp
lXGawW247I5AUhZOidk7ZLBggo5vN+0VZ5FLKE0mJFIoLjGYcg4nSpOc0IpU+YCuOKOPVuQio6ZB
yLvQSPd1faDxmwF8xSS9YhB71QAZllCa/7P9OBqJZy8fFl3+UUFz2YUFKKLGzOAjm6pMBMpburrE
3wAAAP//AwBQSwECLQAUAAYACAAAACEA6d4Pv/8AAAAcAgAAEwAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAW0Nv
bnRlbnRfVHlwZXNdLnhtbFBLAQItABQABgAIAAAAIQCl1qfnwAAAADYBAAALAAAAAAAAAAAAAAAA
ADABAABfcmVscy8ucmVsc1BLAQItABQABgAIAAAAIQBreZYWgwAAAIoAAAAcAAAAAAAAAAAAAAAA
ABkCAAB0aGVtZS90aGVtZS90aGVtZU1hbmFnZXIueG1sUEsBAi0AFAAGAAgAAAAhAFqD8gKzBgAA
TxoAABYAAAAAAAAAAAAAAAAA1gIAAHRoZW1lL3RoZW1lL3RoZW1lMS54bWxQSwECLQAUAAYACAAA
ACEADdGQn7YAAAAbAQAAJwAAAAAAAAAAAAAAAAC9CQAAdGhlbWUvdGhlbWUvX3JlbHMvdGhlbWVN
YW5hZ2VyLnhtbC5yZWxzUEsFBgAAAAAFAAUAXQEAALgKAAAAAA==
------=_NextPart_01D9A450.D0A985D0
Content-Location: file:///C:/A5875A78/3.Diantono.517-528.fld/colorschememapping.xml
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
Content-Type: text/xml
------=_NextPart_01D9A450.D0A985D0
Content-Location: file:///C:/A5875A78/3.Diantono.517-528.fld/plchdr.htm
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
Content-Type: text/html