Pendampingan Keluarga Risiko Stunting dan Keberfungsian Keluarga: Studi Kualitatif di Kota Tangerang

Pendampingan Keluarga Risiko Stunting Keberfungsian Keluarga

Authors

October 19, 2026

Downloads

Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pengaruh sosial pendampingan keluarga risiko stunting dan menganalisis dampaknya terhadap keberfungsian keluarga di Kota Tangerang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuh informan (tiga informan kebijakan/pelaksana dan empat keluarga sasaran) yang dipilih secara purposive, dan dianalisis melalui Teori Dampak Sosial Bibb Latane serta McMaster Model of Family Functioning. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pendampingan dapat dipahami melalui tiga unsur Teori Dampak Sosial yaitu kekuatan sumber pengaruh, kedekatan interaksi, dan keberagaman sumber pendampingan: kekuatan (strength) kader dibangun dari kedekatan kekerabatan dan legitimasi profesional; kedekatan (immediacy) diperkuat oleh kedekatan tempat tinggal dan frekuensi kontak informal; sementara jumlah sumber pengaruh (number) efektif bukan karena banyaknya orang yang hadir sekaligus, melainkan karena fungsi yang saling melengkapi antar-unsur Tim Pendamping Keluarga (TPK). Ditinjau dari McMaster Model, Narasi informan menunjukkan indikasi penguatan yang paling konsisten pada kemampuan keluarga mengenali dan menangani masalah Kesehatan serta mengikuti aturan perilaku kesehatan, sedangkan dimensi Communication, Roles, dan Affective Responsiveness relatif stabil karena bukan sasaran langsung intervensi. Keberfungsian keluarga secara menyeluruh tetap dibatasi oleh determinan struktural sosial-ekonomi yang berada di luar kewenangan TPK. Penelitian ini juga menemukan indikasi ketergantungan sebagian keluarga terhadap kader, sejalan dengan kelemahan Teori Dampak Sosial yang diakui Latane sendiri. Dengan demikian, dampak sosial pendampingan bersifat enabling dan selektif, bukan menyeluruh, sehingga keberhasilan program perlu ditopang oleh koordinasi lintas sektor untuk menjangkau determinan struktural yang berada di luar kapasitas pendampingan keluarga.