Implikasi Pengelolaan Flight Information Region (FIR) Indonesia-Singapura terhadap Kedaulatan Udara Indonesia dalam Perspektif Hukum Internasional
Downloads
Pengelolaan FIR Indonesia-Singapura menyentuh isu kedaulatan udara, keselamatan penerbangan, dan pertahanan negara. Pasal 1 Konvensi Chicago 1944 menegaskan kedaulatan penuh negara atas ruang udaranya, namun FIR bersifat teknis sehingga tidak dapat disamakan dengan pengalihan kedaulatan. Penelitian ini menganalisis implikasi pengelolaan FIR terhadap kedaulatan udara Indonesia serta Perjanjian Penyesuaian FIR 2022 dalam perspektif hukum internasional.. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi pengelolaan FIR Indonesia–Singapura terhadap kedaulatan udara Indonesia serta mengkaji Perjanjian Penyesuaian FIR Tahun 2022 dalam perspektif hukum internasional.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi pengelolaan FIR Indonesia–Singapura terhadap kedaulatan udara Indonesia serta mengkaji dampak Perjanjian Penyesuaian FIR Indonesia–Singapura Tahun 2022 dalam perspektif hukum internasional. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan historis melalui analisis Konvensi Chicago 1944, ketentuan International Civil Aviation Organization (ICAO), serta peraturan perundang-undangan nasional dan perjanjian bilateral terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendelegasian pelayanan navigasi udara kepada negara lain tidak bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara sepanjang dilakukan dalam kerangka teknis ICAO dan tidak menghilangkan hak kedaulatan negara atas wilayah udaranya. Selain itu, Perjanjian Penyesuaian FIR Tahun 2022 mencerminkan bentuk kerja sama bilateral yang tetap mengedepankan keselamatan penerbangan internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengendalian wilayah udara nasional. Oleh karena itu, penguatan kedaulatan udara Indonesia memerlukan dukungan diplomasi penerbangan, modernisasi infrastruktur navigasi udara, serta peningkatan kapasitas nasional secara berkelanjutan.
Ambarsari, N. A., & Oktaviyan, F. R. (2021). Meningkatkan Layanan Navigasi Udara dengan Menggunakan Performance Based Navigation (PBN). Jurnal Manajemen Dirgantara, 14(1).
Cho, T., Lee, C., & Choi, S. (2013). Multi-Sensor Fusion with Interacting Multiple Model Filter for Improved Aircraft Position Accuracy. Sensors, 13(4), 4122–4141. https://doi.org/10.3390/s130404122
Fakhraian, E., Semanjski, I., Semanjski, S., & al., et. (2023). Towards Safe and Efficient Unmanned Aircraft System Operations. Drones, 7(7), 478. https://doi.org/10.3390/drones7070478
Febriyanti, Suhariyanto, D., & Ismail. (2024). Kebijakan Tata Negara dalam Pengelolaan Flight Information Region (FIR) sebagai Upaya Penguatan Kedaulatan Udara Indonesia. Jurnal Hukum Bisnis, 13(6).
Handono, R. D. P., Pranajaya, I. G. F. R., Supardam, D., & Rosmayanti, L. (2026). Penerapan Performance-Based Navigation dan Automatic Dependent Surveillance–Broadcast dalam Meningkatkan Efisiensi Lalu Lintas Udara di Wilayah Indonesia. Aviation Business and Operations Journal, 4(1).
Ibrahim, J. (2021). Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Bayumedia Publishing.
Jasmine, D., & Sugara, R. (2024). Air Navigation Sovereignty Through Indonesia-Singapore FIR Boundary Realignment in 2022. Ilomata International Journal of Social Science, 5(1).
Kusumaatmadja, M., & Agoes, E. R. (2021). Pengantar Hukum Internasional. Alumni.
Luxhøj, J. T. (2015). A Socio-Technical Model for Analyzing Safety Risk of Unmanned Aircraft Systems (UAS): An Application to Precision Agriculture. Procedia Manufacturing, 3, 928–935. https://doi.org/10.1016/j.promfg.2015.07.140
Marchetti, E., Waheed, T., & Calabrò, A. (2024). Cybersecurity Testing in Drones Domain: A Systematic Literature Review. IEEE Access, 12, 1–25. https://doi.org/10.1109/access.2024.3495994
Marzuki, P. M. (2021). Penelitian Hukum. Kencana.
Melnyk, R., Schrage, D., Volovoi, V., & Jimenez, H. (2014). A Third-Party Casualty Risk Model for Unmanned Aircraft System Operations. Reliability Engineering and System Safety, 124, 105–116. https://doi.org/10.1016/j.ress.2013.11.016
Mithalina, F., & al., et. (2023). Analisis Perjanjian Pengelolaan Wilayah Udara (Flight Information Region) antara Indonesia dan Singapura Menurut Hukum Internasional. Mataram Journal of International Law, 1(1).
Netjasov, F., & Janic, M. (2008). A Review of Research on Risk and Safety Modelling in Civil Aviation. Journal of Air Transport Management, 14(4), 213–220. https://doi.org/10.1016/j.jairtraman.2008.04.008
Parthiana, I. W. (2021). Hukum Udara Internasional dan Hukum Ruang Angkasa. Yrama Widya.
Prabandari, A. P., & al., et. (2024). Implikasi Perjanjian Penyesuaian FIR Antara Indonesia dengan Singapura Tahun 2022 terhadap Wilayah Udara Indonesia. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 6(1).
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2020). Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Rajawali Pers.
Wiradipradja, E. S. (2020). Hukum Udara dan Ruang Angkasa. Alumni.
Wright, E., Boley, A., & Byers, M. (2025). Airspace closures due to reentering space objects. Scientific Reports, 15(1). https://doi.org/10.1038/s41598-024-84001-2
Copyright (c) 2026 Nada Dwi Azhari, Tundjung Herning Sitabuana

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC-BY-SA). that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.





