Persepsi Calon Guru Kimia Terhadap Implementasi Pembelajaran Kontekstual Berbasis Budaya (Etnosains) NTT dalam Pembelajaran Kimia
Downloads
Etnosains adalah bidang yang menjembatani sains dan budaya, mengkaji bagaimana pengetahuan ilmiah terintegrasi dalam praktik dan kepercayaan budaya masyarakat. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), etnosains memiliki peran penting dalam memahami kearifan lokal yang relevan dengan konsep-konsep ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persepsi calon guru kimia terhadap implementasi pembelajaran kontekstual berbasis budaya (etnosains) NTT dalam pembelajaran kimia. Menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, penelitian ini melibatkan calon guru kimia sebagai responden. Data dikumpulkan melalui Lembar Kuesioner Persepsi Calon Guru Kimia terhadap Pembelajaran Kontekstual Berbasis Budaya (Etnosains) NTT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon guru kimia memiliki persepsi positif yang tinggi terhadap kebermanfaatan pembelajaran etnosains (rata-rata 4,78) dengan kategori "sangat tinggi". Mereka juga melihat kemudahan implementasi pembelajaran etnosains tergolong tinggi (rata-rata 4,3) dan relevansinya sangat tinggi (rata-rata 4,4). Meskipun demikian, tantangan dan kendala pembelajaran etnosains dipersepsikan tinggi (rata-rata 3,97), sementara dukungan dan sumber daya pembelajaran etnosains dipersepsikan sangat tinggi (rata-rata 4,48). Secara keseluruhan, calon guru kimia menunjukkan pandangan yang sangat positif dan antusias terhadap potensi kebermanfaatan pembelajaran kontekstual berbasis budaya (etnosains) NTT dalam kimia. Mereka memahami relevansinya yang mendalam bagi siswa dan pelestarian budaya. Namun, antusiasme ini diimbangi dengan kekhawatiran praktis terkait kemudahan implementasi dan tantangan nyata, seperti ketersediaan sumber daya, kurangnya pelatihan, dan potensi resistensi. Oleh karena itu, untuk mewujudkan potensi besar ini, dukungan institusional yang kuat, pengembangan materi ajar yang relevan, serta kemitraan dengan ahli budaya menjadi sangat vital dalam menyiapkan calon guru kimia yang mampu membawa kekayaan budaya NTT ke dalam kelas sains.
Acim, A., Maysuri, T., & Sopacua, J. (2024). Pengaruh penerapan model pembelajaran project based learning dalam upaya meningkatkan hasil belajar pada SMA Negeri 3 Maluku Tengah. JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 9(4), 566–580. https://doi.org/10.24815/jimps.v9i4.32918
Annafi, N., & Mutmainnah, P. A. (2022). Pengembangan LKS berbasis etnosains pada materi asam basa untuk meningkatkan minat belajar siswa di SMA Negeri 2 Langgudu. Jurnal Redoks: Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia, 5(2), 74–78.
Ariana, L., Andayani, Y., & Rahmawati, R. (2024). Persepsi guru kimia dan siswa kelas XI MIPA SMAN 1 dan SMAN 2 Labuapi terhadap lembar kerja peserta didik bermuatan etnosains pada materi pokok koloid. Chemistry Education Practice, 7(1), 180–186. https://doi.org/10.29303/cep.v7i1.5754
Astuti, S., Danial, M., & Anwar, M. (2018). Pengembangan LKPD berbasis PBL (problem-based learning) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi kesetimbangan kimia. Chemistry Education Review (CER), 1(2), 90–114.
Brooks, J. G., & Brooks, M. G. (1999). In search of understanding: The case for constructivist classrooms. Alexandria, VA: ASCD.
Cobern, W. W., & Aikenhead, G. (1997). Cultural aspects of learning science. Science Education, 81(2), 217–238
Djarwo, C. F., Inggamer, M. M., Rumbrapuk, A. J., & Astuti, N. (2025). Analisis literasi digital berbasis etnosains dalam pembelajaran kimia untuk meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, 15(1), 62–77.
