Deteksi Dini Kardiomiopati Hipertrofi Obstruktif Untuk Mencegah Kematian Jantung Mendadak: Laporan Kasus

Main Article Content

Ketut Trisna Parama Kartika
Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara, Indonesia
Sang Ayu Nyoman Yuli Sutarmini
Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara, Indonesia

Kardiomiopati hipertrofi obstruktif (HOCM) merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian jantung mendadak yang disebabkan oleh kelainan genetik yang mana terjadi penebalan septum yang dapat menghambat aliran darah dari ventrikel kiri menuju aorta.Meskipun angka kematian jantung mendadak tahunan dianggap rendah, Sebagian besar pasien muda (<60 tahun) dengan HOCM memiliki angka kematian jantung mendadak yang jauh lebih tinggi. Presentasi klinis yang bervariasi menyebabkan penyakit ini kurang dikenali dan kurang terdeteksi dalam praktik klinis sehari-hari. Laporan kasus ini akan membahas mengenai penyakit HOCM pada wanita usia dewasa muda yang datang ke Poliklinik Rumah Sakit Bali Mandara. Seorang perempuan, 20 tahun dengan keluhan berdebar dan nyeri dada sebelah kiri sejak satu bulan yang memberat saat aktifitas. Pemeriksaan tanda vital dan status generalis dalam batas normal. Pada auskultasi jantung di dapatkan murmur ejeksi sistolik 3/6 pada batas tepi kiri sternum dan apeks. Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) ditemukan adanya P pulmonal dan hipertrofi ventrikel kiri. Pemeriksaan USG jantung didapatkan hipertrofi septum, obstruksi pada Left Ventricular Track (LVOT), dan turbulensi pada LVOT dan jet mitral regurgitasi. Pasien didiagnosis dengan kardiomiopatif hipertrofi obstruktif dengan Diastolic Dysfunction Grade II. Pasien menolak pemasangan Holter dan manajemen hanya berupa edukasi dan medikamentosa Concor 1,25 mg PO. Penting untuk mendeteksi dini kejadian HOCM serta startifikasi risiko yang dapat menyebabkan kematian jantung mendadak. Pada kasus ini pasien terdiagnosis dengan HOCM namun risiko untuk terjadinya kematian jantung mendadak masih minimal. Pasien disarankan untuk menghindari aktifitas fisik berat dan melanjutkan pengobatan medikamentosa yaitu B-Blocker.  Pasien sudah melakukan deteksi dini sehingga kemungkinan kematian jantung mendadak dapat dicegah.


Keywords: Kardiomiopati hipertrofi obstruktif, kematian jantung mendadak, gagal jantung, disfungsi diastolic, p pulmonal
Autore, C., et al. (2023). Old and new therapeutic solutions in the treatment of hypertrophic cardiomyopathy. European Heart Journal Supplements, 25(Suppl. B), B12–B15.
Basit, H. (2023). Hypertrophic cardiomyopathy. National Library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430788/
Elliott, P. M. (2014). ESC guidelines on diagnosis and management of hypertrophic cardiomyopathy. European Heart Journal, 35, 2733–2779.
Iswara, R. A. F. W., Sadad, A. R., Rohmah, I. N., & Bhima, S. K. L. (2020). Kematian mendadak akibat kardiomiopati hipertrofi pada dewasa muda. Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine, 7(2), 470–475.
Kebed, K. Y., et al. (2015). Hypertrophic cardiomyopathy, athlete’s heart, or both: A case of hypertrophic cardiomyopathy regression. Cardiovascular Imaging.
Marbun, J. M. H., & Sp JP, F. (2024). Kardiomiopati: Karakteristik klinis dan tata laksana. Stiletto Book.
Marian, A. J. (2017). Hypertrophic cardiomyopathy: Genetics, pathogenesis, clinical manifestations, diagnosis, and therapy. Circulation, 121, 749–770.
Maron, B. J., Rowin, E. J., Udelson, J. E., & Maron, M. S. (2018). Clinical spectrum and management of heart failure in hypertrophic cardiomyopathy. JACC: Heart Failure, 6(5), 353–363. https://doi.org/10.1016/j.jchf.2017.09.011
Maron, M. S. (2018). Clinical manifestations, diagnosis, and evaluation of hypertrophic cardiomyopathy. In M. J. McKenna (Ed.), UpToDate. https://www.uptodate.com
Ommen, S. R., Mital, S., Burke, M. A., et al. (2020). 2020 AHA/ACC guideline for the diagnosis and treatment of patients with hypertrophic cardiomyopathy. Journal of the American College of Cardiology, 76, e159–e240.
Palandri, C., et al. (2022). Pharmacological management of hypertrophic cardiomyopathy: From bench to bedside. Drugs, 82, 889–912.
Park, Y. M. (2023). Updated risk assessments for sudden cardiac death in hypertrophic cardiomyopathy patients with implantable cardioverter-defibrillator. Korean Journal of Internal Medicine, 38, 7–15.
Pradnyani, N. P. N., & Koto, C. G. (2021). Manajemen anestesi perioperatif pasien kardiomiopati hipertrofi obstruksi. JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia), 15(1), 38–49.
Weissler-Snir, A., Allan, K., Cunningham, K., Connelly, K. A., Lee, D. S., Spears, D. A., Rakowski, H., & Dorian, P. (2019). Hypertrophic cardiomyopathy–related sudden cardiac death in young people in Ontario. Circulation, 140(21), 1706–1716. https://doi.org/10.1161/Circulationaha.119.040271
Wulandari, R. (2024). Rompi untuk mendeteksi risiko kematian jantung mendadak pada fibrilasi ventrikel menggunakan artificial neural network (Tesis). Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Wulandini, P., Roza, A., & Sartika, W. (2018). Simulasi bantuan henti napas, henti jantung guna pencegahan kematian mendadak bagi siswi di pondok pesantren Babussalam. Dinamisia: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(1), 1–5.
Yandriani, R., & Karani, Y. (2018). Patogenesis hipertrofi ventrikel kiri. Jurnal Kesehatan Andalas, 7, 159–167.
Yuniadi, Y. (2017). Mengatasi aritmia, mencegah kematian mendadak. EJournal Kedokteran Indonesia, 5(3), 46–139.