Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus dengan Edema Anasarka, Anemia, dan Hipoalbuminemia pada Anak: Laporan Kasus

Acute post-streptococcal glomerulonephritis APSGN anasarca hypoalbuminemia hematuria

Authors

September 29, 2026

Downloads

Glomerulonefritis akut pasca-streptokokus (GNAPS) merupakan penyebab tersering sindrom nefritik akut pada anak dan umumnya ditandai hematuria, edema, serta hipertensi yang muncul 1–3 minggu setelah infeksi Streptococcus ?-hemolitikus grup A. Sebagian besar kasus memiliki prognosis baik, tetapi komplikasi seperti cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI), hipervolemia, dan hipertensi berat dapat terjadi. Seorang anak laki-laki usia 5 tahun 10 bulan datang dengan keluhan bengkak seluruh tubuh hingga wajah sejak satu minggu, disertai buang air kecil berwarna merah gelap seperti air cucian daging, penurunan frekuensi buang air kecil, lemas, dan pucat. Pemeriksaan fisik menunjukkan hipertensi berat dengan tekanan darah 154/123 mmHg, edema anasarka, dan edema periorbital. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hematuria masif dengan eritrosit urin >50/LPB, proteinuria, hipoalbuminemia dengan albumin 3,0 g/dL, anemia dengan hemoglobin 9,0 g/dL, serta peningkatan ureum progresif hingga 68,7 mg/dL dengan kreatinin relatif normal. Temuan klinis dan laboratorium mendukung diagnosis GNAPS dengan komplikasi AKI dan hipervolemia. Pasien mendapatkan tata laksana suportif berupa restriksi cairan, diuretik, antihipertensi, dan antibiotik serta pemantauan fungsi ginjal secara serial di PICU. Kondisi klinis membaik dengan resolusi edema dan perbaikan urinalisis selama tujuh hari perawatan. GNAPS dapat memberikan manifestasi berat dengan edema anasarka, hipoalbuminemia, dan gangguan fungsi ginjal. Diagnosis dini, pengendalian hipervolemia dan hipertensi, serta pemantauan fungsi ginjal penting untuk mencegah komplikasi dan menentukan kebutuhan rujukan nefrologi anak.