Febiyan, P. H., Hamdu, G., & Saputra, E. R. (2025). Analisis kebutuhan pengembangan modul berbasis etnosains terkait makanan ketupat air tanjung untuk SD di Kecamatan Kawalu. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(1), 335–347.
Gay, G. (2010). Culturally responsive teaching: Theory, research, and practice (2nd ed.). New York, NY: Teachers College Press.
Halimah, S. N., Amin, M., & Sasmita, F. E. (2025). Efektivitas model pembelajaran collaborative learning berbasis etnosains untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Jurnal Kolaboratif Sains, 8(1), 467–480.
Hodson, D. (2014). Nature of science in the science curriculum: Origin, development, implications and shifting emphasis. In M. R. Matthews (Ed.), International handbook of research in history, philosophy and science teaching (pp. 911–970). New York: Springer.
Iriani, R., Agustianingsih, N. A. B., Analita, R. N., & Bakti, I. (2024). Analisis kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada materi sel elektrokimia dengan model project-based learning berbasis etnosains. JCAE (Journal of Chemistry and Education), 8(1), 42–54.*
Laksono, P. J., Patriot, E. A., Shiddiq, A. S., & Astuti, R. T. (2023). Etnosains: Persepsi calon guru kimia terhadap pembelajaran kontekstual berbasis budaya. Orbital: Jurnal Pendidikan Kimia, 7(1), 66–80.
Putra, A., Fadhillah, U., & Anggraini, R. S. (2025). Analisis strategi pembelajaran matematika pilihan guru. MATHEdunesa, 14(2), 431–442.
Ramadani, I. (2025). Integrasi bahan ajar berbasis kearifan lokal Kajang dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Jurnal Pengabdian Nasional (JPN) Indonesia, 6(1), 274–284.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
Sari, M. Y., Putrayasa, I. B., & Sudiana, I. N. (2025). Pengembangan media pembelajaran komik digital berbasis budaya Lampung pada materi gaya dan gerak untuk meningkatkan minat baca dan hasil belajar IPAS peserta didik. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Indonesia, 15(1), 26–38.
Satriawan, M., & Rosmiati, R. (2017). Pengembangan bahan ajar fisika berbasis kontekstual dengan mengintegrasikan kearifan lokal untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika pada mahasiswa. JPPS (Jurnal Penelitian Pendidikan Sains), 6(1), 1212–1217. https://doi.org/10.26740/jpps.v6n1.p1212-1217
Septina, E. A. (2025). Korelasi budaya, potensi lokal dan kearifan lokal pada pembelajaran IPA berbasis etnosains. JOSERI, 1(1), 25–32.
Solihin, A., & Habibie, R. K. (2024). Pengaruh integrasi budaya karapan sapi berbasis etnomatematika terhadap hasil belajar geometri siswa sekolah dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 12(8), 1466–1475.
Suttrisno, S., Riyanto, Y., & Subroto, W. T. (2020). Pengaruh model value clarification technique (VCT) berbasis kearifan lokal terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Naturalistic: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 5(1), 718–729.
Wilujeng, I., Purwasih, D., Widowati, A., & Widowati, S. (2024). Implementasi potensi lokal dalam pembelajaran IPA: Studi pengembangan LKPD berbasis lingkungan. Carmin: Journal of Community Service, 4(2), 74–80.
Wulandari, S. I., Pamelasari, S. D., & Hardianti, R. D. (2023, July). Penggunaan e-modul berbasis etnosains materi zat dan perubahannya dalam usaha meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP. In Proceeding Seminar Nasional IPA.
Copyright (c) 2025 Vinsensia H. B. Hayon, Theresia Wariani, Yanti Rosinda Tinenti, Maria Ursula Jawa Mukin, Alfons Bunga Naen

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC-BY-SA). that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.





