Sandiwara Akuntabilitas: Ritualisme Administratif dalam Pengelolaan Banpol di Wilayah Kepulauan

Authors

  • Viqror Royyan Multazam Narahaubun Universitas Pattimura, Indonesia
  • Hendrik Salmon Universitas Pattimura, Indonesia
  • Julista Mustamu Universitas Pattimura, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.58344/locus.v5i6.5986

Keywords:

Ritualisme Administratif, Akuntabilitas, Transparansi, Wilayah Kepulauan

Abstract

Studi ini meneliti kesenjangan antara akuntabilitas formal dan substantif serta antara transparansi prosedural dan substantif, dengan menggunakan Provinsi Maluku sebagai lokasi penelitian, yaitu wilayah kepulauan dengan 93% wilayah laut di mana biaya operasional secara inheren lebih tinggi. Pendekatan yuridis-empiris digunakan: wawancara mendalam dengan 7 partai politik (DPW/DPD) dan 2 pejabat Kesbangpol; kuesioner skala Likert (1–5) yang dianalisis dengan Analytical Hierarchy Process (AHP); dan analisis dokumen laporan audit BPK dan materi FGD Bappenas. Studi ini mengidentifikasi tiga temuan utama. Pertama, akuntabilitas yang dicapai hanya bersifat formal-prosedural (skor tertinggi pada kepatuhan pelaporan P2=4,44 dan kesiapan audit P9=4,56), sementara pengawasan internal sangat lemah (P3=3,78) yang merupakan ritualisme administratif: kepatuhan tanpa substansi (Power, 1997). Kedua, transparansi prosedural mencapai 100% (semua pihak melapor ke Kesbangpol) tetapi transparansi substantif adalah 0% (tidak ada pengungkapan publik proaktif); argumen bahwa "nilai Banpol terlalu kecil" tidak memiliki dasar hukum berdasarkan Undang-Undang No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Ketiga, defisit anggaran struktural (biaya operasional Rp 300–360 juta/tahun dibandingkan dengan Banpol Rp 100–200 juta/tahun) mendorong lima patologi sistemik: defisit anggaran, kapasitas SDM yang rendah, ambiguitas normatif (definisi pendidikan politik), pengawasan yang tidak terintegrasi (Kesbangpol, BPK, KPU), dan sanksi yang tidak efektif. Siklus buruk ini membutuhkan intervensi simultan: merevisi PP 1/2018, memperkuat pengawasan terintegrasi (e-Banpol, pemeriksaan mendadak), mewajibkan transparansi proaktif, dan mereformasi tata kelola internal partai. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengujian empiris kesenjangan akuntabilitas formal-substantif dalam konteks kepulauan, identifikasi ritualisme administratif dalam partai politik, dan penerapan AHP untuk membandingkan persepsi partai versus pengawas.

References

Aleksovska, M., & Schillemans, T. (2022). Dissecting multiple accountabilities: a problem of multiple forums or of conflicting demands? Public Administration, 100(3), 711–736.

Aleksovska, M., Schillemans, T., & Grimmelikhuijsen, S. (2022). Management of Multiple Accountabilities Through Setting Priorities: Evidence from a Cross-National Conjoint Experiment. Public Administration Review, 82(1), 132–146.

Badan Pemeriksa Keuangan RI Perwakilan Provinsi Maluku. (2025). Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pertanggungjawaban Bantuan Keuangan Partai Politik dari APBD TA 2024: Nomor 1.a/HP.BPOL/XIX.AMB/05/2025 (Partai Demokrat), 1.b/HP.BPOL/XIX.AMB/05/2025 (Partai Gerindra), 1.d/HP.BPOL/XIX.AMB/05/2025 (Partai NasDem).

Becker, G.S. (1968). Crime and Punishment: An Economic Approach. Journal of Political Economy, 76(2), 169–217.

BPS. (2023). Indeks Kemahalan Konstruksi 2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

BRIN. (2024). Indeks Pelembagaan Partai Politik Indonesia 2024. Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Denzin, N.K., & Lincoln, Y.S. (2017). The SAGE Handbook of Qualitative Research (5th ed.). Thousand Oaks: SAGE Publications.

