Revitalisasi Stasiun Semut sebagai Creative Hub Resilien melalui Pendekatan Urban Catalyst dan Adaptive Reuse

Authors

  • Choirul Muawanah Universitas 17 Agustus 1945
  • Darmansjah Tjahja Prakasa Universitas 17 Agustus 1945
  • Andarita Rolalisasi Universitas 17 Agustus 1945

DOI:

https://doi.org/10.58344/locus.v5i6.5950

Keywords:

Resiliensi Spasial, Adaptive Reuse, Katalis Perkotaan, Creative Hub

Abstract

Ketidakmampuan bangunan cagar budaya dalam beradaptasi terhadap disrupsi sosio-ekonomi dan transformasi sirkulasi urban memicu kerentanan (vulnerability) yang berujung pada degradasi fisik kawasan bersejarah. Stasiun Semut di Surabaya menghadapi risiko kehilangan resiliensi spasial akibat pergeseran orientasi transportasi dan stagnasi kawasan niaga di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi rekonstruksi nilai (re-value) Stasiun Semut sebagai Creative Hub yang resilien dengan mengintegrasikan pendekatan Urban Catalyst dan Adaptive Reuse. Melalui metode kualitatif-rasionalistik yang didukung oleh analisis typo-morfologi, pemetaan spasial sirkulasi, dan evaluasi kapasitas adaptif struktur, penelitian ini menguji ketangguhan spasial bangunan terhadap fungsi baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan resiliensi dilakukan melalui zonasi spasial yang fleksibel (loose-fit space), memisahkan akses kendaraan logistik komersial secara tegas dari koridor pedestrian inklusif untuk menjamin keberlanjutan sirkulasi. Intervensi adaptive reuse diterapkan dengan menyisipkan (insert) elemen arsitektur modern struktural pada ruang di bawah atap bentang lebar eksisting tanpa merusak integritas historis, serta memanifestasikan motif lokal pada elemen pembatas ruang. Secara makro, transformasi ini memicu efek katalis perkotaan yang meningkatkan kapasitas adaptif komunitas lokal melalui ruang ekonomi kreatif. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis baru dalam mengonseptualisasikan resiliensi arsitektur cagar budaya yang tidak hanya bertumpu pada ketahanan fisik, melainkan pada kemampuan adaptasi fungsional yang dinamis.

References

Antariksa. (2018). Teori dan Metode Pelestarian Arsitektur. Universitas Brawijaya Press.

Attoe, W., & Logan, D. (1989). American Urban Architecture: Catalysts in the Design of Cities. University of California Press.

Brooker, G., & Stone, S. (2004). Rereading Postgrad: Adaptive Reuse of Existing Buildings. Laurence King Publishing.

Douglas, J. (2006). Building Adaptation. Butterworth-Heinemann.

Evans, G. (2005). Measure for measure: Evaluating the evidence of culture-led urban regeneration. Urban Studies, 42(5-6), 959-983.

Florida, R. (2002). The Rise of the Creative Class. Basic Books.

Landry, C. (2008). The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators. Earthscan.

Latham, D. (2000). Creative Re-use of Buildings. Donhead Publishing.

Meerow, S., Newell, J. P., & Stults, M. (2016). Defining urban resilience: A review. Landscape and Urban Planning, 147, 38-49.

Plevoets, B., & Van Cleempoel, K. (2019). Adaptive Reuse of Heritage Buildings: Sustainable and Approaches and Interior Spatial Strategies. Routledge.

Sharifi, A., & Yamagata, Y. (2016). Principles and criteria for assessing urban energy resilience: A literature review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 60, 1654-1677.

Silas, J. (1996). Surabaya: Urban Development and Housing. Institute of Technology Sepuluh Nopember (ITS).

Suryani, T., & Purwantiasning, A. W. (2021). Kajian Teori Katalis Perkotaan (Urban Catalyst) dalam Upaya Revitalisasi Kawasan Bersejarah. Jurnal Arsitektur ZONASI, 4(2).

Walker, B., & Salt, D. (2006). Resilience Thinking: Sustaining Ecosystems and People in a Changing World. Island Press.

Yung, E. H., & Chan, E. H. (2012). Implementation challenges to the adaptive reuse of heritage buildings: Towards the goals of sustainable, social and economic development. Habitat International, 36(3), 352-361.

Downloads

Published

2026-06-29