Identifikasi Parameter Resistensi Moxifloxacin pada Pasien Tuberkulosis

Authors

  • Intan Keumala Dewi Universitas YARSI, Indonesia
  • Insan Sosiawan Tunru Universitas YARSI, Indonesia
  • Pratiwi Pujilestari Sudarmono Universitas YARSI, Indonesia
  • Helwiah Umniyati Universitas YARSI, Indonesia
  • Diniwati Mukhtar Universitas YARSI, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.58344/locus.v4i10.5011

Keywords:

Tuberkulosis, Moxifloxacin, Resistensi Obat, Fluoroquinolone, MDR-TB, XDR-TB

Abstract

Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan global yang serius dan semakin kompleks dengan munculnya resistensi obat, termasuk terhadap moxifloxacin—salah satu antibiotik golongan fluoroquinolone yang digunakan dalam pengobatan TBC resisten obat, seperti MDR-TB dan XDR-TB. Resistensi terhadap moxifloxacin menjadi tantangan besar karena dapat memperpanjang durasi terapi, meningkatkan angka kegagalan pengobatan, serta memperbesar risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme resistensi moxifloxacin pada Mycobacterium tuberculosis dengan mengidentifikasi mutasi genetik yang berperan serta mengevaluasi dampaknya terhadap efektivitas terapi. Metode yang digunakan adalah deskriptif laboratorium dengan uji sensitivitas obat (Drug Susceptibility Testing/DST) dan analisis sekuensing gen gyrA dan gyrB dari isolat klinis M. tuberculosis. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara mutasi pada gen gyrA, khususnya pada kodon 90 dan 94, dengan tingkat resistensi tinggi terhadap moxifloxacin. Sementara itu, mutasi pada gen gyrB ditemukan lebih jarang, namun tetap berkontribusi terhadap resistensi tingkat sedang. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan diagnostik molekuler sebagai pelengkap uji konvensional untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan deteksi resistensi. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya skrining genotipik rutin dalam program pengendalian TBC agar terapi dapat disesuaikan dengan profil resistensi pasien, serta mencegah penyebaran lebih lanjut dari strain resisten obat. Penguatan surveilans dan deteksi dini resistensi fluoroquinolone menjadi langkah strategis untuk mendukung keberhasilan pengendalian TBC secara global.

References

Abadi, A. S., Mariati, A. H., & Yuniarti, A. (2023). Probiotik indigenous Bacillus sp. (Nl004) yang diperkaya pada limbah cair tahu (Lct) terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Media Akuakultur. https://doi.org/10.15578/ma.18.1.2023.15-20

Adhantya, S., & Syarif, S. (2023). Kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis dan faktor-faktor yang mempengaruhinya: Tinjauan sistematis. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 7(1).

Chirehwa, M. T., et al. (2023). Optimizing moxifloxacin dose in MDR-TB participants with or without efavirenz coadministration using population pharmacokinetic modeling. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 67(3). https://doi.org/10.1128/aac.01426-22

Dorman, S. E., Nahid, P., Kurbatova, E. V., Phillips, P. P. J., Bryant, K., Dooley, K. E., & Engle, M. (2025). Four-month rifapentine regimens with or without moxifloxacin for tuberculosis. ORCID. https://orcid.org/0000-0003-2811-1311

Fitri, M., Farezni, R. H., Wiguna, D. S., & Fortuna, Y. (2025). Analisis komparatif kebijakan dan strategi penanggulangan resistensi antimikroba (AMR): Studi kasus negara maju dan berkembang. Pharmaceutical Journal, 1(2), 47–50.

Jang, G. J., & Chung, J. H. (2020). Diagnosis and treatment of multidrug-resistant tuberculosis.

Kurnianto, M. A., & Syahbanu, F. (2023). Resistensi antibiotik pada rantai pasok pangan: Tren, mekanisme resistensi, dan langkah pencegahan. Agrointek: Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 17(3), 608–621.

Kusumadewi, S. (2022). Dapat meningkatkan pengetahuan, kompetensi, dan keterlibatan pasien dalam strategi pengambilan keputusan kesehatan. Analisis mengenai penerimaan pengguna terkait dengan perbedaan sudut pandang pengguna layanan informasi kesehatan belum terlalu diperhatikan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan. https://www.semanticscholar.org/paper/146a43d68f40cc08055dc28752c71b4149de2a9c

Lukas, D. L., Cahjono, H., & Agung, P. P. (2025). Diagnosis dan tatalaksana resistensi antibiotik Helicobacter pylori.

Nehru, V. J., et al. (2024). Risk assessment and transmission of fluoroquinolone resistance in drug-resistant pulmonary tuberculosis: A retrospective genomic epidemiology study. Scientific Reports, 14(1). https://doi.org/10.1038/s41598-024-70535-y

Nugraheni, E., Soripada, T. A., Hasibuan, M. I. R., Siahaya, P. G., Serihati, A. Y. T., Putra, A. G. A., Ramadhan, A. Y., Sulistyowati, T., Veronica, R. M., & Widyawati, T. (2025). Resistensi antibiotik. Penerbit Adab.

Pusparisa, H., & Herawati, F. (2022). Efektivitas dan keamanan pretomanid dalam pengobatan tuberkulosis lini kedua. MANUJU: Malahayati Nursing Journal, 4(11), 1–15.

Siregar, S. J., Fahlevi, M. I., Lutfi, F., Sriwahyuni, S., Yulizar, Y., & Rafsanjani, T. M. (2025). Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis pada kontak TBC positif berdasarkan data investigasi kontak di Kota Mataram. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat. https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i2.48071

Umar, F. (2023). Mycobacterium tuberculosis: Kajian mekanisme resistensi intrinsik dan resistensi genetik terhadap obat anti tuberkulosis. PT Pusat Literasi Dunia.

World Health Organization. (2024). WHO global report 2024. World Health Organization.

Xia, H., et al. (2021). Strong increase in moxifloxacin resistance rate among multidrug-resistant Mycobacterium tuberculosis isolates in China, 2007 to 2013. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 59(6), 3326–3331.

Yahya, A., Wijaya, D. P., Anam, K., A, N. L. W., & Rianita, R. N. (2023). Sosialisasi pencegahan penyakit TBC di Dusun Jetis-Kawiran, Desa Rambeanak, Kec. Mungkid, Magelang. Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS. https://doi.org/10.59407/jpki2.v1i5.121

Downloads

Published

2025-10-28