Edelman, L.B. (1992). Legal Ambiguity and Symbolic Structures: Organizational Mediation of Civil Rights Law. American Journal of Sociology, 97(6), 1531–1576.

Indikator Politik Indonesia. (2024). Kepercayaan Publik terhadap Lembaga Negara. Laporan Survei Nasional. Jakarta: IPI.

International IDEA. (2025). Combatting Corruption in Political Finance: Global Trends, Challenges and Solutions. Stockholm: International Institute for Democracy and Electoral Assistance.

Irwansyah. (2021). Penelitian Hukum: Pilihan Metode & Praktik Penulisan Artikel. Yogyakarta: Mirra Buana Media.

Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Focus Group Discussion "Penguatan Tata Kelola Partai Politik" (Kumpulan Materi Paparan). Jakarta, 16 Juni 2025.

Koppell, J.G.S. (2005). Pathologies of Accountability: ICANN and the Challenge of "Multiple Accountabilities Disorder". Public Administration Review, 65(1), 94–108.

Kuesioner AHP: Data mentah dan olahan AHP (file AHP_Final_Complete.xlsx, lembar DATA_MENTAH, BOBOT_AHP, SKOR_AGREGAT, KATEGORISASI), 2026.

Kyei-Poakwah, K., Owusu-Mensah, I., & Poku Adu, E. (2024). Party Financing in Ghana: A Case for Regulated Elite Funding. Journal of Asian and African Studies. https://doi.org/10.1177/00219096241303945

Marzuki, P.M. (2017). Penelitian Hukum (Edisi Revisi). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Miles, M.B., Huberman, A.M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Los Angeles: SAGE Publications.

OECD. (2024). OECD Survey on Drivers of Trust in Public Institutions – 2024 Results: Building Trust in a Complex Policy Environment. Paris: OECD Publishing.

Overman, S. (2022). Toward a Public Administration Theory of Felt Accountability. Public Administration Review, 82(1), 114–127.

Papadopoulos, Y. (2023). Understanding Accountability in Democratic Governance. Cambridge: Cambridge University Press.

Patton, M.Q. (2015). Qualitative Research & Evaluation Methods (4th ed.). Thousand Oaks: SAGE Publications.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 Tahun 2018 (diubah dengan Permendagri 78/2020) tentang Tata Cara Penghitungan, Penganggaran, dan Tertib Administrasi Bantuan Keuangan Partai Politik.

Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik (LN 2018 No. 1, TLN No. 6177).

Pérez-Durán, I. (2024). Twenty-Five Years of Accountability Research in Public Administration: Authorship, Themes, Methods, and Future Trends. International Review of Administrative Sciences, 90(3), 546–564.

Power, M. (1997). The Audit Society: Rituals of Verification. Oxford: Oxford University Press.

Risamasu, F.J.M., & Salmon, H. (2024). Revisiting the Formula of Political Party Financial Assistance in Archipelagic Regions: A Case Study of Maluku. Constitutional Review, 10(2), 210–235.

Saaty, T.L. (1980). The Analytic Hierarchy Process. New York: McGraw-Hill.

Saaty, T.L., & Vargas, L.G. (2012). Models, Methods, Concepts & Applications of the Analytic Hierarchy Process (2nd ed.). Boston: Springer.

Transparency International Indonesia. (2025). Laporan Transparansi Pendanaan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: TII.

Transparency International. (2024). Standards for Political Finance Integrity. Berlin: Transparency International.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (LN 2011 No. 82, TLN No. 5234).

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (LN 2008 No. 61, TLN No. 4846).

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (LN 2003 No. 47, TLN No. 4286).

Wawancara penelitian: Transkrip wawancara dengan 7 partai politik (PDI Perjuangan, Golkar, PKS, Gerindra, PKB, Demokrat, NasDem) dan 2 pejabat Kesbangpol Provinsi Maluku, Maret–Mei 2026.

Downloads

Published

2026-06-18